Bab 1

"Hei ... hei ... lihat dia sudah datang!"

"Dia terus menunduk, apa ia sedang mencari recehan koin di lantai?"

"Lihat cara dia memeluk buku-buku tebal di dadanya? Memangnya siapa yang akan mencuri buku mengerikan itu darinya?"

Suara bisik-bisik dan cekikikan orang-orang di koridor tertuju pada satu perempuan dengan kacamata lebar yang berjalan dengan membawa rasa takut melewati mereka yang memandangnya dengan remeh.

BUGH!

"Kau menghalangi jalanku, bodoh!” Dengan sengaja seorang perempuan menabrak bahunya dan berlalu begitu saja setelah menyunggingkan senyum sinis.

Perempuan itu meringis mengelus pundaknya yang terasa sakit. Kaki dengan balutan sepatu ketsnya melanjutkan langkah dengan lebar untuk segera terbebas dari tatapan berpasang mata yang tidak pernah lelah menghunuskan pandangan cacian pada dirinya.

Vellonica Diosa Shawn, gadis dengan rambut golden blonde yang ia kuncir ponytail itu mendesah lega ketika ia sudah mendorong pintu memasuki ruang kuliahnya dengan jajaran bangku bertingkat yang semakin meninggi dengan anak tangga di tengah-tengahnya.

Meskipun teman-teman di ruang kuliahnya ini tidak berbeda jauh dengan para mahasiswa di luar tadi, setidaknya ia bisa mengalihkan perhatian dengan fokus pada mata kuliah yang akan diajarkan dosennya nanti.

Tentu saja dengan fokus pada pelajaran selalu berhasil membuatnya melarikan diri dari kenyataan menyedihkan tentangnya.

Vello menggigit bibir bawahnya. Sedikit mendongakkan wajah, melihat Kenneth sedang berciuman panas dengan Arabelle yang berada di pangkuan menyamping lelaki itu. Tak memedulikan sekitar seperti ruangan itu hanya ada mereka berdua.

Oh, jangan salah paham. Lelaki itu tidak sedang selingkuh secara terang-terang di depannya atau lelaki itu adalah mantan kekasihnya. Tentu saja bukan. Vello akan tertawa keras, mengingat kenyataan lelaki tampan seperti Kenneth hanyalah kekasih khayalannya dan perempuan cantik yang kini sedang menengadahkan lehernya untuk memberi akses lebih banyak pada bibir Kenneth yang mulai menjelajah tersebut adalah kekasih pria itu sesungguhnya.

Ia masih menggigit bibir bawahnya, membayangkan kapan ia akan merasakan bibir seorang pria menari di atas bibirnya. Apakah ia bisa berharap orang itu adalah Kenneth? Bagaimana rasanya ketika dua bibir dan lidah saling membelit? Apakah ia akan memejamkan mata dengan kedua tangan memeluk leher prianya seperti yang dilakukan Arabelle saat ini?

Vello menggeleng pelan dengan mengerjapkan matanya beberapa kali hanya untuk sekadar menyadarkannya. Bangun menyambut kenyataan.

DUGH!

Suara benturan dari undakan anak tangga yang bertemu dengan dahi seorang perempuan berhasil menyita perhatian satu ruangan.

"Ups! Maafkan aku. Kakiku tak melihatnya,” seru seorang teman lelaki dengan nada yang jelas-jelas tak menyiratkan rasa bersalah.

Satu detik.

Dua detik.

Tawa seisi ruangan langsung menggema tanpa ada satu pun yang mencoba membantu Vello untuk berdiri ataupun sekadar membantu mengambilkan buku-buku yang berserakan di sekitarnya.

Vello berusaha berdiri dengan sisa-sisa rasa malu yang ia miliki. Mengambil satu persatu-satu bukunya setelah memasang kembali kacamata yang tadi sempat terjatuh.

"Permisi, bisakah kau menyingkirkan kakimu dari bukuku?” pinta Vello, berjongkok hendak meraih bukunya tanpa berani menatap pemilik kaki yang dengan angkuh menjadikan buku sebagai tumpuan pijakan sepatu stiletto merah menyala dengan hak yang sangat tinggi.

"Tentu saja.” Suara santai Arabelle mengiringi gerakan sepatunya yang menggeser buku tersebut ke dekat tangan Vello. Dalam hati Vello yakini bahwa sampul belakang buku tersebut tidak akan mulus lagi dan menjadi kotor.

"Dan bersihkan dahimu yang berdarah,” tambah suara lelaki yang Vello yakini adalah Kenneth.

Mencoba berani, Vello mendongakkan wajahnya untuk menemukan jawaban. Benar, lelaki itu menyodorkan selembar tisu padanya.

Dengan susah payah Vello meneguk salivanya yang terasa menggantung di tenggorokan ketika ia menangkap manik mata indah yang kini sedang menatapnya. Apakah ini mimpi? Untuk kali pertama Kenneth berbicara dan melihat dirinya!

Arwah Vello seakan melompat dari raganya saat itu juga. Ia berusaha tak mengedipkan mata agar jika ini hanya sebuah fatamorgana, setidaknya tidak segera menghilang dari pandangannya saat ini juga.

Oh Tuhan, Vello begitu mengagumi Maha Karya Tuhan yang begitu sempurna ketika menciptakan seorang Kenneth. Surai rambut cokelat gelap yang menyapu sedikit dahinya menciptakan percikan pesona yang tak dapat terbantahkan. Ditambah kombinasi alis tebal, mata indah serta rahang tegas membuat dirinya layak menyandang lelaki hot di kampus ini, setidaknya untuk Vello.

"Te-terima kasih.” Tangannya bergetar gugup menerima tisu itu.

"Oh kau begitu manis, Babe. Kau harus dihukum!” Dengan cepat Arabelle menarik tengkuk Kenneth. Lelaki itu menyeringai senang menyambut ciuman Arabelle dengan kedua tangan yang langsung memeluk pinggang ramping itu.

Vello tersenyum kecut. Segera mengambil bukunya yang masih di lantai dan bergegas memilih tempat duduk yang masih kosong.

Bibirnya mendesah ketika melihat darah di tisu yang baru ia tempelkan di dahinya. Apa kata kedua orang tuanya nanti jika melihat karya baru di wajah ini? Padahal lebam di lengan hasil dari cengkeraman teman yang membullynya kemarin belum juga hilang.

***

"O Dios mío! (Oh ya Tuhan!) Apa yang terjadi dengan dahimu, Nak?"

Baru saja tubuh Vello memasuki mansion, pekikan dari Camilla, sang ibu sudah menyambut pendengarannya.

Ia berjalan tergopoh-gopoh dengan balutan masker berwarna hijau di wajahnya yang kini sudah retak karena ia tak bisa menahan ekspresi keterkejutannya.

Bibir mungil Vello berdecap. "Está bien, Madre (Aku baik-baik saja, Ibu). Aku hanya tak sengaja terbentur.” Ia mencoba berlalu dari interogasi Camilla, tetapi percuma ketika tangan sang ibu dengan sigap menahannya.

"Jangan coba berbohong lagi! Oh, kemarilah putriku. Aku akan mengobati lukamu."

Camilla dengan cepat membawa Vello untuk duduk di sofa beledu berwarna biru gelap yang berada di ruang tamu mansion.

"Russell harus tahu apa yang sedang terjadi denganmu, Sayang,” ujarnya dengan tangan yang begitu sigap mengobati dahi Vello setelah sebelumnya menerima kotak obat yang sempat dimintanya dari seorang pelayan.

"Madre ….” Vello langsung menahan tangan Camilla. Wajahnya berubah sendu mencoba menjelaskan ketidaksetujuannya dengan sorot mata.

Camilla menggeleng tegas. “Ini sudah kejadian yang ke sekian kalinya, Vello. Melapor pada pihak kampusmu tidak pernah membuahkan hasil yang berarti. Mereka terus saja memperlakukanmu tidak pantas! Apakah kau tak pernah melawan mereka yang berbuat keji terhadapmu? Bentaklah mereka atau jika perlu jambak rambutnya. Sesekali berbuat kasar untuk melindungi diri itu tak apa, Sayangku.”

“Dan mereka akan semakin gencar menyiksaku, Madre.”

Bukan tidak pernah, Vello sudah pernah melakukan perlawanan, tetapi yang didapat adalah tamparan dan wajahnya dicelupkan ke lubang kloset. Ia tak pernah menceritakan bagian itu pada siapa pun. Tidak ada gunanya mengadu. Orang tuanya hanya mengetahui bekas-bekas merah atau lebam di tubuhnya tanpa tahu detail kejadiannya.

Jika bisa memilih, ingin rasanya ia kembali ke Spanyol bertemu dengan teman-teman lama yang begitu menyayanginya. Namun, sejak kepindahannya ke Inggris saat kuliah, Vello tak lagi mendapatkan teman sebaik yang ada di Spanyol. Tak ada teman yang berkunjung ke rumahnya. Tak ada canda tawa di kelas. Hanya ada pandangan aneh setiap kali ia melangkah.

Derita yang ia rasakan ini bermula ketika Russell memboyong keluarganya untuk pindah ke Inggris, hidup di mansion mewah yang baru saja dibelinya.

Tanpa bermaksud menyalahkan niat baik Russell untuk meningkatkan status sosial mereka dari hasil jerih payah keberhasilannya menjadi chef sekaligus pebisnis yang memiliki banyak cabang restoran di berbagai negara, tetapi itu jelas menjadi awal derita yang Vello rasakan dalam lingkup pergaulan yang dirasakan jauh berbeda dengan tanah kelahirannya di Spanyol.

Vello merasakan guncangan budaya yang begitu terasa ketika ia memijakkan kaki di Inggris. Di Spanyol, Vello merasakan keramahan yang begitu kental pada setiap orang. Bahkan pada hubungan pertemanan, Vello tak pernah kehabisan kawan yang selalu mengisi hari-harinya. Ia masih mengingat jelas bagaimana orang-orang di lingkungan hidupnya di Spanyol begitu menghargai ikatan pertemanan dan selalu meluangkan waktu untuk membuat pesta perayaan pada pencapaian setiap orang-orang terdekatnya. Hidup Vello tak pernah surut dari senyum dan tawa.

Vello begitu optimis ketika ia pindah ke Inggris, negara tempat kelahiran ayahnya, dengan keramahan yang telah melekat pada dirinya sedari kecil. Vello menyapa dan mencoba mengenal satu persatu teman kuliahnya, tetapi yang ia dapat justru jauh dari harapan. Tak ada senyum ramah atau sekadar dua huruf sapa ‘hai’ dari bibir mereka. Vello justru mendapat tatapan dingin dan pandangan aneh.

Hari-hari berikutnya Vello tetap mencoba ramah dan mengakrabkan diri pada lingkungan barunya, bagaimanapun juga ia harus memiliki teman di tempatnya kuliah, tetapi Vello selalu tak mendapatkan respons yang baik. Orang-orang justru semakin memandangnya aneh. Sebuah sorot pandangan yang tak pernah Vello dapatkan selama hidupnya di Spanyol.

Hal itu jelas mengguncang hati Vello. Ia mencoba mengoreksi diri untuk mencari tahu kesalahannya. Ia hanya ingin memiliki teman dan apa salahnya dengan bersikap ramah? Namun, semakin waktu bukannya semakin membaik dan mendapatkan teman, Vello justru semakin merasa tak memiliki siapa-siapa selain kedua orang tuanya.

Orang-orang di lingkungan kampusnya justru memandangnya seperti sebuah kutu yang harus segera dihindari. Tak jarang dari mereka mulai mengolok Vello ataupun berlaku kasar padanya secara fisik. Sejak saat itu Vello lebih memilih diam. Ia tak lagi banyak berbicara ataupun mencoba dekat dengan teman-teman kuliahnya. Namun, keterdiamannya justru membuat orang-orang di sekitarnya semakin bersikap kasar pada Vello.

Vello jelas tak mampu menandingi sekian banyak orang yang berlaku buruk padanya. Hingga akhirnya ia memilih menerima perlakuan buruk tersebut demi menjalani perkuliahan untuk meraih mimpinya. Meskipun kini senyum dan tawa Vello telah redup hampir tak berbekas.

“Aku akan tetap menceritakan pada Russell. Aku yakin kakakmu pasti memiliki solusi.” Camilla menyudahi pembicaraan dengan tekat bulatnya yang sudah tidak dapat dibantah.

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan komentarmu ya. Segala info tentang karya dan visual bisa cek di IG @saltedcaramely_

Bab 2

DOR!! DOR!! DOR!!

Suara tembakan saling bersahutan dalam dinginnya dinding gedung terbengkalai di sudut kota Virginia.

“Ia hanya membawa dua puluh orang untuk menyambutku? Apakah ia sedang mencoba meremehkanku?” gumam seorang pria dengan balutan jaket kulit berwarna hitam serta celana senada yang tengah bersembunyi di balik pilar untuk sementara waktu, sedang tangannya sibuk mengisi kembali pelurunya.

Bibirnya berdecap dan sesaat kemudian seringai kejinya terbit seiring peluru kembali melesat dari desert eagle miliknya. Menumbangkan satu persatu pria berjas hitam bersenjata yang terlambat menekan trigger pistolnya.

Tak ada peluru yang terbuang percuma. Semua tembakannya tepat mengenai sasaran dada ataupun kepala para musuhnya hingga menyisakan satu pria paruh baya yang saat ini tengah berjalan mundur ketakutan menatap seringai bengis pria di depannya.

“To-tolong, ja-jangan bunuh aku.”

“Maaf kau bicara apa? Aku tidak bisa mendengar jelas suara gagapmu itu,” tanyanya berpura-pura mendekatkan telinga.

“Ja-jangan bunuh aku. Tolong.”

Kucuran keringat dingin sudah membasahi wajah yang kini tampak semakin pucat seiring dengan langkah pria di depannya yang kian dekat.

Pria bermata hijau kecokelatan itu terkekeh yang justru terdengar seperti nyanyian iblis di bawah pendengaran pria paruh baya itu.

“Kalau begitu memohonlah lagi padaku.”

“Tolong jangan bunuh aku.”

Pria itu berlutut dengan penuh rasa takut berharap ada sedikit iba yang menyentuh pria muda di depannya.

DOR!

Teriakan kesakitan memecah kegelapan malam. Pria paruh baya itu terduduk seraya menahan sakit di pahanya.

“Oh, maafkan aku. Pistolku tak sengaja menembakmu,” ujarnya dengan nada menyesal yang sangat berbeda dengan senyuman kebahagiaan yang terbit sesudahnya.

“A-aku akan berikan apa pun padamu. To-tolong jangan bunuh aku,” katanya terbata menahan luka.

Pria muda itu memiringkan wajahnya, menikmati setiap inci ketakutan yang tergambar di wajah pria di depannya. Ia menyalakan rokok yang baru diambilnya dari saku celana.

“Benarkah? Apa yang bisa kau tawarkan padaku?” Dihisapnya rokok itu sekali kemudian dipandangnya sesaat.

Ia sedikit berjongkok. Menekan puntung rokok yang menyala itu kepada luka tembak di paha yang baru tadi ia ciptakan. Segera saja teriakan kesakitan kembali terdengar dan itu sangat merdu di telinga pria berjaket hitam itu.

Belum merasa puas, ia kembali berdiri tegak. Membuang puntung rokoknya asal. Dengan sengaja ia menekan luka tembak di paha pria itu dengan sepatu hitamnya dan teriakan kembali menyambut pendengarannya yang mungkin menyayat hati pada setiap orang yang mendengar namun tidak baginya. Sangat menyenangkan.

Ia selalu menyukai teriakan dan kesakitan dari setiap orang yang menjadi targetnya. Sedikit bermain-main dengan mereka sebelum ia melangkahi tangan Tuhan untuk mempercepat ajal para targetnya adalah hiburan tersendiri baginya.

“Uang? Aku memiliki banyak uang untukmu.”

“Bagaimana bila aku meminta yang lain saja?” tanyanya santai tak berminat dengan melirik jam di pergelangan tangannya seakan perbincangan mereka hanya sebuah obrolan ringan di sore hari.

“Apa yang kau minta?” Udara serasa tercekat di dadanya seiring sakit pada luka yang terus menguar di sekujur pahanya.

Pria berambut brunette itu berjongkok, menyetarakan tinggi dengan pria berbadan tambun yang sudah terduduk lemah. Ia menyeringai. Sangat menyukai wajah korbannya yang semakin memucat seiring darah yang terus mengucur pada luka tembaknya.

Ia mengeluarkan sebuah pisau dari balik celananya. Memperlihatkan benda tajam itu di depan wajah korban yang kini terbelalak tak sanggup bila benda itu turut mengoyak tubuhnya.

“Aku ingin kau menyampaikan salam pada kawan lamaku. Lucifer di neraka.”

Ia menyeringai lebar dan seiring dengan itu pisau langsung menancap dalam menembus rahang hingga dinding mulut pria paruh baya itu. Darah memercik ke sekitar termasuk pakaian pria muda tersebut.

“Terima kasih sudah menghiburku, Pak Tua.”

***

“Mr. Quinton sudah menunggumu di dalam.”

Pria berjaket kulit hitam itu hanya mengangguk sekilas pada salah satu rekan berjas hitam yang tengah berjaga di sisi pintu.

“Mr. Quinton.” Sapanya setelah memasuki ruangan dengan furnitur kayu klasik mewah yang dapat dengan jelas menyuarakan seberapa berkuasanya pemilik ruangan tersebut.

Kursi dengan punggung tinggi itu tengah menghadap kaca lebar yang menyuguhkan pemandangan kota New York, kini berputar, menampilkan pria tua berambut dan jenggot putih yang menghiasi wajah yang berangsur keriput. Namun, tubuh gagah dengan lekukan otot di tubuhnya masih jelas tercetak di kemeja putih dengan tiga kancing teratas yang dibiarkan terbuka, hingga menampakkan bulu halus dadanya serta lengan baju yang ia gulung hingga siku, menunjukkan hiasan tato di sepanjang lengan berototnya.

“Duduklah, Dexter.” Jemari yang tengah mengapit cerutu itu memberi kode untuk mempersilakan pria muda di depannya untuk duduk.

“Terima kasih, Sir.”

Ia mengibaskan tangan di depan wajah dengan malas. “Sudah berulang kali kubilang, panggil aku Vernon jika hanya kita berdua.”

Dexter menarik ujung bibirnya hampir tak terlihat. “Maafkan aku.”

“Kudengar kau sudah menyelesaikan tugas dari klien kita kemarin?”

“Ya, aku sudah melenyapkannya,” jawabnya datar.

Vernon tertawa bangga. “Kau memang selalu bergerak rapi dan cepat.”

Dexter hanya memandang datar atasannya. Ia menunggu basa basi yang sedang berlangsung ini untuk segera berakhir. Tidak mungkin ia dipanggil hanya untuk mendengar pujian dari seorang Vernon Quinton.

“Kau adalah salah satu senjata andalanku. Apakah kau tahu itu?” Vernon menyesap cerutunya penuh nikmat.

“Terima kasih, Vernon.”

“Kau berhak mendapatkan cuti. Tenang saja kau tetap mendapat bayaranmu.”

“Apa maksudmu?”

“Kau bukan benda. Meskipun kau adalah senjata unggulanku, tetapi kau tetap manusia. Kau butuh merenggangkan ototmu untuk siap menerima misi dari klien selanjutnya.”

Vernon Quinton merupakan pemilik dari perusahaan swasta terbesar di Amerika Serikat yang menyediakan jasa keamanan berupa alat hingga bodyguard untuk lingkup pribadi maupun corporate dan juga beberapa perusahaan dalam bidang pertambangan serta perhotelan.

Namun, tidak banyak pihak yang tahu jika perusahaan milik Vernon juga bergerak di bawah tanah dalam menyediakan jasa pembunuh bayaran. Pekerjaan yang selama ini dilakukan oleh Dexter dan beberapa rekannya.

Vernon mengeluarkan sebuah paspor dari laci mejanya. Meletakan di atas meja dan mendorongnya dengan kedua jari ke arah Dexter. Terdapat tiket pesawat yang terselip di dalam paspor tersebut.

“Lusa, kau akan menjalankan tugas sebagai bodyguard di London. Kau hanya akan menjaga seorang nona muda di sana. Pergunakan waktumu dengan baik,” ujar Vernon setelah kembali menyesap cerutunya dan menopang siku pada bagian tangan kursi.

“Aku akan menghubungimu saat misi selanjutnya telah dating,” imbuhnya mengakhiri pembicaraan dengan memberi kode dengan dagunya.

Dexter berdiri mengangguk hormat setelah mengambil paspornya. Ia segera berlalu meninggalkan ruangan Vernon dengan langkah tegap tanpa ada yang tahu bahwa terdapat gemuruh di dadanya ketika mendapatkan kabar tersebut.

Ia mengumpat seiring dengan langkah lebarnya meninggalkan gedung perusahaan Vernon. Cuti? Menjadi seorang bodyguard? Apakah Vernon mulai meragukan kemampuan kerjanya sehingga ia menurunkan job desc untuknya dan harus menerima pekerjaan rendahan seperti itu?

Ia kembali mengumpat karena tak ada yang bisa ia lakukan selain menjalankan perintah itu. Ia terlalu menyegani Vernon untuk sekadar membantah perintahnya.

Dexter mendesah pasrah. Ia kembali menekankan dalam dirinya untuk sabar menunggu misi selanjutnya sesuai janji Vernon.

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan komentarmu ya. Segala info tentang karya dan visual bisa cek di IG @saltedcaramely_

Bab 3

Bisakah Vello meminjam kantong ajaib Doraemon untuk mengeluarkan ‘pintu ke mana’ saja? Pasti akan sangat melegakan karena ia bisa langsung memasuki ruang kuliah tanpa harus melalui orang-orang di kampus yang rasanya tak pernah lelah memandang dirinya seperti kuman yang harus segera menyingkir dari penglihatan mereka.

Sebenarnya kesalahan apa yang masih melekat pada dirinya? Ia sudah tak pernah lagi banyak bicara, ia juga tak melawan perlakuan buruk mereka. Lalu apa yang membuat mereka masih memandangnya seperti itu? Apakah baju yang ia kenakan selalu tampak kuno? Sehingga mereka begitu jijik melihat kehadirannya?

Sembari terus melangkah, Vello memperhatikan lagi pakaian yang sedang ia kenakan. Sepatu datar hitam, celana panjang jeans hitam, kemeja jeans biru yang ia padukan dengan sweater berwarna maroon. Rasanya tidak ada yang aneh.

Ia memang tak pernah mengenakan pakaian branded ataupun barang-barang mewah jika ke kampus. Ia hanya memakai pakaian sederhana. Baginya tak ada pentingnya memakai barang-barang mahal tersebut untuk ke kampus, tak akan berpengaruh dengan prestasi perkuliahannya. Bahkan ia lebih memilih menggunakan taksi ataupun kereta dari pada mengendarai Maserati yang justru bernasib terselimuti di garasi mansion, hingga membuat orang-orang tidak ada yang mengetahui bahwa Vello termasuk mahasiswa super kaya di kampusnya.

Vello mendesah, lebih baik ia terus belajar untuk tak peduli. Menebalkan hati dan menutup mata. Fokus pada perkuliahannya kemudian mewujudkan mimpinya untuk menjadi dokter anak.

Langkahnya tiba-tiba terhenti ketika sesuatu menabrak dan dadanya terasa langsung basah.

“Oh ya Tuhan, maafkan aku.”

Perempuan yang Vello yakini sebagai pelaku utama yang telah sengaja menumpahkan jus kemasan ke bajunya itu terkekeh mengejek.

Vello menarik napas dalam. Ia tertunduk, tetapi Vello tak dapat menyembunyikan kepalan tangannya karena begitu geram bercampur nyeri di dadanya.

Perempuan itu melirik kedua tangan Vello yang terkepal di bawah sana. Ia tersenyum miring.

“Apakah kau akan marah?” Ia mencengkeram kedua pipi Vello dengan ibu jari dan telunjuknya. “Sebelum kau marah, segeralah menyingkir dengan tubuhmu yang bau jus itu! Ewh!” Ia segera berlalu setelah menatap jijik pada hasil karyanya sendiri.

“Kasihan sekali,” ejek salah satu teman perempuan itu yang sempat menarik rambut Vello hingga ikatan rambutnya terlepas. Vello memekik kesakitan dan perempuan itu berlalu begitu saja tanpa rasa bersalah.

Seperti hari-hari biasanya, ia menjadi tontonan yang menghibur bagi orang-orang di sekitarnya. Tawa mereka begitu lepas. Lagi, Vello menarik napas panjang. Ia harus selalu menambah kesabarannya. Dada Vello terasa sesak. Sampai kapan ia harus mendapatkan perlakuan seperti itu?

Vello mengikat lagi rambutnya secara asal sembari berlari sejauh mungkin dari pandangan orang-orang. Ia harus kuat. Seorang dokter harus memiliki mental baja.

Mengesampingkan rasa sakit hati dari perlakuan salah satu temannya tadi, ia kembali teringat oleh kelas perkuliahannya. Ia harus segera melepas sweaternya dan mengejar kelas yang lima menit lagi akan segera dimulai.

Terlalu jauh jika ia harus berlari ke toilet yang berada di ujung gedung. Vello akhirnya memutuskan untuk menghentikan langkahnya di lorong sepi. Ia cukup melepaskan sweaternya dengan cepat, tidak perlu ke toilet karena ia masih mengenakan kemeja, tidak telanjang. Vello mengangguk meyakinkan dirinya sendiri.

Ia segera melepas tas ranselnya lalu menarik ujung sweaternya ke atas.

“Wow!” seru seorang pria yang terdengar di ujung sana.

Kening Vello berkerut heran. Ia ingin melihat siapa pria itu tetapi kenapa sweaternya sangat susah dilepaskan. Ia tak bisa melihat apa pun, sweater itu menggantung menutupi kepalanya. Vello semakin heran karena ia merasakan embusan angin yang menyentuh halus perutnya.

“O Dios Mio! Apa kemejaku ikut terangkat?” gumamnya panik.

“Yeah, tepat sekali,” jawab pria itu terkekeh geli yang sepertinya sudah berada tak jauh darinya karena suara itu begitu dekat. “Let me help you.”

Segera saja ia membantu menurunkan kemeja yang menggantung ke atas itu setelah beberapa kali mengerjapkan mata karena melihat jelas dada padat yang bersembunyi di balik bra hitam berenda milik perempuan itu. Namun, untungnya ia dapat menguasai diri dan segera melanjutkan membantu meloloskan sweater maroon yang menghalangi pandangan salah satu teman kuliahnya tersebut.

“Kenneth!” Mata Vello membulat sempurna seakan hendak lepas saat itu juga ketika melihat pria yang telah membantunya adalah kekasih khayalannya. Wajah itu seketika memerah seperti kepiting rebus. Mau ia buang ke mana wajahnya kini?

“Yeah it’s me,” jawab Kenneth kembali tertawa geli melihat wajah memerah Vello. “Apakah kau berharap orang lain yang melihatnya?”

“Tidak, tentu saja tidak!”

“Jadi kau mengharapkan aku yang melihatnya?”

“Tentu, maksudku tentu saja tidak!” Vello merutuki bibirnya yang keseleo dalam berucap.

Kenneth dengan susah payah melipat bibirnya untuk menahan tawa yang sudah ingin meledak melihat salah tingkah perempuan itu yang begitu polos.

“Terima kasih kau sudah membantuku.” Vello membenarkan kacamatanya yang sedikit turun ke ujung hidung menggunakan telunjuk.

“Dan maaf kau sudah melihatnya,” imbuhnya dengan mengecilkan suara di kata-kata terakhir. Ia tertunduk tak sanggup menatap pria itu.

Dengan cepat kaki mungil itu membantu Vello segera berlari menyelamatkan diri dari rasa malu yang sudah menguliti wajahnya.

***

Gesekan sepatu kets yang beradu dengan lantai mansion membawa Vello semakin memasuki kediamannya dengan bergandengan bersama suasana buruk hatinya. Masih teringat jelas kejadian memalukan tadi pagi.

Ya ampun, mengapa ingatan itu terus mengejek dirinya? Kejadian itu benar-benar hal terburuk yang pernah ia alami dibandingkan hal buruk yang selalu diterimanya tiap hari dari orang-orang yang membullynya.

Demi Tuhan, kejadian itu seperti sebuah vacum cleaner yang menyedot habis mukanya di depan Kenneth. Tadi ia cukup bernapas lega karena setidaknya Vello tidak memiliki jam mata kuliah yang sama dengan Kenneth tetapi ia bersumpah tidak akan pernah berani bertatapan dengan Kenneth setelah ini.

Seketika mata Vello berbinar saat melihat punggung pria yang sudah sangat ia kenali sedang duduk di taman mansion membelakangi dirinya.

“Russell!!” Seakan mendapat suntikan energi, Vello berteriak sambil berlari.

Pria di bangku taman itu segera berdiri dan menoleh melihat adiknya yang tengah berlari ke arahnya.

Russell tersenyum lebar sembari merentangkan kedua tangan dengan lebar dan segera disambut oleh Vello yang berhambur kepelukannya.

“Te extraño tanto, Princesa (Aku sangat merindukanmu, Putri.)”

“Yo también te extraño. (Aku juga merindukanmu).”

Russell terkekeh setiap kali adik yang memiliki selisih umur cukup jauh itu membalas panggilannya dengan begitu riang.

Bagi Vello, Russell adalah kesatria di dalam keluarga, terutama dirinya. Russell adalah seorang kakak yang begitu dewasa, melindungi dan selalu sekuat tenaga untuk membahagiakan adik beserta kedua orang tuanya.

Russell adalah orang pertama yang selalu memeluknya dengan erat ketika ia bersedih saat ia kecil. Tentu saja kenangan masa kecilnya itu begitu melekat karena ketika Russell berusia dua puluh tahun, kakaknya memutuskan untuk masuk universitas di Inggris, meninggalkan Vello yang saat itu masih berusia sepuluh tahun, tetapi jarak antar negara tidak pernah memisahkan mereka. Bahkan sampai saat di usia Vello yang menginjak dua puluh tahun ini, ia adalah orang yang hampir setiap hari dihubungi oleh Russell dibanding kedua orang tuanya.

“Apakah kau membawakan sesuatu untukku dari Indonesia?” tanya Vello antusias sambil bergelayut manja memeluk lengan Russell.

Kapan lagi ia bisa bermanja-manja dan berekspresi dengan bebas pada seseorang? Terlebih Russell adalah kakaknya yang jarang pulang menemui keluarga.

Sudah hampir enam bulan ini kakaknya berada di Indonesia. Kabarnya ia akan menambah cabang restoran serta mendirikan perusahaan di sana. Namun, tidak biasanya ia selama itu menetap di sebuah negara. Vello cukup penasaran, mungkin ia bisa menggalinya nanti.

“Tentu saja, Princesa. Aku membawakanmu kopi luwak dan kopi Toraja.”

Russell memang sangat mengetahui bahwa Vello adalah penikmat kopi. Buku dan kopi adalah sahabat baiknya.

“Kau memang yang terbaik!” Vello langsung berjinjit memberi kecupan di pipi kakaknya. Russell terkekeh gemas dengan perlakuan Vello.

“Tunggu dahulu, kau tidak membawakan mie instan yang sudah ku pesan itu?” Bibir Vello mencebik mengingat Russell tidak menyebutkan pesanannya.

Russell mendesah dan mencoba memberi penjelasan. “Mie instan tidak baik untuk kesehatan, Princesa.”

“Tetapi hampir semua youtuber kuliner me-review mie itu, Rush! Aku sudah mati penasaran ingin mencobanya. Kau menyebalkan!” Vello langsung menyentak lengan pria itu.

Russell langsung memutar bola matanya. Adik kecilnya mulai merajuk. Ia langsung mengapit leher Vello dengan sikunya dan mengacak rambut adiknya itu hingga berantakan.

“Rush! Hentikan!” Vello berteriak memohon ampun pada Russell yang mulai menggelitik pinggangnya.

Tawa mereka menggema. Vello meronta dan langsung berlari menghindar dari kejaran Russell hingga tubuh Vello menabrak sang ayah.

“Apa kalian tidak malu dengan umur? Kekanakan,” tegur Rolland tegas.

“Kami masih muda, Padre! (Ayah!),” jawab kakak beradik itu kompak.

Camilla yang berada di samping suaminya langsung berdecap serta memutar bola matanya.

Setelah mengembuskan napas berat, Rolland beralih memandang pada anak lelakinya yang tengah terengah mengatur napas setelah berlarian mengejar Vello. “Apakah kau sudah memberitahukan tentang hal itu pada Vello?”

“Memberitahukan tentang apa, Rush?”

Vello merasa ada hal serius yang belum kakaknya sampaikan. Ia berharap hal itu bukan tentang bullying yang terjadi. Demi Tuhan, ia sudah belajar tak peduli tentang itu. Ia tak ingin keluarganya merasa terbebani dengan yang dialaminya tersebut.

“Mandi dan gantilah bajumu terlebih dahulu, Princesa. Kita akan membicarakannya setelah ini.” Russell mengusap rambut Vello dengan lembut sebelum akhirnya Vello mengangguk kemudian menaiki tangga menuju kamar

***

“Jadi?”

Vello sudah duduk di depan Russell, menanti pembicaraan yang sudah membuatnya penasaran selama mandi tadi. Tak jauh dari mereka, kedua orang tuanya tengah duduk sambil menikmati secangkir teh di tangan mereka.

Russell menghela napas berat sebelum akhirnya ia mengambil duduk di samping adiknya yang tengah bersedekap tak sabar.

“Aku sudah mendengar semua dari, Madre. Kenapa kau tak pernah menceritakan hal seberat itu padaku, hm?”

Vello menggeleng lesu. Tebakannya benar. Ini semua tentang kasus bullying yang selalu ia sembunyikan dari Russell. Jadi karena itu Russell memilih segera pulang? Vello tertunduk.

“Kau tahu aku tak akan pernah membiarkan hal itu terjadi pada adikku, bukan? Jika kau bercerita lebih awal padaku, hal seperti ini bisa kita cegah.” Russell mengelus rambut Vello penuh sayang. Ia melirik pada luka lebam di lengan adiknya yang sudah sedikit memudar.

“Sudahlah, Rush. Aku sudah terbiasa mengalaminya. Aku baik-baik saja. Mereka tak ada yang benar-benar serius mencelakaiku.”

“Tak serius mencelakaimu bagaimana?!” bentak Camilla yang sedari tadi sudah menahan diri untuk tidak ikut bicara.

Ibu mana yang dapat terbiasa melihat hari-hari anak gadisnya selalu dicelakai teman-teman kampusnya sendiri.

“Tuan Nyonya, maaf saya menyela. Tamu Anda sudah tiba,” ujar seorang pelayan wanita yang baru saja datang dengan wajah tertunduk karena merasa kurang sopan menyela pembicaraan keluarga tersebut.

“Persilakan ia masuk dan bergabung bersama kami,” jawab Russell dengan sedikit melirik ke arah Vello.

Pelayan itu mengangguk patuh dan segera meninggalkan mereka untuk menjemput tamu yang sudah menunggu di depan pintu utama mansion.

Russell hanya memandang Vello tanpa niat menjawab tatapan tanya dari sang adik.

Tak berselang lama, pelayan itu kembali dengan seorang pria muda dengan setelan jas hitam di sampingnya.

Vello memperhatikan pria yang tampaknya seusia dengan kakaknya itu dari bawah hingga atas.

Ia bergidik ngeri dengan wajah datar yang cenderung dingin itu. Mungkin untuk seukuran pria dewasa, ia dapat terbilang cukup tampan dengan rahang tegas yang ditumbuhi rambut-rambut halus, membuatnya terkesan begitu maskulin serta alis tebal dan rambut brunette yang tertata rapi. Belum lagi tubuh tegap berotot yang bersembunyi di balik jasnya itu, jika Vello wanita dewasa, mungkin ia akan terpana. Ditambah jas hitam yang pria itu kenakan tampak mahal yang mengesankan bahwa pria depannya itu adalah pria dengan profesionalitas tinggi dan tidak sembarang.

Manik Vello bertabrakan dengan mata tajam berwarna hijau dengan bagian iris dalam yang berwarna kecokelatan. Entah mengapa, lingkaran pria itu mengeluarkan aura kegelapan yang seketika menyergap Vello. Bola mata itu seakan menariknya memasuki lorong gelap panjang yang tak berujung. Hanya dengan memandangnya, Vello dapat merasakan aura dominan dan intimidasi. Benar-benar pria yang menakutkan.

Pria itu mengangguk memberi salam hormat pada orang-orang di depannya.

“Selamat datang di rumah kami, Mr. Dexter.” Rolland berdiri menyambut. Keduanya bersalaman dan Rolland menepuk pundak pria itu dengan hangat.

“Terima kasih Mr. Shawn”

“Semoga kau betah di rumah kami.” Camilla turut menyambut dan memberi pelukan pada Dexter yang langsung menegang karena mendapat perlakuan tak terduga dari wanita paruh baya tersebut.

“Tentu saja Mrs. Shawn. Terima kasih kau telah berbaik hati mengizinkan saya tinggal di sini.”

“Tentu aku sangat senang ada anggota baru di rumah ini.” Camilla tersenyum hangat dengan mengusap pelan kedua lengan Dexter.

“Tunggu, kenapa pria ini harus tinggal di sini?” Vello yang sedari tadi bingung menyaksikan kedua orang tuanya menyambut pria menyeramkan itu akhirnya melontarkan rasa penasarannya.

“Vello, bersikaplah sopan,” ujar Rolland mengingatkan dengan suara beratnya.

Kembali, mata Vello dan Dexter bertemu tetapi kini Vello lebih cepat memutus pandangannya sebelum ia tersesat dan tak dapat kembali.

“Mr. Dexter perkenalkan dia adalah Vellonica adikku dan Vello, dia adalah Mr. Dexter. Bodyguard yang mendampingimu ke mana pun mulai besok,” ujar Russell dengan menyentuh lengan Dexter dan tangan lainnya terbentang mengarah pada adiknya.

“Nona Vellonica.” Dexter mengangguk pelan memberi salam hormat.

“Bo-bodyguard? Kenapa aku harus memiliki bodyguard?” Vello memandang Russell dan pria bernama Dexter itu secara bergantian.

“Mr. Dexter akan melindungimu dari perilaku kejam teman-temanmu di kampus, Querida (Sayangku),” tutur Camilla dengan lembut.

Vello langsung beralih menatap Russell. “Kau yang memiliki ide itu?”

“Maaf. Aku tak bisa membiarkan orang lain terus menyakitimu, Princesa.”

Vello memejamkan mata rapat-rapat sebelum akhirnya berkata dengan lirih. Sarat akan permohonan pada sang kakak yang begitu ia segani. “Demi Tuhan, Rush. Aku lebih butuh seorang sahabat dari pada seorang bodyguard.” Ia sekilas memandang wajah datar Dexter. Rasanya Vello ingin menjerit saat ini juga.

“Vello, ini untuk kebaikanmu,” bujuk Rolland.

Vello kini hanya mampu tertunduk meskipun hatinya telah berteriak mendobrak dada.

Dexter hanya diam dengan wajah datar menyaksikan drama keluarga dengan seorang gadis melankolis. Di dalam hati ia tertawa memandang remeh gadis yang kini menyembunyikan wajah dengan memilih memandang ubin marmer di bawah kakinya.

“Jika ada jasa yang menyewakan sahabat, tentu saja aku sudah melakukannya. Namun, apakah sahabat dapat melindungimu dari perilaku buruk orang-orang itu?” Russell mencoba menjelaskan. Ia begitu nelangsa mengetahui fakta lingkungan adiknya.

“Aku tak ingin ada bodyguard!” Vello memandang Russell dengan sedikit meninggikan suara untuk mempertegas ketidaksetujuannya. Namun, matanya tak berani sedikit pun melirik pada pria yang akan menjadi bodyguard-nya tersebut. Terdapat perasaan tak enak hati karena menolak jasa pria itu secara terang-terang di depan orangnya langsung, tetapi tak ada upaya lain. Ia sungguh tak ingin memiliki bodyguard.

“Ini bukan penawaran yang bisa kau pilih, Princesa.”

Kembali Vello memejamkan mata untuk menahan segala gemuruh di dadanya. Ia kembali berkata dengan tegas, “Terserah apa katamu, Rush. Namun, aku jelas tak akan pergi ke kampus dengan seorang bodyguard.”

“Aku kecewa padamu,” tambah Vello akhirnya, sebelum ia berlari menaiki tangga menuju kamarnya.

Russell mengembuskan napas berat menatap sedih punggung adiknya yang sudah menjauh.

“Kau tetap menjalankan tugasmu mulai besok Mr. Dexter.” Pandangannya beralih pada pria di sampingnya.

“Baik, Mr. Shawn. Namun, jika Tuan, Nyonya dan Anda berkenan, Anda cukup memanggil saya Dexter.”

“Kalau begitu panggil aku Russell. Bukankah kau hanya lebih tua satu tahun dariku?”

Russell tersenyum kecil sambil menepuk bahu Dexter untuk mencairkan kekakuan di antara mereka. Kedua orang tuanya mengangguk, turut menyetujui.

“Aku rasa pelayan sudah kopermu tadi bukan? Ayo, aku akan mengantarmu menuju kamar yang akan menjadi tempat ostirahatmu selama ini. Letaknya tidak jauh dengan kamar Vello. Jadi akan memudahkanmu menjaganya selagi kami tak berada di rumah.” Camila tersenyum ramah yang disambut anggukan pelan oleh Dexter dan segera menyusul nyonya itu dari belakang.

Pertemuan pertama dengan sang nona sudah membuat Dexter tak berselera. Nona manja penuh drama. Bisakah ia bertahan untuk menjadi bodyguard gadis itu?

...To Be Continued...

Makasi banyak sudah baca chapter ini. Jangan lupa tinggalkan komentarmu ya. Segala info tentang karya dan visual bisa cek di IG @saltedcaramely_

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED