Aku melihatnya lagi, gadisku kembali menghabiskan sorenya di kursi taman rumah sakit. Seperti apa yang selalu ia lakukan semenjak tiga hari belakangan ini. Semilir angin sore sesekali menerbangkan helai rambut hitamnya yang tergerai bebas, membingkai dengan sempurna wajah mungil yang selalu membuatku tak pernah bosan untuk memandanginya. Dialah gadisku, milikku seutuhnya meski pada kenyataannya dia bahkan sama sekali tak mengingat eksistensiku dalam hidupnya.
Genggaman tanganku di atas parzel buah semakin mengerat. Aku egois, ya... aku tahu itu. Dengan kejamnya merasa bahagia ketika gadis yang kucinta kehilangan seluruh memori di otaknya. Mau bagaimana lagi? Ini semua karena aku terlalu mencintainya. Cintaku ini bahkan semakin bertambah ketika dia menjadi sosoknya yang baru.
Lihatlah dirinya. Begitu cantik, begitu hangat, begitu cemerlang, sehingga membuat dirinya begitu mudah untuk dicintai. Jauh berbeda dengan dirinya yang dulu. Meski pada kenyataannya, mau seperti apapun sikapnya, cintaku ini hanya akan tetap tertuju padanya. Terpatri begitu dalam hingga aku bahkan sulit untuk sekedar berpaling untuk mengagumi wanita yang lain.
"Kamu sudah datang?" suaranya yang lembut menyentak lamunanku begitu saja. Lihatlah, karena terlalu sibuk mengagumi sosoknya, aku bahkan tak sadar sejak kapan kedua kakiku telah melangkah dan kini aku justru mendapati diriku tengah berdiri membatu di hadapannya.
Mengerdikkan bahu, aku kemudian mendudukkan tubuhku tepat di sebelahnya. Memejamkan mata sejenak, menikmati semilir angin yang sayup membawa serta wangi tubuhnya. "Seperti biasa, tak ada yang spesial." Jawabku kemudian sambil tersenyum lembut kepadanya.
Gadisku itu membalas senyumku sambil menyingkirkan helaian rambut panjangnya yang tertiup angin hingga menghalangi pandangan. Tanganku dengan refleks --yang lebih karena terbiasa, ikut menyelipkan beberapa anak rambutnya ke belakang telinga. Helaian rambutnya itu kini berwarna cokelat keabuan, nyaris hitam. Warna yang tergolong normal.
Sampai sekarangpun aku tak mengerti, kenapa dulu dia begitu suka mewarnai rambutnya dengan warna-warna tak masuk akal. Mulai dari cokelat tua yang diberi sentuhan warna merah disetiap ujungnya, pink cerah yang membuat siapapun yang melihatnya menjadi sakit mata, hingga percampuran tujuh warna yang membuat rambutnya bisa saja dijadikan sebagai icon pelangi.
Namun untung saja ketika insiden itu terjadi, entah bagaimana dia sudah mengubah warna rambutnya menjadi warna yang sedikit normal. Sehingga pertanyaan rumit seperti, 'kenapa warna rambutku seperti ini?' tidak akan keluar dari bibirnya. Aku pasti akan kebingungan setengah mati jika dia bertanya seperti itu. Karena pertanyaan itu, jelas-jelas hanya dirinya sendirilah yang tahu jawabannya. Dirinya yang dulu, sebelum insiden naas itu merenggut seluruh ingatannya.
Amnesia, itulah nama penyakit yang divonis dokter ketika Nessa baru saja siuman di ruang ICU. Sebuah penyakit yang dulu sempat kuragukan keberadaannya. Bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa kehilangan seluruh memori otaknya? Apakah itu berarti dia juga lupa bagaimana caranya berjalan? Bagaimana caranya makan dan bagaimana caranya bernafas? Namun keraguan itu langsung sirna begitu saja ketika Nessa sendirilah yang mengalaminya.
Kekasihku itu hanya menatap hampa segala hal yang ada di depannya saat pertama kali siuman. Dia bahkan tak merespon ketika aku menggenggam tangannya dan memanggil namanya berkali-kali. Dan ketika satu pertanyaan keluar dari bibirnya, aku benar-benar tak tahu harus menangis atau tertawa sekencang-kencangnya saat itu juga.
"Siapa?" aku bahkan masih ingat suara lemah dan pandangan kosongnya ketika menanyakan satu kata itu.
Dia tidak mengingatku! Dia tidak mengenal dirinya sendiri, dan bahkan dia sama sekali tak tahu hal apa saja yang sudah terjadi di antara kami. Sejak saat itulah kebohongan demi kebohongan terjadi. Bukan sepenuhnya kebohongan, aku hanya menutupi apa yang seharusnya tidak ia ketahui.
Aku tahu ini salah, aku bahkan sangat tahu jika aku mungkin akan kehilangan dirinya jika kelak tiba-tiba saja ingatannya kembali. Namun salahkah aku jika mempertaruhkan segalanya saat ini? Aku akan melakukan apa saja untuk mengikat hatinya selama kesempatan ini masih ada. Aku akan memperbaiki semua kesalahan yang pernah kulakukan padanya. Aku akan membuktikan jika cintaku benar-benar begitu dalam padanya. Dan akan kutunjukkan jika aku menempatkannya dalam posisi yang paling penting di atas segala-galanya.
Sehingga ketika dia pada akhirnya mengingat semua masa lalu kami, dia akan sadar. Sedikit kesalahanku di masa lalu, sama sekali tak sebanding dengan seberapa besar cinta dan kasih sayang yang kucurahkan untuknya saat ini. Dia tak akan memiliki alasan untuk pergi dariku. Karena hatinya, sudah berada di dalam rengkuhan kedua tanganku.
Gadis itu menatap ke arah jendela dengan tatapan hampa, kepalanya yang terlilit perban berwarna putih disandarkan dengan lemah pada kaca jendela. Tatapan matanya menerawang, tak jelas apa yang tengah diperhatikannya kini. Jemari tangannya secara tak sadar membuat pola-pola abstrak di permukaan kaca yang tampak sedikit berembun.
_______
"Dia mendekatimu lagi?" tanya gadis itu dengan nada sinis yang sangat kentara.
"Bukan begitu Nessa, dia hanya menanyakan tugas padaku."
"Cukup! Kamu tak sadar atau memang bodoh? Jangan terlalu naif! Kamu tak tahu dia itu mengincarmu? Sekali lagi dia mendekatimu, akan kupastikan dia habis di tanganku!"
________
"Ahh..."
Gadis itu meringis pelan sambil menyentuh keningnya ketika satu lagi kepingan puzzel masa lalunya kembali teringat.
"Siapa sebenarnya aku ini?" hanya itu pertanyaan yang selalu ditujukannya pada diri sendiri. Namun hingga saat inipun tak kunjung ada jawabnya.
Sejenak ia mengalihkan tatapannya ketika mendengar suara pintu berderit pelan. Seorang pemuda tampak berdiri dengan santai dengan sekeranjang buah bertengger di tangan kanannya.
Pria itu tampak melihat sekitar sebelum pandangannya tertuju kepada gadis yang sedari tadi duduk di sebuah kursi roda dekat jendela, gadis itu tampak sedang memegang kepalanya sambil sesekali meringis pelan. Melihat pemandangan itu, pemuda tadi langsung melangkahkan kakinya ke arah gadis itu dan langsung berlutut untuk memastikan keadaannya.
"Nessa kamu baik-baik saja?" tanyanya sambil meraih wajah gadis itu ke dalam rengkuhan kedua tangannya.
"Tidak... kepalaku sakit sekali." Nessa terbata sambil sesekali memukul kepalanya. Berharap rasa sakitnya akan sedikit berkurang, namun jelas itu pemikiran yang bodoh. Karena bukannya berkurang, rasa sakit itu malah semakin parah, berdentum-dentum seakan kepalanya mau pecah.
"Jangan lakukan itu! Kamu justru akan lebih menyakiti dirimu sendiri. Sebentar, akan kupanggilkan dokter dulu!"
"Jangan pergi Davin, di sini saja, temani aku. Kumohon..." Nessa memejamkan mata menahan sakit yang terus menerus mendera.
Davin yang sedari tadi menggenggam tangannya bahkan merasakan kedua tangan itu bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
Demi apapun Davin tak akan pernah mampu melihat keadaan Nessa seperti ini. Nessa yang dulu tak akan pernah terlihat selemah dan semenderita ini. Nessa yang dulu adalah gadis keras kepala, sombong, suka menindas dan sangat menjengkelkan. Namun yang terpenting, dia adalah gadis yang kuat.
"Ah... sakit sekali!" cukup. Davin sudah tak bisa lagi menahannya.
Dengan cepat pria itu mengangkat tubuh Nessa, menidurkannya di ranjang kemudian memencet tombol merah berkali-kali. Davin kemudian ikut naik ke atas ranjang dan merengkuh Nessa ke dalam pelukannya. Mengusap kepala gadis itu dengan pelan. Berharap perhatian kecilnya itu mampu sedikit saja mengurangi rasa sakit yang kini dialami kekasihnya.
"Apa kamu mencoba mengingat lagi?" Nessa hanya mampu terdiam, karena Davin jelas telah berkali-kali mengingatkan agar jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya.
Namun terbangun di tempat asing, dengan seluruh tubuh menjeritkan dua kata yaitu sakit dan nyeri, dikelilingi oleh banyak orang namun tak ada satupun yang kau kenal, bukanlah hal yang menyenangkan menurut Nessa.
Gadis itu secara tak sadar akan memutar otaknya, berusaha menggali ingatan-ingatan masalalunya. Siapa namanya? Siapa orang yang sedari pertama kali dirinya membuka mata, selalu mencoba menawarkan kenyaman untuknya? Siapa orang tuanya? Bagaimana ia bisa berada di sini?
Dan berjuta pertanyaan lain yang tak pernah menuai jawabannya. Yang gadis itu dapatkan hanyalah rasa nyeri yang berdentam, seakan memukul-mukul kepalanya setiap kali satu atau beberapa gambaran masalalunya muncul ke permukaan.
Hal terakhir yang Nessa tahu adalah, ia lagi-lagi terbangun di ranjang putih dalam ruangan serba putih ini. Rumah sakit, itulah kesimpulan nama ruangan ini jika dilihat dari suasana dan segala hal yang berada di dalamnya. Dan gambaran yang sebelumnya sempat berkelebat di benaknya akan kembali sirna. Benar-benar kesakitan yang percuma.
Nessa mendongakkan kepalanya sehingga dapat melihat Davin yang menunduk tepat berada di depannya. Davin, orang pertama yang langsung mendatangi dan menggenggam tangannya ketika pertama kali ia membuka mata. Sosok pemuda yang mengaku sebagai kekasih hatinya.
"Davin, boleh aku bertanya sesuatu?" hanya anggukan sebagai jawaban dari pertanyaan bernada lirihnya tadi.
"Dulu, aku orang yang seperti apa?" senyum yang awalnya menghiasi wajah tampan itu entah mengapa menguap begitu saja, menyisakan satu senyuman miris yang entah artinya apa.
"Sebaiknya jangan paksakan dirimu untuk mengingatnya." Jawab pria itu berusaha mengalihkan pembicaraan. Demi apapun, Davin tidak pernah berminat untuk mengungkit masa lalu kekasihnya.
"Kamu tahu? Ingatanku sedikit demi sedikit kembali. Ya, meskipun hanya berupa gambaran samar, tapi aku yakin, sebentar lagi ingatanku akan kembali dengan sempurna." Davin tampak tertegun mendengar penuturan kekasihnya itu.
Terbesit rasa khawatir dalam hatinya. Jujur, dia jauh lebih mencintai pribadi kekasihnya saat ini dari pada yang dulu. Pribadi yang bahkan Davin sekalipun sangat sulit untuk memahaminya.
"Davin, kenapa melamun?"
Lambaian tangan mungil di depan wajahnya itu seakan memaksanya untuk kembali ke alam nyata.
Davin langsung menangkap tangan mungil itu dan menggenggamnya dengan erat sambil sesekali mengecupnya dengan sayang.
"Yang jelas, aku jauh lebih menyukai dirimu yang sekarang sayang~"
________
Danessa berjalan dengan langkah mantap, matanya yang berkilat berbahaya membuat siapapun yang berjalan berlawanan arah dengannya akan mengkeret ketakutan dan memilih untuk berjalan di sisi jalan yang sejauh mungkin darinya. Rambut panjangnya yang berwarna kuning keemasan --kali ini sengaja diberi efek warna merah menyala, melambai dengan liar selaras dengan ayunan langkah kaki gadis itu.
Dari ujung yang berlawanan terlihat seorang wanita berkacamata dengan tumpukan buku memenuhi kedua tangannya. Ia tampak kesulitan melihat ke depan karena tumpukan buku itu bahkan lebih tinggi dari matanya. Wanita itu jelas terlambat menyadari siapa orang yang berjalan berlawanan arah dengannya sehingga untuk mengelakpun rasanya sudah tak mungkin ia lakukan. Sedangkan Nessa, dia jelas bukanlah tipe gadis yang rela mengalah pada orang lain. Tak perduli itu sekedar menggeser tubuhnya untuk menghindari tabrakan sekalipun.
Dan benar saja, sesaat kemudian terdengar suara berdebam keras. Gadis berkacamata itu jatuh terduduk dan untuk sejenak kehilangan orientasi. Kebingungan kenapa tiba-tiba ia sudah terjerembab di bawah dan buku yang sedari tadi ia bawa tampak berserakan memenuhi koridor. Gadis itu jelas belum menyadari jika dirinya baru saja bertabrakan dengan seseorang. Lebih fatalnya lagi, ia sama sekali belum menyadari siapa yang baru saja ditabraknya itu. Yang jelas-jelas akan menjadi bencana baginya sebentar lagi.
Orang-orang yang saat itu kebetulan berada di koridor yang sama, menatap si gadis berkaca mata dengan tatapan simpati. Mereka tahu benar jika gadis itu baru saja melakukan sebuah kesalahan besar. Tak perduli meski sebuah kecelakaan sekalipun, jika itu membuat Danessa terganggu, maka persiapkan saja dirimu untuk sebuah kemungkinan terburuk.
Danessa masih tetap berdiri dengan kokoh karena jauh sebelum bertabrakan tadi ia sudah bisa memprediksi bahwa hal ini akan terjadi. Namun sekali lagi, jiwa egoisnya membuat gadis itu enggan untuk sekedar menyingkir dan membiarkan si malang berkacamata melenggang dengan tenang melewatinya.
Nessa memejamkan matanya sesaat, menghitung sampai lima sebelum akhirnya membuka matanya dan menatap dengan tajam langsung ke mata si gadis berkacamata, yang sepertinya kini telah menyadari kesalahannya yang paling fatal. Terbukti dari mata gadis itu yang sempat melebar meski dengan cepat kembali berubah menjadi ekpresi datar.
Namun di luar dugaan, bukannya gemetar ketakutan, gadis itu justru menatap Nessa dengan pandangan dingin. Seolah menunggu Nessa untuk meminta maaf atau setidaknya membantunya berdiri. Karena dilihat dari sudut manapun, jelas Nessa yang bersalah di sini.
Namun penantiannya itu rupanya hanyalah hal yang sia-sia, karena meminta maaf, jelas sama sekali tak pernah ada di dalam kamus hidup seorang Danessa.
Gadis itu akhirnya mengalah. Tak ada untungnya berperang tatapan dengan orang yang bahkan tak memiliki hati seperti Nessa. Mendecak kesal, gadis itu kemudian menggapai-gapai, berusaha mengumpulkan buku-bukunya yang berserakan di lantai. Namun tiba-tiba saja Nessa melangkah dengan gaya malas-malasan khasnya, kemudian tanpa kata langsung menendang buku yang baru saja terkumpul itu hingga kembali tercecer di lantai.
"Oops... sepertinya kakiku memiliki pikirannya sendiri." Ujar Danessa dengan nada dan ekspresi riang, kontras dengan gadis di depannya yang saat ini tengah mengepalkan tangan menahan emosi. Nessa cukup terkesan karena ini pertama kalinya ada seseorang yang berani membalas tatapannya dengan begitu dingin. Mungkin kali ini ia menemukan lawan yang cukup seimbang.
Nessa kemudian berjongkok di depan gadis itu hanya untuk menyamakan tinggi tubuh mereka. Nessa menatap wajah gadis itu lekat-lekat, kemudian tanpa kata melepas kacamata gadis itu dan mengenakannya di atas pangkal hidungnya sendiri.
Sambil mengernyit, Nessa melepas kacamata dan menatapnya dengan pandangan mencela. "Kacamata macam apa ini? Membuat mataku sakit saja!" ujar Nessa sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kurasa kamu harus segera mengganti kacamatamu." Dan dengan itu, Nessa langsung menjatuhkan kacamata itu dan menginjaknya hingga menjadi serpihan-serpihan kecil.
Tersenyum seperti maniak yang baru saja menjatuhkan mangsanya, Danessa menepuk-nepuk kepala gadis berkacamata itu, seperti seorang sahabat. Padahal jelas-jelas bukan seperti itu kenyataannya.
Danessa berdiri dengan wajah tanpa dosa, menguap kecil sambil menggaruk kepala hingga tatanan rambut yang awalnya cukup berantakan menjadi sangat berantakan.
"Hoaaamm... pagi yang membosankan. Bukankah begitu? Glasses Girl?" ujar Nessa sambil menatap gadis tadi sebelum akhirnya melenggang dengan santai, tak lupa menendang tumpukan buku yang menghalangi jalannya hingga terseret beberapa meter.
Sepeninggal Nessa, tak ada seorangpun yang berani menolong atau bahkan menghampiri gadis itu untuk sekedar menanyakan keadaannya. Mereka hanya menatap gadis itu dengan tatapan prihatin.
Gadis itu berdiri dengan pelan, melihat semua bukunya yang kini berceceran di lantai koridor. Rahangnya mengeras dan tangannya mengepal dengan erat. Sinar matanya menyiratkan sebuah tekad. Entah tekad apapun itu, hanya dia dan Tuhan yang tahu. Gadis itu sama sekali tak ingin memberitahuku dan kuyakin Tuhanpun tak akan memberitahuku walau aku memaksa sekalipun.
Ya... dunia memang tak adil...