Bab 1

Gadis berambut pirang itu melirik kearah jam ditangannya dengan gelisah, karena hari ini adalah hari pertamanya sekolah di Jakarta dan tidak boleh telat. Jika telat bisa-bisa nama baiknya sudah terkenal jelek apalagi dihari pertama seperti sekarang.

"Duhh gimana ini, 10menit lagii gerbang ditutup. macet banget lagii duhh" batin gadis tersebut dengan ekspresi gelisah berada didalam taxi

"Pak?kira-kira macetnya lama gak ya?" tanya gadis tersebut pada sopir taxi yang ia tumpangi.

"Kayaknya sih. Buru-buru ya de? jalan kaki aja lumayan deket kok. Itu di depan ada pertigaan belok kiri lalu lurus terus. Nanti sekolahan nya ada di sebelah kanan ya" beritahu sang sopir taxi kepada gadis tersebut

"Ohh yaudah deh pak saya jalan aja" jawab gadis tersebut dan membayar taxi nya.

Gadis tersebut segera membuka pintu taxi dan lari menuju sekolahnya karena takut terlambat dihari pertamanya.

"Huftttt, untung gak telat" gadis tersebut sambil menghela nafasnya lega, Matanya melirik jam yang melekat dipergelangan tangannya saat sudah tiba didepan gerbang sekolah barunya. Langsung saja ia berjalan memasuki sekolahnya dan menuju ruang kepala sekolah untuk bertanya akan ditempatkan dikelas mana dan sekaligus meminta seragam.

Semua murid disini menatap gadis itu asing. karena gadis itu menggunakan seragam yang berbeda.

Gadis itu bernama Vania Deltasya, siswi baru disini pindahan dari Bandung. Vania adalah orang yang pintar, cantik, baik dan lugu. Vania ialah gadis blasteran Amerika-Indonesia ia harus pindah ke Jakarta dikarenakan ayahnya harus pindah dinas di Jakarta.

Vania bingung mencari dimana keberadaan ruang kepala sekolah disini , karena sekolahannya sangat luas. Langsung saja ia bertanya kepada salah satu murid disini.

"Permisi kak mau tanya, ruang kepala sekolah dimana ya?" tanyanya ramah kepada salah satu murid perempuan disini yang kebetulan lalu lalang.

"Ohiyaa, lo lurus aja terus nanti ketemu UKS di depan terus lo ke kanan. Di situ ruangannya" jawab murid perempuan tersebut.

Vania mengangguk, "Makasih ya kak" jawabnya ramah.

"Gue kira lo gabisa bahasa indonesia." celetuk murid perempuan itu kepada Vania

Vania hanya mengulum senyumnya dengan kikuk. Langsung saja dirinya menuju keruang kepala sekolah, Setibanya didepan ruang kepala sekolah lalu ia ketuk pintu tersebut.

Tok tok tok..

"MASUK" jawab seseorang dari dalam

Vania membuka knop pintu tesebut dan melihat sepertinya kepala sekolahnya sedang berbicara dengan seorang cowok. Vania tidak bisa melihat wajah cowok itu karena membelakanginya. Jika dilihat dari belakang penampilan cowok itu sangat berantakan, Dirinya sudah bisa menyimpulkan bahwa cowok yang sedang berbicara dengan kepala sekolah saat ini ialah bukan cowok baik-baik atau bisa dibilang nakal.

"Tunggu ya, kamu duduk dulu di sebelah sana. Saya masih ada urusan dengan anak satu ini." ujar sang kepala sekolah memberitahu Vania.

"Iya bu" jawab Vania dengan ramah.

Kemudian Vania duduk sesuai yang diperintahkan kepala sekolahnya itu.

"Kamu sudah berapa kali ributttt terus kerjaannya. Ini masih pagi loh. Sudah capek ibu menegur kamu. sekarang kamu ke lapangan dan hormat kepada bendera sampai jam pelajaran habis" perintah kepala sekolah kepada cowok tersebut dan Vania mendengarnya berarti benar tentang penilaiannya tadi bahwa cowok tersebut memang bukan cowok baik-baik.

"Tapi bu--"

"Ehh sudah sana kamuu kelapangan! ibu masih ada urusan dengan anak baru itu" Cela kepala sekolah sambil menunjuk kearah Vania dan cowok tersebut pun menengok kearah gadis yang disebut anak baru itu.

Vania tersenyum ramah kepada cowok tersebut.

Kemudian cowok itu bangun dari posisinya dan berjalan keluar meninggalkan ruang kepala sekolah dengan ekspresi datar tanpa membalas senyuman dari Vania barusan.

Rambut acak-acakan. Baju dikeluarkan. Tidak memakai dasi sekolah. Tidak ada nametag ataupun badge sekolah diseragamnya serta terdapat sedikit lebam diujung bibirnya. Cowok itu sangat terlihat buruk.

"Duduk disini" perintah kepala sekolah sambil menunjuk bangku yang barusan ditempati oleh cowok tadi.

*VANIA POV*

Kemudian aku duduk sesuai yang diperintahkan kepala sekolah ku. kalau tidak salah namanya Bu Endah Ningtyas kata papah semalam memberitahu ku.

"Kamu Vania Deltasya bukan?" tanya Bu Endah

"Iya bu, Saya Vania Deltasya siswi pindahan dari Bandung" jawab ku dengan ramah

"Ohiya, kamu saya tempatkan dikelas 11 IPA 2 ya dan ini seragam kamu" ujar Bu Endah sambil meletakkan beberapa pasang seragam baru khas sekolahan ini diatas meja.

"Nanti kamu langsung keruang guru saja dan mencari Bu Rita. Nanti Bu Rita yang akan mengantarkan kamu keruang kelas 11 IPA2, Dia adalah wali kelas kamu" beritahu Bu Endah lagi.

Aku mengangguk patuh dan mengambil seragam yang dikasih Bu Endah tadi dan segera ke ruang guru untuk mencari Bu Rita.

*AUTHOR POV*

Setelah mencari Bu Rita , Vania langsung keruang kelas 11 IPA 2 bersama Bu Rita. Saat berjalan menuju ruang kelas banyak sekali murid-murid yang berbisik mengenai dirinya saat ini dan ia bisa mendengar itu sangat jelas karena murid-murid itu membicarakannya dengan sangat terang-terangan, Tetapi Vania tidak terlalu memperdulikannya walaupun sedikit agak risih.

"Anak-anak kita kedatangan murid baru, silahkan perkenalkan dirimu" ujar Bu Rita menyuruh Vania memperkenalkan diri saat sudah tiba diruang kelas 11 IPA 2.

Langsung saja Vania memperkenalkan dirinya dengan singkat dan jelas lalu banyak murid-murid dikelasnya ini malah meledek, yaitu anak laki-laki yang meminta nomor ponsel Vania atau bahkan menggoda Vania dengan kata-kata gombalnya ada juga murid perempuan yang meresponnya dengan baik ada juga yang buruk. Bu Rita segera memberi instruksi agar semuanya harap tenang dan tidak ribut.

"Oke, kamu duduk disana bersama Ana ya" perintah Bu Rita sambil menunjuk kearah siswi yang duduk sendirian dibangku sebelahnya masih kosong.

Vania mengangguk dan langsung berjalan menuju bangku yang ditunjuk bu Rita tadi.

Vania tersenyum ramah kepada siswi disebelahnya. Gadis berkulit putih bersih dengan rambut ikalnya sebahu itu membalas senyum dari Vania barusan.

"Kenalin gue Anaranti. Panggil Ana aja" ujar siswi tersebut mengenalkan namanya sambil mengulurkan tangannya kearah Vania saat Vania sudah duduk.

"Ohiya nama gue Vania Deltasya, panggil aja Vania" ujar Vania memperkenalkan dirinya dan menerima uluran tangan itu.

"Iya gue tau. Tadi lo kan udah perkenalan didepan" jawab Ana

Diangguki oleh Vania dan mereka berdua langsung fokus dengan apa yang sedang dijelaskan oleh Bu Rita didepan.

~~~

TETTTT... Bel berbunyi menandakan sudah waktunya pulang jam pelajaran habis.

"Jangan lupa PR nya dikerjakan ya anak-anak" beritahu guru tersebut untuk mengingatkan.

"Iya buuuu" serentak murid disini menjawab.

"Lo pulang dijemput atau gimana?" tanya Ana sambil membereska alat tulisnya yang berada diatas meja.

"Engga deh kayaknya, naik ojek aja. Kalo lo?" jawab Vania dan bertanya balik kepada Ana.

"Oh, gue ada yang nganter nanti hehe" jawab Ana sambil cengengesan.

"Oh lo ada pacar?sekolah disini juga?" tanya Vania sedikit terkejut

"Iya kelas sebelah"

Vania hanya mengangguk.

"Yaudah gue duluan yaa, Hati-hati" ujar Ana lalu berjalan keluar kelas

"Iya bye" jawab Vania sambil melambaikan tangannya ke Ana.

Setelah itu Vania langsung saja keluar ruangan dan menuju keluar gerbang untuk menunggu ojek.

Pada saat sedang menunggu ojek, Vania mendegar seperti ada suara ribut ribut. lalu Vania mencari dimana asal suara ribut ribut itu. Kemudian Vania menemukan asal suara tersebut dan panik.

"ASTAGA!" Pekik Vania terkejut saat melihat seperti gengster terdiri dari 8 orangan sedang memukuli cowok yang bertemu diruang kepala sekolah tadi. Ya, Vania masih sangat ingat betul wajah cowok yang diruangan kepala sekolah tadi pagi.

Langsung saja Vania meminta bantuan,

"TOLONG TOLONG!! ADA YANG BERANTEM DISINI!!" teriak Vania dengan keras dan memancing para warga disini untuk mendatangi Vania. Kemudian gengster tersebut kabur setelah melihat para warga datang.

"Tolong di bawa kerumah sakit pak!" perintah Vania panik setelah melihat cowok tersebut dengan keadaan yang bisa dibilang buruk karena banyak lebam diwajahnya dan juga darah.

Vania mengigit kukunya sedikit takut setelah apa yang dilihatnya kejadian barusan itu. Sungguh dirinya baru sekali ini melihat kejadian adu tinju secara langsung.

Kemudian para warga langsung membawa cowok tersebut ke rumah sakit terdekat, Vania yang menjadi saksi itu dengan terpaksa ikut mengantarkan cowok itu kerumah sakit.

Vania dan dua warga lainnya mengantarkan cowok itu kerumah sakit terdekat menggunakan taxi.

Sesampainya dirumah sakit dua warga tersebut langsung berpamit pulang karena sudah mengantarkannya sampai dirumah sakit.

"Terimakasih ya pak sudah mengantarkan kesini" ucap Vania kepada dua warga tersebut

"Iya neng sama-sama, kita berdua pamit ya" jawab salah satu warga tersebut.

Diangguki dengan senyuman oleh Vania.

Langsung sana Vania memanggil suster agar membawa cowok itu ke UGD dan Vania mengikutinya.

"Tunggu disini sebentar ya dek" ujar suster tersebut saat Vania sudah sampai didepan ruangan UGD.

"Iya"

Vania menunggu didepan ruang UGD dan kemudian dua suster keluar membawa cowok itu keruang penginapan disini. Vania mengikutinya saja.

"Anda keluarganya?Teman? atau pacarnya?"tanya sang dokter kepada Vania

"Duh jawab apa gue, kenal juga engga sama ni orang" batin Vania

"Emm saya temannya dok" jawab Vania dan diangguki oleh dokter.

"Pasien masih belum sadar, mungkin nanti 1jam lagi akan sadar. jadi harus menginap disini sampai pasien benar benar pulih. mungkin anda bisa menghubungi keluarganya, ini handphone pasien" ujat sang dokter memberitahu kepada Vania sambil memberikan handphone cowok itu.

"iya dok. Terimakasih" balas Vania , kemudian dokter dan suster meninggalkan ruangan tersebut.

"Gue hubungin keluarganya apa engga ya? duh jelasinnya gimana nanti" Vania bertanya pada dirinya sendiri sambil memegang handphone cowok tersebut.

"Nanti deh hubunginnya, gue mau makan dulu kekantin" ucap Vania dan langsung bergegas ke kantin dirumah sakit ini untuk mengisi perutnya yang kosong .

Setelah mengisi perutnya yang kosong Vania langsung kembali lagi keruangan tersebut untuk melihat kondisi cowok itu apakah sudah sadar atau belum.

Ceklek.. suara pintu terbuka

Vania melihat cowok itu masih berbaring ditempat tidurnya dengan mata tertutup.

Kemudian Vania duduk dibangku yang berada disamping tempat tidur cowok tersebut dan menatap wajah cowok itu

"Huftt ni cowok ya. Cepet kek sadar gue pengen pulang. belom mandi nih masih pake seragam SMA" gerutu Vania sedikit kesal.

Kemudian cowok itu perlahan lahan membuka matanya dan melihat ada cewek cantik berkulit putih bersih serta rambut panjangnya yang pirang sedang duduk.

"Dimana ini?" tanya cowok itu kepada Vania sambil mengubah posisinya sedikit

"Lo udah sadar? hmm tadi lo itu dikeroyok gengster terus pingsan. Yaudah deh gue bawa lo kesini" kata Vania

Cowok itu hanya diam tidak merespon seakan sedang mencerna perkataan gadis asing disampingnya.

"Karena lo udah sadar, Gue telfon keluarga lo ya" ujar Vania sambil mencari kontak keluarganya dihandphone cowok tersebut.

"Jangannn, gausah telfon keluarga gue percuma mereka gak akan peduli sama gue" kata cowok tersebut mencegah agar gadis asing itu tidak mencoba untuk menelfon keluarganya.

"Hah masasih?" tanya Vania bingung.

"Udah mending lo pulang aja. Kan lo sendiri tadi yang gerutu mau pulang!" kata cowok itu dengan nada bicara yang ketus.

Vania sedikit terkejut saat mendengar nada bicara cowok itu sangat ketus. Langsung saja ia meletakkan handphone cowok itu dimeja dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.

"Dasar tuh cowok gatau terima kasih udah ditolongin malah ngusir gue! Untung ganteng eh." gerutu Vania sepanjang jalan keluar rumah sakit.

Menurutnya, cowok itu percuma saja memiliki wajah ganteng tetapi nada bicaranya ketus, itu sama sekali tidak keren apalagi ditambah gayanya yang sok jagoan.

Bab 2

"Gabaik magrib-magrib cewek kek lo pulang sendirian naik ojek online"

🌺🌺🌺

"Lo udah ngerjain PR belum van?" tanya Ana kepada Vania

"Udah, kenapa?" jawab Vania

"Liat dong hehe" ujar Ana sambil cengengesan, dan langsung saja Vania mengambil buku PR dan memberikannya kepada Ana.

"An tau gak?" tanya Vania kepada Ana

"Gaktau" jawab Ana cuek

"ihh seriusan gue mau cerita nih" ujar Vania

"Ya kenapa?" tanya Ana

"Kemarin pas gue pulang lagi nunggu ojek, gue liat ada cowok yang sekolah disini dipukulin sama gengster tau sampe babak belur gitu mukanya" ujar Vania menceritakan kejadian kemarin

"Hah serius lo? terusterus gimana tuh lo langsung kabur gak?" tanya Ana penasaran

"Ya enggalah, gue tolongin dia gue teriak teriak minta tolong terus warga pada dateng nyelametin tuh cowok eh abis itu gengsternya kabur" jawab Vania

"ihh kok lo berani teriak teriak gitu sih. nanti kalo gengster itu dendam sama lo gimana terus dia inget muka lo?" kata Ana menakuti Vania

"ihh lo jangan nakutin gue gitu dong, lagian cowok yang gue tolong itu ganteng tau na" ujar Vania sambil membayangkan wajah cowok yang kemarin ia tolong.

"Muka babak belur gitu gimana keliatan ganteng nya Van?" tanya Ana sambil menyalin pr

"ihh tapi beneran ganteng, kirakira dia kelas berapa ya" ujar Vania

"Yee mana gue tau" celetuk Ana

"itu mereka lagi gosipin apa sih An?" tanya Vania sambil menunjuk kearah meja yang dipenuhi cewek cewek pada ngegosip.

"Coba gue kesana" ujar Ana dan langsung menghampiri cewek cewek yang sedang ngegosip itu.

"Woy pada gosipin apa lupada?" tanya Ana kepada cewek cewek tersebut.

"Biasa gosipin si ganteng, dia hari ini gamasuk" ujar salah satu cewek yang ikut bergosip juga

"Oalah dia toh, kenapa kaga masuk tuh orang?" tanya Ana lagi

"Katanya sih berantem lagi, tapi gaktau. tanya aja sama pacar lo itu, kan pacar lo temennya. lo mau ikut gosip juga?sini" ujar cewek itu lagi

"Ehh ogah nambah dosa aja, urusin dulu sana tuh PR belom pada ngerjain kan lupada" sindir Ana

Kemudian cewek-cewek yang ngegosip tadi langsung segera bubar untuk mengerjakan PR nya masing-masing. Seakan baru teringat akan PR-nya.

Ana lalu kembali ketempat duduknya menghampiri Vania. "Gosipin orang terus hobby nya mereka mah dikelas ini, udah biasa" ujar Ana kepada Vania

~~~~~

"Lo pulang naik ojek lagi Van?" tanya Ana saat bel pulang sekolah sudah tiba

"Iya nih always" jawab Vania sambil membereskan alat tulisnya yang ada dimeja.

"Temenin gue kemall yuk, kita belanja sama makan-makan aja" ajak Ana

"Lah lo gabareng sama pacar lo emang?" tanya Vania bingung

"Gak barusan dia sms katanya dia gabisa nganterin dulu hari ini mau jenguk temennya di rumah sakit" kata Ana memberitahu Vania

Vania mengangguk mengerti saja.

"Ayoo mau gak?" tanya Ana

"iya iya" jawab Vania dengan malas

Setelah itu mereka keluar ruangan kelas dan bukannya menuju gerbang sekolah tetapi tiba-tiba Ana malah mampir keruang kelas 11 IPA 1.

"Ehh ngapain kesini Na?" tanya Vania bingung

"Gue mau ajak Rani kemall juga" jawab Ana enteng , Vania semakin bingung.

Rani? siapa?

"Nih Ran kenalin ini Vania" ujar Ana sambil mengenalkan Vania kepada temannya itu. Vania bisa melihat gadis di depannya ini dengan proporsi tubuh tinggi kurus, kulitnya bewarna kuning langsat serta potongan rambut sebahu.

Langsung saja Vania menjabat tangan kearah gadis yang bernama Rani itu Sebagai tanda perkenalan.

"Rani"

"Vania"

"Udah saling kenal kan? ayoo kita cuss ke mall" kata Ana antusias kepada Rani dan Vania.

Mereka bertiga pun langsung bergegas keluar gerbang dan segera memberhentikan taxi yang lewat.

"Eh seneng banget gue hari ini si biangkerok gamasuk jadi gaada yang jahilin gue" ujar Rani membuka suara saat sudah berada didalam taxi

"Iya tau gue temen sekelas gue pada ngomongin dia" balas Ana

"Katanya sih dia berantem gitu sama gengster terus lukanya parah sampe masuk rumah sakit" ujar Rani lagi

Seketika Ana melongo karena terkejut. "Jangan jangan yang lo tolongin kemarin itu Zando Van!" tebaknya

Vania langsung menengok kearah belakang, Karena posisi Vania duduk dikursi depan sedangkan Ana dan Rani dibelakang.

"Hah?" Vania bingung

"Iya yang lo tolongin kemarin itu Zando. gasalah lagi gue. apa si Azka jenguk Zando ya kerumah sakit? dia gabilang sih temen yang mana yang dia jenguk. tau gitu gue ikut tadi."

"Ihh ngapain lo jenguk dia gapenting" gerutu Rani sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Karena Rani tidak suka dengan sifat nya Adzando yang selalu menjahilinya di kelas.

"Di rumah sakit mana Van kemarin lo anter Zando?" tanya Ana kepada Vania

"Rumah Sakit Rosediana" jawab Vania polos, Karena Vania sendiri pun masih bingung apa yang mereka bicarakan.

"Pak gajadi kemall, putar balik aja kita ke Rumah Sakit Rosediana" ujar Ana kepada sang sopir taxi yang ia tumpangi saat ini.

"ihh gue gamau ikut ah kalo jenguk Zando" kata Rani dengan kesal

"Gapapa lo ikut aja" ujar Ana dengan santai

"Empet gue liat mukanya, dan lo Vania harusnya lo gausah tolongin Zando kemarin biar aja sekalian dia tuh babak belur sampe gabisa nafas" omel Rani kepada Vania

Vania semakin dibuat bingung oleh dua teman barunya ini. "Jadi yang gue tolongin kemarin dikeroyok gengster itu namanya Zando?" tanya Vania kepada Rani dan Ana

"Di sekolahan kita pada manggilnya Zando" jawab Ana

"Gue bilangin nih ya Van, lo jangan pernah kenal sama yang namanya Zando itu, dia bukan anak baik baik setiap hari kerjaannya berantem terus kalo ga berantem ya bolos pelajaran merokok di belakang sekolah sama temen-temennya itu. dia juga suka banget jahilin orang" ujar Rani kepada Vania untuk memperingatkan Vania agar tidak dekat dengan Zando lebih jauh lagi. Karena dirinya sudah menjadi korban.

"Yee gapapa sih, sifat semua orang itu beda-beda dan ga semuanya baik" celetuk Ana kepada Rani

"Yaudah sih gue kan cuma bilangin ke Vania" balas Rani dengan nyolot

"Pacar lo temennya Zando An? berarti Zando kelas 11 IPA 1 ya?dan sekarang pacar lo lagi jenguk Zando?" tanya Vania kepada Ana

"Yup" dijawab oleh Ana sambil memainkan handphonenya

Sesampainya mereka bertiga di RS Rosediana. mereka tidak sengaja bertemu degan Lamda dan teman teman se-gengnya itu.

"Ngapain lo disini?" tanya Ana kepada Lamda

"Yaa habis jenguk ayang Zando lah, ngapain lagi" jawab Lamda sambil mengibaskan rambut pirangnya.

"Siapa Na?" tanya Vania berbisik kepada Ana

"Pentolan di sekolahan kita Van" dijawab oleh Ana

"Pacarnya Zando?" tanya Vania lagi kepada Ana

"Hmm gaktau deh gue, orang kayak gini mah gabakal mau sizando hahaha" jawab Ana dengan keras sengaja ingin menyindir Lamda

"Arghh.. sialan lo ya Ana, awas lo kena sama gue!" ancam Lamda kepada Ana dan kemudian Lamda dan teman-temannya itu langsung pergi meninggalkan mereka bertiga.

"Kamarnya Zando lantai berapa Van?" tanya Ana kepada Vania saat mereka sudah tiba didalam lift

"Lantai 6 kamar no.14" jawab Vania sambil menekan tombol lift lantai 6

Sesampainya dilantai 6 mereka bertiga langsung keluar lift dan memasuki kamar no 14 di mana ruangan Adzando dirawat.

Ceklek... suara pintu terbuka.

Di sana Vania melihat ada banyak sekali teman-teman Adzando yang menjenguk.

Ana berjalan menghampiri Azka lalu langsung menggandeng lengan pacarnya itu.

"Hei Azka, kamu kenapa gak bilang kalo temen kamu yang kamu jenguk itu Zando?" tanya Ana kepada Azka pacarnya

"Kamu gak nanya sayang" jawab Azka dengan enteng, kemudian Ana mencubit lengan Azka.

"Aaawwshh sakit sayang" ringis Azka kesakitan karena ulah pacarnya itu.

"Woy udah kali di sini jadi kacang semua" ujar Adzando membuka suara menyindir Azka dan Ana.

Kemudian Vania tertawa dengan begitu recehnya entah kenapa karena menurutnya itu lucu,

"HAHAHAHA"

Semua orang yang ada diruangan ini menoleh keasal suara tertawa itu , termasuk Adzando.

Deg.

"Duh ini mulut gabisa dikontrol apa, main ketawa ketawa aja" batin Vania sambil menepuk-nepuk mulutnya dengan kikuk karena semua temannya Zando menatap kearah dirinya, Termasuk Adzando.

Kemudian satupersatu teman-temannya pun pamit, Karena waktu menjenguk sudah hampir habis dan waktunya pasien meminum obat serta istirahat.

Di ruangan ini hanya tersisa Vania,Azka, dan Ana. Rani sudah pulang duluan bareng temannya tadi yang menjenguk juga kesini.

"Woy bro!gue balik ya sama Ana. jaga kesehatan. Lo kalo dikeroyok bilang sama gue jangan lawan sendirian aje" ujar Azka sambil pamit kepada Adzando untuk segera pulang.

Vania membuka suara, "Ehh kok gue ditinggal An?lo balik bareng sama Azka? jahat!" ujar Vania sambil memarahi Ana karena ia pulang bareng dengan Azka.

"Lo bisa kan naik taxi sendiri Van?atauga lo pesen ojek online aja" saran Ana

"Hmm" dijawab singkat oleh Vania sambil mengeluarkan iphonenya dalam saku seragam sekolahnya untuk memesan ojek online. Sungguh dirinya sedikit kesal kepada Ana saat ini.

Kemudian Azka dan Ana berjalan keluar untuk segera pulang.

"Duh mereka buruburu amat si mau keluar, tunggu kek sampe abang ojeknya dateng" batin Vania. "Dari pada gua berduaan doang disini sama tuh cowok, mending gue nunggu diluar aja dah" batin Vania lagi sambil membuntuti Azka dan Ana daribelakang.

"Eh tunggu lo mau kemana?" merasa dirinya dipanggil Vania menengok kebelakang

"Emmm.. anu.. mau pulang" jawab Vania sedikit gugup.

"Tunggu dulu sebentar, nanti supir gue yang anterin lo, dia lagi menuju kesini. Ga baik magrib-magrib cewek kek lo pulang sendirian naik ojek online pake seragam kek gitu" ujar Zando kepada Vania sambil menunjuk kearah rok pendek Vania.

"Ehh, gapapa gue pesen ojek online aja."

"Gue udah bilang supir gue suruh jemput lo! dan lo nyuruh gue buat bilang kedia suruh balik lagi gitu? kasian supir gue udah tua jangan dipermainin!" ujar Adzando dengan nada sedikit ketus.

"Buset dah kek apaan aja dipermainin, lagian siapa juga yang minta dijemput kali" bantin Vania gerutu kesal

Vania pasrah saja duduk sambil menunggu supir yang dibilang Zando. mereka berdua saling sibuk satu sama lain dengan gadgetnya masing-masing.

"Supir gue sebentar lagi udah mau sampe, lo tunggu di lobby barat aja" ujar Adzando membuka suara dengan nada datar dan tatapannya masih mengarah ke handphonenya tanpa melirik Vania sedikitpun.

Vania mengangguk saja.

Kemudian Vania bangkit dari duduknya hendak keluar namun tangannya dicekal oleh Adzando, Kemudian Vania menoleh.

"Makasih ya udah nolongin gue kemarin" ucap Adzando dengan tulus tetapi sedikit datar

"Hmm sama-sama!" jawab Vania dengan cuek dan langsung pergi meninggalkan ruangan tersebut.

Kemudian Adzando tersenyum miring saat punggung Vania sudah tak terlihat lagi.

"Baru kali ini ada cewek yang sikapnya cuek ke gue, biasanya selalu gue yang cuek" batin Adzando sambil tersenyum miring.

Bab 3

"Gue gamau lo kenapa-kenapa cuma karena lo nolongin gue"

🌸🌸🌸

*Vania POV*

"Huftttt... " Aku menghembuskan nafasku setelah sampai di kamar ku. Aku masih memikirkan kejadian tadi dengan seenaknya cowok itu menyuruh ku untuk pulang bareng supirnya saja memangnya dia siapa huh.

Lalu aku segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah itu mengerjakan PR.

Selesai aku membersihkan diriku, Aku langsung menuju ke meja belajar untuk mengerjakan pr. namun tiba-tiba ponselku berbunyi tanda ada panggilan masuk, Langsung saja aku meraih ponselku yang berada diatas ranjang.

081xxxxxxx is calling...

Nomer tidak dikenal, langsung saja aku menekan tombol berwarna hijau.

"hallo?" ujar suara disebrang sana.

deg.

Aku kenal suara ini, Ya dia adalah Adzando Dalwes. Dia dapet nomerku darimana?

"Vania?Bener nama lo Vania?" tanyanya

"Eh iya iya, ini siapa?" tanyaku purapura tidak mengenal suaranya.

"Lo udah sampe dirumah kan?bener dianter sama supir gue?" tanya Adzando di sebrang sana.

"Oh ini lo, iya udah" jawab ku bisa menebak dia siapa.

"Yaudah bagus deh" kata Adzando dan kudengar dia menghembuskan nafasnya lega.

Dengan memberanikan diri aku bertanya. Karena rasa penasaranku begitu besar. "Dapet nomer gue dari mana ya?" tanyaku.

tut tut tut...

Aku menatap layar ponselku dan kulihat panggilan sudah berakhir.

"Nih orang ya seenaknya aja main suru-suruh gue tadi pulang dijemput supirnya dan sekarang main tutup panggilan aja tanpa jawab pertanyaan gue! Huh dasar gatau diuntung lo!" gerutu diriku sendiri.

Aku membayangkan wajah cowok itu. Kalau dipikir-pikir yaa cowok itu memang ganteng sih tapi kenapa sikapnya seenaknya gitu ga ada attitudenya sama sekali .

Dan cewek yang di rumah sakit tadi. Apa bener itu pacarnya ya? tapi pantes aja sih Zando dapetin cewek itu yaa karena menurutku sih cewek itu juga cantikk, jauh dibanding diriku kemana mana tapi samanya sikap cewenya gitu yaa sebelas duabelas lah sama zando.

Ehh kok jadi mikirin dia sih, Gapenting. langsung saja aku melanjutkan mengerjakan pr ku yang tadi sempat tertunda.

~~~~~

*AUTHOR POV*

"Woy Van udah ngerjain PR belum?" tanya Ana kepada Vania sambil menaik turunkan alisnya.

Langsung saja Vania mengeluarkan buku pr nya dan memberikan kepada Ana, karena ia sudah sangat hafal pasti Ana ingin menyontek Pr-nya.

"An, kok Adzando tau nomer gue ya? dia semalem telfon gue" tanya Vania kepada Ana

Ana langsung cengengesan tidak jelas. "Hehe maaf yaa, gue yang kasih ke Zando nomor lo" jawab Ana dengan enteng.

"Ihh kenapa lo kasih?" tanya Vania dengan kesal.

"Dia maksa lewat Azka sih. Yaudah gue kasih aja" jawab Ana dengan enteng

Vania hanya diam dan pikirannya entah kemana.

~~~

"Ayo Van kekantin, udah laper nih gue" ajak Ana kepada Vania

"Iyee bentar" jawab Vania sambil menata buku bukunya dimeja.

Setelah itu mereka berdua langsung bergegas ke kantin untuk mengisi perut yang kosong.

"Lo makan apa Van?" tanya Ana

"Samain aja kek lo" jawab Vania sambil memainkan iphonenya.

Mereka saling sibuk dengan ponselnya masing-masing sambil menunggu makanan datang.

"An nanti pulang sekolah temenin gue ke gramedia yukk, Mau cari buku" ajak Vania membuka suara.

"Hari ini?" tanya Ana

Vania mengangguk.

"Yahh gue kayaknya gabisa deh Van, Udah janji mau nonton sama my baby Azka nanti" ujar Ana dengan nada penyesalan.

"Huftt yaudah deh gue sendiri aja" jawab Vania

Ana langsung mengetik sesuatu di Iphonenya.

~~~~

Waktu jam pulang sudah tiba. Ana dan Vania menuju gerbang untuk menunggu jemputannya masing masing. kemudian Azka datang membawa motor ninjanya untuk menghampiri Ana.

"Maaf ya Van gabisa anter lo ke Gramedia hari ini" ujar Ana kepada Vania sambil menaiki motornya Azka.

"Iya gapapa gue bisa kesana sendiri kok, naik taxi" jawab Vania

"Oke byeee" ujar Ana sambil melambaikan tangannya.

Vania menunggu taxi lewat tetapi tidak ada yang lewat. Kemudian Vania mendengar suara klakson motor dibelakangnya dan Vania langsung bergeser kearah kanan untuk memberi jalan motor tersebut tanpa membalikkan badan.

Kemudian motor tersebut berhenti tepat di depan Vania dan si pengendara motor tersebut membuka helm full facenya.

Vania terkejut, ternyata itu Adzando. Cowok yang gapunya attitude dengan gaya sok kerennya itu.

"Lo?!" tanya Vania sedikit terkejut sambil menunjuk kearah zando. Karena baru saja kemarin Vania

menjenguknya dan sekarang sudah ada dihadapannya dengan keadaan yang bisa dibilang baik-baik saja.

"Ayo naik" ajak Zando kepada Vania

"Ngapain?" tanya Vania polos

"Lo mau ke gramedia kan?ayo gue anter" ujar Zando datar

"Kok tau? pasti dari Ana ya?" tanya Vania sudah bisa menebak siapa yang memberitahu.

Adzando mengangguk. "Ayo, jadi ke gramed ga?" tanya Zando lagi masih datar

"Gapapa gue bisa naik taxi kok, Lo pulang aja. Lo kan harus banyak-banyak istirahat masih belum pulih banget" ujar Vania menceramahi Zando.

"Lo mau digangguin sama gengster yang kemarin? gengster yang kemarin keroyok gue itu masih dendam sama lo dan masih incer lo karena lo kemarin teriak-teriak minta tolong!"

Vania hanya diam sambil mencerna perkataan Adzando barusan.

"Gue gamau lo kenapa kenapa cuma karena lo nolongin gue dan kemarin gue nyuruh lo nunggu supir gue buat jemput itu karena gue takut kalo lo nanti bakal dicegat dijalan sama gengster itu" Lanjut Adzando dengan nada berbeda bukan ketus atau datar lagi. Entah mengapa dirinya itu tiba-tiba menjadi perduli terhadap seorang wanita didepannya ini.

Vania hanya mematung mendengar penuturan dari Adzando.

"Ayoo tunggu apalagi cepet naik!" ujar Zando kembali ketus sehingga membuyarkan lamunan Vania

"Tapi gue naiknya gimana?" tanya Vania polos karena Vania bingung bagaimana cara menaiki motor itu dengan seragam sekolahnya ini.

"Hahaha lo polos banget sih" Adzando tertawa meledek Vania, Karena baru kali ini dirinya bertemu dengan cewek yang polosnya kebangetan berbeda dengan cewek cewek diluaran sana. Mungkin ini kali pertamanya dirinya tertawa di depan cewek yang baru dikenalnya.

Merasa dirinya ditertawakan , Vania langsung saja menaiki ninja milik Adzando itu dengan tasnya ia letakkan didepan sebagai jarak antara dirinya dengan Adzando.

Adzando langsung mentancap gasnya dan Vania reflek memeluk Adzando, Karena Adzando mengendarai motornya dengan kecepatan diatas rata-rata. Lalu Adzando tersenyum miring saat melihat wajah panik Vania lewat kaca spion ninjanya itu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Vania langsung sadar dengan apa yang ia lakukan lalu ia segera melepaskan pelukannya itu dari pinggang Zando.

"Jangan ngebut-ngebut dong, lo sengaja ya?!" omel Vania membuka suara

Bukannya menjawab pertanyaan Vania, Adzando malah semakin menjadi mentancap gasnya dan dengan reflek Vania memeluk Adzando lagi.

Sesampainya di gramedia Vania langsung turun begitu saja tanpa menghiraukan Zando dan berjalan mulai mencari-cari buku.

"Vann kenapa buru-buru sih santai aja jalannya" kata Adzando kepada Vania sambil mengikuti langkah Vania dari belakang

Vania tetap jalan saja tanpa menghiraukan Adzando.

"Van kenapa sih?marah ya sama gue?" tanya Adzando

"Vann"

"Vaniaa"

Vania tetap tidak menjawab pertanyaan Adzando. Karena Vania masih kesal dengan Adzando yang sengaja

membawa motornya dengan kecepatan di atas rata-rata agar dirinya menang banyak, mungkin begitu.

"Huh dasar semua cowok sama aja suka cari kesempatan dalam kesempitan" batin Vania gerutu.

Adzando tetap mengikuti Vania kemanapun Vania berjalan.

"Duh ni cowok kenapa masih ngikutin gue si!" batin Vania keaal sambil menengok sesekali kearah belakang.

Kemudian Vania berhenti, Adzando pun ikut berhenti.

Lalu Vania membuka suara. "Gue pulangnya masih lama, lo pulang aja sana!" ujar Vania berbohong. Karena Vania berusaha menghindar agar tidak terulang lagi kejadian yang tadi.

"Yakin? lo mau digangguin sama gengster itu?" tanya Adzando

"Duh bener juga nih cowok, kalo gue balik sendiri naik taxi terus tuh gengster cegat gue ditengah jalan gimana. Ahhh nyesel gue nolongin tuh cowok" batin Vania sambil memikirkan pertanyaan Adzando barusan.

"Tapi naik motornya gausah kek tadi lagi ngebut-ngebut , gue tau lo cari-cari kesempatan dalam kesempitan yakan??" tanya Vania kepada Adzando

"Muka lo lucu kalo panik gitu jadi gue demen ngeledekinnya" kata Adzando.

Tidak dihiraukan oleh Vania, Langsung saja Vania mencari buku yang ia ingin beli. Adzando tetap mengikuti langkah kemana Vania berjalan dari belakang.

"Van sekali lagi makasih ya" ujar Adzando tulus saat Vania selesai membayar buku yang Vania beli.

"Makasih?untuk apa?" tanya Vania bingung

"Itu yang gengster."

Vania hanya mengangguk.

"Sebagai tanda terimakasih lo gue traktir makan, yuk?" ajak Adzando sambil menarik tangan Vania untuk mengikutinya.

"Eh?" Vania reflek mengeluarkan kata itu karena tiba-tiba Adzando memegang tangannya.

"Kenapa?" tanya Adzando bingung lalu ia mengikuti arah matanya Vania saat ini dan langsung saja Adzando melepas tangannya yang sedang memegang tangan Vania

"Ehehe sorry-sorry reflek" kata Adzando dengan kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dirinya menjadi salah tingkah.

"Mau makan di mana?" tanya Vania mengubah topik pembicaraan.

"Kita cari restoran yang enak di dekat sini" jawab Adzando

"Eh gausah makan di restoran, di pinggir jalan aja lebih enak kok" Kata Vania menyarankan

"Yakin lo mau?" tanya Adzando

Vania mengangguk.

"Baru kali ini ada cewek yang diajak makan di restoran malah mintanya di pinggiran jalan, emang beda nih cewek" batin Adzando sambil menatap Vania dengan yakin.

Vania merasa dirinya ditatap seperti itu oleh Adzando langsung saja ia berjalan keluar tanpa menghiraukan tatapan Adzando.

Kemudian Adzando tersadar dan langsung mengikuti langkah Vania dari belakang lagi.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED