Bab 1

[Bab 1 : Aku Masih Suci]

"Jadi hari ini kau akan pergi untuk interview?" tanya Ibuku.

"Iya Ma, hari ini aku ada panggilan dari kantor Maximilian Corp untuk interview." balasku seraya tersenyum ceria.

"Baiklah, kalau begitu cepat selesaikan sarapanmu, nanti kau terlambat sayang." kata Ibuku juga balas tersenyum.

Aku mengangguk lalu kembali melanjutkan sarapanku, memakan nasi goreng buatan Ibuku dan menghabiskan segelas susu coklat kesukaanku. Ini adalah kebiasaan rutin kita setiap pagi, menghabiskan sarapan -hanya- berdua.

"Hati hati sayang, semoga berhasil." kata Ibuku saat aku akan pergi.

"Iya Ma, aku pergi dulu bye..."

Aku mencium punggung tangan Ibuku lalu memasuki mobilku dan bergegas menuju tempat tujuanku.

Yaitu perusahaan Maximilian Corp.

Aku mendapatkan panggilan untuk interview setelah seminggu lebih, ralat bukan seminggu namun hampir sebulan aku mengirimkan surat lamaran kerjaku. Akhirnya aku dipanggil juga dan semoga saja aku diterima di Perusahaan itu, karna Maximilian Corp adalah Perusahaan industri terbesar di Indonesia (dalam imajenasi penulis tapi) siapa sih yang tidak mau bekerja di Perusahaan besar seperti Maximilian Corp. Perusahaan yang menjadi impianku sejak aku masih duduk di bangku SMA, aku berusaha keras agar aku bisa masuk perusahaan itu. Apa pun telah kulakukan demi bisa masuk ke perusahaan itu.

Hmm iya aku lupa memperkenalkan diri :) oke namaku Adeeva Adelia Albert atau panggil saja aku Deeva biar tidak ribet. Umurku 22 tahun, aku tinggal di Jakarta bersama Ibuku karena Ayahku sudah meninggal saat aku masih di dalam kandungan dan aku anak satu-satunya mereka. Walaupun aku tidak tau dimana makam Ayah. Karena Ibu bilang Ayah kecelakaan pesawat dan jasadnya hilang tidak ditemukan. Karena jasadnya tidak ditemukan, aku berharap bahwa Ayahku masih hidup disuatu tempat dan kami akan bertemu suatu saat nanti, aminnn.

Oke kembali ke topik

Aku sudah sampai di depan kantor Maximilian Corp, dengan sedikit grogi aku turun dari mobilku. Aku langsung naik kelantai paling atas setelah bertanya pada Resepsionis dimana ruangan Mr.Maximilian, karena kemarin saat ditelpon katanya aku akan di interview oleh Mr.Maximilian atau C.E.O di Perusahaan itu langsung, aku gugup, tapi hanya sedikit tenang Deeva kau pasti bisa. Lagi pula ini hanya interview Deeva dan bukan eksekusi mati! jadi kau tak perlu panik.

"Bu ruangan Mr.Maximilian-nya ada di mana ya?" tanyaku yang jujur saja bingung.

Perempuan yang aku pikir sekretarisnya Mr.Maximilian ini menatapku sebentar lalu menunjuk pintu yang tidak jauh dari mejanya.

"Itu." ucapnya.

Aku pun hanya mengangguk seraya mengulum senyum dan tidak lupa berterima kasih sebelum menghampiri ruangan Mr.Maximilian setelah beliau mempersilahkan aku untuk mengetuk pintu langsung.

Tok... tok... tok...

Aku mengetuk pintu ruangan dengan tulisan C.E.O. Mr.Maximilian di atasnya sebanyak tiga kali.

Tak ada jawaban, aku pikir Mr.Maximilian tidak mendengar jadi aku pun mengetuk pintu lagi, tapi tetap tidak ada jawaban, aku malah mendengar suara-suara aneh dari dalam, aku mengetuk pintu dengan agak sedikit keras berharap jika Mr.Maximilian akan mendengar suara ketukan pintuku. Tetap tidak ada jawaban, karena cukup kesal dan penasaran dengan suara yang terdengar di telingaku, aku pun menempelkan telingaku di pintu (aku tau aku tidak sopan, tapi aku tidak peduli) dan suara aneh itu makin terdengar seperti suara desahan yang err menjijikan.

Sial!!

Ternyata pintu itu tidak di kunci dan yang terjadi malah aku terjatuh duduk di lantai dengan posisi yang tidak mengenakkan seperti hantu suster ngesot yang ada di Film hantu yang aku tonton minggu lalu bersama Ibuku. Tau tidak? Kalau tidak berarti anda kudet eh kurang update maksudnya. Oke abaikan perkataan terakhirku.

Aku terkejut, saat melihat ke dalam ternyata suara-suara aneh dan menjijikan itu tadi memang berasal dari Mr.Maximilian dan seorang perempuan yang sedang main kuda-kuda'an di sofa yang berada di dalam ruangannya. Aku menganga melihat hal itu, Bos macam apa ini? pertama kali masuk kantor sudah melihat hal yang membuat mataku tidak suci. Maafkan aku Tuhan, lagi pula aku tidak sepenuhnya salah. Jadi salahkan mereka berdua yang membuat mataku tidak suci lagi. Kataku dalam hati. Bukannya aku sedari tadi memang bicara dalam hati ya?

"Eh, maaf aku tidak sengaja." ucapku gugup. Aku mengumpat diri dalam hati harusnya aku tidak perlu menempelkan kepala di pintu tadi. Tapi 'kan aku tidak tau jika ternyata pintu itu tidak terkunci 'kan? Dan mereka sedang bermain kuda-kuda'an di dalam sana!

Lagian ini kantor bukan hotel jadi siapa yang salah disini? Tentu saja pasti Mr.Maximilian bukan aku.

Aku berdiri, Mr.Maximilian menatapku dengan tatapan yang tidak bisa aku artikan. You know lah, sok inggris! Aku kembali menutup pintu tidak mau melihat hal yang seharusnya tidak aku lihat karena aku belum cukup umur untuk melihat hal seperti itu.

Sedikit merapikan bajuku yang mungkin terkena debu saat terjatuh tadi, tidak lupa aku juga membenarkan kacamataku yang sedikit merosot. Entah karena aku jatuh tadi atau karena memang hidungku yang terlalu mancung ke dalam. Entahlah, mungkin keduanya. Please jangan ketawa.

Saat aku berdiri di depan ruangan Mr.Maximilian, ada seorang wanita cantik yang baru saja datang dan ia menatapku dari atas hingga bawah dengan tatapan menilai. Aku tau aku tidak terlalu cantik walaupun Ibuku selalu mengatakan bahwa aku yang tercantik, tapi tidak harus begitu juga kali natapnya!

Sepertinya dia akan memasuki ruangan Mr.Maximilian. jujur aku risih saat wanita cantik itu memandangku dari atas sampai bawah.

"Sedang apa kau di sini?" tanya wanita itu sinis.

Aku menelan ludah gugup, memberanikan diri untuk mendongakkan kepalaku dan menatapnya lebih jelas, karena sedari tadi aku hanya menunduk, sekarang aku jadi bisa melihat dengan jelas bahwa dia memang sangat cantik.

"Hm, itu aku mau-mau interview." kataku dengan gugup. Karena perempuan itu menatap kearahku dengan tatapan yang sangat tajam, setajam silet. Yang bisa membuat siapa saja pasti akan takut melihatnya, seperti aku saat ini atau memang akulah yang penakut? Entahlah.

"Interview?" ulangnya, aku melihat dia yang mengerutkan dahi heran. Lalu lagi lagi ia kembali menatapku dari bawah hingga atas.

"Ya... Kemarin aku mendapat telfon bahwa Mr.Maximilian yang akan meng-interview-ku secara langsung." balasku.

"Kenapa tidak masuk?" tanyanya seraya tersenyum.

Aku jadi heran sendiri, tadi nada bicaranya sinis dan tatapannya sangat tajam setajam silet eh. Kok sekarang malah tersenyum manis banget semanis pare... Upss semanis gula maksudnya. Sungguh aneh tapi kenyataan eh? Sungguh aneh tapi nyata maksudnya. Haha becanda.

"Eh, itu di dalam lagi --" ucapku gugup, sebelum aku selesai berbicara dia langsung memotong ucapan ku yang gugup itu.

"Oh... Aku tau." ucap perempuan itu dan langsung memasuki ruangan Mr.Maximilian tanpa permisi.

Well mungkin dia kekasihnya eh jika dia kekasihnya lalu siapa wanita yang sedang bermain kuda kudaan dengan Mr.Maximilian di dalam tadi?

Uh! Kenapa aku harus ambil pusing memikirkan itu semua!

Sebenarnya...aku tadi gugup karena aku tidak tau bagaimana menjawab pertanyaannya itu. Tidak mungkin kan kalau aku menjawab jika Mr.Maximilian sedang bermain kuda kuda'an di dalam. Yg benar saja! Itu terlalu vulgar untukku yang masih suci ini.

Bersambung.

Bab 2

[Bab 2 : Boss Mesum!]

[Normal pov]

Jessica datang ke kantor Xaiver dan di depan ruangan Xaiver, Jessica melihat seorang gadis yang terlihat gugup berdiri di depan ruangan Xaiver dengan kepala tertunduk. Jessica bertanya sebentar lalu ia masuk keruangan Xaiver, ia tau apa yg membuat gadis di depan itu gugup. Awalnya ia kira itu gadis panggilan Xaiver, makanya ia bertanya dengan nada sinis dan menatapnya tajam. Tapi ternyata ia gadis yang akan bekerja di kantor Xaiver dan bukan gadis panggilan Xaiver.

"Bisakah kau tidak melakukan ini di saat jam kerja." gerutu Jessica saat ia sudah di dalam ruangan Xaiver.

Xaiver dan perempuan tadi sudah berpakaian lengkap tidak seperti saat Deeva melihatnya.

"Nanti uangnya aku transfer." kata Xaiver pada perempuan itu dan perempuan itu pun berlalu keluar ruangan.

"Mau apa kau kemari?" tanya Xaiver menghiraukan perkataan Jessica sebelumnya.

Jessica berdecak kesal melihat tingkah Xaiver yang tidak membalas ucapannya. "Mom merindukanmu, pulanglah ke rumah, dan bisakah kau tidak melakukan itu di saat jam kerja! " Jessica berseru di akhir kalimatnya.

"Aku tidak akan pulang ke rumah selama masih ada lelaki itu di rumah! Dan ya aku tidak bisa." jawab Xaiver enteng, ia merapikan dasinya lalu kembali duduk di kursi kerjanya dengan santai.

"Kau tidak boleh begitu, Xaiver! Bagaimana pun dia Ayah kita! Kau bisa melakukan itu tapi tidak di saat jam kerja!" teriak Jessica geram dengan kelakuan adiknya yang player itu.

"Dia bukan Ayahku, tapi penghancur keluarga kita. Sudahlah jika kau ke sini hanya untuk mengomeliku lebih baik kau pergi saja, aku sibuk" ucap Xaiver dengan terus terang mengusir Jessica dari kantornya.

Jessica memutar bola matanya kesal. Percuma ia berdebat dengan Xaiver, tidak akan pernah ada ujungnya. Xaiver adalah anak yang keras kepala. Jika bukan karena kemauannya sendiri ia tidak akan melakukannya.

"Sibuk bercumbu dengan para wanita jalang." ucap Jessica kesal.

"Itu kau tau." balas Xaiver santai kayak lagi di pantai.

Jessica menghela nafas lelah, lalu ia menghempaskan dirinya di sofa single.

"Xaiver dia itu bukan penghancur keluarga kita, semua itu hanya kecelakaan." ucap Jessica kemudian setelah cukup lama diam.

"Kecelakaan? Dia memang sengaja membunuh Daddy agar bisa memiliki semua harta Daddy." ucap Xaiver dengan nada yang tinggi.

"Xaiver, dia tidak seperti yang kau pikirkan selama ini." ucap Jessica juga dengan nada tinggi. Sudah di bilang jika Xaiver anak yang keras kepala 'kan?

"Memangnya kau tau apa yang aku pikirkan?" tanya Xaiver dengan alis terangkat satu dan tak lupa dengan senyuman menyeringai.

"Terkadang yang kita lihat tidak seperti kenyataannya, Xaiver." ucap Jessica.

"Harusnya kata kata itu pantas untukmu, Jes." ucap Xaiver.

"Ck, sudahlah berbicara denganmu hanya akan membuatku darah tinggi saja! Jangan lupa nanti malam pulang ke rumah makan malam bersama Mommy, ia sangat merindukanmu, setidaknya datanglah untuk Mommy." ucap Jessica.

Setelah mengucapkan itu Jessica langsung bangkit dari sofa dan melenggang pergi dari ruangan itu dengan menghentakkan kakinya kesal.

Xaiver menghela nafas lalu memanggil Deeva untuk masuk ke ruangannya karena ia akan meng-interview langsung karyawan barunya. Tentu saja hanya calon karyawan bagian sekretaris pribadi, bukan karyawan yang lain. Karena hanya perempuan cantik yang bisa menjadi sekretaris pribadinya.

Kini Deeva telah berada di ruangan Xaiver, duduk di kursi yang telah di sediakan ia hanya menunduk tidak berani menatap sang bos besar.

Jika ia sebelumnya berdoa agar ia diterima di perusahaan ini maka sekarang ia berdoa agar ia tidak diterima di perusahaan ini. Ia tidak bisa membayangkan punya boss mesum, lebih baik ia bekerja di perusahaan biasa dan dengan bos yang biasa pula. Dari pada bekerja di perusahaan besar tapi memiliki bos mesum macam Xaiver!

"Berapa umurmu?" tanya Xaiver menatap perempuan di hadapannya.

Perempuan yang duduk di bangku depan mejanya. Perempuan berambut panjang dengan rambut yang di ikat menjadi satu dengan kacamata baca yang sedikit kebesaran, kemeja putih dan blazers hitam dengan bawahan celana bahan hitam.

"22 tahun Mr.Maximilian." balas Deeva masih dengan menundukkan kepalanya.

***

[ Adeeva Adelia Albert ]

Aku menyerahkan dokumen berisi tentang data diriku pada Mr.Maximilian, ia membaca lalu menutupnya kembali. Ralat bukan membacanya, hanya membukanya lalu memutupnya kembali, maksudku apakah ia tidak benar - benar membacanya atau mungkin ia punya kekuatan super untuk membaca. Seperti super dede sinetron mnctv yang sering Ibuku tonton setiap hari?

"Berapa umurmu?" tanyanya.

"22 Tahun, Mr.Maximilian." balasku lirih. Aku menundukkan kepalaku, aku takut jika harus menatap mukanya yang mesum itu.

Aku bisa melihat dari ekor mataku jika Mr.Maximilian memerhatikanku sebentar, lalu berkata. "Kau diterima. Hari ini juga langsung bekerja." kata Mr.Maximilian santai.

"Apa!!!" teriakku refleks karena kaget, bagaimana bisa ia langsung memutuskannya begitu saja bahkan ia belum meng-interviewku. Boro-boro interview, membaca tentang diriku saja tidak. Apa dengan hanya menanyakan umur saja sudah termasuk interview ?

"Kenapa?" tanyanya sambil menaikkan satu alisnya. Bingung dengan reaksi yang aku berikan mungkin.

"Anda bahkan tidak-maksud Saya, Anda bahkan belum membaca data tentang diri Saya lalu Anda juga belum Meng-interview saya bagaimana bisa Anda langsung memutuskannya!" Seruku lantang.

"Aku bos nya jadi terserah Aku." ucapnya datar namun terkesan santai.

"Tapi--"

"Jadi kau ingin aku mempersulit kau hmm." Mr.Maximilian berdiri dan mencondongkan tubuhnya kearahku, membuatku menjadi gugup setengah mati karena wajahnya terlalu dekat dengan wajahku.

"Ti-tidak." ucapku gugup karena saat ini jarak antara aku dan Mr.Maximilian semakin dekat bahkan aku sampai bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku.

"Bagus, sekarang pergilah keruanganmu. Kau menjadi sekretaris pribadiku." ucapnya di depan wajahku lalu kembali menjauh kan wajah nya dari hadapanku.

"Tapi aku melamar menjadi managers bukan sekretaris, apalagi pribadi!" ucapku lagi, dengan nada yang sedikit keras.

Mr.Maximilian menatapku kesal. "Siapa bosnya di sini? Kau atau aku?" tanyanya.

Dia bodoh atau apa? Kenapa bertanya hal yang jelas jelas dia sudah tau jawabannya sih?

"Anda." balasku.

"Aku bosnya kan? Jadi keputusan ada di tanganku." Jawabnya, sepertinya ia mulai marah bukan lagi kesal.

"Tapi--"

"Pergi keruanganmu sekarang juga atau aku akan menciummu." ucapnya dengan nada mengintimidasi yang membuat bulu lenganku langsung meremang seketika.

Astaga atasan macam apa ini?

Bicara seenaknya sendiri! Aku tidak tau kalau ternyata Mr.Maximilian itu masih muda dan juga mesum seperti dia kalau aku tau aku tidak akan pernah akan melamar bekerja di sini!

"Apalagi!" tanyanya saat aku berbalik menghadapnya. Karena aku sudah melangkah agak jauh dari meja kerjanya.

Bersambung

Bab 3

Bab 3 Lautan Kondom

[ Adeeva Adelia ]

"Ruangan saya di mana?" tanyaku, masih sedikit gugup seraya menggaruk belakang kepalaku yang tidak gatal sama sekali.

"Tuh.." katanya seraya menunjuk sebuah pintu yang ada di sebelah kanan ruangan ini.

Aku pun terburu buru berjalan memasuki ruangan yang ada di sebelah. Karena terdapat pintu terhubung di ruangan itu mungkin agar tidak repot harus keluar ruangan, dan dinding ruangan yg memisahkan ruangan itu dan Mr.Maximilian hanyalah sebuah kaca besar termasuk juga pintunya. Jadi untuk apa di pisah jika dinding dan pintunya adalah kaca?

Aku membuka pintu kaca itu, begitu pintu terbuka aku terkejut bukan main melihat ruangan yang berantakan. Astaga ruangan macam apa ini, berantakan sekali di mana mana ada bekas kondom.

"ASTAGA RUANGAN APA INI!!" teriakku refleks.

Aku berbalik kembali ke meja Mr.Maximilian dengan kesal. Aku tidak peduli dia akan marah. Aku lebih marah sekarang.

"Apa lagi?" tanyanya dengan nada kesal, saat ia melihat aku tidak jadi masuk keruanganku dan kembali berdiri di depan mejanya.

"Ruangan macam apa itu? Kenapa di mana mana ada kondom bekas!" ucapku membentaknya. Aku tau aku terlalu berani telah membentaknya.

Mr.Maximilian terbelalak saat aku membentaknya, namun seketika raut wajahnya kembali santai. "Oh itu ruangan biasa Aku pakai untuk bercinta. Kenapa? Kau mau mencobanya?" tanyanya dengan santai bahkan bisa di kategorikan sangat santai.

"APA? TIDAK!! BERSIHKAN SEKARANG JUGA!" teriakku marah.

"APA?? TIDAK MAU!!" tolaknya yang juga berteriak.

"BERSIHKAN SEKARANG!!" ucapku dengan nada memerintah.

"TIDAK!!" bantahnya tetap tidak mau membersihkan ruangan lautan kondom bekas itu.

"BERSIHKAN MR.MAXIMILIAN!!"

"TIDAK MAU! AKU INI BOSMU BUKAN BABUMU!"

"AKU TIDAK PERDULI DENGAN KAU BOSKU ATAU BUKAN! SEKARANG BERSIHKAN RUANGAN ITU!"

Aku mendorong tubuhnya masuk keruangan yang akan menjadi ruanganku. Aku tidak tau kenapa aku bisa seberani ini dengan bosku sendiri sekarang, aku jadi merasa takut bagaimana kalau ia akan menghukumku karena telah berani membentak dan berteriak padanya, bahkan menyuruhnya. Padahal ini hari pertama kali aku kerja, apa ia akan memecatku di hari pertama aku kerja bahkan aku belum bekerja.

Hmm tapi sepertinya itu bagus, eh. Sudah lupakan dan lihat saja apa yg akan terjadi. Loh memangnya kalian bisa melihat haha maksudku baca apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aku melihat Mr.Maximilian yang sedang memunguti kondom bekas itu, sambil menggerutu kesal lalu membuangnya ke kotak sampah yang ada di ruangan itu.

Astaga aku benar-benar takut sekarang, aku telah berani membentak dan menyuruh seorang boss... oh Tuhan hukuman apa yang akan ia berikan nanti. Huh kenapa aku tidak berpikir ulang dan langsung membentaknya tadi?

"Sudah! Cepat masuk keruanganmu sebelum aku berubah pikiran dan aku yang akan memasukimu!" sunggutnya kesal.

Tanpa di perintah untuk yang ke dua kalinya, aku langsung masuk keruanganku dengan berjalan tetap menunduk.

Hah selamat, Mr.Maximilian tidak menghukumku atas tindakanku yg terlalu berni itu. Atau mungkin belum? Ya setidaknya bukan sekarang.

Skip...

Aku menghembuskan napas panjang berkali-kali. Baru hari ini bekerja di perusahaan Maximilian Corp, sudah membuatku pusing setengah mampus begini!

Mungkin lama lama aku bisa mampus beneran kalau begini!

Bagaimana tidak. Di hari pertama aku bekerja, aku sudah di beri tugas yg seharusnya di kerjakan oleh Mr.Maximilian sendiri, tanpa di beritahu bagaimana caranya!

Maksudku-- ayolah aku ini kan anak baru, setidaknya ada bimbingan Untukku kan?

"Sudah selesai." ucapnya berbicara lewat intercom.

Aku mendengkus kesal, dasar pemalas! Untuk apa dia jadi bos kalau mengerjakan tugasnya saja tidak mau?

Aku menumpuk kembali kertas kertas itu, menyusunnya hingga rapi. Setelah itu aku beranjak dari dudukku, membuka pintu dan berjalan kearah Mr.Maximilian yang sedang menyandarkan tubuhnya di kursi dengan santai.

"Sudah." ucapku menjatuhkan kertas kertas itu di mejanya.

"Di mana aku harus tanda tangan?"

Aku melotot sebal mendengar itu. Kenapa harus tanya, dia bisa membuka kertas itu sendiri kan?

"Kenapa diam?"

"Maaf, berkasnya sudah ada di hadapan anda, Mr.Maximilian... jadi anda bisa membuka dan melihatnya sendiri di mana anda harus tanda tangan." balasku berusaha berbicara sesopan mungkin walau pun rasanya aku ingin memakinya saat ini juga.

"Jadi apa gunanya aku mempekerjakan kau?" tanyanya mengerutkan dahinya menatapku sebal.

"Kalau begitu jangan pekerjaan saya." balasku santai.

"Hei! Kenapa kau selalu membalas ucapanku." ucapnya berbicara dengan nada yang sedikit meninggi.

"Jika Saya tidak membalas ucapan Mr.Maximilian nanti saya dikatakan tidak tahu diri... di tanya sang boss tidak mau menjawab." ucapku dengan tersenyum paksa.

"Ah bukan itu maksudku! Baiklah lebih baik kau pergi dari ruanganku, kau menyebalkan... minta dengan Rossa untuk membelikan aku makan siang."

Aku memutar badanku, berbalik arah untuk keluar ruangan Mr.Maximilian menutup pintu dengan sedikit tidak santai {keras} lalu berjalan menuju meja Rossa yang berada di depan ruangan Mr.Maximilian.

Rossa adalah sekretaris Mr.Maximilian, aku tidak tau mengapa ia membutuhkanku jika sudah ada Rossa! Ah aku hampir lupa, jelas saja dia membutuhkanku... Uhm maksudku adalah dia membutuhkan sekretaris pribadi, karena dia itu pemalas.

Contoh bos yang TIDAK patut untuk di contoh!

"Hai, Miss.Adeeva... ada apa? Sepertinya kau terlihat sedang kesal." tanya Rossa.

Yap, kami sudah berkenalan.

"Tidak perlu terlalu formal, Rossa. Kau cukup memanggilku Deeva saja."

"Oh baiklah, jadi apa yang terjadi, kenapa mukamu kusut sekali?" tanya Rossa lagi.

Aku mendengkus kesal. "Bosmu itu sangat menyebalkan." sunggutku.

"Jangan lupa fakta bahwa dia juga bosmu, Deeva." balas Rossa di iringi dengan senyuman. Kami memang baru mengenal, tapi Rossa adalah orang yang baik untuk di jadikan teman.

"Oh Tuhan... apa salahku? Sehingga kau menghukumku seperti ini? Semoga aku cepat di pecat dari kantor ini." keluhku kesal.

"Haha, biasanya yang menjadi sekertaris pribadi Mr.Maximilian selalu berdoa pada Tuhan agar Mr.Maximilian tidak memecatnya, tapi kenapa kau sebaliknya?" tanya Rossa menatapku heran.

"Oh--"

"Hmm, apa makananku sudah di pesan?"

Aku menoleh kebelakang dan melihat Mr.Maximilian yang sedang menatapku tajam.

"Belum--" belum selesai aku berbicara Mr.Maximilian sudah memotong ucapanku.

"Kenapa belum! Aku sudah menyuruhmu sejak sepuluh menit yg lalu." ucapnya semakin menatapku dengan tajam.

"Um, sebenarnya itu karena saya lupa tanya kepada anda... anda ingin makan siang apa?" tanyaku hati hati.

Um Mr.Maximilian sepertinya marah saat ini, terlihat jelas dari raut wajahnya yang sangat menyeramkan itu.

"Kau!"

"Aku?" ulangku menunjuk diriku sendiri.

"Ya. Kau."

Apa maksudnya? Memangnya aku makanan apa?

Aku mengalihkan pandanganku untuk menatap Rossa yang sepertinya kembali di sibukkan dengan pekerjaannya.

"Dasar bodoh! Ikut aku."

"Eh, mau kemana?" tanyaku saat Mr.Maximilian dengan tiba tiba menarik tanganku memasuki ruangannya dan menghempaskan ku di sofa.

Aku menatapnya kesal, aku tau dia boss di sini. Tapi dia juga tidak bisa seenaknya main tarik tarik tangan orang sembarangan kan?

Bersambung.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED