Airysh POV
Reece mencium temanku bukan aku, hal pertama yang kupikirkan tentang dia adalah 'brengsek!' aku ingin mengumpat dan menamparnya…
Saat ini Reece duduk di hadapan ku sambil menatapku dengan tatapan yang entah bagaimana bisa ku artikan.
Aku juga membalas tatapan Reece dengan tatapan sebal, namun aku tetap santai seolah-olah aku baik-baik saja, ini balasan nya jika tidak menuruti seorang Reece Andromeda.
Ia akan melakukan apapun agar orang lain bisa menuruti keinginannya.
Aku tidak habis pikir Reece akan melakukan hal segila itu, terlebih kepada temanku sendiri, aku bahkan tidak bisa membayangkan bagaimana takutnya Lily jika tersebar gosip buruk tentang nya di kampus ini.
"Bisakah aku pergi?"
Reece mengalihkan pandangannya setelah mengeluarkan ponsel dari sakunya.
"Bisakah kamu bersikap waras?"
"Setidaknya berpikirlah sedikit,"
Aku benar-benar merasa sangat emosi. Namun bagaimana pun juga aku harus mengendalikannya, Reece hanya akan bertingkah menyebalkan.
Cowok itu bahkan sangat jujur kepadaku bahwa ia playboy, aku tidak mengerti mengapa ia membanggakan hal itu, aku bahkan tidak berpikir jika itu keren.
Reece memicingkan matanya, "Apa sulitnya itu untukmu?"
"Aku bahkan sudah bilang akan membayarmu," Ujar Reece terdengar sangat mudah
"Ada atau tidaknya aku sama sekali tidak ada artinya ditempat itu," Balasku
Aku tidak masalah ia melakukan apapun dengan wanita lain, tapi akan sangat menjijikan jika ia melakukan itu didepan ku.
"Aku tidak akan melakukan apapun di hadapan mu, aku janji," Ujar Reece.
"Lagipula mommy selalu ingin kamu bersamaku, kamu bahkan tau itu,"
"Jika nanti malam kamu tidak pergi denganku, aku tidak tahu apakah aku masih bisa menjadi model, mommy selalu melakukan apapun untuk mengacaukan nya,"
Reece anak tunggal, itulah mengapa ibunya begitu mengawasinya. Terlebih Reece memiliki pergaulan yang buruk, ibunya tentu tidak ingin Reece terus-terusan terjerumus.
Tapi keluarganya begitu kaya, sehingga apapun bisa ibunya lakukan untuk menyuruh orang-orang mengawasi Reece dengan membayar mereka, dengan begitu aku tahu Reece benar-benar merasa muak. Kupikir itulah mengapa selain permainan bodoh di klub malam itu Reece masih bertahan dengan ku, mungkin karena ia ingin memiliki pacar yang bisa dipercaya oleh ibunya, agar ia tidak selalu di awasi oleh orang lain, dan aku tahu rencana itu sukses.
Tapi, aku sangat kesal jika ia mengatakan tentang ibunya di saat-saat seperti ini, aku tidak berani menolak jika itu tentang ibunya, ibu Reece sangat menyukaiku dan bahkan sangat menyayangiku sama seperti Reece.
Sebenarnya itu tidak buruk, Reece hanya ingin aku menemaninya saat ia bersama teman-teman modelnya, tapi akan sangat buruk setelah Reece minum dan mabuk ia akan melakukan hal yang sangat menjijikkan dengan wanita lain.
Itu membuatku ingin muntah.
"Oke, kamu tidak melakukan hal hal seperti itu dihadapan ku, tapi jika gosip antara kamu dan Lily tersebar, kamu harus mengatakan bahwa kamu sangat mabuk di malam itu, bilang ke semua orang jika kamu tidak sadar," Ujarku.
Aku pikir itu masuk akal, dengan begitu Lily bisa tenang, Pacarnya tidak akan memintanya putus karena itu tidak sengaja.
"Itu sangat mudah, aku akan melakukannya," Jawab Reece menerima perkataan ku.
"Tapi kamu juga harus menepati janji,"
"Setelah kuliah selesai kita pergi ke rumah ku, aku sudah menyiapkan semuanya untukmu,"
"Setelah itu kita baru bisa pergi untuk menandatangani kontrak nya,"
Reece mengerlingkan matanya, itu membuatku muak.
"Kamu bisa pergi sekarang, sebentar lagi akan ada seorang gadis yang datang," Ujar Reece mengusirku dengan santai
Tentu saja aku tidak mau.
"Tidak, kamu yang harus pergi, aku datang ke tempat ini lebih dulu," Ujarku angkuh.
Reece seperti ingin mengumpat, tapi mungkin karena ia tidak ingin suasana menjadi lebih rumit, Reece memutuskan untuk pergi.
Seharusnya kamu selalu mengalah seperti itu.
***
Dua bulan lalu..
"Dare!" Reece mengucapkan kalimat itu setelah sebuah botol mengarah kepadanya.
Alasannya simpel saja ia memilih dare dari pada truth, jika ia mengatakan truth maka temannya akan menyuruh nya mengatakan hal-hal yang memalukan, seperti ukuran bagian pria, Reece tahu itu terjadi.
Reece sangat malas jika pertanyaan-pertanyaan seperti itu harus ia jawab dengan jujur.
"Aku menantang mu untuk pacaran dengan satu gadis selama satu tahun,"
Ujar Alex, pria itu meneguk segelas wine, lalu menatap Reece dengan serius.
Reece mengerti Alex tidak menyukainya karena Reece suka menggoda para gadis termasuk pacarnya.
Alex takut Reece akan mengencani Gadisnya, karena Reece begitu Playboy.
Reece tampak menghela napas, ia hanya berpikir jika itu bisa dicoba. Lagipula ia tidak berniat untuk menjadi Playboy seumur hidup.
Teman-temannya yang lain terdengar sangat bersemangat.
"Okay, aku coba,"
Beberapa teman-teman semeja nya berteriak, Suatu keajaiban jika seorang Reece Andromeda setia pada seorang gadis.
"Kalau kamu tidak bisa menepati ucapan mu, kamu harus menyerahkan kunci mobilmu kepadaku," Ujar Alex.
Reece mengangguk.
"Setuju!"
Bar semakin ramai ketika Reece menyetujui untuk memberikan mobilnya kepada Alex.
Bagaimana tidak, bagi Reece sebuah mobil tidak ada apa-apanya, ia memiliki belasan koleksi mobil dirumah nya.
Reece pikir itu bukan hal yang besar.
"Sekarang siapa yang ingin kamu pilih untuk menjadi pacarmu?" Sahut salah seorang temannya.
"Aku yang akan memberikan tantangan untuk Reece," Ujar Leon.
Untuk aturannya, dalam permainan konyol ini mereka akan mendapatkan tiga tantangan ataupun kebenaran.
Kini giliran Leon memberikan tantangan.
"Sekarang kamu cium salah satu gadis yang berada disana, orang yang kamu cium harus menjadi pacarmu. Tapi… Kamu tidak boleh melihat wajahnya sebelum kamu mencium nya," Ujar Leon yang langsung disetujui oleh banyak orang disana.
"Ah shit!" Ucap Reece.
Ini benar-benar tantangan paling gila, ia pikir ia akan memilih sendiri gadis yang ingin ia pacari, tapi kenapa harus sekarang dan ditempat remang seperti ini.
'baik.. jika aku tidak melakukannya kalian akan menganggap ku seperti pengecut.'
'Lihat saja bagaimana ini bisa terjadi.'
Reece melakukan aksi gilanya, pria itu berjalan mendekati seorang gadis yang menghadap membelakanginya, karena ia juga tidak boleh melihat wajah gadis itu.
Dengan cepat, tanpa gadis itu sadari Reece sudah memutar tempat duduk gadis itu lalu menciumnya.
Semua orang disana terkejut, termasuk gadis yang Reece cium, ciuman yang berlangsung selama dua detik itu mendapat sorotan heboh dari teman-teman gadis itu disana.
Pasalnya mereka datang berombongan dan tiba-tiba insiden tak terduga pun terjadi.
"Kamu harus menjadi pacarku," Ujar Reece langsung setelah ia melepaskan ciumannya.
Gadis itu mendorong tubuh Reece.
"Apa maksudmu?!" Ujarnya setengah berteriak.
"Apakah kamu mau menjadi pacarku?" Ujar Reece santai.
"Aku akan melakukan apa saja, aku juga akan membayarmu, aku janji," tambahnya.
Gadis itu menatap Reece dengan tatapan bingung.
Itu tidak masuk akal sama sekali.
"Kupikir kamu sedang mabuk, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini." Ujar gadis itu lalu menghadap lagi ke arah teman-temannya, setelah berpikir bahwa pria itu sedang mabuk dan ia tidak ingin membuat masalah dengannya.
"Tidak!, Aku serius,"
"Aku tidak peduli, mulai sekarang kamu telah menjadi pacarku," Ujar Reece lalu meninggalkan gadis itu dengan santai.
"Ayo makan siang,"
Seorang gadis dengan rambut pirang menepuk bahu Airysh hingga membuatnya menoleh.
"Aku sangat lapar," Ujarnya lagi.
Camilla, gadis cantik dengan rambut pirang itu menarik-narik tangan Airysh.
"Aku sangat malas," balas Airysh.
Ia masih terus membaca buku dihadapan nya tanpa memperhatikan Camilla yang mulai kesal.
"Kamu tidak merasa kasihan dengan sahabatmu," Camilla mulai merengek seperti anak kecil.
Airysh menatapnya sekilas, biasanya ia yang selalu merengek seperti itu kepada Camilla, tapi kenapa sekarang malah sebaliknya.
"Kamu selalu mengajakku makan ketika aku ingin diet, tapi kamu sama sekali tidak makan jika aku yang mengajakmu makan," Airysh menggerutu sambil menutup novelnya yang tadi ia baca.
Camilla tertawa, "Lebih baik kita tidak diet sama sekali, bagaimana menurutmu?, Aku benci harus menahan nafsu makan ketika aku merasa lapar," ujar Camilla.
"Kamu yang mengajakku diet, tapi sekarang kamu berubah pikiran," balas Airysh.
"Ya, aku menyesal, mari kita batalkan semuanya,"
Airysh tampak berpikir, namun beberapa saat menyetujuinya, sejujurnya ia juga tidak ingin melakukan itu.
"Dimana Lily?" Tanya Airysh karena tidak melihat gadis itu.
Biasanya ada lima orang gadis di meja ini, mereka berteman dekat.
Airysh, Camilla, Lily, Jessica dan Emily.
Dari kelima gadis tersebut bagi mereka Lily adalah yang paling cantik, Lily seperti kesayangan mereka, bahkan dianggap seperti adik.
Lalu Jessica gadis paling tomboi dan terkenal suka memukuli cowok.
Kemudian ada lagi Emily, dia yang paling pintar dan eksis di berbagai organisasi makadari itu Emily sangat jarang berkumpul dengan mereka.
Camilla adalah yang paling cerewet, perhatian, dan Paling baik, Camilla juga yang paling ada di setiap waktu dengan mereka, kapan pun dan dimana pun salah satu diantara mereka ingin dijemput maka Camilla siap menjemput, Camilla yang terbaik bagi mereka.
Dan terakhir Airysh, gadis itu sedikit berbeda dari segi wajah, rambut, dan lain-lain.
Karena hanya dia satu-satunya yang berasal dari Asia, lebih tepatnya Indonesia, hanya dia dari kelima sahabatnya yang semuanya asli dari Amerika. Tapi meskipun lahir di Indonesia, ia tinggal di Amerika sejak kecil.
Mereka berlima biasanya bersama jika akan makan siang, namun hari ini hanya tersisa Camilla dan Airysh saja karena mereka sedang memiliki urusan masing-masing.
"Kupikir dia bertengkar dengan pacarnya," Jawab Camilla.
Airysh yakin ini pasti karena kejadian semalam, karena Reece berulah dengan mencium Lily. Ini juga sebenarnya salahnya, ia tahu Reece akan melakukan hal diluar dugaan, tapi ia tetap tidak melakukan apa yang Reece katakan.
Itulah balasan nya.
Airysh dan Camilla akhirnya pergi ke kantin tanpa Lily, mereka berharap menemukan Lily di jalan.
"Apa kamu sudah bicara dengan Reece?" Tanya Camilla sesaat setelah mereka memesan makanan.
Airysh mengangguk, "Itulah mengapa aku ingin bicara dengannya,"
"Lily pasti mendapatkan masalah karena pria brengsek itu,"
Airysh mendegus.
"Lalu kenapa kamu tidak putus dengan Reece saja?" Tanya Camilla heran.
"Aku sudah berjanji tidak akan putus sebelum satu tahun," sesal Airysh merasa telah dibodohi.
Lagipula ia sangat ingin balas dendam dengan mantan pacarnya.
"Itu terlalu lama untuk bertahan disamping pria segila Reece," ucap Camilla.
"Aku tahu, tapi setidaknya aku bisa membuktikan kepada Felix, jika aku baik-baik saja tanpa dia,"
Camilla tidak mengerti, dia berpikir jika Airysh sangat berlebihan, itu bukan cara balas dendam yang baik, Airysh bahkan mendapatkan masalah karena Reece.
"Aku berpikir bahwa kamu masih sangat mencintai Felix," ujar Camilla.
"Tapi kamu terlalu bodoh, ketika kalian putus kamu tidak memberikan kesempatan kedua meskipun kamu masih mencintainya, kamu ingin balas dendam tapi malah menjadi seperti ini, aku tidak berpikir itu balas dendam yang menyenangkan,"
Airysh tidak menanggapi, Ia tidak ingin memberikan kesempatan kedua kepada Felix karena ia tahu itu tidak akan berubah.
Lagipula saat ia menerima Reece menjadi pacarnya, semua orang di kampus pasti akan tahu, karena Reece biasanya hanya mendekati para gadis tanpa mengajaknya pacaran, agar ia bisa dekat dengan gadis-gadis lain. Tapi tetap saja ada gadis yang menjadi pacar Reece hanya saja mereka tidak akan bertahan sampai satu bulan tentu saja karena sikap Reece yang selalu mempermainkan para gadis.
Sangat berbeda dengan Reece dan Airysh sekarang, mereka sudah lebih dari dua bulan berpacaran, meskipun tidak saling menyukai satu sama lain, namun Airysh sangat yakin bahwa orang-orang tidak akan mengira bahwa Reece dan dirinya tidak saling mencintai.
"Aku tahu," ujar Airysh.
"Lagipula tidak ada yang berubah karena Felix juga menerima perjodohan orangtuanya," ujar Airysh lesu.
Camilla tidak tahu harus kasihan atau kesal kepada sahabatnya itu, Airysh juga tidak pernah menerima sarannya.
Ponsel Airysh berdering, Airysh yang melihat nama Reece menjadi sangat malas ketika ingin membuka nya.
Reece.
Baby ..
Aku menjemputmu jam 8.
Okay?
Jangan lupa.
Airysh berdesis, lalu bergumam setelah membaca kata 'baby', Reece akan selalu mengatakan itu jika ia membutuhkan Airysh.
Reece.
Kamu tidak menjawab.
Kamu dimana?
Haruskah aku menjemputmu sekarang?
Heyy .
Baby..
Cepat jawab aku, aku merindukanmu.
Airysh tertawa, ia tahu jika Reece sangat playboy makanya dia sangat berbakat menggunakan kalimat seperti itu.
Ok, jam 8
Jawab Airysh.
Reece
Kamu sangat dingin.
Tapi tidak masalah, aku mencintaimu.
Camilla juga ikut bergidik membaca pesan-pesan dari Reece, Camilla berpikir Reece seperti pacar sungguhan yang benar-benar mencintai gadisnya.
"Kamu tidak benar-benar menyukai Reece bukan?" Camilla bertanya untuk memastikan.
"Tentu saja tidak,"
"Ya, untuk saat ini," tambah Camilla.
***
Reece mengerjapkan sebelah matanya, lalu tersenyum kepada Airysh, sedangkan gadis itu hanya menatap Reece dengan tatapan datar tanpa ekspresi.
Mungkin ia merasa muak.
"Mengapa kamu tidak tersenyum?" Tanya Reece setelah mereka berdua masuk kedalam mobil.
Reece mengatakan itu untuk mencairkan suasana.
"Kenapa aku harus tersenyum?" Ujar Airysh balik bertanya.
"Kamu akan terlihat lebih cantik,"
Reece mengatakan itu sambil menatap Airysh.
Namun Airysh tidak mengatakan apapun, bahkan tidak menoleh sedikit pun.
"Cepat nyalakan musiknya," ujar Airysh.
"Apa?!" Reece terkejut.
"Nyalakan musiknya," ulang Airysh lagi.
Reece menatap Airysh lagi, namun gadis itu malah menatap keluar jendela.
"Kamu benar-benar terlalu berani," gumam Reece kesal.
Ini pertama kalinya seorang gadis berani menyuruh nya.
Reece akhirnya menyalakan musik, meskipun ia kesal.
Beberapa saat kemudian hanya suara musik yang terdengar, sedangkan mereka hanya diam menikmati pikirannya masing-masing.
***
Airysh POV
Entah mengapa aku selalu merasa berdebar ketika mobil Reece melewati pintu gerbang mansion keluarganya.
Aku tidak mengerti apa masalahnya, tapi aku merasakan nya sejak pertama kali masuk ke mansion ini, aku merasakan Sesuatu yang berbeda.
Daripada mansion aku lebih memilih menyebutnya sebagai istana, ini benar-benar sangat mewah.
Aku bahkan merasa berjalan diatas red karpet ketika aku turun dari mobil, karena terlalu banyaknya pengawal yang menyambut dengan seragam hitam dan juga para pelayan dengan seragam hitam putih yang berbaris rapi.
Sama seperti saat ini setelah aku dan Reece keluar dari mobil semua orang langsung berkumpul layaknya menyambut seorang pangeran.
Saat pertama kali aku benar-benar merasa terkejut namun Reece langsung mengenggengam tanganku, seperti ia merasakan apa yang sedang kurasakan.
Dan Sekarangpun Reece juga melakukan hal yang sama.
Kami berjalan beriringan, Reece selalu bersikap pendiam dihadapan keluarganya ketika bersama ku. Ia juga selalu mengenggengam tanganku ketika kami berhadapan langsung dengan kakek Reece.
Aku merasa Reece sangat tegang ketika kakeknya memanggil Reece untuk berbicara dengannya, aku merasakan genggaman Reece semakin erat.
Sejujurnya aku sangat penasaran dengan keluarga ini, mansion mewah ini ditinggali oleh keluarga besar Reece. Ibunya, kakeknya, paman, bibi dan juga sepupu-sepupu Reece. Tapi mengapa Reece memilih untuk tinggal sendiri? ia malah membeli rumah yang letaknya tidak jauh dari kampus.
Apa yang membuatku penasaran adalah tentang Reece yang memilih untuk tinggal sendiri.
"Reece…, Mommy sudah menunggu mu," ujar Selena, ibu Reece yang langsung menghampiri putra semata wayangnya.
Mommy memeluk Reece.
Kemudian menatapku setelah melepaskan Reece.
"Apa kabar?," Tanya mommy ramah.
Aku tersenyum, "baik mommy, terimakasih, bagaimana dengan mommy?" Tanya ku berbasa-basi terlebih dahulu.
Aku juga harus memanggil ibu Reece dengan panggilan mommy karena permintaan ibu Reece sendiri.
"Aku selalu baik-baik saja, aku harus berterimakasih karena kamu sudah membawa Reece kemari," ujar mommy.
Aku hanya tersenyum, padahal Reece yang membawanku kemari, bukan malah sebaliknya.
Namun, Aku tetap diam seolah-olah aku terlah berhasil membujuk Reece , sekalipun aku tidak tahu dalam situasi apa saat ini.
"Kalian bisa beristirahat terlebih dahulu," ujar Selena yang meninggalkan kami berdua.
Kini hanya aku dan Reece disini. Reece menatap ku.
"Kamu harus ingat bahwa kamu tidak boleh mengatakan kepadan siapapun bahwa aku adalah bagian dai keluarga ini," ujar Reece.
Aku mengangguk, aku benar-benar tidak lupa, pertama kali mengetahui hal ini aku memang sangat terkejut. Reece sangat kaya, keluarga nya adalah pemilik perusahaan mobil yang sangat terkenal.
Kakeknya merupakan pendiri perusahaan, lalu semua anak-anak dan cucunya ditempatkan di perusahaan itu kecuali Reece.
Aku tidak tahu apa alasannya, dan aku juga tidak terlalu paham bagaimana kakek Reece menempatkan semua anggota keluarga dirumah ini dalam perusahaan.
Aku dan Reece tidak saling bicara, kami hanya duduk dan beberapa pelayan berbaris untuk bertanya apa yang ingin kami makan atau minum,
Namun Reece tidak ingin apapun, dan aku juga hanya diam meniru Reece.
Selang beberapa saat muncul seorang pria tampan dengan setelan jas hitam diikuti seseorang di belakangnya, aku belum pernah melihat mereka, namun saat aku melihat gayanya berjalan itu seperti seseorang yang sangat terhormat dan elegan.
Tanpa ku sangka pria itu menghampiri kami, pria itu tampak tersenyum kepada Reece, namun senyum yang aneh.
"Lama tidak bertemu," gumam pria itu lalu duduk di hadapan kami.
Aku menatap mereka secara bergantian, sudah 3 kali aku ke mansion ini tapi aku tidak pernah bertemu dengan pria itu.
"Aku baru melihat mu di rumah ini," ujar pria itu lagi, Joseph yang tak lain adalah sepupu Reece.
"Aku sering datang kesini, tapi sayangnya kamu tidak melihat ku," ujar Reece datar.
Apapun yang Reece ucapkan saat berada di mansion ini, sangat berbeda dengan gaya bicara Reece saat berada di kampus, aku melihat Reece yang lain saat berada disini.
"Oh aku lupa menanyakan kabarmu, kupikir kamu baik-baik saja, bukankah begitu?" Ucap pria itu.
"Seperti yang kamu lihat, aku memang baik-baik saja,"
Reece menjawab sekedarnya, aku melihat ketidaknyamanan Reece saat bicara dengan pria itu.
"Aku melihat mu muncul di majalah, kupikir kamu akan segera menjadi model terkenal,"
"Sangat cocok untuk seseorang seperti mu," tambah pria itu.
Kupikir ini tidak terdengar seperti pujian, aku malah berpikir jika ini adalah nada sindiran, terlihat jelas jika pria itu tidak menyukai Reece.
Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua, terlebih melihat Reece yang terlihat tidak menyukainya.
"Oh ya, kakek akan bicara padamu, mungkin dia akan memberimu kejutan," pria itu bangkit dari tempatnya duduk, lalu menatap Reece yang tidak bicara lagi.
"Kuharap kamu sangat menikmatinya,"
Ucap pria itu lagi sebelum benar-benar pergi.
"Woah," Ujarku tanpa sengaja.
Reece menatapku, lalu aku juga membalas tatapannya.
Dia menatapku heran. "Apa?" Tanyaku.
"Apa katamu tadi?" Tanya Reece.
"Aku tidak mengatakan apapun, tapi.. orang yang baru saja bicara denganmu itu tampan," Ujarku jujur namun terdengar acuh.
Reece masih menatapku,
"Dia tidak terlihat seperti itu sama sekali,"
"Aku hanya mengatakan yang sebenarnya,"
Sepertinya Reece kesal, ia ingin berbicara, namun seseorang memanggil Reece.
"Tuan will memanggil tuan muda di halaman belakang," ujar seorang pelayan.
Aku mengikuti langkah Reece, dia sempat menghela nafas beberapa kali, aku pikir dia sangat takut.
Kami sampai di halaman belakang, disini sangat indah, aku melihat banyak macam bunga dan tumbuhan yang terawat, beberapa pohon yang tumbuh juga menjadikan halaman belakang terlihat sangat sejuk.
Aku sangat menyukainya. Namun aku menjadi sangat terkejut tatkala mendengar seseorang berkata dengan sangat keras.
"Reece!!"
***
Reece!!" Suara tinggi khas dari William Dellson, kakek Reece sontak membuat Reece dan Airysh menoleh.
Dengan langkah tergesa-gesa Will menghampiri Reece, dari tatapannya sudah menunjukkan bahwa ia tidak senang melihat Reece.
hingga tiba-tiba...
Plakk!!
Suara tamparan keras mengejutkan Airysh, ia melihat sendiri bagaimana Reece ditampar oleh kakeknya sendiri.
Reece yang hampir jatuh karena tamparan keras kakeknya perlahan mengangkat kepalanya.
"Ini balasan mu sekarang?!" Suara Will bergetar.
Ia menatap marah ke arah Reece, sedangkan pria itu hanya diam tanpa mengatakan apapun.
"Aku memberimu kebebasan tapi ini yang kamu lakukan!"
"Kamu tahu sedang berhadapan siapa?!!" Nada suara Will kembali meninggi.
Reece tersenyum miring, ia seperti tidak merasakan apapun atas tamparan kakeknya.
Pria itu menatap Will lalu tersenyum,
"Apakah kamu takut?" Reece melemparkan pertanyaan, membuat Will seketika terdiam sambil menatap Reece tajam.
"Aku tahu dengan siapa aku bekerjasama, tapi aku tidak tahu jika itu membuatmu takut," ujar Reece dengan penuh penekanan di setiap kalimat nya.
Mendengar ucapan Reece, Will semakin marah, ia ingin menampar Reece lagi, namun pria itu menahan tangannya.
"Kamu tidak perlu membuang tenaga mu untuk ini, pikirkan saja perusahaan ini, dan jangan pikirkan apapun tentang aku," ujar Reece lagi.
"Kurang ajar!" Umpat Will keras
Membuat Selena berlari ke arah Reece dan juga Will.
Ia tahu mereka pasti akan seperti ini.
"Reece, lepaskan," pinta Selena.
Reece yang mendengarkan ibunya langsung melepaskan tangan Will darinya.
"Aku tidak minta apapun darimu, maka jangan campuri urusanku," ujar Reece.
"Aku tidak peduli dengan apa yang terjadi dengan perusahaan mu,"
"Aku menuruti apa yang kamu katakan tapi Itu akan membuat ku sangat menyesal, maka dari itu, aku tidak menuruti mu lagi sejak saat itu, jadi jangan harap aku akan kembali kesini untuk mengemis uangmu," ujar Reece.
Airysh terkejut dengan perkataan kasar Reece kepada kakeknya, tapi ia sama sekali tidak tahu harus berbuat apa.
"Lihat perilaku anakmu!, Dia berani melawanku," ujar Will kepada Selena.
Selena menghampiri Reece dan Airysh yang diam di tempatnya.
"Reece tolong...dengarkan mommy,"
Pinta Selena lalu menggenggam tangan Reece.
Reece menatap ibunya yang hampir menangis, beberapa detik kemudian Reece melepaskan tangannya dari ibunya dengan pelan.
"Aku akan melakukan apapun yang mommy mau tapi tidak ada yang bisa menghentikan apa yang aku inginkan termasuk mommy ataupun... Kakek," ujar Reece sambil mengarahkan pandangannya ke arah Will.
Reece menarik tangan Airysh tiba-tiba lalu mengajak gadis itu berjalan dengan cepat meninggalkan tempat itu.
Reece membawa Airysh ke suatu tempat tanpa berbicara apapun, sejak dari mansion itu Reece terlihat sangat dingin, Airysh mengerti Reece sedang dalam perasaan yang amat buruk, itulah sebabnya ia juga tidak berbicara ataupun mengganggu pria itu.
Airysh mengerti, mungkin perasaan Reece sedang terluka akibat dari tamparan keras sang kakek, namun Airysh juga tidak mengerti mengapa mereka bertengkar.
Tiga kali pergi ke mansion itu, Airysh menyimpulkan bahwa Reece dan kakeknya tidak pernah akur, terbukti sudah tiga kali ia pergi ke tempat itu, kakek Reece selalu saja mengatakan sesuatu yang kasar terhadap Reece namun bedanya Reece tidak pernah menjawab, biasanya ia hanya diam lalu pergi dengan acuh, berbeda halnya dengan hari ini, Reece bahkan berani membentak kakeknya.
"Kamu tidak perlu khawatir, aku tidak akan minum hari ini," ujar Reece setelah mereka keluar dari mobil.
Mereka datang di salah satu cafe yang terkenal di New York.
Airysh tidak tahu apa yang ingin Reece lakukan disini, biasanya Reece hanya pergi minum ke bar atau kemanapun yang berbau alkohol.
Namun kali ini berbeda, ini mungkin yang Reece katakan tadi siang tentang kontrak yang harus ia tanda tangani.
Ia akhirnya mengikuti Reece berjalan masuk ke dalam cafe tersebut.
Airysh begitu menyukai aroma kopi ketika mereka baru saja melangkahkan kakinya kesana.
Reece akhirnya duduk setelah melihat seorang pria paruh baya melambai kepadanya.
Airysh hanya memperhatikan apa yang terjadi antara mereka.
Namun tidak ingin perduli lebih lanjut gadis itu memilih untuk memainkan ponselnya.
"Aku setuju,"
"Aku akan menandatangani kontrak nya sekarang,"
"Bagus, terimakasih atas kerjasama nya tuan Andromeda,"
"Suatu kehormatan bisa bekerjasama dengan perusahaan anda," ujar Reece sambil menjabat tangan pria paruh baya itu.
Gadis itu menatap mereka yang tampaknya sudah selesai, Airysh menebak ini tanda tangan kontrak Reece dengan perusahaan mobil lain.
Reece sering menjadi model dalam suatu iklan di majalah, biasanya selain mobil ia juga tampil di acara-acara motor.
Airysh baru memikirkan satu hal..
'aku tahu kenapa kakek Reece marah, aku pikir karena Reece malah mendukung perusahaan lain daripada perusahaan keluarganya sendiri,'
'Reece memang gila, jika aku jadi dia tentu saja aku tidak akan melakukan hal seperti itu,'
Pria paruh baya itupun pergi setelah beberapa saat.
"Cepat sekali.." gumam Airysh tanpa sengaja.
"Dia sangat sibuk, jadi dia sangat terburu-buru," jelas Reece.
"Kau ingin memesan sesuatu?" Tanya Reece mencoba menawarkan.
"Tidak, Terimakasih," tolak Airysh.
"Aku ingin mengobrol denganmu," ujar Reece.
Airysh menaikkan alisnya, Reece tidak biasanya mengatakan hal seperti itu.
Jadi apa yang terjadi?
"Dua ice Americano," ujar Reece kepada seorang pelayan.
"Tidak, hot Americano untukku," kata Airysh setelah Reece mengatakan itu.
Reece menatap nya sekilas setelah ia mengatakan itu, tentu saja Reece tidak tahu apapun tentang kesukaan nya.
Cafe bergaya klasik dan juga dengan pelayanan yang unik itu menarik perhatian Airysh, terlebih tatanan tempat yang begitu artistik dan elegan.
Ini akan menjadi cafe favoritnya setelah ia tahu tempat ini dari Reece.
"Terimakasih untuk hari ini," ujar Reece yang sadar atau tidak telah mengucapkan kalimat itu.
"Ah.." gumam Airysh nyaris tidak terdengar.
"Sebenarnya aku mengajakmu hari ini karena perintah mommy, mommy harus melihat aku bersama mu, lagipula kamu juga sudah terlanjur mengetahui semuanya," ujar Reece.
"Aku tidak berpikir kamu akan mengajakku ke tempat ini ataupun bertemu Kakek mu, kupikir kamu akan mengajakku ke tempat hiburan seperti malam itu," ujar Airysh sedikit gugup.
Terkadang pembicaraan seperti ini malah membuat Airysh gugup, tapi jika Reece sudah menampakkan buaya yang sebenarnya pada dirinya, Airysh bahkan tak segan-segan untuk mengumpat atau mengucapkan kata-kata kasar kepada Reece.
"Tidak, mulai sekarang aku hanya ingin bersamamu, itulah mengapa aku mengajakmu," ungkap Reece.
Airysh menyipitkan matanya, ia pikir Reece sudah kembali ke sifat aslinya.
'sial!' umpat Airysh dalam hati.
Selang beberapa saat kopi yang mereka pesan datang.
Di waktu yang bersamaan Airysh menangkap sesosok pria yang menimbulkan kebencian di hatinya.
Ia melihat dia bersama dengan seorang gadis.
'dia pergi dengan gadis lain, bukan calon istrinya," ujar Airysh dalam hati.
Ia merasa begitu kesal.
Felix, alias Sang mantan pacar Airysh yang datang dengan seorang gadis itu melihat Airysh yang sedang menatapnya.
Merasa tertangkap basah, Airysh langsung mencari cara.
"Reece.."
"Ya?"
"Izinkan aku melakukan sesuatu hari ini saja…" Ujar Airysh yang membuat Reece tidak mengerti.
"Apa?"
"Cepat mendekat lah..," perintah Airysh gusar.
Reece yang tidak mengerti maksud Airysh menuruti, ia mendekati Airysh.
"Maksutku wajahmu, cepat lebih dekat,"
"Apa maksudmu?"
"Kumohon jangan tanyakan apapun," ujar Airysh dengan nada memohon.
Reece mendekat kan wajahnya, ia tidak mengerti apa yang akan Airysh lakukan kepada nya namun ia tetap menuruti permintaan gadis itu.
"Reece maafkan aku, tolong jangan salah paham,"
Kalimat terakhir yang di ucapkan Airysh sebelum sedetik kemudian Airysh mencium bibir Reece tepat saat pria itu mendekat kan dirinya kepada Airysh.
Ciuman yang terjadi selama beberapa detik itu pun membuat Felix yang melihatnya terkejut.
Airysh langsung melepaskan nya.
"Maafkan aku," ujar Airysh yang telah memerah karena malu.
Gadis itu langsung menyeruput kopi didepannya untuk mencegah rasa malunya yang terlalu berlebihan ini.
"Agh, panas!"
Refleks Airysh yang dengan bodohnya meminum kopi panas yang ia pesan sendiri.
Reece menatap Airysh dengan tatapan yang sulit diartikan, ia tidak mengerti mengapa Airysh tiba-tiba melakukan itu, dan sekarang terlihat salah tingkah dihadapan nya.
Pria itu tersenyum melihat tingkah laku Airysh.
"Kenapa kamu tidak berhati-hati, kamu bahkan yang memesan minuman itu sendiri," ujar Reece pelan.
"Tidak apa-apa, ini tidak panas, aku hanya sedikit terkejut," ujar Airysh bohong.
"Kamu terlihat salah tingkah, aku tahu itu," ucap Reece membuat Airysh benar-benar sangat malu sekarang, ia tidak berpikir jika itu tindakan paling bodoh serta memalukan yang pernah ia alami.
"Kupikir kamu sedang mabuk, aku tidak akan mempermasalahkan hal ini," ujar Reece menirukan kalimat Airysh saat kejadian Reece mencium Airysh di sebuah club.
Mendengar hal itu Airysh semakin malu sampai ia tidak berani melihat wajah Reece.
'kumohon lupakan hari ini Reece…' gumamnya dalam hati.
***
Airysh POV
Reece mengantar ku pulang, selama perjalanan kami tidak saling bicara, aku hanya mendengar Reece bersiul nakal, sedangkan aku memalingkan wajah ke jendela.
Ini adalah hal yang paling memalukan yang pernah ku alami, bodohnya aku adalah tidak berpikir dua kali ketika melakukan sesuatu.
Hanya untuk membuat Felix tahu bahwa aku benar-benar memiliki pacar, tapi kenapa aku malah berkorban untuk rasa malu yang teramat ini?.
Aku sangat menyesal.
Aku Sangat ingin berlari sekencang-kencangnya atau pun menghilang dari dunia ini jika itu mungkin.
Setelah sampai di pintu gerbang rumah ku, aku sedikit lebih lega.
Setelah ini aku berjanji untuk berguling-guling di tempat tidur ku sambil berteriak-teriak untuk melepaskan rasa Maluku yang paling dalam ini sampai-sampai aku ingin menangis.
Aku langsung bergegas turun dari mobil.
Lalu Reece membunyikan klakson setelah melihat ku melangkahkan kaki untuk berbalik arah.
"Airysh!"
Aku menoleh, menatap Reece yang tersenyum nakal.
"Selamat malam, aku berharap kamu mimpi indah, aku tidak sabar untuk melihat mu besok pagi," ujar Reece terdengar mengejekku.
Aku hanya membalas Reece dengan senyum tipis sebelum aku meninggalkannya sendiri.
Aku sangat malu.