Bellevue College, Seattle.
Terdengar suara denting bel yang berbunyi yang menandakan waktu istirahat di sebuah universitas.
Seorang wanita keluar dari sebuah kelas. Di ruangan itu tertera sebuah tulisan kelas Ilmu Komputer. Baru berjalan selangkah, teman lain berhenti di dekatnya.
"Fiona kamu mau kemana buru-buru pergi?"
Wanita berambut cokelat panjang yang tertunduk itu menegakkan muka untuk menatap temannya. Hanya seper sekian detik mata mereka beradu dan gadis itu kembali menundukkan pandangan. Ada rasa takut menatap lama lawan bicaranya.
Lawan bicara Fiona, wanita berambut pendek sebahu dengan tatapan tajam kemudian memegang pucuk dagu Fiona dengan angkuh, mengangkatnya sejajar dengan mukanya.
"Jangan bilang kamu mau datang ke kelas kedokteran untuk menemui Garth. Sebaiknya kamu berkaca dulu. Mana mungkin pria itu mau jalan denganmu. Bukan, mungkin bicara denganmu saja dia tak mau. Kamu hanyalah seorang anak yatim piatu tanpa asal-usul yang jelas."
Fiona Megan Olaf, wanita yang ditemukan di depan pintu sebuah panti asuhan 20 tahun silam. Entah, siapa yang membuang bayi mungil tak berdosa yang hanya dibungkus selimut hangat itu. Saat itu pengurus panti menemukannya terus menangis, karena tak menemukan seseorang di sana dan sepertinya memang ditinggalkan, maka pengurus panti mengasuhnya hingga dewasa.
Bayi mungil itu kini tumbuh menjadi sosok wanita cantik, namun rendah diri. Fiona kurang percaya diri dengan penampilannya yang berbeda dari yang lain meski dia punya beberapa kelebihan di bidang akademis. Namun wajahnya berjerawat. Jerawat di mukanya bandel. Selalu muncul kembali setelah berulang kali diobati. Sampai lelah rasanya dia mengurus jerawat, hingga akhirnya dia biarkan saja jerawat itu tumbuh di muka, membuat wajah cantiknya tersembunyi di balik jerawat.
Fiona menyimpan rasa suka pada seseorang mahasiswa dari kelas kedokteran yang berada pada tingkat akhir, Garth. Bisa dibilang sudah lama dia mengagumi senior beda jurusan ini.
"Tidak, kenapa kamu melarangku bila sekadar bertemu saja? Kamu juga bukan kekasihnya," protes Fiona dengan sedikit keberanian.
Perkataan Fiona melecut emosi Lucy, ketua kelas yang juga merupakan ketua tim cheerleader di kampus ternama ini. Lucy cantik, seluruh tubuhnya terawat. Dia merupakan keturunan dari orang berada di wilayah ini. Hanya saja dia angkuh dan sombong. Dia sering memamerkan kekayaan orang tuanya yang tak akan habis dimakan tujuh turunan. Tak jarang pula dia bersikap semena-mena pada yang lain.
"Asal kamu tahu saja bila mau Garth akan bertekuk lutut padaku. Sayangnya dia bukan tipeku dan tidak selevel denganku. Aku hanya menjelaskan saja kamu tidak sebanding dengan Garth, sebaiknya kamu menyerah saja daripada terluka nanti," balas Lucy dengan senyuman menghina. Bisa dibilang dia jijik melihat Fiona, wanita yang menurutnya lusuh dan tak ada kelebihannya sama sekali. Baginya Fiona itu seperti kotoran yang mengganggu mata. Bau dan harus disingkirkan.
"Tapi Lucy bila kamu tidak suka pada Garth, kenapa kamu melarangku mendekatinya?" Fiona kembali mengumpulkan kekuatan untuk bertanya. Biasanya dia tak berani mengajukan banyak pertanyaan atau bicara lama dengan Lucy. Tapi, dia tidak tahan lagi. Kenapa Lucy terus melarangnya mendekati Garth.
"Kenapa, apakah aku tidak pantas mendekatinya?" Fiona menatap ke dalam mata Lucy dengan tubuh gemetar.
"Sudah aku jelaskan padamu di awal apa masih kurang jelas? Bila begitu aku akan memperjelasnya. Kamu belum makan siang 'kan? Nikmatilah ini. Aku sedang berbaik hati padamu." Lucy tersenyum miring. Satu tangannya membawa hamburger dan satu tangan lainnya membawa saus.
Lucy mengangkat tangannya yang memegang saus di atas kepala Fiona, kemudian menuang semua saus pada puncak kepala Fiona, lalu pergi begitu saja meninggalkan Fiona yang terkepal tangannya di bawah sana dengan tubuh yang semakin berguncang menahan perlakuan semena-mena Lucy.
Sekarang dia merasa kepalanya lengket oleh saus. Tak mungkin dia berjalan-jalan dengan kepala kotor begini. Fiona memutuskan untuk pergi ke toilet dan membersihkan saus di rambut.
Nahas, di tengah jalan dia berpapasan dengan Garth, pria yang ditaksirnya. Mahasiswa kedokteran tingkat akhir ini berjalan lurus seolah tak melihat keberadaan Fiona di tengah keramaian jalanan ke toilet. Malahan beberapa wanita yang juga lewat jalan ini berebut menyapa Garth.
"Halo, Garth. Apakah kamu ada waktu luang untuk keluar denganku?" tanya seorang mahasiswi dengan tatapan berbinar.
"Garth, aku dengar dari yang lain kamu senggang hari ini. Ayo kita bersenang-senang di akhir pekan." Mahasiswi lain ikut berhenti setelah seorang wanita menghentikan langkah Garth.
Kini ada dua wanita yang mengerubungi pria bermata hazel bulat ini. Dari fisik, Garth adalah seorang pria yang nyaris sempurna. Jadi, siapa wanita yang tidak akan tertarik padanya?
"Halo, Garth," sapa Fiona berhenti persis di samping pria yang dikaguminya dengan hati berdebar. Segala rasa sedih dan kesal yang bercampur aduk menjadi satu setelah apa yang dilakukan Lucy padanya seolah sirna, hilang entah kemana berganti dengan hati yang berbunga-bunga.
Garth mengangkat sebelah alis menatap gadis belepotan saus di kepala yang baru saja menatapnya. Jujur, dia merasa tak nyaman dan terganggu dengan kondisi Fiona saat ini. Bagaimanapun juga dia adalah calon dokter yang selalu menjaga segala sesuatunya bersih dan higienis.
"Kamu siapa?" tanya Garth dengan mata memicing. Dia lebih tak nyaman lagi menatap wajah Fiona yang penuh dengan jerawat.
"Fiona. Aku Fiona." Padahal Fiona bukan sekali ini saja menyapa Garth. Sudah seringkali dia menyapa pria ini. Namun dia sering mendengarkan jawaban yang sama. Entah, kenapa pria itu tak kunjung hafal dengan dirinya. Ada rasa kecewa dan sakit hati dirinya tak pernah ada dalam hati pria itu, namun dia tetap tersenyum di depan Garth, lalu pergi secepatnya sambil menutup puncak kepala dengan tisu agar saus di sana tak terlalu terlihat jelas. Dia malu Garth melihatnya dalam kondisi buruk begini.
Sekepergian Fiona, Garth beralih menatap dua wanita yang masih ada di sisinya.
"Kamu tahu siapa wanita tadi?"
"Dia Fiona, dari jurusan ilmu komputer. Sepertinya dia suka padamu. Tapi apa dia tidak berkaca dulu melihat dirinya sendiri seperti apa?"
"Fiona?" Garth kembali menyebut nama Fiona dan mengingatnya namun tetap saja dia tak ingat pada sosok wanita tadi. Setelahnya dia sibuk bicara dengan dua wanita tadi.
***
Fiona tiba di toilet. Dia membasahi tisu yang baru saja diambilnya dengan air keran setelah saus di kepalanya hilang. Meski saus itu hilang, namun masih terasa lengket. Fiona mengatasinya dengan tisu basah yang dicampur sabun cair sedikit untuk membersihkan sisa saus. Mungkin nanti pulang dia akan keramas.
Terdengar suara pintu dibuka. Tiga orang wanita masuk. Mereka berhenti setelah melihat Fiona ada di sini.
"Fiona, kenapa kamu membersihkan rambutmu? Apa rambut baumu itu kotor?" sindirnya dengan tatapan remeh.
Fiona menjeda sejenak aktivitasnya lalu menatap wanita yang merupakan teman sejurusan dengannya namun beda kelas. Sejenak dia menghela napas berat. Lucy tak lagi ada di dekatnya dan mengganggu tapi kini muncul pengganggu lain. Dia hanya berharap tiga wanita ini tak mengganggu dirinya.
"Tidak," jawab Fiona singkat karena tak mau berurusan dengan mereka. Meski belum selesai membersihkan Fiona buru-buru angkat kaki dari sana daripada terjadi sesuatu yang tak diinginkan.
Tiga orang mahasiswi yang melihat Fiona menuju ke pintu dan akan keluar, menghalangi. "Mau ke mana kamu buru-buru? Kamu sepertinya membersihkan bagian rambut. Apa kamu perlu bantuan dari kami?"
Fiona menggeleng menatap sorot mata dan senyum jahil mengerikan itu. Dia menarik pintu untuk keluar agar bisa menghindar dari mereka. Namun satu orang menarik kerahnya kasar lalu melepas hingga dia jatuh tersungkur. Tak puas dengan aksi itu, wanita lain mengambil keranjang sampah yang ada di sana lalu menumpahkan isinya ke tubuh Fiona.
"Apa kamu masih ingin bantuan dari kami?" tanya seorang wanita yang memegang satu botol sabun cair dan siap menuang itu ke tubuh Fiona.
Fiona hanya menggeleng saja, menolak keras tawaran itu. Namun sekeras apapun dia menolak tetap saja temannya itu menuang isi sabun cair ke tubuhnya. Dengan senyum berkembang dan tatapan puas, mereka bertiga kemudian keluar dari toilet meninggalkan Fiona dalam kesedihan.
Mata bulat Fiona memburam panas. Buliran bening kemudian menetes dari sudut matanya. Betapa sesak rasanya terus di bully di kampus yang merupakan tempat terpelajar ini.
Fiona meratapi nasibnya setelah diperlakukan semena-mena oleh teman kampusnya. Kini tak hanya rambutnya yang kotor tapi bajunya juga kotor oleh sampah. Tak hanya kotor, baunya pun tak sedap. Ada noda di bajunya kini.
"Apa yang harus kulakukan sekarang?" gumam Fiona mulai sadar, keluar dari kesedihan dan tak mau terus larut dalam situasi ini. Dia menyeka sisa air matanya yang masih menggenang dengan jari telunjuknya.
Rasa sedih masih menyelimuti hati Fiona. Sebenarnya apa salahnya sampai dia dibully oleh temannya seperti ini? Padahal dia tak pernah mengganggu siapapun yang ada di kampus ini. Apakah karena dia anak panti asuhan ataukah karena wajahnya? Dia sendiri juga tak menginginkan berstatus seperti itu. Dia juga tak menginginkan mempunyai wajah penuh jerawat seperti ini. Tapi apakah semua itu bisa ditolaknya? Tidak! Semua itu harus diterimanya meski dia sendiri kerap kali protes dengan keadaannya ini.
Fiona berdiri di depan cermin besar dalam toilet. Dia mengambil tisu untuk membersihkan kotoran yang ada pada bajunya. Terlihat dirinya begitu menyedihkan dalam pantulan cermin yang dia lihat. Tampilan dirinya sekarang begitu memilukan. Rambutnya masih lengket meski sudah dia bersihkan. Noda baju juga masih terlihat jelas meski sudah berulang kali dia bersihkan dengan sabun. Sungguh, dirinya tampak berantakan sekali.
Tak lama setelahnya Fiona keluar dari toilet setelah selesai membersihkan diri, meski belum maksimal. Dalam perjalanan kembali ke kelas, dia berpapasan dan bertemu dengan mahasiswa lainnya di kampus.
"Fiona, ada apa dengan rambutmu? Rambutmu itu basah dan lengket. Apa kamu habis tersiram lem?" tanya seorang mahasiswi dengan tawa merendahkan.
Fiona hanya menatap tanpa kata pada hinaan temannya tadi, lalu menunduk dengan menulikan telinga. Hinaan itu terlalu sakit bila didengarkan, maka lebih baik dia tidak mendengarkan hal semacam itu. Lagipula dia sudah biasa mendapatkan cemoohan seperti itu.
Mahasiswi lain yang melihat kembali bicara. "Baju kamu kotor, Fiona. Apa kamu tak punya baju ganti dan memakainya berulang kali sampai dekil begitu?"
"Tidak," jawab Fiona karena benar-benar tak tahan lagi dipermalukan seperti ini di depan yang lain. Dia menatap mahasiswi yang mengoloknya.
Mahasiswi itu masih menatap Fiona dengan tatapan merendahkan. Karena Fiona berani menjawab, mahasiswi itu mendadak berhenti di depan Fiona persis.
Langkah Fiona terhenti paksa. Bila terus berjalan dia akan menabrak mahasiswi tadi. Jantungnya berdegup kencang kala satu tangan mahasiswa itu memegang pucuk dagunya lalu meremasnya.
Fiona gemetar. Dia takut saja pada temannya ini, apa yang mau dia lakukan padanya? Dari yang terjadi sebelumnya, dia dirundung oleh siapa saja. Bukan kata-kata menyakitkan hati saja yang didapatkan tapi juga kekerasan fisik yang dia terima.
"Berani kamu ya, membalas ucapanku? Bila kamu berani berkata lagi maka aku akan plester bibir kamu," ucapnya sembari menekan kasar bibir Fiona.
Fiona tak berani bersuara lagi dan hanya menggeleng dengan tubuh gemetar. Namun rupanya mahasiswi tadi mendorong tubuh Fiona hingga membentur dinding. Dia sampai berdesis menahan nyeri di punggung karena dorongan keras tadi. Beruntung, temannya tadi segera pergi meninggalkan dirinya.
Dengan menahan nyeri di punggung, Fiona kembali berjalan. Namun, mahasiswi lain yang berpapasan kembali menghampirinya.
"Ada sesuatu yang bau di sekitar sini, dari mana bau itu berasal? Apa itu berasal dari kamu ya Fiona?" ucapnya lalu menarik lengan baju Fiona dan menghirup, lalu menghempas kasar tubuh Fiona.
"Kamu bau sekali. Ini mirip dengan bau sampah busuk di tong sampah."
"Tidak. Itu tidak benar. Aku tidak bau sampah."
Mahasiswi lain yang melintas melihat itu kemudian mengunci pandangan pada Fiona. Tak sedikit dari mereka yang menghujat penampilannya.
"Lihat itu Fiona, kasihan dia. Kenapa hari ini dia bau sampah?"
"Mungkin saja dia memang habis memulung sampah, jadi tubuhnya bau sampah."
"Wanita seperti dia kenapa kuliah di sini? Pantasnya dia jadi pemulung saja. Setidaknya dia menghasilkan uang daripada di sini menghabiskan uang untuk bayar kuliah."
Perkataan mereka terdengar pedas di telinga dan kembali menyayat hati Fiona. Tapi sekali lagi dia hanya bisa menatap saja banyak pasang mata yang merendahkan dirinya ini satu per satu. Meski dadanya dihimpit sesak, namun dia berusaha untuk tegar dan tak memasukkan perkataan mereka dalam hati.
Dari arah kejauhan sana di depan sebuah kantin, sepasang mata mengawasi apa yang baru saja terjadi ini, seorang pria menatap intens. "Dia ... bukankah dia wanita yang tadi menyapaku di jalan? Siapa tadi namanya? Aku lupa. Dia kembali di-bully," gumam pria dengan wajah nyaris sempurna.
Di samping pria itu ada seorang pria yang kemudian ikut berkomentar. "Garth, kamu perhatian pada mahasiswi di kampus ini? Apa jangan-jangan kamu tertarik padanya? Tapi kenapa harus dia? Banyak wanita lain yang cantik."
"Bisa saja kamu bercanda denganku. Mana mungkin aku tertarik padanya? Aku hanya iba saja." Garth merasa kasihan melihat Fiona di bully. Dia pun berniat untuk membantunya.
Baru saja Garth keluar dari kantin, tak sengaja Fiona menyapukan pandangan padanya. Tatapan mereka bertemu. Tentu Fiona merasa malu dilihat oleh pria yang disukainya dalam keadaan terhina begini. Dia pun cepat mengambil langkah seribu agar Garth tak lagi melihatnya dalam keadaan buruk. Dia hanya mau Garth melihatnya dalam kondisi baik.
Tepat di saat Fiona pergi, Garth datang. "Sayang sekali, dia sudah pergi."
Garth menyapukan pandangan ke sekitar untuk mencari keberadaan Fiona, namun dia tak menemukan keberadaan wanita itu dengan banyaknya mahasiswa yang berlalu-lalang di jalanan.
Garth memutuskan untuk kembali ke kantin di mana temannya menunggu. Tak ada yang tahu sebenarnya Fiona masih ada di sana tak jauh dari tempat Garth datang tadi. Fiona bersembunyi di balik sebuah pintu. Dia mengintip ke luar. Setelah memastikan Garth tak ada di sana, barulah dia kembali berjalan.
***
Terdengar suara pintu kamar rumah ditutup.
Fiona menaruh tas ke meja belajar yang ada dalam kamar. Setelahnya dia duduk dengan membanting tubuhnya kasar ke ranjang. Rasa lelah dan sedih terlihat bersamaan. Dia lelah karena setiap hari harus menghadapi olokan dari temannya di kampus. Sedih karena dia merasa tak ada yang menolong dirinya keluar dari penderitaannya. Bisa dibilang dia juga tak punya teman di kampus. Di kelas pun biasanya dia selalu duduk sendiri. Seandainya dia punya ayah dan ibu pasti dia akan mengadu dan berbagi segala sedihnya dengan mereka, sayang tak ada. Tapi status sebagai anak yatim piatu tak membuat anak panti diam, mereka akan menghibur Fiona bila dia bersedih seperti ini.
Terdengar suara pintu diketuk dari luar.
Fiona yang menunduk meratapi nasib kemudian menatap lurus ke arah pintu. "Masuk saja, aku tak mengunci kamar."
Terdengar suara pintu dibuka. Terlihat seorang gadis berambut sebahu, berusia di bawah Fiona, masuk.
"Cecyl, ada apa?" tanya Fiona.
Cecyl seorang gadis yang duduk di bangku SMA. Kamar tidurnya bersebelahan dengan kamar tidur Fiona. Mereka berdua dekat. Sering mereka berdua berbagi masalah bila sedang terkena sebuah masalah.
"Fiona ada apa denganmu? Kamu seperti bersedih?" tanyanya setelah melihat wajah sendu Fiona.
"Tidak, aku hanya lelah tak ada masalah. Ada apa kamu mencariku?"
"Ibu panti meminta kita untuk belanja keperluan natal, lampu hias dan pernak-pernik lainnya," terangnya singkat.
"Kita pergi saja sekarang bila begitu." Fiona menegakkan tubuh. Dia kemudian keluar dari kamar bersama Cecyl.
Dua wanita itu kemudian menuju ke toko pernak-pernik dengan berjalan kaki. Tempatnya agak jauh dari panti asuhan tapi mereka menikmati perjalanan ini. Di tengah jalan, tiba-tiba ada ada seekor serigala yang berlari ke arah mereka dari seberang jalan, tepatnya sebuah hutan yang ada di persimpangan jalan.
Akh! Fiona dan Cecyl menjerit bersamaan melihat binatang berbulu abu-abu itu memperlihatkan gigi taring tajamnya.
Mata Cecyl dan Fiona bergulir cepat menatap kedatangan serigala yang begitu cepat berlari ke arah mereka. Binatang itu lari dengan cepat dan sekarang sudah ada di hadapan mereka.
Baik Cecyl dan Fiona sama-sama gemetar tubuhnya. Mereka saling tatap dalam ketakutan. Selama ini mereka tak pernah bertemu binatang buas seperti ini, mereka hanya melihatnya dari televisi saja. Mereka juga baru tahu rupanya di sekitar hutan sini ada serigala.
"Fiona, aku takut. Apakah serigala itu kelaparan? Kenapa dia melihatku dengan mata kelaparan?" Cecyl bicara dengan suara parau. Sungguh, dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Saat ini dia merasa sendi di kakinya lumpuh, tak bisa digerakkan.
Fiona sebenarnya juga takut, sama seperti Cecyl. Dia tak pernah berhadapan secara langsung dengan binatang buas seperti ini, apalagi binatang haus darah kelaparan ini. Tapi bila dia mengikuti ketakutannya mungkin hidup mereka akan berakhir di sini. Sedangkan dia masih ingin melanjutkan hidup, masih ingin setidaknya melanjutkan studinya sampai selesai, masih ingin merasakan bekerja juga membalas budi ibu panti yang selama ini membesarkannya. Bila hidupnya berakhir sekarang, bahkan dia pun tak akan bisa menyatakan perasaannya pada Garth. Setidaknya dia tak mau mati dengan mengubur cintanya yang sudah lama terpendam.
"Cecyl, tenang jangan takut. Kita lari bersama dalam hitungan ketiga," jawab Fiona tenang, meski dalam hati sana dia kalut. Sebenarnya dia juga tak yakin bisa kabur dari serigala itu.
"Fiona, kakiku terasa berat untuk diayun. Aku mungkin tak bisa berlari. Kamu pergi saja dulu, tinggalkan aku di sini." Cecyl bukan berlagak sok pahlawan, dia tak mau saja memberatkan Fiona. Dia tak mau mereka berdua mati nahas di sini. Setidaknya salah satu dari mereka harus kembali meski dia harus mengorbankan diri. Dia sudah ikhlas bila dirinya yang mati. Dia sudah merasakan semua kebaikan penghuni panti asuhan. Mungkin ini saatnya baginya untuk membalas kebaikan, dengan mengorbankan nyawa.
"Cecyl, lelucon apa yang kamu dengungkan ini? Aku tak akan pernah meninggalkanmu sendiri di sini. Kita berangkat bersama, kembali pun kita juga harus bersama. Selain itu kita adalah keluarga, aku tak mungkin meninggalkan keluargaku di sini." Fiona terlihat tenang meski jauh di dalam dasar lubuk hatinya bergemuruh hebat.
Fiona kemudian putar otak mencari cara untuk mengusir pergi serigala yang kini kembali memperlihatkan semua gigi taringnya yang tajam, liur binatang itu bahkan menetes menatap mereka berdua bergantian. Apakah dirinya benar-benar akan berakhir di sini? Tidak! Dia tak mau itu terjadi.
Fiona baru ingat dalam tas yang di bawanya saat ini dia menyimpan sebuah cutter untuk menajamkan alat tulis yang tumpul. Dia tak pernah menggunakan rautan pensil untuk mempertajamnya.
Dia lebih suka menggunakan cutter daripada rautan pensil. Dan sepertinya itu bisa digunakan sekarang. Setidaknya bisa untuk melindungi diri dalam keterbatasan waktu.
"Cecyl, saat nanti aku menancapkan cutter pada serigala itu, paksa kakimu dengan kekuatan penuh untuk pergi dari sini bersamaku. Kita pergi sejauh mungkin dari sini, paham?"
"Fiona kamu ..." Suara Cecyl gemetar. Dia tak yakin dengan rencana Fiona. Cutter kecil apakah bisa merobohkan serigala besar di hadapan mereka?
"Percayalah padaku Cecyl, kita bisa pergi dari sini dengan selamat." Fiona kembali meyakinkan Cecyl setelah melihat keraguan di mata wanita itu.
Cecyl mengangguk paham. Dia pun berdoa dalam hati, semoga rencana Fiona kali ini berhasil, meski hatinya masih diliputi ketakutan mencekam.
Fiona mulai menghitung, setelah mengeluarkan cutter dari dalam tas. Dalam hitungan ketiga, pada saat serigala itu kembali mendekat dengan bola mata kuning yang bersinar terang menakutkan, dia memberikan aba-aba.
"Cecyl kamu lari duluan, sekarang!"
Cecyl tersentak kaget, bukankah Fiona bilang mereka akan kabur bersama tapi kenapa dia meminta dirinya pergi dulu? Ini tidak seperti dengan rencana yang disampaikan Fiona tadi. Dia juga tidak mau pergi meninggalkan temannya, tak bergeser sedikitpun dari tempatnya berada. "Fiona, tidak. Aku tidak bisa pergi tanpamu."
"Cecyl, kamu harus percaya padaku. Selama ini apa aku pernah bohong padamu? Aku akan menyusulmu dengan selamat. Cepat, pergi sekarang!" Nada bicara Fiona terdengar meninggi.
Dengan terpaksa, Cecyl pun mencoba untuk mengangkat kakinya yang berat dengan susah payah, akhirnya dia bisa berlari dari sana dalam ketakutan yang belum hilang.
Sekepergian Cecyl, Fiona beralih menatap serigala besar berbulu abu-abu yang kembali bergerak mendekat padanya. Fiona maju, mengikis sejenak rasa takut yang masih merayap di hati sembari menodongkan cutter ke arah serigala.
"Aku tidak tahu kenapa kamu tiba-tiba datang ke arah kami. Benarkah kamu menginginkan darah kami? Kurasa kamu salah mencari mangsa bila benar kamu lapar. Darah ataupun daging kami tidak terasa segar seperti yang lain karena kami hanya menutrisinya dengan makanan seadanya untuk bertahan hidup." Keadaan di panti asuhan memang seperti itu. Jarang sekali Fiona dan yang lain makan enak.
Entah, serigala tadi mengerti perkataan Fiona atau tidak, binatang itu berhenti melangkah. Namun beberapa detik kemudian kembali bergerak dan menyerang Fiona, mengangkat cakar tajamnya, mengayun cepat hingga menyentuh tangan Fiona, meninggalkan jejak di sana.
Fiona berdesis merasakan kuku tajam mengoyak kulit tangannya. Perih, dan kini darahnya menetes. Sembari menahan rasa nyeri, dia bertekad setidaknya harus melukai serigala itu sama seperti yang dilakukan padanya. Darah harus dibalas dengan darah. Dia pun secepat kilat mengayun cutter di tangan kemudian menancapkan ke kepala serigala yang akan menggigit tangannya.
Terdengar suara lolongan seperti kesakitan. Fiona pun segera kabur secepat mungkin sebelum serigala itu kembali mengejar. Dia melihat serigala itu tidak tumbang, hanya berjalan tertatih saja. Mungkin hanya waktu saja bagi serigala itu untuk kembali bergerak setelah merasakan sedikit sakit yang disebabkannya.
"Fiona! Akhirnya kamu kembali!" teriak Cecyl lega melihat Fiona. Tatapannya kemudian jatuh pada luka di tangan Fiona. "Tanganmu terluka."
"Ya, aku tak apa. Kita harus pergi secepatnya dari sini sebelum serigala itu kembali mengejar kita. Nanti aku bisa obati luka ini." Fiona tak mau mengulur waktu lebih lama lagi. Bisa - bisa serigala itu datang menyerang. Dia memegang tangan Cecyl erat, kemudian mengajaknya berlari secepat dan sejauh mungkin keluar dari tempat ini.
***
"Astaga! Fiona ada apa denganmu? Kenapa tanganmu berdarah?" pekik Ibu panti saat melihat Cecyl merawat luka di tangan Fiona.
Cecyl membersihkankan darah di tangan Fiona dengan alkohol yang tadi dibelinya di jalan pulang sebelum kembali ke panti asuhan. Dia juga membeli perban karena luka Fiona agak dalam.
Fiona belum menjawab. Wanita bermata jernih sebening air ini kembali berdesis menahan perih di tangan.
"Ibu, Fiona melindungiku di jalan ketika diserang serigala?" Cecyl yang menjelaskan.
Ibu panti panik seketika, lantas memeriksa luka Fiona. Menurutnya luka itu agak dalam dan perlu dirawat. Dia menyarankan Fiona untuk pergi memeriksakannya ke dokter, namun Fiona menolak dan menyatakan itu baik-baik saja, hanya luka luar mungkin beberapa hari akan kering dan sembuh sendiri. Dia tak mau saja memberatkan ibu panti, mengingat banyaknya anak panti di sini yang harus diurus dan dirawat, bukan hanya dirinya saja.
Di kampus.
Fiona tetap masuk di pagi hari Meski harus mengenakan perban di tangan untuk menutup luka bekas cakaran serigala kemarin. Padahal ibu panti sudah menyarankan dia hari ini izin saja, tapi Fiona berkeras untuk masuk.
Di jalan menuju kelas dia bertemu dengan Garth yang juga akan masuk kelas. Kelas mereka beda lantai. Kelas Fiona ada di lantai satu sedangkan kelas Garth ada di lantai dua.
Mata pria itu kemudian terkunci pada perban di tangan Fiona. "Hai, kamu ada apa dengan tanganmu?"
Fiona bukannya menjawab pertanyaan Garth, dia terkejut pada kedatangan pria itu juga perhatiannya.