Bab 1

HAPPY READING

Gadis berparas cantik yang hanya tinggal berdua dengan Kakaknya ini mempunyai karakter yang jutek, galak, riang, dan perhatian. Irish van Willem, seorang gadis yatim piatu yang terlihat supel dan mudah bergaul ini adalah adik dari seorang pengusaha muda bernama, Alexander van Willem.

Gadis yang selalu berpenampilan sederhana ini adalah anak kedua dari keluarga Rick van Willem. Kedua orang tuanya meninggal sewaktu Irish masih kecil. Alexander dan Irish diasuh oleh Dennisa, pengasuh setia keluarga Van Willem.

Berbeda dengan sang kakak yang sangat murah senyum dan kalem. Sang kakak adalah pewaris tunggal keluarga van Willem, kariernya naik begitu pesat karena dia tergolong orang yang pekerja keras.

Sang adik pun bekerja disebuah perusahaan besar yang ada di kota Leiden. Pemilik perusahaan tersebut mempunyai seorang anak semata wayang yang pada akhirnya dia-lah yang memegang kendali perusahaan tersebut. Seorang pemuda yang cuek, angkuh, seenaknya sendiri dan banyak wanita yang tergila-gila padanya.

Pertemuan yang benar-benar tidak terduga membuatnya sedikit demi sedikit berubah.

❣❣❣

Flashback on,

Alexander kecil terisak menangis di pelukan paman Ruth, sedang Irish kecil hanya diam dipangkuan bibi Dennisa. Terlihat kadang Marky kecil menghibur membuat gadis kecil itu tersenyum.

"Ayah—bagaimana keadaan Ayah, Paman? Hiks—" Alexander menangis. "Ibu—hiks!" Air mata terus mengalir di pipi Alexander.

Irish yang belum memahami keadaan saat itu mendongak menatap Dennisa, yang memangkunya.

"Bibi, kenapa kak Alex menangis?" tanya Irish kecil dengan polosnya.

"Memangnya Ayah dan Ibu kenapa, Bi?" imbuhnya bertanya lagi, dia masih terlihat sangat polos.

"Ayah dan Ibu akan baik-baik saja, Nona Muda." Dennisa menangkup kedua pipi Irish yang tembem. Gadis itu pun tersenyum manis. Irish kecil tidak tahu kalau Ayah dan Ibunya sedang dalam keadaan kritis.

Keadaan di dalam ruang operasi. Para Dokter ahli di rumah sakit Leiden masih terus berusaha semaksimal mungkin untuk kedua pasien yang tergeletak di ranjang dengan berbagai alat yang menempel di tubuh mereka.

Detak jantung mulai melemah, terlihat jelas di Bedside monitor. Lambat laun menjadi garis lurus dan ... Tiiiiitt!!

Itulah bunyi yang terdengar dari Bedside Monitor. Para Dokter kembali disibukkan dengan peralatan termasuk alat pacu jantung, Defibrilator.

Para Dokter berusaha keras untuk mengembalikan detak jantung mereka berdua, akan tetapi hasil nihil dan akhirnya para Dokter harus menyerah. Saat itu juga Tuan dan Nyonya Van Willem dinyatakan meninggal.

Tangis Alexander kecil kian menggelegar, setelah mendengar pernyataan dari para Dokter. 

"Kenapa ... kenapa kalian tidak bisa menyelamatkan mereka!" teriak Alexander histeris. Paman Ruth berusaha menenangkan Alexander kecil yang terlihat sangat histeris.

Irish kecil yang melihat Kakaknya bicara dengan nada berteriak-teriak pada Dokter membuat gadis kecil itu menangis ketakutan di pelukan bibi Dennisa.

"Nona muda, tenanglah. Jangan menangis, ada Bibi dan juga Marky yang akan menemani Nona Muda," ucap bibi Dennis mengusap pipi Irish yang basah.

"Tuan muda ... Tuan muda harus ikhlas dan tabah. Kasihan nona Irish, dia terlihat ketakutan," ujar paman Ruth mendekap Alexander kecil dan berusaha menenangkannya.

Singkat cerita setelah dimakamkan, Alexander kecil dan Irish kecil masih terlihat menangis. Irish kecil masih terus-menerus memanggil-manggil ibunya.

_____

Genap dua tahun sudah Alexander dan Irish menjadi anak yatim piatu. Mereka berdua menjadi terbiasa menyambangi panti asuhan karena memang kedua orang tua mereka selalu membantu keperluan panti asuhan tersebut.

Alex dan Irish bersyukur masih memiliki paman Ruth dan bibi Dennisa yang menjadi orang tua kedua bagi mereka, serta Marky yang sudah seperti keluarga mereka sendiri.

Tuan Dutch van Willem meninggalkan warisan untuk kedua anaknya dan kelak jika sudah dewasa nanti, Alexander akan mengelolanya. Untuk saat ini pengacara kepercayaan keluarga Van Willem juga Pak John yang memegang semuanya hingga Alexander cukup umur untuk mengelola usaha Ayahnya.

Alexander dan Irish tumbuh menjadi pribadi yang kuat, mandiri, dan sifat dermawan dari kedua orang tuanya menurun pada mereka berdua. Alexander tumbuh menjadi seorang laki-laki yang pintar, tampan, bertanggung jawab, dan pekerja keras. Sedangkan Irish tumbuh menjadi gadis yang cantik, ceria, cekatan, dan rajin. Begitu pula dengan Marky, dia tumbuh menjadi seorang laki-laki yang tampan, pekerja keras, dan rajin. Ketiganya tumbuh bersama dan mereka terlihat seperti kakak beradik, saling menolong satu dengan lainnya.

______

"Kak Alex, tidak apa-apa? Apa ada yang luka?" Irish menyodorkan sapu tangannya pada Alex yang baru saja menolong Irish dari gangguan anak-anak nakal yang menggodanya.

Alex menggeleng, "Kakak tidak apa-apa!" menerima sodoran sapu tangan dari Irish.

"Tuan muda, tidak apa-apa?" teriak Marky yang baru datang.

"Maaf nona muda, tadi ada sedikit tugas yang harus aku selesaikan di kelas," imbuhnya.

"Tidak masalah! Tidak perlu merasa bersalah seperti itu," ucap Irish tersenyum.

"Ayo pulang, mobil jemputan sudah datang!" Alexander berdiri sambil membersihkan celananya yang agak sedikit robek.

Paman Ruth yang melihatnya sempat khawatir, "Tuan muda kenapa celananya robek dan kotor?" tanyanya.

"Aah tidak apa-apa kok Paman, tadi hanya menolong Irish yang diganggu anak-anak nakal." Alexander tersenyum. Ketiga bocah itu langsung masuk ke dalam mobil, melaju pulang.

"Tuan muda, apa ada yang luka?" tanya paman Ruth.

"Tidak ada, Paman. Paman tidak perlu khawatir," ujar Alex tersenyum memperlihatkan lesung pipinya.

"Nona muda apa ada yang terluka?" tanyanya pada Irish.

Irish menggelengkan kepala dan tersenyum, "Tidak ada Paman, untung kak Alex datang menolong. Paman jangan memarahi Marky ya, dia tadi keluar kelas paling akhir karena ada tugas," ujar Irish dengan mimik wajah sendu membuat paman Ruth tidak bisa marah pada Marky.

Senyuman Alex dan Irish membuat paman Ruth bisa bernapas lega, karena bagaimana pun juga Alex dan Irish adalah tanggung jawabnya setelah kepergian tuan dan nyonya Van Willem. Amanah yang harus paman Ruth emban sampai Alexander dewasa dan cukup umur untuk melanjutkan usaha Ayahnya. Alexander yang tumbuh menjadi kakak buat Irish sekaligus menjadi figur seorang Ayah untuk Irish. Mereka berdua sangat mandiri.

❣❣❣

Tujuh tahun kemudian,

Alexander van Willem, pemuda berparas tampan yang telah berusia 25 tahun, sekarang dia sudah mulai belajar mengelola hotel dan tentu saja masih dibantu oleh Pak Martijn dan orang kepercayaan keluarga Van Willem, Dustin. Marky pun bekerja di hotel milik keluarga Alexander.

Bagaimana dengan Irish van Willem?

Irish yang saat itu genap berusia 22 tahun dan masih duduk di bangku kuliah. Setelah selesai kuliah, Irish berencana akan bekerja. Hal itu sudah dibicarakan dengan kakaknya, Alexander. Sang Kakak tadinya tidak mengizinkan Irish bekerja. Dia ingin Irish bergabung dengannya untuk mengelola Hotel milik keluarga. Namun, Irish menolak. Gadis itu ingin lebih mandiri dengan bekerja di luar sana.

Akhirnya Irish  direkrut oleh sebuah perusahaan ternama di kota Leiden, di situlah Irish bertemu dan berkenalan dengan Ayana, gadis asal Maroko yang juga direkrut oleh perusahaan tersebut. Keduanya pun akhirnya menjalin persahabatan dan di perusahaan itulah Hyena mengenal sosok seorang laki-laki. 

Laki-laki yang yang sangat kasar, angkuh, dan egois. Dia termasuk laki-laki yang maunya menang sendiri. Laki-laki yang tidak tahu sopan santun dan dia terlihat bangga dengan apa yang dia miliki. Bangga dengan begitu dipuja-puja oleh banyak wanita. Namun, itu tidak berlaku untuk Irish van Willem.

Kisah mereka di mulai dari sini ....

To be continue,

Bab 2

Pertama kali hidup hanya berdua. Mereka masih terus belajar dengan dibimbing oleh bibi Dennisa. Pengasuh setia yang memang selalu membantu anak asuhnya dengan telaten dan sabar.

Keduanya tumbuh dengan didikan yang sangat baik, walaupun tanpa sentuhan tangan dari orang tua kandungnya. Alexander van Willem tumbuh dengan baik dan dia tergolong pemuda yang sangat pintar. Alex memang sedikit kalem dan dia mempunyai paras yang sangat tampan dengan tambahan lesung pipi yang menghias pipinya. Tak hanya itu, Alex juga banyak diidolakan para wanita, hanya saja Alex memang bukan typikal pemuda yang muda jatuh cinta pada kaum hawa. Hal utama yang dia pikirkan adalah sang adik, karena dia sudah menjadi tanggung jawab Alex. Siapa lagi yang akan melindungi dia kalau bukan Alex?

Berbeda sedikit dengan sang adik, Irish van Willem. Gadis ini sedikit galak, cuek dan jutek. Namun, dia mempunyai hati yang sangat lembut. Dia begitu menurut dengan kakaknya, tapi kadang dia suka keras kepala, tapi cenderung menuruti apa kata sang Kakak.

Hal baru dimulai oleh Alex saat ini. Dia sudah mulai mengemban tugas utama sang Ayah. Amanah dari sang Ayah yang dia kelola dengan baik. Kehidupan yang dia jalani bersama dengan adiknya. Sedangkan Irish, dia hampir menyelesaikan kuliahnya. Di kampus tempat Irish kuliah, Irish termasuk salah satu gadis yang menonjol dan populer. Para kaum Adam mengagumi Irish, termasuk David. Pemuda ini memang dikatakan sangat dekat dengan Irish, bukan hanya dekat, tapi memang mereka berdua sedang menjalin sebuah hubungan.

"Irish, setelah lulus kau mau kemana?" tanya David.

"Kerja!" ucap Irish singkat.

"Kerja? Di mana? Pasti ikut Kakakmu, ya?" David terlalu penasaran.

"Tidak. Aku akan melamar kerja disebuah perusahaan!" Irish menatap David.

"Hmm, pasti kau akan diterima di sana. Dengan nilai akademik mu yang bagus, kau pasti tidak kesulitan dalam mencari pekerjaan."

"Belum tentu juga. Oiya, aku mau pulang." Irish berlari menuju sebuah mobil yang baru saja berhenti.

"Ya, kenapa pulang, aku 'kan belum selesai bicara denganmu," rajuk David tak ingin Irish cepat-cepat pulang.

"Maaf, lain kali saja ya. Besok 'kan kita masih ketemu." Irish melambaikan tangannya.

"Siapa dia?" tanya Alex ketika Irish sudah berada di dalam mobil.

"Teman!" jawab Irish singkat.

"Teman?" ulang Alex.

Irish menatap Kakaknya, "Iya, hanya teman."

"Pasang seat-bell mu!" kata Alex. Irish pun menurutinya. 

Mobil melaju pelan membelah jalanan kota Leiden. Mobil berhenti di sebuah toko bunga, sebelum akhirnya melaju lagi menuju pemakaman umum kota Leiden. Keduanya mengunjungi makam kedua orang tua mereka. Setelah itu, tak langsung pulang ke rumah, justru mobil melaju ke arah Hotel. 

"Kau mau turun?" tanya Alex.

Irish menggelengkan kepalanya, "tidak."

"Tunggu sebentar disini, Kakak hanya mengambil tas dan beberapa berkas." Alex meninggalkan Irish di dalam mobil. Selang beberapa menit, Alex sudah kembali membawa tas. 

Alex memang masih muda, akan tetapi jam terbangnya sangat padat. Karier dia maju sangat pesat. Hotel yang dia pegang pun semakin hari semakin ramai. Tak hanya hotel, dia juga punya sebuah rumah makan. Muda, kaya, pintar, dan tampan. Segalanya dimiliki oleh pemuda ini. Namun demikian, untuk urusan asmara dia memang nol besar. Alex tidak pandai dalam urusan asmara. Dia lebih sering menghabiskan waktunya untuk bekerja. 

Sesampai di rumah, Irish langsung membersihkan diri. Sedangkan Alex langsung masuk ke ruang kerjanya. Rumah yang lumayan besar itu hanya dihuni oleh Alex dan Irish saja. Rumah peninggalan kedua orang tua mereka. Rumah yang banyak kenang-kenangan itu selalu membuat mereka berdua teringat akan tuan dan nyonya Willem.

Irish keluar dengan keadaan rambut yang masih basah. Dia langsung masuk ke dalam kamarnya. Sesaat ponselnya berdering, Irish mengecek layar ponselnya. Di sana tertulis nama David.

"Halo!"

"Aku mau mengajakmu keluar malam ini. Apa kau mau menemaniku datang ke acara party teman?" tanya David.

"Party? Teman? Siapa?" tanya Irish.

"Hmm, bukan teman kampus sih. Bagaimana?" David bertanya lagi.

"Maaf, Vid. Aku tidak bisa keluar." Irish melirik jam.

"Kenapa? Apakah karena sudah malam? Kenapa kau begitu kuno!" kata David sedikit kesal.

"Bukan karena itu. Tugasku banyak. Maaf ya, Kakakku memanggil!" Irish beralasan. Gadis itu langsung memutuskan sambungan teleponnya.

Irish terus menatap layar ponselnya. Dia begitu heran dengan David, kenapa pemuda itu selalu mengajak dan memaksanya untuk keluar pada malam hari. Irish memang sudah kenal lama dengan David, tapi Irish selalu menolak jika diajak David keluar pada malam hari. Bukan karena Irish takut pada Kakaknya, tapi karena Irish punya alasan tersendiri untuk penolakan itu.

Irish dan David memang satu kampus, tapi mereka beda jurusan. Semua sudah paham jika mereka berdua dekat antara satu dengan lainnya, akan tetapi Irish memang type wanita yang tidak mudah terpengaruh. Kedekatannya dengan David hanya dia anggap seperti teman pada umumnya. Namun, berbeda dengan David. Pemuda ini justru menganggap jika Irish adalah kekasihnya.

Apakah cinta bertepuk sebelah tangan?

Suara ketukan pintu membuyarkan keseriusan Irish menatap benda pipih yang ada ditangannya. Kenop pintu terbuka, dan kepala Alex menyembul dari balik pintu.

"Aku kira kau sudah tidur."

Irish menatap wajah Kakaknya, lalu tersenyum, "Belum mengantuk, Kak. Apa apa?" lanjutnya bertanya.

"Ehm, Kakak mau keluar sebentar. Apa kau tidak apa-apa Kakak tinggal?" Alex menatap Irish.

"Tida apa-apa, Kak. Memangnya Kakak mau kemana?" tanya Irish.

"Kakak mau ke Rumah Makan dulu. Jonny bilang ada masalah kecil di sana." Alex terdiam sesaat sambil memainkan jari jemarinya di layar ponsel, "Apa kau mau ikut?"

"Tidak. Aku di rumah saja. Lagi pula aku juga ada beberapa tugas yang harus aku selesaikan."

"Baiklah. Kalau kau lapar, di meja makan ada sayur dan lauk. Jika sudah mengantuk, kau bisa tidur, tidak perlu menunggu Kakak pulang."

"Tapi Kakak pulang ke rumah 'kan? Tidak tidur di apartemen?"

"Tentu saja Kakak pulang. Besok Kakak baru akan pergi ke apartemen."

Irish mengangguk paham. Dia tersenyum.

"Oke, Kakak tinggal dulu, ya. Jika ada apa-apa langsung hubungi Kakak." Seperti itulah pesan Alex pada Irish sampai Irish bosan mendengarkannya. Dia selalu memberi kode bahwa dia ini sudah dewasa bukan lagi anak kecil. Tapi bagi Alex, Irish ini masih seperti anak kecil yang harus selalu diperhatikan. Itulah kenapa Alex belum serius untuk menjalin asmara dengan wanita mana pun, karena bagi Alex, Irish yang harus dia perhatikan.

Bagaimana tidak, kenapa Alex begitu sangat menjaga dan melindungi Irish? Karena hanya Irish-lah satu-satunya keluarga yang dia punya. Alex mencurahkan kasih sayangnya hanya pada Irish. Walaupun disisi lain ada pengasuh yang setia menemani Alex dan Irish. 

Paman Ruth dan Bibi Dennisa memang sangat berjasa pada keluarga Willem, hingga membuat mereka mendapatkan tempat di hati Alex dan Irish. Kedua pengasuh yang tak lain adalah suami istri ini juga mempunyai anak laki-laki yang seumuran dengan Irish. Mereka besar bersama-sama, bahkan Alex dan Irish tidak menganggap Marky adalah bawahannya. Marky dianggap seperti saudara mereka sendiri.

Irish terduduk di depan laptop, dia ingin semua tugas-tugasnya cepat selesai agar dia cepat lulus.

"Aku ingin segera bekerja. Aku tidak ingin merepotkan kak Alex terus menerus. Bagaimana pun juga, aku ingin mandiri."

Mulailah dia mengerjakannya, jemari tangannya menari-nari di atas keyboard. Tak jarang David masih menganggu dengan menelepon Irish. Namun, Irish memang cuek, dia acuh tak acuh pada panggilan masuk dari David. Irish pun sudah hapal betul David seperti apa. 

"Merajuklah. Besok pun kau akan kembali lagi seperti semula," senyum Irish. Dia kembali fokus berkutat dengan laptop.

Sedangkan di tempat lain, David tampak terlihat emosi. Dia selalu gagal membuat Irish keluar malam. 

"Susah sekali mengajaknya keluar malam. Aku 'kan ingin seperti pasangan-pasangan lainnya. Bisa bermesraan dengan kekasih sendiri. Kenapa aku seperti tidak punya kekasih!" umpatnya.

"Sebelum lulus, aku harus bisa membuat Irish keluar malam bersamaku. Aku ingin menunjukkan pada teman-temanku, bahwa aku juga punya kekasih untuk diajak bersenang-senang."

"David!" teriak seseorang, "Mana kekasihmu? Apakah dia akan datang?" lanjutnya bertanya.

"Halah! Paling juga dia tidak datang ha ha ha—karena David memang tidak punya kekasih!" ledek salah seorang dari mereka. Tampak terdengar riuh saat itu juga. Mereka mengolok-olok David yang tak mampu mengajak Irish keluar.

"Sial! Aku menjadi sasaran pembullyan!" umpat David pelan. Dia terlihat sangat muak dengan suasana saat itu. David memilih pergi menjauh dari mereka. Tak ingin terjadi keributan, David memilih menyendiri. Dia memegang botol minuman  keras dan meneguknya dan mulutnya mengomel-ngomel tidak karuan saat kesadarannya sedikit hilang. David terus mengoceh tak karuan bahkan sampai terjatuh karena kehilangan keseimbangan.

"Irish, kau tahu tidak, kenapa begitu sulitnya mendapatkan mu? Apakah type pria idaman mu itu juga harus kaya seperti Kakakmu?" oceh David dengan logat orang mabuk.

"Sudah lama aku mendekatimu, tapi semua tidak ada perubahan. Bahkan kau justru cuek!" lanjutnya tersandar di tembok karena David sudah tidak kuat untuk berdiri. Sepertinya David mabuk berat, hingga akhirnya dia tak sadarkan diri sampai pagi.

Sebenarnya ada apa dengan David, kenapa dia begitu kekeh memaksa Irish? Lalu apakah ada keributan yang akan terjadi, jika Irish bertemu dengan David? 

To be Continue,

Bab 3

Semilir angin berembus menusuk kulit. Daun-daun kering berguguran di buatnya. Brrr ... dingin sekali musim dingin kali ini. Seorang gadis berjalan terburu-buru sambil sesekali melirik jam tangan yang melingkar di tangan kirinya. Mengancingkan Cardigan Rajutnya karna memang cuaca pagi itu sangat dingin.

"Taksi!" teriak Irish pada sebuah taksi. Ia bergegas masuk, namun ia terkejut karena pada saat bersamaan seorang pemuda masuk ke dalam taksi juga. "Eh kau siapa?" ucap Irish galak.

"Kau yang siapa? Aku yang masuk duluan. Keluar sana!" pemuda itu kesal.

"Enak saja. Sudah jelas aku duluan yang masuk ke dalam taksi ini. Kau yang keluar!" Irish mendorong pemuda itu.

"Maaf—Tuan dan Nona, kalian ingin pergi ke mana?" ujar pak sopir menyela.

"Diam!" Keduanya membentak si sopir, hingga sopir itu tersentak kaget dan terdiam. Ia tampak sangat ketakutan.

"Kau keluar!" Irish membuka pintu taksi dan mendorong pemuda itu. "Jalan pak!" Irish menutup pintu taksi. Dia menoleh ke belakang dan melihat pemuda itu tengah kesal.

"Perempuan gila!" teriaknya menyepak angin di atas aspal. Sementara taksi yang di naiki Irish berhenti di sebuah perusahaan.

❣❣❣

Benjamin van De Haan masuk ke dalam rumahnya, dia melangkah dengan begitu cepat tanpa memperdulikan keadaan sekitar. Beberapa pelayan hanya memperhatikan tanpa berani menyapanya. Ben, begitulah panggilan akrabnya, masuk ke dalam kamar, dan melempar jaketnya ke sofa. Dia langsung menjatuhkan badannya di atas ranjang, ingatannya kembali pada kejadian pagi tadi.

"Hiissss ... wanita sialan!" gerutu Ben. "Awas saja kalau sampai aku bertemu dengannya lagi".

Tok ... tok ... tok!

Terdengar suara pintu diketok, seorang wanita masuk ke kamar.

"Kau sudah pulang, sayang?" wanita itu berjalan mendekati Ben dan duduk di samping Ben. "Kenapa mukamu terlihat kesal?" tanya wanita itu dengan lembut.

"Tidak ada apa-apa hanya sedikit letih. Apa aku harus melakukannya besok? Rasanya aku belum siap." Ben menghela napas.

"Ini hanya sementara, sayang." Mengusap lembut rambut Ben, kemudian beranjak meninggalkan Ben di kamar. "Ah—Ibu, masak masakan kesukaanmu. Turunlah jika kau lapar. Sudah lama kita tidak makan bersama sejak kau memilih tinggal di apartemen."

"Ya, nanti aku akan turun," jawab Benjamin. Pemuda itu menghela napas panjang dan mengembuskannya, dia berpikir apakah dia benar-benar sanggup melaksanakan amanah Ayahnya untuk menggantikannya sementara.

❣❣❣

Hujan rintik-rintik di sore hari, jalanan penuh dengan genangan air. Tampak seorang gadis masuk ke sebuah cafe dan memesan Chocolate Orange. Terlihat seorang pemuda yang sedang memperhatikannya terus. Ketika hendak membalikkan badan ....

Bruukkk ....

Irish bertabrakan dengan seorang pemuda dan minuman coklat orange yang dia bawa tumpah mengenai baju pemuda itu.

"Dasar ceroboh! Mana tumpah lagi dibajuku!" pemuda itu ngomel-ngomel.

"Maaf ... maaf!" Irish langsung mengambil tisu dan membersihkannya. Ketika mata mereka saling pandang. Irish pun sudah bisa menerka kalau pemuda ini adalah orang yang tempo hari dia usir dari taksi.

"Sepertinya wajahmu sangat familiar!" pemuda itu berusaha mengingat-ngingat. "Ah ... kau kan perempuan yang mengusirku dari taksi waktu itu, kan?" Ben menunjuk wajah gadis itu dengan jari telunjuknya.

"Hah? Maaf mungkin anda salah orang," ucap Irish langsung nyelonong pergi.

"Hei ... sopan sekali kau ini, apa orang tuamu tidak mengajari sopan santun!" Ben berjalan mengikuti Irish dan langsung menarik kasar tangan Irish.

"Apa seperti ini seorang laki-laki memperlakukan seorang perempuan di tempat umum?" Irish langsung menginjak kaki Ben dan langsung keluar cafe menyetop taksi.

"Auww!" teriak Ben ketika gadis itu menginjak kakinya. "Perempuan sialan! Baru kali ini ada perempuan yang berani melawanku!" seketika Ben sadar kalau pandangan semua pengunjung cafe tertuju ke arahnya. "Sial!" ucap Ben menahan malu dan bermaksud pergi dari cafe, tapi dicegah seseorang.

"Maaf Tuan, Anda belum membayar makanan anda!" ucap pelayan cafe itu dengan ramah. Ben kaget dan langsung memberi uang pas dan pergi menuju mobilnya.

❣❣❣

Bip ... bip ... bip ....

Pintu terbuka, Irish melepas sepatunya dan langsung masuk duduk di sofa.

"Oh ... kau sudah pulang?" suara Alex dari dapur mengagetkan Irish.

"Kak Alex sudah pulang? Tidak seperti biasanya ...." Irish mendongak ke arah dapur.

"Ditanya, kenapa malah balik bertanya!" Alex berjalan sambil membawa segelas teh. Irish masih mikir mencerna perkataan kakaknya.

"Itu kenapa mukamu dilipat-lipat seperti kertas kusut saja!" tanya Alex yang duduk di sebelah Irish.

"Lagi kesal sama orang, Kak!" Irish menarik napas panjang dan langsung mengembuskan lagi.

"Kenapa? Ada yang mengganggumu?" tanya Alex, "Biasanya kalau soal seperti ini langsung curhat sama Kakak."

"Yang jelas itu, aku benci dia. Waktu itu, aku usir dia dari taksi dan hari ini aku menumpahkan coklat ke bajunya." Bla ... bla ... bla ... Irish menjelaskan panjang kali lembar kali tinggi.

"Pasti kau tidak langsung minta maaf sama dia." Alex menghela napas dan meminum tehnya.

"Aku injak kakinya!" ceplos Irish dan Alex menggeleng-gelengkan kepala.

"Memangnya Kakak mengajarimu seperti itu, Irish?" Alex menggetok kepala adiknya. Alex sudah hafal betul dengan watak adiknya ini. "Lain kali kau tidak boleh seperti itu, sudah tahu salah, ya minta maaf. Wajar saja kalau dia marah-marah, orang kau sendiri tidak meminta maaf. Lain kali kalau bertemu dengan dia lagi langsung minta maaf." Alex menasehatinya.

"Jangankan minta maaf, ketemu saja sudah ogah, Kak!" Irish mengerucutkan mulutnya karena masih kesal.

"Jangan bilang seperti itu, pamali loh!" Alex berjalan menuju meja makan. "Apa kau sudah makan? Kakak membeli makanan kesukaanmu, bersihkan dirimu terlebih dahulu, baru kita makan."

Irish mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Alex menyiapkan piring dan segelas air putih untuk adik kesayangannya itu. Selepas mandi, Irish langsung menuju ke meja makan.

"Ceker pedas!" ucap Irish ketika membuka bungkusan di meja, dia pun langsung terdiam menatap makanan itu. Alex yang menyadarinya langsung mendekati Irish memegang pundak gadis itu.

"Kenapa?" tanya Alex. "Apa kau teringat Ayah dan Ibu?" tanyanya lagi. Irish hanya diam menunduk, mengingat Ibunya selalu membuatkannya ceker pedas dan dimakan bersama dengan Ayah, Ibu, dan Kakaknya ketika menonton TV.

"Ayah dan Ibu sudah tenang di alam sana, sudah jangan bersedih lagi. Ayo di makan," kata Alex mencium kepala Irish. Dia pun memakan dengan lahap bersama dengan Alex. Selesai makan malam Irish langsung mencuci piring dan gelas juga membersihkan meja makan. Setelah itu Irish berjalan menuju ke ruang kerja kakaknya dan melihat kakaknya sedang membaca buku.

"Kak, aku mau istirahat dulu," ucap Irish.

"Kakak tahu kau sangat merindukan mereka. Bagaimana kalau besok kita ke makam Ayah dan Ibu." Alex menutup buku dan melepas kacamatanya menatap Irish dan gadis itu hanya mengangguk, "Baiklah besok pulang kerja kakak akan menjemputmu."

"Baiklah Kak. Selamat malam, selamat beristirahat. Kak Alex juga jangan tidur terlalu malam," ujar Irish, kemudian berlalu dari ruang kerjanya.

Ayah ... Ibu ... Irish sudah tumbuh menjadi gadis yang ceria dan kuat sekarang. Ayah dan Ibu tidak perlu khawatir lagi, aku berjanji akan menjaganya sampai Irish menemukan seseorang yang benar-benar bisa menjaganya, 'batin Alex, lalu berdiri kemudian mematikan lampu duduk dan beranjak menuju kamarnya.

TO BE CONTINUE

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED