Seorang gadis berhijab putih yang di sampirkan ke pundaknya, nampak sedang makan dengan sebelah kakinya di angkat naik ke kursi.
Seorang laki-laki setengah baya datang sambil geleng-geleng kepala melihat kelakuan putrinya itu. Ia mendekati anak gadisnya sambil geleng-geleng kepala.
"Astaghfirullah Zora. Anak perempuan gak boleh gitu kakinya." Tegur sang Papah.
"Enak tau Pah pas makan kaki di angkat satu kaya gini. Lagian Zora kan udah terbiasa." Acuhnya.
Pria itu merasa kesal dengan perilaku putrinya yang nampak tak mau mendengarkan nasehatnya sama sekali. Mata pria itu terarah pada ujung hijab gadis itu yang kini di sampirkan ke pundak.
Ia pun menarik ujung hijab itu dan merapihkannya hingga pada posisi yang benar.
"Cara kamu berjilbab salah Zora. Kamu jangan ikut-ikutan trend anak jaman sekarang, yang harus kamu ikuti dalam berpakaian adalah ajaran Rasulullah. Rasullullah memerintahkan bagi seorang wanita untuk melebarkan jilbabnya agar menutup seluruh tubuh mereka. Bukan menjadikan jilbab kamu ini, hanya kain yang kamu kira untuk penutupi kepala saja." Gadis bernama Zora itu terdiam menunduk.
"Maaf Pah." Balasnya merasa bersalah.
"Ilmu agama adek tuh kurang Pah, pondokin ajalah." Seorang laki-laki tampan berperawakan tinggi datang sambil merapihkan almamater kampusnya.
"Apaan si Bang Aldan ih." Kesal Zora dengan Abang nya itu.
"Kelakuan kamu makin hari makin absurd tau gak. Jangan pikir kalo Abang gak tau kalo kemarennya kamu pulang di anterin cowok." Celetuk Aldan. Sontak Zora langsung melotot terkejut mendengar pernyataan abangnya itu. Tau dari mana dia?
Mendengar itu Respati sang Papah pun melotot terkejut. Apa iya Putri nya sampai nekad melanggar larangannya sampai ke hal yang selama ini paling di larangnya?
"Benar itu Zora?" Respati pun terbangun dengan hati dongkol. Matanya menatap tajam ke arah sang putri dengan serius.
"Enggak Pah." Sangkal Zora namun, di matanya masih bisa terlihat dengan jelas kebohongan yang Ia sembunyikan.
"Jawab jujur!" Sentak Respati membuat Zora kaget dan memejamkan mata.
Isak tangis terdengar dari mulutnya. Badannya bergetar ketakutan melihat Papahnya semarah itu. Makanan yang awalnya sedang Zora nikmati pun menjadi tak nafsu lagi rasanya.
"Pah udah pah." Almi sang Mamah pun datang dan mengelus pundak sang suami mencoba meredam amarahnya.
"Gimana Papah gak marah Mah? Zora pulang di anterin cowok loh. Papah kecolongan ini!"
Suasana menjadi panas dan menegangkan. Amarah Respati semakin memuncak dengan tatapan mengarah ke Zora yang kini sedang menunduk ketakutan.
"Jawab jujur Zora! Papah gak pernah mengajarkan kamu untuk berbohong, kan?" Jantung Zora semakin terpacu mendengar sentakan Papah nya.
"I__iya Pah." Akui Zora akhirnya, walaupun gemetaran.
"Siapa dia?". Tanya Respati dengan nada rendah dan dingin.
Zora terdiam sesaat hingga akhirnya Ia pun mengumpulkan keberanian untuk menjawab.
"Rayan." Balas Zora.
"Dia siapa kamu?"
"Pacar."
Prang....
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut putrinya, semakin membuat emosi Respati tak stabil. Ia sampai refleks tak sadar membanting piring.
Semuanya memekik terkejut dengan tindakan Respati barusan. Terutama Zora yang sudah terisak-isak.
Sedangkan Aldan sang Abang hanya terdiam dengan rasa bersalah. Ia pikir ucapannya tadi tak akan membuat masalah sebesar ini, Ia fikir Papahnya hanya akan memarahi Zora ringan dan menasehatinya saja. Tapi siapa sangka masalahnya malah menjadi serumit dan sepanas ini.
Ia pun awalnya menduga bahwa laki-laki yang bersama Zora hanyalah teman sekelasnya saja. Tapi Aldan benar-benar terkejut dengan pengakuan Zora barusan yang menyatakan bahwa laki-laki itu adalah pacarnya.
"Pah, istighfar turunkan emosi Papah. Kita bisa bicarakan ini baik-baik." Nasehat Almi merasa tak tega melihat sang suami yang terpuruk dan sang Putri yang nampak ketakutan
"Astaghfirullah hal'adzim." Respati mengusap dadanya pelan sambil melafadzkan istrigfar beberapa kali.
Tiba-tiba saja terdengar isakan dari mulut Respati hingga membuat semuanya terdiam.
"Papah minta Maaf mah. Papah gagal dalam prihal mendidik Zora, Papah kecolongan. Papah minta Maaf." Respati menunduk dengan rasa bersalah. Melihat hal itu, Almi semakin merasa tak tega dengan suaminya.
Ia tau bagaimana hancurnya hati suaminya itu saat larangan yang selama ini selalu di wanti-wanti nya untuk tidak di lakukan kedua anaknya, kini di langgar oleh putrinya.
Sedari dulu Ia dan Respati selalu mewanti-wanti kedua anaknya untuk tidak berdekatan dengan lawan jenis secara berlebihan apalagi sampai menjalani hubungan haram semacam pacaran. Sedangkan kini tanpa sepengetahuan mereka, Zora melanggar larangan itu. Pantas saja, kan mereka marah dan kecewa?
Kini Almi yang mulai menatap Zora tajam. Tatapannya sangat mengintimidasi hingga membuat Zora kembali gemetaran.
"Mamah gak mau tau, putuskan pacar kamu sekarang! Dan mulai sekarang tidak boleh ada penolakan lagi untuk mamah dan Papah tempatkan kamu di pesantrennya Om Razka." Sontak mendengar itu Zora langsung menangis dan menghampiri Almi.
"Mah jangan dong Mah, Zora gak mau di pesantren... Zora mau di rumah aja." Zora menatap sang Mamah dengan tatapan memohon.
Almi memalingkan wajahnya tak mau termakan rasa kasihan lagi. Kali ini Ia harus tega demi kebaikan putrinya.
"Nurut atau Mamah nikahkan kamu dengan Emir." Ancam Almi.
"Kan Kak Emir sodara Zora Mah mana bisa?" Almi menatap ke arah Zora dengan ketus.
"Siapa bilang gak bisa? Dia bukan mahram kamu, lagian kalian juga sepupu jauh. Jadi sah-sah saja kalo Papah kamu nikahin kamu sama dia." Balas Almi santai.
"Mah jangan dong Mah." Mohon Zora sambil memegangi tangan Mamah nya mencoba membuatnya iba.
Almi dengan kesal langsung menarik tangannya membuat Zora terkejut dan mengerjap.
"Pokoknya kalo kamu gak mau putusin pacar kamu dan kamu gak mau masuk pondok, mau gak mau Papah akan menikahkan kamu dengan Emir. Biarkan dia yang memberikan pemahaman untuk kamu." Kini Respati kembali berbicara dengan tegas.
"Pah jangan dong Pah, Zora kan masih sekolah masa mau di nikahin." Zora kini berpindah memegang tangan Papah nya.
"Pilihan kamu hanya dua, masuk pesantren atau menikah dengan Emir." Zora berdecak malas dengan pilihan itu. Pilihan yang sama-sama tak Ia harapkan.
"Kalo kamu diam Papah anggap kamu memilih menikah. Okeh besok Papah ke rumah Om Razka dan meminta putranya untuk kamu." Sontak mendengar hal itu Zora langsung melotot.
"Papah.... Jangan dong Pah Zora gak mau nikah sama Kak Emir, Zora masih sekolah Pah. Lagian Zora juga gak cinta sama dia." Rengek Zora.
"Jadi kamu mau masuk pesantren?" Tanya Respati lagi. Dengan berat hati akhirnya Zora pun mengangguk saja.
"Putuskan pacar mu" kata Almi kali ini terdengar lembut.
"I__iya Mah"
Zora menghela nafas dan membaringkan tubuhnya ke atas kasur dengan matanya menatap ke langit-langit kamar.
Dreet...
Dreet...
Dering telvon membuat lamunannya membuyar. Ia pun meraih handphonenya dan mengangkat panggilan video call yang masuk.
Panggilan video call itu menunjukkan nama kontak temannya.
Feni
Calling...
"Ada apa Fen?" Tanya Zora sambil mengarahkan kamera video call ke wajahnya.
"Lo liat ini." Feni membalik kamera Panggillnya dan kini menyorot seorang laki-laki dan perempuan yang sedang duduk berduaan di cafe sambil berpegangan tangan.
Zora terkejut melihat itu. Ia tau postur tubuh laki-laki itu siapa. Yah, itu adalah Rayan pacarnya.
Matanya membulat dan berkaca-kaca. Mulutnya bergetar tak mampu berucap apapun lagi yang jelas, Ia merasa sangat kecewa dengan perbuatan Rayan.
"Anjir Ra, dia selingkuh sama temen sekelasnya dong." Heboh Feni.
Setetes air mata terjatuh dari pelupuk mata Zora. Rasanya benar-benar sakit melihat laki-laki yang selama ini di percayainya ternyata selingkuh di belakangnya.
"Makasih infonya."
Tuut...
Zora pun mematikan panggilan sepihak. Ia benar-benar tak kuat melihat Rayan dan cewek itu di layar handphonenya. Ia marah, Ia kecewa dan merasa di hianati.
Ia menenggelamkan wajahnya ke bawah bantal. Isak tangisnya semakin keras di kala teringat nasehat Papah nya.
"Melakukan perbuatan haram memang terasa menyenangkan. Tapi hanya akan mendatangkan kebahagiaan sesaat saja. Setelahnya hanya ada rasa sakit dan kekecewaan karena Allah tak meridhoi tindakan yang di haramkan itu."
"Zora minta Maaf Pah. Zora gak nurut sama Papah." Zora benar-benar menyesal karena sudah melanggar aturan Papah nya.
Baru kali ini Ia merasakan sakit hati yang benar-benar sakit. Ini bukan karena Rayan menyelingkuhi nya tapi karena Ia telah mendapatkan balasan dari Allah akibat menentang orang tuanya.
Zora benar-benar merasa bersalah karena telah membuat Papah nya merasa berdosa hingga menangis akibat perbuatannya. Padahal ini semua bukan salah Papah nya, tapi salahnya yang telah menganggap sepele larangan orang tuanya.
Ia tak pernah menurut dengan nasehat-nasehat Papah nya. Ia selalu menganggap remeh larangan-larangan Papah nya. Padahal tanpa Ia sadari nasehat dan larangan itu bisa Ia jadikan penentang agar Ia tak terjatuh dalam jurang kemaksiatan.
Zora kembali mengambil handphonenya dan membuka room chat nya dengan Rayan.
Mine <3
Kita putus!
Urus aja selingkuhan lo itu, Gue gak mau lagi punya cowok brengsek tukang selingkuh kaya Lo!
(Anda memblokir kontak ini)
Zora pun meletakkan handphonenya ke atas nakas dengan sedikit membanting. Ia pun membaringkan tubuhnya ke atas kasur menarik selimut dan berusaha beristirahat tidur agar hati dan pikiran nya bisa tenang untuk sesaat.
Dengan rasa malas, Zora mengemasi beberapa baju-bajunya yang akan di bawanya ke pondok pesantren tempatnya akan tinggal mulai sekarang.
Sebenarnya Ia malas untuk melakukan ini tapi, mau bagaimana lagi dari pada Ia di nikahkan dengan sepupu jauhnya itu jadi, lebih baik Ia nurut saja untuk sekarang.
"ZORA AYO TURUN!"
Mendengar suara sang Mamah, Zora pun dengan malas menenteng tas nya seraya turun memijak setiap anak tangga.
"Udah siap?" Zora mengangguk lesu.
"Yang semangat dong kok lemes gitu."
"Iya mah." Balas Zora dengan decakan.
"Ayo ke mobil." Respati datang dengan sudah rapih mengenakan sarung dan baju kokohnya.
"Mau sekalian ngajar Pah?" Tanya Almi.
"Enggak Mah, jadwal Papah kan Cuma hari senin sama sabtu doang." Balas Respati.
"Ooh, yaudah kalian hati-hati." Almi mencium tangan Respati dan Zora mencium tangan mamahnya juga.
"Yaudah Mah, Kita berangkat dulu. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam. Ati-ati Pah. Zora jangan bikin masalah di sana ya! Awas kamu." Tuding Almi ke arah Zora dan Zora pun hanya berdekhem malas seraya pergi mengikuti Respati.
Setelah perjalanan setengah jam di jalan, keduanya pun akhirnya sampai di tempat tujuan mereka. Yaitu pesantren Al-anam.
Sebuah pesantren yang terletak di sebuah desa yang tidak terlalu pedesaan sekali dan masih lumayan terjangkau dengan pusat kota. Pesantren tersebut didirikan oleh almarhum kakek buyutnya Zora, lalu sempat di pimpin oleh anak pertama yang merupakan pakdhe dari Respati dan sekarang pesantren tersebut berpindah tangan ke anak pertama Pakdhe yaitu Kyai Razka atau Kyai Razka yang merupakan sepupu dari Respati.
Zora dan Papahnya keluar dari dalam mobil dan berjalan menuju ke arah ndalem.
"Assalamualaikum." Ucap Respati seraya memasuki ndalem yang nampak tak di tutup rapat pintunya.
"Waalaikumsalam." Jawab seorang gadis dari dalam.
"Eh Om Ares, Zora. Silahkan duduk Om. Sebentar saya panggilkan Ummah sama Ayah dulu." Kata gadis itu seraya berjalan pergi kembali untuk memanggil kedua orang tuanya.
Respati dan Zora pun duduk di sofa ruang tamu sambil menunggu Keyna memanggil kedua orang tuanya.
Gadis tadi adalah Putri bungsu dari Kyai Razka dan Ummah Icha. Namanya Keyna Latifah. Setelah Emir anak pertama mereka berumur 4 tahun, tak lama kemudian Ummah Icha hamil kembali dan melahirkan seorang anak perempuan yaitu Keyna.
Tak berselang lama, Kyai Razka pun datang menghampiri dan duduk di depan mereka berdua. Penampilannya nampak sudah cukup berbeda karena memang sekarang Ia sudah berumur. Tetapi walaupun begitu Kyai Razka masih terlihat gagah dan tampan di umurnya yang sudah tak muda lagi itu.
"Ada apa Res?" Tanya Kyai Razka.
"Jadi gini Kak. Ini si Zora anak ku rencananya pengen Aku pondokin di sini biar dia belajar banyak tentang ilmu agama." Kata Respati.
"Boleh Res. Bagus itu kalo Zora mau mondok di sini." Tercetak raut bahagia dari wajah Kyai Razka.
"Aku yang paksa si Kak. Dia gak bakalan mau kalo Aku gak paksa dan ngancem dia buat Aku nikahin sama Emir." Mendengar itu Kyai Razka tertawa diikuti oleh Respati.
Zora berdecak sebal dengan kelakuan Papahnya. Bisa-bisanya Papahnya itu mempermalukannya di depan sang om.
"Zora." Panggil Kyai Razka dan Zora pun menoleh.
"Iya om?"
"Kamu mau sama Emir?" Tanya Kyai Razka sedikit meledek.
"Enggak Om." Jawab Zora dengan polos.
Kyai Razka menggerakkan sebelah alisnya bingung.
"Kenapa? Emir ganteng loh."
"Zora gak cinta Om."
Mendengar jawaban Zora, Respati dan Kyai Razka pun sontak kembali tertawa.
"Bagus-bagus, kamu gak mandang fisik ternyata." Puji Kyai Razka dan di balas dengan senyuman kikuk oleh Zora.
Ummah Icha pun datang tak lama kemudian sambil membawa kopi dan teh untuk kedua tamunya.
"Silahkan diminum." Kata Ummah Icha seraya meletakkan 2 gelas itu dan setelahnya ikut duduk di samping Kyai Razka.
"Ada apa Res?" Tanya Ummah Icha.
"Ini anak ku Zora mau Aku pondokin di pesantren ini." Ummah Icha mengangguk-angguk dan tersenyum ke arah Zora.
"Bagus dong kalo Zora udah mau masuk pesantren. Di sini juga ada Mei sama Keyna jadi kamu punya temen."
"Iya tante.". Balas Zora sambil tersenyum tipis.
"Kamu mau ke asrama sekarang?" Tawar Kyai Razka.
"B__boleh om." Balas Zora walaupun rasanya agak ganjel.
"Key." Panggil Kyai Razka kepada putrinya.
Tak lama kemudian Keyna pun datang menghampiri.
"Iya ada apa Ayah?" Tanyanya dengan sopan.
"Tolong kamu antarkan Zora ke asramanya ya."
"Iya Ayah "
"Ayo Ra." Ajak Keyna menatap Zora.
"Tunggu." Cegah Zora sebelum pergi. Semua orang pun menatap ke arah Zora dengan bingung.
"Tapi Zora gak mau orang-orang sampai tau kalo Zora anaknya Ustadz Ares dan keponakannya Kyai Razka." Timpal Zora. Semua orang mengerutkan keningnya mendengar permintaan aneh yang Zora lontarkan.
"Kenapa?" Tanya Respati bingung.
"Zora malu Pah. Zora gak pinter dan ilmu agama Zora pun masih sangat kurang. Dan Zora ngerasa gak pantes buat di panggil Ning kaya Key dan Kak Mei." Zora menunduk setelah menjelaskan alasannya.
"Tapi Ra__."
"Setuju atau Zora gak mau masuk pesantren." Respati menghela nafas berat.
"Okeh. Asalkan kamu jangan nakal dan jangan bikin masalah." Zora mengangguk walaupun hatinya tak yakin.
"Papah." Zora memeluk Papahnya erat sebelum pergi.
"Papah 2 kali seminggu kesini kok buat ngajar, gak usah lebay sok-sokan gak bisa ketemu Papah lagi." Zora melepaskan pelukannya dan menatap Papah nya kesal.
"Kan gak setiap hari gimana si!." Zora berkacak pinggang.
"Yaudah sana ikut Keyna. Inget jangan bikin ulah." Zora berdekhem mengiyakan.
"Key pergi anterin Zora dulu. Assalamualaikum." Pamit Keyna.
"Waalaikumsalam."
Keduanya berjalan menelusuri lorong asrama sambil Keyna berceloteh menjelaskan beberapa tempat yang mereka lewati. Zora hanya mengangguk-angguk saja menyimak setiap ucapan Keyna.
"Papah gue ngajar pelajaran apa?" Tanya Zora.
"Om Ares ngajarnya tafsir jalalain sama fiqih." Zora hanya ber-oh dan mengangguk.
Tak terasa langkah mereka kini sudah sampai di depan pintu kamar asrama dimana Zora akan di tempatkan.
"Kalo Kak Mei kamarnya dimana ya?"
"Di lantai bawah, tadi sempat kita lewatin."
"Pintu nomor berapa?"
"Nomor 05." Zora mengangguk-angguk.
Keyna mengetuk pintu yang nampak sedikit terbuka sambil mengucap salam. 2 orang santri yang berada di dalam kamar asrama tersebut pun menoleh ke arah pintu sambil menjawab salam.
"Ning Keyna... Silahkan masuk Ning." Kata mereka mempersilahkan. Dan keduanya pun masuk.
"Kamar kalian kan kosong 1 kasur tuh, jadi saya bawa penempat baru buat kasur yang kosong. Kenalin ini Zora temen baru kalian." Kedua santriwati itu menatap ke arah Zora dengan tatapan senang.
"MasyaAllah. Salam kenal ya saya Ifah."
"Saya Maudy."
Zora tersenyum dan mengangguk ke arah mereka. Zora merasa cukup senang karena teman sekamarnya ternyata ramah dan nampak menerimanya dengan baik.
Keyna menatap ke arah Zora dan mengelus pundaknya. "Kamu baik-baik disini ya Ra."
"Insyaallah Key." kedua teman barunya menatap ke arah Zora aneh. Menyadari sebuah kesalahan dalam pemanggilan Keyna, Zora pun berdekhem pelan.
"Maksudnya Ning." ulangnya membenarkan.
"Yaudah saya balik dulu ya. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Setelah kepergian Keyna, kedua teman asrama Zora mulai mengajak Zora berbincang-bincang. Mereka menanyai asal Zora dan alasan Zora masuk ke pesantren ini.
Zora yang memang memiliki sifat ramah pun menanggapi pertanyaan-pertanyaan mereka dengan baik, tapi pastinya ada beberapa yang Ia tutup tutupi.
Ternyata teman sekamarnya ini asik juga. Zora tak menyangka jika akan mendapatkan teman yang sefrekuensi dengannya.
Tapi sebenarnya tetap saja Zora tak suka dengan tempat ini. Ia lebih suka rumahnya.
"Ngomong-ngomong aku perhatiin muka kamu agak mirip sama Ustadzah Almi tau istrinya Ustadz Ares pengajar disini. Kamu sodaraan ya sama mereka?" Celetuk Ifah.
Zora menelan ludah mendengar itu, ternyata mereka berdua mengenal Mamah nya juga. Bisa gawat kalo sampe mereka tau. Karena memang wajah Zora benar-benar mirip dengan Almi dari mata sedikit sipit, hidung yang tak terlalu mancung, dan bibir tipisnya.
"Ee__ itu gue___"
Allahuakbar....
Allahuakbar....
"Alhamdulillah." ucap ketiganya. Sebenarnya Zora mengucap hamdalah setengahnya karena bersyukur tak jadi menjawab pertanyaan Ifah.
"Ayo kita wudhu dan bersiap-siap sholat Ashar ke masjid." Ajak Ifah.
Maudy dan Zora mengangguk lalu ketiganya pun bergantian mengambil air berwudhu.
Walaupun ponpes al-anam salafi tapi bisa di bilang ponpes ini lumayan elit karena masuk ke ponpes ini lumayan mahal bayarnya. Jadi kualitas toiletnya pun berbeda karena di sini sudah di sediakan masing-masing toilet di setiap kamar asrama termasuk kamar Zora sekarang.
Kapasitas di setiap kamar pun tak banyak. Maksimalnya 5 orang dan minimalnya 2 orang pada 1 kamar. Sebenarnya jika di pikir-pikir lagi pondok Al-anam itu enak. Tidak perlu mengantri saat ingin ke toilet, dan tak desak-desakan saat tidur.
Tapi modelan seperti Zora mah tetap saja tak betah dan jika ada pilihan lebih memilih pulang karena menurutnya di rumah lebih enak.
Ketiga gadis itupun telah sampai di masjid dan bersiap-siap untuk memulai sholat berjamaah dengan para santri yang lain.
Imam pun takbir dan diikuti yang lain. Sejenak Zora terdiam mendengar suara sang Imam. Rasa-rasa Ia seperti tak asing dengan suara ini.
Zora mengedipkan matanya dan membuang isi pikiran yang membuat sholatnya tak khusyuk. Ia pun kembali fokus dan mendengarkan setiap bacaan imam selama sholat berlangsung sampai salam.
Mereka semua pun saling bersalam-salaman setelah selesai sholat. Zora pun mengikuti juga agar tak malu-maluin.
Setelah selesai memanjatkan doa, para santri pun keluar masjid untuk kembali melakukan aktivitas sore mereka. Begitu pula dengan Zora, Ifah, dan Maudy.
"Masyaallah sore-sore ada pangeran Arab." Gumam Ifah sambil memperhatikan seorang laki-laki berkokoh putih yang sedang memakai sendal jepit nya.
"Istighfar Ifah." Peringat Maudy. Ifah pun langsung tersadar dan beristrigfar.
Zora yang penasaran pun menoleh ke arah laki-laki yang sedang Ifah perhatikan itu. Dan tara.... Hanya sepupunya😔.
Saat Zora mengedarkan pandangannya, ternyata bukan hanya Ifah saja yang sedang memperhatikan sepupunya itu, tapi semua santriwati yang berada di sekitar pun nampaknya curi-curi pandang juga.
Zora berdecak malas. Menurutnya mereka semua alay! Kaya baru ngeliat cowok ganteng aja. Padahal menurutnya sepupunya itu biasa-biasa aja tuh tidak seganteng itu.
"Itu siapa?" Tanya Zora pura-pura tak tau agar aktingnya kerasa natural.
"Ooh itu Gus Emir anaknya Kyai Razka. Semua santriwati rata-rata suka sama dia. Selain dia ganteng dia juga berprestasi. Tapi sayangnya dia dingin banget." Jelas Maudy.
"Iya bener banget. Padahal pengen gitu kan ngomong sama Gus Emir, eh dianya malah dingin banget. Sekalinya ngomong paling....." Ifah menghentikan cerocosannya dan menatap langit mengingat.
"Paling apa?." Tanya Zora.
"Waktu itu Gus Emir manggil nama Ifah. Ifah seneng banget sampe cenat cenut nih ati. Tapi.... Ternyata Gus Emir Cuma ngabsen murid." Ifah cemberut dengan wajah di buat-buat.
"Hhhhhh." Tawa Zora dan Maudy.
"Perasaan dia b aja, kenapa si pada suka sama dia." Acuh Zora.
Ifah dan Maudy saling memandang dan mengerjap. Baru kali ini mereka menemukan seorang santriwati yang tidak menyukai Emir. Apalagi Zora terkesan baru, biasanya santriwati barulah yang masih anget-angetnya.
"Kamu gak terpesona sama Dia Ra?" Tanya Ifah sambil menangkup wajah teman barunya itu.
"Enggak! Apaan si." Zora berdecak dan memutar bola matanya malas seraya menyingkirkan tangan Ifah dari wajahnya.
"Wih VIP Dy." Kata Ifah terkagum-kagum karena baru satu biji ini ada seorang santriwati yang tidak suka dengan Emir.
"Sambutlah tamu VIP kita Zoraaa." Kata Maudy dan keduanya berhormat bak sedang menyambut Putri kerajaan.
"Jeng jeng jeng jeng jeng jeng jeng." Ifah membuat sound dengan mulutnya seolah musik penyambutan.
"Iiih kalian apaan si." Zora menyudahkan ke freak-an kedua temannya itu.
Ia pikir Maudy normal, ternyata sama saja seperti Ifah. Pantas saja mereka bestie.
"Ayo balik ke kamar." Ajak Zora dengan kesal seraya menarik tangan kedua temannya.
****
Pagi ini adalah pagi pertama Zora berada di ponpes Al-anam. Dan pagi ini juga pertama kalinya Ia masuk di sekolah barunya.
Dengan rasa malas Zora berjalan memasuki koridor Madrasah Aliyah tempatnya nanti menuntut ilmu. Beberapa santri yang berada di sekitar, nampak memandangnya dengan tatapan aneh.
Jelas saja, lihatlah hijab yang Zora kenakan sekarang. Ujungnya di sampirkan ke bahu, anak rambutnya terlihat kemana-mana, tidak memakai ciput pula. Berbeda dengan para santriwati yang lain, hijab mereka cukup panjang dan menutup dada serta, merekapun menggunakan ciput agar anak rambutnya tak keluar.
'Mereka kenapa si liatin Gue kaya gitu? Gak pernah liat orang cantik ya?' Batin Zora dengan bola mata terputar.
"Itu Zora tuh." Dari kejauhan nampak Ifah dan Maudy sedang berjalan ingin menghampiri Zora.
"Astaghfirullah tuh anak kenapa pake kerudungnya gitu amat." Ifah menepuk jidatnya dan geleng-geleng kepala melihat penampilan Zora.
"Eh tunggu." Maudy menghentikan langkah Ifah. Mereka berdua pun menghentikan jalan dan memperhatikan seseorang yang sedang otw menghampiri Zora.
Zora yang awalnya sedang berjalan santai tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat seorang laki-laki berbadan tinggi berdiri di depannya.
Ia menggeser langkah ke kanan untuk melewatinya tetapi laki-laki itu ikut bergeser ke kanan menghalangi nya lagi. Ia bergeser ke kiri dia pun mengikuti juga.
"Apa si?" Ketusnya mendongak ke arah laki-laki itu menatapnya sebal.
'Kak Emir?' Batin Zora terkejut menyadari bahwa yang menghalangi jalannya ternyata Emir sepupunya.
"Bisa di benerin gak hijabnya." Ucap Emir dingin tanpa menatap wajah Zora.
"Ini udah bener kok." balas gadis itu sambil memegang-megang hijabnya.
"Kalo kaya gitu aurat kamu masih keliatan." Zora memutar bola matanya malas. Ia hampir akan pergi melewati Emir tetapi, Emir dengan cepat menghalangi langkahnya lagi.
"Benarkan atau hukuman?" Ancamnya dengan pandangan masih kedepan tanpa menatap Zora.
Zora sekilas menatap wajah datar Emir dan berdecak sebal.
"Ck, ribet banget si lo. Iya-iya Zora benerin." Zora pun berlalu pergi ke arah toilet untuk membenarkan hijabnya.
Emir menatap punggung Zora sekilas dan geleng-geleng kepala. Ia pun akhirnya melanjutkan jalan kembali.
Interaksi keduanya tentu saja tak luput dari perhatian para santri terutama santriwati. Mereka semua nampak berbisik-bisik membicarakan Zora dan Emir.
Ifah dan Maudy di sudut sana nampak saling memandang dengan mata melotot. Mereka panik karena Zora baru saja mendapat teguran langsung dari Emir.
Karena Biasanya jika ada santriwati yang melanggar, Emir tak pernah menegur langsung melainkan mengadukan sang santriwati kepada ustadzah, dan ustadzah lah yang nantinya akan memberikan teguran.
Keduanya pun berlari kecil menuju toilet untuk menyusul Zora. Sesampainya di toilet, merekapun akhirnya dapat menemukan Zora yang nampak sedang menggerutu kesal sambil merapihkan hijabnya.
"Ra, lain kali yang bener kalo pake kerudung. Sampe di tegur gitu sama Gus Emir." Peringat Ifah.
"Iya iya." Balas Zora dengan malas.
"Btw ini gimana sih? Gue gak biasa pake kerudung yang rempong-rempong panjang kaya kalian." Ifah dan Maudy geleng-geleng kepala melihat kelakuan Zora.
"Yaudah sini tak pasangin." Inisiatif Maudy.
Maudy pun mendekati Zora dan membantunya membenarkan hijab. Mula-mula Ia melepas hijab yang Zora kenakan terlebih dahulu untuk Ia bentuk ulang agar lebar.
Setelahnya Maudy pun merapihkan rambut Zora terlebih dahulu agar tak keluar karena Zora tak mengenakan ciput. Setelah itu barulah Maudy memasangkan hijab segiempat itu di kepala Zora seperti yang seharusnya.
"Nah, ginikan rapih." Puji Maudy dan di angguki oleh Ifah.
"Lain kali kamu tuh pake ciput biar rambut kamu gak keluar-keluar." saran Ifah.
"Yaudah yuk ke kelas." Ajak Maudy.
"Kalian kelas apa btw?" Tanya Zora.
"Kita kelas 12 IPA-3." Zora menatap mereka tajam.
"Lah? Kita gak sekelas dong."
"Kamu masuk kelas berapa emang?"
"12 IPS-1."
"Yaaaah." Ketiganya saling memandang dan cemberut sedih.
"Tapi istirahat nanti bareng ya."
"Okeh."
"Yaudah Gue duluan ya." pamit Zora seraya berlalu pergi keluar toilet menuju kelasnya yang berlawanan arah dengan arah kelas kedua sahabat barunya itu.
Tak lama kemudian Zora pun sampai di depan pintu kelasnya. Ia pun masuk dan mengucap salam. Ternyata belum ada guru di kelas itu. Ia pun duduk asal di bangku yang kosong.
Beberapa siswa yang ada di kelas nampak memperhatikannya dengan sinis. Hal itu sontak membuatnya menjadi risih dan tak nyaman.
Tiba-tiba 2 orang gadis menghampirinya sambil tersenyum miring.
"Santriwati baru ya?" Tanyanya dengan wajah meremehkan.
"Iya." Balas Zora ketus. Entah kenapa Ia merasa tak suka dengan dua orang gadis di depannya yang nampak dari wajahnya mereka adalah seorang pembully.
"Ngesok banget si!" Ledeknya kepada Zora.
"Santriwati baru tapi udah berani ngelakuin pelanggaran sampe-sampe di tegur sama Gus Emir." Zora hanya diam tak menanggapi. Atau mungkin belum.
"Inget ya! Kamu gak usah sok cantik di depan Gus Emir. Kamu itu Cuma santriwati baru gak usah ke geeran hanya gara-gara Gus Emir memperhatikan kamu." Zora berdecak dan menatap sinis ke arah 2 gadis itu.
"A___" Zora hampir saja mengeluarkan sentakannya, tapi tiba-tiba matanya tak sengaja menatap ke arah jendela dan mendapati seorang guru yang hendak masuk ke kelas.
Ia faham dengan adegan ini. Jika di film-film pasti situasi ini akan di manfaatkan oleh gadis pembully untuk memfitnah orang yang terbully. Tapi, karena ini dunia oren jadi, tak akan Ia biarkan seorang bandar munafik yang akan menang.
Zora tersenyum miring menatap 2 orang gadis itu ia membuat keduanya bingung. Zora menunduk dan berpura-pura terisak.
"Kalian berdua kenapa si fitnah-fitnah saya sembarangan hiks... Padahal saya santriwati baru. Saya gak tau apa-apa tapi, kalian tega-tega nya ngefitnah saya kaya gini." Zora melirik sekilas ke arah pintu dan pas kaki sang Ustadz nampak melangkah masuk.
"Idih apaan si gak usah lebay nangis-nangis segala! Dasar cewek caper!" Zora menunduk dan tersenyum smirk. Yes masuk jebakan.
"Leha, Dara!" Keduanya saling memandang dan melotot terkejut mendengar suara Ustadz memanggil mereka.
"Mati kita Dar." Bisik Leha.
"Kalian ngapain? Ngebully lagi?" Sang Ustadz pun mendekat ke arah Leha dan Dara sambil menatap mereka tajam.
Zora menatap ke arah sang Ustadz dan ternyata ustadz itu adalah surprise... Papahnya nya sendiri yang kebetulan hari ini jadwalnya mengejar. Mampus termampus mampus mereka berdua.
"E__enggak Ustadz, kita lagi kenalan aja." Sangkal Dara.
"Kenalan dengan metode marah-marah dan mengata-ngatai seperti tadi?" Dara dan Leha menunduk bungkam tak berani menjawab.
"Ikut saya!." Respati keluar kelas kembali.
Dara dan Leha menatap tajam ke arah Zora. Seolah mengatakan awas kamu! Sedangkan Zora yang di tatap hanya tersenyum dengan elegan😎 sambil melambaikan tangan ke arah mereka.
Setelah keduanya keluar mengikuti Respati, Zora mengedarkan pandangannya ke arah teman-teman sekelasnya yang lain.
Mereka nampak terdiam sambil memperhatikan Zora. Entah kenapa Zora menjadi takut. Takut mereka akan membencinya karena telah membuat 2 orang gadis tadi mendapat masalah dengan sang Ustadz.
"Woooooooo." Salah seorang siswa berteriak heboh sambil bertepuk tangan dan diikuti yang lain juga hingga kelas menjadi riuh.
Melihat kehebohan kelas yang secara tiba-tiba tentu saja membuat Zora merasa aneh dan bingung. Ia pikir mereka memihak pada ke 2 gadis tadi, ternyata mereka malah senang karena kedua gadis tadi terkena masalah.
Salah satu siswi tiba-tiba ada yang merangkul pundaknya.
"Wiiih Ukhti hebat banget bisa bikin mereka mati kutu kaya gitu. Kita semua disini emang sejujurnya udah enek sama tingkah sok queen mereka. Tapi Cuma Ukhti yang berani bikin mereka tersalahkan kaya gitu."
Zora tersenyum miring sambil terkekeh pelan. "Orang kaya gitu emang mesti di kasi pelajaran." kata Zora dan di angguki oleh gadis itu.
"Eh iya kenalin nama aku Via. Nama kamu siapa?"
"Gue Zora."
"Ooh. Salam kenal Zora." Zora tersenyum dan mengangguk.
"Minggir." Keduanya menoleh ke arah sumber suara dingin itu dan mendapati seorang laki-laki jangkung yang menatap mereka datar dan teduh.
Menurut Zora dia tampan, ralat sangat tampan. Kulitnya putih bersih, bibirnya ping tebal, bulu matanya lentik, bahkan hidungnya pun mancung. Ternyata bukan Zora saja yang mengagumi ketampanan laki-laki itu, tapi para siswi yang ada di kelas juga tengah curi-curi pandang memperhatikannya.
Via yang tadi telah di usir oleh laki-laki itupun buru-buru bangun dari bangku itu dan pergi kembali ke bangkunya. Sedangkan Zora hanya diam dan menatap laki-laki itu aneh.
Setelah Via pergi, laki-laki itupun duduk di bangku samping Zora tanpa berkata apapun dan langsung membuka buku untuk dibacanya. Menyingkirkannya pun tidak, tidak seperti Via tadi.
Zora celingukan mencari bangku yang kosong untuk di dudukinya selain bangku ini. Tapi, tak ada. Tak ada bangku yang kosong selain bangku tengah depan yang Ia tempati sekarang.
"Sory, temen sebangku lo gak sekolah ya maaf ya hari ini gue tempatin dulu bangkunya soalnya gak ada yang kosong." Zora menatap wajah laki-laki itu dari samping.
"Kosong kok. Santay aja." Balasnya tanpa menatap Zora dan masih fokus ke bukunya.
"Ini bangkunya kosong?" laki-laki itu berdekhem sebagai jawaban.
"Assalamualaikum." seorang guru masuk ke kelas itu.
"Waalaikumsalam." jawab para murid serentak dengan semangat.
Ternyata yang masuk kelas adalah Emir, pantas saja jawab salamnya seperti itu. Emir di perintahkan untuk menggantikan Respati mengajar karena Respati masih punya urusan dengan kedua gadis tadi.
Emir menatap ke arah bangku Zora dengan tatapan tak suka. "Zora, Raden. Kalian kenapa duduknya berdua seperti itu? Kan sudah ada barisan bangku antara siswa dan siswi."
"Bangkunya gak ada yang kosong lagi." jawab Zora dengan malas.
Emir mendekat ke arah bangku-bangku para muridnya dan memperhatikan satu-satu bangku yang mereka tempati.
Zora menggerakkan satu alisnya menatap Emir seolah menyatakan. Benarkan apa yang gue bilang?
Emir menghela nafas. Dan akhirnya membiarkan Zora duduk dengan laki-laki bernama Raden itu walaupun jujur hatinya sedikit dongkol
"Baik, silahkan berdo'a dulu sebelum memulai pelajaran."
***
Terlihat Zora sedang duduk sendirian di bangku kantin sambil sesekali menguap. Ia benar-benar bosan karena tak ada handphone yang bisa Ia mainkan. Juga tak ada teman yang menemaninya di kantin karena Ifah dan Maudy sedang kelas olahraga jadi istirahatnya tertunda.
Zora menenggelamkan wajahnya di lipatan tangan dengan mata terpejam. Dan tak lama kemudian Ia pun terbawa ke alam mimpinya.
3 orang gadis mendekat ke arah meja kantin yang di tempati Zora dan mereka saling memandang dan tersenyum smirk.
Brak...
Salah satunya menggebrak meja cukup keras hingga membuat Zora yang sedang tertidur pun terbangun.
"Apaan si?" Sentak Zora merasa marah tidurnya terganggu.
"Ini tempat kita ngapain kamu duduk di sini?" Zora melebarkan matanya menatap mereka dengan ilfil.
'Santriwati disini kenapa si prik semua' batin Zora merasa tak nyaman dengan perlakuan santri-santri di sini.
"Ayo minggir!" Perintah gadis itu lagi.
Zora terbangun dari duduknya dan menatap sinis ketiga gadis itu. "Kalo Gue gak mau minggir mau apa lo?" Tantang Zora.
"Santriwati baru dia." Nia menuding Zora sambil menatap kedua temannya.
"Ngesok banget gila." Sahut Gina sambil memperhatikan Zora dengan wajah songongnya.
"Minggir atau lo mau cari masalah?" Zora terkekeh mendengar ancaman itu.
"Siapa takut." Zora tersenyum smirk menatap ketiganya.
Nia maju dan akan menjambak kerudung Zora. Tapi, Zora dengan sigap menarik tangan Nia dan memelintirnya kebelakang.
Nia nampak kesakitan dan mengerang meminta ampun. Seketika semua mata pengunjung kantin menatap ke arah mereka dengan tatapan terkejut.
"Maju lo semua!" Tantang Zora menatap kedua teman Nia.
Zora pun mendorong tubuh Nia dan melepaskan pelintiran nya.
Nampak kedua teman Nia hanya terdiam dengan ekspresi ketakutan.
"Zora!" Zora menoleh ke arah sumber suara yang memanggilnya dan cukup terkejut mendapati Emir di belakangnya.
"Ikut saya!" Perintah Emir dingin.
"Hhhh rasain tuh." Tawa ketiganya merasa menang karena hanya Zora yang akan kena hukuman dari Emir.
Emir menatap ke arah Nia dan kedua anteknya dengan sengit.
"Untuk kalian, sapu lapangan sampai bersih!" Setelah mengatakan itu, Emir pun pergi.
Ketiganya melotot terkejut, mereka pikir Emir tak melihat perbuatan mereka tadi dan hanya melihat Zora saja ketika hendak memukul Nia.
Sebelum pergi mengikuti Emir, Zora menjulurkan lidahnya ke arah 3 gadis itu sebagai ledekan kepuasannya. Nia menuding-nuding Zora dengan wajah garangnya.
"Saya tandain muka kamu." Gumam Nia kesal.
Sesampainya di ruang guru, Zora diminta untuk duduk di kursi depan meja berhadapan dengan Emir. Keduanya terdiam sesaat dengan Zora yang nampak santai.
"Hafalkan! Setor 3 hari sekali." Emir memberikan sebuah kertas foto copy an yang di dalamnya berisi tulisan ayat Al-Qur'an dan beberapa hadits.
"Apa? Hafalin ini? Banyak banget, lo gila ya?!" Marah Zora melihat kertas itu di penuhi dengan tulisan arab dan artinya.
"Tidak mau?" Emir menatap Zora dingin dan teduh.
"Ya gak lah!" Ketus Zora berkacak pinggang.
"Okeh, siapkan foto background biru 3x4 dua lembar." Perintah Emir dengan senyuman miringnya.
Zora terdiam merasa bingung dengan permintaan Emir barusan.
"Buat apa?"
Emir menggerakkan satu alisnya menatap Zora. "Memangnya biasanya buat apa?" Zora bersusah payah menelan ludah mendengar nada bicara Emir yang slowmotion.
Mata Zora seketika melotot mengingat fungsi umum dari benda itu.
'Biasanya buat persyaratan berkas nikah gak si?' Batinnya terkejut.
"Okeh Zora hafalin." Zora pun mengambil kertas itu dan pergi dari meja Emir dengan langkah cepat.
Emir terkekeh pelan dan geleng-geleng kepala melihat kepergian Zora. Sepertinya gadis itu sangat ketakutan akan di nikahkan dengannya.
Sebelumnya memang Respati sempat bercerita kepadanya alasan kenapa Zora mau di pondokan disini. Yaitu karena Respati memberikan 2 pilihan kepada Zora, antara masuk pondok dan menikah dengan Emir. Akhirnya Zora pun dengan berat hati memilih pilihan yang pertama.
Respati pun memberitahu bahwa Zora privasi identitasnya. Ia tak mau orang-orang tau bahwa dia seorang Ning.