Bab 1

Kemeja rapi, jas necis, sepatu hitam mengkilap menjadi pekerjaan yang paling didamba sebagian besar manusia. Laki-laki berperawakan jangkung turun dari mobil. Ribuan karyawan yang sudah menanti sontak berdesakan untuk melihat sang CEO perusahaan WinEx Group.

Enzo Delwyn, semua mata tertuju padanya tanpa luput. Ada mata yang berbinar kagum hingga mata yang nampak penuh haru biru. Tatapan yang cukup beragam untuk menyambut kedatangan laki-laki berperawakan tinggi menjulang itu. Bukan jas dan kemeja rapi yang menyejukkan mata melainkan kaos oblong santai berwarna merah menyala. Dengan tidak matching Enzo mengenakan celana panjang warna kuning. Pun digulung sebatas lutut. Menampakkan kaki panjangnya yang dihiasi bulu kecil yang seolah malu untuk tumbuh. Hingga tiba-tiba datanglah laki-laki berjas hitam rapi nan necis menghampiri Enzo. Sekretaris perusahaan WinEx Group, Jayden.

"Bapak yakin hanya mengenakan sendal jepit saja?" tanya Jayden kepada bosnya. Pasalnya ia sendiri merasa gemas dengan tingkah Enzo yang terlampaui cuek soal penampilan.

Enzo nyengir kuda seraya berjalan acuh melintasi ribuan karyawan. Tidak peduli dengan pandangan seluruh mata yang enggan beralih darinya. Baru kali ini ia merasa menjadi seorang artis. Perasaan menyenangkan macam apa ini? Batin Enzo geli.

Dengan setengah berlari Jayden menyusul Enzo yang berjalan lebih dulu darinya. "Paling tidak tolong naikkan dulu resleting celana Bapak," ucap Jayden sukses membuat Enzo membeku.

Laki-laki Jangkung itu lantas menatap tubuhnya bagian bawah. Terpampanglah celana boxer berwarna pink terang dengan motif bulan dan bintang.

"Hehe, kelihatan ya?" ucap Enzo terkekeh. Lalu menaikkan resletingnya dengan santai.

Plak!

Karyawan diseluruh ruangan itu menepuk jidat serentak. Bisa-bisanya mereka memiliki CEO sembrono seperti Enzo.

"Tolong di jaga ya pak. Itu aset masa depan," ucap Jayden dengan wajah sendu ingin menangis. Ia sebagai laki-laki tulen merasa harga dirinya tercabik melihat perilaku bosnya.

Enzo tidak terlalu mendengarkan ucapan Jayden yang selalu bawel. Ketimbang sekretaris perusahaan, Jayden lebih cocok menjadi ibu untuk Enzo. Musabab laki-laki itu selalu melarang dan mencegah Enzo untuk melakukan ini dan itu. Persis seperti seorang ibu yang melarang anaknya bertindak ceroboh. Sungguh ironi.

Laki-laki berperawakan jangkung itu menghentikan langkahnya tepat di depan ruang khusus bertuliskan CEO WinEx Group.

"Astaga!" pekik Enzo mengerjapkan bulu matanya yang selentik bulu mata sapi. Panjang dan hitam alami.

"Ada apa pak?" tanya Jayden yang berada dibelakang Enzo.

Tanpa menjawab pertanyaan sekretarisnya. Enzo berlari kembali menuju mobil mewah miliknya yang bertengger di parkiran. Wajahnya yang terbiasa santai pun berubah menjadi kaku dan serius. Meliihat pantulan wajahnya sendiri dari cermin mobil Enzo terkikik geli.

“Ternyata aku bisa setampan ini. Bisa-bisanya seorang Aylin menolakku.”

HAACIWW!!!

“Busett ... pelan napa Neng. Cewek kok gak ada anggun-anggunnya,” celetuk gadis remaja berseragam putih abu-abu kepada gadis bersurai coklat disampingnya.

“Pasti ada yang ngomongin aku nih.”

“Emang iya Ay?” tanya Sesil gadis yang sejak tadi setia menemani Aylin dari Taman Kanak-Kanak hingga sekarang.

Gadis berwajah bulat yang sering di sapa dengan nama panggilan Aylin itu mengangguk singkat. Ia bahkan tidak yakin dengan jawaban ngasal itu. Tapi Sesil mudah percaya begitu saja.

“Ay udah ditungguin di gerbang.”

Aylin yang baru saja hendak menyantap tahu bulat yang sempat ia anggurkan hanya bisa mendengus kesal mendengar ucapan salah seorang siswa kelas XI. Tidak seperti biasanya ia dijemput secepat itu. Ia paham betul betapa sibuknya sang Ayah. Dengan terpaksa Aylin beranjak dari kursi kantin favoritnya. Berjalan malas menuju gerbang sekolah.

“Selamat siang tuan putri.”

Bukan suara barinton. Sejak kapan suara barinton berubah menjadi bass? Aylin yang kebingungan lantas mendongakkan kepala.

“HAHAHAHA!!”

Seketika Aylin ingin menghilang dari planet yang disebut bumi. Malu, ia sangat malu sekali. Entah datang darimana laki-laki berkaos merah mencolok mata yang akhir-akhir ini sering menemui dirinya.

“Cie ... Aylin dijemput pangeran,” ujar siswa kelas XI yang seangkatan dengan Aylin.

“Pangeran norak ups!” imbuh yang lain meledek Aylin tanpa segan.

Geram dengan ledekan dan cemooh yang berulang. Aylin berjalan cepat menghampiri seorang laki-laki jangkung yang tengah tersenyum lebar di depan pintu mobil. Keren? Norak!

“Pergi!!” usir Aylin dengan suara lantang khas remaja seusianya.

Bak bongkahan batu besar. Laki-laki yang berdiri tepat disamping Aylin tidak bergeser sama sekali. Bagaimana mungkin bisa bergerak. Tubuh Aylin saja tidak ada seperempatnya dari laki-laki itu.

“Tuan putri jangan kasar dong sama pangeran. Hahaha.”

Lagi-lagi ledekan itu menghujani Aylin. Sungguh ia frustasi dengan situasi yang menimpa dirinya saat ini. Ia bahkan tidak kenal sama sekali dengan laki-laki yang dipanggil dengan sebutan pangeran oleh teman-temannya. Pangeran norak, catat.

“Kenapa sih Om selalu kesini??” tanya Aylin tidak sabaran. Untuk apa juga ia bersabar dengan laki-laki tidak dikenal itu.

Enzo berbinar mendengar suara yang menurutnya sangat merdu. Ya, suara gadis mungil yang membuat jantungnya berdebar kencang. Ia juga tidak paham bagaimana mungkin ia jatuh hati pada gadis SMA yang lebih pantas menjadi keponakannya. Tapi bukankah cinta itu buta? Kalian mau apa.

“Woi!” seru Aylin seraya melambaikan tangan tepat di depan wajah laki-laki dihadapnnya. Untungnya laki-laki itu sudi sedikit menundukkan kepalanya. Sehingga Aylin tidak perlu terlalu berusaha untuk menyamai tingginya yang hanya standar.

“Aku disuruh Papamu,” sahut Enzo dengan senyum merekah.

Apa katanya? Papa? Dusta apalagi ini. Batin Aylin tidak habis pikir.

Melihat dari penampilan laki-laki itu yang super amburadul. Rasanya tidak mungkin laki-laki itu memiliki hubungan dengan perusahaan Ayahnya. Aylin menggelengkan kepala untuk yang kedua kalinya.

“Udah Ay buruan masuk mobil. Ntar keburu pergi pangerannya,” ledek Sesil yang entah mengapa ikut nimbrung. Seraya mendorong Aylin masuk mobil.

Aylin mengerjapkan bulu matanya dengan cepat. Hanya dalam hitungan detik saja ia sudah duduk di kursi mobil milik laki-laki aneh yang mengaku disuruh oleh papanya. Teman-temannya sungguh tidak berakhlak sudah membuat ia terjebak satu mobil dengan laki-laki itu.

“Jadi mau main dulu apa langsung pulang?” tanya Enzo dengan ceria seperti anak kecil yang mendapat gula-gula.

“Sebenernya Om siapa sih? Penculik??” cecar Aylin sewot. Kalaupun laki-laki itu seorang penculik anak dibawah umur Aylin tidak ciut. Toh ayahnya pasti akan menemukan dirinya kemana pun ia akan dibawa.

Sangat menggemaskan. Entah mengapa gadis mungil itu semakin terlihat menggemaskan saat sedang marah. Mungkin tuduhan Aylin ada benarnya. Enzo memang penculik. Penculik hati.

“Namaku Enzo.”

Melihat tidak ada respon dari gadis disampingnya Enzo mencoba melirik sekilas Aylin.

“Aku Enzo.”

“Yang tempat kebun binatang itu?”

Ya Tuhan pertanyaan macam apa itu? seketika Enzo ingin menggulung bocah disampingnya itu dengan tangannya sendiri.

“Enzo bukan Zoo!”

BERSAMBUNG

Bab 2

“Ay tidak mau Pa!”

Sangkal gadis bertubuh mungil dengan rambut kuncir kuda khas anak seusianya. Bibirnya yang berwarna merah ranum pun sudah maju beberapa centi. Menandakan Aylin memang sedang tidak bercanda.

“Dengerin Papa dulu Nak.”

Dengan terpaksa Aylin menghentikan langkah kakinya yang sudah menaiki tangga. Meski begitu ia tetap enggan memutar tubuhnya menghadap sang Ayah.

“Enzo itu rekan bisnis terbaik Papamu Ay,” ungkap Sekar, Ibu Aylin yang masih terlihat awet muda.

Apa hubungannya semua itu? Aylin bertanya-tanya dalam hati. Pemuda slengean yang sering nongkrong di depan gerbang sekolahnya berniat ingin menikahi dirinya. Benar-benar diluar dugaan Enzo adalah rekan bisnis Rendy, Ayah Aylin.

“Tapi Ay masih bocil Ma. Baru juga kelas XI,” protes gadis remaja itu tidak terima.

Respon yang normal untuk remaja SMA seperti Aylin. Sebenarnya Rendy juga cukup menyayangkan jika gadis kecilnya menikah secepat itu. Tapi melihat keseriusan Enzo perihal putrinya. Akhirnya ia memilih untuk mengalah. Toh ia yakin Enzo bisa menjaga Aylin layaknya ia yang sudah menjaga gadis itu selama 16 tahun.

“Dia laki-laki yang bertanggung jawab Ay. Sudah turuti saja kemauan Papamu.”

Mutlak. Mau menyangkal sekuat apapun Aylin tetaplah anak kecil yang tidak bisa menyanggah orang tua. Ia juga teramat takut jika dikatakan menjadi anak yang durhaka kepada orang tua. Tapi ia baru kelas XI?

“Tapi Pa, Aylin mau melanjutkan sekolah.”

Bukan Aylin namanya jika tidak bisa membuat alibi. Bukan ingin melawan tapi ia hanya mencoba untuk mencari alasan. Sungguh ia tidak ingin masa depannya suram seperti remaja yang terjebak pernikahan dini yang pernah ia baca di berita.

“Ay, dia berjanji pada Papa. Dia akan menjagamu dengan baik. Lagipula nikahnya kalau kamu udah lulus SMA kok.”

Hanya beberapa kalimat namun berhasil membuat Aylin mengatupkan bibir rapat. Iya, Aylin tidak pernah berani menyanggah perkataan sang Ayah. Ah sudahlah ia terlalu belum siap menerima tawaran menikah. Toh masih sekitar satu tahun lebih.

Sementara disebuah rumah bernuansa klasik namun berkelas, nampak seorang laki-laki berusia 28 tahun sedang merebahkan diri di sofa malas. Mata elangnya menatap daun yang berguguran diterpa angin. Enzo tidak bisa menghentikan bibirnya yang terus menyunggingkan lengkungan tipis.

“Sehat Mang?”

Reflek Enzo memutar kepala melihat suara familiar yang terdengar sedikit cempreng. Astaga bernyali sekali Enzo mengatai wanita paruh baya disampingnya cempreng. Wanita itu adalah Elena, ibu Enzo.

“Bunda mah gitu, anak seganteng seleb masak manggilnya Mamang,” protes Enzo kepada Elena.

Geli dengan ucapan pemuda di hadapannya Elena hanya bisa terkikik kaku. Bukan kali pertama putra semata wayangnya itu terlampaui percaya diri seperti itu. Tapi memang benar Enzo setampan seleb menurut Elena, entah menurut orang lain.

“Besok ikut Bunda ke petshop ya?” bujuk Elena. Pasalnya Enzo selalu menolak ajakannya.

Enzo memutar bola mata malas. Ia tahu ada maksud tersembunyi dari permintaan wanita yang ia panggil dengan sebutan Bunda itu. Bukan tanpa alasan, petshop adalah tempat Elena bertemu dengan kawan lamanya. Hal itulah yang membuat Enzo sangat malas jika diajak pergi menemani sang Ibu.

KRING!!!!!!

Tidak seperti hari-hari sebelumnya. Siang ini gadis bertubuh mungil dengan sweater oversize nampak murung di kursi taman sekolah. Sepoi angin dibawah pohon rindang ternyata tidak bisa menyejukkan hatinya sama sekali. Pikirannya terus berkelana mengingat perkataan kedua orang tuanya perihal perjodohan.

“Arrrgghhh!! Kenapa aku terus memikirkan om-om itu?? Toh dia juga tidak menemuiku lagi.”

Monolog Aylin memerutuki dirinya sendiri.

“Cie, mikirin pangeran norak ya Ay?”

Demi apa, Aylin terkejut setengah mati melihat Sesil yang entah sejak kapan duduk disampingnya.

“Sejak kapan kamu disini hah??” tanya Aylin kebakaran jenggot.

Sesil mengedipkan sebelah matamya, “10 menit yang lalu.”

Ya Tuhan, bagaimana bisa aku tidak sadar sama sekali? Batin Aylin mengutuk diirnya sendiri. Apa mungkin virus pangeran norak itu sungguh membuatnya terlena? Membayangkannya saja ia sudah merinding.

“Om itu beneran gebetanmu ya Ay?” tanya Sesil penuh selidik. Tak lupa ia memasang wajah curiga.

Secepat kilat Aylin menggelengkan kepala tanda tidak setuju dengan tuduhan itu.

“Yakali pacarku setua itu Sil!” sanggah Aylin.

“Oh pacar toh?” goda Sesil semgaja menekankan kata pacar kepada sahabatnya yang terlihat menggemaskan saat sedang menahan marah.

“Dih amit-amit!”

Deru mobil mewah menghentikan percakapan dua gadis remaja yang sama-sama sedang menunggu jemputan pulang sekolah. Tanpa aba-aba Aylin dan Sesil menatap seseorang yang keluar dari mobil mewah keluaran terbaru itu.

Bingo! Sudah lama sekali Enzo tidak melihat pemandangan yang paling ia sukai beberapa hari ini lantaran ia harus pergi keluar kota. Dan beruntungnya ia langsung disambut peri kecil cantik yang selalu memenuhi kepalanya.

“Hai tuan putri,” sapa Enzo seraya menghampiri Aylin yang duduk mematung.

“Om panjang umur baru juga diomongin udah nonggol aja,” celetuk Sesil.

Enzo mengernyitkan alis tak paham.

“Kamu ngomongin saya??”

“Aylin Om.”

Apa? Sesil benar-benar minta dibogem. Dengan sengit Aylin mencubit kecil pinggang sahabatnya yang sudah asal bicara.

“Tidak! Jangan percaya!”

“Serius Om. Tadi Aylin bilang kangen.”

Hah? Apa-apaan Sesil berkata seperti itu. Aylin sungguh tidak habis pikir.

Enzo mengedipkan sebelah mata menggoda gadis mungil yang pipinya tengah memerah. Dimata Enzo Aylin terlihat seperti buah tomat yang sudah masak. Cantik dan merah merona. Ia baru tahu Aylin seimut itu.

“Sesil!” bentak Aylin dengan galaknya kepada gadis bersweater sama persis dengan yang ia kenakan.

“Serius Om aku gak bohong. Tadi Aylin nglamunin Om, sumpah.”

Aylin merinding sekaligus mual melihat ekspresi laki-laki jangkung dihadapannya. Pasalnya Enzo memasang wajah yang sulit sekali diartikan karena terlalu norak bagi Aylin. Sungguh kentara sekali laki-laki itu sedang berbinar bahagia.

“HOEK ...!”

Celetukan Aylin menyadarkan Enzo yang sedang berbunga-bunga. Sekejap ia langsung tersadar dari perasaan terbangnya mendengar pernyataan teman Aylin.

“Ya sudah pulang yuk!” ajak Enzo seraya menggandengan tangan kecil Aylin.

“Ih jangan pegang-pegang!” protes Aylin menepis tangan Enzo dengan sengit.

Bukannya marah laki-laki bertubuh jangkung itu justru melempar senyum. Ia menghargai gadis kecilnya yang menolak bergandengan tangan dengan dirinya. Meski ketus Aylin tetap menurut masuk ke dalam mobil. Tentu saja dengan wajah datar nan dingin.

“Nih oleh-oleh,” ucap Enzo menyambar kado yang sudah ia siapkan sejak beberapa hari yang lalu.

Mendengar kata oleh-oleh ekor mata Aylin melirik sekilas kotak berwarna cream lengkap dengan pita diatasnya. Dengan rasa penasaran tingkat dewa Aylin membuka kotak yang diberikan Enzo.

“Hah??”

Aylin melongo menatap isi kotak berwarna cream itu.

“Gimana? Suka?” tanya Enzo tersenyum ceria.

Aylin mengerjapkan bulu matanya yang lentik berulang kali. Ia mencoba membaca buku yang ada didalam kotak cream itu berulang kali.

Namun ia yakin ia tidak sedang salah membaca.

“BUKU MEWARNAI??”

BERSAMBUNG

Bab 3

“AKU BUKAN ANAK PAUD!!!”

Aylin menggerutu membaca dan meresapi buku yang kini ia pegang. Matanya yang semula berbinar pun berubah menjadi nanar. Lagipula apa yang ia harapkan dari seorang Enzo yang super absurd itu.

“Kata siapa buku mewarnai hanya untuk anak paud?”

Lirikan tajam menghujam Enzo yang berwajah ceria tanpa dosa. Sontak laki-laki berwajah jenaka itu menutup mulut.

“Om anak SMA mana yang masih memakai buku mewarnai?”

Enzo menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal. Ia juga tidak paham mengapa ia melakukan hal demikian. Ia hanya merasa otaknya bekerja dengan keras untuk memikirkan pertanyaan Aylin.

“Hmmm ...”

Laki-laki berbadan jangkung itu masih mencoba berpikir dengan logikanya. Mengapa pertanyaan Aylin sulit sekali untuk ia pahami.

Cklek!

“Hehe, iya ayo jalan aja.”

Tanpa basa-basi lagi Enzo segera menyalakan mesin mobilnya. Jiwa tidak pekanya menguap begitu saja saat melihat gadis disampingnya sudah bersiap mengenakan sabuk pengaman. Perjalanan pun berlalu dengan keheningan tanpa ada yang mau membuka obrolan.

Aylin memutar bola mata malas dengan berbagai pertanyaan yang sebenarnya bersarang didalam kepalanya. Banyak sekali yang ingin ia tanyakan pada laki-laki yang mengaku rekan bisnis ayahnya itu. Tunggu, jika diperhatikan laki-laki yang berada disampingnya itu lumayan juga. Batin Aylin mulai bergejolak.

“Enggak!” ungkap Aylin seraya memukul kepalanya pelan menampik perasaan aneh yang timbul di otaknya yang mulai tidak masuk akal.

“Apanya yang enggak?” tanya Enzo penuh selidik.

Tubuh Aylin menegang tidak mungkin ia mengatakan apa yang ia pikirkan. Lagi-lagi gadis mungil itu merona membuat Enzo terkekeh geli.

“Iya aku emang tampan.”

Aylin semakin mematung mendengar pernyataan terlalu percaya diri itu. Tidak ingin Enzo terbang ke angkasa Aylin segera menggelengkan kepala.

“Jangan ngada-ngada deh,” sanggah Aylin memasang wajah sedatar mungkin.

Tidak memakan waktu lama mobil yang dikendarai Enzo dan Aylin tiba di sebuah toko bertuliskan Petshop dengan tempelan gambar hewan yang menjadi ciri khasnya. Aylin yang baru pertama kali datang ke petshop nampak begitu tertegun. Dengan heran ia melirik laki-laki disebelahnya. Namun keheranan itu semakin bertambah kala seorang Ibu paruh baya melambaikan tangan ke arah Enzo dan Aylin.

“Ibu itu siapa?” tanya Aylin setengah berbisik tidak ingin ada orang lain yang mendengar pertanyaanya.

“Lagi ikut acara uji nyali mungkin,” jawab Enzo sekenanya.

“Enzo...!” seru Ibu itu mencubit pinggang putra keduanya itu.

“Sakit Bun!” pekik Enzo mencoba melepaskan diri dari cubitan sang Ibu.

“Masak bunda dikatain lagi uji nyali sih. Ada-ada aja kamu,” gerutu Elena tidak terima.

Aylin yang sedari tadi menyimak percakapan anak dan ibu itu hanya bisa menahan tawa geli. Pantas saja Ibu paruh baya itu melambaikan tangan ke arahnya ternyata Ibu itu adalah Ibu Enzo.

Deg!

Calon mertua?! Batin Aylin terkejut.

“Ini gadis yang kamu bilang itu ya?” tanya Elena penasaran dengan gadis bertubuh mungil berseragam putih abu-abu yang berada tepat disamping putranya.

“Oh iya lupa. Kenalin Bun ini Aylin calon menantu,” jelas Enzo menimbulkan rona pipi Aylin kembali menyala.

Dengan malu-malu Aylin mengulurkan tangannya kepada Ibu Enzo. Entah mengapa ia sangat gugup layaknya seseorang yang benar-benar sedang bertemu dengan calon mertua.

“A ... Ay ...”

“Ayam.”

Aylin melotot protes dengan celetukan Enzo yang menyebut dirinya sebagai ayam. Sungguh menyebalkan!

Elena tersenyum geli melihat tingkah putranya dan gadis mungil dihadapannya. Benar-benar terlihat seperti sepasang remaja yang baru saja puber. Sangat tidak cocok sekali dengan umur Enzo yang sudah hampir 29 tahun.

“Aylin tante,” ucap Aylin mencoba menutupi perasaan gugup yang menderu dadanya.

“Halo Aylin, panggil Bunda Elena aja ya.”

Semburat pink kembali singgah di pipi Aylin. Mendengar perkataan Elena membuat Aylin salah tingkah tingkat dewa. Aylin memang tidak bakat menyembunyikan perasaannya yang mudah tersipu.

“Anak nomor tiga Jeng?” sambar seorang wanita paruh baya yang terlihat seumuran dengan Elena.

Reflek Elena dan Aylin saling menggelengkan kepala.

“Itu calonnya Enzo Jeng,” sahut Ibu paruh baya yang lain layaknya seorang intel yang sudah paham betul dengan hubungan Aylin dan Enzo.

“Hah serius Enzo mau sama anak SMA?” celetuk Ibu-ibu semakin memanas. Jiwa pergosipan mereka mulai tersulut.

“Ibu-ibu sekalian saya kan berhak memilih siapapun yang akan menjadi pendamping saya. Memangnya kenapa kalau anak SMA? Toh dia mau sama saya.”

Ingin rasanya Aylin menabok Enzo yang berbicara terlalu percaya diri. Namun apalah daya ia tidak ingin Ibu-ibu itu semakin memojokkan dirinya.

“Nak Enzo jangan gitu. Kan kasihan masa depan Adik ini jadi suram kalau nikah muda,” imbuh kumpulan Ibu-ibu itu tidak habis pikir.

“Jeng anak saya ini seorang CEO. Mana mungkin kehidupannya suram,” sanggah Elena mulai tidak terima Enzo direndahkan.

Geram mendengar cemooh dari kumpulan Ibu-ibu arisan Elena memutuskan untuk menggandeng Aylin kembali memasuki mobil. Percuma saja melawan kumpulan arisan karena mereka akan selalu mendebat.

“Ay jangan dimasukkan ke hati ya,” ucap Elena mengusap surai hitam milik Aylin dengan lembut.

“Yaa gimana konsepnya Bun bisa masuk hati?” tanya Enzo dengan tatapan mata fokus pada jalan raya. Tidak peduli dengan tatapan Elena yang seolah ingin membalik mobil saat itu juga.

“Memangnya kamu mau konsep seperti apa??” balas Elena sengit.

“Yaa paling tidak harus terorganisir,” sahut Enzo.

Aylin terkikik mendengar percakapan Ibu dan anak itu. Enzo memang paling bisa membuat ia tidak bisa berlogika.

“Kamu banyak-banyak sabar Ay. Enzo emang gak jelas anaknya,” ungkap Elena kepada Aylin yang masih menahan tawa.

“Bun, justru Aylin harus bersyukur punya calon Enzo.”

Tak lupa Enzo menyisir rambutnya dengan tangan. Entah ia melakukan itu untuk siapa. Pasalnya Aylin dan Elena berada di kursi belakang. Percuma saja ia tebar pesona di kursi kemudi.

“Itu yang Bunda maksud harus banyak bersabar Ay.”

Aylin tertawa renyah mendengar ucapan Elena yang terus saja menyangkah Enzo. Walaupun Ibu dan Anak itu tidak pernah berhenti berdebat tapi Aylin tahu hubungan mereka sangat harmonis.

“Bunda dulu ngidam apa sih?” tanya Aylin receh.

Elena tertegun sejenak. Akhirnya Aylin bertanya kepadanya karena ia khawatir gadis itu merasa tidak nyaman berada diantara dirinya dan Enzo. Nampaknya itu tidak benar.

“Dulu Bunda pengen ...”

“Pengen es kepal,” sambar Enzo mengintrupsi perkataan sang Ibu.

“Mana ada. Bunda gak pernah ngidam es kepal tuh!” sanggah Elena tidak terima.

Lagi-lagi Aylin tertawa mendengar pertikaian kecil itu.

“Apa sih Bun. Enzo emang lagi pengen es kepal kok,” ucap Enzo seraya memarkirkan mobilnya tepat di depan sebuah stand es kepal.

Aylin menatap wanita paruh baya disampingnya dengan tatapan tidak percaya.

“Bun itu benar anaknya?” tanya Aylin penuh tanya.

“Bukan, dia siapa ya.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED