"Saya tau kamu bukan anggota keluarga kami,Tapi saya harap kamu tau diri setidaknya dengan menggantikan Posisi Jira."
Ucapan itu terus terngiang di dalam ingatan gue.Seolah-olah itu merupakan tanda sebagai balas budi gue di keluarga Park.
Iya...
Gue tau gue bukan bagian dari mereka,Singkatnya Bibi dain yang nemuin gue di depan rumah.
Bibi dain sendiri cuman pembantu keluarga Park dan notabenenya bukan siapa-siapa di keluarga itu.
Tapi karena tuan Park emang punya hati nurani dia akhirnya mau membantu membiayai segala kebutuhan gue dari bayi sampe sekarang baru lulus SMA.
Keluarga Park punya 3 anak yang cantik - cantik sama ganteng.Beda sama gue yang rada-rada buluk jadi sekiranya kalau lagi ada acara bisnis di keluarga mereka gue gak akan pernah muncul.
Anak nya yang pertama udah berkeluarga namanya Park Sooyoung tapi sering dipanggil Joy.Terus yang kedua ada Park Woojin dia yang paling beda di keluarga ini.
Disaat Park Jira yang merupakan anak bungsu keluarga ini benci banget sama gue.Woojin justru orang yang paling ngerti gue.
Ibaratnya dia itu udah jadi sosok kakak yang selalu ngelindungin gue dimana pun dan kapanpun.
Bahkan kak joy pun gak jarang sering nyindir gue yang notabenenya parasit di keluarga mereka.
Tapi siapa sangka parasit di keluarga itu justru akan jadi penyelamat mereka.
Sekarang gue cuman bisa nunduk dan mikir apa yang akan terjadi kedepannya kalau gue nerima semua ini?!
"Mama juga gak mau jira sampe nikah sama anak keluarga Koo itu pa!" Nyonya Park aja sampe berani mengungkapkan kekesalannya dengan nada tinggi ke suaminya.
Tuan Park terlihat frustasi...Disampingnya ada Jira yang sekarang duduk santai seraya melirik kearah kuku cantiknya.
"Udah si pa! daripada pusing mending biarin aja jihan yang gantiin jira." Ucapnya gadis itu santai seraya melirik tidak suka kearah gue.
Demi tuhan! kalau aja tu anak bukan salah satu anggota keluarga disini udah gue sleding mulutnya.
"JIRA! kamu bisa gak sih sekali aja jangan terus ngorbanin Jihan?!"
"PAPA! papa kenapa malah bela anak gak tau diuntung ini sih." Jujur gue sedih saat nyonya park berkata demikian apalagi dia sampai menunjuk-nunjuk gue.
"Pa! Anak papa aku apa jihan!"
Tuan park keliatan gelisah,Jujur beliau merupakan orang yang baik,ramah serta peduli.Dari dalam lubuk hati gue tuan park udah gue anggap sebagai ayah gue sendiri.
"CUKUP JIRA! kalau gitu papa lebih milih kita hidup miskin daripada harus mengorbankan seseorang yang bahkan gak tau apa-apa!!" Setelahnya Tuan park pergi walaupun sebelum itu ia melirik sekilas ke arah gue.
Nyonya park perlahan mendekat kearah gue,Jujur saat ini gue takut banget kalau sampai dia ngelakuin tindak kekerasan misalnya jambak?
Maybe?
"Saya tau kamu bukan anggota keluarga kami,Tapi saya harap kamu tau diri setidaknya dengan menggantikan Posisi Jira."
....
"Tuan."
Gue memberanikan diri untuk masuk kedalam ruang kerja Tuan Park.Setidaknya semalaman suntuk gue udah mikirin ini semua.
Gue positif sama pilihan ini seenggaknya itu sebagai tanda balas budi karena selama 18 tahun ini mereka mau menampung gue.
"Ada apa jihan?" Tanya Tuan park tanpa mau mengalihkan pandangan dari beberapa tumpukan dokumen diatas mejanya.
"Tuan...Saya bersedia menggantikan posisi jira."
Tuan Park lantas menoleh dengan wajah terkejutnya.Laki-laki paruh baya itu kemudian bangkit dan mendekak kearah gue.
"Saya gak mau setuju sama pilihan kamu kalau kamu melakukannya dengan terpaksa." Tuan park menepuk bahu gue pelan seraya menatap lewat manik matanya yang tersirat sebuah harapan disana.
"Saya tidak merasa terpaksa tuan." Gue sedikit menunduk takut saat bertemu tatapannya.
Entah kenapa gue sulit sekali berbohong ketika menatap manik matanya.
"Baiklah kalau itu mau--"
"Tapi saya punya permintaan..."
###
Selamat datang!
Warning sebelumnya, cerita ini masih sedikit berantakan dan berlatar korea. Terimakasih eheheh
Happy reading
....
"Bagus deh akhirnya lo sadar diri juga buat balas budi." Jira menatap acuh kearah jihan yang sekarang tertunduk dihadapannya.
"Seenggaknya gue harus bilang makasih ke lo karena mau gantiin gue buat jadi menantu anak keluarga Koo yang cacat itu,Dan gue ngerasa bebas kalau lo udah gak jadi parasit lagi di keluarga gue."
Jihan hanya bisa menatap bebatuan kecil di bawah kakinya seraya menahan kesal.
Untung lo anaknya tuan park,batinnya yang terus berkecamuk karena kesal.
"Kemungkinan besar nanti malam keluarga Koo kesini buat ngomongin masalah perjodohan itu gue gak mau lo sampai keliatan cantik dimata mereka jadi lo gak boleh dandan!" Tukas Jira kemudian pergi meninggalkan Jihan yang sekarang merosot kebawah.
"Gila tu orang." Dengusnya kemudian bangkit dan berjalan menjauhi taman belakang.
Setidaknya dia udah punya kesepakatan sama tuan Park untuk jaga-jaga supaya kejadian yang buruk tidak terjadi.
"Seandainya waktu itu bi dain gak di pecat." Lirihnya.
Memori kejadian menyakitkan itu terkadang mengganggu nya.Kejadian dimana ia tidak sengaja menemukan jam tangan dan menjualnya untuk biaya berobat keponakan bibi dain.
Tapi sayang ternyata jam itu milik kak sungjae yang merupakan menantu keluarga itu.
Masalah itu yang membuat Bibi dain di pecat karena membela Jihan, dengan mengatakan kalau Jihan melakukannya untuk membantu dia membayar biaya rumah sakit.
Entahlah setidaknya sekarang Jihan tau kalau Bibinya itu baik-baik saja dan sudah mempunyai mata pencaharian baru.
"DORR!!"
Jihan tersentak tatkala tangan Woojin menempel di kedua pundaknya.Woojin dengan tampang tak berdosanya tersenyum kearah Jihan.
"Ngapain sih ngelamun disini?" Tanya Woojin penasaran.
"Kakak yang ngapain disini? Bukannya Kak woojin baru pulang dari jeju ya?" Kini giliran Jihan yang bertanya.
"Iya nih,Tapi kangennya sama kamu aja."
Jihan tersipu...dia lantas memukul pelan lengan woojin.
"Kak woojin ada-ada aja."
"Iya beneran han,aku kangennya sama kamu doang."
Boleh gak sih Jihan Baper?
...
Jihan
"Silahkan duduk."
Gue deg-degan parah tatkala keluarga Koo datang dengan formasi lengkap.
Ada Nyonya Koo dan Juga Tuan Koo hanya saja ada laki-laki muda yang duduk di kursi roda dengan tatapan datar menatap sekitar.
"Sebelumnya,Saya minta maaf karena telah memaksa melakukan perjodohan ini." Ucap Nyonya Koo yang memulai pembicaraan.
"Ah tentu tidak apa-apa,Wajar saja kalau seorang ibu menginginkan yang terbaik bagi anaknya."
Jujur pas denger mak lampir ngomong gue pengen muntah.Ternyata dia berbakat jadi Aktris kalau gitu kenapa gak coba casting aja ya?
"Itu siapa? Itu jira ya?" Sapa Nyonya Koo Ramah seraya memandang kearah gue.
"Bukan." Kali ini Tuan park yang jawab.
"Loh?"
"Dia Jihan,Dia yang akan menggantikan Jira menikah dengan Tuan muda Jungmo."
Dari raut wajah terkejut keluarga Koo gue udah bisa pastiin mereka pasti kesel banget.
Ya gimana gak kesel? Ibaratnya tuh keluarga koo udah nawarin berlian eh malah dikasi batu.
Tapi seenggaknya ada satu orang yang punya tatapan datar dan gak berkutik daritadi.
"Bukannya tanpa alasan saya ingin Jihan yang menjadi istri tuan muda jungmo,Hanya saja Jira masih terlalu dini untuk itu sementara Jihan baru saja lulus SMA kemarin."
Nyonya Koo terlihat menimbang ucapan Tuan Park.Terlebih lagi saat melirik kearah putranya.
Jujur aja nih ya,Tuan muda keluarga Koo itu sebenarnya ganteng banget.Tapi sayang aja dia punya kekurangan fisik.
"Baiklah saya akan memaklumi itu,Saya harap kamu bisa bertahan dengan putra saya."
Gue melirik ke seluruh penjuru ruangan dengan desain royalnya.Rata-rata rumah ini punya warna gold di sekitar dindingnya.
Perlu dicatat Koo Jungmo yang 2 jam lalu udah resmi jadi suami gue adalah Anak tunggal keluarga Koo.
Yang otomatis semua kekayaan ini miliknya seorang,Tapi kenapa banyak yang menolak si tampan kursi roda itu?
"Jihan." Gue menoleh mendapati Nyonya Koo yang sekarang tersenyum dan menghampiri gue.
"Selamat datang di keluarga kami nak."
Deg!
Pelukan itu...
Pelukan yang sama sekali gak pernah gue rasain.Pelukan hangat yang gue pikir gak akan bisa gue temuin.
"Saya yakin kamu anak yang baik Jihan..."
"Tapi nyo--"
"Jangan panggil saya nyonya sekarang saya adalah ibu kamu."
"Ibu?"
"Mama..."
Gue terharu banget dan akhirnya reflek meluk erat mama Koo yang merupakan nyonya konglomerat itu.
"Kamu seseneng ini manggil saya mama??" Mama terkekeh menatap ke arah gue yang tanpa sadar nangis.
Gue ngangguk sebagai jawaban.
"Mulai sekarang kamu udah gak ada hubungannya sama keluarga Park."
Ah iya! gue lupa,sesuai kesepakatan gue gak boleh lagi ketemu sama keluarga Park.Itu kesepakatan yang dibuat sama Kedua keluarga itu.
Entah apa yang merasuki mama pas dia bilang kalau setelah gue menikah dengan Tuan muda Jungmo gue gak boleh lagi bertemu mereka.
"Oh iya...Sebelum itu kamu harus tau kebiasaan Jungmo sebelum kecelakaan." Lirihnya.
Gue bertanya-tanya...maksud dari mama apa? kebiasaan Jungmo sebelum kecelakaan.
"Jungmo itu gak bisu dari lahir." Ucapan mama sukses bikin jantung gue marathon.
Kaget aja gitu dengernya,Berati dulu sebelum itu dia bisa ngomong dong? Duh kok gue deg-degan ya?
"Ma..." Panggil Tuan Koo yang sekarang bawa Tuan muda jungmo masuk.
Gue bangun dan membungkuk memberi salam pada Tuan Koo.Tuan koo sendiri cuman ngasi senyum tipis.
"Jaga anak saya." Tukasnya kemudian memberikan kendali kursi roda itu pada gue.
"Ma ada yang papa ingin bicarakan."
Mama bangkit kemudian menepuk bahu gue pelan sebelum akhirnya pergi mengikuti suaminya.
"Enaknya aku panggil Tuan muda,Apa gimana ya?? Oh aku panggil Kakak aja." Yang pastinya gue ngomong sendiri.
"Tuan muda boleh aku panggil kakak?"
Gak ada jawaban sama sekali dari gerakan kepalanya.Dia cuman diem memandang lurus kedepan.
Semoga gak kerasukan aja...
Daripada diem disini mending gue ajak aja ke kamar.Heh bukan mau yang iya-iya tapi gue mau ganti baju yakali gue ngurus dia masih pake gaun pengantin yang panjangnya luar biasa.
Dia kaya terkejut gitu pas gue dorong kursi rodanya masuk kedalam kamar.
....
"Kak udah makan?"
"..."
"Kakak makan dulu ya,Oh iya mau lauk apa ni?"
"..."
Diem lagi...
Iya seenggaknya dia nunjukin pake tangan lauk apa yang dia mau daripada diem gini kaya orang kesurupan.
"Kenapa nak?" Tanya mama yang baru aja dateng bareng tuan koo.
"Gak ada ma,jihan cuman nanya sama kak jungmo dia mau makan lauk apa."
"Kamu ngejek dia apa gimana? udah tau anak saya gak bisa bicara." Tatapan dingin milik tuan koo bikin gue merinding.
"Ta-tapi bisa diwakilkan dengan tangannya tuan,tinggal tunjuk aja mau yang mana." Aduh keceplosan bar-bar lagi nanti kalau tuan koo mecat gue jadi menantu gimana?
"Bener pa kata mantu kita udah sih jangan sinis gitu kan kalau di sinetron biasanya mama mertua yang sinis." Gue tersenyum kecil mendengarnya.
Tanpa sadar tangan Kak jungmo terangkat dan menunjuk beberapa lauk.
"Yes berhasil!" Ucag gue senang.
Baru aja bilang gitu tangannya Kak jungmo langsung jatoh dan dia gak nunjuk lagi mau yang mana.