Bab 2

POV ANDI

"Huaaaaaaaaaa. Huhuhuhu. Hiks, hiks. Umak ikut, Ndi! Umak mau ikut Andi."

Pilu rasanya hati ini. Bagai tersayat belati tajam, tatkala mendengar rengekan umak yang tak mau ditinggal di rumah. Tangisnya pecah. Wanita dengan tubuh renta dan bongkok itu bergelayut di punggung putranya.

Selembut mungkin aku menghadap Umak. Perempuan bernama Saronah itu tak biasanya minta ikut aku bekerja.

"Mak di rumah sajalah sama Mawar. Aku kan mau ke kolam. Umak tak bisa ikut ke sana. Nanti terpeleset, umak jadi makanan ikan." Bak berbicara dengan bocah kecil, aku menakut-nakuti perempuan berusia 80 tahun tersebut.

Muka keriputnya semakin memerah. Tangan ringkihnya terus berpegang pada punggungku. Ia layaknya seorang balita yang tak mau ditinggal oleh sang ibunda.

"Tolonglah, Ndi. Umak tak mau di rumah ini."

"Tetapi, kenapa, Mak? Kan, ada Mawar." Netraku membidik wanita berkerudung hijau yang turut menarik-narik umakku sejak tadi. Menahannya agak tidak merecoki aku.

Sosok berusia lawas tersebut membisu, menoleh ke belakang seraya mendongakkan kepala menghadap mantu perempuannya.

Mawar tersenyum. Kepalanya mengangguk, lalu berucap, "Iya, Mak. Kan, ada aku. Biarlah Bang Andi bekerja untuk kita."

"Aku janji bakal pulang secepatnya, Mak. Mawar, jaga Umak baik-baik, ya!" Bukannya tega, tetapi alangkah lebih buruk, kalau hawa berkepala delapan itu turut kubawa ke lokasi pekerjaan.

Sosok yang berstatus sebagai ibu kandungku itu terus saja menangis, meronta minta ikut. Aku mencoba egois kali ini. Toh, Umak juga masih punya anak satu lagi di rumah, yaitu Mawar-istriku.

"Umak tak betah tinggal di sini, Andi," lirihnya yang masih tertangkap oleku.

Sejenak aku menghentikan langkah. Mendengar pengakuannya membuat dahi ini berkedut. Aku menoleh ke belakang, menatap pancaran mata yang seakan tak mau kehilangan anaknya meski hanya sesaat.

Tidak betah tinggal di rumah katanya? Tetapi, kenapa? Bukankah Mawar memperlakukan umakku dengan baik selama ini? Atau, adakah sesuatu yang membuat umak tertekan?

Bab 3

Setelah melewati drama yang cukup panjang pagi ini, akhirnya Umak bisa teratasi. Ya, meskipun ucapan terakhirnya tadi masih menyangkut di kepalaku.

Di bibir kolam Lele yang cukup luas ini, aku menabur pelet dengan telaten.

Namaku Andi. Pria berusia 26 tahun yang bekerja sebagai tukang penjaka kolam lele milik juragan terkaya di kampung kami. Cukup lama aku mengabdi padanya, bahkan semenjak aku dan Mawar belum bersatu dalam ikatan suci.

Juragan memercayai aku untuk merawat seluruh ikan-ikannya. Tidak wah memang gaji yang kuterima, tetapi dia kerap memberi bonus, apalagi Lele yang terjual di atas rata-rata jumlahnya. Yah, lumayanlah. Cukup untuk menghidupi keluarga kecil kami.

***

Setelah bekerja selama beberapa jam, aku pun kembali ke rumah tepat pada pukul lima sore. Aku sering berjalan demi menghemat bensin, toh, jaraknya juga tidak terlalu jauh, paling sekitar 15 menitan.

"Andi, tunggu!"

Seorang wanita paruh baya berhasil menghentikan langkah ini, padahal sedikit lagi aku berhasil menginjak teras rumah.

"Bude Tatik, ada apa?" Kupandang wajahnya yang bewarna agak kecoklatan tersebut.

"Anu..."

"Anu apa, Bude?" Mataku yang serupa kelereng ini menghunus sosok yang berstatus sebagai tetangga kami.

"Anu... Bude mau nagih hutang umakmu, Ndi."

"Apa? Umak berhutang?"

Aku spontan ketar-ketir. Berdenyut rasanya jantung ini. Aku merasa diserang ratusan lebah langsung dari pohonnya. Sejak kapan umakku berani berhutang?

"Aku selalu ngasih uang ke umak, Bude."

"Ya, tetapi umakmu beneran berhutang. Boleh ditanya sendiri nanti. Bude mau beli beras nggak ada duit."

"Berapa hutang umak?"

"400 ribu."

Glek!

Ini benar-benar di luar nalar. Sekurang-kurangnya aku, aku tetap mengusahakan memberi uang pada umak, karena kutahu, ia sangat menyukai roti kering yang ada di kedai depan.

Tak mungkinlah umakku memiliki kebutuhan lain, sementara ia sudah renta dan tak memiliki hasrat dunia lagi. Selama ini setiap kuberi duit, ia selalu membeli roti dan roti terus.

Ya, Allah. Hatiku tak enak. Ada secercah kejanggalan yang kutemui dari dirinya. Aku gelisah. Ke mana perginya uang yang selama ini kuberikan pada umak?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED