Bab 8

Saat kemejanya dilepas, punggung putih mulus Liana terlihat di mata Yohan.

Ada sedikit kekecewaan di matanya dan dia membuang muka, meminta maaf dengan suara yang dalam, "Maafkan aku."

Liana menarik sprei di tempat tidur dan membungkus badannya, dengan air mata terhina. "Pak Yohan, apa ini sudah membuktikannya?"

Yohan membuka mulutnya, tetapi merasa apa pun yang dia katakan saat ini terlalu jahat.

Saat pergi, dia melirik ke arah lantai dua. Masih ada cahaya redup di jendela. Ekspresi lemah Liana muncul di benaknya. Dia bertanya-tanya apakah dia sedang menutupi wajahnya dan menangis saat ini?

Yohan mengambil ponsel dan menelepon Hasan, "Bantu aku menyiapkan hadiah. Yang paling indah untuk seorang gadis."

....

Begitu Yohan pergi, Liana mengunci pintu dan membawa piyama bersih ke kamar mandi.

Setelah melepas jaketnya, bekas di dadanya sedikit memudar, tetapi tetap saja mengejutkan. Tidak banyak bekas luka di punggungnya. Dia mengoleskan salep jadi luka dipunggungnya sudah sembuh, Yohan tidak akan menyadari itu.

Meski begitu, Liana masih ketakutan sampai berkeringat dingin. Dia tidak tahu apa yang akan terjadi padanya setelah Yohan mengetahuinya. Yang dia tahu hanyalah Perusahaan Lewis dengan tegas melarang hubungan apa pun antar pegawai. Dia telah berjuang keras untuk mendapatkan pekerjaan ini dan dia tidak bisa kehilangannya begitu saja. Oleh karena itu, dia harus menjaga rahasia ini, meski dia harus mati, Yohan tidak boleh tahu tentang hal ini!

Setelah mandi sebentar, dia naik ke tempat tidur dan tertidur.

Keesokan paginya, Liana membeli dua sarapan dan membawakan satu untuk Nenek Nia.

Saat baru menggantung infus, pintu bangsal dibuka. Dia mengira itu adalah Yohan, jadi dia berpura-pura memainkan ponselnya dengan kepala tertunduk.

"Nenek." Sebuah suara yang agak familiar terdengar.

Liana mendongak kaget dan yang dilihatnya memang Hamdan.

Yohan dan Hamdan. Keduanya bermarga Lewis. Ternyata mereka satu keluarga?

Hamdan menoleh, seolah dia menyadari tatapannya. Liana tidak punya waktu untuk menghindarinya dan akhirnya mereka saling bertatapan.

Nenek Nia memperkenalkan sambil tersenyum, "Ini Liana. Liana ini cucuku yang lain, Hamdan Lewis."

Mengenai perkenalan mereka berdua, Nenek sangat singkat dan langsung pada sasaran.

Liana menghela napas. Hampir saja, dia mengira kalau Nenek Nia akan memberitahu Hamdan kalau dia adalah karyawan Yohan.

"Halo, aku Liana." Hamdan menatapnya dengan sedikit kehangatan di matanya.

Liana hanya mengangguk sopan, lalu kembali menatap ponselnya.

Saat Hamdan melihat itu, sesuatu yang aneh terlintas di pikirannya, tetapi dia tidak mengatakan apa pun.

Setelah beberapa saat, staf medis datang menjemput Nenek Nia untuk diperiksa. Hamdan tidak ikut pergi, dia duduk di sudut bangsal dan mengirimkan pesan kepada seseorang.

Liana lelah bermain dengan ponselnya, dia mematikan layar dan berencana untuk beristirahat. Saat dia mengangkat kepalanya, dia bertemu dengan tatapan Hamdan. Pada saat ini, Liana memiliki kilatan ilusi di dalam hatinya, seolah-olah dia telah lama menatapnya seperti ini.

Liana hendak membuang muka, tetapi Hamdan berkata, "Bukannya kamu sedang dalam perjalanan bisnis? Kenapa kamu di rumah sakit?"

Liana mengerucutkan bibirnya dan mengangkat ponselnya lagi.

Namun, kali ini tidak setelah itu ponselnya diambil dari tangannya. Liana mengangkat kepalanya dan menatap Hamdan yang berdiri di samping ranjangnya, "Ada urusan apa?"

Hamdan memandangnya, "Kenapa kamu nggak menjawab pertanyaanku?"

Liana menggigit bibirnya dan bertanya, "Kenapa aku harus menjawab pertanyaanmu? Atas dasar apa kamu berbicara denganku sekarang?"

Hamdan terdiam beberapa detik, "Apa kamu menyalahkanku?"

"Kamu terlalu memikirkannya, kita sudah putus," kata Liana lembut.

"Kita putus, tapi aku juga berhak menjelaskannya, 'kan?"

Liana tidak mengatakan apa pun.

Hamdan melanjutkan, "Antara aku dan Winda itu cuma kesalahan."

Liana masih diam.

Hamdan melihat ke atas kepalanya dan berkata, "Aku tahu kamu pasti berpikir aku mengabaikan tanggung jawabku saat mengatakan ini. Tapi Liana, percaya atau tidak, itu cuma sekali saja. Setelah itu, aku nggak pernah menyentuh Winda lagi."

"Aku juga menyesali apa yang terjadi malam itu, tapi itu sudah terjadi. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah putus denganmu. Aku bertanggung jawab pada Winda dan kamu. Apa kamu mengerti?"

Mendengarkan kata-kata ini, Liana merasa seolah-olah seseorang sedang memotong jantungnya dengan pisau. Dia bilang dia tidak peduli dan semuanya sudah berakhir, tapi masih ada rintangan di hatinya. Bagaimanapun, dia sangat menyukai Hamdan dan saat mereka pacaran juga dengan tujuan untuk menikah. Awalnya dia berpikir bahwa saat dia resmi menjadi karyawan tetap dan pekerjaannya stabil, dia akan mengambil inisiatif untuk membicarakan pernikahan dengan Hamdan, tetapi dia tidak menyangka hal seperti itu akan terjadi.

Hidung Liana jadi masam dan air mata jatuh ke selimut.

"Liana, maafkan aku ...." Hamdan mengulurkan tangannya dan dengan lembut meletakkan telapak tangannya di atas kepala Liana.

Pada saat ini, pintu bangsal terbuka dan Yohan muncul di pintu.

"Kak." Hamdan langsung menarik tangannya dan pada saat yang sama mundur dua langkah untuk menjauhkan dirinya dari Liana.

Yohan melirik Liana, kemudian menatap Hamdan. "Kenapa kamu ada di sini?"

"Aku dengar Nenek sakit, ibu menyuruhku untuk menjenguknya." Hamdan menjelaskannya.

"Apa kamu sudah bertemu Nenek?" Yohan terlihat dingin dan tidak terlalu antusias dengan adiknya ini.

"Ya."

Yohan masuk dan meletakkan barang-barang di tangannya. Melihat Hamdan yang masih berdiri di sana, ada sedikit ketidaksabaran di wajahnya, "Kenapa masih di sini?"

Hamdan mengerutkan keningnya, "Ayah tidak ada di Kota Rogasa akhir-akhir ini. Ibu bilang kalau kamu nggak bisa menjaganya, kamu bisa membawa Nenek pulang dan ibu yang akan menjaganya ...."

"Nggak perlu." Yohan langsung menyela, "Nggak boleh ada yang berani mencampuri urusan tentang Nenek."

Bangsal itu dipenuhi hawa permusuhan yang tak terlihat.

Akhirnya, Hamdan membuang muka dan berkata dengan tenang, "Kalau begitu aku pergi dulu."

....

Setelah Hamdan pergi, Liana baru mengangkat kepalanya untuk melihat Yohan.

Dia mungkin sedang dalam suasana hati yang buruk, alisnya berkerut dan wajahnya sedikit lebih dingin dari biasanya saat ada di perusahaan.

Yohan menoleh ke arahnya dan bertanya, "Kamu kenal dia?"

Liana tanpa sadar ingin menyangkalnya, tetapi merasa kalau Yohan telah mengetahui semuanya, jadi dia mengangguk.

Dia tidak menanyakan pertanyaan lebih lanjut, berjalan mendekat dan meletakkan tas yang dia bawa di depan Liana, "Ini untukmu."

Setelah beberapa saat, dia menambahkan, "Kompensasi."

Kompensasi untuk tadi malam.

Wajah Liana memerah. Dia menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tidak perlu."

Dia cuma melihat bagian belakangnya saja, dibandingkan dengan memakai bikini di pantai itu tidak ada apa-apanya. Hanya saja Liana pemalu dan dia merasa bersalah, jadi dia bereaksi sedikit terlalu keras

"Perlu!" Suara Yohan sangat tenang, takut menakutinya lagi, "Kalau kamu nggak mau menerimanya, aku akan merasa nggak nyaman."

Liana ingin mengatakan sesuatu yang lain, tetapi Nenek Nia sudah kembali dan di dorong masuk oleh staf medis.

....

Liana menjalani rawat inap rumah sakit selama tiga hari dan menjalani prosedur pemulangan pada hari keempat. Dokter meresepkan beberapa obat untuk dibawa pulang dan memberinya beberapa nasihat.

Saat mengucapkan selamat tinggal pada Nenek Nia, wanita tua itu memegang tangannya dengan enggan, yang membuat mata Liana memerah.

Melihat ini, Yohan berkata, "Dia adalah karyawan perusahaanku. Kalau Nenek ingin bertemu dengannya, pergi saja ke perusahaan untuk menemuinya."

"Benarkah?"

"Tentu saja."

Dengan jaminan Yohan, akhirnya Nenek Nia pun rela melepaskannya.

Hari sudah sore saat dia meninggalkan rumah sakit. Yohan memberinya libur tambahan setengah hari dan memintanya untuk istirahat yang cukup sebelum berangkat bekerja di perusahaan besok.

Begitu Liana kembali ke asrama, dia melihat Winda.

Bab 9

Liana membuka pintu dan melihat Winda berdiri di samping tempat tidurnya, memegang syal yang diberikan oleh Yohan di tangannya.

"Liana?" Melihat Liana sudah pulang, Winda buru-buru memasukkan barang-barang itu kembali ke dalam tas dan menarik tangan Liana, "Liana, kapan kamu kembali ke asrama? Kenapa kamu nggak memberitahuku?"

Liana menarik tangannya dan berjalan tepat di depannya, "Bukannya kamu sudah pindah?"

"Ya, aku kembali untuk mengambil sesuatu." Winda menghampiri dan menunjuk ke tas bermerek di lemari, "Liana, apa syal itu punyamu?"

"Ya." Liana menatapnya dengan tatapan dingin dan cuek, "Emang kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa." Senyuman Winda terlihat palsu, "Syal ini adalah edisi terbatas yang baru dirilis LV bulan lalu. Harganya sangat mahal dan sulit didapat. Aku cuma mau tanya, bagaimana kamu mendapatkannya? Aku juga mau beli itu."

Liana melihat tas itu dan melihat logo mereknya. Itu hadiah dari Yohan. Dia tidak berniat menerimanya dan dia juga tidak melihat dengan teliti saat menerimanya. Tidak disangka, ternyata benda itu sangat mahal.

"Itu hadiah dari teman." Liana berkata dengan santai, "Aku juga nggak tahu jelasnya."

"Teman yang mana?" Winda bertanya, tapi ada lebih banyak rasa tidak percaya di matanya. Dia telah berteman baik dengan Liana selama bertahun-tahun dan dia paling tahu betapa bersihnya lingkaran teman Liana. Selain dia dan Hamdan, Liana tidak punya teman lain.

Liana berkata dengan santai, "Kamu nggak kenal dia."

Winda ingin menanyakan sesuatu lagi, tetapi ponselnya berdering saat itu. Setelah melihat penelepon, Winda tidak ragu-ragu menjawab panggilan itu di depan Liana, "Halo, Hamdan ... oke, aku di asrama. Ya. Siang ini aku mau makanan Perancis yang kita kunjungi terakhir kali ... oke, aku akan menemuimu nanti."

Setelah menutup telepon, Winda berkata kepada Liana, "Liana, istirahatlah, aku pergi dulu."

Liana bahkan tidak menanggapinya. Dia duduk di tempat tidur dan membuka laptopnya.

Saat itu, Winda cuma mengerutkan bibir, berbalik dan meninggalkan asrama.

....

Restoran Perancis.

Winda memesan beberapa hidangan dan menyerahkan menunya kepada Hamdan.

Hamdan melihat dan membatalkan beberapa hidangan, "Kenapa pesan banyak banget, emang kamu bisa menghabiskannya?"

"Nggak masalah kalau nggak habis. Pokoknya aku bisa mencicipinya," kata Winda acuh tak acuh dan menambahkan foie gras yang mahal.

Hamdan meliriknya, "Sebelumnya, aku rasa kamu nggak seboros ini."

Dulu, saat masih pacaran dengan Liana, dia sesekali mengajak Winda makan malam. Saat itu, Winda selalu sangat pendiam dan menahan diri lebih dari Liana. Belakangan, Hamdan mengetahui kalau hal itu disebabkan oleh latar belakang keluarga Winda yang miskin dan harga diri yang rendah.

Salah satu hal yang paling membuatnya terkesan adalah suatu saat ketika mereka bertiga selesai makan dan pergi, Winda kembali ke ruangan itu dan meminta pelayan untuk mengemas sisa makanan. Saat itu Winda benar-benar berbeda dengan yang sedang menyantap makanan Perancis di hadapannya sekarang.

Melihat ekspresi Hamdan, Winda menutup menu dan berkata, "Apa aku memesan terlalu banyak dan kamu nggak setuju?"

"Bukan begitu." Keluarga Hamdan kaya dan kedua orang tuanya adalah profesor di universitas, jadi mereka tidak peduli dengan sedikit uang ini. Setelah Winda berkencan dengannya, dia selalu membawanya ke tempat-tempat mewah seperti ini. Dia tidak berpikir ada yang salah sebelumnya. Mungkin karena dia melihat Liana di rumah sakit hari ini, kemudian dia menyadari kalau selama ini, dia dan Winda sudah berubah, tapi Liana masih sama seperti dulu.

"Hamdan? Ada apa denganmu?" Winda mengangkat tangannya dan melambai di depan matanya, "Apa kamu ada masalah? Kenapa nggak fokus malam ini?"

Hamdan tersadar dan berkata, "Nggak apa-apa."

Winda sedang memotong foie gras, dia berpura-pura tidak tahu dan berkata, "Liana pindah kembali ke asrama sekolah."

Hamdan menghentikan gerakan pisau dan garpunya sejenak, lalu berkata dengan tenang, "Benarkah?"

"Tadi sore, aku bertemu dengannya saat aku kembali ke asrama untuk mengambil barang. Aku melihat dia memegang tas LV yang berisi syal yang sangat aku inginkan. Liana mengatakan itu hadiah dari seorang teman. Aku bertanya padanya teman yang mana. Tapi dia nggak menjelaskannya." Saat Winda mengatakan ini, dia melihat ke arah Hamdan.

Hamdan mengerutkan kening, "Benarkah?"

Winda memegangi dagunya dan berkata dengan polos, "Kupikir kamu diam-diam membelikan untuknya."

"Aku?" Hamdan menggelengkan kepalanya, "Bukan aku."

"Aku tahu itu bukan kamu. Meski kamu yang memberikannya, aku juga nggak akan marah. Siapa yang menyuruhku untuk meminta maaf padanya? Kalau memberi syal bisa menyelesaikan kebencian di hati Liana, aku juga bersedia. Hanya saja ... Liana kan nggak punya teman lain selain kita. Lagipula, bahkan teman biasa pun tidak akan memberikan barang semahal itu, 'kan?

Hamdan meletakkan pisau dan garpunya, "Aku mau ke kamar mandi sebentar."

Kata-kata Winda membuatnya merasa tidak nyaman. Hamdan pergi ke kamar mandi untuk merokok dan menenangkan diri.

Setelah merokok, dia sepertinya mengingat sesuatu dan merogoh sakunya. Dia menyadari kalau ponselnya tertinggal di meja makan.

Winda langsung mengambil ponselnya, membuka layar dan membuka beberapa aplikasi belanja luar negeri. Sejujurnya, dia masih tidak percaya kalau ada orang lain yang memberi hadiah semahal itu pada Liana selain Hamdan.

Namun, setelah mencari-cari, dia hanya menemukan pesanan syal Hamdan sebelumnya.

Ekspresi Winda berubah setelah mengklik dan melihatnya. Dia sangat menginginkan syal itu dan dia menyukainya pada pandangan pertama saat produk baru dirilis. Butuh waktu lama membuat Hamdan setuju untuk membelinya. Tepat saat dia berharap untuk memamerkan apa yang dia terima, Hamdan mengatakan kepadanya kalau dia tidak bisa mendapatkannya.

Namun, sekarang dia mengetahui faktanya, bukan karena dia tidak mendapatkannya, tetapi ternyata dia membatalkan pesanannya.

Kenapa dia membatalkan pesanannya? Jawabannya sederhana, Hamdan tidak mau memberikannya!

Dua menit kemudian, Hamdan kembali ke meja makan. Dia melihat ponselnya masih dalam posisi semula, seolah belum disentuh.

Winda menyerahkan potongan foie gras, wajahnya penuh sanjungan, "Hamdan, aku sudah memotongnya untukmu, kamu bisa mencobanya."

"Terima kasih."

....

Keesokan paginya, Liana naik kereta bawah tanah untuk pergi ke bekerja.

Sebelum rekan-rekan departemennya tiba, dia membawa tas yang diberikan oleh Yohan dan diam-diam memasuki kantor CEO.

Tirai di kantor tertutup rapat dan sunyi. Liana masuk dan langsung menuju meja Yohan. Dia tidak memperhatikan kalau ada seseorang yang duduk di sofa di sebelah kiri.

Saat dia menaruh tasnya dan hendak kembali, dia menoleh dan menatap mata orang di sofa itu.

"Pak Yohan!"

Pertanyaan: Bagaimana rasanya tertangkap basah sebagai pencuri?

Jawab: Itu sangat memalukan.

Yohan sedang duduk di sofa hitam, dengan kerah kemeja terbuka dan kaki panjangnya sedikit ditekuk. Tetapi alisnya terangkat dan dia tampak dalam suasana hati yang baik. Dia menatap Liana dengan sedikit lucu, "Aku berpikir keamanan perusahaan sangatlah ketat, bagaimana mungkin ada pencuri yang bisa masuk? Setelah aku perhatikan baik-baik, ternyata itu kamu Liana?"

Bab 10

Nada bicara Yohan agak malas, itu mungkin karena dia baru saja bangun. Tetapi, nada suara saat memanggil nama Liana agak meninggi dan ada sedikit kasih sayang yang tidak bisa dijelaskan.

Mendengar itu, Liana tersipu dan menjelaskan, "Saya cuma mau mengembalikan apa yang Anda berikan padaku."

Yohan melirik tas di atas meja, "Kamu nggak suka?"

"Bukan." Liana menggelengkan kepalanya, "Saya tidak bisa menerima barang yang sangat berharga itu dan saya tidak punya alasan untuk menerimanya."

"Itu bukan barang yang berharga, itu cuma sedikit niat baikku." Yohan berkata, "Atau katakan saja apa yang kamu suka? Aku akan menyuruh Hasan membelinya, atau kamu bisa memilihnya sendiri."

Dia ingin menebus kesalahannya dan dia sangat tulus.

"Pak Yohan, sebenarnya saya tidak menganggap serius kejadian malam itu dan saya tidak akan mengingatnya setelah itu berlalu. Kalau Anda memberi saya sesuatu, Anda akan mengingatkan saya pada hal itu sepanjang waktu." Yang dikatakan Liana adalah jujur. Yang lalu biarlah berlalu. Dia tidak akan mengungkitnya lagi. Kalau dia tidak mengatakannya tidak akan ada masalah yang muncul. Tetapi, sepertinya dia tidak bisa menerima hadiah yang diberikan Yohan.

Perkataannya cukup masuk akal, Yohan akhirnya mengangguk, "Oke. Aku nggak akan memaksamu."

"Terima kasih Pak Yohan."

Liana berbalik dan ingin pergi, tetapi Yohan menghentikannya lagi, "Bisakah kamu membuatkanku secangkir kopi?"

Sebagai anggota asisten departemennya, Liana secara alami bisa menangani masalah kecil ini, "Baik. Mohon tunggu sebentar."

Saat dia menunggu kopi dibuat, Yohan memejamkan mata dan sepertinya dia tertidur di atas sofa.

"Pak Yohan?" Liana memanggil dengan lembut, tetapi dia tidak menjawab.

Liana membungkuk dan meletakkan cangkir di atas meja karena tidak ingin mengganggunya, tetapi saat dia mau meletakkannya Yohan tiba-tiba meraih pergelangan tangannya.

"Ah!" seru Liana, cangkir di tangannya tidak stabil dan kopinya tumpah.

Yohan refleks dan melepaskannya sambil mengusap alisnya, "Maafkan aku ...."

Dia hanya bermimpi tentang malam itu, kebetulan Liana datang. Aroma samar di tubuhnya membuatnya kesal, jadi dia tanpa sadar mengulurkan tangan dan menggenggamnya.

"Apa kamu baik-baik saja?" Yohan merasa lebih bersalah karena melihat tangan Liana yang memerah.

Dia tahu itu gadis yang pemalu tapi sepertinya dia selalu membuatnya takut tanpa sengaja.

Karena melihat kalau dia tidak sengaja melakukannya, Liana menyembunyikan tangannya di belakang punggungnya dan berkata, "Tidak apa-apa. Kalau tidak ada pekerjaan lain, saya akan keluar dulu."

"Ya."

Yohan akhirnya melepaskannya.

Liana bergegas keluar dan kebetulan bertemu dua orang pegawai lain.

"Liana?" Mata Widia membelalak karena terkejut, "Kenapa kamu keluar dari kantor Pak Yohan?"

Helena menatapnya dengan kebingungan di wajahnya.

Liana tidak mau menjelaskan, jadi dia pergi, tapi Widia menangkapnya, "Jangan pergi dulu! Apa kamu tahu kalau perusahaan punya peraturan kalau pegawai magang nggak boleh masuk ke kantor CEO? Terlebih lagi, nggak ada yang datang sepagi ini, kamu keluar dengan panik, apa kamu mencuri sesuatu?"

Saat dia mengatakan itu, Widia memperhatikan tangan kiri Liana tersembunyi di belakang punggungnya dan segera menuduh Liana telah mencuri sesuatu. Dia berkata dengan tegas, "Apa yang ada di tanganmu? Keluarkan!"

Saat ini, Hasan datang dari lift bersama dengan beberapa orang, "Ada apa? Kenapa berisik sekali?"

Widia menunjuk ke arah Liana dan berkata dengan keras, "Asisten Hasan, aku baru saja melihat Liana keluar dari kantor CEO. Sepertinya dia telah mencuri sesuatu!"

Mata semua orang tertuju pada Liana.

"Aku nggak mencuri apa pun!" Liana membela diri.

"Terus kenapa kamu menyembunyikan tangan kirimu di belakang punggung?" Wajah Widia penuh dengan penghinaan. Dia sudah lama tidak menyukai Liana, "Kalau begitu, ulurkan tanganmu dan biarkan semua orang melihatnya, berani nggak?

Melihat situasi ini, Liana tidak punya pilihan selain mengeluarkan tangan kirinya.

Tangannya kosong, dia tidak membawa apa pun, hanya punggung tangannya yang merah karena terbakar.

Widia berkata, "Kamu pasti sudah menyembunyikannya, 'kan? Kalau begitu biarkan kami menggeledahmu."

Wajah Liana memerah karena cemas, "Aku nggak mencuri apa pun, kenapa harus menggeledahku?"

"Karena kamu mencurigakan. Karena kamu nakal dan menyelinap ke kantor CEO! Kalau kamu nggak membiarkan kami menggeledahmu, itu berarti kamu menyembunyikan sesuatu!" Widia begitu sombong hingga dia hampir menunjuk ke hidung Liana dan menyuruhnya keluar.

Helena berdiri di samping dan hanya terdiam.

Orang-orang lain biasanya ikut bermain dengan Widia, tetapi sekarang mereka semua cuma menonton dengan sikap pengamat.

Hasan ragu-ragu dan berkata, "Liana, perusahaan menetapkan kalau pegawai magang nggak boleh masuk ke kantor CEO. Apa kamu tahu itu?"

"Aku tahu." Liana mengangguk.

Dia cuma mau mengembalikan hadiah dari Yohan dan tidak ingin melakukan hal lain. Selain itu, kalau tidak dikembalikan seperti ini, apa dia mau mengembalikan barang tersebut kepada Yohan di depan semua orang?

Lalu, bagaimana pendapat orang lain tentangnya dan mereka bisa saja salah paham dengan Yohan.

Widia menangkap kata-kata itu dan mulai membangun momentum, "Apa semua orang mendengarnya? Dia dengan sengaja melakukan pelanggaran! Menurutku, dia pasti baru saja mencuri sesuatu, mungkin dia adalah mata-mata yang dikirim oleh pesaing. Asisten Hasan, kamu harus menggeledahnya, selidiki baik-baik orang ini!"

Hasan tidak akan memercayai perkataan Widia. Dia mengenal banyak orang dan merasa bahwa Liana tidak terlihat seperti mata-mata. Tetapi, di depan semua orang, dia harus adil, "Liana, apa ada yang perlu kamu jelaskan?"

Liana ragu-ragu sejenak dan menggelengkan kepalanya.

Dia tidak bisa menjelaskan apa-apa.

"Terus, apa yang kamu lakukan di kantor CEO?"

Liana masih menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu, apa ada yang bisa membuktikan kalau kamu nggak mencuri apa pun?" Hasan ingin membantunya. Pelanggarannya terhadap peraturan hanyalah masalah kecil, tetapi dituduh mencuri adalah masalah serius.

Liana tahu betul posisinya di perusahaan. Bahkan karyawan tetap pun bisa melakukan apa pun yang dia minta, apalagi dia hanya karyawan magang. Apa dia masih mengharapkan Yohan untuk membantunya menjelaskan?

Dia menutup matanya, "Tidak ada ...."

Sebelum dia selesai berbicara, pintu kantor terbuka dan suara Yohan terdengar, "Aku akan membantunya membuktikannya, apa itu cukup?"

Semua orang menoleh dan menatap ke arah Yohan.

Liana juga mengangkat kepalanya karena terkejut dan melihat pria yang berjalan ke arahnya. Dia tidak tahu apa yang dia rasakan saat ini, tetapi dia merasa semua kegelisahannya hilang dengan kemunculan Yohan.

"Pak Yohan?" Widia adalah orang yang paling terkejut, "Apakah Anda ada di dalam kantor?"

Yohan meliriknya, "Aku selalu ada di sana. Aku mengizinkan Liana masuk kantor dan aku juga bisa membuktikan kalau dia tidak mencuri apa pun dari perusahaan. Apa itu cukup?"

Tak ada suara apa pun.

Semua menjadi hening.

Sangat jarang Yohan melindungi orang seperti ini.

Widia tidak puas, "Pak Yohan, saya tidak ingin Anda terlalu berat sebelah! Liana adalah seorang pegawai magang. Peraturan dan regulasi perusahaan tertulis dengan jelas kalau pegawai magang tidak diperbolehkan memasuki kantor CEO. Dia melanggar peraturan ...."

Helena memandang Yohan, bertanya-tanya bagaimana dia akan menanganinya. Lagi pula, peraturan dan ketentuan perusahaan bukanlah hiasan. Kalau tidak bisa menangani masalah ini dengan baik, dia tidak akan bisa meyakinkan karyawan lain.

Secara logika, Liana tidak akan bisa lepas dari hukuman ini.

"Siapa bilang dia pegawai magang?" Dalam keheningan, Yohan berkata dengan lembut, "Hasan, tolong umumkan, mulai hari ini dan seterusnya, Liana telah resmi menjadi karyawan tetap."

Semua orang terdiam.

Widia bertanya-tanya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Goodnovel
Buka Semua Bab
Cari “B76775” di Goodnovel untuk membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Goodnovel untuk melanjutkan membaca.
B76775
Salin
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED