Bab 1

Sepasang roda sekuter merah muda dengan sebuah box besar bergambar pizza yang merekat erat di setiap sisi—terus bergerak menggerus aspal sore ini, si pengendara tak kalah menggemaskan saat tubuh mungilnya dibalut jaket merah muda dengan nama punggung berlogo toko pizza, tapi ini bukan pekerjaan pertama Marra, sebab ia bisa menjelma menjadi pekerja apa saja dimulai pagi buta hingga jam malam. Bukan masalah, gadis itu akan mengaku jika ia keturunan Hulk yang paling kuat saat melakukan segala hal meski bertubuh mungil.

Sekuter memasuki komplek perumahan mewah, ia sudah sering melewati bagian ini di sudut-sudut kota Manila, si penghafal jalan yang baik karena terbiasa berkeliling mengirim beragam hal selain pizza, hampir sebagian besar pengusaha berskala menengah di Manila mengenal seberapa rajinnya seorang Marra Acosta, ia memang tupai kecil yang melompat gesit dari satu tempat ke tempat lain setiap hari. Ia bisa menggantikan pekerjaan orang lain, berhenti dengan mudah saat lelah karena sebagai seorang part time Marra tak menerapkan kontrak, bahkan si pemilik usaha tak bisa menekan hal seperti itu padanya. Ia benar-benar pekerja freelance sejati.

Sekuter menepi di depan gerbang setinggi hampir dua meter, Marra turun dan melepas helm, pelindung kepala saja masih kebesaran untuknya, tapi si tupai kecil tak pernah memusingkan hal yang tak perlu didebatkan, ia hanya tahu bekerja dan mendapat uang.

"Itu belnya," ucap Marra. Ia mengeluarkan dua kotak pizza bertumpuk dari box di belakang sekuter dan menghampiri gerbang, menekan bell seraya menunggu seseorang menerima orderan di tangannya.

Tak berselang lama sebuah pintu di sisi gerbang terbuka, gadis cantik dengan dress polkadot hitam abu-abu muncul dan tersenyum.

"Ah, permisi." Marra menyapa. "Aku pengantar pizza." Ia mengulurkan barang di tangan.

"Baiklah, ini uangmu. Terima kasih sudah mengantarnya tepat waktu, teman-temanku baru saja mengeluh di dalam."

Marra mengangguk. "Selamat menikmati, aku permisi."

"Ya." Pintu kembali tertutup rapat, Marra memasang helm lagi, ia merogoh saku jaket dan membuka lipatan kertas berisi daftar pemesan pizza hari ini, baris terakhir. "Racher Art?" Marra menerawang. "Aku pernah mendengarnya beberapa kali, mari kita lihat maps." Ia beralih membuka ponsel. "Ah, ternyata di sana, tak jauh dari tempat ini." Marra kembali melanjutkan urusannya untuk pizza terakhir.

***

"Kenapa tiba-tiba mendung, apa prakiraan cuaca hari ini salah?" Jose menatap situasi di luar melalui kaca tebal di ruang utama Racher Art, ia bahkan memegang pembersih kaca. "Kapan pizza yang kuinginkan datang?"

"Apa pizza bisa terbang atau berjalan sendiri?" Suara tersebut berasal dari seorang wanita di sisi pria bertatto, mereka duduk di sofa tak jauh dari posisi Jose. Sebotol wine dengan tiga gelas sloki, sebungkus rokok serta pemantik tergeletak di permukaan meja. Wanita itu menyulut ujung rokok nan sudah tersemat di bibir. "Mungkin kau harus mengoceh pada si pengantar pizza karena dia membuatmu kelaparan."

Jose berkacak pinggang menatapnya. "Kau benar, Bianca. Harus kumarahi habis-habisan sampai dia menangis."

Bianca tersenyum miring, sembari menyesap rokoknya ia bersandar pada dada bidang berbalutkan kaus hitam yang melekat di tubuh pria bertatto. "Apa rencanamu malam ini?"

"Tidak ada." Denis mengangkat gelas sloki berisi sedikit wine, ia meneguknya hingga habis.

"Kalau begitu mari bertemu di 24night."

"Tentu."

Jose menyingkir menuju ruang lain dari gedung dua lantai milik sahabat sekaligus bosnya, tak berselang lama terdengar suara sekuter berhenti di depan Racher Art, buru-buru Jose berlari keluar karena siap memaki si pengantar pizza yang berdiri memunggungi seraya melepas helm.

"Denis, lihatlah bagaimana pekerjamu akan memaki pengantar pizza," ucap Bianca seolah siap menikmati kemarahan Jose, tapi Denis sama sekali tak melihat ke arah temannya sementara Jose sudah berkacak pinggang di belakang gadis pengantar pizza yang baru membuka box besarnya.

"Hey, kenapa kau begitu lama? Hampir tiga puluh menit sejak aku memesannya di aplikasi, apa kau tak memprioritaskan pelangganmu?" Jose memulai ocehannya. "Apa kau—" Bibir pria itu terkatup rapat saat Marra menoleh dan tersenyum.

"Aku benar-benar minta maaf dan bukan sengaja melakukannya, sekali perjalanan aku mengantar ke enam tempat dan kau mendapat bagian terakhir. Lalu, saat perjalanan menuju kemari hampir saja sekuterku menabrak anjing kecil di tengah jalan, ternyata kaki anjing itu sudah terluka, sepertinya dia sudah disiksa." Marra menghela napas berat, memasang tampang menyesal karena mengingat lagi anjing kecil tadi, ia bahkan tak bisa membawanya pulang ke rumah.

"Ah begitu." Jose melunak, ia bahkan tersenyum, lalu mengusap tengkuk. "Aku sudah salah paham, aku harus minta maaf padamu."

"Bukan masalah besar." Marra memberikan kotak pizzanya.

"Uang, ya?" Jose meraba saku celana. "Ada di dalam, tunggu sebentar." Ia buru-buru masuk dan meletakan kotak pizza di permukaan meja, membuat kening Bianca berkerut karena ekspresi Jose justru tampak senang, ke mana perginya amarah itu?

"Denis, berikan uangmu." Saat Denis baru menarik dompet dari saku celana, Jose buru-buru merebutnya. "Kenapa gadis itu menggemaskan sekali."

"Apa? Bukankah kau sempat memarahinya tadi, sekarang berubah?" tanya Bianca.

"Dia terlalu manis untuk dimaki-maki, dia seperti lolipop." Jose keluar dan memberikan selembar uang yang diambilnya dari dompet Denis. "Ambil saja kembaliannya."

Mata Marra membesar. "Benarkah? Tadi kau begitu kecewa padaku, jadi harus kuberikan kembaliannya." Ia merogoh saku jaket.

"Tidak, tidak perlu. Aku bersungguh-sungguh. Anggap saja permintaan maafku karena sudah keterlaluan."

"Hey, sudah kubilang semua itu bukan masalah." Marra tersenyum, ia menarik tangan Jose dan meletakan uang kembalian di sana. "Semoga kau menikmati pizzanya, aku harus kembali sekarang." Ia menengadah ke langit. "Sudah hampir hujan." Ia memakai helm dan bergegas duduk di jok sekuter, tapi baru saja memutar kunci, hujan turun sekaligus deras. Marra bergegas menyingkir di sisi Jose.

"Nona pengantar pizza, sepertinya kau harus bertahan sebentar di sini," ujar Jose, mungkin ia akan menikmati momen sederhana ini.

"Tidak bisa, aku harus segera mengembalikan sekuter dan pulang ke rumah. Apa kau tak memiliki jas hujan di dalam sana?" Marra menoleh ke belakang, tampak sepi manusia, ia memicing pada Jose seperti curiga akan sesuatu. Hujan seperti ini dan mereka hanya berdua, ia memikirkan kemungkinan terburuk yang terjadi seraya menyilang tangan di dada, upaya melindungi diri. "Tidak! Tidak boleh!" Marra mulai galak.

"Apa?" Jose mengangkat sepasang tangannya. "Sungguh, aku bukan pria jahat. Apa yang kau pikirkan?"

"Kalau begitu pinjamkan aku jas hujanmu."

"Sebentar, aku akan mengeceknya di dalam." Jose menyingkir, ia tak peduli pada aktivitas Bianca serta Denis di sofa. Wanita itu entah sejak kapan sudah duduk di pangkuan Denis, mengalungkan tangan sembari mengusap lembut wajah laki-lakinya sebelum saling memagut bibir penuh gairah.

Sementara Jose mencari sesuatu, ia menemukan sebuah jas hujan milik Denis di laci tempat eksekusi tatto, tapi menatapnya begitu lama. "Apa aku harus meminjamkan benda ini pada gadis itu?" Ia tersenyum simpul, lantas menggeleng. "Tidak, lebih baik dia terjebak hujan di sini. Bukankah kami bisa mengobrol sebentar, dia bisa menjadi teman bicara saat Denis serta Bianca membuat panas suasana." Jose menutup laci. "Aku pria baik, aku takkan melukai gadis pengantar pizza itu." Ia penuh percaya diri dan kembali menghampiri Marra seraya memasang wajah penuh sesal, berpura-pura.

"Kau memilikinya, bukan?" tanya Marra, tapi melihat Jose menggeleng membuat gadis itu mendesah kesal. "Kau serius? Sudah mencari dengan benar?"

"Tentu, aku sudah melakukannya dari sudut ke sudut. Jadi, Nona. Kau harus bertahan sebentar di sini, mari masuk."

Marra menggeleng cepat. "Tidak mau."

"Aku tidak sendirian di sini, ada bosku serta temannya."

"Semua laki-laki?"

"Tidak, dia Bianca, teman kencan bosku. Mereka ada di sana dan siap menikmati pizza yang kau bawa." Jose menunjuk pada sofa di sisi kanannya, jika dari pintu utama Racher Art memang takkan terlihat karena tertutup tirai yang membentang sepanjang dua meter, hanya dibuka jika ingin.

"Benarkah? Kau tidak berbohong?" tanya Marra skeptis.

"Kau bisa mengeceknya sendiri."

Marra melangkah ragu, tapi tetap memberanikan diri masuk, saat ia menoleh ke sisi kirinya—gadis itu hampir mengumpat karena menyaksikan sepasang manusia sibuk bercumbu, ia bergerak mundur. "Tidak mau, apa yang akan mereka lakukan selanjutnya? Kau menipuku, ya?"

"Haish." Jose mendengkus, ia berkacak pinggang dan menoleh ke kanan. "Hey! Bisakah kalian berhenti melakukan itu, kalian membuat gadis ini tak nyaman, dia tamuku. Jika ingin melanjutkannya—naiklah ke atas."

Bianca menjauhkan wajah dari Denis, ia menatap jengkel pada Jose. "Sejak kapan karyawan mengatur bosnya, kau tak lihat perbuatan karyawanmu itu, Denis?"

"Biarkan saja."

Jose tersenyum miring, ia merasa menang sekarang, lantas kembali menatap Marra. "Mereka takkan melakukan hal itu lagi, jadi masuklah."

"Apa boleh aku duduk di sana saja, aku tak ingin bergabung dengan mereka." Marra menunjuk ruang kosong di sisi kaca tebal.

"Tentu, aku akan mengambil dua kursi, tunggu sebentar." Jose kembali bersemangat, ia menata dua kursi di sisi kaca seperti berada di sebuah kafe. "Duduklah, kau mau minum kopi?"

"Kau tak punya racun atau narkoba, kan?" Gadis itu belum sepenuhnya percaya.

"Tidak sama sekali."

Marra mengangguk ragu, ia memberanikan diri masuk kembali dan duduk di kursi.

"Aku akan membuat kopi untukmu." Saat Jose menyingkir, Marra menoleh ke kanan, tadi ia tak terlalu memperhatikan sepasang manusia di sofa karena terkejut, tapi sekarang Marra bisa melihat jika pria berkaus hitam yang disebut 'bos' oleh Jose memiliki banyak tatto memenuhi kedua lengan hingga pergelangan tangan, bahkan kulit lehernya hampir saja tak terlihat.

Pria itu menoleh ke arahnya, membuat mereka beradu pandang selama beberapa detik sebelum Marra memutus kontak dan mengalihkan fokus untuk membuka ponsel.

"Hey, apa yang kau lihat? Aku di sini." Bianca mengarahkan wajah Denis agar melihatnya lagi. "Selama kau bersamaku, jangan pernah melihat ke arah lain. Oke?"

***

Bab 2

"Ayo habiskan, Bu. Setelah ini minum obatnya." Marra masih berlutut di depan kursi roda yang diduduki Lauren, ibunya. Gadis itu setia memegang piring serta sendok, ia sibuk menyuapkan pengisi perut agar sang ibu lekas mengonsumsi obat hariannya dan beristirahat.

Marra beranjak meletakan alat makan di sebuah ember berisi tumpukan pakaian yang akan ia jemur, lantas berganti mengambil segelas air serta beberapa butir obat untuk Lauren. "Ibu pintar, Ibu yang terhebat," puji Marra setelah Lauren menelan semua obat beserta air minumnya. "Sekarang Ibu harus beristirahat di kamar, mari kita pergi ke sana." Ia mendorong kursi roda masuk ke rumah sewa sederhana yang sudah mereka tinggali hampir dua tahun ini, hanya ada satu kamar, sebuah dapur sempit, kamar mandi, ruang tengah serta halaman. Marra seringkali beristirahat di ruang tengah pada sebuah sofa, karena sudah terbiasa—hal itu bukan masalah lagi untuknya.

Lauren mengidap skizofrenia sejak bertahun-tahun lalu dan sang suami kabur melepas tanggung jawab, akhirnya hanya Marra sendirian mengurus sang ibu penuh kesabaran. Jika Marra bekerja, ia akan menitipkan Lauren pada Bibi Romel yang tinggal di samping rumah mereka, lagipula Lauren tak banyak melakukan aktivitas selain hanya duduk di kursi roda atau merebahkan tubuh di ranjang, wanita itu tak pernah bersuara, ia sibuk menatap kosong tanpa berfokus pada suatu hal.

Setelah menarik selimut, Marra bergerak keluar dan membereskan alat makan Lauren yang kotor sebelum menjemur pakaian basahnya di halaman, baru saja ia meletakan ember di kamar mandi, sebuah dering ponsel memanggil dari ruang tengah, Marra meletakannya di dekat televisi.

"Luke? Apa aku harus bekerja hari ini?" Marra bertanya-tanya, ia mengangkat teleponnya. "Hallo, apa aku harus berangkat di hari liburku?" Ia duduk di sofa.

"Tidak, bukan seperti itu. Aku menghubungimu karena ingin menawarkan sesuatu, kau menyukai uang, jadi seharusnya kau menerima tawaran ini, Marra."

"Tawaran apa?"

"Bukankah kau pernah menjadi seorang DJ?"

"Ya, lalu?"

"Temanku, pemilik kelab 24Night membutuhkanmu. Bisakah kau datang ke sana? Aku yakin dia akan membayar mahal pekerjaanmu, Marra."

"24Night?" Marra mengingat sesuatu, ia cukup familier mendengar nama diskotek tersebut.

"Ya, bagaimana? Kau pasti bisa kan? Lagipula aku sudah merekomendasikan namamu padanya sebelum menelepon, jadi kau harus datang malam ini."

"Baiklah, akan aku coba."

"Semoga beruntung." Sambungan telepon berakhir, Marra merebahkan tubuhnya di sofa.

***

"Luke berkata, jika aku harus langsung naik ke lantai tiga saja karena di sana ruang kerja Matthew berada," gumam Marra selepas turun dari jeepney dan berdesakan dengan penumpang lain, ini seringkali membosankan, tapi apa daya ia tak memiliki kendaraan sendiri.

Gadis itu menggendong ransel sembari menyusuri trotoar, dari kejauhan sebuah marquee berukuran besar dengan gemerlap lampu di sekelilingnya menonjolkan nama kelab 24Night, Marra hanya perlu menyebrang jalan dan sampai. Ini bukan pertama kali Marra mendatangi sebuah tempat kerja baru, jadi ia terbiasa percaya diri meski entah apa yang dihadapinya di dalam sana.

Gadis itu menemukan banyak kendaraan di halaman parkir yang cukup luas, pengunjung rupa-rupa manusia dengan penampilan malam mereka nan cukup membangkitkan hasrat lawan jenis, ini bukan hal asing lagi untuk dunia malam. Marra terus bergerak tanpa menggubris beberapa pria yang bersiul menggodanya, ia mengeluarkan kartu identitas untuk ditunjukan pada dua orang penjaga di depan.

"Gadis kecil, kau yakin mendatangi tempat ini?" tanya pria berkumis tipis di depan Marra, usai melirik kartu identitas si tamu, ia menatap langsung gadis mungil itu.

"Iya." Marra mulai menerka-nerka tentang isi pikiran pria itu. "Bukankah usiaku sudah legal untuk masuk ke dalam?"

"Iya, cukup umur." Pria itu mengembalikan kartu identitas Marra. "Hanya saja aku rasa gadis sepertimu lebih baik mendatangi bioskop untuk menonton film."

Marra tersenyum. "Malam ini pekerjaanku ada di dalam gedung, aku harus menemui Matthew."

"Tuan Matt?"

Marra mengangguk. "Ya, aku dengar dia membutuhkan disk jockey pengganti, aku akan melakukannya."

"Kau mampu?"

"Tentu saja, bisakah aku masuk sekarang?"

Si penjaga menyingkir. "Semoga beruntung, perhatikan jalanmu, di dalam banyak kerumunan."

Marra mengangguk, ia menjejakan kakinya masuk ke 24Night untuk pertama kali, baru melewati pintu utama saja aroma pekat alkohol sudah menyapa pernapasan, penampilannya tentu tak sexy seperti wanita malam kebanyakan, ia hanya mengenakan celana jeans serta sebuah hoodie pelangi, gadis yang selalu terlihat manis dan seringkali dianggap anak kecil.

"Lantai tiga, lantai tiga, mari menuju lantai tiga." Hanya kalimat itu nan terus mencuat dari bibir Marra saat melewati banyak orang, meja barista yang panjang dan diisi beberapa manusia. Ternyata altar untuk disk jockey memang kosong, jadi area dance floor terpantau sepi.

Marra bergegas menghampiri tangga menuju lantai tiga usai bertanya pada seorang barista, ia bergerak cukup cepat seraya menunduk hingga tak sengaja bersinggungan dengan lengan kekar seseorang dan tersungkur ke lantai di antara pengunjung lain, tapi mereka melewatinya begitu saja.

Marra menengadah menemukan sebuah tangan terulur, ia tetap berdiri tanpa menerima uluran tangan tersebut. Saat ia mendongak, ditemukannya wajah seseorang yang dirasa tak asing sampai Marra terdiam beberapa saat.

"Kau baik-baik saja?" Suara berat dan serak mengusik telinga Marra.

"Ah, aku tak apa. Maaf menyenggolmu, aku buru-buru." Marra menyingkir, tapi sejenak ia terhenti dan menoleh memperhatikan punggung berkaus hitam yang cukup lapang untuk didekap, lengan serta lehernya dipenuhi tatto mulai menjauh, menghilang di antara kerumunan pengunjung. "Aku merasa pernah melihatnya, apa ini deja vu?" Marra mengedik, ia lanjut melangkah menghampiri anak tangga lain.

***

Meski hanya hoodie serta celana jeans, Marra tetap percaya diri beraksi di altar khusus untuk disk jockey, suara musik yang menggema dari speaker membuat banyak pengunjung 24Night menggila di area dance floor. Aksi Marra terlihat enerjik, ia juga tersenyum lebar dan berjoget cukup lincah, headphone terpasang di kepala, beberapa kali tangannya menyentuh turntable saat mempercepat tempo musik serta mengganti pitch agar terdengar lebih selaras. Ia mampu membagi fokusnya saat ini, tak masalah orang lain menganggap gadis itu seperti bocah karena tubuh mungil serta wajah menggemaskannya, mereka tak tahu jika Marra bisa melakukan banyak hal seperti sekarang.

Lampu bulat penuh gemerlap cahaya berputar di langit-langit ruangan, suasana redup semakin menghanyutkan banyak orang untuk aktivitas mereka. Matthew baru saja turun seraya menyesap batang rokok, ia menghampiri beberapa teman dekat yang menjadi pelanggan kelab malamnya, mereka duduk berjejer di sebuah sofa panjang di antara sofa-sofa lain yang tertata rapi.

"Matt, sejak kapan kau memperkerjakan anak kecil. Apa itu legal?" tanya Jamie saat Matthew baru saja duduk di sampingnya, beberapa gelas sloki, botol alkohol, sebungkus rokok lengkap dengan pemantik serta sebuah asbak tergeletak di permukaan meja.

"Siapa?" Dahi Matthew berkerut. "Kau tahu sendiri tempat usahaku bisa tutup jika aku memperkerjakan anak di bawah umur, jadi siapa yang kalian maksud?" Ia kebingungan.

"Dia." Menggunakan gerak dagu, Jamie menunjuk seorang disk jockey yang beraksi. "Dia anak-anak bukan? Apa kau tak menemukan pengganti Leah yang lain? Tempat usahamu akan segera ditutup." Ia mendengkus, lalu meneguk isi gelas sloki hingga habis.

Matthew melihat Marra, lalu tertawa. "Kau serius?"

"Apa yang Matt tertawakan?" Jose serta Denis baru bergabung.

"Sepertinya cepat atau lambat kita tak bisa lagi datang kemari," sahut Jamie.

"Benarkah? Kenapa?" Jose menatap Jamie serta Matthew bergantian. "Ada masalah apa, Matt?" Ia menyenggol bahunya.

"Jamie menuduhku memperkerjakan anak kecil." Matthew masih tertawa.

"Jose, kau lihat siapa pengganti Leah."

"Leah?" Jose melihat ke altar DJ, ia langsung terpaku begitu menemukan Marra di sana, Denis melakukan hal yang sama, dan ekspresi mereka sama.

"Aku benar, bukan? Matt seharusnya tak seperti ini, kalaupun dia membutuhkan pekerjaan, tidak di tempat seperti ini." Jamie menasihati.

"Tunggu sebentar." Matthew menekan puntung rokoknya ke asbak, tawa pria itu sudah lenyap tak berbekas seperti asap rokoknya yang lesap. "Usia gadis itu di atas 21 tahun, apa yang kau khawatirkan? Dia memang mungil, dia—"

"Menggemaskan," komentar Jose, ia masih terus memperhatikan Marra tanpa jeda.

"Benar, dia menggemaskan. Jamie, apa kau mengingat Luke?" tanya Matthew.

"Si tukang pizza itu?"

"Benar, gadis itu bernama Marra. Dia adalah pengantar pizza di tempat Luke, dan Luke sendiri yang merekomendasikannya padaku. Dia bukan anak-anak, dia seorang pekerja keras." Matthew berusaha mematahkan semua keraguan Jamie.

"Matt benar, dia adalah pengantar pizza. Dia pernah menunggu hujan reda di Racher Art tempo hari," ungkap Jose, ia menyenggol Denis. "Aku benar, kan?"

Denis mengangguk, tatapannya sejenak beralih dari Marra untuk Jamie, lalu kembali lagi.

"Jadi, gadis itu seorang pengantar pizza dan menjadi DJ?" Jamie manggut-manggut, kini tatapannya berganti kekaguman pada Marra. "Apa dia memiliki kehidupan yang keras di luar sana?"

"Mungkin saja." Matthew beranjak. "Aku harus mengurus sesuatu, jangan ganggu anak kecilku itu agar dia bertahan hingga Leah kembali." Ia menyingkir.

"Tingkah Matt seperti seorang ayah yang posesif."

"Benar," sahut Jose, "tapi, aku suka aksi gadis itu." Ia tersenyum mengingat kesan pertama bertemu Marra di Racher Art, lalu beranjak. "Sepertinya aku akan turun ke dance floor demi menghargai kegigihannya berjoget dan menyalakan musik di sana." Ia menyingkir penuh semangat.

"Apa itu tadi? Apa Jose menyukainya?"

"Entah." Denis bersandar, menarik ponselnya dari saku celana, sembari membalas beberapa chat, arah mata pria itu berulang kali melirik Marra seperti ikut terhipnotis.

"Malam ini kau tak memiliki kencan?" tanya Jamie.

"Martha akan segera datang."

Jamie berdecak kagum, ia menepuk bahu Denis. "Sepertinya wajah tampanmu benar-benar menjadi primadona sampai semua wanita mendekat dengan mudah, jujur saja aku masih sangat iri denganmu. Bisakah kau membaginya satu atau ... dua mungkin." Smirk muncul, ia yakin Denis memahami perkataannya.

"Itu mudah, aku akan bicara dengan mereka setelah selesai." Ia tersenyum dan beranjak, Denis sudah terkenal sebagai womanizer di kalangan teman-temannya, siapa yang meragukan pesona pria itu—jika setiap wanita sangat mudah melemparkan diri ke ranjang Denis dan rela menghabiskan uang mereka untuknya. Sumber uang Denis Arthur Racher benar-benar mengalir deras.

***

Bab 3

"Apa semua baik-baik saja?"

Marra memasang helm seraya menoleh,  pertanyaan tadi berasal dari Luke yang baru memasukan beberapa dus pizza pada box besar di sekuter pegawainya, karena tak kunjung menjawab—Luke ikut menatap intens gadis berjaket merah muda itu.

"Kenapa? Kau diam? Bagaimana keadaanmu di tempat kerja? Maksudku sudah beberapa malam di 24Night," ucap Luke lagi, ia memang dikenal sebagai bos yang penuh perhatian dan loyalitas.

"Oh itu, semua baik-baik saja."

"Matthew tidak menyusahkanmu, kan?"

Marra menggeleng. "Tidak sama sekali, sudah tiga malam aku berada di sana, dia pria yang profesional, dan kekasihnya sangat ramah."

"Kekasih?" Luke berpikir. "Ah, maksudmu Celine?"

"Benar, kami sempat berinteraksi, dia begitu cantik." Marra tersenyum. "Kalau begitu, aku akan mengantar semua pizza itu sekarang. Langit siap menangis lagi." Keduanya menengadah—menemukan angkasa siang ini memang mulai tidak ramah, sudah abu-abu dan sebentar lagi mungkin berkelakar sesuka hati.

"Hati-hati di jalan, ingat untuk tidak melanggar rambu-rambu lalu lintas."

"Aku paham." Marra duduk di jok motor, menyalakan mesin sebelum melaju membawa semangatnya pergi. Luke masih bertahan di sana, bersidekap menatap kepergian Marra hingga gadis itu berbelok di sebuah pertigaan dan lenyap dari pandangan Luke.

Pria berapron cokelat yang memiliki cita-cita sebagai sous-chef atau menjadi pastry chef di Paris itu memang berkharisma, tubuhnya tegak berisi setinggi 170centi yang membuat Marra acapkali menengadah jika berkomunikasi dengannya—menjadi idola tersendiri bagi sebagian pelanggan bahkan karyawan di kedai pizza nan sudah ia kelola dua tahun ini.

Sejak lulus kuliah Luke benar-benar ingin menyingkir ke Paris, ia mendambakan dunia pastry dengan keharuman gula-gula yang manis, tapi mimpi itu terpaksa Luke kubur setelah sang ayah mengalami kecelakaan dan menderita struk yang membuatnya hanya bisa duduk di kursi roda, untuk berbicara saja kesulitan.

Luke memiliki beberapa saudara, tapi hanya ia yang belum berumahtangga di sini, sementara dari mereka tidak tinggal di Manila dan berpencar di Cebu, Boracay serta lokasi lain. Alhasil, hanya Luke yang bisa mengurus sang ayah meski sekarang ia sudah menugaskan perawat 24jam di rumah karena ia sendiri mengurus kedai pizza nan menjadi peralihan rasa kecewa akibat gagal mengejar mimpi ke Paris.

Nasib pria itu hampir seperti Marra, mengurus orangtua sendiri sekaligus bekerja keras, tapi Luke jelas lebih beruntung dari Marra yang bahkan tak memiliki saudara lain untuk diandalkan, gadis itu benar-benar banting tulang siang malam demi mengurus pengobatan serta biaya hidupnya bersama Laura.

***

"Bukankah dia sangat manis?" Tangan-tangan Celine sibuk menata beberapa aster berbeda warna ke sebuah vas kaca di meja kerja Matthew, wanita itu adalah kekasih Matt sejak mereka masih SMA, sebut saja siap menjadi calon istri di kemudian hari. Ia duduk di kursi Matthew, sementara kekasihnya memangku laptop di sudut sofa, mengerjakan tabel pengeluaran bulan ini.

"Siapa?"

"Gadis kecilmu." Celine tersenyum dan berkedip saat Matthew menatapnya penuh tanda tanya. "Marra."

"Lalu, kau cemburu?" Giliran Matt tersenyum miring.

Celine menggeleng, ia menggunting batang bunga yang terlalu panjang. "Tidak, gadis itu terlihat tak memiliki ketertarikan terhadap siapa pun, kurasa segala hal yang ada di pikirannya sebatas tentang bagaimana bekerja dengan baik dan membuat atasan senang, lalu besoknya lagi dia akan bertingkah seperti itu tanpa memusingkan hal lain."

"Itu pola pikir yang bagus." Matthew kembali fokus pada laptop. "Jadi, kau juga menyukainya?"

Celine mengangguk. "Bagaimana mungkin gadis semanis itu diabaikan, aku ingin berteman dengannya, tapi kurasa Marra terlalu sibuk untuk sebatas duduk bersama di kedai kopi. Aku yakin dia memiliki hal lain untuk dikerjakan."

"Karakter baik itulah yang membuatku bersedia menerima Marra, terlebih Luke sendiri yang mengajukannya. Aku dengar ibunya menderita skizofrenia."

Gerak tangan Celine terhenti saat hendak memasukan sebatang aster hijau ke dalam vas, ia memicing. "Separah itu? Pasti hidupnya berat, tapi dia terlihat ceria saja, atau mungkin hanya mengeluh saat sendiri." Celine menopang dagu. "Ini terlalu keras untuknya." Ia mendengkus.

"Lebih baik jangan bertanya jika Marra memang tak mengungkapkan semua sendiri, dia pasti tak suka menjadi beban untuk orang lain. Dia terlalu dewasa."

"Benar, Matt. Kapan lagi kautemukan pekerja yang loyalitas, bahkan kau hanya bisa menemukan para wanita penghambur uang di sini." Meski Celine juga sadar tentang kemungkinan Matthew dirayu banyak wanita malam di tempat kerjanya sendiri, tapi ia meyakini Matt takkan bertindak lebih dan menjaga perasaan kekasihnya. Alasan mereka masih bersama sejauh ini adalah saling percaya, ketika banyak gadis di sekolah menggilai sosok Denis, hanya Celine yang bertingkah tak acuh dan membuatnya seperti sinar matahari di mata Matthew.

Juga, ketika banyak laki-laki melihat seseorang melalui tubuhnya, bagi Celine hanya Matt yang terlihat seperti manusia normal, ia yakin memiliki masa depan yang menyenangkan jika terus berada di sisi pria itu sebab saling melengkapi.

Tok-tok-tok!

"Masuklah."

Pintu ruang kerja Matthew terbuka dan memperlihatkan sosok mungil Marra tersenyum di sana, Celine lantas bangkit seraya membalas semringah lengkung di wajah gadis itu.

"Kau sudah datang," ucap Matt.

"Ya, aku langsung mulai sekarang."

"Tunggu sebentar." Celine meraih buket aster lain yang dibungkusnya menggunakan koran, jelas bukan bunga yang ia acak-acak tadi. Ia bergerak menghampiri Marra. "Apa kau sudah makan?"

Marra mengangguk. "Iya."

"Baguslah, kau harus mengisi energimu sebelum beraksi, dan ini untukmu." Celine memberikan buketnya. "Aku memetik setiap aster dengan warna berbeda dari perkebunan, sebagian untuk mengisi vas di ruangan ini, dan sebagian lagi untukmu. Kau harus menghias rumahmu agar berwarna."

"Terima kasih banyak."

"Okey, bekerjalah dengan baik." Celine mengusap lembut puncak kepala Marra, melihatnya seperti menemukan seorang adik.

"Aku permisi."

***

Ini malam keempat Marra beraksi sebagai disk jockey di 24Night, sebagian orang mulai mengenalnya, bahkan meminta nomor ponsel serta menawarkan tumpangan jika gadis itu pulang, tapi ini Marra dan ia akan menolak halus karena tak ingin terpaut hal selain pekerjaan selama berada di 24Night.

Menjalin sebuah hubungan atau bermain dengan laki-laki sepertinya tak terpikir dalam benak gadis 23 tahun tersebut, ia tak ingin beralih fokus dari mengurus Laura, ia hanya memikirkan cara mendapat uang yang banyak agar kehidupannya kelak menjadi lebih baik, itu terasa adil, bukan?

Marra kembali beraksi, speaker memperdengarkan musik yang berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ia sibuk mengusai controller yang berperan ganda sebagai turntable sekaligus mixer untuk mengatur nada, volume serta panning FX. Menguasai audience di area dance floor menjadi kepuasan seorang disk jockey, dan ia piawai melakukan hal itu.

Denis serta beberapa temannya baru datang, jam sepuluh kurang, Jose bahkan tak pernah melewatkan satu malam pun aksi Marra selama berada di 24Night. Gadis itu cukup membius perhatian Jose seperti cahaya lilin di ruang gulita, menjadi fokus yang teramat diinginkan.

Malam ini Denis bersama Selena, tapi mereka tetap bergabung dengan teman-teman Denis dan menikmati whisky serta keriuhan yang menggema di ruangan tersebut.

"Bukankah ini membosankan?" ucap Jamie, ia menggoyangkan gelas sloki berisi sedikit cairan whisky di depan wajahnya. "Benar-benar membosankan."

"Kau membenci whisky?" tanya Jose.

"Bukan, tapi suasananya."

"Lalu, kau akan merobek pakaianmu dan menari di atas meja? Itu pasti seru." Jose tersenyum geli.

Jamie mendengkus kesal, ia meletakan gelas slokinya sedikit keras hingga menimbulkan suara akibat bersentuhan dengan permukaan meja. "Apa itu lucu? Kenapa tidak minta orang lain saja yang melakukannya."

"Siapa? Siapa?" Jose menatap sekitar. "Apa Matthew memiliki penari striptis di sini?"

"Dia takkan melakukannya, ada Celine di atas," sahut Denis.

"Oh, si gadis baik. Apa kau mau melakukannya, Selena?" Jose tersenyum nakal.

"Enyahlah, aku hanya memiliki waktu bersenang-senang dengan Denis." Selena sampai mendorong lengan Jose, tapi pria itu hanya terpingkal.

"Mari kita bertaruh," ucap Jamie, ia mulai bersemangat.

"Bertaruh apa? Aku tak memiliki uang, bos Racher Art belum membagi gaji." Jose menyindir Denis.

"Apa sekarang akhir bulan?" Si bos Racher Art berkomentar.

"Tidak, itu terlalu mudah. Maksudku adalah ... dia." Jamie menunjuk disk jockey seraya mengedipkan kelopak kirinya.

"Marra?" Jose terhenyak. "Apa yang ingin kau lakukan, bertaruh apa, bodoh!"

"Kenapa tiba-tiba emosi, aku bahkan tak membahas masalah uang, apa kau sudah membaca isi kepalaku, hm?"

"Lalu apa? Jangan macam-macam pada gadis itu, dia terlalu polos." Jose kentara tak terima jika hal buruk terjadi pada Marra.

"Polos?" Tiba-tiba Selena terbahak. "Apa benar ada perempuan polos di tempat seperti ini? Jose masih mempercayai hal itu?"

Rahang Jose mengeras, ia menatap tak suka pada Selena. "Dia tak sepertimu."

"Tentu saja, bukankah banyak orang berbicara jika gadis itu menolak tumpangan pulang serta enggan membagi nomor ponselnya. Apa itu strategi tarik ulur atau jual mahal?" Jamie menimpali.

"Bisakah kau diam?" Jose semakin kesal.

"Lakukan saja." Denis angkat bicara, ia menatap intens si DJ. "Apa yang ingin kau lakukan, Jamie?" Ia memberi peluang besar menyetujui keinginan Jamie.

"Sangat mudah, minta nomor ponselnya, jika salah satu dari kita mendapatkannya maka—"

"Aku akan mentraktirnya minum selama satu minggu di sini," sela Selena, ia tersenyum menatap ketiga pria itu. "Setuju?"

"Setuju!" Jamie berseru penuh semangat, Jose diam dan pasrah, sementara Denis mengangguk saja. "Kalau begitu sebaiknya aku yang memulai lebih dulu. Jose, lihatlah tingkahku." Jamie merasa percaya diri, ia beranjak menghampiri altar disk jockey, beberapa orang memperhatikan gerak-gerik pria itu.

Terlihat Jamie mengajak Marra bersalaman, tapi gadis itu menolaknya, entah apa yang ia katakan, Marra sebatas menggeleng sebelum Jamie kembali bersama wajah kusut. "Dia berkata tak memiliki ponsel, bukankah itu kebohongan kuno?"

Jose terbahak mendengar penolakan tersebut. "Aku sudah mengatakannya padamu, dia takkan mudah."

"Kalau begitu sekarang giliranmu."

Jose menggeleng. "Aku tak menyetujuinya, bukan? Jadi, ini antara kau dan Denis."

"Giliranmu, Denis. Takkan ada wanita yang menolakmu, jadi santai saja. Berikan padaku jika kau menerima nomor gadis itu."

Sekarang, giliran Denis beranjak membawa langkah lebarnya menghampiri Marra.

***

Bagaimana kesanmu setelah 3 chapter?

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED