Bab 1

Angelina Bale tidak ingat mengapa dan sejak kapan dia berada di tempat ini. Lorong sempit yang dilewatinya sunyi dan berwarna putih. Dia mempercepat langkah, ingin mencari tahu apa, atau siapa, yang menunggunya di ujung sana. Namun, kakinya terhalang sesuatu.

Dia menunduk dan mendapati ujung gaun panjang menutupi keseluruhan kaki-kakinya. Dia tidak bisa menemukan alasan mengapa dirinya memakai gaun. Bahkan berwarna merah muda dan dihiasi banyak renda dan pita.

Angie sedikit mengangkat gaunnya agar bisa lebih leluasa bergerak. Namun, meskipun rasanya sudah bermenit-menit berlari, dia belum juga mencapai ujung lorong. Napasnya terengah-engah dan kakinya sudah letih bergerak. Ketika dia akhirnya memutuskan untuk menyerah, indera pendengarannya menangkap alunan piano. Melodi lembut itu telah mengembalikan kekuatannya. Dan ajaibnya, dia berhasil mencapai ujung lorong hanya dalam beberapa langkah.

Ruangan di ujung lorong terlihat sangat menakjubkan. Segalanya tampak putih; kursi-kursi yang melingkari meja bundar, tirai-tirai di setiap sisi jendela, juga panggung di seberangnya. Bunga lili dan mawar putih menjadi penghias panggung dan altar di bagian tengahnya. Seorang pria berdiri membelakanginya di depan altar, dalam setelan tuxedo yang juga berwarna putih. Angie tidak bisa mengenali pemilik rambut ikal sewarna tembaga itu.

Suasana ini... apakah seorang kenalannya akan menikah?

Tiba-tiba pria itu menoleh, namun Angie tidak bisa melihat wajahnya yang diliputi sinar menyilaukan dari lampu sorot di atas panggung. Namun, tangan yang terbungkus lengan jas putih itu terulur, seolah-olah mengundang Angie untuk datang kepadanya.

Merasa heran namun tertarik oleh rasa penasaran, Angie berjalan perlahan menghampirinya. Jarak mereka semakin dekat. Angie menurunkan gaunnya agar bisa meraih tangan lebar yang terulur itu. Ujung jari-jarinya telah menempel di atas ujung jari-jari pria itu. Jantungnya berdebar sangat kencang hingga nyaris meledak saat mendongak, mencari tahu wajah pemilik badan tegap di depannya.

Bunyi dering memekakakkan telinga yang muncul secara mendadak membuat Angie terlonjak kaget.

Sejenak dia hanya mengerjap, kemudian matanya menangkap permukaan datar berwarna putih di depannya. Selama beberapa saat dia menatap bingung benda itu, yang ternyata merupakan langit-langit sebuah ruangan, flatnya. Tidak lama kemudian sebuah tawa pendek lolos dari bibirnya.

“Astaga, itu hanya mimpi,” katanya setelah berhenti tertawa.

Angie menggulingkan badan ke samping, dia melirik jam persegi di seberang ranjang. Pukul dua belas lebih beberapa menit. Angie tidak bisa memastikan berapa kelebihannya. Yang pasti, jarum panjangnya yang berwarna hitam berada di antara angka satu dan angka dua.

Lantunan salah satu lagu grup band The Chainsmokers yang terdengar dari arah meja mengingatkan Angie alasan mengapa dirinya terbangun. Tangan kirinya menggapai ponsel dan membaca nama Raquel tercetak di layarnya. Seketika erangan tertahan keluar dari bibirnya. Jika saja si penelepon itu bukan teman terbaiknya, Angie akan memilih untuk melemparkan ponsel ke sofa dan menangkupkan bantal ke atas kepalanya seraya kembali berbaring.

Angie mengempaskan setengah badannya yang terduduk di atas tempat tidur. Bibirnya, yang berwarna merah muda alami, mendesah pelan setelah menyentuh tombol jawab.

“Yeah? Ada hal penting apa yang membuatmu menghubungiku sepagi ini?” dia bertanya tanpa basa-basi.

“Pagi? Astaga. Apakah jam dindingmu mati?” tanya Raquel bernada menyindir. Angie membayangkan Raquel memutar bola matanya yang berwarna abu-abu cerah.

“Nah, tidak. Tetapi aku baru tidur jam sembilan tadi. Jadi, sekarang ini masih dini hari menurutku,” jawab Angie gagal menahan kuapnya.

Terdengar dengusan keras Raquel. “Seharusnya kau berhenti menulis cerita remaja konyol itu dan tidur dengan teratur.”

“Jangan sebut konyol.” Angie menguap lagi. “Kau pikir dari mana uang yang kuhabiskan selama menemani kau liburan akhir tahun lalu? Semuanya hasil dari cerita itu.”

“Yeah, maaf. Aku tidak bermaksud mengatakannya dengan cara yang buruk.” Ada nada penyesalan dalam suara Raquel meskipun Angie tidak sungguh-sungguh memarahinya.

“Aku tahu,” kata Angie menjawab. Dan dia memang tahu bahwa Raquel sangat menyesali ucapannya. “Lalu, kau membangunkanku bukan hanya untuk menguliahiku tentang jam tidur ka~?” Angie gagal menyelesaikan kalimatnya karena tidak berhasil menahan kuapnya.

“Sebenarnya tidak. Aku ingin memberitahumu bahwa aku akan datang dan mengajakmu pergi. Aku segera sampai. Setengah satu. Tidak lebih, tidak kurang.”

Angie mengerang. “Aku butuh tidur. Kau tahu sendiri terakhir kali aku memejamkan mata sudah lebih dari empat puluh jam yang lalu.”

“Waktumu tidak tersisa banyak, sebaiknya cepatlah bersiap-siap. Aku janji kau tidak akan menyesali pergi denganku,” kata Raquel seakan-akan tidak mendengar protes Angie. “Sampai ketemu sebentar lagi,” lanjutnya lalu menutup telepon sebelum Angie sempat membantah.

Wanita itu mengumpat pelan meskipun sebenarnya ingin sekali memaki dan membanting ponsel. Namun, dirinya tidak ingin membuang tenaga untuk melakukan hal tidak berguna semacam itu.

Melirik penunjuk waktu di layar ponsel dan memastikan hanya memiliki sekitar lima belas menit untuk bersiap-siap, Angie turun dari tempat tidur. Bibirnya mendesah lagi saat menyeret kakinya menuju kamar mandi yang jaraknya tidak lebih dari sepuluh langkah.

Dalam lima belas menit, Angie berhasil mandi, menggosok gigi, memakai celana jeans dan sweter rajutan tangan berlengan tanggung mencapai siku, serta mengikat keseluruhan rambut sebahunya ke belakang. Menilik kantung matanya tidak tampak terlalu buruk meskipun dirinya hanya punya waktu tiga jam untuk tidur, Angie mengabaikan keberadaan koleksi alat rias, yang jumlahnya tidak banyak, di dalam keranjang. Lagipula dia sudah mendengar bunyi tin sebanyak dua kali yang dikenalinya sebagai bunyi klakson mobil kesayangan Raquel.

Angie meraih tas selempang seukuran novel dan kunci apartemen serta dompet di antara sekian banyak barang yang berantakan di atas meja. Beruntung kamarnya berada persis di samping tangga lantai dua, sehingga dia langsung menuruninya dengan melompati setiap dua anak tangga sekaligus sesudah memastikan pintunya terkunci rapat.

Raquel melambaikan tangan dari celah kaca jendela yang terbuka di samping kursi pengemudi ketika melihat Angie berjalan mendekat.

“Aku harap kau punya alasan yang pantas mengapa membangunkan aku,” kata Angie memperingatkan seraya mengenyakkan diri di atas jok di sebelah Raquel.

Dia memasang sabuk pengaman sementara sahabatnya menjalankan mobil keluar dari area parkir sambil menyengir. Matanya memperhatikan sapuan riasan dan blus biru laut Raquel yang belum pernah dilihatnya sebelum ini. “Dan, omong-omong, kau terlihat cantik.”

“Terima kasih. Aku baru membeli blus ini dua jam yang lalu. Bagaimana menurutmu?”

“Sangat cocok,” kata Angie jujur. Sejak pertama kali mereka bertemu sekitar dua belas tahun yang lalu, Angie tidak pernah satu kali pun melihat sesuatu yang tidak terlihat bagus melekat di badan Raquel.

“Jadi kita akan ke mana?” tanyanya kemudian.

“Nanti kau juga tahu,” jawab Raquel mengulas senyum misterius.

“Hentikan bersikap sok rahasia, Raquel. Katakan saja ke mana kau akan membawaku pergi?”

“Dasar. Kau sama sekali tidak bisa diajak bercanda.”

Angie menaikkan alisnya dengan tatapan menunggu.

“Oke, oke.” Raquel mendesah dengan nada menyerah. “Kita akan pergi makan pizza.”

Bola mata Angelina Bale terbeliak. “Apa? Makan pizza? Jadi kau memaksaku bangun dan menculikku hanya untuk pizza?”

“Menculik? Aku bahkan tidak mengikat tangan dan kakimu.”

“Well, yeah, mungkin tidak secara harfiah.”

Raquel tertawa.

“Kelihatannya kau sadang senang. Aku rasa ini bukan sekadar makan pizza biasa,” kata Angie menebak.

Tidak langsung menjawab, seringai Raquel melebar. “Bisa kau tebak kita pergi dengan siapa?” dia bertanya sambil memutar kemudi mobil ke arah kiri.

“Presiden?” balas Angie asal saja.

Bibir Raquel sedikit mengerut. “Bisakah kau menjawab dengan sesuatu yang masuk akal?”

Kepala Angie masih sedikit pusing akibat kurang tidur. Yang diinginkannya saat ini adalah ranjang nyaman untuknya merebahkan diri, bukan permainan tebak-tebakan ataupun seloyang pizza. Jadi, dia menggeleng.

“Ayolah.”

“Aku sedang tidak ingin main tebak-tebakan.”

“Astaga. Kau sama sekali tidak asyik.”

Angie memutar bola matanya. “Katakan saja. Aku tahu sebenarnya kau sudah tidak tahan ingin segera memberitahuku.”

“Well, jangan kaget. Kau akan bertemu Mr. Right!” seru Raquel tanpa berusaha menyembunyikan nada gembiranya kala menyampaikan informasi tersebut.

Spontan Angie memutar lehernya ke arah Raquel. “Maksudmu, aku akan mendengar berita bagus?”

Angie sangat tahu Raquel sedang tergila-gila pada seorang pria yang disebutnya Mr. Right selama tiga bulan belakangan ini. Dan Angie teringat Raquel berjanji akan memperkenalkan si Mr. Right itu padanya jika hubungan mereka mulai ada kemajuan. “Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal pada status lajangmu?”

Tidak langsung menjawab, Raquel tertawa. “Tidak. Maksudku, belum. Kita hanya akan makan pizza bersama.”

“Dan kenapa aku harus ikut?”

“Seperti yang pernah kuceritakan, dia sulit didekati dan selalu menolak ajakanku untuk makan. Dan akhirnya dia setuju. Dia bilang akan mengajak seorang teman dan memintaku melakukan hal yang sama.”

“Anggap saja itu satu pertanda bagus.”

“Yah, kuharap begitu. Kau tahu sendiri betapa susah aku mencoba mendekatinya. Padahal aku yakin aku sudah memberinya sinyal dengan sangat jelas.”

Angie meringis. Dia sering mendengar usaha Raquel membuntuti—Raquel tidak ingin usahanya disebut sebagai kegiatan menguntit—Mr. Rightnya beberapa kali dengan muncul di kafe atau restoran yang sama dengan pria itu seolah-olah mereka hanya secara kebetulan bertemu.

“Tetapi... kenapa pizza?” tanya Angie tidak bisa mengerti alasan Raquel memilihnya.

“Jangan ingatkan aku. Aku terus menyesalinya sejak mengatakan itu kemarin. Seharusnya aku mengajak dia pergi ke tempat yang lebih privat. Makan malam dan minum wine akan bagus untuk mendekatkan hati kami berdua.”

“Menurutku, makan pizza sebagai permulaan tidak buruk juga. Lagipula kita sudah sampai,” kata Angie menambahkan saat melihat plang kedai pizza di kiri jalan.

“Yeah, kuharap kau benar.”

Bab 2

Dean Carter membaca contoh surat perjanjian di tangannya dan merasa puas.

“Bagaimana? Ada yang perlu kutambahkan lagi?”

“Tidak perlu. Ini sudah bagus.” Dean menutup map berkas itu dan menyerahkannya kembali pada Liam Joey, bawahan sekaligus teman yang duduk di seberang meja.

Getaran pelan dari ponsel berwarna hitam di atas meja menarik perhatian keduanya. Dean mengangkatnya sedikit untuk melihat layarnya. Ternyata sebuah pesan pengingat.

《 Makan pizza bersama Raquel Scott. 12:00 pm 》

“Ada masalah? Keningmu berkerut.”

Dean mendongak, tanpa sadar telah mengerutkan dahi. “Tidak. Bukan apa-apa,” katanya mengubah ekspresi wajahnya agar kembali rileks.

“Jangan mencoba menipuku. Wajahmu sama sekali tidak menyiratkan pernyataan bukan apa-apa.”

“Hanya janji kecil, tak perlu kau pikirkan.” Dean meletakkan ponselnya kembali. “Aku ingin kau mengawasi segala persiapan, Liam. Aku ingin acara kita berjalan sempurna”

“Siap, Bos.”

“Hari ini aku ada jadwal di luar?”

“Meeting dengan pasangan McKenzie pukul dua siang di Restoran Hanabi.”

“Kau pergi denganku.”

“Baik.”

“Omong-omong,” kata Dean menambahkan. “Sebentar lagi jam makan siang, kau mau ikut makan pizza denganku?”

Liam menaikkan salah satu alisnya. “Pizza? Itu bukan jenis makanan yang biasa kau pilih untuk makan siang. Ada angin apa tiba-tiba kau mengubah menu?”

“Hanya perubahan suasana hati.” Dean mengangkat bahu tak acuh. “Jadi bagaimana? Kau ikut denganku?”

Liam menaikkan alisnya. “Ke?”

“Makan pizza.”

“Maaf, Bos. Kali ini aku tidak bisa. Aku sudah ada janji makan dengan Caroline.”

Meskipun sudah menebaknya, sejujurnya Dean tidak mengharapkan Liam akan mengatakannya. “Kau benar-benar serius jalan dengannya?”

“Ya.”

Dean bersiul. “Aku tak percaya kau benar-benar bertobat.”

Meskipun tidak ingin menjalani hubungan serius, Dean sesekali berkencan untuk menghabiskan akhir pekan. Begitu juga dengan Liam. Dan bahkan dia lebih playboy dari Dean. Setiap hari dia berganti wanita untuk diajak menghabiskan malam bersama. Lalu tiba-tiba saja dia berhenti berburu wanita setelah mengenal Caroline Norton, mantan pekerja paruh waktu di Caramel yang kini menjadi seorang pengacara.

“Kau juga akan seperti aku suatu hari nanti.”

“Sebelum itu terjadi, kau harus ikut makan pizza denganku.”

“Aku sudah bilang aku tidak bisa. Aku sudah jan—”

“Pilihannya hanya itu atau kau kupecat.”

“Maaf, Bos. Pilihanku tetap sama. Jika itu yang kau inginkan, aku akan menulis surat pengunduran diri setelah acara Hotel White berakhir.”

Kedua mata Dean melebar mendengar jawaban tenang Liam. “Kau sungguh-sungguh?”

“Ya.”

“Kau rela melepaskan pekerjaan hanya demi seorang Caroline Norton?” tanya Dean merasa tecengang.

“Dia bukan hanya seorang, Dean. Caroline Norton adalah segalanya. Duniaku.”

Dean menggeleng tak percaya. “Terserah apa katamu.”

“Mengenai surat pengunduran diri, haruskah aku memberikannya padamu hari ini juga?”

“Diamlah. Kau tahu aku tidak bersungguh-sungguh dengan ucapanku tadi.”

Salah satu sudut bibir Liam tertarik ke atas.

“Hentikan cengiranmu. Lebih baik kau carikan teman untuk kuajak makan pizza,” perintah Dean. “Secepatnya.”

“Siap bos!” jawab Liam sebelum bangkit dari kursi.

Dean menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dan tiga puluh menit kemudian merasa menyesal telah memberikan tugas itu pada Liam.

“Hei Bos, apa benar kita akan bertemu wanita cantik?” Sekali lagi pertanyaan itu terlontar dari teman semejanya.

Sejujurnya, dari sedikit pria lajang di kantor, Dean akan memilih orang lain, siapa saja asal bukan Samuel Grownfield, untuk diajaknya ke tempat ini—restoran pizza yang secara umum bisa ditemukan dalam jarak lima mil. Tidak seharusnya dia memberikan tugas sepele itu pada Liam Joey. Dia sangat kompeten mengenai pekerjaan, namun untuk yang satu ini jelas dia gagal total. Dan sialnya, pria itu tidak membalas pesan singkat yang dikirim Dean untuknya.

“Bos?”

Suara Sam membawa Dean kembali dari lamunan singkatnya. “Kau yakin wanita cantiknya akan datang?”

“Uh, ye—”

“Halo.”

Seseorang menyela Dean menjawab. Rupanya Raquel sudah berdiri di samping meja.

“Kau sudah menunggu lama?” lanjutnya ditujukan pada Dean.

“Tidak. Kami baru saja tiba,” Dean menjawab lalu menunjuk pria di seberang meja. “Kenalkan, ini Sam Grownfield, manajer humas di kantor kami.”

Sam membulatkan mata sejenak. Dari ekspresinya, Dean tahu pria itu merasa puas dengan pemandangan di depannya. Tangannya terulur ke arah tamu mereka.

“Raquel Scott.” Raquel menjabat tangan Sam dengan singkat dan kemudian menarik lengan seseorang agar berdiri di sampingnya. “Dan teman terbaikku, Angelina Bale.”

Dean mengawasi saat Angelina Bale bersalaman dengan Sam. Dia tidak menduga teman yang diajak ternyata tidak seglamor Raquel Scott. Penampilannya sangat biasa. Dia hanya memakai celana jins dan wajahnya polos tidak dipoles riasan.

“Dan kau harus berkenalan dengan Dean Carter.”

Suara Raquel yang meninggi menghentikan Dean dari kegiatan mengamati. Sudah menjadi kebiasaan bagi seorang pria normal seperti dirinya untuk menilai penampilan wanita yang baru pertama kali ditemui. Lalu, dalam benaknya, dia akan membaginya dalam tiga kategori; aku harus mendapatkannya, akan kutemui sesekali, atau jauhi dia. Seharusnya dia menempatkan Angelina Bale pada kategori terakhir, namun untuk saat ini dia belum memutuskannya.

Dean mengulurkan tangan untuk menjabat tangan wanita itu. “Dean Carter.”

Raquel Scott berdehem, membuat temannya terkesiap kaget dengan kilasan ekspresi bersalah di wajahnya. Dia mengulurkan tangan untuk menjabat tangan Dean yang selama beberapa saat telah dia abaikan.

“A-Angie,” katanya dan Dean bisa mendengar nada kikuk dalam suaranya.

Setelah perkenalan, baik Dean maupun Sam menggeser posisi duduk mereka, menyediakan tempat bagi para gadis. Raquel Scott—tentu saja—menempati sisi Dean, membuat Sam cemberut harus duduk bersebelahan di samping temannya.

“Bagaimana dengan EO-mu, Dean?” Raquel memulai.

“Baik. Pekerjaan berjalan lancar.”

“Kami sedang mengerjakan proyek baru,” kata Sam menambahkan jawaban singkat Dean. “Sebuah proyek besar.”

“Benarkah? Itu bagus.”

Raquel meliriknya sekilas sebelum perhatiannya kembali pada Dean. Pria itu bisa melihat Sam mengerutkan bibir dengan kecewa. Dia terus berusaha mengajak bicara Raquel, namun wanita itu hanya menjawabnya sambil lalu karena dia lebih senang membuka obrolan dengan Dean yang menanggapinya dengan jawaban singkat. Ya, Dean tahu Raquel Scott sedang berusaha menarik perhatiannya, terlihat cantik dan sangat wangi.

Namun, Dean justru lebih tertarik pada temannya. Lebih tepatnya, merasa penasaran. Angelina Bale tidak banyak bicara. Sesekali mereka bertemu mata, namun wanita itu segera berpaling setelah mengulas senyum kaku. Sebagai pria yang memiliki kesombongan dan harga diri tinggi, Dean merasa terhina. Untuk kali pertama ada wanita besikap jengah di dekatnya. Dia sudah sering menanggapi wanita seperti Raquel Scott, namun tidak dengan Angelina Bale.

“Terima kasih sudah menunggu.” Seorang pelayan meletakkan seloyang pizza dan empat gelas cola pesanan mereka di atas meja.

Tiba-tiba ekspresi bosan wanita itu berubah antusias. Angelina segera mengambil sepotong dan memakannya tanpa berusaha menjaga imej.

Dahi Dean mengerut, bergelut dengan isi kepalanya sendiri. Apakah dia datang kemari untuk makan pizza? Hanya makan?

Well, mungkin saja. Namun, keberadaannya di sini tidak seharusnya diabaikan. Oleh siapapun. Dia adalah pria yang diinginkan banyak wanita, jadi dia tidak mungkin bisa dikalahkan oleh makanan. Namun, melihat cara Angelina makan, dia merasa dirinya sudah kalah.

Benak Dean membantah anggapan itu. Dia hanya perlu melakukan sedikit dan Angelina akan tertarik padanya.

“Apa pekerjaanmu, Angelina?” Pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir Dean.

Wanita itu tersedak. Tampaknya dia kaget karen diberi pertanyaan secara mendadak. Dia meneguk cola banyak-banyak untuk meredakan batuknya. Dan Dean tidak luput melihat gerakan kecil Angelina melirik Raquel Scott, yang juga sedang mengunyah pizza, namun entah bagaimana berhasil menjawab, “Dia seorang penulis majalah.” dengan sikap anggun.

Kilasan panik seketika muncul di wajah Angelina. “Aku membantu pekerjaan kakakku di sebuah kedai kopi,” katanya cepat. “Dan panggil Angie saja.”

Penulis majalah dan kedai kopi. Dua hal itu tidak saling berkaitan, menurut Dean. Atau, mungkin saja itu sebuah majalah kuliner?

Pria itu membuka mulut lagi, namun apapun yang ingin diucapkannya kalah cepat dari suara Raquel, “Omong-omong, bagaimana kabar Jessica?”

“Dia baik.” Dean mengangguk dengan tak acuh dan enggan. Sejujurnya dia tidak suka membicarakan gadis kecilnya pada orang yang tidak dia kenal dengan baik. Jika saja hari itu Raquel tidak mendengar pembicaraannya dengan Jessica di telepon, Dean tidak akan pernah menyebut-nyebut tentang Jessica di depannya.

“Di mana kedai kopi kakakmu?” Dean cepat-cepat bersuara ketika Raquel hendak membuka mulut lagi. “Angie?”

Lagi-lagi Angie melirik teman yang datang bersamanya. Dia kemudian menelan ludah sebelum menjawab, “Jalan Willow. Namanya CofeCafe.”

Alis Dean sedikit naik.

“Bukan tempat yang besar ataupun terlihat,” kata Angie menambahkan. Sepertinya wanita itu salah mengartikan tatapan bertanya yang dilakukannya. “Kau tidak akan bisa menemukannya jika hanya memandang dari dalam kaca jendela mobil atau bus. Tetapi kau bisa mendapatkan petanya di internet. Kakakku membuat situs CofeCafe.com sebagai salah satu cara pengiklanan. Dan kupastikan kau tidak akan menyesal datang ke sana setelah merasakan espresso racikan kakakku.”

Meskipun awalnya tidak menduga, entah mengapa Dean merasa tertarik dengan informasi yang didengarnya. “Aku rasa aku akan datang mencicipinya kapan-kapan,”

katanya menampilkan senyum miring.

“Kami akan menantikannya.” Angie melengkungkan bibirnya ke atas.

Menurut Dean, dia memiliki senyum yang manis. Namun, penampilan manis itu hanya bertahan sebentar. Setelah sudut matanya melirik Raquel, wajah Angie menunjukkan ekspresi bersalah dan kemudian menundukkan kepala.

“Sayang sekali waktu makan siang berlangsung singkat. Karena besok libur, bagaimana jika kita malam nanti kita pergi nonton?” Sam mengusulkan.

“Ide bagus!” Raquel terlihat bersemangat.

Sedangkan Angie menggeleng pelan. “Maaf, aku tidak ikut. Kakakku membutuhkan bantuanku di kedai malam ini.”

“Aku juga tidak. Ada pekerjaan yang harus kuselesaikan,” kata Dean. Dia memang harus mengerjakan sesuatu, meskipun tidak mendesak. Alasan lainnya, dia tidak ingin pergi ke bioskop, baik dengan Sam maupun Raquel. Apalagi dengan mereka berdua sekaligus.

Di sisi lain, Sam terlihat senang. “Kita bisa pergi berdua saja Ms. Scott,” katanya penuh harap. Dia merasa memiliki kesempatan untuk lebih dekat dengan Raquel, menurut pengamatan Dean.

Raquel mengerjap seakan-akan baru tersadar di mana keberadaannya. “Ah, maaf. Aku baru ingat aku sudah ada janji dengan ibuku.”

Senyum di bibirnya sama sekali tidak mencapai matanya. Siapapun yang melihat pasti menyadari ucapannya barusan merupakan suatu kebohongan.

“Kurasa lebih baik acara nonton film dijadwalkan lain waktu saja. Saat kita berempat ada waktu luang lagi,” kata Angie untuk mengenyahkan suasana canggung yang mendadak muncul.

Raquel dan Sam menggumamkan persetujuan, namun Dean melihat ekspresi kecewa mereka berdua sama sekali tidak disembunyikan, entah disengaja atau tidak.

Bab 3

Raquel membelokkan mobilnya memasuki area parkir restoran pizza yang sering mereka datangi ketika ingin menonton film di rumah. Dan tiba-tiba perut Angie berbunyi saat kepalanya membayangkan irisan tuna dan parutan keju yang tidak lama lagi akan memasuki mulutnya. Ternyata lapar bisa mengalahkan kelelahan dan rasa kantuknya.

“Kapan terakhir kali kau makan?” tanya Raquel mendengar bunyi gemuruh yang berasal dari perut Angie.

“Aku sempat menghabiskan semangkuk sereal dan beberapa potong biskuit jam tiga sore kemarin,” jawab Angie sambil lalu.

Kedua alis Raquel hampir saling menempel, namun kulit dahinya sama sekali tidak berkerut berkat perawatan wajah yang dilakukannya beberapa tahun belakangan ini.

“Itu sudah lebih dari dua puluh jam. Apa kau bermaksud menyiksa perutmu?” nada bicaranya tidak terdengar senang.

“Oh, jangan mulai mengomel lagi, Raquel.”

“Aku tidak suka dengan pola makanmu. Itu tidak sehat.”

Angie memutar mata lagi. “Apa kita akan tetap di sini dan membahasnya? Atau masuk, kemudian memanjakan perut?”

Ekspresi wajah Raquel menyiratkan perdebatan batin. Angie merasa yakin bibir Raquel yang tampak mengerucut ingin sekali menceramahinya. Namun, di sisi lain ada Mr. Right yang barangkali telah menunggu untuk ditemui olehnya.

Kebimbangan Raquel dirusak oleh bunyi geraman tertahan di perut Angie yang sekali lagi meminta diperhatikan.

Raquel menghela napas pendek. “Kita perlu mengurus perutmu lebih dulu.”

Angie menyeringai lebar, lalu mengikuti Raquel yang lebih dulu beranjak keluar dari mobil.

“Apakah dia sudah datang?” bisik Angie merasakan dingin AC menyambut kedatangannya ketika Raquel membuka pintu restoran. Sudut matanya mengitari ruangan seluas tujuh puluh meter persegi yang nyaris penuh pengunjung tersebut tanpa kentara.

“Dia di sana,” kata Raquel dengan napas tertahan. Angie tidak akan heran seandainya saja gadis itu mulai melompat-lompat penuh semangat, walaupun dia sangat berharap Raquel tidak akan melakukannya. Dan memang tidak, baguslah. “Ayo.”

Angie mengekor di belakang Raquel. Mereka menuju meja persegi paling ujung di sisi kanan, tepat di samping dinding kaca yang menghadap ke jalan raya.

“Halo.” Raquel berhenti di samping meja, di mana terdapat dua orang pria sedang duduk berhadapan. “Kau sudah menunggu lama?” dia bertanya pada pria berkemeja biru lengan panjang yang digulung hingga ke siku.

Pria itu duduk membelakangi Angie. Melihat bagaimana Raquel memandangnya seakan-akan dia seloyang pizza yang ingin segera dinikmati, Angie menduga dialah si Mr. Right. Bukan temannya, si rambut pirang dengan dahi lebar dan hidung bengkok, di seberang meja.

“Tidak—”

Angie tertegun mendengar Mr. Right menjawab. Suara bassnya terdengar dalam dan maskulin.

“—Kami baru saja tiba,” kata Mr. Right melanjutkan. “Kenalkan, ini Sam Grownfield, manajer humas di kantor kami.” Dia memperkenalkan temannya.

“Raquel Scott.” Raquel menjabat tangan Sam dengan sangat singkat seakan-akan tidak sabar menarik lengan Angie agar berdiri lebih dekat. “Dan teman terbaikku, Angelina Bale.”

Sedikit kikuk, Angie bersalaman dengan Sam yang, bisa ditebak, tampak tidak begitu senang harus mengalihkan tatapannya dari sosok Raquel. Bisa maklum, Angie memperlihatkan senyum seadanya dengan makna yeah, aku memang si itik buruk rupa jika disandingkan dengan Raquel.

“Dan kau harus berkenalan dengan Dean Carter.” Suara Raquel meninggi karena bersemangat.

Angie memutar badan dan merasa seolah-olah terkena aliran listrik statis. Nah, mungkin ungkapan itu agak berlebihan, namun napas Angie tertahan di paru-paru ketika memandang Dean Carter.

Laki-laki itu tampan dengan senyum menawan dari bibir tebal di atas dagu belahnya. Rambut sewarna tembaga bergelombang miliknya sedikit bergoyang saat dia bergerak mengulurkan tangan. Dan mata biru tua yang menatapnya mengingatkan Angie akan kedalaman laut.

Angie kini paham mengapa Raquel tidak berniat menyerah untuk mengejar cinta pria itu meskipun selama tiga bulan dia sering mengeluhkan betapa sulitnya mendapatkan perhatian dari sang Mr. Right. Dean Carter merupakan sosok sempurna tokoh utama novel fiksi tentang percintaan yang muncul dalam wujud nyata.

Sejujurnya, Angie pun merasa sedikit terpikat oleh pesona fisiknya. Meskipun, selama ini dia tidak pernah mempercayai ungkapan jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tersadar akan pikiran melanturnya, Angie langsung menggelengkan kepala.

Dia tidak akan jatuh cinta pada Dean Carter, batinnya mengingatkan dirinya sendiri, dia tidak boleh jatuh cinta pada Dean Carter.

Namun, duduk di samping Sam Grownfield lebih terasa sebagai cobaan sekaligus keberuntungan. Di posisi itu dia bisa melirik ke arah Dean Carter dengan lebih baik daripada jika dia berada di sampingnya. Dan pria itu benar-benar tampan, meskipun ada kesan susah didekati. Dia terlihat kurang responsif dengan usaha Raquel mengajaknya bicara. Entah bagaimana, Angie merasa sedikit kasihan pada sahabatnya. Pasti sangat sulit untuk bisa mendapatkan hati si Mr. Right.

Pria berwajah seperti Dean Carter pasti memiliki banyak wanita di sekitarnya. Mengapa dia mengabaikan Raquel? Sahabatnya bagaikan pizza dengan toping lengkap; memiliki wajah cantik, karir mapan, sifatnya supel dan mandiri. Mungkinkah dia bukanlah tipe wanita yang akan disukai Dean Carter? Jika Raquel saja tidak, apalagi dirinya.

Terkesiap, Angie menahan erangan di dalam kerongkongannya. Sungguh jahat benaknya memikirkan Mr. Right idaman Raquel, sahabatnya sendiri.

“Aku harus menurunkanmu di flat atau kafe?” tanya Raquel membuat Angie sedikit tersentak. Untuk sesaat lupa akan dirinya yang sudah berada di dalam mobil, duduk tepat di samping Raquel.

“Angie? Kafe atau flat?” kata Raquel mengulangi pertanyaannya.

Entah mengapa Angie merasa mendengar nada kesal dalam suara Raquel, namun dia meyakinkan diri telinganya salah dengar dan menjawab, “flat.”

“Ohya, bagaimana dengan rencana perjalanan akhir tahun kita?” tanya Angie untuk menghalau keheningan. Jika hanya berdiam diri, mungkin isi pikirannya akan kembali berkelanana pada sosok Dean Carter.

“Kau saja yang urus.” Raquel menjawabnya dengan nada dingin.

Tidak lagi berpura-pura tidak mendengar perubahan suara Raquel, Angie bertanya, “Apa kau marah padaku, Raquel?”

“Tidak.” Jawaban yang terlalu cepat itu membuat Angie meragukannya.

“Mungkinkah kau merasa kesal karena batal nonton film?”

“Tidak.”

Tak bisa dipungkiri, Angie merasa tidak nyaman dengan sikap Raquel. “Apa aku sudah melakukan sesuatu yang salah padamu?”

“Tidak.”

Angie melirik orang di sebelahnya. Sikap Raquel sama sekali tidak menunjukkan sikap seseorang yang tidak sedang marah.

“Hei, kenapa tidak kita pergi nonton besok siang saja? Kurasa Dean dan Sam tidak ada kesibukan di akhir pekan,” kata Angie menyarankan. Dalam hati dia berharap idenya bisa membuat perasaan Raquel lebih baik.

“Akhir pekan Dean hanya untuk Jessica.”

Nama itu disebut lagi oleh Raquel. Angie membuka mulut untuk bertanya siapa itu Jessica, namun segera mengurungkan niatnya. Barangkali pertanyaan itu tidak bisa membantu Raquel merasa lebih baik. Atau justru jawabannya membuat suasana hati Angie sendiri ikut-ikutan memburuk.

Tidak bisa menemukan topik lain untuk dibicarakan, Angie menghela napas panjang. Pandangannya berpaling ke bagian luar jendela. Dan sisa perjalanan mereka terisi oleh keheningan.

“Kau mau masuk?” tanya Angie setelah keempat roda mobil Raquel berhenti berputar.

“Tidak. Aku harus kembali ke kantor.”

“Well, oke.” Angie melepas sabuk pengaman sebelum membuka pintu. “Terima kasih atas traktiran hari ini.”

“Dean yang membayarnya.”

“Aku tahu. Tetapi, tanpa kau, aku tidak akan ditraktir oleh dia.” Angie menyeringai, namun Raquel menanggapinya dengan sikap diam. Angie langsung menghapus senyum di wajahnya. “Bye.”

Begitu dirinya turun dari mobil, Raquel langsung menginjak gas dalam-dalam. Hal itu sangat mengejutkan Angie. Dengan pemikiran pastilah Raquel benar-benar kecewa karena gagal nonton film bersama Dean, Angie masuk ke dalam flat. Masih ada waktu dua setengah jam sampai jam kerjanya dimulai, jadi setelah melepas sweter dan menyisakan tanktop ungu muda, dia membuka laptop.

Perfect Boyfriend sudah mencapai bab ke-lima puluh tujuh. Awalnya Angie hanya ingin menulis sebanyak empat puluh bab, namun sang editor memaksanya untuk memperpanjang ceritanya. Setelah negosiasi alot dan persetujuan kenaikan gaji sebesar tiga puluh lima persen, akhirnya dia setuju untuk meneruskan tulisannya. Sejujurnya, dia memang masih menikmati membagi kisah gadis SMA berpenampilan culun yang menjalin persahabatan dengan laki-laki populer bernama Dylan.

Jari-jari Angie mulai mengetik. Seketika tokoh Dylan mengingatkannya pada sosok Dean. Mereka memiliki mata biru, rambut bergelombang, serta senyum menawan yang sama. Kali ini Angie hanya perlu membayangkan Dean saat mendeskripsikan Dylan. Perawakan keduanya sangat mirip dan... oh, mereka pun sama-sama memiliki nama berawalan huruf D. Bahkan nama Dylan Parker yang digunakannya terdengar mirip Dean Carter.

“Tunggu.” Angie terdiam sejenak sebelum bergumam,“ Apakah itu takdir?”

Dia segera menggelengkan kepala untuk menghapus lamunannya. “Astaga, apa yang sudah kupikirkan?”

Dering panggilan masuk yang terdengar secara tiba-tiba membuat Angie terlonjak di atas kursinya. Setelah mengambil ponsel dari dalam tas, dia melihat nama Alan tertera di layar.

“Halo, ada apa?” kata Angie setelah menggeser tanda jawab.

“Apa kau sibuk?” Suara Alan terdengar mendesak dan sepertinya ada bunyi tawa lebih dari satu orang di latar belakangnya. “Kami butuh bantuan di sini. Sangat kewalahan.”

“Oke. Aku akan sampai dalam dua pul—setengah jam.”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED