Sebuah pagi yang indah di kota London. Pagi dengan matahari yang bersinar cerah namun, teriknya tak terasa menyengat. Sungguh pagi di mana seseorang dianjurkan keluar dari rumah untuk menikmatinya.
Begitu juga dengan Clara William. Seorang gadis cantik dengan rambut hitam sebahu. Ia tampak berjalan santai di sepanjang trotoar seraya menyenandungkan lagu kesukaannya. Sesekali, Clara tersenyum ketika bertemu dengan orang yang tidak sengaja berpapasan dengan dirinya.
Clara menghentikan langkah kakinya di depan sebuah minimarket. Ia kemudian membuka pintu minimarket tersebut lalu masuk kedalamnya untuk membeli beberapa bungkus roti karena ia belum sempat sarapan tadi.
Maklum saja, Clara hanya tinggal sendiri di rumah. Ibu Clara telah meninggal saat melahirkannya, sementara sang ayah mengakhiri hidupnya sendiri diakibatkan depresi yang ia alami.
Clara kemudian diasuh oleh neneknya yang saat ini sedang dirawat di rumah sakit. Hal tersebutlah yang membuat Clara terkadang tidak sarapan lebih dulu di rumah. Sang nenek yang biasanya memasak sarapan di pagi hari, kini tengah terbaring lemah di rumah sakit.
Bukan Clara tidak pintar memasak atau semacamnya. Hanya saja, semenjak Ny. Emma atau nenek Clara dirawat, gadis itu jadi sering terlambat bangun pagi. Selain itu, ia juga terlalu malas untuk membuat sarapan. Bagi dirinya, membeli sebungkus roti lebih praktis ketimbang harus repot-repot memasak.
Setelah menemukan roti yang ia inginkan, Clara kemudian mengambil sekaleng susu lalu berjalan menuju meja kasir untuk membayar. Gadis itu bersyukur, minimarket pagi ini tidak terlalu ramai. Sehingga ia tidak perlu mengantri untuk waktu yang cukup lama.
"Breaking news! Telah ditemukan sesosok mayat perempuan tanpa busana diduga korban pembunuhan. Terdapat luka sayatan pada leher korban dan beberapa luka tusuk pada tubuh korban. Di duga korban meninggal karena kehabisan darah."
"Lagi? Ini adalah yang ke sembilan di tahun ini. Apa polisi masih belum bisa menangkap pelakunya? Aku semakin merasa tidak nyaman berada di kota ini lagi," ujar seorang kasir perempuan seraya bergidik ngeri.
Bagitupun dengan Clara. Gadis yang berusia 21 tahun itu turut merasa ngeri mendengar berita tersebut. Sudah hampir 6 bulan kejadian keji tersebut berlangsung. Namun, hingga saat ini polisi masih belum bisa menemukan siapa pelaku di balik seluruh pembunuhan berantai tersebut.
"Aku hanya bisa berharap polisi akan segera menemukan pelakunya," ucap Clara lirih.
Kasir wanita itu menatap ke arah Clara serius. "Kau harus berhati-hati, Clara. Aku sering melihatmu pulang sendirian larut malam. Cobalah untuk tidak pulang terlalu malam lagi demi kebaikanmu. Pelakunya masih berkeliaran di sekitar kita."
Clara tersenyum hangat mendengar ucapan penuh kekhawatiran dari kasir wanita itu. Leta, nama kasir wanita itu, adalah teman Clara saat masih di bangku sekolah menengah atas. Karena itu, mereka terlihat akrab.
"Aku baik-baik saja, Leta. Semuanya akan baik-baik saja, tidak perlu mencemaskanku. Kau juga harus menjaga dirimu," ucap Clara mencoba meyakinkan teman lamanya itu.
Leta tersenyum tipis. Wanita itu menganggukkan kepalanya pelan. "Baiklah, ini dia belanjaanmu. Sampai jumpa, Clara."
Clara menganggukkan kepalanya seraya mengambil makanan yang ia beli tadi, tentu setelah gadis itu membayar semuanya. Setelah berpamitan dengan Leta, ia kemudian pergi dari minimarket tersebut.
Sementara itu, Leta memperhatikan Clara dari jendela minimarket yang transparan. Entah mengapa, gadis itu merasa begitu khawatir dengan Clara hari ini, tidak seperti biasanya. Ia merasakan perasaan aneh tentang temannya itu. Sebuah perasaan gelisah bercampur kekhawatiran yang ia tidak tahu apa sebabnya.
"Semoga kau selalu baik-baik saja, Clara," lirih Leta dengan penuh harap.
Di lain sisi, seseorang yang dikhawatirkan oleh Leta, tampak berjalan dengan santai. Ia seperti tidak pernah mendengar berita mengerikan di minimarket tadi. Tanpa rasa takut sedikitpun, Clara melangkah dengan tenang menuju toko bunga milik neneknya.
Gadis itu lagi-lagi bersyukur karena jarak dari rumahnya ke Emma florist tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu kurang lebih 30 menit jika ditempuh dengan berjalan kaki. Itupun Clara sudah mampir ke minimarket sebelumnya.
Sesampainya, di toko bunga neneknya, Clara langsung saja membuka toko mungil tersebut lalu melakukan pekerjaan yang biasa gadis itu lakukan. Seperti menyapu, menyiram bunga dan pekerjaan lainnya. Setelah selesai, Clara kemudian menyantap roti yang ia beli di minimarket tadi.
"Clara? Kau di dalam, sayang?"
Clara menghentikan aktivitasnya saat mendengar suara familiar dari luar toko. Gadis itu meletakkan sebungkus roti yang tadi ia pegang di atas meja lalu, keluar untuk memeriksa siapa yang datang ke Emma Florist.
"Ah, selamat pagi, Ny. Wilson," ucap Clara seraya tersenyum senang saat kedua matanya menangkap sosok wanita paruh baya yang mengenakan dress bewarna kuning berdiri di depan toko bunga neneknya. Ia adalah Jane Wilson, istri dari pemilik toko roti yang berada di seberang Emma Florist, toko bunga nenek Clara.
"Selamat pagi, sayang. Bagaimana kabarmu hari ini?"
"Seperti yang kau lihat, aku cukup baik. Kau sendiri bagaimana, Ny. Wilson?" Clara balik bertanya.
Jane tersenyum manis lalu mendekat ke arah Clara. "Sama sepertimu, sayang."
"Dress yang indah. Warna kuning sangat cocok untukmu, Ny. Wilson," puji Clara tulus.
Mendengar pujian dari Clara, membuat Jane seketika tersipu malu. Wanita itu kemudian menatap ke arah lain mencoba menghindari tatapan dari Clara.
"Ny. Wilson?"
"Ah, dress ini adalah pemberian dari suamiku. Aku tidak tahu apa yang membuatnya tiba-tiba membelikanku dress indah ini," jelas Jane yang masih tersipu malu.
"Itu berarti ia sangat mencintaimu, Ny. Wilson," komentar Clara.
"Ah, kau ini. Selalu saja menggodaku. Hentikan itu. Sebaiknya kau memberikanku bunga yang cantik pagi ini," ujar Jane yang sudah tidak tahan lagi digoda oleh Clara.
Clara tersenyum. Wanita itu kemudian mengambil sebuket bunga mawar bewarna merah yang segar lalu memberikannya pada Jane.
"Aku sudah menyiapkannya, untukmu," ucap Clara.
"Apa ini bunga tulip? Adikku sangat menyukai bunga ini. Kau bisa mengantarkan bunga ini kepadanya, Clara?"tanya Jane seraya menunjuk ke arah beberapa tangkai bunga tulip yang tumbuh subur.
"Tentu saja, Ny. Wilson. Aku akan mengantarkannya," jawab Clara.
Jane pergi beberapa menit setelahnya dan Clara segera mempersiapkan pesanan wanita paruh baya itu. Setelah semuanya telah selesai, Clara memutuskan untuk langsung mengantar sebuket bunga tulip segar ke alamat yang telah ditinggalkan oleh Ny. Wilson tadi.
Wanita itu bersyukur karena alamat rumah adik Ny. Wilson tidak terlalu jauh dari toko bunga neneknya. Clara bisa menempuhnya hanya dengan berjalan kaki sekitar 15 menit saja.
Langkah Clara terhenti karena lampu untuk pejalan kaki bewarna merah. Wanita itu memperhatikan ke sekelilingnya. Ada beberapa pejalan kaki yang juga sedang berhenti di dekatnya. Sekitar 5 atau 6 orang dengan jenis kelamin dan usia yang berbeda-beda. Mereka juga memiliki raut wajah yang berbeda-beda. Ada yang tampak cemas dan gelisah. Ada pula yang tampak santai seperti dirinya.
Sekitar 30 detik kemudian, lampu berganti menjadi hijau. Clara dan pejalan kaki lainnya pun bergegas melanjutkan kembali langkah mereka sebelum lampu lalu lintas kembali berganti.
Tanpa Clara sadari, ada seorang pria tampan bermata tajam tengah mengawasinya dari dalam sebuah mobil sedan mewah bewarna hitam. Pria itu terus saja mengawasi gerak-gerik Clara hingga wanita itu lenyap dari pandangannya.
Perlahan sebuah senyum mengerikan muncul di wajah tampan milik pria itu. Sebuah senyum yang jarang sekali bahkan nyaris tidak pernah ia tampakkan. Senyum itu begitu licik dan juga kejam.
"Cantik, cantik sekali. Kau akan menjadi yang berikutnya, nona," ucap pria misterius itu lalu melaju dengan mobil mewahnya.
Ruth Michael. Itu adalah nama adik dari Jane Wilson. Wajahnya terlihat mirip dengan Ny. Wilson. Namun, Ny. Michael memiliki perawakan yang sedikit lebih tinggi dan berisi ketimbang Ny. Wilson.
Akan tetapi, Ny. Michael memiliki kepribadian yang menyenangkan seperti kakaknya. Clara bahkan sudah menyukainya saat pertama kali ia berbicara dengan wanita paruh baya itu. Begitupun dengan Ny. Michael. Ia bahkan telah menetapkan Emma Florist akan menjadi toko bunga langganannya.
Mendengarnya, membuat Clara tak henti tersenyum dalam perjalanannya menuju toko bunga setelah ia kembali dari rumah Ruth. Wanita itu merasa senang karena mendapat pelanggan baru yang menyenangkan seperti Ny. Michael.
Senyum Clara perlahan memudar bersamaan dengan langkah kakinya yang terhenti beberapa meter tak jauh dari Emma Florist. Wanita itu memicingkan matanya mencoba menatap kearah objek yang membuat kakinya berhenti secara tiba-tiba.
Di depan Emma Florist tampak terparkir sebuah sedan mewah bewarna hitam yang tidak Clara ketahui siapa pemiliknya. Wanita itu juga melihat seorang pria berbadan tegap tengah berdiri memperhatikan bunga-bunga yang tumbuh subur di halaman toko bunga neneknya itu.
Pria itu mengenakan stelan jas mewah yang Clara yakin berharga fantastis. Sebuah kacamata hitam tampak bertengger di hidungnya yang mancung. Clara dapat melihat ketampanan pria itu bahkan dari tempat ia berdiri saat ini.
Wanita itu bertanya-tanya. Apa yang dilakukan oleh pria kelas atas itu di toko bunga neneknya yang kecil. Sebuah pemikiran muncul di pikiran Clara. Dan itu seketika membuat segurat senyum lebar tercipta di wajah cantiknya.
"Apa pria itu ingin membeli banyak bunga dari tokoku? Ah, bukankah itu hal yang bagus. Aku akan membawa pulang banyak uang hari ini," ucap Clara berandai-andai.
Ia kemudian kembali melangkahkan kakinya lebar-lebar. Wanita itu ingin segera menemui pembeli kelas atasnya itu.
"Permisi, tuan. Anda membutuhkan sesuatu?"tanya Clara sopan tak lupa dengan senyum manis yang melekat di bibirnya.
Pria itu berbalik. Clara dapat melihat lebih jelas bagaimana postur tubuh pria itu dalam jarak yang lebih dekat seperti saat ini. Tubuhnya tinggi tegap. Begitu proposional. Seperti tubuh-tubuh model yang sering Clara lihat di layar televisi.
Namun, keindahan pria itu tidak berhenti di situ saja. Clara juga dibuat terpukau dengan wajahnya yang begitu tampan. Semakin tampan ketika ia melihatnya dalam jarak yang lebih dekat dibandingkan sebelumnya.
Bibir merah yang sedikit tebal. Hidung tinggi nan mancung. Serta rahang yang begitu indah bak patung yunani yang dipahat dengan penuh ketelitian. Benar-benar karya Tuhan yang maha indah.
Tangan pria itu tergerak membuka kacamata yang sejak tadi menutupi kedua matanya. Kini, Clara dapat melihat kedua netra yang menatap tajam ke arahnya.
Wanita itu tercekat saat ia menatap secara langsung ke arah mata pria itu. Jantungnya seakan berhenti berdetak saat ia menyadari bagaimana tajam dan dalamnya tatapan pria itu yang langsung menusuk ke dalam matanya. Terkesan begitu mengintimidasi. Membuat Clara merasa ditelanjangi di tempat ia berdiri saat ini.
"Tu--- t-tuan," panggil Clara terbata-bata. Wanita itu mulai merasa tidak nyaman dengan pria itu yang sejak tadi tidak berhenti menatapnya.
"Anda butuh sesuatu, tuan?" Tanya Clara.
Pria itu tersenyum miring. Senyumnya terlihat mengerikan dan terkesan sangat mengintimidasi. Hal itu semakin membuat Clara merasa takut terlebih lagi saat pria itu melangkah semakin dekat ke arahnya.
Pria itu terus saja melangkah semakin dekat ke arah Clara. Namun, anehnya wanita itu tidak bisa melakukan apapun selain membeku di tempat ia berdiri. Kakinya terasa berat sekali untuk melangkah. Entah mengapa, Clara tiba-tiba tidak bisa menggerakkan seluruh anggota tubuhnya. Bahkan hanya untuk menolehkan kepala saja ia tidak bisa.
Pria itu semakin mendekat hingga ia menghentikan langkahnya tepat di hadapan Clara. Ia masih belum melepaskan tatapan matanya dari wanita itu. Kali ini dia memperlebar senyuman di bibirnya. Hal itu malah tidak membuat dirinya terlihat lebih ramah. Namun, sebaliknya ia terlihat seperti tengah menyeringai.
Mata pria itu bergerak turun. Ia tidak lagi menatap ke arah mata Clara. Kini tatapannya mulai menelisik ke arah hidung, Lalu turun ke bibir, hingga akhirnya tatapan pria itu berhenti pada leher jenjang Clara. Ia menatapnya lama sebelum akhirnya ia menatap kembali kedua mata wanita itu yang tengah menatapnya takut.
Pria itu sedikit membungkukkan badannya agar ia bisa menyejajarkan wajahnya dengan wajah Clara. Dari jarak sedekat itu, Clara dapat melihat dengan jelas betapa kelamnya tatapan pria misterius itu. Ia bahkan bisa merasakan deru napasnya menyapu seluruh permukaan wajah Clara.
Perlahan, pria itu memajukan wajahnya. Hal ini sontak membuat Clara membulatkan matanya. Ia terkejut, namun tidak bisa berbuat apapun. Wanita itu berpikir bahwa pria itu akan melakukan sesuatu yang kurang ajar padanya.
Namun, apa yang pria itu lakukan ternyata tidak sama dengan apa yang Clara pikirkan. Pria itu mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Clara. Tindakannya seperti itu, membuat Clara dapat merasakan napas berat pria asing itu menggelitik leher jenjangnya. Terasa hangat dan juga geli secara bersamaan.
"Kau memiliki leher yang indah, Nona," ucap pria itu pelan dengan suaranya yang serak. Terdengar begitu dalam. Seluruh tubuh Clara dibuat merinding setelah mendengar suara pria misterius itu. Tidak pernah sekalipun Clara mendengar suara seperti ditelinganya. Suara itu begitu dalam dan juga berat. Terdengar begitu mengintimidasi. Membuat tubuh gadis itu seketika mematung ditempat ia berdiri saat ini.
Clara semakin tidak bisa berkata-kata lagi. Seakan-akan dirinya adalah seorang bayi mungil yang baru saja dilahirkan dan tidak tahu caranya berbicara. Suara pria itu, beserta tatapannya seperti sebuah sihir yang mengubah dirinya dalam sekejap mata. Begitu dalam dan mengintimidasi. Memaksa jantungnya berdetak lebih cepat daripada biasanya. Buku kuduknya tidak berhenti meremang sejak tadi.
Pria itu menatap Clara dengan kedua matanya yang tajam. Ia mengulas senyum mengerikan yang semakin mempengaruhi Clara. Tampaknya, pria misterius itu benar-benar menyukai bagaimana reaksi gadis yang baru ia temui itu. Di tatapnya lekat-lekat wajah mungil yang berada hanya beberapa inci di depannya itu. Terlihat cantik walau dengan kedua mata yang membulat sempurna.
Setelah merasa puas memperhatikan keadaan Clara, pria itu menjauhkan wajahnya. Ia kembali menegakkan punggungnya lalu menatap Clara. Tangannya bergerak memasang kembali kacamata hitam yang sempat ia lepas sebelumnya.
Seperti tidak terjadi apa-apa, pria itu berjalan melewati Clara. Ia kemudian masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari sana tanpa mengatakan apapun lagi. Meninggalkan Clara yang masih setia mematung di tempatnya.
Suara mesin mobil menyadarkan Clara. Membuat wanita itu tersentak lalu segera membalikkan badannya. Ia memandang ke arah mobil pria misterius itu yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Astaga!! Apa itu tadi? Apa yang dia lakukan?" tanya Clara setelah tersadar dari lamunannya. Gadis itu menatap ke arah jalanan di mana mobil milik pria tadi menghilang.
Clara menyentuh dadanya. Mencoba merasakan detak jantung yang masih berdetak kencang meski sosok yang menjadi penyebabnya telah menghilang. Sepertinya pria asing itu meninggalkan jejak yang begitu besar di hati Clara. Membuat gadis itu mungkin tidak akan melupakannya dalam beberapa hari ke depan.
Entah apa yang membuat pria asing tadi melakukan hal seperti demikian padanya. Mereka bahkan belum mengenal satu sama lain. Bahkan mungkin pertemuan mereka tadi adalah kali pertama mereka berdua bertemu. Clara tahu pasti siapa-siapa saja yang pernah bertemu dengan dirinya. Dan tidak ada orang yang pernah bersikap seperti tadi kepada dirinya. Tentu, gadis itu yakin bahwa pertemuan mereka tadi adalah yang pertama. Lantas, mengapa pria itu sungguh berani bersikap demikian padanya di kali pertama mereka bertemu?
"Pria yang aneh," komentar Clara.
"Siapa yang aneh? Siapa?"
Clara tersentak kaget. Di belakang wanita itu sekarang, berdiri seorang pria tampan yang tengah menatapnya penuh tanya. Ia tampak mengenakan hoodie bewarna abu-abu yang dipasangkan dengan jeans bewarna hitam lengkap dengan sneakers bewarna senada. Pria itu adalah Kevin, sahabat Clara sejak masih di bangku sekolah menengah pertama. Kevin adalah orang terdekat Clara setelah nenek dan kedua orangtuanya.
"Kau!? Kapan kau datang?" tanya Clara terkejut.
Kevin mengedikkan bahunya kemudian menjawab, "Aku sudah berada di sini sejak tadi. Sejak kau diam melamun sambil menatap ke arah jalanan."
Clara menaikkan sebelah alisnya. Melamunkan pria misterius tadi, membuat dirinya lupa dengan keadaan di sekitarnya. Bahkan ia tidak menyadari kehadiran Kevin yang berdiri tepat di belakangnya. Mungkin jika Kevin adalah seorang penjahat bisa saja ia sudah mati sejak tadi.
Gadis itu kemudian menghela napasnya pelan lalu berjalan memasuki toko bunga milik neneknya. Meninggalkan Kevin yang masih belum mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang sempat ia ajukan tadi. Dan itu sedikit membuat pria itu merasa kesal karena merasa telah diacuhkan.
"Hey, Clara. Kau belum menjawab pertanyaanku!" seru Kevin sedikit kesal. Pria itu menghampiri Clara yang tengah duduk di meja kasir. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan. Tingkahnya yang demikian, membuat Kevin semakin kebingungan.
"Apa!?"
"Siapa? Siapa yang aneh?" serbu Kevin tidak sabaran.
Clara memutar bola matanya malas. Gadis itu menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Ia kemudian menatap ke arah langit-langit ruangan.
"Tadi ada seorang pria. Aku tidak mengenalnya sama sekali. Awalnya, aku berpikir dia ingin membeli bunga di tokoku. Aku benar-benar senang karena ia terlihat sangat kaya," jelas Clara.
Kevin menarik sebuah kursi yang terletak di sudut ruangan lalu meletakkannya di depan meja kasir. Pria yang mengenakan hoodie bewarna abu-abu itu kemudian duduk di atasnya.
"Lalu? Apa dia tidak jadi membeli bunga di tokomu? Dan itu menghancurkan ekspetasimu tentangnya? Hanya karena itu?! Hanya karena itu kau menyebut dirinya aneh?" tuding Kevin. Pria itu menatap Clara sinis.
"Aishhh, bukan seperti itu! Tidak apa-apa jika dia tidak membeli apapun dari toko ini. Hanya saja, dia bertingkah laku aneh padaku. Tingkah lakunya benar-benar aneh. Sangat tidak biasa dilakukan oleh seseorang yang baru saja bertemu dengan orang asing," jelas Clara.
Kevin mengerutkan dahinya. Pria itu penasaran dengan apa yang sebenarnya dilakukan oleh orang yang dimaksud Clara itu padanya. Tidak biasanya gadis itu membicarakan orang seperti demikian. Kevin dapat memastikan bahwa ada sesuatu yang terjadi antara Clara dan pria asing itu tadi. Ah, ia sedikit menyesal seandainya ia dapat lebih awal tadi.
"Apa yang dia lakukan? Apa dia berbuat mesum padamu?" tanya Kevin.
Clara menggelengkan kepalanya. "Aku tidak yakin," jawab gadis itu.
"Lalu?"
"Dia tidak banyak berbicara. Hanya beberapa kata saja. Selain itu, dia hanya diam menatapku sambil menyeringai. Tatapannya benar-benar tajam hingga mampu membuat bulu kudukku meremang. Setelah itu, dia pergi dengan mobil mewahnya. Bukankah itu aneh sekali?" tanya Clara.
"Memangnya apa yang pria itu katakan padamu?" Bukannya menjawab pertanyaan Clara, Kevin malah balik bertanya kepada gadis itu.
Clara terdiam. Gadis itu tampak berpikir sejenak. Ia terlihat ragu ingin menjawab pertanyaan yang diajukan Kevin atau tidak. Namun, akhirnya ia menyerah. Tatapan penuh rasa ingin tahu di mata Kevin memaksa Clara untuk menjawab pertanyaan pria itu. Jika tidak, mungkin saja ia akan dihantui pertanyaan yang sama seharian penuh hingga dirinya memberi jawaban kepada Kevin.
"Kau memiliki leher yang indah, Nona," ucap Clara seraya memegangi leher belakangnya. Gadis itu tampak bergidik ketika menyebutkan kalimat tersebut.
"Dia mengatakan itu?" tanya Kevin. Clara mengangguk sebagai jawabannya. Membuat Kevin melototkan kedua matanya ketika mendengar ia menyebutkan kalimat tersebut.
"Aku yakin dia itu pria yang mesum. Terlihat dari bagaimana kau menceritakan semua tentangnya. Untung saja dia tidak berbuat macam-macam padamu," simpul Kevin. Pria itu menatap Clara khawatir.
"Kau harus berhati-hati, Clara. Kota ini sedang tidak aman. Kau pasti tahu tentang kejadian baru-baru ini, bukan? Jika kau melihat atau bertemu seseorang yang mencurigakan, cobalah untuk menghindar. Atau kau bisa menghubungiku jika kau membutuhkan sesuatu," ucap Kevin yang sarat akan kekhawatiran. Pria itu tampak begitu tulus ketika mengucapkannya. Bagaimanapun juga, Clara adalah satu-satunya sahabat yang telah dekat dengannya sejak lama. Ia bahkan telah menaruh hati pada gadis itu. Namun, hingga saat ini belum pernah pria itu mengutarakan isi hatinya pada Clara. Alasannya simple, Kevin tidak ingin persahabatan yang telah mereka jalin bertahun-tahun lamanya rusak begitu saja akibat perasaannya yang belum tentu terbalas. Maka dari itu, Kevin memilih untuk memendamnya. Sampai kapan? Entahlah, hanya Kevin yang tahu hal itu.
Mendengar ucapan Kevin, membuat Clara tersenyum. Gadis itu merasa bahagia memiliki orang seperti Kevin di sisinya. Meyakinkan dirinya bahwa ada orang-orang yang peduli kepadanya mesjid kedua orangtuanya sudah tidak adalagi bersama dengan dirinya. "Aku pasti baik-baik saja. Tenanglah, tidak akan terjadi apapun padaku," ucap Clara lembut.
"Kau harus selalu mengaktifkan ponselmu. Agar jika terjadi sesuatu, aku bisa menghubungimu kapanpun," ujar Kevin. Sementara Clara hanya membalas ucapan pria itu dengan senyuman.
Entahlah, Kevin merasa ada sesuatu yang janggal di dalam hatinya. Pria itu merasa sesuatu yang buruk akan datang menimpa Clara. Walau begitu, ia tetap berharap. Apapun yang terjadi kedepannya, tidak ada seorang pun yang tahu. Yang bisa ia lakukan hanyalah berharap dan berdoa agar sahabat sekaligus cintanya itu selalu dalam keadaan baik-baik saja.
"Oh iya satu hal lagi. Jika pria mesum itu datang lagi kemari, segera hubungi aku. Atau jika aku tidak bisa dihubungi cobalah untuk melarikan diri ke tempat Ny. Wilson. Ia dan suaminya akan menolongmu nanti," ucap Kevin.
Clara menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. "Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja," ucap gadis itu.
"Semoga saja," lirih Kevin.