Bab 2

Bunga berjalan menuju ruangan Afrain. Setelah kembali ke ruangannya Clara meminta Bunga untuk menemui Afrain, sesuai perintah Afrain pada Clara. Dan mau tidak mau Bunga mengikuti perintah, sementara Clara sendiri tidak mengerti apa hubungan Bunga dan Afrain.

Membenarkan blazer hitam yang dia gunakan Bunga masuk setelah mengetuk pintu. Jane yang berada di bangku sekertaris tersenyum lebar pada Bunga yang muram.

"Selamat siang anda memanggil saya Sir." Bunga menatap Afrain yang sibuk dengan kegiatannya di depan laptop.

"Oh hai Bunga. Kesinilah, aku ingin memperlihatkan sesuatu kepada mu." Bunga ragu untuk mendekat karena yang dia dengar Afrain adalah seorang playboy. "Hei tenang saja, aku tidak akan mendudukanmu dipangkauan ku. Kecuali jika kau memintanya." Bunga menarik napas nya kasar, lalu memutuskan mendekati Afrain.

"Ini adalah desain Mall baru yang akan perusahaan kita bangun. Menurutmu lebih indah jika didepannya dihiasi taman atau air mancur yang megah?" Bunga menatap serius desain itu sementara Afrain mengamati wajah Bunga.

"Taman lebih bagus Sir karna akan terlihat lebih menyenangkan dan juga hangat. Pasti akan banyak orang yang sekedar membeli kopi atau setelah berbelanja mereka akan duduk disana untuk menikmati waktu mereka," ucapan Bunga malah tidak didengar Afrain. Dia sibuk memainkan rambut Bunga yang jatuh terjuntai.

Kesal ! Bunga menarik rambutnya lalu menjauh dari Afrain. "Anda sebenarnya mau apa sama saya? Saya tidak mengerti kenapa sifat anda seperti ini kepada saya." Bunga muak menahan pertanyaan yang bercokol dalam hatinya. Sehingga semua itu keluar begitu saja saat ini, dia tidak ingin menjadi salah satu wanita yang siap di pakai Afrain untuk bersenang-senang. Patah hatinya saja belum pulih, kenapa malah harus bersitegang dengan Afrain. Lebih baik dia resign.

"Bunga you look so preety and sexy."

"What?!!"

Bunga tidak habis pikir dengan bos yang dikatakan berkarisma dan memiliki magnet yang cukup kuat itu. Nyatanya Afrain Derson adalah satu satu spesies Pria idiot dan berotak mesum. Pria ini hanya beruntung karena lahir dari keluarga yang kaya raya. Bunga memegang pelipis lalu menyatukan kedua tangannya di depan dada seolah dia memohon.

"Apa masih ada yang anda ingin katakan kepada saya Sir?".

"No. But I____," ucapan Afrain terpotong saat Bunga langsung berbicara.

"Kalau begitu saya pamit undur diri Sir."

Afrain mendesah pasrah saat Bunga keluar dari ruangannya. Menghadap pemandangan luar gedungnya yang indah, dia membayangkan tubuh indah serta wajah Bunga. Sepertinya dia menginginkan Bunga dalam rengkuhannya. Pertama bertemu Bunga memang Afrain sudah tertarik dengannya, mereka pertama kali bertemu di Indonesia. Namun Afrain berpikir dia tidak akan lagi bertemu dengan wanita yang bisa menarik aura dalam dirinya.

Hingga mereka bertemu lagi di Club malam itu. Anehnya mereka bertemu di tiga tempat berbeda. Satu Indonesia, dua Sydney, dan sekarang di kantor nya. London.

Afrain menelpon seseorang untuk menguatkan semua kegelisahan hatinya akan perasaan yang dia rasakan untuk Bunga.

"Hallo Ka, lagi dimana?"

"Aku sedang bersama Akira. Ada apa?"

"Nanti malam datang ke Club biasa. Ada hal penting."

Sebelum Azka menjawab Afrain langsung mematikan sambungan telponnya. Membuat Azka___sepupunya itu mengumpat di tempatnya.

*****

Sore menjelang, jam kantor pun usai. Bunga kembali ke apartementnya dengan perasaan kesal. Mulai besok dia akan menjadi sekertaris Afrain, dan Clara melepaskannya begitu saja. Dia tidak bisa berpikir jernih lagi. Afrain itu benar-benar mengerikan. Tatapan matanya seolah ingin menembus kepala Bunga.

Begitu membuka apartement dia terkejut dengan semua barang-barang yang ada di depan pintu. Ada balon yang tergantung dengan sehelai surat di depan sisinya.

Selamat bergabung dengan perusahaan ku. Dan maafkan semua yang ku lakukan.

Kamu cantik dan aku suka itu.

Kado-kado ini sebagai permintaan maaf ku.

Afrain Derson

Bunga lagi-lagi menarik napas. Dia tidak memperdulikan semua barang-barang itu. Dia mengunci pintu lalu masuk ke dalam kamarnya. "Ya tuhan bagaimana dia bisa memasukan semua barang itu ke dalam apartementku?" Bunga merinding memikirkan bagaimana Afrain bisa memiliki akses masuk atas apartement nya.

****

Dentuman musik menggelegar memekakan telinga. Afrain ditemani wanita cantik yang sedari tadi sudah menggodanya namun Afrain hanya melihat ponsel dan menatap wajah Bunga. Dia benar-benar menginginkan Bunga saat ini.

"Rain, loe kenapa?" Suara Azka mengembangkan senyuman Afrain. Dia tersenyum bagaikan Pria aneh dimata Azka.

"Kau kenapa?"

"Aku sangat menginginkan wanita ini." Afrain menunjukan langsung foto Bunga yang dia dapat itu, lalu dia mengusir wanita penghibur yang sedari tadi menenaminya.

"Ya sudah dekati seperti biasa." Afrain menggelengkan kepalanya. "Dia wanita Indonesia dan sepertinya dia tidak akan mau dengan ku." Azka tertawa lebar membuat Afrain kesal. "Kalau begitu minta dia dengan lembut menjadi kekasihmu."

"Kalau dia menolak?"

"Apa kau sekarang tidak lagi percaya diri."

"Dia berbeda Azka Aldi Orlando." Tekan Afrain karena kesal. "Tapi apakah aku jatuh cinta denganya? Atau ini hanya karena aku penasaran?" Azka mengangkat bahunya acuh lalu menegak minuman.

"Bagaimana mungkin kau tidak tahu. Kau mencintai seorang wanita sedari kalian kecil hingga sekarang." Azka menerawang mengingat Azura. Sepupunya yang tak lain adalah wanita yang dia cintai.

"Jika kau jatuh cinta. Perasaan itu tidak bisa kau rincikan. Tidak bisa kau jelaskan dengan kata-kata. Dia hanya tergambar jelas meronai hati dan pikiranmu." Afrain menengadahkan kepalanya menatap langit-langit ruangan. Memikirkan apa yang dikatakan Azka.

#####

Pagi yang buruk bagi Bunga karena dia hari ini resmi menjadi sekertaris Afrain menggantikan posisi Jane. Dengan malas-malasan Bunga menaiki lift menuju ruangan Afrain di lantai paling atas gedung itu. Tak henti-henti nya Bunga merapalkan doa dalam hati. Semoga tingkah absurd Afrain tidak lagi kambuh.

Di tempatnya Jane sudah menanti Bunga. Dia akan mengajari Bunga semua tentang pekerjaannya.

Bunga memakai blajer berwarna pich dengan kemeja hitam didalamnya. Rok pencil menjadi pilihan Bunga untuk dia gunakan.

Sementara didalam ruangan Afrain melihat setiap gerakan yang dilakukan Bunga. Dia mengamati bagaimana wajah yang cantik itu menyunggingkan senyuman dan tak lama kemudian dia melihat Bunga berjalan keruangannya. Afrain pura-pura sedang menatap laptop hingga dia mengucapkan kalimat. "Masuk," kata Afrain dan terlihatlah Bunga dengan wajah datar memberikannya dokumen yang harus dia tanda tangani.

"Bunga kamu ada acara sore ini?"

"Ha !" Bunga langsung menggelengkan kepalanya lalu menjawab dengan semangat. "Ada Sir. Jadwal saya penuh dari sore hingga besok sore lagi." Afrain memberikan dokumen itu lalu dengan cepat Bunga mengambilnya. "Kamu bukannya baru pindah kesini."

"Iya."

"Lalu kamu sibuk apa? Setahu saya kamu tidak punya pacar." Astaga Bunga ingin mengamuk saja dengan Afrain ini, dan terus darimana dia tahu kalau Bunga tidak punya pacar.

"Ayo jawab cepat lagi." Bunga menguatkan dirinya sendiri karena benar-benar kesal dengan Afrain. "Bukankah sibuk tidak harus dengan pacar. Dan maaf Sir mengenai kado yang ada di apartement saya apa benar itu untuk saya.?"

"Ya ! Dan saya tidak mau kamu menolaknya."

Afrain kembali diam melihat wajah merah Bunga. "Ya sudah kamu boleh pergi. Saya minta kamu kirim ke saya laporan proyek Mall baru itu. Saya ingin semua tim siap tanpa terkecuali."

"Baik Sir."

"Kerjakan dalam waktu setengah jam ya. Saya akan kedatangan tamu sebentar, jadi saya mau saat tamu saya pulang kamu sudah harus memberikan laporan itu."

"Yes Sir,"

"Oh jangan lupa, susun jadwal saya mulai besok sampai dua minggu kedepan ya. Saya ingin kamu bacakan itu nanti."

Bunga mengerjapkan matanya, pantas saja Jane bahagia tidak menjadi sekertaris Afrain.

Bunga mengangguk lagi lalu segera keluar dari kandang singa itu. Jane di tempatnya menatap Bunga khawatir. "Kenapa?"

"Gila ya! Masa dia minta aku ngerjain laporan detail proyek baru dari semua tim, ditambah urutin jadwal meeting dia dua minggu kedepan." Bunga duduk lalu menarik napasnya.

Sementara Afrain diruangannya tidak lagi memperhatikan Bunga. Dia sudah tenggelam dalam banyaknya pekerjaan yang dia miliki. Satu lagi sifat Afrain adalah workaholic. Dan itu di buktikan Afrain malam ini yang masih setia lembur di kantor nya.

Sudah pukul sebelas malam dan Afrain selesai dengan semua pekerjaannya. Ponselnya berdering menampilkan nama Mama nya.

"Ya Ma."

"Kamu kapan kembali ke rumah. Mama kangen."

"Mama sabar ya. Nanti Afrain pulang. Bye Mom, I love you."

Afrain mematikan ponsel lalu bergegas mengambil kunci mobil serta jas yang tadi dia buka.

Niatnya ingin kembali ke apartementnya Afrian malah berhenti tepat di depan pintu mobil nya.

Langkah kaki tegas menuju arah yang sangat ingin dia datangi. Senyum Afrain mengembang. Mengeluarkan card yang sudah dia dapatkan dari orang suruhannya Afrain membuka akses masuk kedalam apartement Bunga.

Keadaan ruangan yang temaram membuat Afrain harus hati-hati melangkah. Pintu kamar yang tidak tertutup sempurna membuatnya semangat melihat apa yang dilakukan Bunga saat ini.

Ah...tentu saja jawabannya sedang tidur. Afrain takjub melihat Bunga tertidur dengan posisi duduk sambil mengenakan mukena. Sebelah kepalanya bersandar pada tempat tidur. Afrain perlahan mengangkat tubuh Bunga, lalu menutup Alqur'an yang pasti tadinya di baca Bunga. Dengan pelan Afrain meletakan Alqur'an itu ketempatnya. Dia tegak dihadapan Bunga yang sedang tertidur.

Cinta itu tidak bisa dijelaskan.

"Apa aku jatuh cinta pada mu?"

Afrain langsung naik ketempat tidur dan mencoba memeluk Bunga perlahan.

Dia membayangkan Bunga adalah istrinya. Dari jarak sedekat ini dia dapat mencium aroma tubuh Bunga yang memabukkan.

Bunga yang merasakan aneh dalam tidurnya pun mulai gelisah. Dia memang merasa nyaman, namun sepertinya ada sesuatu yang salah. Perlahan mata itu pun terbuka. Betapa dia sangat terkejut melihat Afrain memejamkan mata sambil memeluknya.

Jarak mereka sangat dekat dan tangan Afrain memeluknya erat.

"Astagfirullahaladzim," ucap Bunga lalu menjauhkan tubuh Afrain. Afrain bangun dan melihat Bunga yang buru-buru membuka mukenanya. Wanita itu mengangkat gagang telpon. "Hallo polisi..."

Afrain tidak menyangka Bunga akan memanggil polisi. Benar-benar wanita yang payah. "Bunga kenapa kamu telpon polisi."

"Anda sedang apa dikamar saya? Kenapa bisa masuk kesini. Mau apa!!"

Afrain menatap wajah yang sedang emosi itu. "Jangan dekat-dekat." Bunga melempar wajah Afrain dengan bantal.

Afrain pun pasrah saat polisi London yang bergerak cepat menangkapnya di apartement Bunga.

"Bunga saya bisa jelaskan sama kamu." Bunga menarik masuk dirinya kedalam. Membiarkan Afrain pergi dibawa para polisi itu. "Bunga," teriak Afrain tapi Bunga tidak memperdulikannya. Dia duduk di depan laptop lalu menuliskan surat pengunduran diri.

Tbc 💞💞💞

Bab 3

Sandra bersidekap melihat sahabatnya itu pagi-pagi sudah datang ke rumahnya dan mengatakan akan resign dari Derson Group. Hal gila apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Bunga sehingga sahabatnya itu melepaskan kesempatan emas yang dia miliki.

"Loe kenapa sih? Pagi datang bilang numpang tinggal sementara waktu karena loe resign dari Derson Group. Itu loe kesambet apa sampe nyia-nyiain kesempatan bagus yang loe punya." Bunga hanya diam memeluk bantal dikamar tamu yang sekarang menjadi kamarnya sementara.

Tak lama kemudian bel rumah Sandra berbunyi membuat wanita itu dengan berat hati meninggalkan Bunga yang masih memasang wajah masam.

Orang didepan pintu Sandra adalah seorang Pria yang sepertinya sering dilihat Sandra. Lalu tak lama kemudian wanita paruh baya yang anggun keluar dari dalam mobil seraya tersenyum lembut pada Sandra.

"Selamat pagi. Bisa saya bertemu dan berbicara dengan Bunga?" Sandra menaikkan sebelah alisnya. Ada apa Bunga sampai dicari wanita yang sangat terlihat high class ini pikirnya.

"Maafkan saya tapi anda siapa Nyonya?"

"Oh maafkan aku. Aku Claire Derson." Sandra hampir membuka lebar mulutnya namun dia tahan. Dengan sangat kaku dia mempersilahkan Claire dan Pria yang tersenyum padanya itu. Dan sekarang Sandra tahu kalau Pria itu adalah Alfa sepupu dari Afrain yang sering menghiasi majalah bisnis.

"Silahkan duduk saya akan panggilkan Bunga." Sandra segera memanggil Bunga dikamar tamu.

"Bunga, loe ada masalah apa sampai Mrs.Derson datang kesini buat nyari loe." Bunga menarik napas lelah. Dia tidak menjawab pertanyaan Sandra dan langsung saja menuju ruang tamu.

Disana sudah duduk Pria tampan yang menatapnya dari atas hingga kebawah. Namun wanita yang terlihat anggun itu tidak melakukan hal yang sama. Dia lebih fokus melihat ekspresi wajah Bunga serta memperlihatkan senyuman.

"Apa kamu Bunga?" tanya Claire dan Bunga mengangguk lalu duduk dihadapan Claire. Sementara Sandra mencoba menguping dibalik sekat ruang tamunya.

"Perkenalkan saya Claire, saya Mommy-nya Afrain. Kamu tentu kenal anak nakal itu bukan." Bunga jelas saja mengenal pria menjengkelkan itu. "Saya datang kesini karena ingin meminta maaf atas perbuatan anak saya kepada kamu. Dia pikir semua wanita bisa mudah dia dapatkan sehingga dia seenaknya saja dengan kamu. Tapi tenang saja, saya mendukung apa yang kamu lakukan terhadap Afrain. Dia sesekali perlu diajari menghormati wanita." Bunga terpana dengan anggun dan bijaknya Claire, tidak seperti anaknya yang malas dijabarkan Bunga.

"Maaf Mrs.Derson saya tidak bermaksud lancang. Hanya saja Sir Afrain sangat tidak sopan. Saya bahkan baru mengenalnya dan dia__," kalimat Bunga tertahan karena tawa Alfa. Namun pria itu langsung terdiam saat Claire menatapnya.

"Baiklah Bunga, saya pamit dulu. Senang bisa melihat wanita yang berani melaporkan Afrain ke polisi." Claire tersenyum lalu memeluk tubuh Bunga tanpa wanita itu duga.

"Saya harap bisa bertemu kamu kembali." Alfa hanya tersenyum lalu berlalu dengan Sandra yang baru saja tiba ingin menawarkan minuman.

****

Malam pun tiba dan dua wanita yang masih betah bercerita itu tidak beranjak sama sekali dari tempat mereka.

"Ya ampun gue gak habis pikir loe bisa nelpon polisi buat ngusir seorang Afrain Derson." Sandra tertawa kencang sementara raut wajah Bunga lalu berubah.

"Apa dia udah keluar ya?" Sandra ikut berpikir. "Kayanya belom. Loe masa gak nangkap apa yang nyokap dia bilang." Bunga baru paham dan dia buru-buru mengambil mantel musim dingin serta syalnya. "Loe mau kemana? Udah malam loh Nga."

"Gue mau ke kantor polisi di dekat apartement itu. Gue gak enak kalau dia masih dipenjara disana. Karna tadi ada nomor yang nelpon gue tapi gak gue angkat." Bunga berlalu setelah menjelaskan pada Sandra. Dia langsung keluar rumah dan langsung menemukan tube yang bisa dia gunakan menuju kantor polisi.

Benar dugaan Bunga, dia menemukan Afrain terduduk di lantai jeruji besi itu. Bunga menghela napas kasar melihat pemandangan yang tidak enak.

"Kenapa pria ini tidak menggunakan nama besar atau uang yang dia miliki untuk keluar dari sana." Gerutu Bunga dalam hati.

Bunga berjalan menuju petugas yang berjaga. Dia mengurus semuanya agar Afrain bisa keluar.

Saat keluar dari balik jeruji Afrain tersenyum melihat Bunga disana berdiri dengan wajah kesal melihat Afrain.

"Thanks my lady." Bunga langsung berlalu meninggalkan Afrain yang mengejarnya lalu menarik tangan Bunga untuk berhenti.

"Bunga maaf." Bunga berhenti menarik tangannya. Suara Afrain terdengar mampu menembus rasa dingin dihati Bunga. Begitu hangat dan dia merasa gemetar saat Afrain mendekat. "Stop ! Cukup disana saja, jangan mendekat." Bunga memperingati Afrain yang dengan mudah dituruti.

Afrain menghela napasnya membuat Bunga ingin tersenyum. "Senyum saja, tidak usah ditahan." Bunga berubah memasang wajah galaknya.

"Bunga bisa kita jalan sebentar?" Bunga menggelengkan kepalanya.

"Kalau begitu saya antar kamu pulang?" Bunga menggelengkan lagi kepalanya.

"Bagaimana jika saya telpon kamu nanti?" Bunga masih menggelengkan kepalanya membuat Afrain gemas. Dia dengan langkah panjang berada tepat di depan wajah Bunga.

"Kalau begitu biarkan saya mencium bibir yang bungkam ini." Bunga belum sempat bereaksi namun Afrain lebih cepat darinya. Ditahannya tengkuk Bunga dan mencium bibir yang sangat menggemaskan bagi Afrain. Satu-satunya wanita yang menolak dekat dengan dia. Wanita yang sudah berhasil memasukkannya kedalam jeruji besi.

Sementara Afrain menikmati moment indah yang dia lakukan kepada Bunga. Bunga malah masih melebarkan mata karena Afrain mengingatkannya akan sesuatu.

Adam

Pria yang membuat Bunga terpaksa melupakan cintanya. Melupakan mimpi indah besar dan angan yang ia miliki.

Afrain menyadari tidak ada pergerakan dari Bunga lalu dia melepaskan bibir manis milik Bunga. Menatap cairan bening yang keluar dari kelopak mata indah itu.

Bunga yang tahu Afrain menatapnya langsung mendorong tubuh Afrain menjauh lalu ia berlari. Afrain ingin mengejar namun Bunga sudah lebih dulu masuk kedalam tube meninggalkan Afrain yang heran disana.

Kenapa dia menangis ?

Apa aku menyakitinya ?

Pertanyaan itu berputar dikepala Afrain. Dia mengambil ponselnya untuk menelpon supir, sembari mengusap jejak bibir manis Bunga yang dia dapatkan.

Afrain sepertinya begitu bahagia, hingga dia merasakan dia terobsesi dengan Bunga.

Ya . Dia benar-benar ingin mendapatkan Bunga.

Tbc 🥰🥰🥰

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED