Bab 1

Kue itu tak lagi berbentuk setelah jatuh dari tangan seorang wanita yang saat ini mematung menatap kekasihnya. Beberapa detik sebelumnya dengan mata kepalanya sendiri dirinya melihat kekasihnya, lelaki yang paling ia cintai, bercumbu mesra dengan temannya sendiri.

Derap langkah kaki terdengar diikuti suara yang terdengar sarat akan nada hinaan. “Wah, wah, wah …. Apa aku tak salah lihat? Sayang, lihat ini. Kekasihmu berniat memberimu kejutan dengan memakai lingerie yang harusnya kau berikan padaku," ucap wanita itu menoleh pada pria yang saat ini diam tak bergeming.

Briana Jeane, nama wanita yang saat ini masih terdiam bak patung, tak dapat mengalihkan pandangannya sedikitpun dari kekasihnya, Alex Rangga. Apa pria yang sangat dicintainya itu tengah membuat lelucon untuknya? Jika benar, ini sama sekali tidak lucu terlebih karena melibatkan Mila, temannya sejak bangku SMA.

Sebelumnya Briana sengaja mematikan lampu dan saat Alex pulang, ia akan memberinya kejutan yakni sebuah kue ulang tahun dan dirinya. Ya, dirinya. Karena Briana berniat memberikan kegadisannya pada Alex sebagai hadiah ulang tahun serta hadiah anniversary mereka yang pertama. Tapi dirinya justru dikejutkan dengan pemandangan di depan mata kala lampu menyala. Dengan mata kepalanya sendiri ia melihat Alex bercumbu mesra dengan Mila. Kenapa? Kenapa harus Mila?

Perlahan Briana tertunduk dengan penglihatan tampak kabur kala air mata menggenang. Kue yang ia buat khusus dan spesial di hari spesial kini telah hancur sama hancurnya dengan perasaannya.

“Kenapa?” gumam Briana dengan suara bergetar.

Mila kembali berjalan menghampiri Alex, merangkul tangannya dan menyandarkan kepala di bahunya. Ia mendongak menatap pria tampan yang sedari tadi hanya diam. “Sayang, tidak adakah yang ingin kau katakan padanya? Sudah ketahuan, katakan saja kebenaranya,” pintanya dengan manja.

“Ka–kami ….” Suara Alex kembali tertelan ke tenggorokan. Ia tahu hal ini pasti akan terjadi, tapi tak mengira tepat di hari ini. Dan apa itu? Briana memakai lingerie seksi yang seharusnya ia berikan pada Mila. Sayangnya, lingerie itu terasa lebih sempurna di tubuh Briana. Ini pertama kalinya ia melihat Briana yang berani. Mungkinkah Briana ingin memberinya kejutan istimewa? Mata Alex melebar, jika pikirannya benar, dirinya telah melakukan kesalahan besar.

Briana kian merunduk dengan tangan terkepal kuat di sisi tubuhnya. Kemudian ia melangkah dan tanpa sengaja menginjak kue cinta yang kini telah hancur sama seperti rasa cintanya untuk Alex. Sampai akhirnya langkah Briana terhenti tepat di depan Alex.

Alex berusaha melepas rangkulan Mila. “Bri, ini salah paham. Aku bisa menjelaskannya,” kata Alex yang sontak membuat Mila marah.

“Alex! Apa maksudmu?!” bentak Mila tak terima dengan pernyataan yang lolos dari mulut Alex. Padahal mereka telah menjalin hubungan di belakang Briana selama tiga bulan.

Tangan Briana kian terkepal kuat bahkan gemeletuk giginya samar terdengar. Sampai akhirnya suara teriakan dan rintihan kesakitan menggema di dalam ruang tamu Alex beberapa detik setelahnya.

“Auugh!” Lengkingan teriakan panjang Alex terdengar dengan tangan memegangi aset berharganya di balik celana.

“Hei! Apa yang kau lakukan?!” teriak Mila pada Briana yang sebelumnya memberi hadiah tendangan tepat di tengah kedua paha Alex.

Duagh!

Lagi, Briana kembali menendang aset milik Alex membuat pria itu perlahan merosot dengan kedua lutut mencium lantai.

“Briana!” Mila berteriak kemudian berusaha menyerang Briana. Sayangnya sebelum tangan Mila berhasil mendarat keras di pipi, Briana lebih dulu menahannya.

“Lepaskan! Apa kau gila?!” maki Mila dengan berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman Briana. Sayangnya Briana justru kian menguatakan cengkramannya kemudian menghepasnya kasar membuat Mila terhuyung dan jatuh di atas tubuh Alex.

Briana berbalik, mengambil satu kepalan tangan kue yang telah hancur kemudian menjejalkannya ke mulut Mila.

“Kau menyukai barang bekas, bukan? Dengan senang hati aku akan memberikannya. Dan ini adalah hadiah karena kau mau menampung barang bekas yang sudah tak berguna!” ucap Briana kemudian membuka lingerie yang dipakainya dan melemparnya ke wajah Mila. “Lingerie ini juga sangat cocok untukmu. Untuk wanita tak tahu malu yang tak pernah berhenti mengambil apapun milikku!”

Setelah mengatakan itu Briana berbalik dan melangkah ke kamar. Mengambil pakaiannya dan memakainya, ia pun bergegas pergi dari sana.

Alex berusaha bangkit berdiri sebelum Briana benar-benar pergi. Dengan tubuh gemetar merasakan sakit luar biasa di bawah sana, ia menahan tangan Briana saat berjalan melewatinya. Sementara Mila telah menghilang dari sana saat Briana mengambil pakaiannya. Wanita itu terdengar mengeluarkan isi perutnya di dalam kamar mandi.

“Bri! Tunggu, Bri. Aku mohon dengarkan penjelasanku dulu,” pinta A;ex mengiba.

“Lepaskan,” ucap Biana tanpa mengangkat kepala menatap Alex.

“Ta– tapi, Bri. Sungguh, kami tidak punya hubungan apapun! Mila yang terus mengejarku, Bri,” jelas Alex meyakinkan. Digenggamnya kuat tangan Briana berharap percaya padanya.

Briana hanya diam dengan kekesalan yang kian memuncak. Hingga dengan gerak cepat, ditendangnya kembali aset Alex membuat genggaman tangan Alex terlepas.

Alex kembali tersungkur memegangi telurnya yang mungkin pecah. Ia seolah tak belajar dari kesalahan sebelumnya, terlupa jika Briana dapat menyerang titik lemahnya dengan cara sempurna.

Melihat Alex yang berada di ambang hidup dan mati, Briana segera melanjutkan langkah keluar dari rumah Alex. Ia tak peduli apa yang akan terjadi pada Alex atau Mila, dua orang itu memang pantas mendapat hukuman setimpal dengan apa yang dilakukannya di belakangnya.

Sesampainya di luar rumah, Briana terus melangkah dengan langkah kaki cepat sampai suatu keanehan pun terjadi. Tetes demi tetes air mata tiba-tiba muncul dan mengalir deras tiada henti. ”Apa yang kau lakukan? Jangan menangis! Jangan menangis!” racaunya dengan tangan mengusap kasar air matanya. Sebelumnya ia berhasil menahan air matanya di depan Alex dan Mila, tapi sekarang dirinya tak bisa lagi. Juga tak bisa lagi menahan rasa kecewa dan sakit dikhianati orang yang paling ia cintai.

Setelah cukup jauh dari rumah Alex, langkah Briana terhenti. Menahan tangisnya, dirinya terlihat menghubungi seseorang lewat sambungan telepon.

Dan di sinilah Briana sekarang berada setelah sebelumnya menghubungi taksi untuk menjemputnya. Tepatnya di sebuah bar di pinggiran kota. Untuk saat ini yang ia butuhkan adalah obat. Dan obat itu adalah minuman yang dapat menghapus ingatan buruknya malam ini.

Briana menatap cairan bening kekuningan di dalam gelas kecil di hadapannya dengan tatapan mata kosong. Ingatan saat melihat Alex dan Mila bercumbu membuat ulu hatinya seolah ditusuk ribuan jarum. Bukan hanya itu saja, ia juga melihat tangan Alex yang bergerilnya di dalam baju Mila.

Glek!

Briana mengambil gelasnya dan menenggaknya dalam sekali teguk membuat rasa panas mengaliri tenggorokan. Meletakkan gelasnya dengan kasar, ia kembali meminta pada bartender mengisi gelasnya.

“Beri aku satu lagi!” teriak Briana dengan mengetuk gelasnya pada meja bar.

Bartender berambut klimis tersebut menatap Briana dengan pandangan tak terbaca. Sampai akhirnya seringai tipisnya pun merekah.

Bab 2

“Jika sudah tidak kuat lagi, kami menyediakan kamar VIP.” Bartender itu menawarkan kamar pada Briana untuk beristirahat.

Briana hanya diam menatap gelas kecil di tangan. Mengabaikan ucapan bartender yang cukup tampan itu, ia teringat bagaimana hari buruk ini terjadi.

Briana baru saja kembali dari luar kota. Ia dipindahkan ke anak perusahaan tempatnya bekerja selama tiga bulan. Setelah tugasnya selesai, ia sengaja pulang tanpa memberitahu Alex karena ingin memberinya kejutan. Ia datang ke rumah Alex dengan membawa kue buatannya serta rasa bahagia karena memutuskan memberi kegadisannya sebagai hadiah. Entah mendapat pikiran dari mana, tapi dirinya merasa sudah sangat cocok dengan Alex juga sangat mencintainya, jadi tak ada salahnya memberikan sesuatu yang paling berharga untuk Alex. Dan sebuah kebetulan, menemukan lingerie merah seksi di kamar Alex, ia pikir itu sengaja Alex siapakan untuknya. Memutuskan memakainya, kemudian dirinya akan mengejutkan Alex saat Alex sampai di rumah. Sayangnya semua hancur tak sesuai rencana saat melihat Alex membawa Mila.

“Kudengar setiap malam dia akan ke sini.”

Samar-samar Briana mendengar percakapan dua wanita yang duduk di sebelahnya.

“Benarkah?”

“Tentu saja. Temanku bilang pelayanannya sangat memuaskan.”

Lagi, tanpa sengaja Briana menguping pembicaraan dua tante-tante tersebut.

“Nah itu dia!”

Briana pasti sudah gila. Mendengar jeritan dari dua wanita itu membuatnya semakin penasaran dan membuatnya menoleh pada arah tunjuk tangan.

“Tampan sekali!”

Untuk kali ini Briana sependapat dengan dua wanita aneh itu bahwa pria yang saat ini berjalan masuk memanglah tampan. Tinggi tegap, tubuh yang tampak kokoh terbalut kemeja dan jas, serta langkah kakinya yang terlihat begitu tegas. Wajahnya begitu tampan lebih tampan dari Alex, pikirnya.

Briana segera menggeleng dan menajamkan penglihatan pada pria yang kini telah duduk di sofa sudut ruangan. Apa karena pengaruh minuman membuat penglihatannya samar? Padahal sebelumnya tak pernah sekalipun ia berpendapat bahwa ada pria yang lebih tampan dari Alex. Baginya Alex adalah pria paling tampan sebelum insiden beberapa jam lalu terjadi.

Tiba-tiba mata Briana melebar saat mendengar dua wanita itu kembali berbisik. Dan rasanya ia tak percaya. Bagaimana mungkin pria setampan itu adalah seorang Mr. G? Pria yang pekerjaannya memuaskan wanita yang menyewanya.

Briana menelan ludah susah payah saat pikiran gila menyerang. Selama 24 tahun hidupnya, ia belum pernah melakukannya. Ia selalu menjaga kesuciannya hanya untuk suaminya kelak. Sayangnya Alex, pria yang ia harap menjadi suaminya itu telah menghianatinya.

Briana turun dari duduknya dan dengan berani berjalan mendekati pria itu.

“Selamat malam, boleh aku duduk di sini?” tanya Briana setelah berdiri di samping sofa yang pria itu duduki.

Pria itu hanya diam dan melirik Briana sekilas lewat ekor mata. “Tidak,” jawabnya.

Briana terkejut. Untuk sekelas Mr. G, pria itu terlalu sombong bukan? Atau apa karena mengira ia tak sanggup bayar? Bagaimanapun pria itu tampan mungkin bayarannya mahal, pikirnya.

Briana mengukirkan senyuman dan tetap duduk walau telah mendapat penolakan. “Sayangnya aku ingin duduk di sini,” ucapnya yang dengan sengaja menghapus jarak antara mereka.

Pria itu tampak kesal kemudian berniat pergi. Namun saat ia berdiri, tangan Briana segera menahannya.

“Berapa aku harus membayarmu?” tanya Briana tanpa ragu.

Alis pria itu terlihat mengernyit tak mengerti maksud Briana.

Melihat respon pria itu, Briana bangkit berdiri dan berbisik di telinganya.

Pria itu mengamati Briana dengan seksama setelah mendapat bisikan godaan darinya. Kemudian ditariknya tangan Briana dan membawanya melangkah menuju lantai atas bar tempat kamar VIP yang sebelumnya bartender tawarkan pada Briana.

Sesampainya di kamar, pria itu mendorong Brina hingga terlentang di atas sofa beludru warna merah. Sebenarnya kamar itu adalah ruang karaoke namun bisa beralih fungsi kapanpun dan oleh siapapun.

Pria itu mengendurkan simpul dasinya tanpa melepas pandangan sedikitpun dari Briana. Kemudian dalam sekali tarik, dasi berwarna hitamnya itu pun terlepas.

Briana menelan ludah susah payah dengan tubuh menegang. Jujur saja ia takut tapi ia sudah terlanjur menyelam dan tak mungkin kembali ke permukaan. Dan apa itu tadi? Dirinya pasti sudah gila karena tubuhnya meremang kala melihat pria itu membuka dasinya sama seperti di film romansa dewasa yang pernah ia tonton.

Pria itu menunduk, lutut dan tangannya bertumpu sofa menahan berat tubuhnya. “Jika kau berbohong, kau akan tahu akibatnya,” bisiknya di telinga Briana dan semakin membuat Briana ingin segera memulainya dan segera menyelesaikannya.

Di tempat lain, terlihat Alex yang duduk berhadapan dengan seorang dokter. Mila berinisiatif membawanya ke rumah sakit takut terjadi sesuatu dengan Alex karena apa yang Briana lakukan. Tapi Alex memilih memeriksanya ke klinik terdekat.

“Setelah memeriksa, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Tapi jika anda masih mengalami rasa sakit atau nyeri setelah enam jam, sebaiknya anda periksakan ke rumah sakit. Alat dan perlengkapan di rumah sakit lebih lengkap, jadi jika terjadi sesuatu bisa segera melakukan tindakan,” saran dokter tersebut.

“Ba– baik, dok,” jawab Alex pelan. Sebenarnya ia malu harus periksa karena masalah seperti ini.

“Ini resepnya,” kata dokter itu kembali dan memberikan resep obat pada Alex. Namun sebelum Alex menerimanya, Mila lebih dulu merampasnya. Mila melihat resep obat yang dokter itu tulis dan gerutuan pun lolos dari mulut. “Wanita itu memang sudah tidak waras! Gila! Apa yang dilakukannya tak bisa dimaafkan!”

“Mil, sudah,” peringat Alex tak ingin dokter mendengar gerutuannya.

“Bagaimana aku bisa diam?! Jika terjadi sesuatu denganmu, bagaimana? Bagaimana nanti jika kita tidak bisa punya anak?!”

“Ehm.” Suara deheman terdengar dari dokter membuat Alex segera bangkit berdiri dari duduknya.

“Maaf, dok. Dan terima kasih,” ucap Alex yang segera membawa Mila keluar dari sana.

“Ish, Lex. Apa yang kau lakukan?! Biar semua orang tahu bagaimana kelakuan Briana yang sebenarnya! Dia itu hanya wanita bar-bar yang gila!” protes Mila karena Alex menyeretnya kasar.

Alex hanya diam dan melirik Mila yang tak berhenti menggerutu. Tiba-tiba ia teringat Briana yang membuatnya kembali ingat awal mula hubungannya dengan Mila. Tapi melihat sifat Mila yang semakin ke sini semakin kasar, mungkinkah dirinya telah masuk jebakan?

***

Kuku-kuku Briana menancap di punggung pria yang saat ini berada di atasnya. Air matanya menetes melewati ujung mata dan segera diseka ibu jari pria tersebut.

Pria itu tak pernah mengira malam ini adalah keberuntungan sepanjang sejarah baginya. Dengan gilanya didatangi seorang wanita yang mengajaknya menghabiskan malam bersama. Dan sebuah fakta bahwa wanita itu masih gadis membuatnya merasa menjadi bajingan paling beruntung. Mereka tak saling mengenal, baru bertemu saat ini bahkan sama sekali tak mengetahui nama satu sama lain.

Pria itu menunduk dan berbisik di telinga Briana. “Bukankah kau yang memintanya? Kenapa kau menangis?”

“Diamlah. Ini sangat menyakitkan jadi selesaikan dengan segera,” jawab Briana dengan rintihan tertahan.

Seringai tipis terukir di bibir pria itu di mana ia kembali berbisik, “Kau tenang saja, akan kuberi sihir agar rasa sakit ini menjadi kenikmatan.”

Sementara di lantai bawah, terlihat dua wanita yang sebelumnya menjadi sumber informasi Briana. Menjadi dalang yang membuat Briana melakukan hal gila. Dua wanita itu duduk di samping seorang pria yang sebelumnya mereka bicarakan. Kalau begitu, siapa sebenarnya pria yang saat ini memanjakan Briana?

Bab 3

Waktu masih pagi saat Briana membuka mata. Dahinya tampak berkerut saat mencoba meraih kesadaran sepenuhnya. Dan saat melihat wajah pria tampan yang semalam tak berhenti memonopolinya, seketika matanya melebar sempurna.

Briana menelan ludah susah payah. Ia kira apa yang ia alami adalah mimpi. Tapi melihat pria itu berada tepat di hadapannya bahkan saat ini memeluk pinggangnya, sudah pasti itu bukanlah mimpi. Terlebih dengan kondisi mereka yang sama-sma telanjang bulat.

Dengan hati-hati Briana menyingkirkan tangan pria itu dari pinggangnya kemudian turun dari sofa. Namun saat kakinya baru saja memijak karpet di bawahnya, dirinya justru jatuh terduduk membelakangi pria itu. Briana menoleh perlahan dan menadatapi pria itu masih terlelap membuat hela nafas kelegaan terdengar samar. Untung saja posisinya berada di tepi, jadi dirinya bisa bebas dengan cukup mudah.

“Ugh!” Briana memegangi perut bagian bawahnya kala hendak bangkit berdiri. Rasa sakit luar biasa kala ia bergerak membuatnya nyaris tak bisa bangkit. Tapi ia tak bisa berlama-lama di sana, ia harus segera pergi sebelum pria itu bangun.

Briana berpegangan meja, berusaha berdiri dengan kaki tampak gemetar, diambilnya pakaiannya yang tercecer dan memakainya. Setelah selesai memakai pakaiannya, diambilnya banyak lembaran uang dari dalam tas dan meletakkannya di atas meja sebagai bayaran.

“Terima kasih, Mr. G.” Tulis Briana pada selembar kertas kecil dan meletakkannya di atas uang yang ia tinggalkan. Sebuah ucapan terima kasih atas yang dilaluinya semalam. Setelah itu dirinya segera pergi dari sana meninggalkan pria itu yang masih terlelap.

Satu jam kemudian Briana telah sampai di rumahnya setelah pergulatan batin selama perjalanan. Rasanya ia ingin segera berendam air hangat agar bisa menjernihkan kembali otaknya. Kilatan ingatan kegiatan panasnya semalam terus berputar-putar beradu dengan ingatan pengkhianatan yang Alex lakukan.

Briana menghentikan langkahnya dan mengetuk dahi dengan kepalan tangan. “Sadar Bri, sadar,” ucapnya pada diri sendiri.

“Bri.”

Perhatian Briana tertuju pada pemilik suara yang sudah sangat ia hafal. Mengangkat kepala, ia melihat Alex berdiri di depan rumah dan menatapnya dengan raut wajah penuh penyesalan.

“Bri, kau baru pulang? Dari mana saja?” tanya Alex seraya menghampiri Briana yang masih berdiri di halaman.

Briana mengabaikan Alex dan melangkah berniat segera masuk ke dalam rumah.

“Bri, tunggu!” cegah Alex dengan tangan menggenggam tangan Briana.

Briana melirik tangan Alex yang menggenggam kuat tangannya. “Bukan urusanmu,” jawabnya seraya menarik tangannya. Untuk saat ini ia tak ingin berhadapan dengan Alex atau dengan siapapun.

“Bri, kumohon dengarkan penjelasanku. Dengarkan aku dulu, Bri,” pinta Alex mengiba. Ia kembali meraih tangan Briana dan menahannya.

Rasanya Briana benar-benar muak. “Lepaskan,” ucapnya dengan suaranya yang begitu dingin sama dinginnya dengan raut wajahnya kini.

“Tidak, sebelum kau mendengar penjelasanku!”

Briana terdiam cukup lama sampai akhirnya suaranya terdengar. “Baiklah. Jelaskan.” Tapi seperti apapun Alex menjelaskan, ia tak akan pernah percaya.

“Mila menjebakku, Bri. Selama ini dia terus mendekatiku. Dan saat kau ditugaskan di luar kota, dia mengatakan padaku bahwa kau berselingkuh.”

“Dan kau percaya?” potong Briana cepat yang membuat Alex seketika terdiam.

Briana menarik tangannya dan mengalihkan pandangan dari Alex seraya menjelaskan tujuannya semalam.

“Kemarin, aku berpikir memberikan hadiah spesial untukmu. Kau tentu tahu, hari ulang tahunmu bertepatan dengan hari anniversary kita. Dan kau tahu hadiah apa yang kusiapkan untukmu? Harga diriku. Aku berpikir memberikan harga diriku karena aku percaya padamu. Aku percaya kau akan menjadi suami terbaikku. Tapi apa yang aku lihat? Apa yang justru aku dapatkan? Justru aku yang mendapat kejutan mengerikan darimu.” Briana berusaha menahan air matanya. Ia tak ingin Alex melihatnya menangisinya dan membuatnya merasa di atas awan.

Alex tak sanggup berkata-kata mendengar pengakuan dari Briana. Dan entah kenapa membuatnya merasa menjadi pria paling bodoh di dunia. Padahal Briana sangat mencintainya, mempercayainya, tapi kenapa dirinya tak bisa melakukan hal yang sama? Tak bisa mempercayai Briana seperti Briana mempercayainya hingga akhirnya dirinya tenggelam pada hasutan Mila.

Merasa tak ada lagi yang perlu dibicarakan, Briana segera melangkah meninggalkan Alex yang seolah tak sanggup bergerak. Alex seakan menyadari kesalahannya membuatnya tak sanggup meminta maaf dari Briana.

Briana menutup pintu rumahnya kemudian menguncinya. Ia masih berdiri di sana sampai tiba-tiba tubuhnya merosot dengan air mata menetes deras. Ia terduduk bersimpuh dengan tangisan yang mulai terdengar. Samar-samar isakannya pun muncul dan tak mampu ia redam.

Andai saja waktu bisa diputar, Briana tak ingin bertemu dengan Alex jika pada akhirnya harus berakhir seperti. Inilah yang ia takutkan, saat ia telah jatuh cinta, dirinya menggunakan seluruh hatinya. Dan saat cinta itu melukainya, hancur pula hatinya yang telah ia persembahkan.

Sementara di luar, Alex berdiri di depan pintu. Ia menjatuhkan kepalanya pada pintu bercat coklat itu dan menggunakan ribuan kata maaf. “Maaf, Bri. Maaf, maafkan aku. Maafkan aku.” Ia benar-benar menyesal telah melakukan kesalahan. Sebenarnya ia juga sangat mencintai Briana, tapi karena hasutan Mila membuatnya melakukan kesalahan yang tak dapat dimaafkan. Kini, siapa yang harus disalahkan? Mila yang menghasutnya, atau dirinya yang dengan mudah percaya begitu saja?

Beberapa hari berlalu sejak malam menyedihkan yang Briana alami, hari ini dirinya kembali bekerja di perusahaan utama. Kembali bekerja sebagai karyawan marketing di perusahaan yang telah memberinya nafkah selama dua tahun terakhir.

“Bagaimana pekerjaan di sana?”

Saat ini Briana tengah berjalan bersama Rania, rekan kerja satu departemennya menuju gedung.

“Tidak ada masalah. Meski kebanyakan dari mereka adalah karyawan baru, tapi mereka bekerja dengan baik,” jawab Briana seraya mengingat pengalamannya bekerja di anak perusahaan yang baru dibuka beberapa bulan lalu.

Rania menghentikan langkahnya dan menyiku lengan Briana dengan wajah menggoda. “Cie, aku yakin setelah ini kau akan dipromosikan menjadi supervisor atau bahkan asisten manager,” ucapnya disertai tawa ringan.

“Ish. Apa maksudmu? Jangan bicara seperti itu,” timpal Briana disertai dengusan. Dirinya sama sekali tak mengharapkan hal itu. Yang penting ia bisa bekerja dengan tenang, menghasilkan uang untuk biaya adik-adiknya sekolah dan menjalani kehidupannya dengan damai dan normal. Membicarakan kedamaian, tiba-tiba saja ia teringat Alex.

Rania yang melihat wajah Briana menjadi murung, seketika bertanya, “Eh? Ada apa denganmu? Bukankah harusnya kau senang jika naik jabatan?”

Briana tersenyum kecut yang seketika membuat Rania tahu apa masalah yang sebenarnya Briana pikirkan.

“Tunggu, jangan bilang kau kepikiran mantanmu yang sialan itu juga temanmu yang tak tahu diri itu,” tuduh Rania dengan tatapan penuh selidik.

Hela nafas panjang lolos dari mulut Briana. “Rasanya aku ingin memutar waktu. Jika mengingatnya, aku merasa sangat bodoh. Sangat-sangat bodoh.” Dan yang ia maksud di sini adalah, menyewa seorang pria untuk mengambil kegadisannya. Jika ada kategori wanita paling bodoh dalam guinness world, mungkin ia akan menjadi juaranya.

“Ya sudah lah, mau bagaimana lagi? Begini saja, daripada kau murung terus, aku akan menunjukkan sesuatu padamu. Anggap saja cuci mata. Sejak kau dipindahkan ke luar kota, direktur kita ganti,” ujar Rania memberitahu.

“Aku tahu,” sahut Briana.

“Tapi kau kan belum pernah melihatnya. Sekarang, berdiri di sini dan aku akan mempertemukanmu dengan direktur baru kita, mister G.”

Alis Briana tampak menyatu. “Mister G?” ucapnya mengulang ucapan Rania.

Rania mengangguk pasti kemudian tangannya menangkup wajah Briana dan menolehkannya ke arah dua orang yang berjalan menuju ke arah mereka. Lebih tepatnya ke lobi tempat mereka berdiri sekarang.

Briana tampak menajamkan penglihatannya. “Dia ….” gumamnya.

“Eh? Kau sudah pernah melihatnya?”

Seketika tubuh Briana menjadi kaku teringat jika pria yang saat ini berjalan ke arahnya adalah pria malam itu. Bagaimana bisa?!

Tepat di saat itu tanpa sengaja arah pandang pria itu tertuju pada Briana yang tampak mematung menatapnya. Untuk sepersekian detik ia cukup terkejut, namun setelahnya seringainya justru merekah. “Akhirnya kita bertemu lagi, wanita sialan,” ucapnya dalam benak.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED