Bab 1

Alina menghembuskan nafasnya yang terasa begitu berat saat sampai di dalam apartement kecilnya. Entah mengapa dia merasa hari ini terasa sangat melelahkan. Alina Davidson atau yang biasa disapa Alin sudah 4 tahun kuliah dan tinggal di London, jauh dari keluarga dan hidup mandiri di negeri orang.

Alina memilih tinggal jauh dari Indonesia agar bisa menjauh dari cinta yang tak terbalaskan. Kegiatannya di London begitu membosankan. Hanya hanya melakukan rutinitas yang sama berulang kali setiap hari tanpa ada perubahan yang berarti.

Suara dering telepon berbunyi berkali-kali dari ponselnya membuat ketenangan hidupnya yang sementara waktu menjadi terganggu.

"Hallo kak," sapa Alin saat Alden menghubunginya.

"Hallo Alin... bagaimana kabarmu?"

"Baik kak seperti biasanya," jawab Alina dengan malas.

"Alin, kakak merindukan sayang" sapa Erika sambil merebut ponsel dari Alden.

"Terima kasih kak, kapan melahirkan kak?"

"3 minggu lagi sayang... kamu jadi pulangkan?" tanya Erika.

"Iya kak."

Alina dulu sangat dekat dengan Erika mungkin karena kakak iparnya itu  mengerti perasaannya. Erika lah yang menyemangatinya yang dulu sempat patah hati, sebenarnya Erika tak salah, tapi dia belum bisa menerima kenyataan yang ada.

Dulu segala macam cara sudah dia lakukan untuk mendapatkan cinta pria itu, berharap pria itu bisa menerima cintanya walau dia tau masih ada wanita lain dalam hatinya. Dia melihat jam dinding waktu sudah menunjukan jam 11 malam, dia memutuskan untuk tidur dan beristirahat. Alina teringat kejadian 4 tahun yang lalu.

Alina menatap dirinya di depan cermin sambio mencoba berbagai macam gaun yang akan dia kenakan saat acara resepsi pernikahan kakaknya Alden.

"Sudah Lin, nanti cerminnya pecah loh," ujar Lucy mami Alina.

"Apaan sih mi," Alina mengerucutkan bibirnya.

"Kamu selalu cantik mau pakai baju apapun. Mami yakin Thomas klepek-klepek."

"Serius mi?" tanya Alina antusias. Lucy menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada anak tirinya.

Alina sangat bahagia. Mata melalang buana mencari keberadaan pria yang dicintainya. Senyuman terukir di bibirnya saat orang yang dicarinya datang di acara pernikahan Alden dan Erika. Pesona Thomas begitu menarik perhatiannya, bahkan bukan hanya dirinya beberapa wanita tamu undangan juga terlihat tertarik pada pria itu.

Dia sangat kesal kenapa Thomas begitu mempesona hingga banyak mata wanita-wanita meliriknya. Ingin sekali dia mencungkil mata wanita genit itu agar tidak lagi bisa menatap prianya.

Akan tetapi pria yang diharapkan Alina tidak memperhatikannya. Thomas menatap sedih kearah Erika. Erika, wanita yang sangat dicintainya terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin di samping Alden. Hatinya sakit menatap kebahagian kedua mempelai yang seakan menari di atas penderitaannya.

Thomas tak ingin berlama-ama lagi di sini karena membuatnya tak nyaman. Saat akan pergi Thomas melihat adiknya Alden berjalan mendekatinya, Thomas sempat terpanah melihat gadis itu dengan senyuman malu-malu .

"Haiii kak Thomas," sapa Alina dengan senyuman terindahnya.

"Ya." Thomas hanya membalas dingin.

"Kakak kok lama sih datangnya."

Tidak ada jawaban dari Thomas, pria itu hanya menatap Alina tanpa ekspresi. Merasa tak ada jawaban dari Thomas membuat Alina terluka. Dia merasa tak dianggap oleh pria yang dicintainya.

Keadaan berubah menjadi canggung. Thomas memutuskan untuk pergi meninggalkan Alina, dia tidak ingin berlama-lama di sana terlebih ada adiknya Alden. Dia tahu kalau Alina menyukainya dan tak ingin memberikan harapan pada gadis kecil itu.

Sebenarnya Thomas tak ingin memberikan harapan pada Alina, tapi memang kesalahannya juga saat sedang merasa kesepian dan sedih malah mencium bibir gadis berusia 18 tahun tersebut. Kecantikan dan kepolosan Alina sama persis seperti Erika dulu dan itu mampu membuatnya tertarik pada gadis itu.

  "Kak mau kemana?" tanya Alina menahan lengan Thomas.

Thomas mengerutkan dahinya. Dia tak suka Alina memegang lengannya.

"Kak jawab dong jangan cuma diam begitu," ucap Alina yang kesal dengan sikap dingin Thomas.

Thomas menghela napasnya. "Pulang," jawabnya datar.

"Kok cepat banget sih Kak pulangnya. Apa gak makan dulu atau minum apa dulu gitu."

Alina terus berbicara dengan semangat pada Thomas walau pria itu tidak memberikan respon apapun. Thomas merasakan sangat  sesak berada di pernikahan Alden dan Erika dan hanya ingin secepatnya pergi dari sini sehingga tak mendengarkan semua ucapan gadis kecil itu.

"Kak bisa minta nomor ponselmu?" tanya Alina tak mau menyerah.

  "Nanti aja yaa." Thomas pergi begitu saja dari hadapan Alina.

Alina tak percaya Thomas meninggalkannya dan tak memperdulikannya padahal di sekolah dia salah satu primadona, banyak sekali yang menyukainya, tapi sayangnya dia tak tertarik pada mereka. Sikap Thomas yang cuek, dingin, dan tak menganggapnya ada malah membuatnya tertantang dan tertarik pada pria itu.

Alina seakan tak memiliki tenaga lagi. Dia duduk dengan lemas dimeja khusus keluarga, disana ada Erik.

"Kenapa lo? Lemes amat," tanya Erik memperhatikan wajah Alina.

"Gak apa-apa." Alina meletakkan wajahnya di meja, hal ini biasa dia lakukan jika dia merasa hatinya sedang tak kesal dan gundah gulana.

"Yaah, gak asyik lo malah lemes gitu, tapi gue tau apa yang bisa bikin mood lo membaik lagi." Erik masih berusaha menghibur Alina dengan caranya.

"Apaan sih lo," ujar Alina masih dengan posisi yang sama dan menutup matanya.

Erik mengambil ponselnya dan menghubungi Thomas. "Halo bang Thomas."

Alina dengan refleks membukan mata nya saat mendengar Erik memanggil nama Thomas. Dia berusaha mendengarkan pembicaraan mereka, tapi masih dengan posisi yang sama. Dia langsung mengangkat kepalanya setelah Erik selesai berbicara di telepon.

"Apa?" Erik melirik Alina.

"Lo punya yang gue mau." Alina tersenyum penuh arti menatap Erik. Tiba-tiba saja dia berubah menjadi sangat ramah pada adik Erika.

"Apa?" Erik berpura pura tidak tau apa yang di maksud Alina.

"Itu kak Thomas." Alina menatap Erik dengan antusias.

"Kenapa bang Thomas?"

"Minta nomor ponselnya Mr Cool dong."

"Mr Cool? Who?"

"Kak Thomas. Aku memanggil Kak Thomas dengan nama Mr Cool karena dia sangat dingin bagaikan Cool-kas."

Erik tertawa mendengar perkataan Alina. Gadis itu benar-benar sudah jatuh cinta pada pria yang jauh lebih tua darinya. "Tidak ada yang gratis di dunia ini nona."

"Lo mau apa gue kasih Rik, please minta nomor ponsel Mr Cool yaa, please..." Alina menatap Erik dengan mata berbinar-binar bahagia.

"Nanti gue pikirkan." Erik menggoda Alina.

"Sumpah yaa lo memang menjengkelkan!"  Alina merasa gemas dipermainkan Erik.

"Hahaha emang gue pikirin." Erik lagi-lagi menggoda Alina.

Alina berdiri menghentakkan kakinya, beranjak dari meja Erik dan Erik tertawa melihat kelakuan Alin yang kekanak-kanakan.

Tanpa terasa air mata terjatuh di pipi Alina saat teringat kejadian berapa dia begitu mengejar cinta Thomas. Rasanya baru seperti kemarin rasa cintanya menggebu-gebu pada pria yang tidak pernah mengaggapnya ada.

Thomas Saputra, nama pria yang selalu terukir di dalam hatinya. Betapa bodoh dan lugunya dia dulu mengejar pria itu. Ingin sekali dia menghapus semua kenangan tentang

Bab 2

"Good morning Baby." Kevin membangunkan Alina dengan kecupan di keningnya.

"Eeeh... Kevin." Alina terbangun dari tidurnya menatap tak percaya pada pria yang sudah beberapa tahun ini selalu bersamanya.

"Yes baby, it's me, Kevin." Kevin menatap Alina penuh cinta.

"Kapan kamu datang? Bukannya besok?"

"Aku sudah gak tahan lagi ingin bertemu sama kamu. Aku merindukanmu, baby."

"Idiih Kev. Jangan gitu deh, kamu ini sukanya membuat kejutan aja."

Kevin menyentuh wajah Alina. Alina tersenyum dengan semua perlakuan lembut Kevin.

"Ayo mandi, hari aku akan mengantarkan tunanganku yang paling cantik di dunia ini ke kampusnya."

"Gendong, aku males jalan." Alina berkata manja pada Kevin.

"Sepertinya tanpa aku, kamu itu gak bisa melakukan apapun deh, dasar gadis manja." Kevin menyubit hidung Alin yang mancung.

"Ada satu hal yang aku bisa lakukan tanpa kamu."

"Apa itu?"

"Mandi." Alina mengecup pipi Kevin lalu segera berlari ke kamar mandi. Kevin tertawa dengan kelakuan Alina yang menurutnya sangat menggemaskan.

Rasa cintanya yang begitu besar untuk Alina membaurnya rela melakukan apapun demi melihat gadis itu tersenyum bahagia. Dia jatuh cinta pada pandangan pertama saat pertama kali Cory, ibunya memperkenalkan Alina padanya. Dia jadi teringat kenangan 4 tahun yang lalu saat Lucy yang sahabat ibunya sengaja menjodohkannya dengan Alina.

"Eeh jeng cakep pisan anakmu. Cocok ini sama Alina," ujar Lucy bertemu dengan Cory ibu Kevin.

"Aduuh jeng terima kasih, Alina juga cantik banget. Kayaknya memang cocok dengan Kevin." Cory bersemangat menjodohkan anaknya Kevin dengan Alina.

Tak membutuhkan waktu lama untuk Lucy dan Cory melakukan perjodohan antara Kevin dan Alina. Cory menunggu Lucy dan Alina di salah satu restoran mewah di daerah Jakarta. Kevin terpanah saat pertama kali melihat Alina, seorang gadis blasteran dengan wajah sempurna mampu membuatnya ingin memiliki gadis tersebut.

Lucy dan Cory memperkenalkan Kevin dan Alina. Kevin tak percaya melihat tingkah Alina yang sama sekali tak tergoda saat melihatnya, biasanya banyak wanita yang langsung cari perhatian dan menggoda kecuali Alina.

Kevin menatap Alina dengan heran gadis itu hanya diam dengan tatapan kosong, hanya menjawab seperlunya saja. Alina seperti hanya raga nya saja di sini, tapi jiwa dan pikirannya berada entah dimana. Acara pertemuan perjodohan Alina dan Kevin berjalan dengan baik, tak ada penolakan yang dari mereka berdua.

Pertemuan kedua hanya ada Alina dan Kevin di salah satu kafe mewah.

"Alina kamu mau makan apa?" tanya Kevin.

"Sama aja dengan yang lo pesan," jawab Alina.

Kevin menghela napasnya dia merasa Alina sama sekali tak tertarik padanya terlihat dari bahasa Alina yang berbicara padanya dengan gaya bahasa yang berbeda dan dia tak ingin membuang waktunya dengan gadis yang tak tertarik padanya.

"Alina kalau lo ga menginginkan perjodohan ini katakan saja. Jika lo ga enak menolak ntar gue yang bilang ke nyokap dan tante Lucy kalau gue ga mau perjodohan ini jadinya lo aman ga akan dimarahi," ujar Kevin dengan serius pada Alina.

Mendengar perkataan Kevin membuat Alina tertegun. Kenapa pria itu malah mengorbankan dirinya sendiri? Kevin berbeda dengan Thomas.

"Lo tenang aja, gak usah merasa gak enak, gue ngerti kalau Lo gak tertarik sama gue." Kevin tersenyum walau dalam hatinya kecewa.

"Panggil gue, Alin. Yaa gue keberatan dengan perjodohan ini, bukannya gue ga suka sama lo tapi maaf udah ada yang gue cintai," jawab Alina secara terus terang tanpa basa-basi.

"Wow lo terus terang banget ya tanpa basa-basi, gue suka sama sifat lo yang begini, lo itu menarik," jawab Kevin.

"Terima kasih, tapi maaf banget yaa. Ooh iya gue mau pergi dulu, Ini nomor gue kalo lo butuh gue tinggal calling or whatsup gue aja, gue cabut dulu ada urusan yang mau gue urus dulu," jawab Alina lalu beranjak pergi meninggal Kevin.

Kevin tak percaya Alin meninggalkan dia sendirian di kafe tersebut. Kevin melihat kepergian Alin dengan tatapan ingin memiliki. Baru kali ini dia bertemu dengan wanita yang sama sekali tidak tertarik padanya.

Selama 3 tahun Kevin pindah ke London untuk menjadi direktur di salah satu hotel cabang London. Hidup Kevin terasa biasa saja, gonta ganti pasangan sudah biasa dalam kehidupan Kevin seperti sekarang dia memilih menghabiskan waktunya bersenang dengan teman temannya di salah club.

Disaat dia sedang menikmati musik dan minum minuman beralkohol tiba tiba datang seorang wanita yang berjalan terhuyung-huyung sambil memegang kepalanya. Wanita itu terjatuh dan terduduk dipangkuan Kevin.

"Ma..maaf gue ga sengaja," ucap wanita itu.

Kevin menatap tak percaya saat tahu ternyata gadis itu pernah menolaknya. "Alin? You, Alina Davidson, right?"

Alina menengadahkan kepalanya ke sumber suara yang menanggilnya. "Who are you?" Dia mengerutkan dahinya.

"Oh my Lord, You don't remember me, I'm Kevin." Kevin menatap Alina tak percaya.

"Kevin? Are you that important for i remember?" Alina tak memperdulikan Kevin, dia berusaha untuk berdiri, tapi malah terjatuh lagi dalam pelukan Kevin.

"Alin kenapa kamu mabuk begini sih?" tanya Kevin tak percaya.

Mendengar pria itu menggunakan bahasa Indonesia membuat Alina menatapnya lebih lekat. Dia berusaha mengingat siapa pria yang memangkunya.

"Gue ingat Lo si Kevin. Pria yang dulu pernah gue tolak, hahaha. Apa kabar Kevin?" tanya Alina menatap Kevin. "You so handsome, Kevin. Kenapa aku baru menyadari kalau kamu sangat tampan."

Kevin merasa sangat tersanjung Alina memujinya. Ingin rasanya dia berjoget-joget seperti belatung nangka, tapi tak mungkin itu akan membuat harga dirinya sebagai Casanova akan berakhir sia-sia.

"Who is this woman, Kevin? Why are you hugging her?" tanya wanita berpenampilan seksi itu dengan marah.

Kevin menepuk keningnya sendiri. Dia lupa dengan Lorena, wanita yang dari tadi menemaninya.

"Sssttt, shut up!" Alina menempelkan jari telunjuk di bibirnya. "Lo, bule bau jarang mandi, pergi sana!" Dia mengayunkan jarinya mengusir Lorena. Tentu saja Lorena yang tidak mengerti bahasa Indonesia hanya menatap Alina heran.

Alina menatap Lorena tajam. "You know bule jelek this man is my fiancee."

Kevin melihat Alin tak percaya mendengar Alina berkata dia tunangannya setelah 3 tahun lalu menolaknya. Dia tak bisa mempercayai gadis itu bisa dengan mudah mengatakan perkataan yang membuatnya hatinya berbunga-bunga.

"You think i'll believe it! Get out of the way you, bitch!" Lorena berteriak marah pada Alina.

"Kev, kepala gue pusing," rengek Alina sambil memeluk manja di dalam dekapan Kevin.

Kevin yang tak ingin ada peperangan antar dua wanita itu memilih untuk menggendong Alina dan membawanya pergi dari club malam tersebut.

Kevin tersenyum mengingat pertemuan yang ketiga kalinya dengan Alina. Pertemuan yang sama sekali tak pernah dia percaya, pertemuan yang membuatnya bisa memiliki Alina.

"Hayoo melamun aja sih Kev, melamun hal jorok yaa." Alina memeluk Kevin dari belakang.

"Iya hal jorok bersama mu baby," ujar Kevin menggoda Alina.

"Iiih jangan gito dong aku kan masih dibawah umur," teriak Alina dengan suara manja yang dibuat-buat seperti anak kecil.

"Dibawah umur yaa." Kevin mendekatkan bibirnya pada bibir Alina, mengecupnya kecupan kecil berubah menjadi ciuman mesra.

"Aaah Kev." Suara desahan keluar dari bibir Alina.

Kevin semakin bernapsu untuk melakukan hal yang lainnya. Ciuman di bibir berubah ke curuk leher gadis itu sambil tangannya membelai lembut gunung kembar Alina dan berubah menjadi remasan yang penuh gairah.

Alina menggeliatkan badannya. Dia sangat menikmati setiap belaian demi belaian yang dilakukan Kevin pada tubuhnya. Dia sangat merindukan belaian membangkitkan gairah dari tunangannya. Kevin selalu tahu kalau dia gadis yang merindukan kasih sayang.

Jari jemari Kevin bermain di daerah sensitif Alina, tapi pria itu tidak memasukan jarinya di dalam inti gadis itu sambil mereka saling melumat penuh gairah menumpahkan seluruh kerinduan yang selama ini terpendam. 

Tiba-tiba Alina teringat kalau hari ini dia harus kuliah, jika terus bermesraan seperti ini akan berakhir di tempat tidur dan tak berangkat kuliah lagi. Dia pun mendorong tubuh Kevin.

"Cukup Kev. Aku harus kuliah baby," ucap Alina dengan wajah sebal.

"Aawww my baby sangat bersemangat sekali yaa mau kuliah."

"Kalau aku gak selesai kuliah bagaimana kita akan menikah baby. Aku gak mau kalau gak menyelesaikan pendidikanku."

"Iya baby." Kevin mencubit gemas hidup Alina.

"Sakit baby." Alina mengeluh manja dengan raut wajah kesal pada tunangannya.

Dalam perjalanan ke kampus Alina dan Kevin mampir terlebih dulu ke salah satu kafe untuk sarapan. Saat mereka saling bercanda tiba-tiba Alina melihat seorang pria yang dia kenal membuat jantungnya berdetak lebih cepat.

"Thomas," ujar Alina nyaris tanpa suara. Dia melihat pria yang sangat dirindukannya berdiri di depan lift. Rasa sesak mendesak masuk ke dalam dadanya hingga tanpa terasa bulir-bulir air mata terjatuh di pipinya.

Kevin terkejut melihat perubahan dan ikut menatap ke arah pandangan tunangannya itu, akan tetapi tak ada siapapun di sana.

Bab 3

"Halo apa ini benar nomor  Thomas?" tanya Alina di balik telepon genggamnya.

"Siapa ini?" tanya Thomas.

"Kak, aku Alina."

Thomas mengernyitkan dahinya setelah tau siapa yang menghubungi ponselnya dan akan memutuskan hubungan teleponnya.

"Kak please jangan di matiin dulu, tolong aku kak."

"Telepon Damkar atau Polisi aja buat minta tolong bukan ke aku."

"Astaga Kak, masa sampai ke Damkar sama Polisi sih untuk minta bantuan. Selama masih ada Kak Thomas minta bantuan ke kakak aja ya, please..."

Thomas tanpa basa-basi memutuskan hubungan komunikasi mereka. Alina sangat kesal pria dingin itu mematikan komunikasi mereka, tapi dia tak mau menyerah dan kembali lagi menghubungi ponsel pria itu. Dia akan terus meneror ponsel Thomas sampai laki-laki akan mengangkat teleponnya.

"Kamu mau apa lagi sih!" Thomas membentak Alina dan berharap adik ipar Erika berhenti mengganggunya. 

"Tolong aku, Kak," ujar Alina manja.

"Aku gak mau menolongmu! Apa kamu itu gak tau malu ya, jangan ganggu aku lagi." Thomas berkata kasar agar Alina menyerah mendekatinya.

Awalnya Alina sakit hati dengan bentakan Thomas, tapi dia bukan Alina namanya kalau menyerah begitu saja. Semakin Thomas menolaknya, semakin membuatnya tertantang untuk menaklukan pria dingin sedingin kulkas itu.

"Aku mohon tolong aku, Kak." Suara Alina bergetar menahan tangis.

Thomas menghela napasnya. Dia jadi tak tega dengan Alina. "Kamu kenapa?"

Alina tersenyum dibalik telepon. Dia hanya berpura-pura sedih. "Mobil aku tiba-tiba mati."

"Telepon bengkel aja."

Alina jadi bingung sendiri harus mencari alasan apa lagi sekarang ditambah Thomas kembali menutup teleponnya.

"Dasar Mr Cool-kas sialan! Aku tidak akan menyerah untuk mendapatkanmu. Kamu harus jadi milikku, Thomas Sapo tahu eeh Saputra. Semangat Alina!" Alina memberikan semangat pada dirinya sendiri.

Tanpa menyerah Alina kembali berkali-kali menghubungi Thomas dan sesuai dengan yang sudah dia prediksi pria itu akhirnya mengangkat teleponnya.

"Apa lagi?" tanya Thomas kesal.

"Aku takut Kak," ucap Alina dengan suara sangat menyedihkan.

"Takut kenapa lagi?"

"Kak tolong aku kak hiks... hiks... kak aku takut sendirian di sini kak hiks." Alina berpura pura menangis.

"Hubungi Alden sana, jangan ganggu aku lagi!" Dan Thomas kembali memutuskan komunikasi mereka.

Thomas menggelengkan kepalanya sendiri  dengan tingkah laku adik ipar Erika, tapi di saat bersamaan dia juga tersenyum. Kelakuan Alina ini persis seperti yang dulu pernah Erika lakukan saat berusaha menarik perhatiannya.

Alina sangat kesal rencananya malah gagal. Bukannya Thomas menolongnya, tapi laki-laki itu malah tidak memperdulikannya.

"Sial air mata gue ini berharga. Sekali menetes bisa keluar mutiara loh," ucapnya kesal.

Alina menghubungi Erik untuk menceritakan kejadian ini dan meminta saran dari laki-laki itu.

"Rik rencana gue gagal nih," ujar Alin pada Erik.

"Emang rencana lo apa?" tanya Erik penasaran.

Alina kemudian menceritakan semua rencananya yang gagal dengan sangat kesal.

Gelak tawa terdengar dari sebrang telepon.

"Lo sih kebanyakan nonton sinetron dah ini jadilah otak lo penuh dengan sinetronisasi begitu dah hahaha." Erik mendengarkan rencana Alin yang baginya receh dan sinetron banget.

"Apaan sih Rik! Lo kok gitu sih bukannya bersimpatik ke gue," ucap Alina kesal.

"Nih dengerin rencana gue yang sudah master dalam hal bersilat lidah."

"Buset dah canggih bener lidah lo bisa silat, lidah lo dari perguruan mana?" mulut Erik menganga saat mendengarkan perkataan Alina.

"Lin, lo sehat kan? Sumpah omongan lo bener bener super polos dan lugu." Erik menggelengkan kepalanya saat mengomentari omongan Alina.

"Aah, diam lo berisik amat kayak emak-emak sibuk ngerumpi sambil kasih makan anaknya di keliling kompleks perumahan deh," sahut Alin dengan ketus.

"Jiaah, lo kate gue emak-emak berdaster apa, denger ya gue tuh bukan emak-emak berdaster, tapi berpiyama." Erik tak mau kalah dari Alina.

"Heh penting ga sih bahas beginian, unfaedah banget sih lo." Alin mulai kesal pada Erik yang tidak to the point menjelaskan rencananya malah muter muter kesana kesini.

"Lah lo sendiri yang mulai, yaa nih gue bilangin rencana gue supaya bang Thomas bisa ngelirik boneka kayak lo."

"Aduuh makasih banget Rik udah bilang kalo gue kayak boneka."

"Boneka santet maksudnya."

"Eriiiiik kurang ajar lo, gue bilangin kak Erika lo!! Gue bilangin mama Ella lo, lo liat aja."

"Akh, gak asyik lo main lapor nyokap sama sister gue. Yaa udah, sini gue kasih tau rencana yang sempurna." Erik menjelaskan rencananya pada Alina.

Walau Erik dan Alina bertengkar tapi mereka selalu bersama, saling bercanda, bertengkar, tapi saling membantu. Alina tak sabar menunggu besok dengan segala rencana yang Erik ceritakan padanya dan berharap rencana tersebut berhasil.

***

Keesokan harinya

Thomas datang di salah satu kafe tempat dia janjian dengan Erik. Thomas melihat Erik melambaikan tangannya dan menghampiri Erik.

"Hai Rik, Ada apa manggil gw," sapa Thomas.

"Gue kangen sama lo, Bang "

"Haha alay lo."

Erik dan Thomas ngobrol sambil bercanda tak lama Alina datang dengan senyuman sumringah di wajahnya.

"Hai Lin lo ada disini juga?" Erik berpura-pura terkejut bisa bertemu dengan Alina di sana.

"Gue juga kaget ada lo disini Rik, eeh ada kak Thomas... Hai kak kita bertemu lagi? Kita sering banget loh bertemu apakah ini pertanda?" ujar Alina dengan pura-pura memikirkan sesuatu.

"Kenapa lagi-lagi gue harus ketemu sama lo ya Lin." Thomas melihat curiga pada Erik. Dia mengenal Erik yang suka jahilnya di atas rata-rata, Alden saja pernah dikerjai saat akan melamar Erika.

"Mungkin kah ini pertanda kalau kalian sebenarnya berjodoh bang," jawab Erik dengan santai. Thomas hanya bisa diam, melihat Erik dengan tatapan tajam.

Alina akhirnya duduk bersama dengan mereka, bercanda dan saling tukar cerita. Alin melihat Thomas begitu berbeda dengan senyuman dan canda tawa. Dia biasanya melihat wajah Thomas yang selalu datar tanpa ekspresi, tapi sekarang berbeda dia semakin tergila-gila pada Thomas.

Tanpa terasa hari semakin larut dan sudah menunjukan waktu jam 10 malam.

"Bang, gue balik duluan yaa, ada janjian sama orang nih." Erik pergi begitu saja meninggalkan Alina dan Thomas berdua di kafe tersebut.

Suasana mendadak menjadi canggung, Alina tanpa Erik bingung harus memulai pembicaraan apa dengan Thomas.

"Mau pulang jam berapa Lin?" tanya Thomas.

"Sekarang sih kak tapi aku tadi gak bawa mobil." Alin tadi datang bersama Erik dan memang sudah rencana Erik agar Thomas mengantarkan Alin pulang agar hubungan mereka jadi lebih dekat.

"Lalu kamu pulang baik apa?"

"Mungkin taksi."

"Ooh yaa udah." Thomas langsung pergi dari meja setelah membayar semuanya.

Alina tertegun tak percaya, betapa tega nya Thomas meninggalkannya sendirian di kafe tersebut. Dia berjalan keluar kafe dengan menundukkan kepalanya merasa sangat sedih biarlah dia dibilang terlalu terbawa suasana, tapi memang sekarang dia lagi kecewa.

Brugh. Alina memegang kepalanya yang terasa sakit saat menabrak dada seorang pria sampai terjatuh.

"Maaf aku ga sengaja," ujar Alin lalu berdiri tanpa melihat siapa yang dia tabrak. Dia melanjutkan jalannya sendiri di trotoar tak memperdulikan keadaan sekitar terus berjalan sampai kelelahan dan tak sanggup lagi berjalan. Dia kemudian berjongkok memeluk dengkulnya sendiri lalu menangis. 

"Sudah capek kan jalannya, ayo berdiri aku antar kan pulang tak baik seorang gadis cantik berjalan sendirian dimalam hari."

Alina mengerjapkan matanya, apa dia tak salah dengar lalu menengadahkan kepalanya. "Kak Thomas." Dia menatap tak percaya.

"Ayo berdiri aku antar kamu pulang," ucap Thomas tak tega menatap Alina.

"Kakak kok di sini? Apa kakak menguntitku?" Mulut Alina menganga. Dia tak percaya Thomas mengikutinya sepanjang jalan.

Thomas menutup matanya. Dia memang sengaja mengikuti Alina yang berjalan tanpa arah. Mana mungkin dia meninggalkan gadis berusia 18 tahun itu berjalan sendirian di malam hari.

"Tutup mulutmu nanti masuk nyamuk," ucap Thomas.

Alina langsung menutup mulutnya dan mencoba berdiri, tapi kakinya terasa kram. Dia meringis merasakan kakinya yang sakit.

"Ayo naik kepunggungku." Thomas berjongkok di depan Alina memutar badannya sehingga punggungnya di hadapan gadis itu. Alina sangat senang Thomas mau menggendongnya.

"Tapi aku berat kak," ucap Alin dengan malu-malu, tapi sebenarnya dia sangat bahagia.

"Naik ga nih atau aku pergi aja deh kalo gitu." Thomas akan berdiri. Alina langsung menarik baju Thomas membuat laki-laki itu limbung dan kehilangan keseimbangan lalu jatuh terduduk.

"Aduuh pantatku." Thomas mengelus pantatnya.

"Mamamaafkan aku kak." Alina menjadi tak enak sendiri.

Thomas kembali ke posisinya berjongkok dengan punggungnya menghadap Alina. Alin lalu naik keatas punggung Thomas, Thomas menggendongnya dibelakang menuju parkiran mobil di kafe yang tadi mereka makan bersama.

Sepenjang perjalanan yang singkat itu mereka hanya diam, tapi senyum ceria terukir di bibir Alina, Thomas ternyata memperdulikannya dan tidak meninggalkannya. Begitu juga dengan Thomas, dia tersenyum kecil saat menggendong Alina. Dia merasakan ada desiran aneh di dalam hatinya.

Alina tersenyum sendiri mengingat kenangan manisnya 4 tahun yang lalu bersama Thomas. Walau hanya hal kecil seperti itu tapi mampu membuat Alin tak dapat melupakan Thomas sampai sekarang.

Walau dia sudah berpisah dari Thomas, tapi lelaki itu selalu ada dalam ingatannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED