“Lepas bajunya, Dek!” titah cowok depanku yang duduk di atas tempat tidur.
Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada dengan mata melotot ke arahnya.
“Dih, siapa lo ngatur-ngatur hidup gue, jangan mesum ya. Otak dijaga itu!” sahutku kesal.
“Kamu kan udah sah jadi istri aku. Lagi pula, otak kamu itu yang dicuci dulu. Kalo nggak mau ya nggak maksa.” Cowok itu lalu berbaring di tempat tidur tanpa menghiraukanku.
Aku menatap ke tubuhku sendiri, baju pengantin masih melekat. Bahkan sanggul di atas kepala juga terasa mulai sesak dan panas.
Gerah, sumpah ini gerah banget. Mana kipas angin dihadapkan ke badan dia sendiri pula. Padahal ini kan kamarku, kenapa jadi manusia itu yang berkuasa.
Aku berjalan ke depan kipas angin, lalu duduk di tepi ranjang menghadap ke kipas. Huuyft, segernya.
Sambil memejamkan mata aku menikmati angin sepoi-sepoi yang mengenai leher.
“Mau sampai kapan?” tanya suara di belakangku.
Aku menggeser duduk, melirik sekilas ke belakang dan kembali membuang muka. Kenapa jantungku jadi berdebar-debar gini sih lihat cowok yang dijodohkan Mama.
“Aaa, aaa, apanya?” tanyaku gugup.
“Ya kamu, duduk di sini. Lihat jam berapa? Kamu betah pakai baju kebaya?”
“Suka-suka gue lah.”
Aku bersungut dan hendak bangkit dari duduk, lalu tanganku tiba-tiba ada yang menarik hingga aku kembali terduduk.
“Ish, lepasin!” kataku menarik tangan dari genggamannya.
“Dek, aku ini suami sah kamu. Kok kamu kaya gini sih? Kamu nggak suka sama aku?” tanyanya.
“Iya. Mas kan tau aku punya pacar. Lagian kenapa Mas mau sih dinikahin sama aku? Aku ini nggak bisa apa-apa loh, kalo tidur suka ngorok, ileran, masak nggak bisa, nyuci nggak bisa.” Aku mencoba menceritakan kejelekan aku sendiri, biar dia ilfeel.
Eh bukannya kaget, dia malah tertawa. Lalu mengusap rambutku yang masih ada sanggulnya.
“Udah tau. Kamu itu dititipin sama kedua orang tua kamu ke aku. Buat jadi istri yang baik, taat, dan Sholehah.”
“Hah? Dititipin? Emang aku barang apa?”
“Ya terserah kamu mau anggap diri kamu apa, yang pasti tadi kamu juga nggak nolak kan nikah sama aku. Jadi, sekarang kamu ganti baju, dan nikmatin malam pertama kita.”
Aku melongo, lalu beranjak dari duduk dan berjalan ke lemari pakaian.
Aku mencari baju tidur kali ini yang panjang. Kalau bisa double pakainya, biar tuh cowok mesum nggak bisa nemuin harta berharga dari dalam tubuhku ini. Enak aja dia mau nikmatin sesuatu yang aku sendiri aja belum rela kalau harus direnggut sama dia.
Aku hanya mau menyerahkan tubuhku ini dengan cowok yang aku suka dan aku cinta. Bukan mentang-mentang aku dan dia dijodohin jadinya dia dengan mudahnya bisa mendapatkan apa yang dia mau. Ooohh tidak bisaaa.
“Mau ke mana?” tanyanya saat aku melangkah menuju pintu.
“Ganti baju.”
“Di sini aja.”
“Nggak.”
“Kenapa? Malu? Bukannya kamu udah biasa ya pakai baju seksi di depan laki-laki.”
Sial! Ini cowok ngomong apaan sih? Ngebacain dosa gue segala.
Aku tidak peduli, lalu tetap memutar kenop pintu dan keluar dari kamar dengan baju ganti di tangan.
Aku bernapas lega saat berhasil keluar, tapi pandanganku seketika berubah. Melihat beberapa pasang mata menatap dengan pandangan aneh.
Kamarku terletak di samping ruang makan. Saat aku keluar, Mama, Papa, kedua kakak laki-lakiku, Om Jimmy adiknya Papa, Tante Miska adiknya Papa sedang berbincang di ruang makan. Mereka menatapku dari atas sampai bawah.
“Saski, kamu mau ke mana?” tanya Mama.
“Eum, aku mau ke, eum. Oh ini, Mah. Ke Mamah, tolong bukain sanggul aku dong,” kataku pada akhirnya mendekati Mama.
“Ya ampun, sini Mamah bukain. Emangnya suami kamu nggak bisa bukain?”
Aku mengambil kursi plastik dan duduk di dekat Mama tanpa menjawab pertanyaannya. Tangan Mama menyentuh kepalaku, dan tak lama sanggul itu pun terlepas dari kepala.
“Kalian besok pulang?” tanya Papa pada kedua adiknya.
“Iya, Mas. Senin kita kerja, anak-anak juga dari tadi sore udah pada nelpon nanya kapan balik,” sahut Tante Miska.
“Mas Singgih sih ngasih kabar pernikahan kok ya dadakan. Udah kaya tahu bulat wae. Memang Aksa itu anaknya siapa tow, Mas?” tanya Om Jimmy mencoba mencari tahu.
Aku pun ikut menguping pembicaraan mereka. Karena penasaran juga, kenapa sampai Mama dan Papa itu ngotot banget nikahin aku sama cowok bernama Aksa Adhitama Prayudha.
Umurku yang baru dua puluh tiga tahun, baru saja habis wisuda bulan lalu. Belum nikmatin gimana rasanya jadi karyawan, eh kok malah harus jadi istri duluan.
Sementara tuh cowok umurnya jauuuh banget di atasku. Dua puluh delapan, emang kelihatan sih kebelet kawinnya dia.
“Aksa itu anaknya Prawito, yang punya perusahaan Globalindo Expert. Aksa itu katanya nggak suka sama perempuan. Prawito itu bikin sayembara, kalau ada cewek yang mau nikah sama anaknya, bakalan dikasih separuh dari saham dia.” Papa menjelaskan dengan berbisik.
Aku yang samar-samar mendengar perkataan itu seketika bergidik. Tega bener orang tuaku ngejodohin anaknya sama lekong. Ohemjih.
Etapi, nggak apa-apa juga sih kalau kaya gitu. Berarti aku nggak perlu takut dia bakalan ngapa-ngapain aku. Soalnya dia nggak doyan perempuan. Lagi pula aku juga belum putus sama Amaar, pacar aku yang paling aku cinta.
“Lo ngapain senyum-senyum, Dek?” tanya Mas Galang, kakak pertamaku.
Aku nyengir kuda, lalu beranjak dari duduk dan bergegas masuk kamar. Aku nggak akan takut lagi buka baju di depan dia.
Aku kembali membuka pintu kamar, perlahan kulihat cowok bernama Aksa itu sudah memejamkan matanya. Aman.
Aku lalu berjingkat ke dekat lemari pakaian. Kulepas satu persatu kancing kebaya sebelum cowok itu terbangun. Beruntung lampu di kamar juga tidak terang, hanya lampu tidur yang membuat keadaan kamar temaram.
Kulepas kebaya dan kujatuhkan ke lantai, lalu aku memakai piyama lengan panjang dan celana panjangnya.
Huft, aku bernapas lega setelah berhasil berganti pakaian. Dan meletakkan pakaian kotor ke keranjang belakang pintu.
Aku duduk di depan meja rias. Kuambil kapas dan cairan untuk membersihkan wajah dari sisa make up. Melepas bulu mata, dan menyisir rambut pendekku yang kusut akibat memakai sprai agar bisa disanggul.
Badanku sungguh lengket, mungkin karena tidak mandi sore, mau mandi sudah malam. Acara pernikahan aku dan Aksa tadi juga hanya berlangsung dua jam di hotel.
Keluarga terdekat dan sahabat saja yang hadir, orang tua Aksa tidak ingin pernikahan anaknya sampai disorot media. Kupikir karena mereka orang terpandang, eh nggak tahunya anaknya itu ada kelainan.
Setelah selesai aku membersihkan wajah, rasanya tubuh ini butuh rehat. Aku melirik ke belakang, di mana aku harus berbagi ranjang dengan cowok yang baru kukenal. Bukan cowok, tapi setengah cewek.
Aku mendekati tempat tidur, memandang wajah Aksa yang menurutku dia nggak jelek, ganteng malah. Kulit wajahnya juga mulus, tanpa jerawat tanpa jambang apalagi jenggot halus. Kulit tangannya juga putih bersih tanpa bulu.
Heeem, pantes lah dia nggak doyan cewek. Karena badannya aja kaya cewek, lah aku? Kok mulusan dia sih mukanya?
Perlahan aku membaringkan tubuh dan menarik selimut. Mudah-mudahan saja dia nggak sampai kebangun malam terus tangannya bergerilya dan aku malah dikira cowok. Hiii.
Aku terbangun dengan sebuah suara, gemericik hujan dari balik jendela, kuambil ponsel di atas nakas dengan merabanya. Masih jam lima, kayanya di luar hujan deh.
Aku duduk dan melihat cowok yang semalam tidur di sebelahku sudah tidak ada. Eh, ke mana dia?
Tak lama pintu kamar mandi terbuka, aku lalu pura-pura kembali tidur. Dengan menyipitkan kedua mata, aku melihat Aksa keluar kamar mandi hanya dengan handuk yang dililit di pinggangnya.
Haduh, kenapa jantung ini jadi jedak-jeduk. Mana tuh roti sobek menggoda banget. Astaga, Saski, dia lekong.
Aku menelan ludah berkali-kali, terlebih saat dia mulai mengambil pakaian ganti dari dalam kopernya. Lalu dengan semena-mena melepas handuk dan melemparnya ke atas kasur.
“Aaaaa.” Aku seketika berteriak sambil menutup kedua mata.
“Eh, ngapain kamu teriak pagi-pagi? Bangun!” Suara Aksa membuatku menggeleng.
“Tutupin dulu itunya, Mas. Mending kalo bagus.”
“Oh, kamu pura-pura tidur mau ngintip ya? Nih lihat nih, nggak apa-apa kok kalo mau lihat. Sini, Mas kasih lihat.”
Dingin, saat tangannya menyentuh tanganku yang masih menutupi wajah. Kami saling tarik tangan, sekilas aku tidak melihat sesuatu yang aku pikirkan, dia ternyata sudah pakai boxer. Astaga, Saski. Otak ngeres amat ini ya.
Aku menunduk malu, mengulum bibir dan melihat bagian atas Aksa sudah tertutup kaos basket yang memperlihatkan lengan kekarnya. Ah, kenapa sih cowok lekong itu badannya harus atletis? Coba si Amaar kaya Aksa, dia mah kerempeng.
Aksa duduk di depanku sambil menyisir rambutnya. “Mandi gih, biar seger. Abis itu kita sholat Subuh berjamaah.”
“Apa? Sholat? Mas sholat?” tanyaku tak percaya.
Aku kan cuma punya satu mukena, apa pakainya gantian aja kali ya.
“Kenapa? Kamu nggak pernah sholat?” tanyanya menatapku dan membuatku jadi salah tingkah.
Ditanya soal sholat, aku hanya menunduk. Aku sholat bisa dihitung dengan jari, setahun hanya dua kali. Idul Fitri dan Idul Adha, itu juga kalau nggak pas lagi halangan.
“Eum, sholat lah. Trus imamnya siapa?” tanyaku.
“Ya kamu pikir aja sendiri siapa imamnya. Sana mandi, badan kamu bau banget. Nggak bisa tidur Mas semalam,” celetuknya sambil berdiri mengambil sesuatu dari dalam kopernya lagi.
Bau? Emang? Apaan nggak bisa tidur, pules begitu.
Aku merentangkan tangan dan mencium ketiakku sendiri. Buset dah, kecut banget kaya cuka, tapi seger sih. Wkwkwk.
Kulihat dia menggelar sajadah, mengambil sarung dan memakainya begitu juga dengan baju koko. Aku hanya menggaruk kepala yang tak gatal menyaksikan cowok di depanku seolah pria sejati. Kupikir kita bakalan saling tukar mukena.
Tiba-tiba dia menoleh, dan membuatku kembali tersentak.
“Buruan mandi, mau Mas mandiin? Mas wudhu dulu.” Dia melangkah ke kamar mandi, tak lama kembali dengan rambut yang basah.
Aku cepat-cepat beringsut dari ranjang. Mengambil handuk lalu masuk kamar mandi seraya bergidik. Nggak bisa bayangin dimandiin cowok lekong, hiii.
Baru saja aku melepas pakaian, kini aku dikejutkan oleh barisan peralatan mandi yang tak kukenal berada di pinggir wastafel.
“Buset dah, itu lakik perabotan lenongnya ngalahin gue, ada lulur, shamponya wangi beut. Odolnya yang mahal ini, sabun cuci mukanya juga. Cobain ah shamponya, Mayan gue ngirit shampo.”
Aku menuang shampo ke telapak tangan, wanginya benar-benar bikin segar. Kuharap hingga berbusa baru kubasuh ke kepala.
“Saski! Saskiyaaa!” panggil suara dari luar kamar mandi.
“Iya, baru lepas baju,” sahutku bohong.
Tadi disuruh mandi, sekarang digedor-gedor.
“Kamu pakai shampo Mas ya?”
Apa? Kok dia tahu sih?
“Enggak, enggak kok.”
“Jangan bohong, Mas hapal baunya.”
“Minta dikit sih, pelit amat,” sahutku kesal karena ketahuan.
“Jangan, Dek!”
What? Jangan? Sumpah ya tuh cowok ngakunya orang kaya, diminta shamponya dikit aja ngomel.
.
Aku buru-buru membilas kepala dengan air shower. Agak aneh sih emang nih shampo, nggak kaya shampo biasanya. Ini lebih licin kaya pakai oli, busanya juga nggak banyak.
Duh, kenapa nih rambut nggak keset-keset ya? Apa ini conditioner?
Aku mengambil botol shampo tadi, memcoba membaca komposisinya, ah nggak ngerti lagi bahasanya. Huruf China, tapi beneran wangi sih.
“Dek, sebaiknya habis pakai itu kamu shampoan lagi pakai shampo kamu ya,” ucap suara dari balik pintu kamar mandi.
“Emang ini apaan sih, Mas? Licin begini deh? Oli? Minyak?”
“Yaaa, itu deh, ya ituan.” Suara itu terdengar gugup.
“Ituan apaan?”
“Udah kamu buruan mandinya, jangan lupa dibilas. Keburu Magrib ini.”
What? Magrib? Ngigo tuh lekong, masih Subuh kali, dibilang magrib.
Bodo ah, aku nggak mau bilas. Nanti kalau aku bilas pakai shampoku ya percuma dong, niatnya mau ngirit malah nggak jadi. Lagipula wanginya enak ini.
Aku melanjutkan mandi, setelah ritual sabunan dan sikat gigi selesai. Aku baru ingat, kalau nggak bawa baju ganti. Astaga, gimana caranya aku bisa ambil baju di luar?
Oh iya, dia kan nggak suka cewek. Nggak apa-apa kali ya aku keluar handukan doang? Eh tapi kalau tetiba lihat badanku yang seksi dia nafsu gimana? Diterkam lah aku. Oh tidak bisa kubayangkan miliknya yang mungkin pernah masuk ke lubang belakang, lalu masuk ke milikku yang suci ini. Astaga otak ini, otak dijaga.
Aku menepuk-nepuk kepala.
“Mas!” panggilku pada akhirnya.
Nggak ada sahutan, apa jangan-jangan dia tidur lagi?
Aku membuka pintu kamar mandi sedikit untuk mengintip keluar. Ada tuh dia lagi duduk di atas sajadah, eh udah sholat duluan?
Kebetulan nih, aku keluar aja kali ya. Kan dia lagi sholat, nggak mungkin dong batalin sholat hanya mau lihat aku?
Perlahan aku keluarkan satu kaki agar tidak bersuara. Huft. Mas Aksa bangkit dan masih melaksanakan sholat, aku berjalan berjingkat di belakangnya dan menuju lemari.
Kuambil pakaian dalam dan cepat-cepat kupakai sebelum dia selesai. Kaos putih lengan pendek dan celana jins selutut sudah kukenakan. Lalu aku mengeringkan rambut dengan handuk sebelum memakai hairdryer.
Kulihat cowok yang sudah sah jadi suamiku itu baru saja selesai sholat. Dia memandangku dari ujung rambut sampai kaki.
“Sudah wudhu? Ayo sholat berjamaah.”
“Bukannya Mas udah sholat duluan?”
“Sholat Sunnah. Buruan, habis ini kita olah raga.”
“I—iya.”
.
Tidak ada yang aneh dengan gelagat Mas Aksa, yang kata Papa dia nggak suka sama perempuan. Tapi, memang dia nggak minta jatah buat aku melayaninya sebagai istri sih.
Ah ngapain juga dipikirin, bukannya aku harusnya bersyukur?
“Ganti baju!” titah Mas Aksa tiba-tiba ketika kami hendak keluar kamar.
“Kenapa?” tanyaku bingung.
“Dek, kamu pernah belajar agama nggak?”
“Ya pernah lah. Ngece!”
“Kamu tahu batas aurat laki-laki dan perempuan?”
“Iya tahu dong.”
“Ya udah, kalau kamu tau, kamu tutupin aurat kamu.”
Aku melongo, menatap diriku di dalam cermin. Kok dia jadi nyebelin kaya gini sih? Papa sama Mama aja nggak pernah ngatur hidupku.
Aku kesal, duduk di depan meja rias menatap cermin. Mengambil pelembab wajah yang belum sempat kugunakan, lalu melapisi dengan alas bedak sebelum memoles bedak. Kemudian aku hendak memakai lipstik kesayanganku juga, tapi belum sampai bibir, lipstikku sudah berpindah tangan.
“Mas, Mas mau pakai lipstikku juga?”
“Jangan dipakai, nggak bagus seorang wanita muslimah berdandan berlebihan.”
Aku kembali menghela napas. Takut kesaing kali ya cantiknya.
Lipstik di tangannya pun kembali diletakkan di atas meja. Lalu ia mengambil sisir dan meraih rambutku.
“Rambut kamu bagus, sayang kalau sampai orang lain melihatnya. Sekarang kamu tanggung jawab Mas. Kalau kamu nggak menutup aurat, dosa kamu Mas yang tanggung.”
Duh, kenapa jadi ser-seran gini sih sih rambut gue disisirin.
“Baunya, kamu nggak bilas lagi ya?” tanyanya sambil mencium rambutku.
Ah elah, kenapa juga tuh hidung nyiumin rambut?
“Saskiya, Mas kan udah bilang suruh bilas.”
“Emang kenapa sih, Mas? Ada yang salah sama tuh shampo?” tanyaku menatap curiga.
“Shamponya sih nggak salah, tapi penggunaannya yang salah.”
“Maksudnya? Itu nggak dipakai di rambut? Lah terus di mana? Oh sabun itu ya?” tanyaku bingung.
Ya maklum sih, kalau sabun orang kaya agak licin gitu. Mungkin biar glowing kulitnya.
“Nggak apa-apa kok, Mas. Aku udah biasa juga kalo shampo abis aku suka pake sabun cair buat shampoan,” kataku sambil nyengir. Malu sih sebenarnya, ketahuan banget kerenya.
Tapi aku masih penasaran tuh shampo sebenarnya apaan.
“Nanti malam Mas kasih tahu kegunaan shampo itu. Sekarang kamu ganti baju, Mas tunggu di depan.”
Mas Aksa keluar kamar begitu saja tanpa memandangku. Salahkah aku yang sudah memakai shamponya? Ya ampun ketimbang shampo doang aja dia sensi begitu.
Entah mengapa aku menuruti perintahnya untuk berganti pakaian. Ketika hendak keluar kamar, aku melihat ponselku berkedip.
Kulihat sebuah pesan dari pacar aku, Amaar. Aahh kangen banget sama dia.
[Sayang, nanti jadi kan kita jalan?]
Duh, aku bales apa ya?
[Eum, liat nanti ya, soalnya di rumah aku lagi ada saudara.]
Amaar nggak boleh sampai tahu kalau aku udah nikah sama Mas Aksa. Nggak ada yang tahu juga teman kuliah, kecuali keluarga.
[Yaaah, aku kangen banget sama kamu. Dua hari kita nggak ketemu.]
[Sabar ya, Sayang. Oh iya, aku mau nanya dong.]
[Nanya apa?]
Aku bergegas ke kamar mandi dan mengambil shampo milik Mas Aksa tadi. Barangkali Amaar tahu itu apa.
Kuambil gambar dan mikirin pada Amaar.
[Kamu tahu nggak ini apa?]
[Ya ampun, Sayang. Itu sih buat massage gitu. Kaya minyak urut lah, tapi versi orang kaya, wangi, lembut, licin. Kalau kaya kita biasa pake minyak gosok.]
Aku melongo, massage? Oh tidaaak. Nanti malam Mas Aksa mau praktekin itu?
.
Aku lalu keluar kamar setelah memasukkan ponsel ke saku celana. Pikiran mulai ke mana-mana. Minyak massage? Spa gitu kalau nggak salah. Trus kenapa dia taro di kamar mandi sih? Apa yang dia lakukan di kamar mandi pakai minyak itu?
Astaga, pikiranku kok ngeres gini ya.
Aku yang baru keluar kamar sudah dikejutkan oleh pemandangan aneh di ruang makan.
Keluargaku berkumpul semua, termasuk si Aksa. Mereka memandangiku sambil senyum-senyum.
Tumben amat jam segini udah pada ngumpul mau sarapan, baru juga jam setengah tujuh.
“Duduk, Ki.” Papa memintaku untuk duduk di sebelah Aksa.
“Saski, Om sama Tante pamit ya, kapan-kapan main ke Jawa. Nanti Om ajak kalian jalan-jalan keliling kota.” Om Jimmy berpamitan padaku.
“Iya, Om. Makasih udah datang ke sini.”
“Iya, moga rumah tangga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah. Biar cepet diberi momongan, kasihan Papa kamu sama Mama udah kepengen nimang cucu.”
“Aamiin,” sahut Aksa dengan suara keras.
Aku hanya melongo, semangat amat dia. Emangnya bisa apa bikin anak?
Aku hanya tersenyum simpul menanggapi. Punya dua kakak cowok, dua-duanya ngejar karir, nggak mau nikah kalau belum sukses. Aku deh jadinya yang ketumpuan harus ngasih cucu. Hadeh.
“Gimana malam pengantin kalian semalam?” tanya Mama Tiba-tiba.
Aku melirik sekilas ke sebelahku, dia pun menatap dan kami sama-sama membuang muka. Malu.
“Kayanya sih berhasil, Ma. Lihat aja rambut mereka, basah. Apalagi Saski tuh sampe mengkilap gitu rambutnya, ngabisin shampo berapa botol itu?” Suara Mas Gilang kakak keduaku diiringi dengan tawa meledek, membuatku ingin meremas mulutnya.
“Alhamdulillah kalau kalian sudah bisa saling menerima, Mama berharap kalian bisa menjalin hubungan dengan baik. Pendekatan seperti orang pacaran, kaya Mama sama Papa dulu pacarannya setelah menikah.”
Aku paham betul bagaimana Mama, meskipun dia tahu kalau aku sudah punya pacar. Tapi, Mama nggak pernah setuju dengan hubunganku bersama Amaar.
Mama selalu bilang kalau Amaar bukan cowok baik-baik. Padahal dia nggak pernah nyakitin aku, hanya karena dia perokok, Mama nggak suka. Katanya sih buat diri dia aja nggak sayang, gimana mau sayang sama aku.
Entahlah, aku merasa pernikahan ini adalah jebakan buat aku.
“Eum, maaf, Pa, Ma. Saya boleh ajak Saski buat bulan madu?” tanya Aksa tiba-tiba pada kedua orang tuaku.
Aku menatapnya yang senyum-senyum ke arahku.
“Nggak bisa, nggak bisa. Aku sibuk,” kataku memotong pembicaraan sebelum Mama dan Papa menyetujui.
“Sibuk apa? Bukannya kamu baru lulus ya? Belum kerja juga.” Aksa seolah memaksaku untuk menjawab iya, karena dia tahu aku emang baru lulus.
“Ya, ada panggilan kerja,” jawabku bohong, padahal ngirim lamaran kerja juga belum.
Aku hanya nggak mau dan belum siap aja kalau harus berdua-duaan sama cowok yang baru kukenal. Apalagi katanya dia begitu, nggak suka perempuan. Kan jadi ngeri, jangan-jangan nanti aku bukannya nikmatin liburan, eh malah diajak nemenin dia cari cowok-cowok. Hiii.
Eh, kok tiba-tiba Aksa mengusap rambutku dan merangkulku di depan keluargaku.
“Sayang, kamu nggak perlu kerja kalau nikah sama aku. Semua kebutuhan kamu bakalan aku penuhin, sebut aja, kamu pengen apa?” tanyanya.
Duh, nih cowok bisa banget bersandiwara. Sok baik di depan keluarga. Jadi geli sendiri lihatnya.
Suara ponsel terdengar, Aksa menarik tangannya dari bahuku. Lalu merogoh saku celana mengambil ponselnya. Aku memerhatikan, kulirik sebuah panggilan dari Farel nama yang tertera di layar.
“Ya halo, kenapa? Oh iya nanti saya ke situ. Ya udah, kalian buka duluan aja, nggak usah nungguin saya,” ucap Aksa.
What? Kan kan, bener kan, ada main dia sama cowok. Belum apa-apa disuruh buka.
“Iya, kalian pemanasan dulu aja,” sambungnya lagi.
Aduh duh, kepala seketika pening bayanginnya. Pake pemanasan segala, huft. Mereka mau ngapain?
“Nanti saya nyusul, saya punya gaya baru buat kalian, okey okey.”
Apa? Gaya baru? Ohemjih. Gaya apaan coba? Gaya baru? Kupu-kupu? Apa khayang?
“Sibuk ya?” tanya Papa pada Aksa.
“Biasa, Pa. Pelanggan.”
“Oh yasudah, sarapan dulu aja. Nasi gorengnya keburu dingin.”
Jantung aku makin nggak nyaman aja jadinya. Ya Tuhan, kenapa Engkau kirimkan aku jodoh yang menyimpang? Apa salahku?
Main, pemanasan, gaya baru, pelanggan.
Apa-apaan coba? Ya emang sih aku nggak suka sama dia, nggak cinta juga. Tapi ya kali punya suami menyimpang. Nggak lucu kan kalo diceritain.
“Sayang, kamu mau telur ceplok apa dadar?” tanyanya mengejutkanku.
“Telor bulet, eh telor bulet-bulet. Eh telor....”
“HAHAHA.”
Seketika semua terbahak mendengar ucapannya barusan. Aku garuk-garuk kening, kenapa jadi ngomongin telur sih. Ah gara-gara nih cowok kan jadi diketawain.
“Semangat banget nyebut telornya, Dek,” ledek Mas Galang.
“Mentang-mentang abis mainan telor,” celetuk Mas Gilang.
Sumpah mereka nyebelin banget deh.
“Mau telur aku?” tanya Aksa sambil menusuk telur dadar di atas piring miliknya dan hendak memberikannya padaku
Aku menggeleng, “Enggak, nggak suka telor, ntar bisulan,” kataku sambil menyuap nasi goreng dengan kesal.
Eh mereka semua justru makin terbahak.
Mereka terus menggodaku, sampai selesai sarapan, dan Om juga Tante langsung berpamitan. Karena taksi online yang akan membawa mereka ke bandara sudah tiba di depan rumah.
Setelah keduanya berangkat ke bandara, kedua orang tuaku dan kakakku masuk kembali ke rumah. Tinggallah aku dan Aksa yang masih berdiri di depan pintu.
Ketika aku hendak berbalik badan ikutan mau masuk, eh tanganku ditariknya dan jatuhlah aku ke pelukan dia.
Aku melotot dan mencoba melepaskan diri, saat melihat wajahnya mendekat ke depan mukaku. Mana sepi lagi.
“Mas mau ngapain?” tanyaku gugup dengan kedua tangan di depan dadanya, sementara kedua tangannya mengunci pinggangku. Oh nooo.
“Mau nyium kamu, gemes, kenapa, nggak boleh?”
“Iyuuuuhhh.” Aku bergidik ngeri.