Bab 1

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Sepatu Kets Cinderella

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

EMBUSAN angin masih betah bermain berlama-lama dengan awan, mengaraknya pelan di bawah hamparan langit yang masih terbias cahaya matahari sore ketika dua remaja laki-laki tengah sibuk berlarian di tengah lapang basket. Si bundar orange bergaris hitam itu menjadi rebutan keduanya.

Kening Beryl sudah dipenuhi peluh ketika ia berhasil merebut bola di tangan Gerhan untuk kesekian kali. Kaki berbalut sepatu berlambangkan tanda ceklis itu berlari cepat, membuat kemeja seragamnya yang tidak dikancingkan bergerak-gerak karena bertubrukan dengan angin. Namun, Gerhan memang tidak bisa dianggap remeh. Laki-laki itu kembali mengejar Beryl, berusaha merebut bola di tengah keprotektifan seorang Beryl dalam mempertahankan bola. Aksi kejar-kejaran terjadi selama beberapa saat hingga akhirnya mereka berdiri berhadap-hadapan. Beryl menyeringai di tengah usaha Gerhan dalam merebut bola. Tangan kanan Beryl men-dribble bola, sementara tangan kirinya membatasi gerak Gerhan. Napas kedua laki-laki itu terengah cepat.

"Rebut bola ini kalo lo bisa," ujar Beryl angkuh. Plester di sudut bibirnya entah kenapa justru membuat senyum meremehkan laki-laki itu tampak menawan.

Gerhan menanggapi itu dengan senyum meremehkan. Tangannya masih berusaha menggapai bola di tangan Beryl. "Jangan sombong."

"Sombong?" Lagi-lagi seringaian Beryl terlihat. "Kita liat apa itu sombong." Detik selanjutnya laki-laki itu melakukan pivot, membawa bola di tangannya melewati pertahanan Gerhan. Kaki-kakinya kian melangkah cepat, membuat Gerhan kesulitan mengejar gerak lihainya. Beryl melompat, melakukan lay up di udara hingga membikin bola orange itu melesat cepat menembus ring. Bola itu meluncur mulus tanpa sedikit pun menyentuh pinggiran ring.

Beryl melayangkan tatapan penuh kemenangan pada Gerhan, yang langsung dibalas Gerhan dengan decihan.

Mengusap keringat yang jatuh di pipi dengan punggung tangan, Beryl lantas berujar di tengah deru napasnya yang belum stabil, "Tuh, itu namanya sombong."

Napas Gerhan tak kalah berantakannya dari Beryl. Dada laki-laki itu bergerak naik turun. "Lo cuma beruntung." Padahal Gerhan sadar betul bagaimana kemampuan Beryl dalam bermain basket. Bisa dibilang jika Beryl merupakan salah satu pemain basket terbaik sekolah, sehingga kemampuannya tak bisa diragukan. Namun, tentu saja Gerhan tak akan mengakui hal itu sekarang. Tidak di saat Beryl sedang angkuh-angkuhnya membanggakan diri.

Beryl berdecak. "Lo nggak mau banget ngakuin kehebatan gue."

Gerhan hanya melayangkan tatapan sekilas. Kedua tungkai kakinya lantas membawa laki-laki itu mendekati bola yang tengah memantul-mantul pendek ke arahnya.

Lemparan kerikil di punggung diikuti teriakan, "Udahan maennya, woy!" membuat Beryl kontan mengaduh. Laki-laki itu berbalik dan mendapati Xylo tengah duduk dengan kaki yang diselonjorkan di pinggir lapangan. Sebuah kruk tergeletak di samping kakinya. "Hobi banget lo berdua manas-manasin gue!" sungutnya kesal.

"Sakit, Bego!" Beryl balas bersungut jengkel. Beryl tidak berlebihan ketika mengatakan itu. Faktanya, kerikil yang Xylo lemparkan memang tidak bisa dibilang kecil. Mana Xylo melemparnya sekuat tenaga lagi. Beryl yakin jika bekas lemparan Xylo akan meninggalkan jejak kemerahan di punggungnya.

"Ya lo pada lagian. Udah tau gue lagi nggak bisa main, segala main di depan gue!"

Beryl justru menyeringai. Laki-laki itu lantas kembali menghadap pada Gerhan. "Yok, Han, lanjut lagi! Kita bikin si Xylo makin mupeng."

"Bangsat!"

Tawa Beryl merebak puas. Sedangkan Gerhan hanya menatap kedua manusia itu tanpa minat sebelum kembali melanjutkan permainannya seorang diri. Ah, Gerhan dan ketidakpeduliannya, selalu melekat seerat itu.

Beryl berjalan mendekati Xylo. Bukannya iba pada keadaan kaki Xylo yang masih terbungkus perban elastis, Beryl justru bertanya menyebalkan. "Asli kagak, tuh, luka lo? Jangan-jangan palsu lagi." Tentu saja itu hanya sebuah candaan. Karena Beryl pun tahu betul bagaimana seorang Axylo Dhananjaya bisa mendapatkan cedera itu.

"Congor lo kalo nanya!" seru Xylo berapi-api. "Beneranlah. Tanda cinta dari anak-anak Cendana, nih!" Meskipun kalimat yang Xylo lontarkan cenderung seperti candaan, tetapi Beryl tahu betul ada kekesalan yang tersemat di dalamnya. Jelas saja. Memang orang waras mana yang tidak akan kesal jika telah dicurangi sampai seperti itu? "Ah, bangsat emang anak Cendana! Liat aja, setelah kaki gue sembuh bakal gue balas mereka! Mental banci aja pada bangga! Nggak cocok mereka megang bola basket, cocoknya pada megang bola bekel!" sambung Xylo, yang kembali memicu munculnya tawa Beryl.

"Ya, lo maklum ajalah. Mereka kan luarnya doang laki, mentalnya, sih, nggak jauh beda sama barbie."

"Si bangke!" Xylo ikut-ikutan tertawa. "Suka bener kalo ngomong."

Mengabaikan ucapan Xylo, Beryl lantas memalingkah wajah pada Gerhan yang masih sibuk dengan bola basketnya. Laki-laki itu tampak asyik sendiri, dan tidak ada tanda-tanda jika ia akan segera menghentikan permainannya dalam waktu dekat. "Si Gerhan kalo udah ketemu yang bulet-bulet begitu suka nggak mau berhenti."

"Nyadar diri, Nyet! Lo juga begitu." Xylo menonjok pundak Beryl hingga membuat laki-laki itu kembali tertawa. "Lo bahkan bisa lebih parah dari si Gerhana Matahari Bulan."

"Wadu, ati-ati digigit bulldog ketauan manggil Gerhana."

"Halah, bulldog begituan doang kagak takut gue."

"HEH! SIAPA YANG LO KATAIN BULLDOG?!" Teriakan itu melengking sempurna menembus pendengaran Xylo, membuat laki-laki itu kontan berjengit kaget. "Enak aja manggil kesayangan gue bulldog!"

"Budek gue, woy!" Xylo balas berteriak. Diusapnya telinga yang terasa pengang berkat teriakan tiba-tiba perempuan di sampingnya. "Lo dateng dari mana, hah? Udah kayak setan tiba-tiba nongol."

"Dia 'kan emang setan." Beryl menyambung dengan tawa ditahan.

"HEH!" Perempuan itu—Cyrin—melotot galak. "Enak aja ngatain gue setan! Mau gue cakar, tuh, muka?!"

"Buset," Xylo kembali mengusap telinganya kasar, "Lo bisa nggak, sih, ngomong nggak sambil teriak? Budek kuping gue lama-lama."

"Bodo amat! Kuping juga kuping lo bukan kuping gue!"

"Gerhan! Woy! Cewek lo, nih, tolong kandangin. Pusing gue denger dia teriak-teriak mulu!"

Yang diteriaki sontak berbalik. Bola yang baru masuk ke dalam ring kini memantul menjauhi Gerhan, tetapi laki-laki itu tidak memedulikannya. Keningnya justru mengerut begitu netra gelap itu menemukan sesosok perempuan duduk di dekat teman-temannya. Padahal, tadi ia tidak ada di sana. Tanpa mengatakan apa-apa, Gerhan merajut langkah mendekati mereka.

Xylo berbisik pada Beryl. "Giliran ada ceweknya aja langsung nyamperin. Dasar bucin." Yang diamini oleh Beryl.

"Kok belum pulang?"

Ucapan Gerhan disambut Cyrin antusias. Perempuan itu berjalan mendekati Gerhan dan langsung melingkarkan tangan di lengan Gerhan. Ia tampak tak peduli jika saat ini kondisi Gerhan penuh oleh keringat. "Abis rapat sama anak teater terus liat kamu lagi main basket, ya udah, aku samperin." Cyrin nyengir. "Aku pulang sama kamu, ya?" pintanya.

Gerhan mengangguk seadanya. "Oke."

Sementara Cyrin mulai sibuk memperhatikan Gerhan dengan memberikan laki-laki itu bekal minumnya yang masih tersisa banyak serta menyusut keringat di wajah Gerhan dengan tisu, Beryl justru beranjak. Membuat Xylo seketika bertanya panik. Oh, tolong, mana mau dia jadi obat nyamuk sendirian. Setidaknya kalau ada Beryl, Xylo tidak terlalu terlihat mengenaskan.

"Gue mau ke toilet. Ngapa? Mau ikut? Apa mau nitip?" Begitulah balasan Beryl ketika Xylo bertanya. Tampangnya tengil luar biasa.

Xylo berdecak jengkel. "Ah, yaudah lah, sono. Ntar balik gue nebeng, ye? Awas kalo lo ujug-ujug balik dan ninggalin gue."

"Iya, iya. Cerewet amat lo kayak cewek," tukas Beryl sambil lalu. Ia lantas berjalan menuju toilet. Sebenarnya ada toilet terdekat yang bisa Beryl tuju. Letaknya berada di dekat gedung olahraga di sisi utara lapang basket outdoor, atau kalau tidak, ada di ujung lantai satu. Namun, laki-laki itu memilih yang terjauh. Ia memilih toilet yang berada di bangunan belakang, sekalian ke kantin, begitu pikirnya.

Beryl mengambil langkah memutar, ia melewati taman belakang. Di tengah desir angin yang membelai daun, laki-laki itu seperti mendengar ada yang berbicara. Sontak saja hal itu menghentikan langkahnya. Ia mengedarkan pandang, tetapi Beryl sama sekali tidak melihat siapa pun di sana. Mengangkat bahu tidak peduli, Beryl kembali melanjutkan langkah. Namun, baru lima langkah yang ia ambil, suara itu kembali terdengar. Tidak jelas memang, tetapi tetap saja Beryl dapat mendengarnya.

Penasaran, Beryl kembali menyapu pandangan. Akan tetapi, hasilnya tetap sama. Dia tidak menemukan siapa pun. Beryl berdecak. Pikirannya lantas mengarah pada satu makhluk tak kasatmata yang kerap kali ditakuti orang-orang. Hantu, tentu saja. Namun, pikiran itu kembali ditepisnya jauh-jauh. Setan jam segini masih tidur, begitu pikir Beryl.

Menuntaskan rasa penasarannya, niat Beryl yang tadi ingin ke toilet kini berbelok. Laki-laki itu berjalan menuju salah satu pohon yang tepat berada di dekat tembok belakang sekolah. Semakin ia mendekati pohon itu, semakin jelas pula suara yang terdengar.

"Kaki kamu kenapa bisa luka kayak gini? Pasti sakit."

Ketika berada di dekat pohon itu, Beryl kembali mengedarkan pandang, dan tetap saja, ia tidak menemukan siapa pun di sana. Kembali berdecak, Beryl lantas menyandarkan lengan pada batang pohon.

"Kita turun, ya? Sebentar. Eh!"

Seiring dengan kalimat itu terdengar, Beryl merasakan sesuatu menimpa kepalanya. Ia kontan mengaduh, disusul jatuhnya sebuah sepatu kets dengan bagian belakang terlipat di dekat kakinya. "Siapa, nih, yang ngelempar gue pake sepatu?!" ujarnya jengkel. Tanpa sengaja, mata laki-laki itu terarah ke atas pohon. Dan betapa terkejutnya Beryl kala melihat seorang perempuan berseragam sama dengannya tengah duduk di salah satu dahan pohon. Kelopak mata laki-laki itu melebar. Pun perempuan itu menampilkan ekspresi yang sama. Malah, dibanding Beryl tampaknya dia lebih terkejut.

Sekian sekon diliputi keterkejutan, akhirnya Beryl kembali menemukan logikanya. "Heh, lo ngapain di situ?"

Perempuan itu gelagapan. "A—aku—"

"Mau maling lo, ya?"

Kini giliran mata perempuan itu yang melebar. "Eng—enggak! Aku cuma—"

"Turun lo!"

Perempuan itu tampak enggan, tapi begitu Beryl kembali menyentaknya dan menyuruhnya untuk segera turun, ia sama sekali tak memiliki pilihan. Ia sudah bergeser ke sisi dahan yang dekat dengan batang pohon. Namun, sebelum ia melakukan gerakan lain, kepalanya kembali menunduk untuk menatap Beryl. "Mata kamu," ujarnya membuat kening Beryl mengernyit.

"Kenapa sama mata gue?" bingung Beryl.

"Tutup mata kamu! Jangan ngintip!" teriak perempuan itu seraya meletakkan telapak tangan pada permukaan rok.

Mata Beryl berotasi. Padahal, terpikirkan ingin mengintip saja tidak. Namun, daripada mendebat perempuan itu, Beryl memilih menurut. Laki-laki itu memalingkan wajah ke arah lain, sama sekali tak melihat bagaimana proses turunnya perempuan itu dari atas pohon. Setelah mendengar bunyi yang menandakan jika si perempuan telah sepenuhnya telah menapak di atas tanah, Beryl lantas kembali memberikan atensi pada perempuan itu.

Perempuan itu berdiri canggung dengan satu tangan memilin sisi rok rimpel selututnya, sementara tangan yang lain memeluk seekor kucing cokelat pucat. Kepala perempuan itu menunduk, tak berani menatap Beryl. Di posisi seperti itu Beryl dapat melihat jika postur perempuan itu tidak terlalu tinggi. "Ma—maaf."

Kening Beryl agak mengernyit, tetapi dibandingkan menanggapi permintaan maaf perempuan di hadapannya, Beryl lebih tertarik menyanyakan hal lain. "Lo ngapain naik-naik ke atas pohon?" Mata laki-laki itu lantas menyipit curiga. "Jangan-jangan lo beneran mau maling, ya?"

Perempuan itu tampak panik. Tangannya yang tidak memeluk si kucing sontak bergerak ke kanan dan ke kiri secara cepat, sebuah gesture menampik. "Eng—enggak! Aku nggak mau maling! Aku anak sekolah sini, mana mungkin aku maling di sekolahku sendiri."

"Kalo nggak mau maling, terus ngapain lo naik-naik ke atas pohon?"

"Aku cuma mau ngambil kucing ini. Kasian dia nggak bisa turun."

Netra gelap Beryl turun, menatap pada kucing di pelukan perempuan itu. Ada darah yang Beryl liat di kaki kucing tersebut. Kucing itu pun tampak lemas, dilihat dari kepalanya yang menyandar tanpa tenaga pada lengan si perempuan. Sesekali ia memejamkan mata atau mengeong pelan. Tatapan Beryl kembali naik pada perempuan di hadapannya yang kini kembali menunduk. Kepala Beryl sedikit meneleng, mengamati perempuan itu.

Risi ditatap seperti itu, perempuan itu berniat kabur. Sayangnya sebelum sempat melarikan diri, Beryl keburu mencekal lengannya. Menahannya.

"Eits, gue belum selesai."

Dicekal tiba-tiba, perempuan itu refleks menampik. Gerakannya terlalu cepat dan kasar hingga ia sendiri kaget dengan tindakannya hingga membuat mata perempuan itu melebar.

Tetapi sepertinya Beryl tidak terganggu dengan itu. Dia malah memicing penuh selidik. "Lo beneran anak sekolah sini?"

Anggukan kaku adalah jawaban yang diberikan perempuan itu. Ia masih kaget atas tindakannya tadi.

"Tapi kok gue nggak pernah liat lo?" Beryl memasang tampang berpikir, hidung dan keningnya sampai mengernyit. Ditatapnya perempuan itu intens, mencoba menggali ingatan apakah dia pernah melihat perempuan ini atau tidak. "Angkat kepala lo."

Perempuan itu justru semakin menunduk dalam. Kucing di pelukannya kembali mengeong lemah. "A—aku harus ngobatin kucing ini." Setelah mengatakan kalimat tersebut, perempuan itu lantas menjauh tanpa menunggu balasan dari Beryl. Langkahnya tampak tergesa-gesa, kentara sekali jika ia tengah menghindari Beryl. Ingin mencegah lagi pun tampaknya tidak akan berguna, karena Beryl yakin jika perempuan itu akan tetap menghindar. Jadi, Beryl membiarkan saja perempuan itu pergi.

Merasa ada yang aneh, Beryl lantas tertunduk. Keningnya lagi-lagi mencipta gelombang samar kala melihat sebuah sepatu kets hitam dengan bagian belakang terinjak ada di tangannya. Sepatu si perempuan pohon itu!

Dia tidak mengerti kenapa ia masih memegang sepatu ini, dan dia juga tidak mengerti kenapa perempuan itu bisa lupa dengan sepatunya sendiri.

Namun, di luar ketidakmengertiannya, Beryl justru mengembangkan senyum. Ah~ sepertinya dia memiliki bahan untuk bertemu perempuan itu lagi nanti.

Dan kata nanti yang terucap dalam kepala Beryl rupanya terjadi terlalu cepat. Sebab, belum lima detik kata itu terpikir di dalam kepala, sepatu kets di tangannya sudah berpindah lantaran ada yang merebutnya.

"Se—sepatu aku!"

Rupanya perempuan itu kembali lagi untuk mengambil sepatu yang tertinggal. Meskipun suaranya terdengar digalak-galakan, tetapi tetap saja Beryl menemukan kegugupan di sana.

Belum-belum Beryl memberikan tanggapan, perempuan itu sudah kembali menjauh dengan langkah yang sama tergesanya seperti tadi. Bahkan saking tergesanya, perempuan itu sampai tidak memakai satu sepatunya terlebih dahulu. Ia hanya menjinjing sepatu itu di tangan kiri. Sama sekali tak terlihat risi berjalan hanya dengan memakai satu sepatu. Tampak sekali jika ia memang tidak ingin berlama-lama dengan Beryl.

Beryl lagi-lagi menatap kepergian perempuan itu. Matanya tak lepas dari punggung tertutup rambut agak kecokelatan tersebut.

Menarik.

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ to be continued

Bab 2

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Kapas Berantiseptik

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

SELESAI membebat luka si kucing dan memberinya makan serta minum, Simfoni lantas menaikkan kaki kirinya yang masih terbungkus kaus kaki putih. Ada darah yang merembes dari ujung ibu jari kaki kiri hingga membuat kaus kaki itu ternoda oleh cairan merah kental. Simfoni meringis, dibukanya kaus kaki sebetis itu dengan hati-hati.

Setelah kaus kaki itu terlepas sepenuhnya dari kaki Simfoni, perempuan itu dapat melihat dengan jelas bagaimana lukanya. Luka itu terdapat di ujung kukunya, terbuka dan memanjang hingga membuat Simfoni dapat melihat darah yang masih merembes dari luka yang memperlihatkan dagingnya itu. Warna merah di sana kontras sekali dengan kulit putihnya.

Simfoni meringis lagi. Ternyata lukanya tidak kecil. Pantas saja Simfoni merasa kakinya sakit sepanjang jalan.

Jadi, saat Simfoni menolong seekor kucing di atas pohon tadi, tanpa sengaja sepatu Simfoni jatuh dan mengenai kepala seorang laki-laki. Tentu saja Simfoni kaget. Pasalnya ia benar-benar tidak menduga jika sepatunya akan jatuh hingga mengenai kepala seseorang. Terlebih, sepatu itu mengenai kepala Beryl, laki-laki yang dikenal badung satu sekolahan.

Simfoni tidak ingin mendapat masalah dengan Beryl. Untuk itulah, Simfoni buru-buru menghindar dari Beryl. Saking buru-burunya, Simfoni sampai lupa kalau sepatunya tertinggal. Dengan terpaksa ia berbalik untuk mengambil satu sepatunya di tangan Beryl. Tidak ada yang tahu jika Simfoni harus mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk mengambil sepatu itu.

Untungnya Beryl tidak berkata apa-apa. Kesempatan tersebut Simfoni gunakan untuk kembali pergi secepat mungkin. Sial menimpa Simfoni, berkat ketergesa-gesaannya, kaki perempuan itu sampai terantuk batu yang lumayan tajam. Tentu saja hal itu menimbulkan efek sakit di kaki Simfoni, terlebih kakinya tidak menggunakan pelindung apa pun, selain kaus kaki tipis yang melekat di kulit.

Simfoni tidak berani melihat lukanya di sana, terlebih saat darah merembes dari ujung kaki. Ia buru-buru memakai sepatu, lantas dengan segera membawa tubuhnya pulang ke rumah.

Dan di sini lah Simfoni, baru berani melihat lukanya sekarang.

Simfoni lalu beranjak. Perempuan itu berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh lukanya dengan air. Sesekali meringis saat sensasi dingin dari air yang mengucur justru menimbulkan rasa perih pekat. Setelah kakinya bersih dari noda darah dan hanya sedikit darah yang kembali keluar, Simfoni kembali membawa tubuhnya menjauh dari kamar mandi. Ia duduk, lantas mengobati lukanya sendiri. Tak ia hiraukan rasa sakit yang kian menjadi kala kapas yang sudah dibubuhi antiseptik itu menyentuh lukanya.

Selepas lukanya tertutup sempurna, Simfoni menurunkan kaki dari atas kasur. Perempuan itu lantas menggerakkan mata pada kucing cokelat pucat yang tadi terluka. Senyum tipis Simfoni terkembang kala mendapati kucing itu tertidur pulas. Ia tampak nyaman meringkuk di atas karpet. Di dekatnya, wadah makan yang tadi terisi makanan kini sudah kosong sepenuhnya. Perlahan, Simfoni merangkak turun. Ia mengelus kucing yang kini terlelap itu.

"Cepat sembuh, kucing."

Jam pelajaran terakhir kosong.

Satu jam pertama Simfoni gunakan untuk mengerjakan tugas yang guru berikan. Simfoni duduk di bangku paling depan, sedang di belakang kegaduhan tak dapat dihindari. Teman-teman sekelasnya mencipta banyak kubu di beberapa titik. Ada yang bernyanyi tidak jelas, bergosip, main games, nonton, tidur, dan lain sebagainya. Namun, meskipun suasana benar-benar gaduh, Simfoni sama sekali tak terlihat terganggu. Perempuan itu justru menekuri setiap soal yang ada di bukunya. Setelah selesai, Simfoni menutup buku itu. Ia lantas melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kanannya. Masih ada waktu satu jam lagi sebelum pulang.

Simfoni menoleh ke sebelah kirinya. Poppi, teman sebangku Simfoni, sedang mengobrol dengan teman di bangku belakang. Pelan, Simfoni memanggil, "Poppi."

Yang dipanggil langsung menoleh, memberi atensi pada Simfoni.

"Aku mau ke UKS. Titip buku, ya, kalo dikumpulin. Bukunya aku taruh di sini." Simfoni menyentuh buku bersampul cokelat yang kini tergeletak di atas meja.

Poppi mengangguk. "Oke!" ujarnya. "Tapi gue liat jawaban lo, ya?"

Kepala Simfoni mengangguk begitu saja lalu perempuan itu menyelinap di antara keriuhan kelas. Tidak ada yang menanyakan kepergian Simfoni, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Simfoni memang tidak memiliki teman dekat di kelas. Dan dia tidak masalah dengan itu. Simfoni lebih suka menyendiri.

Suasana di jam tiga sore ini cenderung sepi. Siswa-siswa lain masih berada di dalam kelas, berkutat dengan pelajaran yang diberikan guru. Waktu-waktu sekarang merupakan waktu-waktu krusial, waktu di mana otak bekerja lebih keras dari jam-jam sebelumnya. Saat ini, rasa lelah, baik otak maupun tubuh, sedang berada di puncaknya. Tidur akan terasa jauh lebih menyenangkan daripada harus mendengarkan guru menerangkan materi yang tidak ada habisnya.

Di tengah kelengangan koridor, Simfoni melangkah. Seberusaha mungkin perempuan itu tidak menimbulkan suara sedikit pun dari langkah kakinya supaya tidak menarik perhatian guru-guru yang tengah mengajar.

Satu hari terlewat sudah sejak Simfoni mendapat luka di kakinya. Luka itu masih meninggalkan rasa perih, meskipun tak sepekat kemarin.

Memang kesialan tengah senang menimpa Simfoni atau bagaimana, tiba-tiba saja ada seorang perempuan yang keluar dari toilet dengan langkah terburu-buru hingga berhasil menabrak Simfoni. Bagus jika hanya menabrak, karena hal itu tidak akan memberikan efek apa-apa selain—mungkin—membuat Simfoni terhuyung. Nahasnya, tabrakan ini tidak sesederhana itu. Kaki perempuan yang terbungkus converse itu justru menginjak kaki Simfoni, tepat di atas luka yang ia miliki.

Rasa sakit yang belum sepenuhnya menghilang kembali ia rasakan, bahkan kali ini lebih parah dari sebelumnya. Simfoni bahkan sampai meringis, raut kesakitan pun kentara sekali di wajahnya.

"Eh, sori-sori," kata perempuan yang tadi menabraknya. Ia berbalik, lantas ikut berjongkok saat Simfoni terduduk di lantai. "Loh, Simfoni?"

Mendengar namanya disebut, Simfoni kontan mendongak. Perempuan itu menemukan seraut wajah familier. Rupanya orang yang sudah menabrak Simfoni adalah Cyrin, teman sekelasnya saat kelas sepuluh dulu. Mereka tidak terlalu dekat, tetapi sempat ditempatkan dalam satu kelas yang sama selama satu tahun tentu cukup untuk membuat keduanya saling mengenal.

Gurat penyesalan tampak sekali di raut wajah Cyrin. "Sori-sori, Fo. Gue bener-bener nggak liat lo. Lo nggak apa-apa?" Ia menyentuh kaki Simfoni.

"Aku—" Simfoni ingin mengatakan bahwa ia tidak apa-apa, tapi rasa sakit di kakinya benar-benar tak bisa ditahan. Alhasil perempuan itu kembali meringis.

"God," desah Cyrin. "Gue nginjek lo pasti kekencengan. Lo sampe kesakitan gini."

"Aku nggak apa-apa, Cyrin."

Cyrin melotot. "Jangan bilang nggak apa-apa kalo pada kenyataanya lo sampe meringis gini! Gue tau lo lagi nggak apa-apa. Ayo, gue bantu ke UKS."

Tanpa memberi kesempatan bagi Simfoni untuk menolak, Cyrin langsung memapah Simfoni menuju UKS. Kebetulan letak UKS tak begitu jauh dari tempat Simfoni dan Cyrin berada sekarang, sehingga tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sampai di unit kesehatan sekolah itu.

Saat keduanya sampai di UKS, tidak ada satu pun penjaga yang ada di sana. Hal itu membuat Cyrin berdecak, dan ia harus bersusah payah membawa Simfoni sesorang diri ke salah satu brankar.

Cyrin mendudukkan Simfoni di atas brankar. Setelah Simfoni duduk, Cyrin menyuruh Simfoni untuk mengangkat kakinya. Hal itu dilakukan berbarengan dengan tangan Cyrin yang ikut menaikan kaki Simfoni. "Sekarang buka sepatu lo, biar gue bantu obatin." Perempuan itu lantas berjalan menuju lemari penyimpanan dan mencari kotak P3K di sana.

"Nggak usah, Cyrin. Aku bisa sendiri." Simfoni menolak tidak enak.

Masih sambil mencari kotak P3K di dalam lemari, Cyrin membalas, "Udah, deh, nggak usah nolak. Kaki lo sakit gara-gara gue juga."

"Ta—tapi—"

"Buka sepatu lo." Tahu-tahu Cyrin sudah kembali berdiri di samping brankar yang ia tempati, lengkap dengan kotak P3K di tangan.

"Cyrin, aku—"

"Cepet buka! Apa perlu gue yang bukain?"

Di saat tangan Cyrin sudah terulur untuk membuka sepatunya, buru-buru Simfoni menahan tangan perempuan itu. "Eng—nggak usah! Aku bisa sendiri."

"Bagus." Cyrin mengangguk puas. Masih dengan memegang kotak P3K, Cyrin melipat tangan di depan dada. Mata perempuan itu yang dihiasi lensa kontak menyorot Simfoni, menunggu Simfoni membuka sepatunya.

Perlahan Simfoni membuka simpul tali sepatu. Lantas, dengan gerakan yang sama pelannya, seolah tengah menahan nyeri di kaki, Simfoni melepas sepatu. Warna merah adalah apa yang terlihat pertama kali begitu sepatu Simfoni terlepas, menempel pada selapis kain bernama kaus kaki. Bertepatan dengan itu, suara benda-benda yang jatuh membentur keramik terdengar. Simfoni mendongak, dan ia mendapati Cyrin tengah mematung. Mata perempuan itu menyorot kakinya, lalu wajah Cyrin yang semula dihiasi rona kini perlahan memucat. Tubuhnya lantas gemetar.

Simfoni yang melihat perubahan Cyrin terlihat bingung. "Cyrin—" Belum sempat Simfoni menyelesaikan ucapannya, Cyrin sudah lebih dulu berlari keluar. "Cyrin! Kamu kenapa?" Simfoni ingin mengejar, tapi kakinya tidak memungkinkan untuk diajak berlari. Alhasil perempuan itu hanya terdiam dengan kebingungan yang kian pekat merambati kepala.

Tidak sampai lima belas menit, pintu UKS yang semula menghilangkan figur Cyrin dari pandangan Simfoni, kini kembali terbuka. Kali ini bukan sosok Cyrin yang muncul di baliknya, melainkan tubuh tegap seorang laki-laki berparas rupawan.

Serta merta Simfoni yang tengah mengobati lukanya langsung diserang rasa gugup. Tidak, tidak, ini bukan karena tampang rupawan laki-laki itu, melainkan karena ... Simfoni merasa tidak nyaman. Rasanya, ia ingin segera pergi saja dari tempat ini.

Namun, sebelum Simfoni merealisasikan keinginanya, laki-laki itu sudah terlebih dahulu mendekat. Sontak, Simfoni langsung bersikap defensif. Ia beringsut mundur. "Ka—kamu mau apa?"

Laki-laki itu mengernyit melihat sikap defensif Simfoni. "Lo Simfoni?"

Simfoni tidak menjawab pertanyaan laki-laki itu. Ia justru menunduk seraya meremas rok. Tak dihiraukan luka yang belum terobati sepenuhnya.

"Gue bantu obatin luka lo."

Begitu laki-laki itu mendekat dan hampir menyentuh kakinya, Simfoni buru-buru menariknya. "Eng—enggak usah! Aku nggak perlu bantuan kamu!"

Jangan salahkan Simfoni jika ia bersikap keras seperti ini. Mana ada orang yang akan bersikap baik pada orang yang sama sekali tidak dikenalnya, tapi langsung mengajukan diri untuk mengobati Simfoni. Simfoni sama sekali tidak bisa menerima bantuan orang lain begitu saja, terlebih laki-laki. Dan terlebih ia adalah orang yang menurutnya asing.

"Lo kenapa, sih? Gue cuma mau bantuin lo!" Suara laki-laki itu sedikit lebih keras dari sebelumnya.

Bentakan itu malah membuat Simfoni takut. “A—aku bisa obatin sendiri."

Terdengar decakan kesal dari laki-laki itu, tetapi Simfoni tak memedulikannya. Ia masih enggan menatap laki-laki itu.

Lantas terdengar suara langkah menjauh, mengindikasikan jika laki-laki itu pergi. Simfoni mengembuskan napas lega.

Namun, ketika ia menoleh ke arah pintu, laki-laki itu kembali. Kali ini ia tidak sendiri, melainkan bersama seorang perempuan yang menyembunyikan wajahnya pada dada laki-laki itu. Sontak hal itu membuat jantung Simfoni berdegup cepat. Apa mereka ingin melakukan hal yang tidak senonoh di sini? Simfoni kembali meremas roknya kencang.

"Hilangin ekspresi mencurigakan itu dari wajah lo!" sembur laki-laki itu tiba-tiba, seolah ia dapat membaca pikiran Simfoni. "Gue nggak akan ngelakuin hal aneh-aneh di sini." Meskipun berkata seperti itu, tetapi kontras sekali dengan sikapnya. Ia mengelus rambut panjang perempuan itu, terlebih si perempuan yang sama sekali tidak ingin menunjukkan wajahnya. "Ini Cyrin."

Kali ini kening Simfoni mencipta kerut samar. Cyrin?

Lantas mata Simfoni begitu saja menyapu tampilan perempuan itu dari belakang. Converse itu memang converse yang tadi menginjak kakinya. Lalu rok yang panjangnya sedikit di atas lutut, meskipun banyak siswi yang memakai rok seperti itu, tapi jelas hanya sedikit yang memakai rimpel, Cyrin salah satunya. Dan yang selalu menjadi ciri khas dari seorang Cyrinda Shazma adalah gelang warna-warni beserta jam tangan yang dipasang serentak di tangan kiri.

"Dia nggak bisa obatin luka lo, makanya gue yang gantiin," ketus laki-laki yang masih memeluk Cyrin itu. "Jadi lo nggak usah mikir yang aneh-aneh. Gue di sini cuma karena Cyrin. Kalo nggak, mana mau gue ngobatin lo."

"Gerhan ...." Cyrin menegur dengan suara sengau—yang seingat Simfoni tadi tak seperti itu. Simfoni tidak sengaja melihat tangan Cyrin yang mencengkeram erat kemeja seragam laki-laki yang tadi disebutnya dengan panggilan Gerhan.

Gerhan memutar mata, yang tentunya hanya dapat dilihat Simfoni, sebab Cyrin masih menyembunyikan wajah di dada Gerhan.

Sebetulnya Simfoni bingung kenapa Cyrin bertingkah seperti itu. Kalau memang ia tidak bisa mengobati Simfoni, Simfoni tidak apa-apa. Dia bisa mengobati lukanya sendiri. Cyrin tidak perlu sampai meminta bantuan Gerhan-Gerhan itu. Sungguh.

"Cepet obatin lukanya." Suara Cyrin kembali terdengar. Masih dengan suara yang sama sengaunya seperti tadi.

Simfoni memelotot. "Nggak, nggak. Nggak usah! Aku bisa obatin lukaku sendiri."

"Simfoni, please. Mau, ya, diobatin Gerhan? Kalo nggak, gue bener-bener bakal ngerasa bersalah banget." Cyrin berkata seperti itu masih tanpa melihat Simfoni. "Gue bener-bener nggak bisa ngobatin luka lo sendiri. Sori."

"Udah, lo diem aja di sini. Nggak usah liat-liat. Gue ngobatin temen lo dulu." Lalu Gerhan melepaskan pelukannya. Cyrin masih enggan menatap Simfoni. "Jangan nangis lagi." Dengan lembut diusapnya pipi Cyrin.

Tatapan lembut Gerhan berganti kaku begitu ia menatap Simfoni, apalagi saat ia melangkah mendekat. "Siniin kaki lo, biar gue obatin." Saat Gerhan menyentuh kakinya, Simfoni kembali menariknya.

"Nggak usah! Aku bisa sendiri!" Simfoni tanpa sadar hampir menjerit. Tindakan tiba-tiba Gerhan membuat radar Simfoni menyala.

Lagi-lagi Gerhan mengernyit. "Lo apaan, sih? Kok nyolot? Gue mau bantuin lo, nggak usah aneh-aneh!" Kasar, diraihnya kaki Simfoni.

"Nggak usah." Simfoni merintih seraya berusaha menarik kakinya yang kali ini dicengkeram Gerhan. Matanya terasa memanas. "Aku bisa sendiri."

"Gerhan jangan kasar." Mendengar keributan di belakangnya, Cyrin membuka suara. Perempuan itu masih enggan menatap ke arah belakang.

"Kasar apaan?" Gerhan tidak terima. "Gue nggak kasar. Cewek ini aja yang aneh!" tunjuknya pada Simfoni. "Gue nggak akan ngapa-ngapain lo! Nggak usah drama!"

Meskipun sebenarnya Simfoni tidak mau, pada akhirnya dia membiarkan saja Gerhan mengobati lukanya. Dia tidak berani menolak jika Gerhan sudah memberikan tatapan super tajam diiringi raut wajah dingin. Bukan hanya Simfoni, sepertinya orang-orang pun akan bersikap sama.

Selama Gerhan mengobati kakinya, Simfoni terus menunduk. Diam-diam perempuan itu juga menahan tangis ketika hangat tangan Gerhan menyentuh kakinya.

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ to be continued

Bab 3

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

Ruang Temu

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬

"OIT."

Merupakan sapaan pertama Beryl begitu Gerhan meneleponnya. Bel pulang baru saja berdering, teman-temannya berhamburan keluar kelas. "Cabut ke mana lo nggak balik lagi ke kelas? Kagak ngajak-ngajak," sambungnya.

"Lo belum balik 'kan? Bisa ke UKS? Sekalian ke kelas XI IPA 1 dulu, ambilin tas cewek yang namanya Simfoni." Mengabaikan pertanyaan Beryl, Gerhan justru berkata seenaknya.

"Weits, apaan, nih? Enak aja maen nyuruh-nyuruh."

"Nggak usah bacot. Cepetan. Gue tunggu." Lantas begitu saja telepon dimatikan.

Beryl menatap layar ponselnya yang kini sudah menggelap. "Ye, si kunyuk!" umpatnya kemudian.

"Ngapa lo?" Dari arah belakang, Xylo bertanya. Laki-laki itu sudah bersiap pulang, tas telah dicangklokan di pundak, dan ia tengah meraih kruk yang disandarkan pada dinding.

"Ini, nih, temen lo. Seenaknya aja nyuruh-nyuruh."

"Gerhan?"

"Siapa lagi emangnya?"

"Dia ngomong apaan?"

"Tau. Disuruh ke IPA 1, ngambil tas cewek yang namanya Sim ... Sim ... Sim apa, ya, tadi? Simsimi apa Simsalabim, gue lupa."

"Sambalado kali!" Xylo ngakak lagi.

"Ye, si tolol!" Beryl ikut ngakak. Laki-laki itu lantas mengaitkan satu tali tasnya ke pundak. Keduanya lantas berjalan meninggalkan kelas.

Beryl dan Xylo berjalan melewati teras yang menghubungkan gedung IPA dengan gedung IPS. Beryl yakin jika saat ini telah terjadi sesuatu. Pasalnya tidak mungkin seorang Lantang Gerhana mau bersusah payah peduli pada orang lain jika tidak ada sebabnya. Apalagi sampai harus mengambilkan tas. Mana seorang perempuan lagi. Kalau Cyrin tahu, bisa-bisa perempuan itu mengamuk.

Eh, benar kan tadi nama yang disebutkan Gerhan merupakan nama perempuan?

Begitu sampai di depan kelas XI IPA 1, Beryl langsung mengetukkan jari sebanyak dua kali ke permukaan pintu. Tentu saja hal itu ia lakukan bukan untuk bersikap sopan, melainkan hanya karena sifat isengnya.

Suasana di dalam kelas tidak ramai, cenderung lengang malah. Hanya ada beberapa siswa yang Beryl asumsikan tengah piket pulang sekolah, dilihat dari kegiatan mereka yang sibuk dengan beragam alat kebersihan.

Saat Beryl mengetuk pintu, seluruh kepala yang berjumlah tidak lebih dari enam orang itu langsung menoleh ke arahnya. Hampir seluruh wajah di sana menyambut Beryl dengan keterkejutan. Mungkin mereka bingung kenapa bisa seorang Beryl Moissani menyambangi kelasnya. Karena seperti Gerhan, Beryl pun terkenal sama tak acuhnya pada sekitar.

Kegiatan mereka terhenti sepenuhnya. Xylo yang baru sampai di belakang Beryl langsung melongokkan kepala dari balik bahu Beryl.

"Gue mau ngambil tas cewek yang namanya ...," Beryl menoleh pada Xylo, "siapa, Xyl? Gue lupa."

"Sambalado!" Xylo menjawab asal.

"Si tolol." Beryl tertawa. "Bukan, Bego!"

"Lha, terus siapa? Gue kan nggak tau, yang ngobrol sama Gerhan elo."

Beryl menggaruk kepala menggunakan telunjuk. Dia jadi bingung. Tadi dia tidak betul-betul mendengar dengan jelas siapa nama yang disebutkan Gerhan. “Gue tanyain Gerhan dulu, deh,” putusnya karena tidak berhasil mengingat siapa nama yang disebutkan Gerhan tadi.

Sementara Beryl sibuk dengan ponselnya, Xylo justru tebar pesona pada perempuan yang berbicara dengan mereka. Sifat buaya laki-laki itu benar-benar keluar beriringan dengan modus-modus yang mulai ia lontarkan.

“Simfoni,” tukas Beryl seusai mendapat balasan dari Gerhan, sekaligus memutus aksi Xylo. “Tas Simfoni. Gue mau ngambil tas Simfoni.”

"Kalo lo nggak ngasih gue kompensasi apa pun atas jasa yang udah gue lakukan buat ngambil tas ini, gue benar-benar akan bikin perhitungan."

Adalah kalimat pertama yang dilontarkan Beryl begitu ia membuka pintu UKS. Kaki laki-laki itu baru menginjak lantas UKS ketika dua kepala di sana menoleh serentak. Sebetulnya ada tiga orang di ruangan ini, hanya saja, seseorang yang duduk di atas brankar tampak tidak tertarik menoleh pada Beryl. Ia hanya menunduk, membiarkan rambutnya tergerai hingga memblokade pandangan Beryl dari wajahnya.

"Bisa nggak lo kalo dateng ngucap salam dulu?!" Cyrin melotot galak.

Iya, Cyrin. Ternyata di sini ada perempuan cerewet itu juga. Beryl kira dia hanya akan menemukan Gerhan dan perempuan yang tasnya ia ambil, berduaan. Rupanya tidak.

Tidak heran juga sebenarnya, karena di mana ada bulldog, di sana pasti ada pawang bulldog.

Beryl memutar mata. Laki-laki itu lantas berjalan mundur dan mengetuk pintu dengan tampang tidak berminat. "Udah?"

Giliran Cyrin yang merotasikan mata. Tak menghiraukan Beryl, Cyrin kembali memberi atensi pada perempuan yang masih menunduk di atas brankar itu. Ia mengatakan sesuatu yang tidak terlalu Beryl perhatikan. Laki-laki itu justru berjalan mendekati Gerhan yang kini bertampang kusut di brankar lain.

Mengabaikan raut kusut Gerhan, Beryl melempar tas hijau toska di tangannya ke pangkuan Gerhan. "Bayar."

Gerhan hanya melirik Beryl sekilas sebelum memberikan tas di pangkuannya pada perempuan yang tengah menunduk itu. "Tas lo."

"Ma—makasih," balas perempuan itu tanpa mengangkat kepala. Tangannya terulur guna mengambil tas yang disodorkan Gerhan.

Beryl mulai penasaran sekarang. Apalagi saat perempuan itu sama sekali tidak mengangkat kepala. Ia hanya menunduk, mengundang ingatan Beryl terarah pada sosok perempuan yang sudah menjatuhkan sepatu ke atas kepalanya beberapa hari lalu.

"Eh, lo kenapa nunduk mulu? Nggak pegel tuh leher?" Mengikis rasa penasaran, Beryl mencoba peruntungan dengan memancing perempuan itu agar mau mendongak. Namun, bukannya mendapat balasan dari perempuan itu, justru Cyrin yang menanggapi ucapannya.

"Shhh, diem!"

Beryl berdecak. Laki-laki itu lantas menyingkirkan Gerhan dari brankar yang sebelumnya ia tempati dan berbaring terlentang di sana, membuat Gerhan kontan mendelik jengkel. Beryl juga tidak tahu kenapa ia justru merebahkan diri di sini. Harusnya Beryl hanya mengantarkan tas lalu pulang. Xylo bahkan memutuskan untuk menunggu di mobilnya daripada harus mengikuti Beryl ke UKS karena berpikir jika Beryl tidak akan lama. Namun, entahlah, Beryl tiba-tiba memiliki keinginan untuk sedikit lebih lama di sini. Ada sesuatu yang terasa menahannya.

Memejam dengan lengan menutupi mata, Beryl membiarkaan suara Cyrin dan perempuan itu mengisi sunyi di ruang UKS.

"Lo baliknya gimana? Kaki lo pasti masih sakit."

"Nggak apa-apa, kaki aku udah baikan. Dan juga, ini bukan salah kamu."

"Bukan salah gue gimana?" Suara Cyrin meninggi. "Jelas-jelas gara-gara gue nginjek kaki lo, kaki lo jadi berdarah gitu! Bagian mananya yang bukan salah gue?!"

Dasar ratu drama!

"Ini benar-benar bukan salah kamu. Sebelum keinjak kamu kaki aku emang udah luka, jadi jangan merasa bersalah."

"Tapi tetap aja kan gara-gara gue kaki lo jadi luka lagi."

Beryl membalikkan tubuh hingga kini membelakangi ketiga orang itu. Lama-lama ia bosan juga mendengar perdebatan kedua perempuan tersebut, tetapi entah kenapa ia masih saja enggan beranjak. Lalu, tidak tahu apa lagi yang mereka bicarakan selanjutnya hingga tiba-tiba saja Gerhan berkata, "Beryl, lo abis ini nggak ke mana-mana lagi kan? Bisa lo anterin Simfoni pulang?"

Bertepatan dengan Beryl yang kembali membalikkan tubuh guna menyuarakan protesannya, perempuan bernama Simfoni-Simfoni itu sudah terlebih dahulu menyela.

"Enggak usah! Aku bisa pulang sendiri, nggak perlu dianterin."

Sekarang perhatian Beryl justru tertuju pada Simfoni. Mungkin karena Simfoni terlalu panik, sampai ia refleks mengangkat kepala hingga membuat Beryl bisa melihat wajah perempuan itu dengan leluasa. Rupanya perkiraan Beryl memang benar. Simfoni adalah perempuan yang sudah menjatuhkan sepatu ke atas kepalanya.

"Lo cewek yang udah jatuhin gue sepatu itu 'kan?"

Yang pertama kali Beryl lihat begitu Simfoni menoleh padanya adalah melebarnya mata perempuan itu. Keterkejutan sudah jelas terlihat di raut wajahnya, membuat Beryl kontan menyeringai.

"Lo berdua udah saling kenal?"

"Aku serius bisa pulang sendiri!" Simfoni menyela dengan suara kian panik. Hal yang justru membuat seringaian Beryl kian melebar. Laki-laki itu lantas turun dari brankar.

"Nah, karena ceweknya elo, gue jadi nggak keberatan buat nganterin lo pulang," tukas Beryl tanpa beban.

"Enggak, enggak! Beneran aku bisa sendiri!"

"Sayangnya gue nggak bisa ditolak." Beryl berujar. Sejenak raut wajahnya dibuat menyesal, tetapi di detik berikutnya sebuah seringaian kembali terlihat.

"Beryl, lo jangan aneh-aneh!" seru Cyrin, agak panik. Bagaimana tidak panik kalau Beryl sudah bersikap seperti itu? Nanti kalau Simfoni diapa-apakan bagaimana? Cyrin sebagai pihak yang memaksa Simfoni untuk diantar pulang tentu akan menjadi orang paling bersalah jika terjadi sesuatu pada Simfoni. Walaupun Cyrin sangsi juga kalau Beryl akan berbuat macam-macam. Tapi, namanya juga laki-laki! Apalagi itu Beryl, bukan tidak mungkin jika dia akan melakukan hal aneh-aneh.

"Aneh-aneh gimana? Gue cuma mau nganterin dia pulang. Apanya yang aneh coba?"

"Gerhan." Cyrin menarik seragam Gerhan, berusaha meminta bantuan pacarnya untuk menegur Beryl. Sayangnya yang ia dapatkan tak sesuai keinginan.

"Lo mau gue yang nganterin Simfoni?"

Tanpa berpikir dua kali Cyrin langsung menjawab, "Enggak! Enak aja!" dengan mata memelotot. Walau bagaimanapun, Cyrin tidak akan pernah rela pacarnya membonceng perempuan lain yang tidak ada hubungan darah dengan laki-laki itu. Tidak! Sama sekali tidak akan!

Gerhan mengangguk ringan. "Nah, yaudah. Toh Beryl cuma mau nganterin Simfoni. Dia nggak akan macem-macem."

Jawaban itu membuat seringaian Beryl kembali tampak.

Raut ragu sempat melintas di wajah Cyrin. "Tapi kan—"

"Udahlah, dia aman kok sama gue. Tenang aja." Beryl tersenyum tengil lantas menoleh pada Simfoni. "Iya 'kan, Simfoni?" lanjutnya sok manis.

Simfoni justru kembali menunduk.

"Bener lho, ya, jangan aneh-aneh. Awas aja kalo sampai Simfoni kenapa-kenapa!"

"Iya. Santai aja, Tuan Putri."

Setelah puas mengatakan berbagai macam pesan yang berisi ancaman hingga membuat Beryl muak sendiri, akhirnya Cyrin berhasil ditarik Gerhan. Beryl sempat mengajak Gerhan tos seraya melempar senyum yang hanya mereka berdua ketahui artinya sebelum Gerhan dan Cyrin benar-benar meninggalkan ruangan.

Sepeninggal keduanya, Beryl berbalik pada Simfoni. Senyum manisnya terkembang.

"Jadi, mau naik kereta kencana sekarang, Cinderella?"

▬▬▬▬▬▬▬▬▬▬ to be continued

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED