Seorang anak laki-laki sedang berbicara kepada gadis kecil sambil tersenyum hangat kepadanya. Tiba-tiba dunia berubah menjadi gelap gulita dan tidak ada sama sekalipun cahaya yang terpancar pada dunia gadis kecil itu. Terdapat bayang-bayang serta suara pada anak laki-laki itu yang terdengar menangis yang menghantuinya dan anak laki-laki itu melihat gadis kecil itu. Hati sang gadis kecil itu entah kenapa terasa sesak yang cukup mendalam yang telah ia rasakan, ketika melihat anak laki-laki itu.
Kring...kring...
Terdengarlah bunyi deringan alarm dari kamar seorang gadis. Ketika mendengar suara tersebut, gadis berambut panjang hitam kecokelatan dengan warna mata cokelat terang itu dengan tiba-tiba terbangun dari tidurnya dan mengeluarkan banyak keringat pada wajahnya.
“Hanya mimpi?” tanya gadis itu.
Tapi entah kenapa saat gadis itu terbangun dari mimpinya, tiba-tiba saja ia menitikkan air matanya dan sedang bertanya-tanya pada dirinya sendiri. Padahal, itu hanya sebuah mimpi seperti pada umumnya saja. Kemudian, gadis itu berdiri dari tempat tidurnya dan bergegas untuk bersiap-siap berangkat sekolah. Hari ini merupakan hari pertamanya menjadi siswa SMA.
Sebelum itu, perkenalkan nama gadis itu adalah Evelina Caroline dan saat ini dia umurnya masih 15 tahun, tapi sebentar lagi dia akan berumur 16 tahun. Sekarang ini, dia sudah menjadi siswi SMA. Evelina berpikir bahwa kehidupannya akan menjadi gadis yang normal pada umumnya, tapi siapa sangka bakalan terjadi suatu hal di luar perkiraannya. Lalu, Evelina berdiri di depan cermin di kamarnya dan berkaca untuk melihat penampilannya. Dia merasa bahwa wajahnya tidak seperti biasanya, wajah gadis itu terlihat sangat pucat.
"Hari ini wajahku terlihat pucat, apakah karena mimpi itu?” tanyanya pada dirinya sendiri. Lalu, Evelina menyemangati dirinya sendiri. Tak lama kemudian, dia mendengarkan suara bunyi bel pada rumahnya.
Ting...tong...
Setelah itu, Evelina membuka pintu rumahnya dan ternyata orang yang datang adalah sahabatnya, Larissa Kraliss. Sebut saja namanya Rissa, tidak hanya sahabatnya saja. Tetapi, dia juga tinggal di sekitar lingkungan rumah Evelina yang bersebelahan dengannya. Mereka sudah berteman sejak kecil atau yang biasanya disebut teman masa kecil. Rissa seperti biasa selalu menjemput Evelina saat berangkat sekolah dan Rissa merasa senang berangkat bersama Evelina.
Kemudian, Evelina berpamitan kepada orang tuanya. Karena dia ingin berangkat ke sekolahnya.
“Ayah, Ibu, aku berangkat!” pamitnya.
“Hati-hati di jalan, Eve. Rissa tolong jaga dia, ya!” bilang ibunya Evelina berkata kepada Rissa.
“Eve, jangan berbicara kepada seorang lelaki, ya!” tegas ayah Evelina menatap tajam kepada anak gadisnya.
“Iya, iya. Aku tahu itu, Ayah,” sahut Evelina.
Evelina pun bergegas pergi dari hadapan orang tuanya, karena ia tidak nyaman melihat tingkah ayahnya itu. Kemudian, dia menutup pintu rumahnya.
“Maaf telah membuatmu lama menunggu,” kata Evelina.
“Tidak, kok. Seperti biasanya ayahmu terlalu posesif. Wkwk ...,” sahut Rissa dengan tertawa kecil.
"Hahaha ... seperti itulah ayahku," sahut Evelina yang masih tidak terbiasa dengan perilaku ayahnya.
Mereka pun berangkat ke sekolah bersama-sama. Selama perjalanan menuju ke sekolah baru mereka, Rissa langsung menggandeng tangannya Evelina. Evelina membalasnya dengan senyumannya kepada sang sahabatnya. Dia sudah terbiasa dengan tingkah laku Rissa yang lengket kepadanya.
Sesampai di sekolah baru mereka, kedua gadis itu mengikuti upacara penerimaan murid baru yang mana merupakan tradisi sekolah ini, SMA Codeland. Kepala sekolah memberi sambuatan kepada siswa-siswa baru tahun pertama karena telah menjadi murid SMA Codeland. Setelah kepala sekolah selesai memberi sambutan, sekarang mempersilahkan perwakilan dari tahun pertama yang biasanya diwakilkan oleh peringkat pertama pada ujian masuk sekolah.
Perwakilan tersebut pun tiba di panggung utama, siswa tersebut sudah berdiri di panggung utama tersebut. Dia adalah seorang lelaki tampan berambut putih keperakan dengan warna mata biru permata. Lelaki itu telah meraih peringkat pertama dan namanya adalah Nox Cyril. Kemudian, lelaki itu memperkenalkan dirinya dan berpidato memberi ucapan terima kasih karena sudah diterima di SMA Codeland. Para murid di sekolah ini pun mulai ribut ketika Nox berpidato, Karena dia merupakan anak keluarga Cyril yang sangat berpengaruh di kota ini, Lefko dan juga parasnya sangat tampan.
“Eh ... eh ... bukannya itu Nox dari keluarga Cyril?” bisik senior A.
“Kyaaa!! Benar ... beruntungnya kita bisa melihatnya secara langsung,” sahut senior B.
Evelina dengan Rissa sedang menyimak pidato tersebut. Rissa pun ikut berkomentar, ketika mendengarkan keributan di sekitarnya. “Heh ... seperti biasanya keluarga Cyril menarik perhatian banyak orang,” bisik Rissa. Evelina mendengarkan Rissa berkomentar dan ia berkata, “Apa kau mengenalnya?”
Rissa mendengarkan pertanyaan Evelina, ia tidak terlalu terkejut dengan pertanyaan Evelina. Bahwa Evelina tidak mengetahui Nox ataupun mengenal keluarga Cyril. Padahal, semua orang di sini tidak ada yang mengenal anak tunggal keluarga Cyril.
“Seperti biasanya dirimu, tidak tertarik apa pun kecuali buku dan musik,” kata Rissa sambil menggandeng lengan Evelina dan terlihat senang.
“Ayahnya merupakan partner kerja kakakku jadi saat kecil aku sering bertemu dengannya,” jelas Rissa.
“Oh, begitu ... apakah kau dekat dengannya?” tanya Evelina.
“Tidak juga. Eve. Jangan sampai kamu tertarik dengan cowok itu! Walaupun dia terlihat tersenyum, itu hanya senyum palsunya dan sandiwaranya saja. Sebenarnya dia orang yang kejam dan memiliki kepribadian yang buruk,” gerutu Rissa.
“Baiklah. Kau seperti ayahku saja,” sahut Evelina sambil tersenyum tipis.
Di pertengahan pidato Nox, lelaki itu dengan tiba-tiba berhenti sejenak ketika melihat Evelina.
Evelina melihat Nox sedang memandangnya. “Siapa yang dia lihat? Tidak mungkin aku, kan? Paling Cuma perasaanku saja,” tanya Evelina dalam hatinya.
Kemudian, Nox melanjutkan kembali pidatonya dan itu semua berjalan dengan lancar. Para murid, guru, serta kepala sekolah tersanjung dengan pidatonya.
Beberapa jam kemudian...
Upacara tersebut telah selesai, para siswa pun membubar diri mereka, Kemudian, para murid baru melihat daftar kelasnya pada papan pengumuman. Mereka ingin mengetahui masing-masing dari mereka di tempatkan di kelas mana.
Evelina yang baru saja dari toilet tadi, dia pun bergegas melihat daftar kelasnya. Lalu, Rissa mendatangi Evelina setelah melihat papan pengumuman tersebut.
“Eve, syukurlah kita satu kelas!” kata Rissa sambil memeluk Evelina.
Evelina tersenyum, dia merasa senang tahun pertamanya bisa satu kelas dengan Rissa. Karena dia selalu tenang saat bersama dengan Rissa yang merupakan sahabatnya sendiri. Mereka pun menuju ke kelas, yaitu kelas 1-4. Sesampai di kelas itu, banyak siswa bergerombol dan cukup ramai di tempat tersebut. Karena di kelas itu, banyak orang yang menarik perhatian. Terutama empat cowok yang berkelompok itu, yaitu Nox Cyril keluarga Cyril yang sangat berpengaruh dalam dunia bisnis, Lucas Aland merupakan model remaja yang sudah terkenal sejak kecil, Franss Vessalius merupakan sang anak berbakat di bidang IT, dan Owen Blouse berasal dari keluarga terkenal di bidang kedokteran.
Di sisi lain lagi yang tidak kalah terkenal, Larissa Klariss merupakan keluarga Klariss dari desainer terkenal. Tidak lupa juga dengan gadis bermata cokelat terang tersebut, walaupun Evelina terbilang sederhana. Dia mempunyai IQ 200 sejak kecil pun dia meraih banyak penghargaan sains. Tidak hanya itu, ia memiliki paras yang sangat cantik. Jadi, tidak heran banyak orang menyukainya. Karena hari ini merupakan hari pertama sekolah jadi mereka tidak ada jam pelajaran, Rissa mengajak Evelina untuk berkeliling mengenal lingkungan sekolah.
“Eve, ayo kita ke rumah kaca! Katanya sekolah kita memilki kebun bunga dan beraneka buah beri,” ajak Rissa.
“Benarkah? Ayo pergi!” sahut Evelina sambil menarik tangan Rissa.
Sesampai di rumah kaca, Evelina terkagum melihat kebun bunga dan beri yang begitu indah. Karena Evelina sangat menyukai buah stroberi, dia pun langsung memakannya.
“Eve ... apa yang kau makan?” tanya Rissa dengan terkejut.
“A-Apa ... ini tidak boleh dimakan?” tanya Evelina dengan wajah pucatnya.
“Tidak kok, itu boleh. Coba lihat tulisannya,” kekek Rissa sambil menunjukkan papan tulisan tersebut.
Evelina merasa lega, dia kira bahwa hari pertamanya ini akan dihukum dan wajahnya menjadi cemberut.
“Sudah, sudah. Aku hanya bercanda, Eve. Maafkan aku,” kata Rissa dengan menyesal.
“Bagaimana kita ke perpustakaan saja?” ajak Rissa.
Rissa yang mengetahui Evelina menyukai buku, mengajaknya ke perpustakaan untuk menebus permintaan maafnya. Evelina mengangguk dan memaafkannya karena sudah membawanya ke perpustakaan. Sesampai di perpustakaan, mata Evelina berbinar-binar karena banyak buku yang unik dan belum pernah dibacanya sama sekali pun. Evelina meminjam banyak buku, Rissa menawarkan bantuan kepada Evelina dan mereka sambil berjalan. “Eve ... kau terlalu menyukai buku. Apa ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Rissa.
“Hmm ... aku bukan menyukai buku, tapi aku menyukai bahan referensi dalam buku yang dapat diteliti,” sahut Evelina.
Di kala itu, Nox dengan Franss sedang bersama. Mereka sedang berjalan di lorong sekolah, mereka merupakan sahabat sejak kecil. Nox yang sedang memarahi Franss untuk jangan bermain game sambil jalan di lorong sekolah. Evelina dengan Rissa yang sedang asik bercerita tentang buku, tidak menyadari ada orang di depannya. Begitu juga Nox yang sedang memarahi Franss.
Brakkk...
Nox dan Evelina tertabrak satu sama lain, Evelina pun terjatuh bersamaan dengan bukunya.
Rissa pun bergegas dan panik mendatangi Evelina. “Eve apa kau baik-baik saja?” cemas Rissa.
Evelina mengangguk bahwa dia baik-baik saja. Di sisi lain, Nox melihat Evelina terjatuh. Kemudian, dia mengulurkan tangan untuk membantunya.
“Hei ... apa kau terluka?” tanya Nox.
“Ya, aku tidak apa-apa. Maafkan aku,” sahut Evelina karena tidak melihat jalan.
“Bukankah dia gadis yang tadi? Perasaan familiar ini ... apakah gadis ini adalah ‘dia’?” pikir Nox
Perasaan familiar ini yang dirasakan Nox saat memegang Evelina dan menatap gadis itu. Kemudian, Evelina bangun dan dia berdiri, setelah terjatuh tadi. Nox pun
melihat wajahnya mirip dengan orang yang dia kenal dan menyebut namanya. “Evelina?” panggil Nox.
Nox yang masih memegang tangannya, mereka menatap satu sama lain. Lalu, muncul lah perasaan nostalgia yang dirindukan olehnya, ketika mereka melihat satu sama lain.
BERSAMBUNG...
Evelina terlihat kebingungan karena Nox mengetahui namanya. Padahal, mereka belum mengenal ataupun bertemu satu sama lain.
“Apa kau mengenalku? Tidak ... apakah kita pernah bertemu sebelumnya?” tanya Evelina kepada Nox.
Nox mendengar kata-kata itu, dia pun melepaskan tangan Evelina dengan perlahan. Pada saat itu, Rissa baru menyadari bahwa orang yang menabrak sahabatnya adalah Nox Cyril.
“NOXXX!!! Apa yang kau lakukan pada ‘Eve-ku’?” teriak Rissa.
“Eve-ku?" ucap Nox. Lalu, lelaki itu menoleh ke arah sampingnya, ketika ada seseorang yang sedang memanggil. Ia terkejut ketika melihat di depannya ada seseorang gadis yang dikenalnya. Rissa?” ucap Nox sambil melihat Rissa dengan tercengang.
“Iya, itu aku!” tegas Rissa.
Di kala itu, Nox malah mengacuhkannya dan meninggalkan Rissa tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
“Hei! Minta maaflah sebelum pergi!” ketus Rissa.
Evelina menganggukkan kepalanya dan dia bilang kepada Rissa bahwa ia tidak apa-apa. Lagi pula, ini salahnya karena tidak melihat jalan dan ada orang di depannya tadi. Franss masih berdiri dan berada di dekat Evelina, ia langsung mendatangi Evelina dan dia meminta maaf atas perlakuan Nox yang tidak sopan itu.
“Maafkan kami, sudah membuatmu terjatuh,” kata Franss.
“Dia memang tidak pandai dalam meminta maaf kepada orang lain, tapi dia orang yang baik kok,” jelasnya kepada Evelina.
“Franss ... kau di sini juga!” ucap Rissa.
“Tentu saja, siapa lagi yang bisa menjaga atau menangani bocah itu? Wkwk,” kekek Franss.
”Oh ya, aku tinggal dulu. Bye bye Rissa ... dan juga Evelina,” pamitnya.
Franss pun pergi meninggalkan Rissa dengan Evelina, dia mengejar Nox dan memanggilnya karena sudah ditinggalkan oleh Nox sejak tadi.
"Hei Nox! Kenapa kau meninggalkanku sendirian?" teriak Franss.
Evelina terkejut dengan ucapan lelaki itu, karena Franss mengetahui namanya. Padahal, mereka belum pernah bertemu sama sekali pun. Rissa menyadari bahwa Evelina terlihat bingung, ia pun menjelaskannya kepada Evelina
“Franss Vessalius, dia orang yang mudah mengingat apa pun. Walaupun, sekali dilihatnya dan juga dia adalah anak bungsu keluarga Vessalius dari perusahaan Swath.”
“Perusahaan Swath? Bukankah itu ...,” sahut Evelina.
“Benar, perusahaan yang mendunia di bidang teknologi yang sudah terkenal dari dulu sampai sekarang,” jawab Rissa. “Sudah-sudah itu tidak penting, ayo kita kembali ke kelas!” ajak Rissa kepada Evelina.
“Oh benar ...,” sahut Evelina.
Sambil berjalan membawa buku, Evelina menyadari bahwa Nox sepertinya mengenal dirinya dan terlihat bahwa lelaki itu ingin mengatakan sesuatu kepadanya. Tetapi, tidak jadi dikatakan oleh lelaki itu. Evelina juga menyadari bahwa sebelum Nox pergi, raut wajahnya terlihat sedih saat memandangnya.
“Apakah kita pernah bertemu? Aku rasa tidak ... sebelum itu, aku belum pernah mempunyai teman laki-laki ketika kecil. Yah ... tapi aku rasa ada memiliki beberapa teman laki-laki pada waktu itu,” pikir Evelina.
Setelah itu, mereka pun akhirnya sampai di kelas mereka. Tak lama kemudian, bel sekolah pun berbunyi.
Kring...kring...
Walaupun hari ini tidak ada pelajaran sekolah, tapi mereka harus memperkenalkan diri mereka masing-masing sebelum itu. Rissa dan Evelina pun duduk di bangkunya, Evelina menyadari bahwa ada Nox dan Franss sekelas dengan mereka. Setelah itu, ada seorang pria berambut abu-abu gelap dengan warna mata biru laut. Ia datang dan masuk ke kelas tersebut, dia langsung memperkenalkan dirinya sebagai wali kelas 1-4.
“Nama saya adalah Kyle Xerxes. Panggil saja Pak Kyle, saya mengajar mata pelajaran Matematika dan juga sebagai wali kelas kalian, Mohon kerja samanya!” kata Pak Kyle.
Setelah itu, Pak Kyle pun meminta para siswanya untuk memperkenalkan diri mereka masing-masing yang pertama di ujung dekat jendela, yaitu Nox Cyril dan Franss Vessalius.
“Nox Cyril dari SMP Izles,” senyum Nox.
“Franss Vessalius dari SMP Izles juga, salam kenal semua!” seru Franss.
Para murid mulai berbisik satu sama lain, ketika para pria populer memperkenalkan diri mereka masing-masing.
“Itu Franss merupakan sahabatnya Nox. Dia mempunyai sifat imut yang berkebalikan dengan Nox,” bisik siswa A.
“Benar, walaupun sifatnya imut dia anak berbakat di bidang teknologi. Sejak kecil sudah meraih banyak penghargaan juga,” sahut siswa B.
Kemudian, dilanjutkan oleh perkenalan dua laki-laki yang tak kalah terkenal dan berpengaruh di kota ini.
“Owen Blouse ... dari SMP Anwerd, salam kenal semua,” sapanya dengan ramah.
“Lucas Aland, SMP Anwed,” sapa Lucas dengan singkat.
Ketika Rissa melihat situasi kelasnya, ia duduk dan bersandar. Ia melihat para lelaki itu sambil menyilangkan kedua tangannya.
“Wah kelas kita benar-benar di kelilingi oleh pria yang terkenal,” seringai Rissa.
Evelina tersenyum tipis dan ia berkata,“Benar sekali.”
Melihat senyuman Evelina, Rissa yang duduk bersebelahan dengannya membuatnya terkagum dan berkata, “Tapi, aku tak tertarik dengan mereka. Hmph! Aku hanya mempedulikanmu saja," Ketika itu, Evelina merasa Rissa bahwa dia terlalu berlebihan dan itu membuatnya ingin tertawa saja.
Setelah semua orang selesai memperkenalkan diri, yang tersisa hanya kedua gadis itu. Mereka pun memperkenalkan dirinya kepada teman-teman sekelas mereka.
“Larissa Klariss dari SMP Vanth,” sapa Rissa
Semua terpesona dan membuat oramg terkagum dengan penampilannya yang cantik dengan rambut panjang cokelat kehitaman yang terurai.
“Evelina Caroline dari SMP Vanth, salam kenal semuanya,” sapanya dengan ramah sambil tersenyum.
Teman-teman kelas mereka pun mulai kembali membisikkan sesuatu, ketika kedua gadis itu memperkenalkan dirinya.
“Larissa Klariss bukankan dia anak perempuan dari desainer yang terkenal di seluruh dunia? Dan juga Evelina Caroline yang mendapatkan banyak penghargaan ketika di SD dan SMP dalam lomba sains dan matematika secara berturut-turut,” kata siswa C.
“Benar, aku pernah mendengarnya juga bahwa dia mempunyai IQ 200,” sahut siswa B.
“Dan juga aku dengar-dengar ... dia masuk SMA ini mendapatkan beasiswa dari dewan sekolah. Dia juga merupakan sahabat dari Larissa Klariss sejak kecil,” sela siswa D.
“Tidak heran dia terlihat akrab dengan Rissa dan juga banyak yang menyukainya,” jelas siswa A.
Setelah para siswa selesai memperkenalkan diri mereka, wali kelas pun berkata kepada para siswa bahwa hari ini adalah jam kosong. Jadi, mereka sekarang bebas dari jam mata pelajaran. Kemudian, Pak Kyle meninggalkan kelasnya.
Setelah beberapa jam kemudian...
Jam 15:00
Sore hari pun telah tiba, warna langit yang cerah itu mulai memudar. Terlihat ada seseorang lelaki berdiri dan menatap pemandangan di hadapannya sambil menunggu hari terbenam. Nox berada di atas atap sekolah dan menyandarkan tangannya pada pangkal pagar tangga tersebut, ia berdiri dengan seorang diri saja di dekat tangga sambil memikirkan sesuatu. Di selang waktu tersebut, muncul lah Franns dan dia mendatangi Nox. Dia menepuk bahunya Nox dan bertanya apa yang sedang dilakukan Nox sendirian di atas atap.
“Nox apa yang kau lakukan di sini?” tanya Franss.
Nox tidak menjawab sepatah kata pun dari pertanyaannya dan Franns bertanya lagi kepadanya.
“Apa kau berpikir dia adalah ‘cewek itu’?”
Nox pun menghela napas, ketika mendengar pertanyaan dari sahabatnya itu dan dia menjawab pertanyaannya.
“Aku rasa begitu ... ketika aku memegang tangannya, perasaan familiar ini yang aku rasakan pada saat itu,” kata Nox sambil melihat telapak tangannya.
“Bukankah dia orang yang sangat penting bagimu? Jadi, kau kali ini harus melindunginya,” sahut Franss sambil tersenyum.
Franss pun melihat Nox bahwa dia tersenyum kecil mendengarkan perkataan dari sahabatnya itu. Franss merasa lega melihat Nox bisa tersenyum lagi, maksudnya dia memang sering tersenyum tapi itu semua hanyalah senyuman palsu yang dia tunjukkan kepada orang lain.
Di sisi lain, Evelina dan Rissa masih berada di kelas. Evelina yang masih terlarut dalam membaca bukunya dengan serius sambil mendengarkan musik. Sedangkan Rissa yang menemani Evelina sambil membaca buku juga. Rissa yang terlihat bosan dia menggeliat dan bicara kepada Evelina.
“Eve ... sudah berapa jam kamu membaca buku?” tanya Rissa.
“Tunggu sebentar ini baru tiga buku ...,” sahut Evelina dengan santai.
Rissa yang menatap Evelina sambil menopang pipinya. “Bukankah ini terlalu membosankan? Membaca banyak buku ...,”
Evelina pun menutup bukunya dan melihat jam tangannya. “Oh benar, ini sudah sore,” kata Evelina, dia pun berdiri dari kursinya.
Kring...kring...
Bel sekolah pun berbunyi yang menandakan sudah waktunya pulang ke rumah mereka masing-masing.
Evelina pun memasukkan bukunya tadi ke dalam tasnya dan mengajak Rissa pulang. Setelah itu mereka sudah sampai di dekat pohon ginkgo pada sekolah mereka. Pada saat itu, Rissa pun ingat bahwa dia telah meninggalkan dompetmya di dalam laci mejanya. Dia meminta Evelina menunggunya sebentar, Evelina menganggukkan kepalanya. Kemudian, Rissa telah pergi dari hadapannya Evelina. Gadis itu menunggu Rissa di bawah pohon ginkgo dan dia pun bersandar tubuhnya pada pohon tersebut.
Daun ginkgo mulai berjatuhan secara perlahan-lahan, karena tertiup angin yang begitu kencang. Hal itu sampai membua rambut hitam kecokelatan panjang yang terurai itu terkibas juga, karena air yang bertiup dengan kencang. Evelina pun memegang rambutnya agar tidak berantakan dan mengaitkan rambutnya yang halus itu pada daun telinganya.
Di sela pemandangan itu, ada seseorang lelaki berambut putih keperakan yang sedang menghampiri gadis itu. Evelina pun baru menyadari kehadiran Nox dan menatapnya, mereka pun menatap satu sama lain.
“Apa sebelumnya kita pernah bertemu?” tanyanya kepada Nox dengan lembut. Tatapan sang gadis itu tertuju kepada Nox Cyril.
BERSAMBUNG...
Evelina yang sedang bertanya kepada Nox dan dia menjawabnya.
“Sebenarnya, aku ...."
Di kala itu, Rissa sudah kembali setelah ia mengambil dompetnya. Kemudian, Rissa langsung menghampiri Evelina dan memanggilnya. “Eve!”
****
~ Kilas balik ~
Setelah beberapa menit kemudian...
Setelah sekian waktu berlalu, akhirnya Rissa menemukan dompetnya. Kemudian, dia pun kembali ke tempat Evelina bahwa sang sahabatnya sudah menunggunya. Rissa pun berjalan mendatanginya dan dia terhenti dari jalannya, ketika melihat Evelina bersama dengan seseorang lelaki. Dia pun berjalan dengan perlahan-lahan tanpa diketahui oleh mereka berdua dan Rissa menyadarinya bahwa lelaki tersebut adalah orang yang sangat dikenal olehnya. “Nox?”
“Apa yang sedang dia lakukan bersama dengan Eve? Apa jangan-jangan dia ingin mendekati Eve???” panik Rissa. Ia langsung bergegas mendatangi Evelina.
~ Akhir kilas balik ~
****
Rissa berpura-pura untuk melihat Nox pada saat itu. Kemudian, dia menoleh ke arah Nox dan berpura-pura terkejut ketika melihatnya.
“HEI NOX!!! APA YANG SEDANG KAU LAKUKAN DI SINI?” teriak Rissa kepada Nox.
“Hei, kenapa kau berteriak kepadaku? Aku hanya sedang menunggu seorang bocah saja,” sahut Nox dengan kesal.
“APA KAU KIRA AKU AKAN PERCA—“ terputusnya perkataan Rissa.
Di sela pembicaraan Rissa, datanglah seseorang lelaki lain, yaitu Franss Vessalius menghampiri Nox. Franss yang berlari dia terlihat lelah dan berkata, “Nox ma-maaf sudah lama me-menunggu ... aku kira k-kau akan meninggalkanku sendirian.“ Napas Franss terengah-engah ketika sedang berbicara kepada Nox.
“Kau lama sekali! Aku sudah menunggu berjam-jam dan hampir diserang oleh seorang ‘monster',” seringai Nox.
“Monster?” tanya Rissa dan Franss bersamaan.
Franss pun menyadari bahwa ada Rissa dan Evelina di sini, dia tidak sadar karena habis berlari dengan ngos-ngosan.
“Kita bertemu lagi Evelina, Rissa!” sapa Franss.
Evelina membalas sapaan dari Franss, sedangkan Rissa mengacuhkannya. Evelina sedang memakluminya bahwa Rissa sedang kesal kepada Nox, dia pun membujuknya untuk segera pulang ke rumah.
“Rissa ayo kita pulang!” ajak Evelina.
“Benar, daripada aku berbicara pada bocah tengik ini!” kata Rissa sambil menatap Nox.
Kemudian, Evelina berpamitan kepada mereka berdua. “Kami duluan, hati-hati di jalan Nox ... Franss!”
Evelina dan Rissa telah meninggalkan mereka berdua dan Rissa sambil menggandeng lengannya Evelina. Rissa yang terlihat lengket kepada Evelina, membuat Franss berbicara. “Lihatlah! Kelakuan Rissa yang begitu lengket kepada Evelina,” kata Franss yang memberi kode kepada Nox.
Tin...tin...
Pada saat itu, Nox yang mendengar suara klakson dari mobil jemputannya dan ia pun mengajak Franss.
“Ayo ... kita pulang,” ajaknya. Lalu,Mereka berdua masuk ke dalam mobil jemputan Nox dan mobil tersebut pun mulai jalan.
Di sisi lain, Evelina dan Rissa pun sampai di rumah mereka. Rissa akhirnya melepaskan lengan Evelina. Mereka pun berpamitan satu sama lain dan melabaikan tangan.
“Sampai jumpa, Eve!” pamit Rissa.
Di kala itu, Evelina terdiam dan dia tidak membalas perkataan Rissa. Dia pun berkata, “Rissa ... No—“ Tapi Evelina tidak jadi bertanya kepada Rissa.
“No? Apa?” tanya Rissa.
Evelina dia menggelengkan kepalanya dan dia berkata bukan apa-apa. Evelina yang ingin mengatakan sesuatu kepadanya, tapi tidak jadi. Rissa menyadari hal tersebut. Tapi Rissa membalas senyuman saja kepada Evelina. Lalu, Mereka masuk ke rumah masing-masing dan Evelina dia menghela napas yang terlihat lelah.
“Aku pulang ...,” sapa Evelina kepada ibunya.
Ibu Evelina pun membalas sapaan Evelina dan menyuruhnya untuk lekas mandi karena mereka segera makan malam. Setelah selesai mandi, Evelina mengeringkan rambutnya yang basah. Evelina mengeluarkan buku dari tasnya yang dia pinjam tadi di perpustakaan sekolah.
Brakk...
Bunyi dentuman dari buku yang dia letakkan di mejanya, berbunyi sangat keras karena bukunya lumayan berat dan tebal. Evelina pun mengecek buku tersebut dan dia baru menyadarinya bahwa dia meminjam buku yang begitu banyak. Dia tidak menyangka bahwa buku yang dipinjam olehnya cukup banyak. Jadi, tidak heran Rissa berkomentar pada saat tadi pagi.
“Coba kita lihat, buku apa saja yang barusan aku pinjam ...,” gumamnya sambil memilah buku tersebut.
“Ada novel Sherlock Holmes, Her Last Word, Time Return, ... dan terakhir ‘‘You’re My Butterfly’’?”
Ketika Evelina ingin membuka buku itu, tiba-tiba ia dipanggil oleh ibunya untuk makan malam dan dia menutup kembali buku “You’re My Butterfly”. Evelina pun keluar dari kamarnya dan menuju ke ruang makannya, di situ ada ayah dan ibu Evelina yang sedang menunggunya untuk makan bersama. Setelah Evelina sampai di meja makan dia melihat bahwa menu makan malam ini agak mewah dan berkata kepada ibunya.
“Ibu ... apakah ini tidak terlalu berlebihan?” tanya Evelina.
“Tidak, karena hari ini adalah hari pertamamu menjadi siswa SMA. Jadi kita harus merayakannya,” jawab ibu Evelina.
“Tapi ...,” sahut Evelina.
“Benar, kata ibumu. Lagian, kau masuk ke sekolah unggulan yang hanya bisa dimasuki anak orang kaya dan pintar. Menurut ayah itu luar biasa karena ujian masuknya sangat sulit,” kata ayahnya.
“Ini tidak seberapa dengan kamu yang mendapat beasiswa di jadi tidak masalah,” sahut ibunya sambil memandang Evelina.
Ketika mendengarkan perkataan orang tuanya, Evelina tidak dapat menolak tawaran dari ibu dan ayahnya. Dia menerima tawaran tersebut, Evelina yang merasa tidak nyaman terhadap orang tuanya. Karena keuangan keluarganya sederhana, dia pun menerimanya karena sudah dimasakkan sup iga oleh ibunya. Kemudian, gadis itu duduk pada kursinya dan memakan menu makan malam yang dimasak oleh ibunya itu.
Setelah selesai makan, Evelina pun merapikan piring dan membersihkannya dan ayahnya yang sedang membaca koran sambi duduk, ia bertanya kepada anak gadisnya tentang kehidupan hari pertamanya di SMA bagaimana. “Hmm ... lingkungan sekolahnya bagus dan orang-orang terlihat ramah,” jawab Evelina.
Mendengar jawaban dari Evelina, sang ayah terlihat tenang. Tapi di saat itu, Evelina masih melanjutkan perkataannya.
“Oh ya! Di kelasku sepertinya banyak anak-anak dari keluarga terkenal ...,” lanjutnya.
Sang ayah wajahnya terlihat gelisah dan bertanya dengan ragu-ragu, “Apakah mereka seorang gadis?”
“Tentu saja bukan, karena sekolahku adalah SMA umum dan di kelasku ada seseorang model terkenal kalau tidak salah namanya ... Lucas Aland?” jelas Evelina sambil bertanya-tanya.
Sang ayah mendengar perkataan anaknya itu membuat terkejut sampai koran yang dibacanya tersebut terjatuh.
“Sayang! Anak kita berteman dengan lelaki!” bilangnya menatap istrinya.
“Bukankah itu wajar? Anak kita sudah remaja,” jawab istrinya.
Ayahnya pun ingin menasihat kepada anaknya, tapi ketika ingin berbicara kepada Evelina. Dia sudah tidak ada di ruang makan tersebut, bahwa Evelina sudah masuk ke dalam kamarnya sejak tadi.
“Aishhh ... dasar gadis itu,” pekik ayahnya.
Evelina yang sudah berada di kamarnya sedang menghela napas, karena dia tahu pasti omelan ayahnya pasti cukup panjang kalau masalah tentang lelaki. Dia pun duduk di kursi belajarnya dan ingin membaca buku yang tidak sempat dibacanya. Dia membuka satu halaman pada novel “You’re My Butterfly” merasakan familiar saat melihat dan memegangnya.
“Aku rasa pernah membaca buku ini di suatu tempat, tapi aku tidak terlalu ingat,” pikirnya.
Setelah membaca buku tersebut berjam-jam yang masih setengah cerita dari buku "You're My Butterfly", dia melihat jam dindingnya yang menunjukkan bahwa sudah hampir larut malam. Dia pun menuju tempat tidur dan gadis itu sudah mematikan lampunya. Pada saat itu, Evelina sudah membaringkan dirinya pada tempat tidurnya dan dia sambil berpikir tentang sesuatu.
“Kupu-kupu itu membuat kehidupan orang terdekatnya menjadi lebih berwarn,a tapi suatu saat dia tiba-tiba saja menghilang di kehidupan orang lain,” jelasnya.
“Itu menyedihkan, pasti orang terdekatnya merasa sedih. Ketika seseorang yang berharga tiba-tiba menghilang, itu sangat menyakitkan. Sudahlah! Lebih baik aku tidur saja."
Kemudian, gadis itu mulai menutup kedua matanya setelah banyak berpikir tentang novel yang dibaca olehnya tadi. Gadis itu akhirnya tertidur dan terlarut dalam tidurnya.
Di kala itu, Evelina berada di pepohonan seperti sebuah taman. Dia melihat anak laki-laki dan anak perempuan perempuan sambil bercanda ria. Tiba-tiba anak kecil itu menghilang dan langit begitu gelap serta turun hujan. Kemudian, Evelina melihat ada lelaki memakai seragam SMP, lelaki itu berdiri di tengah hujan yang begitu deras. Dia menyentuh pohon tersebut sambil menangis dia berkata, “Aku merindukanmu, kau di mana?”
Saat itu, Evelina berjalan dengan perlahan bahwa ia mendekati lelaki itu dan memegang bahunya. Lelaki itu menoleh ke arahnya dan berkata kepada Evelina sambil tersenyum tipis.
“Aku merindukanmu, Eve ...,”
Evelina terkejut saat melihat lelaki itu mengetahui namanya dan dia pun terbangun. Dia menyadari bahwa yang dilihatnya tadi itu hanya mimpi saja dan berkata, “Siapa lelaki itu?”
BERSAMBUNG
Author note:
Lagi-lagi Evelina memimpikan tempat yang sama? Apa maksud dari semua itu?