"Woiii ... Molly!" Panggil salah satu teman kampusnya yang memakai jaket almamater berwarna marun , ia berlari mendekat ke arah Molly.
"Hm. Apa?" tanya Molly sambil tersenyum. Sepasang sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat postur tubuhnya tampak jenjang. Menjadikan ia tinggi sejajar dengan pria yang memanggilnya. Delon. Anak jurusan Manajemen Pemasaran. Ketua senat kampus. Ganteng. Tajir. Most wanted kampus. Semua masuk daftar centang Molly. Ia terkekeh dalam hati.
"Mol, bisa-ikut-gabung-di acara kampus-awal-bulan-depan... nggak?" Delon ngos-ngosan. Molly dengan cepat mengangguk. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada demi melancarkan list sebelum ia lulus kuliah.
"Sip. Ternyata nggak perlu bujuk lo, kirain, gue harus susah payah. Kalo gitu, bisa ikut ke ruang panitia? Ruang senat sebenernya," ajak Delon sembari memegang tengkuk karena salah tingkah. Ia juga menahan senyumnya.
"Iya," jawab Molly singkat.
Mereka berjalan beriringan sampai ke ruang Senat. Beberapa mata menatap Delon dan Molly. Mulai dari tatapan iri, ingin menyelengkat kaki Molly, mencibir, semua tak ada yang menyenangkan. Tapi Molly justru tertawa jahat dalam hati. Ini jalan ia untuk menarik perhatian penghuni kampus, bahkan, mengubah penampilannya pun, ia akan lakukan.
***
Molly menatap Delon menjelaskan rencana kegiatan. Ia diam memperhatikan, karena, ia juga tak kenal dengan manusia-manusia lain yang ada di ruangan itu selain, Delon.
"Untuk bagian panitia sumber dana atau donatur, ada tiga orang, kemarin sudah dua 'kan, nah ... satu lagi, Molly, dari jurusan ilmu komunikasi," ucap Delon. Molly tersenyum sambil menyapa panitia lainnya. Semuanya tersenyum kecuali satu perempuan yang menatap seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Penanggung jawab dan pengawas kegiatan ini adalah--"
Pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruang panitia dengan wajah datar.
GLEK
Molly menelan ludah susah payah.
"Pak Melki," lanjut Delon dengan nada pelan dan takut. Melki tak menunjukkan keramahan, walau terbilang tampan, namun, aura pencabut rasa bahagia seketika menciutkan sejumlah mahasiswa mahasiswi yang ada di sana.
Kedua matanya menelisik satu persatu. Hingga netra matanya berhenti kepada Molly. Hanya sejenak, sebelum ia beralih kembali ke Delon dan berbisik sesuatu.
'Mati gue. Kenapa dua-duanya ada di sini, haduhhh ... mereka kandidat to do list gue.' ucap Molly dalam hati.
Molly berusaha tenang dan santai. Sorot mata Melki langsung kembali menatap ke Molly yang mencoba santai lalu tersenyum manis menatap Melki. Tapi yang diberi senyuman hanya menatap datar dan membuang arah pandangan.
'Sial. Awas lo ya.' ucap Molly dalam hati lagi.
Pembahasan diambil alih Melki, sejak saat itu, keinginan Molly untuk menjadi bagian dari acara perlahan perlahan sirna. Jujur, diperhatikan dengan tatapan mematikan itu membuat ia seakan menyerah sebelum berperang. Nasibnya bisa diujung tandung walaupun niatnya masih kuat untuk meluluhkan hati Melki.
Rapat selesai setelah Melki memberikan sedikit arahan. Semua mata menyimak dengan apa yang dibicarakan dosen itu. Namun, tidak dengan Molly yang terus mengulum senyum sambil menatap. Ia mencoba tebar pesona.
"Molly. Paham apa yang saya jelasin." tanya Melki, seketika membuat Molly serius dan mengangguk.
"Saya perlu bicara sama tim donatur setelah rapat ini selesai, yang lain boleh meninggalkan ruangan ini," ucap Delon. Semua mengangguk. Rapat selesai. Di ruangan itu tersisa Delon, Melki, Molly dan dua orang panitia lainnya.
"Lo tahu, kan, Mol, ini acara sosial, kampus kita mau berbagi rejeki dengan menyalurkan bantuan dari para donatur, jadi sebagai bagian dari tim donatur, lo harus bisa cari orang-orang yang ikhlas buat menyumbangkan dananya." Delon menatap Molly sambil menjelaskan.
"Ada batasan harus berapa dana yang terkumpul?" tanya Molly sambil membalas tatapan Delon. Pria itu tampak tersenyum malu, karena Molly menatapnya.
"Target kita sebenarnya lima puluh juta, bukan acara besar banget juga, kok, cuma buat intern kampus kita aja, dan ada acara live musik dari anak bengkel seni, UKM musik."
Molly manggut-manggut. Ia melirik ke Melki yang menatap tajam ke arahnya tanpa bergeming. ia balas menatap tak kalah tajamnya. Tak lama rapat selesai dengan Molly yang mendadak kesal dengan tatapan Melki.
"Udah kan, gue balik ya," ucap Molly seraya beranjak. "Kita mulai kerja cari donatur secepatnya," lanjut Molly menatap ke kedua teman satu timnya. Molly berjalan ke arah pintu. Langkahnya tertahan saat seseorang memanggilnya. Ia menoleh.
"Balik sama gue, Mol," ucap Devon sambil tersenyum.
Melki berjalan angkuh melewatinya. Molly juga cuek.
'Belum saatnya.' Batin Molly.
"Boleh, kalo nggak repotin," jawabnya pura-pura tak enak. Padahal ini kesempatannya, sebagai jalan pembuka menjadi Most Wanted Mahasiswi di kampus. Keteranan Delon menjadi keuntungan untuknya.
***
Mobil sedan merah itu melaju di jalanan Ibu kota, mereka akan mampir ke salah satu mal untuk makan sore bersama. Makan sore? Jelas, karena jam makan siang sudah lewat saat rapat tadi.
Molly memesan bakmi ayam goreng, sedangkan Delon bakmi kuah. Mereka makan dengan disuguhi pemandangan jalan Ibu kota yang terpampang jelas dari dalam mal tersebut. Molly menatap ke arah luar sambil bertopang dagu.
"Lo bener ambil jurusan komunikasi massa?" tanya Delon yang baru tiba setelah mengambil pesanan, duduk dengan nampan di tangannya yang kemudian ia letakkan di atas meja. Molly mengambil piring berisi makanannya lalu membuka plastik sumpit. Sambil manggut-manggut menjawab pertanyaan Delon tanpa menatapnya.
"Molly, lihat gue kalo gue lagi ngomong," tangan Delon mengangkat dagu Molly. Mata mereka saling menatap. Molly diam. Ia tak suka disentuh-sentuh pria tanpa izin darinya, lagi pula, ini pertama kalinya mereka jalan bersama. Coret Delon. Fix. Molly hilang tujuannya kepada Devon. Semudah itu? Mudah, untuk Molly. Ia tak suka. Nilai tinggi yang ia berikan untuk Delon beberapa jam lalu, terjun bebas ke nilai nol. Hanya karena hal itu. Molly mengetik sesuatu di layar ponselnya, lalu kembali fokus makan tanpa banyak bersuara lagi.
Mereka makan dalam diam. Delon menatap bingung sekaligus semakin penasaran dengan gadis di hadapannya itu. Ponsel Molly berbunyi. Ia membalas pesan singkat dan menatap sekeliling. Senyum terbit di wajahnya saat seseorang berjalan mendekat ke arahnya dengan gaya layaknya eksekutif muda. Sudah tebak itu siapa? Tentu, kakak ipar tersayangnya.
Banyu berdiri di samping Molly sambil tersenyum tapi menatap dingin ke Delon yang balas menatap tak kalah tajamnya.
"Bawa nggak, Kak," tanya Molly sambil tersenyum melirik ke Banyu.
"As your wish. sayang," jawab Banyu.
DEG
'Sayang?' Devon berucap dalam hati. Molly beranjak dan mengadahkan tangan ke arah Banyu. Sebuah amplop putih sudah pindah dari tangan Banyu ke Molly.
"Nih. Dua puluh lima juta. Lo tinggal cairin di bank itu cek. Gue cabut jadi panitia. Dan lo Delon, jangan pernah pegang-pegang gue. Nggak ada yang bisa pegang-pegang gue tanpa izin kecuali ..., KAKAK GUE INI. paham lo! Jaga tuh, TANGAN!"
Molly berbalik badan dan segera menggandeng Banyu yang terkekeh geli. Mereka berjalan semakin menjauh. Tetapi di ujung sana, sudah ada Kimmy yang menggeleng-geleng heran sambil berkacak pinggang.
"Terusss ..., Robinhood ceritanya, iya Mol?" Kimmy menatap Molly sambil melotot.
"Kak,itu buat acara kampus. Nanti di donasiin lagi kok, asli, deh," Molly manyun-manyun.
"Iya Mol, tapi caranya nggak gini. Kesepakatan kita bukannya jangan sampai orang lain tahu," sambung Kimmy.
"Kepepet masalahnya Kak, gara-gara tuh cowok pegang-pegang dagu gue sembarangan. Hih!" Molly kesal sendiri.
"Haduh ... ampun deh, adek gue ini. Ayo ke supermarket di bawah, gue mau belanja bulanan."
Banyu terkekeh sambil mengusap kepala istrinya. Sedangkan anak-anak mereka sudah pindah tangan, di gandeng Molly.
"Kita penuhin keranjang belanjaan sama cemilan yuk," bisik Molly tetapi masih terdengar Kimmy.
"Nggak! Gue capek bolak balik ke dokter gigi. Awas ya, Mol." Ancam kakaknya. Molly menatap Kimmy sambil senyum-senyum dan mata berkedip-kedip cepat.
Setelah satu minggu Molly berusaha tampil lebih elegan juga dewasa saat ke kampus. Ia pun merasa tidak nyaman. Anin bahkan sampai tertawa geli melihat Molly yang kembali tampil apa adanya. Cenderung cuek dan bergaya boyish. Dengan gaya pakaian yang lebih ke arah casual, Molly justru tampak natural dan cantik.
Ia berjalan menuju ke kantin kampus setelah turun dari mobil Banyu. Seperti pagi-pagi lainnya saja. Banyu sebenarnya sudah ingin membelikan Molly kendaraan, supaya bisa sendiri jika ingin kemana-mana, tapi Molly menolak karena ia tak suka jika banyak orang yang ingin berteman dengannya karena harta atau apa yang ia punya dan kenakan. Pakai supir pun, Molly tak mau. Jadilah Banyu setiap pagi mengantar adik iparnya itu ke kampus.
"Capek pake sepatu hak tinggi, Mol?" Anin terkekeh. Di sebelahnya sudah ada pacar Anin yang tampak cekikikan juga.
"Iya," jawab Molly singkat sambil meminum kopi yang sempat ia beli di kedai kopi dekat kampus bersama Banyu.
"Diantar Kak Banyu lagi?" tanya Kyle yang berperawakan blasteran Sunda dan Belanda itu. Molly mengangguk.
"Repotin Kakak ipar lo banget sumpah." rengut Anin.
"Mol, gue comblangin sama sepupu gue mau nggak? Biar ada yang antar jemput lo," ucap Kyle serius. Molly melirik lalu memutar kedua bola matanya malas seraya menggeleng.
"Gue punya inceran lain," sahut Molly yang mendapat reaksi terkejut dari kedua temannya itu.
"Siapa?" tanya Anin bingung. Molly diam.
"Lihat aja nanti." Lalu tatapan Molly mengarah pada segerombolan orang yang berpakaian rapi. Kemeja lengan pendek warna putih dengan dua lidah berkancing pundak di kanan kiri, dua kantung berkancing kanan dan kiri juga, serta celana warna biru dongker, berjalan bergerombol.
"Siapa mereka?" tanya Molly bingung.
"Oh ... Anak kampus lain, kampus kita ngadain seminar manajemen, anak ekonomi yang bikin,tentang pemasaran global apalah namanya, beberapa kampus diundang, termasuk mereka. Anak jurusan manajemen transportasi. Kalau yang pakai seragam kayak gitu si, yang gue tau mereka udah magang diperusahaan maskapai udara." Kyle menjelaskan dengan gamblang. Molly ber-OH-ria. Ia lalu beranjak. Merapikan pakaiannya hendak menuju ke dalam kelas, sedangkan Anin bilang ia akan menyusul.
"Molly!" suara seseorang memanggilnya. Ia menoleh. Napasnya terhenti seketika. Melki sudah berdiri di belakangnya. Molly berbalik badan perlahan, langsung memasang senyum manis.
"Pagi, Pak," sapa Molly santai.
"Pagi!" jawab Melki ketus sambil melirik sekilas ke Anin dan Kyle yang diam mematung. Aura dingin langsung terasa. Seperti jelmaan Dementor dosen bernama Melki ini.
"Udah baca email dari kampus," tanya Melki dengan tatapan menusuk. Molly menggeleng. Di tangan kanannya, Melki memegang satu buku tebal, dan tangan lainnya ia masukan ke saku celana bahan yang ia kenakan. Kemeja motif garis-garis horizontal berwarna abu-abu tipis yang ia masukan ke celana, juga, kancing pergelangan tangan yang dipasang, membuat sosok itu tampak rapi sekali. Bahkan, membuat tubuh atletisnya begitu tercetak sempurna. Pembawaannya yang kaku, membuatnya seolah tak tersentuh.
"Baca! Saya tunggu di ruang dosen sepuluh menit lagi!" lalu Melki berjalan menuju ke area gedung dosen fakultas ilmu komunikasi tanpa senyum.
Molly menatap kedua temannya.
"Dia,target gue Nin, Kyle," ucap Molly pelan.
"Gila lo! Dementor mau lo gebet!" mulut Anin dibekap Kyle dengan tangannya.
"Menantang ...." sahut Molly berbisik. Kyle menggelengkan kepala, Anin mengerjapkan matanya. Molly membuka email di ponselnya. Kedua matanya terbelalak seketika.
"Hah! Pak Melki, d-dosen ... p-pembimbing skripsi gue?" Molly tampak lemas. Ia terduduk di kursi. Menghentak-hentakkan kaki laku mengusap wajahnya kasar. Ia menoleh ke kedua temannya yang justru tertawa.
"Mampos ... lo gebet itu Dementor. Mamam deh lo Mol," Anin tertawa.
"Gue ke sana ya, Bye," Molly beranjak, kemudian setengah berlari menuju ke arah gedung dosen, pikirannya sudah tak karuan.
Ia memikirkan rencana apa yang harus ia jalankan demi kelancaran tujuannya menggebet Melki. Dosen berusia dua puluh tujuh tahun dengan predikat sadis dari para mahasiswanya.
***
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi Pak," sapa Molly dengan suara pelan sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuk!" ucap Melki. Kedua matanya masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Molly langsung duduk di kursi di hadapan meja kerja Melki.
"Siapa yang suruh kamu duduk! Berdiri!" ucap Melki ketus. Molly berdiri seketika.
"Ish," Molly menggerutu. Melki bergeming, acuh dan masih berekspresi datar.
Suara mesin pencetak terdengar, lalu muncul selembar kertas. Melki memberikan itu Molly yang masih berdiri.
"Duduk!" pinta Melki sambil menatap ke Molly yang mencoba tersenyum. Sekedar memberikan kesan pertama yang baik untuk target gebetannya.
"Jangan senyum-senyum. Saya nggak suka!" ketus Melki. Molly tak gentar.
"Senyum itu sebagian dari ibadah lho, Pak, saya seneng tersenyum," timpal Molly.
"Suka senyum apa tebar pesona!" tatap Melki dengan jemari saling menggenggam dan ia letakkan di atas meja.
"Suka senyum lah, Pak," jawab Molly masih berusaha santai. Akan susah menggebet Melki kalau ia juga ketus.
"Mahasiswi seperti kamu ini nih, yang suka senyum-senyum tebar pesona ke dosen laki-laki biar dilancarkan skripsinya. Modus. Tapi saya nggak akan terpancing. Saya nggak suka mahasiswi nggak punya otak!"
Molly menatap tajam ke arah Melky. Ia terus berusaha tenang menghadapi ke lemesan mulut pria di hadapannya. Ia mencoba acuh atas ucapan Melki.
"Ini harus saya isi, Pak? Kapan dikumpulinnya? Harus banget pakai materai?" Molly berbicara dengan kedua mata membaca isi kertas yang diberikan Melki. "Skripsi saya kan masih masuk disemester delapan,sekarang masih masuk ke seminar dulu, 'kan?"
"Yang dosen di sini siapa. Yang akan jadi pembimbing kamu siapa. Yang nanti dampingin kamu sidang siapa!" Melki tak mau kalah bicara.
"Pak Melki, tapi ... " ucap Molly dengan tenang.
"Isi. Besok kasih ke saya lagi!" ucap Melki sambil kembali menatap layar laptopnya.
"Sekarang boleh keluar!" lanjut Melki lagi tanpa melihat ke arah Molly. Molly beranjak. Ia membuka pintu ruangan Melki. Langkah kakinya mendadak berhenti. Ia menoleh ke dosennya itu.
"Pak Melki," panggil Molly.
"Hm," jawab Melki tanpa menatap ke Molly.
"Kalau dampingin saya di pelaminan mau Pak? Saya siap kok," lanjut Molly sambil berjalan pelan keluar ruangan.
"Saya sudah tunangan. Tunangan saya lebih cantik dari kamu. Maaf. Cari target kamu yang lain!" jawab Melki masih saja ketus.
Molly berdiri di depan pintu yang sudah ia buka, kembali menatap Melki.
"Sebelum janur kuning melengkung. Boleh dong, saya gebet Pak Melki? Mana coba tunangannya, saya mau tahu. Kenal deh, Bye Pak," ucap Molly begitu berani. Lalu pintu tertutup.
Ia berjalan terburu-buru karena kesal. Bisa-bisa gagal rencananya.
"Sialan, dosen resek. Dementor. Mulut cabe. Mulut jahanam!" Molly kesal. Ia berjalan tanpa melihat kanan dan kiri. Hingga ia menabrak seseorang.
"Sorry ... sorry," ucap Molly lalu bergeser ke sisi kiri hendak berjalan menuju ke kelasnya.
"Molly?" suara seseorang memanggilnya. Molly menghentikan langkah. Ia berbalik dan melihat sosok tersebut, mencoba mengingat siapa pemilik suara itu. Seorang pria dengan seragam putih dan celana biru dongker itu menatapnya sambil tersenyum.
"KAMA?" sapa Molly begitu terjekut. Pria itu tersenyum dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Menganggukkan kepala.
Pria itu masih terus saja tersenyum, seolah berniat melakukan hal tersebut untuk di lihat Molly. "Hai Mol, apa kabar?" tanyanya.