Semasa hidupnya, gadis bernama Molly ini selalu diatur oleh kakak perempuannya yang dipercayakan sebagai wali tunggal yang ia punya. Ke mana kedua orang tuanya? Mereka ada, tapi sibuk, urusan duniawi lebih mereka pikirkan dari pada hidup dan hati kedua anaknya. Walau semua fasilitas lengkap dan hampir tak kekurangan. Kedua orang tua mereka tidak memikirkan hati dan perasaan anak-anaknya.
Kedua kakak beradik ini tak ambil pusing, mereka saling melengkapi, walau, tetap sang kakak, Kimmy, menjadi pengatur segalanya. Apalagi sekarang Kimmy sudah menjadi istri seorang pengusaha muda dan memiliki dua anak. Luar biasa bawel.
"Kalau Mama sama Papa nggak bikin kita bahagia,kita cari kebahagiaan sendiri Molly, dengan tetap menghormati mereka yang menghadirkan kita ke dunia ini." Kalimat itu selalu menggema. Ceramah akan ada disetiap waktu saat mereka bertemu, baik di dapur rumah saat Molly sarapan dan bersiap berangkat ke kampus atau sekedar saat menonton acara TV bersama.
"Dan gue nggak akan biarkan anak-anak gue ataupun lo, merasakan hal yang sama kayak kita." Centong sayur mengarah ke wajah Molly yang menatap takut karena benda itu diangkat dari dalam panci berisi kuah sup buntut yang mengebul.
"Santai nyonya ..., gue nggak mau muka glowing gue lecet melepuh kena centong yang lo pegang, ya," ucap Molly sambil memundurkan badan. Kimmy terkekeh. Ia lalu melanjutkan memasak.
Jadi istri pengusaha tak menghambat Kimmy menjadi Ibu rumah tangga pada umumnya. Urusan masak dan memenuhi perut para warga di rumah mereka yang luas, itu tanggung jawab dia. Urusan lain biar para bedinde alias pekerja rumah tangga yang berjumlah tiga orang, mengerjakan tugas dengan jobdesk masing-masing.
"Kak, gue lagi siapin skripsi, baru judul sama draft, sih, tapi gue jenuh, nih," keluh Molly sambil mengaduk-ngaduk teh melati yang ia seduh tadi.
"Jenuh kenapa?" tanya Kimmy sambil mengiris beberapa jeruk nipis sebagai pelengkap.
"Pengin sesuatu yang beda. Gue punya daftar yang harus gue lakuin sebelum gue lulus kuliah."
"Berapa banyak yang lo pengin? Kalo nggak bikin duit gue atau duit Kakak ipar lo tiris, jalanin, lah!" sahut Kimmy sambil sesekali menoleh ke Molly.
"Yakin?"
"Iya. Emang apa, sih, daftarnya? Coba sebutin ke gue," tantang Kimmy.
"Okeh. Bentar, gue tarik napas dulu." Molly melirik ke Kimmy yang masih memotong-motong bahan pelengkap lainnya untuk masakannya.
"Move On dari gebetan tukang PHP, gebet dosen, nggak ketemu Mantan, gabung di organisasi kampus, jadi Most wanted mahasiswi sekampus, dan--" ucapan Molly terhenti karena sanggahan Kimmy.
Dengan pisau di tangan kanannya ia berbicara dengan Molly. "Gabung organinasi apaan lo, udah semester tujuh? Telat. Ganti yang lain atau coret." Kimmy kembali menatap talenan dihadapannya. Molly manyun-manyun sebal.
"Yaudah, diganti, jadi ... nggak diatur-atur Kak Kimmy. Gimana? Keren 'kan?"
Keheningan terjadi. Hanya suara mendidih air kuah sup yang terdengar. Molly melirik takut ke Kimmy.
"Gitu, Mol ...," ucap Kimmy pelan dan dalam sambil berbalik badan ia menatap tajam ke Molly. Gadis itu loncat dari kursi dan berlari menuju ke kakak iparnya yang sudah bersiap dengan pakaian kantor.
"Molly!" teriak Kimmy sambil berjalan mengejar Molly yang bersembunyi di balik tubuh kakak iparnya.
"Heh ... heh ... heh! Pisau itu, turunin sayang," protes suami Kimmy.
"Itu, adek ipar kamu kurang aseemmm, dia bikin list isinya gak mau diatur aku lagi. Apa itu, hah!" Kimmy melotot. Molly mengintip dari balik tubuh kakak iparnya.
"So-rry, Kak," ucap Molly terbata.
"Lo pikir gue mau atur hidup lo terus. Gue bakal berhenti kalo lo nikah Molly! Sama cowok yang baik dan tahu pentingnya arti keluarga!" Kimmy mencak-mencak.
"Iya ... iya, sorry Kak," ucap Molly lagi.
"Udah ya, Mol, nurut Kakak, dan kamu sayang..., istriku cantik, istri budiman, istri baik, istri penyayang, taruh pisaunya ya cantik, aduhhh ..., aku serem lho lihatnya," suami Kimmy itu berjalan menghampiri dan merangkul bahu istrinya ke arah dapur. Molly merasa lega. Kakak iparnya itu selalu bisa menenangkan Kimmy jika sedang bertengkar.
"Awas ya Molly," omel Kimmy. Molly manggut-manggut.
Bahkan untuk jam malam pun, Kimmy sangat disiplin. Jam sembilan malam jika Molly belum pulang, Kimmy akan terus meneror dengan telfon bertubi-tubi. Namun Molly sadar, jika tak ada kakaknya. Ia tak akan bisa menjadi mandiri seperti sekarang dan Kimmy, selalu menjadi tameng untuknya.
***
"Mol," panggil kakak iparnya saat mereka sampai di Kampus. Ia menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan ketangan Molly.
"Buat pegangan, nanti bulanannya Kakak transfer ke rekening," ucap kakak iparnya itu sambil kembali memasukan dompet ke saku celananya.
"Kebanyakan Kak, gue bisa-bisa jadi juragan kantin kampus." Molly mengembalikan beberapa lembar dan hanya mengambil tiga lembar uang berwarna merah itu.
"Pegang aja. Takut lo mau sedekahin," sambung Banyu yang berhasil membuat Molly terkekeh.
"Kalo itu, sih, gampang. Gue bikin pakai proposal lengkap ke elo, udah ah, gue turun. Nanti gue dibilang pagi-pagi pulang ngelonte langsung ngampus sama orang-orang di sini, bye Kak/" Molly mencium tangan kakak iparnya itu dan turun dari mobil. Kakak iparnya hanya geleng-geleng kepala lalu mengarahkan mobil ke kantor. Kakak iparnya sangat baik. Bahkan keluarga besarnya menerima Kimmy dan dirinya dengan tangan terbuka. Tak melihat kekurangan keluarga mereka yang tak harmonis dengan kedua orang tuanya.
Molly berjalan menuju ke dalam kampus,ia sebenarnya tak se-terkenal mahasiswi yang memang super fantastis jika di kampus,tapi sekarang itu menjadi tujuannya sebelum lulus kuliah. Sambil berjalan santai, ia tersenyum ke beberapa orang yang ia kenal. Menyapanya dengan aura berbeda. Kelakuannya itu membuat Anin, teman sejawatnya bingung. Ia menghampiri.
"Kenapa lo?" celetuk Anin sambil memegang kening Molly.
"Nanti gue ceritain. Udah cantik belum gue hari ini?" tanya Molly sambil berdiri di hadapan Anin. Anin mengangguk.
"Skin carenya ngefek di elo, tapi di gue enggak, nih." Anin menepuk-nepuk wajahnya.
"Tapi lo udah hak milik most wanted kampus, nah gue?" ucap Molly sambil melirik sebal.
Anin terbahak-bahak. "Makanya kalo gue comblangin mau Mol, sok jual mahal sih."
Molly duduk di kursi sebelah Anin di kelas mereka. "Gue bisa cari sendiri. Santai ..., nanti juga dateng tuh cowok," ucap Molly sambil menguncir rambut panjangnya yang ia warnai coklat mocca.
Anin terkekeh. Ia menoleh ke Molly. "Mol, tetangga gue ada yang butuh bantuan lo nih, bisa nggak," ucap Anin.
"Yang mana?"
"Yang kemarin gue ceritain. Suaminya baru meninggal, anaknya dua masih kecil-kecil, istrinya bingung mau kerja apa, nggak bisa ninggalin anaknya," lanjut Anin.
"Oke. Balik kuliah kita ke sana. Mumpung big boss lagi isi ATM gue." Molly tersenyum lebar.
"Sip. Makasih Mol, emang robinhood sejati." Anin menepuk-nepuk bahu Molly.
"Memanusiakan manusia, Nin, nanti kita cari jalan keluar buat mereka juga. Tetap, jadi rahasia kita berdua ajah," bisik Molly.
"Tentu Mol," jawab Anin sambil berbisik.
Pintu kelas terbuka. Seseorang dengan pakaian rapi juga tampak tercetak jelas otot-otot tubuhnya, terlihat berdiri di hadapan para mahasiswa mahasiswi dengan tatapan dingin yang justru membuat Molly menatapnya lekat.
'Target ditemukan. Kunci.' ucap Molly dalam hati.
Ia tersenyum menatap pria di hadapannya itu. Namun, pria tersebut tak membalas senyuman walau sedikit. Sedangkan Molly, terus menatapnya tanpa beralih. Ia ingin tahu siapa yang akan kalah dipermainan tatapan ini. Dan, Molly yang menang, ia memasang wajah angkuh, kemudian, membuat pria tersebut kembali menatap lekat dan begitu, mematikan.
"Woiii ... Molly!" Panggil salah satu teman kampusnya yang memakai jaket almamater berwarna marun , ia berlari mendekat ke arah Molly.
"Hm. Apa?" tanya Molly sambil tersenyum. Sepasang sepatu hak tinggi yang ia kenakan membuat postur tubuhnya tampak jenjang. Menjadikan ia tinggi sejajar dengan pria yang memanggilnya. Delon. Anak jurusan Manajemen Pemasaran. Ketua senat kampus. Ganteng. Tajir. Most wanted kampus. Semua masuk daftar centang Molly. Ia terkekeh dalam hati.
"Mol, bisa-ikut-gabung-di acara kampus-awal-bulan-depan... nggak?" Delon ngos-ngosan. Molly dengan cepat mengangguk. Tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada demi melancarkan list sebelum ia lulus kuliah.
"Sip. Ternyata nggak perlu bujuk lo, kirain, gue harus susah payah. Kalo gitu, bisa ikut ke ruang panitia? Ruang senat sebenernya," ajak Delon sembari memegang tengkuk karena salah tingkah. Ia juga menahan senyumnya.
"Iya," jawab Molly singkat.
Mereka berjalan beriringan sampai ke ruang Senat. Beberapa mata menatap Delon dan Molly. Mulai dari tatapan iri, ingin menyelengkat kaki Molly, mencibir, semua tak ada yang menyenangkan. Tapi Molly justru tertawa jahat dalam hati. Ini jalan ia untuk menarik perhatian penghuni kampus, bahkan, mengubah penampilannya pun, ia akan lakukan.
***
Molly menatap Delon menjelaskan rencana kegiatan. Ia diam memperhatikan, karena, ia juga tak kenal dengan manusia-manusia lain yang ada di ruangan itu selain, Delon.
"Untuk bagian panitia sumber dana atau donatur, ada tiga orang, kemarin sudah dua 'kan, nah ... satu lagi, Molly, dari jurusan ilmu komunikasi," ucap Delon. Molly tersenyum sambil menyapa panitia lainnya. Semuanya tersenyum kecuali satu perempuan yang menatap seakan ingin memakannya hidup-hidup.
"Penanggung jawab dan pengawas kegiatan ini adalah--"
Pintu terbuka. Seseorang masuk ke dalam ruang panitia dengan wajah datar.
GLEK
Molly menelan ludah susah payah.
"Pak Melki," lanjut Delon dengan nada pelan dan takut. Melki tak menunjukkan keramahan, walau terbilang tampan, namun, aura pencabut rasa bahagia seketika menciutkan sejumlah mahasiswa mahasiswi yang ada di sana.
Kedua matanya menelisik satu persatu. Hingga netra matanya berhenti kepada Molly. Hanya sejenak, sebelum ia beralih kembali ke Delon dan berbisik sesuatu.
'Mati gue. Kenapa dua-duanya ada di sini, haduhhh ... mereka kandidat to do list gue.' ucap Molly dalam hati.
Molly berusaha tenang dan santai. Sorot mata Melki langsung kembali menatap ke Molly yang mencoba santai lalu tersenyum manis menatap Melki. Tapi yang diberi senyuman hanya menatap datar dan membuang arah pandangan.
'Sial. Awas lo ya.' ucap Molly dalam hati lagi.
Pembahasan diambil alih Melki, sejak saat itu, keinginan Molly untuk menjadi bagian dari acara perlahan perlahan sirna. Jujur, diperhatikan dengan tatapan mematikan itu membuat ia seakan menyerah sebelum berperang. Nasibnya bisa diujung tandung walaupun niatnya masih kuat untuk meluluhkan hati Melki.
Rapat selesai setelah Melki memberikan sedikit arahan. Semua mata menyimak dengan apa yang dibicarakan dosen itu. Namun, tidak dengan Molly yang terus mengulum senyum sambil menatap. Ia mencoba tebar pesona.
"Molly. Paham apa yang saya jelasin." tanya Melki, seketika membuat Molly serius dan mengangguk.
"Saya perlu bicara sama tim donatur setelah rapat ini selesai, yang lain boleh meninggalkan ruangan ini," ucap Delon. Semua mengangguk. Rapat selesai. Di ruangan itu tersisa Delon, Melki, Molly dan dua orang panitia lainnya.
"Lo tahu, kan, Mol, ini acara sosial, kampus kita mau berbagi rejeki dengan menyalurkan bantuan dari para donatur, jadi sebagai bagian dari tim donatur, lo harus bisa cari orang-orang yang ikhlas buat menyumbangkan dananya." Delon menatap Molly sambil menjelaskan.
"Ada batasan harus berapa dana yang terkumpul?" tanya Molly sambil membalas tatapan Delon. Pria itu tampak tersenyum malu, karena Molly menatapnya.
"Target kita sebenarnya lima puluh juta, bukan acara besar banget juga, kok, cuma buat intern kampus kita aja, dan ada acara live musik dari anak bengkel seni, UKM musik."
Molly manggut-manggut. Ia melirik ke Melki yang menatap tajam ke arahnya tanpa bergeming. ia balas menatap tak kalah tajamnya. Tak lama rapat selesai dengan Molly yang mendadak kesal dengan tatapan Melki.
"Udah kan, gue balik ya," ucap Molly seraya beranjak. "Kita mulai kerja cari donatur secepatnya," lanjut Molly menatap ke kedua teman satu timnya. Molly berjalan ke arah pintu. Langkahnya tertahan saat seseorang memanggilnya. Ia menoleh.
"Balik sama gue, Mol," ucap Devon sambil tersenyum.
Melki berjalan angkuh melewatinya. Molly juga cuek.
'Belum saatnya.' Batin Molly.
"Boleh, kalo nggak repotin," jawabnya pura-pura tak enak. Padahal ini kesempatannya, sebagai jalan pembuka menjadi Most Wanted Mahasiswi di kampus. Keteranan Delon menjadi keuntungan untuknya.
***
Mobil sedan merah itu melaju di jalanan Ibu kota, mereka akan mampir ke salah satu mal untuk makan sore bersama. Makan sore? Jelas, karena jam makan siang sudah lewat saat rapat tadi.
Molly memesan bakmi ayam goreng, sedangkan Delon bakmi kuah. Mereka makan dengan disuguhi pemandangan jalan Ibu kota yang terpampang jelas dari dalam mal tersebut. Molly menatap ke arah luar sambil bertopang dagu.
"Lo bener ambil jurusan komunikasi massa?" tanya Delon yang baru tiba setelah mengambil pesanan, duduk dengan nampan di tangannya yang kemudian ia letakkan di atas meja. Molly mengambil piring berisi makanannya lalu membuka plastik sumpit. Sambil manggut-manggut menjawab pertanyaan Delon tanpa menatapnya.
"Molly, lihat gue kalo gue lagi ngomong," tangan Delon mengangkat dagu Molly. Mata mereka saling menatap. Molly diam. Ia tak suka disentuh-sentuh pria tanpa izin darinya, lagi pula, ini pertama kalinya mereka jalan bersama. Coret Delon. Fix. Molly hilang tujuannya kepada Devon. Semudah itu? Mudah, untuk Molly. Ia tak suka. Nilai tinggi yang ia berikan untuk Delon beberapa jam lalu, terjun bebas ke nilai nol. Hanya karena hal itu. Molly mengetik sesuatu di layar ponselnya, lalu kembali fokus makan tanpa banyak bersuara lagi.
Mereka makan dalam diam. Delon menatap bingung sekaligus semakin penasaran dengan gadis di hadapannya itu. Ponsel Molly berbunyi. Ia membalas pesan singkat dan menatap sekeliling. Senyum terbit di wajahnya saat seseorang berjalan mendekat ke arahnya dengan gaya layaknya eksekutif muda. Sudah tebak itu siapa? Tentu, kakak ipar tersayangnya.
Banyu berdiri di samping Molly sambil tersenyum tapi menatap dingin ke Delon yang balas menatap tak kalah tajamnya.
"Bawa nggak, Kak," tanya Molly sambil tersenyum melirik ke Banyu.
"As your wish. sayang," jawab Banyu.
DEG
'Sayang?' Devon berucap dalam hati. Molly beranjak dan mengadahkan tangan ke arah Banyu. Sebuah amplop putih sudah pindah dari tangan Banyu ke Molly.
"Nih. Dua puluh lima juta. Lo tinggal cairin di bank itu cek. Gue cabut jadi panitia. Dan lo Delon, jangan pernah pegang-pegang gue. Nggak ada yang bisa pegang-pegang gue tanpa izin kecuali ..., KAKAK GUE INI. paham lo! Jaga tuh, TANGAN!"
Molly berbalik badan dan segera menggandeng Banyu yang terkekeh geli. Mereka berjalan semakin menjauh. Tetapi di ujung sana, sudah ada Kimmy yang menggeleng-geleng heran sambil berkacak pinggang.
"Terusss ..., Robinhood ceritanya, iya Mol?" Kimmy menatap Molly sambil melotot.
"Kak,itu buat acara kampus. Nanti di donasiin lagi kok, asli, deh," Molly manyun-manyun.
"Iya Mol, tapi caranya nggak gini. Kesepakatan kita bukannya jangan sampai orang lain tahu," sambung Kimmy.
"Kepepet masalahnya Kak, gara-gara tuh cowok pegang-pegang dagu gue sembarangan. Hih!" Molly kesal sendiri.
"Haduh ... ampun deh, adek gue ini. Ayo ke supermarket di bawah, gue mau belanja bulanan."
Banyu terkekeh sambil mengusap kepala istrinya. Sedangkan anak-anak mereka sudah pindah tangan, di gandeng Molly.
"Kita penuhin keranjang belanjaan sama cemilan yuk," bisik Molly tetapi masih terdengar Kimmy.
"Nggak! Gue capek bolak balik ke dokter gigi. Awas ya, Mol." Ancam kakaknya. Molly menatap Kimmy sambil senyum-senyum dan mata berkedip-kedip cepat.
Setelah satu minggu Molly berusaha tampil lebih elegan juga dewasa saat ke kampus. Ia pun merasa tidak nyaman. Anin bahkan sampai tertawa geli melihat Molly yang kembali tampil apa adanya. Cenderung cuek dan bergaya boyish. Dengan gaya pakaian yang lebih ke arah casual, Molly justru tampak natural dan cantik.
Ia berjalan menuju ke kantin kampus setelah turun dari mobil Banyu. Seperti pagi-pagi lainnya saja. Banyu sebenarnya sudah ingin membelikan Molly kendaraan, supaya bisa sendiri jika ingin kemana-mana, tapi Molly menolak karena ia tak suka jika banyak orang yang ingin berteman dengannya karena harta atau apa yang ia punya dan kenakan. Pakai supir pun, Molly tak mau. Jadilah Banyu setiap pagi mengantar adik iparnya itu ke kampus.
"Capek pake sepatu hak tinggi, Mol?" Anin terkekeh. Di sebelahnya sudah ada pacar Anin yang tampak cekikikan juga.
"Iya," jawab Molly singkat sambil meminum kopi yang sempat ia beli di kedai kopi dekat kampus bersama Banyu.
"Diantar Kak Banyu lagi?" tanya Kyle yang berperawakan blasteran Sunda dan Belanda itu. Molly mengangguk.
"Repotin Kakak ipar lo banget sumpah." rengut Anin.
"Mol, gue comblangin sama sepupu gue mau nggak? Biar ada yang antar jemput lo," ucap Kyle serius. Molly melirik lalu memutar kedua bola matanya malas seraya menggeleng.
"Gue punya inceran lain," sahut Molly yang mendapat reaksi terkejut dari kedua temannya itu.
"Siapa?" tanya Anin bingung. Molly diam.
"Lihat aja nanti." Lalu tatapan Molly mengarah pada segerombolan orang yang berpakaian rapi. Kemeja lengan pendek warna putih dengan dua lidah berkancing pundak di kanan kiri, dua kantung berkancing kanan dan kiri juga, serta celana warna biru dongker, berjalan bergerombol.
"Siapa mereka?" tanya Molly bingung.
"Oh ... Anak kampus lain, kampus kita ngadain seminar manajemen, anak ekonomi yang bikin,tentang pemasaran global apalah namanya, beberapa kampus diundang, termasuk mereka. Anak jurusan manajemen transportasi. Kalau yang pakai seragam kayak gitu si, yang gue tau mereka udah magang diperusahaan maskapai udara." Kyle menjelaskan dengan gamblang. Molly ber-OH-ria. Ia lalu beranjak. Merapikan pakaiannya hendak menuju ke dalam kelas, sedangkan Anin bilang ia akan menyusul.
"Molly!" suara seseorang memanggilnya. Ia menoleh. Napasnya terhenti seketika. Melki sudah berdiri di belakangnya. Molly berbalik badan perlahan, langsung memasang senyum manis.
"Pagi, Pak," sapa Molly santai.
"Pagi!" jawab Melki ketus sambil melirik sekilas ke Anin dan Kyle yang diam mematung. Aura dingin langsung terasa. Seperti jelmaan Dementor dosen bernama Melki ini.
"Udah baca email dari kampus," tanya Melki dengan tatapan menusuk. Molly menggeleng. Di tangan kanannya, Melki memegang satu buku tebal, dan tangan lainnya ia masukan ke saku celana bahan yang ia kenakan. Kemeja motif garis-garis horizontal berwarna abu-abu tipis yang ia masukan ke celana, juga, kancing pergelangan tangan yang dipasang, membuat sosok itu tampak rapi sekali. Bahkan, membuat tubuh atletisnya begitu tercetak sempurna. Pembawaannya yang kaku, membuatnya seolah tak tersentuh.
"Baca! Saya tunggu di ruang dosen sepuluh menit lagi!" lalu Melki berjalan menuju ke area gedung dosen fakultas ilmu komunikasi tanpa senyum.
Molly menatap kedua temannya.
"Dia,target gue Nin, Kyle," ucap Molly pelan.
"Gila lo! Dementor mau lo gebet!" mulut Anin dibekap Kyle dengan tangannya.
"Menantang ...." sahut Molly berbisik. Kyle menggelengkan kepala, Anin mengerjapkan matanya. Molly membuka email di ponselnya. Kedua matanya terbelalak seketika.
"Hah! Pak Melki, d-dosen ... p-pembimbing skripsi gue?" Molly tampak lemas. Ia terduduk di kursi. Menghentak-hentakkan kaki laku mengusap wajahnya kasar. Ia menoleh ke kedua temannya yang justru tertawa.
"Mampos ... lo gebet itu Dementor. Mamam deh lo Mol," Anin tertawa.
"Gue ke sana ya, Bye," Molly beranjak, kemudian setengah berlari menuju ke arah gedung dosen, pikirannya sudah tak karuan.
Ia memikirkan rencana apa yang harus ia jalankan demi kelancaran tujuannya menggebet Melki. Dosen berusia dua puluh tujuh tahun dengan predikat sadis dari para mahasiswanya.
***
Tok ... tok ... tok ...
"Permisi Pak," sapa Molly dengan suara pelan sambil menyembulkan kepalanya dari balik pintu.
"Masuk!" ucap Melki. Kedua matanya masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya. Molly langsung duduk di kursi di hadapan meja kerja Melki.
"Siapa yang suruh kamu duduk! Berdiri!" ucap Melki ketus. Molly berdiri seketika.
"Ish," Molly menggerutu. Melki bergeming, acuh dan masih berekspresi datar.
Suara mesin pencetak terdengar, lalu muncul selembar kertas. Melki memberikan itu Molly yang masih berdiri.
"Duduk!" pinta Melki sambil menatap ke Molly yang mencoba tersenyum. Sekedar memberikan kesan pertama yang baik untuk target gebetannya.
"Jangan senyum-senyum. Saya nggak suka!" ketus Melki. Molly tak gentar.
"Senyum itu sebagian dari ibadah lho, Pak, saya seneng tersenyum," timpal Molly.
"Suka senyum apa tebar pesona!" tatap Melki dengan jemari saling menggenggam dan ia letakkan di atas meja.
"Suka senyum lah, Pak," jawab Molly masih berusaha santai. Akan susah menggebet Melki kalau ia juga ketus.
"Mahasiswi seperti kamu ini nih, yang suka senyum-senyum tebar pesona ke dosen laki-laki biar dilancarkan skripsinya. Modus. Tapi saya nggak akan terpancing. Saya nggak suka mahasiswi nggak punya otak!"
Molly menatap tajam ke arah Melky. Ia terus berusaha tenang menghadapi ke lemesan mulut pria di hadapannya. Ia mencoba acuh atas ucapan Melki.
"Ini harus saya isi, Pak? Kapan dikumpulinnya? Harus banget pakai materai?" Molly berbicara dengan kedua mata membaca isi kertas yang diberikan Melki. "Skripsi saya kan masih masuk disemester delapan,sekarang masih masuk ke seminar dulu, 'kan?"
"Yang dosen di sini siapa. Yang akan jadi pembimbing kamu siapa. Yang nanti dampingin kamu sidang siapa!" Melki tak mau kalah bicara.
"Pak Melki, tapi ... " ucap Molly dengan tenang.
"Isi. Besok kasih ke saya lagi!" ucap Melki sambil kembali menatap layar laptopnya.
"Sekarang boleh keluar!" lanjut Melki lagi tanpa melihat ke arah Molly. Molly beranjak. Ia membuka pintu ruangan Melki. Langkah kakinya mendadak berhenti. Ia menoleh ke dosennya itu.
"Pak Melki," panggil Molly.
"Hm," jawab Melki tanpa menatap ke Molly.
"Kalau dampingin saya di pelaminan mau Pak? Saya siap kok," lanjut Molly sambil berjalan pelan keluar ruangan.
"Saya sudah tunangan. Tunangan saya lebih cantik dari kamu. Maaf. Cari target kamu yang lain!" jawab Melki masih saja ketus.
Molly berdiri di depan pintu yang sudah ia buka, kembali menatap Melki.
"Sebelum janur kuning melengkung. Boleh dong, saya gebet Pak Melki? Mana coba tunangannya, saya mau tahu. Kenal deh, Bye Pak," ucap Molly begitu berani. Lalu pintu tertutup.
Ia berjalan terburu-buru karena kesal. Bisa-bisa gagal rencananya.
"Sialan, dosen resek. Dementor. Mulut cabe. Mulut jahanam!" Molly kesal. Ia berjalan tanpa melihat kanan dan kiri. Hingga ia menabrak seseorang.
"Sorry ... sorry," ucap Molly lalu bergeser ke sisi kiri hendak berjalan menuju ke kelasnya.
"Molly?" suara seseorang memanggilnya. Molly menghentikan langkah. Ia berbalik dan melihat sosok tersebut, mencoba mengingat siapa pemilik suara itu. Seorang pria dengan seragam putih dan celana biru dongker itu menatapnya sambil tersenyum.
"KAMA?" sapa Molly begitu terjekut. Pria itu tersenyum dengan kedua tangan yang masuk ke dalam saku celananya. Menganggukkan kepala.
Pria itu masih terus saja tersenyum, seolah berniat melakukan hal tersebut untuk di lihat Molly. "Hai Mol, apa kabar?" tanyanya.