Bab 2

Bab 2.

"Bawa kesini ponsel kamu!" bentak Mas Haris sambil merampas benda pipih itu dari tanganku.

"Apaan sih, kasar banget kamu, Mas," protesku.

Tanganku dinginnya minta ampun, bagaimana tidak. Isi chatingan dengan berondong itu belum sempat kuhapus. Mas Haris sudah muncul aja dibalik pintu.

"Loh, ponsel kamu kok mati?" teriaknya emosi.

"Hm, berarti lowbat," ucapku pelan.

"Sana, kamu charge dulu! Setelah itu Mas ingin tahu dengan siapa saja kamu chatingan,"  cecarnya.

Upss, aku menarik napas lega, sementara ini aku aman. Sambil mengambil charge di kamar, kuperhatikan gerak-gerik Mas Haris. Aku harus gerak cepat untuk menghapus pesan dan memblokir nomor Wira.

Triing ...

Ponselku menyala kembali, sedang Mas Haris masih duduk didekatku sambil matanya melihat ke televisi.

"Udah nyala ponsel kamu?" aku terlompat kaget mendengar pertanyaannya.

"Be-belum, maklumlah ponsel jadul jadi agak lama mengisi daya," jawabku spontan.

Nasib baik masih berpihak padaku, Mas Haris beranjak dari duduk. Ia berjalan ke dapur sepertinya hendak buang air. Kesempatan ini takku sia-siakan. Semua isi chat kuhapus lalu memblokir nomor Wira. Upss, selesai.

Aku duduk di sofa sambil menetralkan hati yang sempat kacau. Keasikan fokus melihat televisi, Mas Haris sudah berdiri disampingku sambil memegang ponsel yang dicharge.

"Hapus semua grup sekolah itu, enggak perlu kamu berteman dengan mereka!" bentaknya.

"Kamu ini kenapa sih, Mas? Dari tadi mengamuk gak jelas. Memang apa sih ruginya hingga harus menghapus pertemananku?!"

"Halahh, teman kamu itu hanya pamer status sosial aja setiap ada pertemuan. Apa kamu gak malu bergaul dengan mereka, disaat kondisi ekonomi kita begini?!" cecarnya.

"Kenapa harus malu, mereka tak membahas itu. Tak masalah juga dengan kondisi kita," jelasku.

"Tapi aku yang malu lihat kamu bergaul dengan mereka!" bentaknya.

"Sudah dari dulu kondisi kita seperti ini, kenapa baru sekarang kamu permasalahkan," sindirku.

Mas Haris terdiam. Hampir tiga bulan ini beliau uring-uringan. Sering marah tanpa alasan. Akhirnya sesuatu yang tak kuduga keluar dari mulutnya.

"Niki, mulai sekarang kamu harus bantu untuk mencari nafkah!" ucapnya pelan.

"Ada apa, kenapa kamu bicara seperti ini?" tanyaku heran.

"Kios kita terancam bangkrut karena terlilit hutang. Modal jualan dilarikan temanku," jawabnya pelan.

"Apaah?!" aku kaget mendengarnya.

"Sudah Mas tempahkan steling kecil untuk membuka usaha. Kamu kan bisa masak, jadi bisa buka warung di depan kios kita."

"Hahh, kenapa gak bilang dulu, Mas! Mau buat usaha apa?" tanyaku kaget.

"Kamu bisa membuka warung nasi untuk sarapan pagi atau makan siang," jawabnya santai.

Aku terdiam, tak berani membantah. Sebenarnya aku sudah lama punya keinginan untuk berdagang. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mengatasi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk.

****

Sore harinya ...

"Bu, itu steling punya siapa?" tanya Diah, anak gadisku yang sulung.

"Ayahmu membelikannya untuk Ibu," jawabku.

"Wahh, Ibu mau jualan apa?" tanya Dimas dan Danu antusias.

"Ibu kalian hendak berjualan nasi," jawab Mas Haris tersenyum puas.

"Kamu sudah lihat stelingnya, kan! Sekarang biar dibawa langsung ke kios dengan menggunakan mobil pik-up milik temanku," jelasnya sambil menelepon seseorang.

Ketiga anakku masih keheranan dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba. Setelah kujelaskan masalah sebenarnya, mereka mengerti dan berjanji ikut membantu orangtuanya untuk berjualan.

Tak lama kedengaran suara klakson mobil, steling langsung dinaikkan ke atas pik-up. Mas Haris ikut mengantar dengan naik motor.

"Sebenarnya sudah lama ayah kalian menyuruh Ibu untuk membantu mencari nafkah. Tapi Ibu gak mau, karena itu tanggung jawabnya. Ibu takut Ayah kalian terlena, nanti sesuka hati saja memberikan nafkah. Kali ini Ibu menyerah dan mengalah karena gak ada pilihan lagi," jelasku panjang lebar.

Ketiga anakku langsung terdiam. Selama ini aku selalu ada untuk mereka. Khawatir saja kalau sudah berjualan, aku pasti repot dan sibuk. Otomatis perhatian jadi berkurang dan waktuku habis ditempat jualan mulai pagi hingga malam hari.

"Bu, Diah ingin bilang sesuatu," ucapnya pelan

"Mau bilang apa, Di?" tanyaku penasaran.

"Tabungan Diah sepertinya cukup untuk membeli motor tapi bayarnya dengan cara mencicil setiap bulan," jawabnya takut-takut.

"Bagus dong, Kak. Pulang sekolah kita bisa menyusul ke warung Ibu. Sekalian membantu jagain kios Ayah juga," sela Dimas semangat.

"Memangnya gaji kamu mengajar les itu cukup untuk membayar cicilan motor yang baru?" tanyaku ragu.

"Insya Allah cukup, Bu. Sekarang Diah mengajar les private di tiga tempat," jelasnya.

"Alhamdulillah. Ibu setuju. Semoga Tuhan menambah rejeki kamu, agar lancar niat untuk membeli motor," ucapku terharu.

Sekarang ini sekolah ketiga anakku sedang butuh biaya besar. Si sulung Diah hendak masuk kuliah, sedang Dimas tahun depan masuk SMA dan Danu masih SMP. Ditambah lagi ekonomi keluarga sedang terpuruk.

Mas Haris selalu melampiaskan amarah dan stresnya kepadaku dan anak-anak. Aku takut mereka kena mental. Jadi berdampak buruk terhadap perkembangan jiwanya. Semua keluhannya wajib didengarkan. Sebaliknya Mas Haris tak pernah peduli dengan keluhanku dan anak-anak. Dasar lelaki egois.

*****

Sejak membuka warung nasi, aku jarang bermain ponsel. Benda pipih itu kusimpan di dalam tas sandang. Cara ini menurut lebih baik. Aku takut Mas Haris kepo lagi seperti kemarin.

Mencari rejeki diniatkan untuk membantu ekonomi keluarga, mendatangkan berkah tersendiri bagiku. Perlahan warung nasi mulai dikenal orang. Banyak pelanggan diwaktu pagi dan siang hari.

Aku pikir dengan membantu mencari nafkah, Mas Haris tak lagi stres dan marah-marah. Ternyata dugaanku meleset. Mas Haris mulai dilanda cemburu tiap aku meladeni pembeli laki-laki. Dia sering mengamuk tak jelas bahkan hampir melempar aku dengan helm yang sedang dipegangnya.

"Kalau tak boleh meladeni pembeli, jangan suruh aku jualan, dong!" cecarku.

"Niki, kamu sudah berani melawan sekarang!" ucapnya tak mau kalah.

"Aku mana bisa memilih pembeli yang mau datang ke warung. Siapa saja bebas makan disini," jelasku berharap ia mengerti.

"Kamu gak usah terlalu ramah dengan pembeli lelaki!" bentaknya.

"Justru aku terlihat jutek dan jarang senyum tiap meladeni pembeli. Itu yang sering kudengar dari mereka," balasku.

"Kamu jangan menjawab terus, Niki!" ucapnya dengan suara tinggi.

Pembeli yang sedang duduk dipojokan, cepat menghabiskan sisa makanannya. Kemudian membayar dan segera berlalu.

"Puas sekarang! Pembeli lari ketakutan melihat kelakuan kamu," cecarku. Mas Haris terdiam, ia menarik napas kasar.

"Oh iya Niki, mulai bulan depan kamu yang bayar uang spp dan jajan anak-anak!" pintanya.

"Hahh, itu kan tanggung jawab kamu, Mas. Jadi penghasilan kamu untuk apa?" tanyaku dengan kesal.

"Mas hanya memberikan uang belanja setengahnya. Kamu kan udah jualan jadi biaya dapur sudah bisa diatasi," jawabnya santai.

"Enak saja bicara seperti itu, kamu harus berikan tanggung jawab seperti biasa!" ucapku penuh emosi.

"Uang dari mana lagi untuk memenuhi semua itu! Kamu lihat kios ini, modalnya semakin habis. Untungnya untuk mencicil motor dan hutang di grosir," jelasnya.

"Akibat kebodohan kamu yang terlalu percaya dengan teman, kita semua jadi susah. Aku tak mau dijadikan tulang punggung keluarga. Ingat itu, Mas!" bentakku tak mau kalah.

Aku tersadar, entah darimana keberanian untuk berbicara dan membantah semua ucapan Mas Haris. Emosiku keluar begitu saja mungkin selama ini hanya bisa dipendam. Sekaranglah saatnya mengeluarkan pendapat yang saling berseberangan.

Bersambung

Bab 3

Bab 3.

Enam bulan yang lalu ...

"Niki, mulai besok Mas mencari tambahan menjadi security di sebuah pabrik," kata Mas Haris setelah pulang jualan.

"Loh, jadi kios kamu gimana?" tanyaku heran.

"Buka kios tetap seperti biasa karena Mas kebagian dinas malam. Mulai pukul delapan malam hingga pukul enam pagi," jelasnya.

"Sekarang kios kita sedang sepi, omset semakin turun. Sedangkan kebutuhan hidup semakin bertambah," alasannya.

Waktu itu aku nyambi berjualan online khusus kosmetik dan hijab syar'i. Tetapi sejak covid melanda negeri ini, semua orang banting stir membuka usaha online. Otomatis omset jualan menurun dan daya beli pun semakin berkurang.

Tetapi setelah enam bulan berlalu, Mas Haris mulai merasa kelelahan. Beliau sering sakit efek terkena angin malam. Walaupun bisa tidur ditempat jaga tapi suasananya berbeda. Tak senyaman di dalam rumah.

"Kalau sedang sakit, gak usah pergi dinas. Biar aku yang telepon Bos security kamu, Mas!" pintaku waktu beliau mengeluh sesak napas.

Mas Haris memberikan nomor ponsel Bos nya. Langsung saja kuberitahukan kondisi Mas Haris. Keesokan harinya aku fotokan surat dari Dokter ke nomor Bos tersebut.

"Hm, bagaimana membayar spp mereka. Mas sedang gak punya uang. Apalagi berobat ke Dokter," ucapnya pelan.

"Ya sudah, biar aku yang bayar biaya Dokter. Sekarang kita berobat sebelum penyakit kamu semakin parah," ajakku mengalah.

Mas Haris tak lagi membantah ucapanku. Ia hanya pasrah sambil mendorong motornya keluar halaman.

"Biar aku yang membawa motor. Kita berobat ke klinik langganan saja. Biar pun mahal tapi kita sekeluarga serasi berobat disana," jelasku.

"Terus percuma dong kita punya kartu kesehatan kalau gak digunakan. Di klinik itu bayarnya gratis," protesnya sambil naik ke boncengan.

"Nyatanya sering berobat kesana, sampai tiga kali bolak-balik gak sembuh juga. Ujung-ujungnya kita kembali lagi ke klinik langganan ini," cecarku.

"Hm, iya sih." Mas Haris tak lagi protes.

Lima belas menit kemudian ...

Motor masuk ke halaman klinik. Dulu aku juga  melahirkan disini. Dimas dan Danu sedangkan Diah lahir dikampung ayahnya. Tak menunggu lama giliran Mas Haris disuruh masuk ke ruang periksa.

Setelah mendengarkan semua keluhan pasien, Mas Haris mulai mengalami serangkai pemeriksaan. Aku sudah menduga sebelum, Mas Haris divonis sesak napas akut.

*****

Enam bulan lamanya Mas Haris harus rutin meminum obat dari Dokter. Masih untung bisa menebus resep lewat puskesmas. Jadi bisa menggunakan kartu kesehatan tanpa membayar sepeser pun.

"Mas, kamu udah dengarkan hal apa saja yang jadi pantangan selama mengkonsumsi obat dari Dokter, kan?" tegasku.

"Iya," jawabnya pelan.

Akan tetapi kenyataannya tak sesuai ekspektasi. Mas Haris mematuhi aturan itu hanya sebulan. Beliau kembali ke kebiasaan buruknya yaitu candu rokok dan kopi lagi.

Aku hanya bisa mengelus dada dan tepuk jidat melihat kelakuannya. Ketiga anakku sudah mengingatkan aku, tak usah mendengarkan lagi keluhan ayahnya. Biarkan saja seperti itu yang penting ambilkan saja obatnya setiap bulan.

"Mbak, kata guru Dimas kalau konsumsi obat jangka panjang bisa merusak kerja ginjal manusia," ucap Dimas mengingatkan.

"Iya, Ayah pasti sudah tahu resikonya. Tapi dia sendiri yang ingin seperti itu. Kita hanya mengingatkan. Selanjutnya ya terserah karena beliau yang menjalani hidupnya," jelas Diah.

"Memang susah menasihati manusia yang egois. Beliau sendiri yang membuat aturan tanpa mau mendengarkan nasihat kita," sahutku sambil menghela napas.

Setelah tak bekerja dinas malam lagi, barulah Mas Haris cerita tentang kondisi kios, modal yang kian habis serta uang yang dibawa lari temannya itu.

"Kamu menolong orang yang salah, Mas. Sudah jelas uang itu dibuat teman kamu untuk modal judi malah kamu suport, berharap dia menang terus membayar dua kali lipat sesuai perjanjian. Hari gini soal uang gak ada pandang saudara apalagi hanya teman, Mas," cecarku penuh emosi.

"Awalnya teman Mas membayar rutin setiap malamnya. Tapi lama kelamaan dia sering kalah lalu tak datang lagi ke kios untuk membayar. Sementara hutangnya sudah Mas bayar lebih dahulu ke pengepul judi itu," jelasnya putus asa.

"Memangnya kalian perjanjian hitam di atas putih?" tanyaku.

"Enggak ada. Kami hanya modal percaya aja. Karena sudah berteman sejak lama. Hampir dua puluh tahun teman Mas itu nongkrong di kios. Kadang datang bersama temannya," jelasnya.

"Memangnya apa pekerjaan teman kamu itu?" selidikku.

"Beliau seorang intel polisi alias tekab," jawabnya pelan.

"Pasti kamu takut menagih hutang ke dia kan?" ejekku.

"Mas udah tiap hari telepon dan chat ke nomor dia, tapi gak diangkat dan dibalas. Nomornya masih aktif hingga sekarang. Sampai ponsel Mas hilang di kios sebulan yang lalu. Sejak itulah Mas berusaha mengikhlaskan uang itu."

"Terus kamu belum sepenuhnya ikhlas dan itu membuat kesehatanmu menjadi taruhannya. Berpikir tiada henti tanpa ada solusi sama sekali. Sementara hutangnya setengah dari modal kios kamu," cecarku.

"Makanya Mas menyerah dan meminta kamu membantu mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan keluarga kita," ucapnya lirih.

Sekarang sudah jelas, semua yang terjadi karena kebodohan sendiri. Berharap dapat untung besar dari cara yang haram. Akibatnya malah diri sendiri yang hancur.

*****

"Hai Jeni, apakabar?" sapaku ke sohib lewat pesan singkat.

"Hai Niki, tumben nih. Aku kangen lo," sahutnya dengan emoji peluk. Kebetulan saling online, kami pun saling berbagi kabar.

"Udah sebulan ini aku buka warung di depan kios suami," ucapku.

"Oh pantesan kamu udah jarang online di medsos, ya Niki," balasnya.

"Iya, kalau sempat mampirlah. Nongkrong di warungku asiik lo," jelasku sambil promosi.

"Oke, aku atur waktu dulu. Entar aku kabari kalau mampir kesana," jawabnya.

"Oh iya, aku ada rencana untuk promo di gofo** untuk nambah omset," balasku.

"Wah, bagus itu. Kamu sepertinya hoki di usaha dagang deh," pujinya.

"Iya do'ain aja lancar rejekinya. Semua demi memenuhi kebutuhan hidup. Kios suamiku sedang sepi pembeli makanya aku bantu untuk mencari tambahan," jelasku.

"Oh sekarang kondisinya seperti itu, ya. Aku turut prihatin ya, Niki," balas Jeni dengan emoji peluk.

"Oh iya, gimana kabarnya Wira?" tanyaku.

"Hm, udah hampir sebln kami gak nongkrong bareng. Kamu masih sering chatingan sama dia?" selidik Jeni.

"Sejak aku membuka warung udah gak pernah chatingan lagi," jelasku.

"Hm, ingat ya pesanku, hanya penyegaran aja berteman dengan Wira. Kalau kamu seriusin pasti hasilnya nyakitin hati sebab kekasih bayangannya banyak tersebar dimana-mana," ucap Jeni dengan emoji hantu yang sedang mengejek.

"Ha-haa, kamu kalau bicara suka benar deh," balasku tak mau kalah dengan emoji tertawa ngakak.

"Jadi dagang online kamu gimana, Niki, masih lanjut atau enggak lagi?" tanya Jeni.

"Sudah enggak lagi. Aku mau fokus di warung aja," jawabku.

"Iyalah, hasil di warung bisa dapat setiap hari. Beda dengan dagang online yang hasilnya tak menentu," balasnya.

Sedang asik chating, tiba-tiba ada pesan masuk hanya nomor saja tanpa nama. Kulihat ke layar ponsel, aku hapal betul dengan nomor tersebut. Segera ku akhiri percakapan dengan Jeni. Lalu membaca pesan yang baru saja masuk ke aplikasi berwarna hijau.

Bersambung

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED