Bab 1.
Jangan pernah berpikir kalau wanita baik-baik itu tak mungkin selingkuh. Aku tak tahu lagi cara membalas sakit hati pada Mas Haris. Dia makin berubah. Lebih memikirkan diri sendiri daripada kepentingan keluarga.
"Kamu dari mana, kenapa baru pulang jam segini?" tanya Mas Haris.
"Loh, kok kamu sudah pulang, Mas, katanya lembur di tempat jaga?" aku balik tanya.
"Aku gak jadi menggantikan teman, dia gak jadi off," jawabnya ketus.
"Kata mereka kamu pergi ke rumah teman, ada urusan apa?" tanya Mas Haris sambil menunjuk anakku Raka dan Radit.
"Aku ngantar barang ke rumah si Rani. Dia janji mau ambil ke rumah tapi udah tiga hari gak datang juga," jelasku.
"Bulan depan aku gak bisa kasi kamu uang karena mau bayar cicilan motor sekalian servis juga," ucapnya ketus.
"Apahh, gila kamu, Mas! Mana cukup untung jualan onlineku untuk bayar spp anak yang tiga orang ini!" teriakku.
"Halahh, dikumpulin aja dulu! Masih ada waktu dua minggu lagi," sahutnya santai.
"Enggak bisa, kamu harus kasi seperti biasa!" cecarku.
"Uang dari mana lagi, gajiku aja sudah banyak potongannya karena sakit," jawabnya.
"Mas, untung jualan onlineku gak seberapa! Setiap hari sudah aku pakai untuk jajan sekolah anak dan tambah biaya dapur," jelasku dengan harapan dia mengerti.
"Masak gak cukup sih? Berarti kamu itu yang tak pandai menghemat uang," tuduhnya.
"Uang yang mana mau dihemat, Mas? Kamu kasi uang setiap bulan itu kurang loo untuk bayar spp dan kebutuhan dapur. Makanya aku nyambi berjualan online untuk menutupi kekurangan itu!" ulangku sekali lagi.
"Kalau mau uang banyak, ya cari sendirilah!" jawabnya sambil melengos masuk ke kamar.
Seperti inilah rumah tanggaku sekarang, setiap hari ribut masalah uang. Belum lagi Mas Haris yang cemburu melihat aku pegang ponsel. Dia mengira aku sedang chatingan dengan lelaki.
Sudah jelas aku berjualan online, setiap saat pasti mengecek isi ponsel, siapa tahu ada teman yang membeli jualanku, mulai dari baju gamis, hijab, kosmetik dan barang lainnya yang aku posting.
*****
Perkenalkan namaku Nikita, seorang Ibu rumah tangga dengan tiga orang anak. Terdiri dari satu orang wanita dan dua orang lelaki. Aku nyambi berjualan online mulai dari baju gamis, hijab, sepatu, tas serta kosmetik. Hasilnya lumayan, bisa menutupi kebutuhan sehari-hari.
Sedangkan suamiku, Mas Haris seorang sekuriti di sebuah pabrik rokok. Penghasilannya yang pas-pasan itu memaksanya mencari pekerjaan sampingan menjadi driver ojol.
Akan tetapi Mas Haris lebih mementingkan kebutuhan dirinya. Penghasilannya habis untuk membayar cicilan motor serta membeli rokok. Belum lagi kebiasaannya yang gemar berjudi memasang angka lewat online.
"Niki, kamu bantu dong untuk bekerja agar kebutuhan kita terpenuhi. Soalnya Mas udah pusing membayar cicilan motor setiap bulan," jelasnya sambil memohon.
"Gaji kamu kan udah naik, Mas, kenapa selalu bilangnya tak cukup?" tanyaku heran.
"Sudahlah jangan atur gaji suami, lebih baik kamu bekerja cari tambahan!" perintahnya.
Untung ada seorang temanku yang bernama Jeni. Ia bersedia meminjamkan modal untuk berjualan online. Setiap hari aku mulai memposting barang dagangan. Hingga tiga bulan lamanya, aku berhasil membayar hutang padanya.
"Jeni, kita ketemuan ditempat biasa ya!" ajakku.
"Tumben, ada hal serius ya?" tanya Jeni heran.
"Udah, gak usah banyak tanya, setengah jam lagi aku sampai di sana," jawabku.
Kami sering bertemu di cafe dekat rumahku. Kalau sudah bertemu dengannya, hatiku langsung plong karena hanya dia yang tahu permasalahan rumah tangga yang kualami.
"Jen, aku ngajak kamu ke sini karena ingin bayar hutang!" ucapku sambil menyerahkan uang ke tangannya.
"Wahh, hebat kamu Niki. Baru tiga bulan sudah berhasil punya modal sendiri," puji Jeni sambil mengacungkan jempolnya.
"Alhamdulillah, rejeki anak-anak. Oh iya, aku mau tanya sesuatu ke kamu," ucapku ragu.
"Tanya apaan, tampaknya serius banget nih," ejeknya.
"Itu di postingan kamu ada seorang cowok yang dikelilingi banyak wanita termasuk kamu, famous banget kelihatannya ya?" selidikku.
"Ohh, itu namanya si Wira, bekerja di kantor depelover perumahan," jawabnya santai.
"Itu teman sekolah kamu, ya?" tanyaku lagi.
"Ha-haa bukann, dia itu keponakan suamiku," jelas si Jeni.
"Oalahh, berarti brownis dongg!" celetukku.
"Apaan brownis tuh?" tanya Jeni sambil mengerutkan dahinya.
"Artinya berondong maniss," jelasku sambil senyum sendiri.
"Kenapa Niki, kamu naksir, ya?" bisik Jeni.
"Hmm, enggak sih, hanya penasaran aja karena di kelilingi banyak wanita," jawabku malu-malu.
"Keponakanku itu memang famous banget, seperti berkharisma gitu hingga banyak cewek belia hingga tante-tante yang jatuh cinta melihat penampilannya yang cool itu," ucap Jeni sambil tepuk jidat.
"Orangnya sombong gak?" tanyaku penasaran.
"Ya enggaklah, dia orangnya ramah kok, justru agak pendiam. Nah, itu yang buat banyak wanita penasaran," kata Jeni.
"Aku konfirmasi medsosnya, yaa," ucapku.
"Yee, kamu naksir nih sama diaa?" ledek Jeni.
"Hmm, mau temanan aja kok," sahutku.
"Aku sarankan hati-hati, buat jadi penyegaran aja jangan ditanggapi serius omongan si Wira. Entar kamu jatuh cinta dibuatnya," kata Jeni.
"Ahh, kamu ada-ada aja deh! Masak aku jatuh cinta sama berondong sih," jawabku sambil terkekeh.
*****
Derrtt, derrtt.
Ada notifikasi masuk ke ponselku. Begitu ku usap layarnya ternyata pertemananku di konfirmasi oleh keponakan Jeni. Mulailah aku berselancar di medsosnya. Hmm, ternyata statusnya masih single alias jomblo.
Eeh, apa beneran jomblo, rasanya gak mungkin deh? Kemarin aja masih di kelilingi banyak wanita cantik dan seksi, gumamku. Ahh, masa bodoh ajalah, bukan mau macam-macam kok.
'Hay, salam kenal ya," tulisku di pesan singkat lewat aplikasi berwarna biru.
"Siapa ini?" balasnya.
"Aku, Nikita," jawabku.
"Oh iya, salam kenal juga," sahutnya.
"Maaf mau tanya, kamu Wira, keponakannya Jeni, ya?" tanyaku berbasa-basi.
"Eeh, kok tahu ya?" balasnya.
"He-hee, aku sohibnya si Jeni," jawabku.
"Kalau boleh tahu Kakak tinggal di daerah mana?" tanyanya sopan.
Aku menyebutkan alamat tempat tinggalku dan ternyata rumah kami jaraknya hanya setengah jam saja. Dari sinilah cerita kami terus berlanjut.
"Kapan-kapan boleh dong bertemu langsung," pintanya.
"Boleh sihh, tapi sekalian ajak Jeni," jawabku.
"Hmm, pantasan lihat profil wajahnya seperti gak asing, ternyata sohibnya Tante Jeni," celetuknya.
"He-hee, iyaa," ucapku semangat.
"Oh iya, biar lebih akrab, boleh gak minta nomor teleponnya?" pinta Wira.
"Nanti deh aku kasi, sementara komunikasi lewat aplikasi ini aja," tolakku secara halus.
Chatingan kami terhenti, aku lanjut scroll medsosnya. Ingin tahu beneran jomblo atau hanya status aja. Hingga habis kulihat foto di berandanya memang gak ada foto Wira tengah berduaan dengan wanita. Hanya ada foto kebersamaannya dengan banyak wanita.
Hmm, aku jadi penasaran ingin mengenal dia lebih dalam. Kebetulan Wira masih online, aku berikan jempol disetiap postingannya.
"Kakak cantik deh, gak kelihatan kalau usianya seumuran Tanteku." Tiba-tiba Wira mengirim pesan seperti itu.
"He-hee, itu hanya kelihatan dari casingnya aja," balasku.
Sedang asiik berbalas pesan, aku dikagetkan oleh suara bentakan dari balik pintu kamar.
"Niki, kamu chatingan dengan siapa, ngapain senyum-senyum sendiri?" suara Mas Haris membuat ponselku hampir terlompat dari genggaman tangan.
Bersambung
Bab 2.
"Bawa kesini ponsel kamu!" bentak Mas Haris sambil merampas benda pipih itu dari tanganku.
"Apaan sih, kasar banget kamu, Mas," protesku.
Tanganku dinginnya minta ampun, bagaimana tidak. Isi chatingan dengan berondong itu belum sempat kuhapus. Mas Haris sudah muncul aja dibalik pintu.
"Loh, ponsel kamu kok mati?" teriaknya emosi.
"Hm, berarti lowbat," ucapku pelan.
"Sana, kamu charge dulu! Setelah itu Mas ingin tahu dengan siapa saja kamu chatingan," cecarnya.
Upss, aku menarik napas lega, sementara ini aku aman. Sambil mengambil charge di kamar, kuperhatikan gerak-gerik Mas Haris. Aku harus gerak cepat untuk menghapus pesan dan memblokir nomor Wira.
Triing ...
Ponselku menyala kembali, sedang Mas Haris masih duduk didekatku sambil matanya melihat ke televisi.
"Udah nyala ponsel kamu?" aku terlompat kaget mendengar pertanyaannya.
"Be-belum, maklumlah ponsel jadul jadi agak lama mengisi daya," jawabku spontan.
Nasib baik masih berpihak padaku, Mas Haris beranjak dari duduk. Ia berjalan ke dapur sepertinya hendak buang air. Kesempatan ini takku sia-siakan. Semua isi chat kuhapus lalu memblokir nomor Wira. Upss, selesai.
Aku duduk di sofa sambil menetralkan hati yang sempat kacau. Keasikan fokus melihat televisi, Mas Haris sudah berdiri disampingku sambil memegang ponsel yang dicharge.
"Hapus semua grup sekolah itu, enggak perlu kamu berteman dengan mereka!" bentaknya.
"Kamu ini kenapa sih, Mas? Dari tadi mengamuk gak jelas. Memang apa sih ruginya hingga harus menghapus pertemananku?!"
"Halahh, teman kamu itu hanya pamer status sosial aja setiap ada pertemuan. Apa kamu gak malu bergaul dengan mereka, disaat kondisi ekonomi kita begini?!" cecarnya.
"Kenapa harus malu, mereka tak membahas itu. Tak masalah juga dengan kondisi kita," jelasku.
"Tapi aku yang malu lihat kamu bergaul dengan mereka!" bentaknya.
"Sudah dari dulu kondisi kita seperti ini, kenapa baru sekarang kamu permasalahkan," sindirku.
Mas Haris terdiam. Hampir tiga bulan ini beliau uring-uringan. Sering marah tanpa alasan. Akhirnya sesuatu yang tak kuduga keluar dari mulutnya.
"Niki, mulai sekarang kamu harus bantu untuk mencari nafkah!" ucapnya pelan.
"Ada apa, kenapa kamu bicara seperti ini?" tanyaku heran.
"Kios kita terancam bangkrut karena terlilit hutang. Modal jualan dilarikan temanku," jawabnya pelan.
"Apaah?!" aku kaget mendengarnya.
"Sudah Mas tempahkan steling kecil untuk membuka usaha. Kamu kan bisa masak, jadi bisa buka warung di depan kios kita."
"Hahh, kenapa gak bilang dulu, Mas! Mau buat usaha apa?" tanyaku kaget.
"Kamu bisa membuka warung nasi untuk sarapan pagi atau makan siang," jawabnya santai.
Aku terdiam, tak berani membantah. Sebenarnya aku sudah lama punya keinginan untuk berdagang. Mungkin ini jalan Tuhan untuk mengatasi ekonomi keluarga yang sedang terpuruk.
****
Sore harinya ...
"Bu, itu steling punya siapa?" tanya Diah, anak gadisku yang sulung.
"Ayahmu membelikannya untuk Ibu," jawabku.
"Wahh, Ibu mau jualan apa?" tanya Dimas dan Danu antusias.
"Ibu kalian hendak berjualan nasi," jawab Mas Haris tersenyum puas.
"Kamu sudah lihat stelingnya, kan! Sekarang biar dibawa langsung ke kios dengan menggunakan mobil pik-up milik temanku," jelasnya sambil menelepon seseorang.
Ketiga anakku masih keheranan dengan keputusan ayahnya yang tiba-tiba. Setelah kujelaskan masalah sebenarnya, mereka mengerti dan berjanji ikut membantu orangtuanya untuk berjualan.
Tak lama kedengaran suara klakson mobil, steling langsung dinaikkan ke atas pik-up. Mas Haris ikut mengantar dengan naik motor.
"Sebenarnya sudah lama ayah kalian menyuruh Ibu untuk membantu mencari nafkah. Tapi Ibu gak mau, karena itu tanggung jawabnya. Ibu takut Ayah kalian terlena, nanti sesuka hati saja memberikan nafkah. Kali ini Ibu menyerah dan mengalah karena gak ada pilihan lagi," jelasku panjang lebar.
Ketiga anakku langsung terdiam. Selama ini aku selalu ada untuk mereka. Khawatir saja kalau sudah berjualan, aku pasti repot dan sibuk. Otomatis perhatian jadi berkurang dan waktuku habis ditempat jualan mulai pagi hingga malam hari.
"Bu, Diah ingin bilang sesuatu," ucapnya pelan
"Mau bilang apa, Di?" tanyaku penasaran.
"Tabungan Diah sepertinya cukup untuk membeli motor tapi bayarnya dengan cara mencicil setiap bulan," jawabnya takut-takut.
"Bagus dong, Kak. Pulang sekolah kita bisa menyusul ke warung Ibu. Sekalian membantu jagain kios Ayah juga," sela Dimas semangat.
"Memangnya gaji kamu mengajar les itu cukup untuk membayar cicilan motor yang baru?" tanyaku ragu.
"Insya Allah cukup, Bu. Sekarang Diah mengajar les private di tiga tempat," jelasnya.
"Alhamdulillah. Ibu setuju. Semoga Tuhan menambah rejeki kamu, agar lancar niat untuk membeli motor," ucapku terharu.
Sekarang ini sekolah ketiga anakku sedang butuh biaya besar. Si sulung Diah hendak masuk kuliah, sedang Dimas tahun depan masuk SMA dan Danu masih SMP. Ditambah lagi ekonomi keluarga sedang terpuruk.
Mas Haris selalu melampiaskan amarah dan stresnya kepadaku dan anak-anak. Aku takut mereka kena mental. Jadi berdampak buruk terhadap perkembangan jiwanya. Semua keluhannya wajib didengarkan. Sebaliknya Mas Haris tak pernah peduli dengan keluhanku dan anak-anak. Dasar lelaki egois.
*****
Sejak membuka warung nasi, aku jarang bermain ponsel. Benda pipih itu kusimpan di dalam tas sandang. Cara ini menurut lebih baik. Aku takut Mas Haris kepo lagi seperti kemarin.
Mencari rejeki diniatkan untuk membantu ekonomi keluarga, mendatangkan berkah tersendiri bagiku. Perlahan warung nasi mulai dikenal orang. Banyak pelanggan diwaktu pagi dan siang hari.
Aku pikir dengan membantu mencari nafkah, Mas Haris tak lagi stres dan marah-marah. Ternyata dugaanku meleset. Mas Haris mulai dilanda cemburu tiap aku meladeni pembeli laki-laki. Dia sering mengamuk tak jelas bahkan hampir melempar aku dengan helm yang sedang dipegangnya.
"Kalau tak boleh meladeni pembeli, jangan suruh aku jualan, dong!" cecarku.
"Niki, kamu sudah berani melawan sekarang!" ucapnya tak mau kalah.
"Aku mana bisa memilih pembeli yang mau datang ke warung. Siapa saja bebas makan disini," jelasku berharap ia mengerti.
"Kamu gak usah terlalu ramah dengan pembeli lelaki!" bentaknya.
"Justru aku terlihat jutek dan jarang senyum tiap meladeni pembeli. Itu yang sering kudengar dari mereka," balasku.
"Kamu jangan menjawab terus, Niki!" ucapnya dengan suara tinggi.
Pembeli yang sedang duduk dipojokan, cepat menghabiskan sisa makanannya. Kemudian membayar dan segera berlalu.
"Puas sekarang! Pembeli lari ketakutan melihat kelakuan kamu," cecarku. Mas Haris terdiam, ia menarik napas kasar.
"Oh iya Niki, mulai bulan depan kamu yang bayar uang spp dan jajan anak-anak!" pintanya.
"Hahh, itu kan tanggung jawab kamu, Mas. Jadi penghasilan kamu untuk apa?" tanyaku dengan kesal.
"Mas hanya memberikan uang belanja setengahnya. Kamu kan udah jualan jadi biaya dapur sudah bisa diatasi," jawabnya santai.
"Enak saja bicara seperti itu, kamu harus berikan tanggung jawab seperti biasa!" ucapku penuh emosi.
"Uang dari mana lagi untuk memenuhi semua itu! Kamu lihat kios ini, modalnya semakin habis. Untungnya untuk mencicil motor dan hutang di grosir," jelasnya.
"Akibat kebodohan kamu yang terlalu percaya dengan teman, kita semua jadi susah. Aku tak mau dijadikan tulang punggung keluarga. Ingat itu, Mas!" bentakku tak mau kalah.
Aku tersadar, entah darimana keberanian untuk berbicara dan membantah semua ucapan Mas Haris. Emosiku keluar begitu saja mungkin selama ini hanya bisa dipendam. Sekaranglah saatnya mengeluarkan pendapat yang saling berseberangan.
Bersambung
Bab 3.
Enam bulan yang lalu ...
"Niki, mulai besok Mas mencari tambahan menjadi security di sebuah pabrik," kata Mas Haris setelah pulang jualan.
"Loh, jadi kios kamu gimana?" tanyaku heran.
"Buka kios tetap seperti biasa karena Mas kebagian dinas malam. Mulai pukul delapan malam hingga pukul enam pagi," jelasnya.
"Sekarang kios kita sedang sepi, omset semakin turun. Sedangkan kebutuhan hidup semakin bertambah," alasannya.
Waktu itu aku nyambi berjualan online khusus kosmetik dan hijab syar'i. Tetapi sejak covid melanda negeri ini, semua orang banting stir membuka usaha online. Otomatis omset jualan menurun dan daya beli pun semakin berkurang.
Tetapi setelah enam bulan berlalu, Mas Haris mulai merasa kelelahan. Beliau sering sakit efek terkena angin malam. Walaupun bisa tidur ditempat jaga tapi suasananya berbeda. Tak senyaman di dalam rumah.
"Kalau sedang sakit, gak usah pergi dinas. Biar aku yang telepon Bos security kamu, Mas!" pintaku waktu beliau mengeluh sesak napas.
Mas Haris memberikan nomor ponsel Bos nya. Langsung saja kuberitahukan kondisi Mas Haris. Keesokan harinya aku fotokan surat dari Dokter ke nomor Bos tersebut.
"Hm, bagaimana membayar spp mereka. Mas sedang gak punya uang. Apalagi berobat ke Dokter," ucapnya pelan.
"Ya sudah, biar aku yang bayar biaya Dokter. Sekarang kita berobat sebelum penyakit kamu semakin parah," ajakku mengalah.
Mas Haris tak lagi membantah ucapanku. Ia hanya pasrah sambil mendorong motornya keluar halaman.
"Biar aku yang membawa motor. Kita berobat ke klinik langganan saja. Biar pun mahal tapi kita sekeluarga serasi berobat disana," jelasku.
"Terus percuma dong kita punya kartu kesehatan kalau gak digunakan. Di klinik itu bayarnya gratis," protesnya sambil naik ke boncengan.
"Nyatanya sering berobat kesana, sampai tiga kali bolak-balik gak sembuh juga. Ujung-ujungnya kita kembali lagi ke klinik langganan ini," cecarku.
"Hm, iya sih." Mas Haris tak lagi protes.
Lima belas menit kemudian ...
Motor masuk ke halaman klinik. Dulu aku juga melahirkan disini. Dimas dan Danu sedangkan Diah lahir dikampung ayahnya. Tak menunggu lama giliran Mas Haris disuruh masuk ke ruang periksa.
Setelah mendengarkan semua keluhan pasien, Mas Haris mulai mengalami serangkai pemeriksaan. Aku sudah menduga sebelum, Mas Haris divonis sesak napas akut.
*****
Enam bulan lamanya Mas Haris harus rutin meminum obat dari Dokter. Masih untung bisa menebus resep lewat puskesmas. Jadi bisa menggunakan kartu kesehatan tanpa membayar sepeser pun.
"Mas, kamu udah dengarkan hal apa saja yang jadi pantangan selama mengkonsumsi obat dari Dokter, kan?" tegasku.
"Iya," jawabnya pelan.
Akan tetapi kenyataannya tak sesuai ekspektasi. Mas Haris mematuhi aturan itu hanya sebulan. Beliau kembali ke kebiasaan buruknya yaitu candu rokok dan kopi lagi.
Aku hanya bisa mengelus dada dan tepuk jidat melihat kelakuannya. Ketiga anakku sudah mengingatkan aku, tak usah mendengarkan lagi keluhan ayahnya. Biarkan saja seperti itu yang penting ambilkan saja obatnya setiap bulan.
"Mbak, kata guru Dimas kalau konsumsi obat jangka panjang bisa merusak kerja ginjal manusia," ucap Dimas mengingatkan.
"Iya, Ayah pasti sudah tahu resikonya. Tapi dia sendiri yang ingin seperti itu. Kita hanya mengingatkan. Selanjutnya ya terserah karena beliau yang menjalani hidupnya," jelas Diah.
"Memang susah menasihati manusia yang egois. Beliau sendiri yang membuat aturan tanpa mau mendengarkan nasihat kita," sahutku sambil menghela napas.
Setelah tak bekerja dinas malam lagi, barulah Mas Haris cerita tentang kondisi kios, modal yang kian habis serta uang yang dibawa lari temannya itu.
"Kamu menolong orang yang salah, Mas. Sudah jelas uang itu dibuat teman kamu untuk modal judi malah kamu suport, berharap dia menang terus membayar dua kali lipat sesuai perjanjian. Hari gini soal uang gak ada pandang saudara apalagi hanya teman, Mas," cecarku penuh emosi.
"Awalnya teman Mas membayar rutin setiap malamnya. Tapi lama kelamaan dia sering kalah lalu tak datang lagi ke kios untuk membayar. Sementara hutangnya sudah Mas bayar lebih dahulu ke pengepul judi itu," jelasnya putus asa.
"Memangnya kalian perjanjian hitam di atas putih?" tanyaku.
"Enggak ada. Kami hanya modal percaya aja. Karena sudah berteman sejak lama. Hampir dua puluh tahun teman Mas itu nongkrong di kios. Kadang datang bersama temannya," jelasnya.
"Memangnya apa pekerjaan teman kamu itu?" selidikku.
"Beliau seorang intel polisi alias tekab," jawabnya pelan.
"Pasti kamu takut menagih hutang ke dia kan?" ejekku.
"Mas udah tiap hari telepon dan chat ke nomor dia, tapi gak diangkat dan dibalas. Nomornya masih aktif hingga sekarang. Sampai ponsel Mas hilang di kios sebulan yang lalu. Sejak itulah Mas berusaha mengikhlaskan uang itu."
"Terus kamu belum sepenuhnya ikhlas dan itu membuat kesehatanmu menjadi taruhannya. Berpikir tiada henti tanpa ada solusi sama sekali. Sementara hutangnya setengah dari modal kios kamu," cecarku.
"Makanya Mas menyerah dan meminta kamu membantu mencari nafkah untuk membiayai kebutuhan keluarga kita," ucapnya lirih.
Sekarang sudah jelas, semua yang terjadi karena kebodohan sendiri. Berharap dapat untung besar dari cara yang haram. Akibatnya malah diri sendiri yang hancur.
*****
"Hai Jeni, apakabar?" sapaku ke sohib lewat pesan singkat.
"Hai Niki, tumben nih. Aku kangen lo," sahutnya dengan emoji peluk. Kebetulan saling online, kami pun saling berbagi kabar.
"Udah sebulan ini aku buka warung di depan kios suami," ucapku.
"Oh pantesan kamu udah jarang online di medsos, ya Niki," balasnya.
"Iya, kalau sempat mampirlah. Nongkrong di warungku asiik lo," jelasku sambil promosi.
"Oke, aku atur waktu dulu. Entar aku kabari kalau mampir kesana," jawabnya.
"Oh iya, aku ada rencana untuk promo di gofo** untuk nambah omset," balasku.
"Wah, bagus itu. Kamu sepertinya hoki di usaha dagang deh," pujinya.
"Iya do'ain aja lancar rejekinya. Semua demi memenuhi kebutuhan hidup. Kios suamiku sedang sepi pembeli makanya aku bantu untuk mencari tambahan," jelasku.
"Oh sekarang kondisinya seperti itu, ya. Aku turut prihatin ya, Niki," balas Jeni dengan emoji peluk.
"Oh iya, gimana kabarnya Wira?" tanyaku.
"Hm, udah hampir sebln kami gak nongkrong bareng. Kamu masih sering chatingan sama dia?" selidik Jeni.
"Sejak aku membuka warung udah gak pernah chatingan lagi," jelasku.
"Hm, ingat ya pesanku, hanya penyegaran aja berteman dengan Wira. Kalau kamu seriusin pasti hasilnya nyakitin hati sebab kekasih bayangannya banyak tersebar dimana-mana," ucap Jeni dengan emoji hantu yang sedang mengejek.
"Ha-haa, kamu kalau bicara suka benar deh," balasku tak mau kalah dengan emoji tertawa ngakak.
"Jadi dagang online kamu gimana, Niki, masih lanjut atau enggak lagi?" tanya Jeni.
"Sudah enggak lagi. Aku mau fokus di warung aja," jawabku.
"Iyalah, hasil di warung bisa dapat setiap hari. Beda dengan dagang online yang hasilnya tak menentu," balasnya.
Sedang asik chating, tiba-tiba ada pesan masuk hanya nomor saja tanpa nama. Kulihat ke layar ponsel, aku hapal betul dengan nomor tersebut. Segera ku akhiri percakapan dengan Jeni. Lalu membaca pesan yang baru saja masuk ke aplikasi berwarna hijau.
Bersambung