Bab 1

Dean dan Kensky sedang duduk di ruang tamu sambil menunggu anak semata wayang mereka pulang. Setelah melahirkan putri pertama yang bernama Clare Agatha Stewart delapan belas tahun yang lalu, Kensky divonis mengidap penyakit yang apabila disembuhkan sudah tidak bisa hamil lagi. Hal itu menyebabkan Kensky frustasi. Tapi berkat dorongan dan semangat yang diberikan sang suami dan anak semata wayangnya, Kensky bisa melewati masa-masa itu dan menjalani hidup sebaik mungkin. Ia bahkan menganggap hal itu tidak pernah terjadi dan merasa bahwa dirinya memang tidak ingin menambah anak dengan alasan tidak ingin cintanya kepada Clare terbagi. Dan sekarang dengan wajah penuh ketegangan ia dan suaminya sedang membicarakan soal masa depan sang anak.

"Kau yakin dia mau menerima keputusan ini?" tanya Kensky kepada Dean.

Dean yang duduk di sampingnya langsung tersenyum sambil menggenggam tangan istri tercintanya. "Usia Clare sudah delapan belas tahun dan sebentar lagi dia akan duduk di bangku Universitas. Jadi, sudah saatnya dia tahu soal ini. Aku takut kalau kita menunda untuk memberitahukannya, yang ada dia akan jatuh cinta kepada pria lain."

"Selamat malam," sapa Clare dari arah depan. Ia segera menghampiri kedua orangtuanya kemudian mencium mereka secara bergantian. Gadis yang rambut panjangnya berwarna cokelat kehijauan itu mengambil posisi di samping Kensky. Sambil memeluk sang ibu ia berkata, "Mami dan Papi kenapa belum tidur, ini kan sudah larut?"

Kensky hanya tersenyum sayang sambil mengusap belakang kepala Clare saat gadis itu memeluknya.

Dean berkomentar. "Ada hal penting yang ingin kami sampaikan, itu sebabnya kami belum tidur dan menunggumu pulang."

Saat itulah Clare bangkit dari tubuh Kensky dan memasang wajah datar. "Hal apa itu, Pi?"

Dean dan Kensky saling menatap sesaat sebelum akhirnya kembali menatap Clare.

"Maafkan kami jika hal ini membuatmu terkejut. Tapi percayalah, rencana ini sudah kami siapkan jauh sebelum mami dan papi menikah," kata Dean.

Clare semakin bingung. Ia menatap kedua orangtuanya secara bergantian dengan mata abu-abunya yang diwariskan oleh sang ayah.

"Setelah mendengar ini papi harap kau tidak keberatan atau pun menolaknya, Clare."

Kensky hanya tersenyum. Sedangkan Clare yang semakin penasaran terus mengerutkan alis untuk menunggu penjelasan.

"Kami telah menjodohkanmu dengan seseorang," kata Dean.

Clare terkejut. "Dijodohkan? Oh, Papi ... kenapa harus dijodohkan? Memangnya Papi pikir tidak akan ada laki-laki yang mau kepadaku, hah? Anakmu ini cantik, Pi. Tidak perlu dijodohkan pun aku pasti akan laku. Lihat, wajahku perpaduan antara kalian berdua. Rambutku indah seperti rambut Mami, mataku juga indah seperti mata Papi. Apa yang kurang, hah? Tubuhku tinggi seperti Papi dan seksi seperti Mami."

Kensky tertawa dan berkomentar. "Bukan begitu, Sayang. Kamu jangan salah paham, ya? Kami menjodohkanmu dengannya bukan berarti menganggap dirimu tidak akan laku. Perjodohan ini sudah terjadi sejak pesta pernikahan kami berlangsung, dan jauh sebelum kau hadir di perut mami."

Mulut Clare terbuka lebar mendengarnya. Sedangkan Dean yang melihat ekspresinya pun ikut tertawa.

Kensky menjelaskan. "Saat pesta pernikahan kami di adakan, teman papi itu datang bersama anaknya yang masih sangat kecil. Usia kalian hanya selisih satu tahun, dan mami sendiri yang langsung memutuskan untuk menjodohkan anak itu dengan anak kami jika nanti mami melahirkan anak perempuan."

Clare nyaris tertawa. "Untung Tuhan mendengarkan doa Mami. Coba kalau tidak, pasti anak Mami dan Papi laki-laki dan perjodohan itu tidak akan terjadi."

Kensky tersenyum sambil melirik suaminya yang juga sedang tersenyum. "Anak itu sangat tampan, Sayang. Dia anak pengusaha kaya, sama seperti papi. Hanya saja sekarang ini mereka ada di Amerika."

Clare terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata. "Aku percaya kepada kalian. Apa yang sudah kalian putuskan itu berarti hal yang terbaik buatku. Jika menurut Mami dan Papi laki-laki itu yang terbaik buatku, aku akan menerima perjodohan ini."

Kensky dan Dean terkejut dan bahagia. Saking bahagia mereka saling bertatap dengan senyum yang sangat lebar.

"Tapi dengan satu syarat," balas Clare cepat.

Ekspresi Dean dan Kensky langsung berubah.

"Kau ingin bernegosiasi dengan papi?" tanya Dean.

Clare tertawa. Ia merasa lucu saat melihat ekspresi di wajah kedua orangtuanya yang kini berubah kusut. "Bukan, Papi. Kalau pun aku ingin bernegosiasi, yang ada aku akan kalah dari Papi."

Dean tersenyum. "Kalau begitu apa? Katakan, apa syaratnya?"

Clare menatap wajah Dean dan Kensky secara bergantian. "Aku mau dijodohkan dengannya, tapi aku ingin bertemu dengannya setelah lulus kuliah. Aku tidak ingin melihatnya sekarang, karena aku tidak ingin hal itu akan mengganggu pikiran dan sekolahku."

Kensky meledek. "Anak mami takut jatuh cinta, ya?"

Wajah Clare lagi-lagi memerah. Ia tak sanggup menjawab akibat rasa malu yang ia rasakan.

"Tidak masalah," jawab Dean, "Lagi pula memang itu yang kami inginkan. Papi dan mami sudah membicarakan hal itu dengan keluarganya, bila mana kami akan mempertemukan kalian setelah kau lulus kuliah."

Clare tersenyum sayang. "Aku percaya pada Mami dan Papi, karena kalian adalah orang tua yang paling baik yang pernah kutemui."

Kensky memeluknya. "Kami sangat mencintaimu, Nak. Sebagai orang tua kami ingin yang terbaik untukmu."

"Aku percaya, Mami. Aku percaya," balas Clare.

"Kalau begitu pembicaraan selesai," kata Dean, "Hanya itu yang ingin kami sampaikan kepadamu."

Clare berdiri dan mencium pipi kedua orangtuanya. "Aku juga harus istirahat, besok hari pertama orientasi studi dan pengenalan kampus. Jadi aku tidak boleh terlambat, selamat malam."

"Malam, Sayang," balas Kensky. Ia dan Dean masih di posisi yang sama sambil menatap tubuh Clare ketika gadis itu menaiki tangga, "Oh, Dean, aku senang mendengarnya."

Dean mendekati sang istri lalu memeluknya dengan erat. "Besok aku akan menelepon mereka dan memberitahukan kabar baik ini."

Saat ini keluarga Stewart sudah pindah di Eropa. Karena Mrs. Stewart ingin menghabiskan sisa umur di tanah kelahirannya, mereka memutuskan untuk pindah ke Eropa dan membiarkan perusahan mereka di bawah naungan Eduardus, ayah Kensky. Tapi bukan berarti laki-laki itu bebas dan melakukan apa saja yang ia inginkan, Dean justru menyuruh orang untuk mengawasinya. Saat ini meskipun ada tangan kanan yang menjadi wakil pimpinan di kedua perusahannya, Dean tetap menjadi CEO dan sah menjadi pewaris tunggal Kitten Group se Eropa dan Amerika.

***

Keesokan hari Clare berlari dengan napas terengah-engah di pagi hari. Karena lupa memasang alarm sebelum tidur, ia akhirnya terlambat ke kampus dan orang terakhir yang muncul di saat semua mahasiswa baru sedang menerima penyampaian dari kakak tingkat.

Tanpa rasa bersalah Clare segera bergabung dengan tim-nya. Tapi saat ia hendak menerobos ke dalam cokolan yang sedang berdiri dengan kostum masing-masing, suara laki-laki dengan keras meneriaki Clare.

"Hei, kamu! Siapa yang menyuruhmu berbaris, hah?"

Teriakan laki-laki itu mengundang semua mata untuk menatap gadis cantik bertubuh tinggi yang ada di samping mereka.

Clare terperanjat. Dengan jantung berdetak cepat ia menatap sosok yang berdiri di depan dengan pakaian putih dipadu almamater abu-abu.

"Kemari kau!"

Semua mata mengikuti langkah Clare. Ada yang menatap kasihan, ada juga yang menatap iri karena kecantikannya. Meski memakai kaos kaki dua warna dan rambut diikat dua serta tali yang menjuntai di dada, Clare tetap terlihat cantik dan menarik.

"Siapa yang menyuruhmu masuk ke barisan, hah?" ketus laki-laki yang merupakan wakil panita dari kegiatan tersebut. Ia menatap sosok tinggi di sampingnya, "Ketua, kita apakan gadis ini? Sepertinya dia tidak tahu diri. Sudah terlambat, tapi tidak merasa bersalah."

Wajah Clare pucat. Ia menatap sosok tampan berambut cokelat yang merupakan ketua panita dari kegiatan tersebut.

"Suruh bersihkan toilet saja, Ketua!" kata gadis yang merupakan sekertaris kegiatan. Ia berdiri di samping wakil ketua dan menatap Clare dengan pandangan tidak suka.

Laki-laki yang merupakan ketua itu diam sesaat sambil menatap Clare. "Siapa namamu, Nona?"

Karena nama sekolahnya adalah Agatha, Clare dengan cepat menyebutkan nama itu sambil menatapnya. "Namaku Agatha."

Laki-laki itu mengulurkan tangan. "Kenalkan, namaku Reagan."

Semua mahasiswa senior itu bersorak seakan meledek. Tapi Clare sama sekali tidak membalas uluran tangannya dan tak peduli ledekan mereka.

Bersambung___

Bab 2

Reagan tersenyum samar. Karena cukup lama tangannya melayang di udara tapi diabaikan, ia kembali menarik tangannya lalu berdeham. Ini pertama kali baginya diabaikan oleh seorang perempuan. Jika biasanya para mahasiswi akan berbondong-bondong minta berkenalan dengan mahasiswa yang paling top di kampus itu, Clare justru mengabaikannya.

"Kurang ajar sekali kau. Ketua ingin berkenalan, kau malah mengabaikannya," kata si wakil yang bernama panggilan Luke.

Clare sama sekali tidak merasa takut. Ia terus berdiri dan menatap wajah mereka dengan tatapan tanpa ekspresi.

Reagan kembali tersenyum sambil menatap Luke. "Kalian lanjutkan saja, gadis ini biar aku yang urus. Kau, ikut aku," katanya kepada Clare.

Gadis itu pun menurut dan mengekor di belakang Reagan. Sedangkan Luke yang bertugas menyampaikan pengumuman akhirnya melanjutkan kembali kegiatan bersama sekertaris yang kini masih menatap Reagan dan Clare dengan tatapan cemburu.

"Bisa dijelaskan kenapa kau terlambat?" tanya Reagan begitu langkahnya terhenti di bawah pohon kecil di area kampus. Ia mengajak Clare sedikit menjauh dari anggota lain, agar bisa melanjutkan niatnya.

"Maaf, Kak, aku terlambat bangun."

Reagan terkejut. "Terlambat bangun? Memangnya kau tidak punya jam di rumah?"

Clare menunduk salah. "Maaf, Kak, tapi aku lupa memasang alarm."

Reagan nyaris tertawa. Entah kenapa ia merasa Clare adalah mahasiswi terlucu yang pernah dilihatnya. Dan ini pertama kali baginya merasa nyaman dalam berinteraksi dengan siswa baru. "Karena sesuai aturan bagi siapa yang terlambat akan mendapat hukuman, kau mau kan mengelilingi kampus sebanyak seratus kali?"

Zet!

"Apa, seratus kali?" Clare terkejut. Dengan cepat ia menatap Reagan sambil melotot, "Kenapa tidak sekalian saja Anda memberiku racun biar mati di sini."

"Tapi itulah aturannya. Lagi pula kau kan hanya berjalan, aku tidak akan menyuruhmu lari."

Clare menoleh ke arah lain di mana teman-temannya sedang mendapat arahan dari Luke.

"Agatha?" panggil Reagan.

Gadis itu menoleh. "Iya?"

"Bagaimana, kau siap menjalani hukumannya?"

Dalam hati Clare bertanya-tanya. "Apakah dia sengaja mengajakku ke sini untuk memberikan ganjaran ini? Kenapa aku merasa ragu soal aturan itu, ya?"

Reagan berdeham. "Baiklah, kalau kau tidak mau seratus kali, aku akan___"

"Iya, aku mau!"

Reagan tersenyum. "Kalau begitu tunggu apa lagi? Pergilah sebelum mereka menambah lagi hukumanmu."

Clare tak berkata apa-apa. Dengan cepat ia berbalik dan mulai menjalani hukumannya. Sedangkan Reagan yang masih berdiri di posisinya terus menatap Clare dengan pandangan sayu.

"Agatha ... nama yang cantik, sama seperti orangnya."

***

Dengan napas terengah-engah Clare akhirnya selesai menjalani hukumannya. Tak ingin mendapat hukuman lagi yang lebih berat, Clare mencari Reagan yang merupakan ketua panita untuk melaporkan bahwa hukumannya sudah selesai. Namun saat ia hendak mendekati lapangan kampus, tiba-tiba sosok dari belakang menariknya.

Zet!

Dilihatnya wajah gadis cantik yang tadi meneriakinya di lapangan. Gadis itu adalah sekertaris panitia di kegiatan tersebut. "Maaf, Kak ... ada apa, ya?" tanya Clare sopan.

Gadis yang bernama Chloe itu menatap sadis. "Aku hanya ingin memperingatkan, jangan pernah kau dekati Reagan, ya?"

Karena tubuhnya lebih tinggi dari Chloe, Clare sedikit menunduk dan berkata, "Mendekati? Siapa yang mendekati dia? Aku kan hanya menuruti perintah dan menjalani hukumannya."

"Aku tidak peduli. Kalau sampai aku melihatmu bersama Reagan lagi, lihat saja ...." Dengan wajah kusut dan merah Chloe meninggalkan Clare sendirian.

Clare merasa bingung. Tapi karena perutnya sudah lapar dan tenggorokannya kering, ia segera bergerak untuk mencari Reagan. Setelah beberapa menit mencari-cari, ia akhirnya menemukan Reagan.

Zet!

Dilihatnya Chloe sedang berdiri sambil menggandeng lengan Reagan. "Oh, pantas saja dia cemburu. Ternyata itu pacarnya," Clare tak peduli. Dengan langkah cepat ia mendekati para senior-senior itu lalu berkata, "Permisi, Ketua. Hukumanku sudah selesai."

Reagan yang terkejut karena Clare tiba-tiba muncul segera melepaskan tangan Chloe dan menjauhinya.

Chloe kesal. Dengan posisi berdiri di belakang Reagan ia menatap Clare dengan pandangan sinis.

"Baiklah," kata Reagan lalu melirik jam tangan, "Karena tadi kau tidak mengikuti kegiatan di lapangan, sekarang kau bersihkan semua sampah-sampah itu dan buang ke tempatnya."

Clare terkejut. Ia menatap ke arah lapangan di mana ada sampah-sampah kertas yang berhamburan.

"Setelah membersihkan itu kau boleh istirahat," kata Reagan lagi.

Luke menahan tawa. Sedangkan Chloe yang tadi menatap sinis, kini tersenyum lebar karena Clare mendapat hukuman lagi.

Dengan terpaksa Clare segera menjauh dan menjalankan tugasnya. "Kalau bukan anak baru, kalian pikir aku mau melakukan ini, hah? Aku bisa saja melaporkan kalian kepada papiku. Tapi sayangnya aku tidak seperti itu."

Reagan yang masih di posisi sama kini duduk sambil menatap Clare. Ia merasa apa yang dilihatnya saat ini adalah pemandangan yang paling indah dalam hidupnya.

"Hei!" Suara perempuan dari arah belakang mengejutkan mereka bertiga.

Chloe yang lebih dulu menoleh segera tersenyum dan menyapanya. "Bendahara, kenapa tadi tidak ada?"

Gadis berambut hitam panjang itu tersenyum sambil melirik ke arah Clare. "Tadi ada urusan sedikit dengan ibuku, makanya aku terlambat datang. Anak baru, ya?"

"Iya," balas Luke, "Dia datang terlambat, jadi ketua memberikannya hukuman. Dia baru saja mengelilingi lapangan seratus kali dan sekarang disuruh membersihkan lapangan."

Chloe tertawa mengejek.

Gadis yang merupakan bendahara dan bernama Ansley itu menatap serius ke arah lapangan. "Sepertinya aku mengenalnya."

Mendengar perkataan Ansley membuat Reagan terkejut. Ia menatap gadis itu dan berkata, "Namanya Agatha, kau mengenalnya?"

"Iya, sepertinya aku mengenalnya. Sebentar, aku akan menghampirinya. Aku penasaran, karena sepertinya aku sangat mengenalnya."

Chloe yang berdiri di samping Reagan melirik ke arahnya. "Sepertinya kau sangat mengingat nama gadis itu," katanya dengan nada kesal.

Reagan tak menjawab. Ia hanya melirik Chloe kemudian kembali menatap Clare dan Ansley.

"Sepertinya benar, Ansley mengenalinya," kata Luke yang kebetulan melihat kedua wanita itu berinteraksi.

Reagan tersenyum lalu berdiri. "Luke, ayo kita pergi."

Chloe terkejut. "Kalian mau ke mana? Aku ikut!"

"Suruh dia diam di situ, Luke," kata Reagan.

Pemuda itu menurut kemudian mencegah Chloe. "Kata ketua kau tidak usah ikut."

"Kenapa? Aku kan panitia juga."

"Sebaiknya kau turuti saja perintah ketua. Kau tahu kan apa yang akan dia lakukan kalau kau melanggarnya?"

Chloe mengendus. Dengan terpaksa ia pun diam sambil menatap Luke yang kini berlari mengejar Reagan. "Aku tidak akan menyerah, Reagan. Aku akan terus berusaha untuk mendapatkanmu."

***

"Akhirnya," kata Clare setelah selesai membersihkan lapangan. Ia segera meninggalkan tempat itu dan pergi ke toilet untuk mencuci tangan.

"Clare!"

Suara perempuan dari belakang mengejutkannya. "Kak, Ansley."

Gadis itu tertawa. "Jangan panggil aku dengan sebutan itu, Clare. Panggil Ansley saja."

Clare melirik ke arah pintu. "Jangan, kau kan seniorku. Apalagi aku masih anak baru. Yang ada teman-teman panitiamu akan menghukumku, jika tahu aku memanggilmu seperti itu."

Ansley tersenyum. "Setelah kegiatan ini kau tidak usah terlalu menggubris mereka. Apalagi Chloe, dia memang sedikit jahat kalau ada perempuan yang mendekati Reagan."

Clare tampak berpikir. "Chloe? Maksudmu yang sekertaris itu?"

"Iya. Dia sangat menyukai Reagan, tapi Reagan terus menolaknya."

"Oh, aku pikir mereka berpacaran."

Ansley menggeleng. "Tidak, hanya saja dia selalu bersikap seolah-olah mereka sedang berpacaran. Dia sengaja melakukan itu, agar tidak ada yang mendekati Reagan."

Clare tak menjawab. Ia hanya membuka keran air lalu membilas tangannya.

Ansley menatapnya. "Apa kau menyebutkan nama tengahmu kepada Reagan?"

Clare meraih tisu dari tempatnya. "Iya, tadi pagi sebelum memberiku hukuman dia menanyakan namaku. Jadi karena Agatha adalah nama sekolahku aku menyebutkannya seperti itu."

Ansley tersenyum. "Seandainya dia tahu kau anak pemilik kampus ini, pasti dia tidak akan berani menghukummu seperti tadi."

Mata Clare membulat. "Kau tidak memberitahukan hal itu kepada mereka, kan?"

"Tidak. Lagi pula kalau mereka tahu justru lebih bagus, bukan?"

"Kumohon, Ansley, jangan sampai ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Aku ingin mereka mengenalku sebagai mahasiswi biasa di kampus ini, oke?"

"Kenapa? Bukankah lebih bagus kalau mereka tahu latar belakangmu? Itu akan membuatmu populer di kampus ini, Clare."

"Tidak! Aku tidak mau, Ansley, aku tidak mau mereka tahu. Aku tidak mau mereka mendekatiku hanya karena aku anak siapa."

Gadis itu tersenyum sayang. "Baiklah. Jadi yang tahu ini hanyalah aku?"

"Dan sampai ada lagi yang tahu selain dirimu, berarti kaulah yang memberitahukannya, Ansley."

Mereka berdua pun tertawa hingga memenuhi ruangan.

Bersambung___

Bab 3

"Setelah ini kau mau ke mana?" tanya Ansley kepada Clare.

"Aku mau ke kantin, perutku lapar."

Ansley tersenyum lagi. "Ini aku bawakan makanan dan minuman untukmu," ia menunjukan sebuah kantong berisi paper bag dan minuman cup rasa cokelat, "Tapi sebelumnya aku ingin memberitahu kalau makanan ini bukan aku yang membelinya."

Clare terkejut. "Kalau bukan kau, lalu siapa?"

"Reagan," jawab Ansley sambil tersenyum lebar, "Dia menemuiku tadi dan menyuruhku untuk memberikan ini kepadamu. Sepertinya dia menyukaimu, Clare."

Clare menatap ragu. "Dari mana dia tahu kau mengenaliku?"

"Aku yang mengatakannya. Sebenarnya dia ingin memberikan ini secara langsung padamu, tapi takut kau akan menolaknya," ia memberikan bungkusan itu kepada Clare, "Makanlah. Kau sudah lapar, kan?"

"Tidak, aku tidak mau."

Ansley terkejut. "Kenapa?"

"Jika aku menerima makanan ini, itu artinya aku memberikan lampu hijau kepadanya. Aku tidak mau memberikannya harapan, Ansley. Baik padanya maupun pria di kampus ini."

"Clare," rengek Ansley, "Ini hanya bentuk terima kasih karena kau mau menjalani hukumannya tanpa banyak bicara, terimalah."

"Kalau begitu kenapa kau berpikir dia menyukaiku?"

Ansley tersenyum. "Aku sudah mengenalnya, Clare. Kami bersahabat dan aku sangat tahu Reagan seperti apa. Ini pertama kalinya dia memberikan penghargaan bagi mahasiswi baru di kampus ini. Jadi kumohon terima dan makanlah, kalau tidak dia akan marah padaku."

"Tidak, Ansley. Sebaiknya kau saja yang makan dan bilang, bahwa aku sudah memakannya."

Gadis itu tertawa. "Kau gila, ya. Dia itu punya banyak mata-mata di sini. Kumohon, Clare. Sekali saja, aku janji. Berikut kalau ada lagi yang akan dia perintahkan dan menyangkut denganmu, aku akan langsung menolaknya."

Clare diam cukup lama. "Baiklah. Jika saja kau bukan temanku, aku tidak akan mau menerima pemberian ini."

Ansley tersenyum lebar. "Sungguh?"

"Iya."

"Kalau begitu, ayo, aku akan menemanimu makan siang."

Mereka pun meninggalkan toilet dan mencari tempat yang cocok untuk makan. Karena di kampus itu ada taman yang disediakan untuk mereka bersantai, Ansley mengajak Clare ke sana dan mereka sama-sama menikmati makan siang.

"Bisa aku tahu kenapa kau tidak mau memberi harapan kepadanya? Dia itu anak paling populer di kampus ini, Clare. Selain tampan, dia juga sangat pintar."

Clare hanya sibuk mengunyah. Aktivitas tadi pagi membuat perutnya kosong dan dengan lahap menghabiskan dua burger yang diberikan Ansley tadi. Setelah menelan sisa makanan di mulut dan menghabiskan minumannya, ia membersihkan mulut lalu menatap temannya. "Aku sudah dijodohkan, Ans."

Zet!

Gadis itu terkejut. "Kau sudah dijodohkan?"

"Benar, itu sebabnya aku tidak mau memberi harapan kepada orang lain. Aku akui Reagan memang sangat tampan, dan perempuan mana yang tidak akan jatuh cinta melihat ketampanannya. Tapi aku minta maaf, Ans. Aku tidak bisa, meskipun aku juga sedikit tertarik kepadanya."

Ansley cukup syok mendengar perkataan Clare. Tapi karena tahu bahwa gadis itu sangat keras kepala dan tidak akan menang melawannya, ia tidak akan memaksakan sahabatnya itu untuk membalas perasaan Reagan. "Pasti dia akan kecewa," katanya pelan.

Clare hanya tersenyum dan melanjutkan makannya.

***

Di sebuah apartemen mewah dan mahal, sosok Reagan sedang berbaring di kamar dengan ekspresi bahagia. Bayang-bayang wajah cantik Clare kini tampak dalam benaknya.

"Dia menerima burger dariku, apa itu artinya dia menerima cintaku?"

Drtt... Drtt..

Bunyi getaran ponsel membuat Reagan terkejut. Dengan cepat ia menoleh dan menatap benda yang ada di sampingnya. Dilihatnya nama sang ayah sebagai pemanggil.

"Halo, Dad?"

"Kau sibuk?"

Reagan bangkit dari ranjang lalu berjalan menuju balkon. "Tidak. Ada apa, Dad?"

"Kau masih ingatkan perempuan yang daddy ceritakan kepadamu?"

Ekspresi Reagan berubah malas. "Iya, aku ingat. Perempuan yang daddy jodohkan denganku, kan?"

Terdengar keras tawa sang ayah dari balik telepon. "Bagus kalau kau masih ingat. Nanti kalau ada kesempatan, daddy akan mengatur jadwal untuk pertemuan kalian."

"Dad, bisakah kau peduli sedikit dengan perasaanku? Apa dulu daddy dan mommy menikah karena dijodohkan?"

"Jangan membantah, Reagan, ini semua demi masa depanmu. Kau lupa kalau kau sudah menyutujui perjodohan ini, hah? Daddy harap kau tidak akan mempermalukan daddy begitu pertemuan itu akan berlangsung."

Tut! Tut!

Sang ayah memutuskan panggilan dan hal itu membuat Reagan kesal. Ia mengendus kemudian membanting ponselnya hingga pecah.

Brak!

"Kenapa orang tua selalu egois? Kenapa mereka selalu mengatakan itu semua demi masa depanku, tapi mereka tidak pernah memikirkan perasaanku?" Reagan kembali ke atas ranjang, "Aku tidak mau menikah dengan gadis itu. Aku tidak mau menikah dengannya, aku hanya ingin menikah dengan Agatha."

Tanpa berpikir panjang, Reagan akhirnya menyesal karena ponselnya pecah. Ia ingin mengeluh kepada sang ibu dan kakak perempuannya, tapi tidak ada lagi alat komunikasi untuk menyambungkan mereka. Merasa uang tabungannya cukup, ia segera beranjak dan keluar dari kamar.

Brak!

Reagan membanting pintu dan meninggalkan apartemen.

Sang supir yang selalu standbye pun segera mengejarnya.

"Kita ke toko celular, aku ingin membeli ponsel," titah Reagan begitu masuk ke dalam lift.

Sang supir sekaligus pengawalnya pun segera menunduk paham. Dan begitu pintu lift terbuka, mereka sedikit berlari saat menuju ke parkiran.

Sang supir pun segera menyalakan mesin mobil dan membawa Reagan menuju tempat tujuannya.

"Aku harus minta tolong mommy atau kak Milly. Aku tidak mau menikah dengan gadis pilihan daddy."

Mereka pun tiba di pusat perbelanjaan di pusat kota. Karena tujuannya ke sana hanya untuk mengganti ponselnya yang rusak, Reagan segera masuk dan mencari benda yang lebih bagus dari sebelumnya. Tanpa banyak pilih Reagan langsung menyebutkan tipe dan warna yang ia sukai kepada penjaga konter. "Aku mau yang ini."

"Baik, ada lagi?"

"Tidak, itu saja."

"Totalnya seribu dolar."

Dengan cepat Reagan mengeluarkan dompet dari saku celana jins dan memberikan black card-nya kepada sang petugas.

Si wanita yang merupakan petugas di bagian kasir itu pun segera meraih black card dari tangan Reagan dan menggeseknya.

Zet!

"Maaf, Tuan, kartunya tidak bisa digunakan."

Mata Reagan melotot. "Apa? Kenapa bisa? Saldo di situ masih ada puluhan ribu dolar, Nona."

Wanita itu tak ingin membantah. Ia kembali menggesek kartu itu ke mesin yang sudah disediakan dan hasilnya masih sama. "Maaf, tapi sudah dua kali hasilnya masih sama. Sepertinya kartu Anda tidak bisa digunakan, Tuan."

"Tidak bisa digunakan? Kau pasti salah, tadi pagi kartu itu masih bisa digunakan."

"Maaf, Tuan, tapi itulah yang terjadi. Kartu Anda sudah tidak bisa digunakan."

Dengan emosi meluap-luap Reagan menatap sang supir, "Hubungi daddy, pasti daddy yang telah memblokir kartuku."

Sang supir menurut. Dengan cepat ia meraih benda dari saku jas kemudian menghubungi sang atasan. "Halo, Bos?"

"Ada apa, Willy?"

Pria itu melirik Reagan. "Tuan muda ingin bicara, Bos."

Reagan segera merampas ponselnya. "Dad! Kenapa kau memblokir kartu-ku? Aku sekarang ada di konter untuk melakukan transaksi, tapi kartuku tidak bisa digunakan. Kau membuatku malu, Dad."

"Oh, ternyata kau punya rasa malu? Baguslah kalau begitu."

"Dad, kumohon__"

"Coba seandainya kau di posisi daddy," sergah sang ayah dari balik telepon, "Kau sudah menjodohkan anakmu dengan anak temannya, tapi anakmu tidak mau. Apa kau tidak merasa malu?"

Reagan hanya diam.

"Jadi kalau memang kau tidak mau dijodohkan daddy tidak akan memaksa lagi, tapi jangan harap kau bisa mendapatkan fasilitasi dari daddy."

"Dad!"

"Kenapa? Mau menghancurkan apalagi kau di tempat itu? Daddy tidak akan menggantinya kalau kau merusak ponsel Willy."

Reagan tampak berpikir. Setelah apa yang ia putuskan akhirnya ia menjawab perkataan sang ayah. "Baiklah. Jika hanya dengan perjodohan itu Daddy bisa bahagia, aku akan menurut. Aku mau dijodohkan, tapi belum sekarang. Aku ingin bertemu dengannya tepat setelah kuliahku selesai."

"Kau yakin tidak ingin bertemu dengannya sekarang?"

Reagan tersenyum licik. "Aku ingin bertemu dengannya, tapi setelah aku menjabat menjadi CEO. Bukankah kata Daddy aku harus mapan dulu baru bisa menikah?"

"Kau sudah dijodohkan. Bertemu atau tidak pun kau tetap akan menjadi CEO, bukan?"

"Tapi aku ingin dia mengenal Reagan Harvest saat diriku sudah mapan, Dad."

"Baiklah, itu semua terserahmu. Asalkan tidak akan ada lagi perbantahan atau penolakan ketika pertemuan kalian itu berlangsung."

"Daddy tenang saja, itu tidak akan terjadi."

"Bagus. Kalau begitu mana Willy, daddy ingin bicara."

Reagan memberikan ponselnya. "Daddy mau bicara."

"Halo, Bos?"

"Aku akan mentransfer uang di rekeningmu untuk Reagan. Berapa total yang harus dia bayar?"

"Seribu dolar, Bos."

"Baik. Aku akan segera mengirimnya dan bilang kepadanya, besok aku akan segera memproses black card itu agar bisa segera digunakan."

"Baik, Bos."

Tut! Tut!

Willy menjauhkan ponselnya dari telinga. "Tuan besar akan mengirim uang untuk Anda, Tuan. Dan katanya nanti besok tuan besar akan memperbaiki kartu, Anda."

Reagan tersenyum licik. "Kita lihat saja, Dad. Siapa di antara kita yang lebih pintar."

Bersambung___

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED