Bab 1

Aku merasa aneh!

Entah kenapa ada sesuatu yang menggelitik di beberapa bagian tubuh, ini tak biasa. Rasanya aku menginginkan sesuatu yang aku tak mengerti.

Keringat menetes di kening, aku menyibak selimut dengan napas nyaris memburu, rasanya tubuhku mem @nas, bahkan sesuatu dalam tubuhku memberontak menginginkan sebuah, se# tuh @n?

Astaga, apa yang terjadi?

Aku mengigit bibir menahan rasa yang, entah. Ini belum pernah kurasakan sebelumnya. Apa yang terjadi?

Tanpa sadar aku memperhatikan kulkas berjalan itu, dia nampak serius di meja kerja di depan laptopnya, dia memakai kaca mata harus kuakui dia memang sempurna.

"Dia sangat sempurna, kau tidak penasaran bagaimana p@ n@snya dia di r@ nj@ ng?" Entah mengapa pertanyaan Ratna tadi siang berdengung di kepalaku.

"Kau tahu betul aku tidak tertarik dengan itu,"tukasku jengah.

"Aish, Ayu. Kau tidak penasaran bagaimana dahsyatnya ci # m@nnya?"

"Tidak,"jawabku santai.

"Aku curiga kau tidak normal, bahkan b3 rci# m@n saja kau tidak pernah. Cobalah sekali, lalu kau akan penasaran." Ratna masih berapi-api sedangkan aku hanya menggeleng kepala saja menanggapinya.

"Aku tidak akan mencobanya dengan dia. Kau tidak lihat bagaimana dia di kamar. Lagi pula pernikahan ini hanya demi sebuah restoran tepatnya sampai ibunya meninggal."

"Padahal aku penasaran sekali, biasanya pria seperti itu sangat pandai menyenangkan wanitanya di atas ra)@ nl# j@ ng."

Aku menelan ludah ngeri membayangkan perkataan Ratna tadi, sekarang perasaanku malah gelisah tak karuan.

Ini sangat memalukan! Rasanya t#b#hku mendambakan sesuatu, seperti, s3 nt#;h@ n?

Apakah malam ini aku akan menjadi m#r@h@;n?

"Ada apa?" Aku tersentak dia tiba-tiba mengalihkan pandangan dari laptop dan menatapku heran, aku tergagap dan menggeleng lalu kembali merebahkan tubuh di balik selimut.

Tidak berlangsung lama, aku tidak sanggup menahan rasa p@n@s yang memalukan mendera, dengan linglung aku bangun melangkah menuju kamar mandi.

Semoga saja ini bisa mengatasi, aku mengisi buthub dengan air dingin lalu merendamkan badan di sana tanpa menanggalkan dulu piyama tidur yang kukenakan.

Lama, dan dingin. Tetapi bukannya berkurang tubuhku semakin merindukan sesuatu yang tak jelas itu.

"Ayuni!"

Aku menggertakkan gigi tak mampu mengeluarkan suara.

"Ayuni, sudah setengah jam kau di dalam sana!"

Aku memejamkan mata, membiarkan suara itu terdengar berulang, semoga dia tidak menerobos masuk kamar mandi ketika aku berada di dalam sini seperti perjanjian yang kami sepakati.

"Aku baik-baik saja."

Akhirnya dengan perjuangan aku berhasil mengeluarkan kalimat itu, dan menimbulkan keheningan beberapa saat.

Dia tak boleh tahu betapa memalukannya aku. Pasti perasaan aneh ini akan segera berakhir, tidak lama lagi.

"Ayuni!"

Suara itu terdengar lagi kali ini disertai dorongan pintu kamar mandi yang langsung terbuka.

Aku tetap memejamkan mata dan menggertakkan gigi, ketika mendengar langkahnya terhenti di tepi buthup.

"Si @l!"#mpatnya entah pada siapa.

"Pergi,"usirku pelan.

Tanpa kusangka dia menarikku dari bhuthup membalut tubuhku dengan jubah mandi. Tetapi bukan itu yang mengejutkanku, reaksi tubuhku ketika berdiri cukup dekat dengannya. Dia hendak pergi  aku menahan tangannya hingga dia kembali menatapku. Kubalas tatapan itu hati-hati.

"Aku merasa aneh,"desisku m3ngg$git b1bir, hingga dia menatapku lama. Terdengar helaan napasnya tapi kemudian dia kembali menatapku lurus lalu tangannya terulur menyentuh wajahku.

"Aku, aku ingin seperti ini." Dengan tak tahu malu aku memegangi tangannya agar tetap di wajahku.

"Ayuni,"bisiknya perlahan dan wajahnya m3ndek@t ke wajahku.

Bab 2

Wajahnya begitu dekat, hinggaku merasakan helaan nap @snya yang maskulin, aku memejamkan mata kuat, bi/1 birku terasa kering.

"Aku, aku tak mengerti apa yang terjadi,"desisku berpegangan pada baju kaus yang menutupi dadanya.

Aku menenggadah menatapnya yang beku, tidak ada yang bisa dibaca si wajah itu, kemudian kujatuhkan lagi pandangan ke dadanya yang saat ini terasa begitu mengund @ng.

"Aku ...."

"Ayuni, ini sangat rumit tapi aku tidak bisa membantumu. G@nt1 bajumu, berusahalah tenang dan pergi tidur." Entah kenapa perkataannya begitu membuatku kecewa atau bahkan terl#ka, aku benar-benar menginginkannya saat ini. 

Menginginkannya dalam fersi yang aku sendiri bahkan tidak tahu.

"Katakan, apa yang terjadi padaku?" Suaraku kini ditelan tangis masih mencengkam dadanya kuat-kuat, tepatnya mencegah agar dia tidak pergi.

"Aku tidak tahu. Tetapi apapun yang kau inginkan cobalah untuk memikirkan Dimas, kau mencintainya, bukan?" Suaranya terdengar berat tapi mampu membuat sedikit kesadaranku menyeruak.

"Dimas, Dimas." Aku menggumamkan nama itu, tapi entah kenapa nama itu seakan tak berwujud, wajahnya hilang tak berbekas dari ingatan.

"Apakah aku begitu buruk?" Aku dengan tak berdaya menyandarkan kepala ke dadanya, terdengar jantungnya berdetak tak teratur, sejenak kunikmati itu lalu kemudian menenggadahkan kepala menatapnya yang juga sedang menatapku.

"Ayuni,"d3;s@hnya memb3lai teling@ku, ada nada menyerah di sana. Aku tidak mengerti dengan apa yang kumau, jadi ketika b1b1rny@ m3ny3ntuh b1b1rku aku gugup luar biasa. Tetapi seperti kata Ratna, yang namanya ci#m@n begitu menyenangkan hingga aku terlena dan nyaris lupa diri.

Dengan perlahan dia melepaskan b1b1rku, menatap manik mataku yang berkabut, aku melihat tekad di mata itu, menelan ludah berkali-kali atas pengalaman yang masih sangat baru bagiku.

Tetapi h@$r@t dalam diriku terlalu membara, hingga aku merasa sangat penasaran dengan ucapan Ratna. Kisah r@#j@ng yang biasanya kubaca dalam cerita saja kini terasa m3ngg1#rkan untuk dicoba.

"Ayuni," d3s@hnya di s3l@c1#m@n kami, dan itu sukses membuatku semakin gil@. Tetapi tak kusangka dia meny3nt@kkan kedua bahuku, membuat jarak beberapa centi di antara kami.

"Kita akan melupakan apa yang terjadi malam ini, saat ini aku hanya menolong," tegasnya dengan suara s3rak. Aku mengangguk, lalu dia mulai men@#gg@lkan j#b@h m@nd1 yang menutupi t#b#hku, mel3pask@n satu demi satu k@nc1n/ g piyamaku yang basah.

Semua terjadi, bagiku dengan sangat manis. Ratna benar, p3rcint@an itu menyenangkan dengan sosok bernama Mahendra. Dia memang pandai menyen@ngkan, begitu lembut, dia semp#rn@.

Aku bahkan menikmati tidur dengan men3mp3lk@n wajah ke d@danya yang bid@ng berb#l# hal#s, tangan kek@rnya m3m3l$kku erat, untuk sesaat aku merasa dilindungi. Tetapi entah kenapa menjelang tidur, aku meresakan air mata menetes melalui sudut mata.

****

Aku masih tertidur ketika ponsel berdering, rasanya seluruh tubuhku remuk membuat malas bergerak, aku berusaha mengabaikan ponsel itu.

Sialnya ponsel itu terus berdering aku terpaksa bangun dengan mata terpejam. Tetapi tunggu, ada yang aneh!

Ast@ga!

Aku terpekik menyadari bahwa tubuhku tidak berp@ka1 @n, kutarik kembali selimut menutupi separuh d@d@, aku panik. Kuabaikan ponsel yang terus berdering,  memilih berdiri memastikan apakah ada yang aneh dengan tubuhku.

Aku meringis ketika berdiri, p@ngk@l p@h@ku nyeri. Ya, Tuhan. Apa yang telah kulakukan, kutatap seperai dengan perasaan hancur ada n0da@ d@r@h di sana. Bayangan tadi malam berkelebat menghantam kesadaranku, air mataku mengucur tanpa bisa kutahan sama sekali.

Semua begitu mengerikan sekarang, beberapa bagian t#b#hku dipenuhi bercak yang bewarna ungu, ada yang hampir memudar ada yang masih sangat jelas, sekitar  l3h3r dan d@d@.

Kenapa aku begitu lepas kendali tadi malam? Kenapa aku jadi menginginkan hal sem3mal#k#n itu?

Aku benar-benar merasa k0t0r saat ini, bahkan setelah berendam berjam-jam aku tetap saja merasa k0t0r. Kulkas berjalan itu mer@mp@s keper@ w@n@nku, dia m3ny3nt#hk# di mana-mana.

"Kita akan melupakan apa yang terjadi malam ini, aku hanya menolongmu." Perkataannya tadi malam membuat hatiku sesak. 

Dia hanya menolongku?

Aku benar-benar tidak tahu apa yang terjadi.

Aku menyelesaikan membersihkan diri memakai pakaian rumahan seperti biasa, baju kaus panjang tangan dan celana jogger. Kemudian mondar-mandir di kamar memikirkan kenapa aku begitu gil@ tadi malam.

Pasti ada yang salah. Mungkin aku salah makan atau .... Mataku tertumbuk pada gelas jus yang isinya sudah habis, aku yang meminumnya kemaren malam.

Apa itu ....

Astaga, Ratna!

Apa dia memasukkan obat p3r@ngs@ng dalam minumanku?

Bab 3

Aku harus menemuinya sekarang, tega sekali dia melakukan hal itu. Aku meraih tas tangan memasukkan ponsel ke sana lalu dengan tergesa ke luar kamar. Menuruni tangga hingga aku nyaris terpeleset kalau saja tidak ada tangan yang menyambar aku akan berguling sampai ke dasar tangga.

Mahendra!

Dia melepaskan kedua bahu setelah aku berdiri dengan benar. Bisa kurasakan wajahku memanas tapi dia tetap sama, datar tanpa ekspresi.

"Terima kasih,"desisku lalu melanjutkan langkah menuruni tangga tanpa menoleh lagi ke belakang. Aku tidak langsung ke luar, ada orang tua yang selalu menanti untuk kukunjungi. 

Kamarnya terletak tidak jauh dari tangga, aku mendorong pintu, kemudian bau khas obat-obatan menguat. 

Aku mendekat di tepi tempat tidur wanita itu kotersenyum, dia ibu mertuaku, mamanya Mahendra. Dia kena penyakit kanker tulang, hidup dengan bantuan alat-alat kesehatan. Tubuh itu ringkih hanya tinggal kulit pembalut tulang dan anak durhaka itu justru menghendaki dia mati lebih cepat.

"Ahen sibuk lagi ya?"bisiknya parau.

Aku mengangguk seperti yang biasa kulakukan, berbohong agar hati orang tua ini tidak sedih mengetahui bahwa anaknya tidak peduli.

"Kamu baik-baik saja? Apakah Ahen sudah menerima kamu?" 

"Aku baik-baik saja, Ma," jawabku menyentuh tangan kurus itu.

"Mama sangat berharap suatu saat kalian akan menjadi pasangan yang salin mencintai. Ahen memang keras kepala, tapi lama-lama dia akan luluh."

Aku mengangguk, tak tahu juga harus bicara seperti apa, setiap berkunjung tiap hari Mama mertua selalu membicarakan ini. Memang terdengar membosankan, tapi inilah yang diharapkan semua orang tua di dunia ini. Melihat anaknya bahagia dengan pilihannya sendiri.

Mama tidak tahu, atau bahkan takkan pernah tahu, Mahendra atau tepatnya kami punya rencana dan kesepakatan sendiri dari pernikahan ini, pernikahan yang terjadi akibat perjodohan kemudian di atas perjanjian.

Dia punya kekasih, begitu juga aku. Kami berdua punya rencana masing-masing dalam menjalani hidup setelah pernikahan ini usai.

Menurutku para orang tua terkadang bersikap egois, dengan memaksakan kehendak agar anak mau mengikuti perkataan mereka dengan ancaman atau alasan sehingga anak tak memiliki pilihan sendiri.

Mama dan ibuku adalah sahabat lama, seperti yang terjadi di banyak kalangan yang satu miskin dan satu kaya dan mereka menjodohkan anak-anaknya. Aku tak bisa menceritakan bagaimana marahnya Mahendra kala itu, kalau saja dia tidak sedikit kasihan pada ibunya yang di kursi roda mungkin dia sudah memporak-porandakan acara makan malam kala itu. Bahkan setelah malam tadi, tidak ada yang berubah di antara kami. 

Setelah cukup lama mendengar cerita Mama aku pamit, aku harus menyelesaikan masalah ink dengan Ratna, aku harus tahu kenapa dia begitu jahat.

Aku melangkah cepat melewati pintu tapi langkahku terhenti melihat siapa yang duduk santai di ruang tamu.

Dahlia, pacarnya Mahendra.

Kuhela napas yang mendadak sesak, bukan karena dia ada di sini tapi karena ini melanggar perjanjian yang telah kami sepakati, tidak boleh ada kekasih Mahendra atau kekasihku datang ke rumah ini.

"Ayuni,"sapanya ceria, aku yang hendak lewat begitu saja segera berhenti, bagaimanapun kami tidak punya masalah sebelumnya, bisa saja dia tidak tahu perjanjian ini. Ini hanya antara aku dan Mahendra. Tentu saja dia bebas sana ke luar masuk rumah ini, Mama mertuaku tak mengetahui hal ini.

"Hai,"balasku kaku.

"Kamu mau kemana?" Dia bertanya dengan nada ramah.

"Aku mau ke luar, aku pergi dulu."

"Eits, tunggu!" 

Langkahku kembali terhenti dan Dahlia mendekat, dia menatapku agak lama itu membuatku tak nyaman. 

"Siapa yang memberikanmu tanda bercinta, Ayuni? Apakah Mahendra?"

"Apa?" Aku tersentak.

"Lihat ada beberapa tanda di lehermu." Dia ingin menyibak rambutku yang tergerai tapi aku berusaha menghindar.

"Sepertinya percintaan kalian begitu panas,"tuduhnya dengan nada cemburu.

Aku menelan ludah dan menggeleng, kenapa aku bisa lupa dengan tanda sialan ini?

"Tentu saja sangat panas, aku kenal ketika seseorang tidak mampu menahan diri aehingga dia nyaris menggigit." Aku tersentak mendengar suara yang muncul dari belakang dan langsung memeluk Dahlia, menatap tepat di mataku.

Mukaku memerah, lidahku kelu, tentu saja gilanya semalam langsung membayang di ingatanku menimbulkan getaran yang nyaris kukenal.

"Kau tahu?" Dahlia terdengar terkejut.

"Pasti dengan pacarnyalah, dengan siapa lagi?"

Aku menghela napas rasanya tak sanggup menahan malu, bahkan Dimas tak pernah memaksa ingin menciumku. 

"Wow, sepertinya pacarnya luar biasa juga." Kini suara Dahlia tak lagi normal, tangannya sudah bergerak menyentuh pipi Ahen yang ditumbuhi jambang halus.

Aku seakan meraskan pipi itu menggesek di pipiku, perasaan tak suka menggeliat tapi aku menemukan tatap mematikan Ahen, dia benar-benar telah melupakan kejadian tadi malam.

"Aku pergi." Aku melangkah panjang menuju pintu.

"Eh, kalau boleh tahu kalian melakukannya di mana?" Masih terdengar sayup teriakan Dahlia

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED