Misteri Menu Sarapan Mertua (Bab 2)
Hari ini adalah akhir pekan. Kami semua sedang duduk sarapan bertiga. Ibu mertua selalu menyiapkan sarapan bahkan sampai mengambilkan nasi dan menuangkan lauknya ke piring kami.
Aku merasa tidak enak karena selalu dilayani seperti ini. Iya mau bagaimana lagi, ibu mertua tidak ingin aku menyiapi sarapan. Jadi aku mengerjakan hal yang lain.
Kemarin aku pingsan di kantor, sepulang kerja aku memeriksakan diri. Kata dokter aku tidak sakit fisik tapi sakit pikiran. Iya aku sangat stres dengan begitu banyak pertanyaan, aku merasa ditekan dari berbagai pihak.
"Hanum, kamu kenapa? Dari tadi melamun?" Tanya suamiku yang membuatku sadar.
"Aku hanya memikir kerjaan hehe," jawabku sambil tersenyum.
"Aku sudah makannya, aku mau ke kamar dulu," lanjutku lalu meninggalkan meja makan.
Di kamar aku melaksanakan sholat dhuha dan mengaji. Setelah itu aku bingung apa yang bisa aku lakukan. Sungguh tak berselera untuk melakukan apapun.
History ponselku juga sudah penuh dengan cara agar cepat hamil, cara agar segera punya anak, tips agar cepat hamil dan masih banyak lagi. Apa lagi yang harus dilakukan.
Tok..
Tok..
Suara ketukan pintu
Aku membukakan pintu, terlihat ibu mertuaku yang datang ke kamarku.
"Iya Bu? Ada apa?" Tanyaku.
"Kamu hari ini sibuk tidak? Kalau tidak, kita ke dokter kenalan ibu ya,"
Aku terkejut mendengar perkataan ibu mertua. Akhirnya datang juga, hari dimana yang aku takutkan. Mendatangi dokter kandungan, aku takut setelah datang ke dokter aku mendapatkan kenyataan bahwa aku yang tidak bisa memberikan anak.
Tapi aku tidak bisa menolak perkataan ibu mertua, jadi aku mengiyakan ajakannya. Kami akan berangkat siang ini. Setelah ibu mertua pergi, aku menangis di bantal.
Aku terus menangis, bantalnya aku taruh diatas mukaku, jadi aku bisa teriak sekencang-kencangnya. Aku tidak mau ibu mertuaku mendengarku menangis.
"Sayang, jangan nangis,"
Terasa tangan lembut suamiku membelai tanganku, membuatku membuka bantalnya. Melihat wajah suamiku, malah makin membuatku bersedih.
Aku takut bahwa itu akan terjadi, sebuah kenyataan aku tidak bisa memberikan keturunan. Aku takut suamiku jadi kecewa padaku.
"Jangan bersedih sayangku, kita baru menikah 3 bulan, masih ada waktu. Ibu juga akan membawa ke dokter kandungan langganannya, jadi masih ada kesempatan,"
Aku memeluk tangan suamiku. Tangannya saja sudah membuatku tenang. Aku bersyukur dan bahagia bisa punya suami seperti dia.
"Iya, terima kasih sudah menenangkan aku,"
Sebelum berangkat ke dokter, aku tertidur sebentar karena terlalu nyaman dipeluk suami. Ketika bangun, aku langsung melakukan eye treatment sendiri karena mataku sembab.
Setelah menunggu beberapa lama, kami pun berangkat. Tadinya aku dan ibu mertuaku saja, tapi akhirnya malah diantarkan oleh suamiku juga.
Sepertinya suamiku tidak tega kalau benar ketakutanku terjadi. Ya Allah semoga tidak terjadi ya Allah. Semoga ujianku bukan ini ya Allah.
"Tidak ada," kata dokter tiba-tiba setelah memerikaku.
"Apa dok? Bagaimana maksudnya?" Tanya ibu mertua.
"Iya tidak ada yang salah, semuanya sehat," jawab dokter.
Aku tersenyum mendengar jawaban dokter. Hatiku sedikit lega, berarti tidak ada yang salah dariku. Ini hanyalah masalah waktu kapan Allah akan memberikannya kepada kami.
Setelah dokter memberikan nasihat dan vitamin, kami pulang ke rumah. Diperjalanan aku mencoba untuk menahan senyumanku. Entah mengapa rasanya aku ingin terlihat biasa saja.
"Kalau Hanum sehat semua organ reproduksinya, kenapa belum hamil juga ya?"
"Bu kan tadi dokter sudah menjelaskan, tidak usah mempertanyakan lagi, kita hanya bisa berusaha saja,"
"Iya bu, tenang saja, insyAllah segeranya kami akan memberikan ibu cucu,"
Sesampainya di rumah, ibu mertua sedikit membanting pintu mobil dan berjalan cepat masuk ke mobil. Tingkahnya seperti orang yang merajuk.
Aku dan suami juga masuk ke kamar karena hari masih siang, belum masuk waktu ashar juga. Jadi kami bisa sedikit bersantai. Tapi sepertinya aku tidak bisa bersantai disaat seperti ini.
Brugghh..
Aku mendorong suamiku ke kasur
"Ah sakit, tanganku kena pinggiran kasur. Kamu kenapa sayang?"
"Iya sepertinya kita masih bisa berusaha hehe," kataku dengan sedikit tawa jahat.
"Hahaha yaudah ayo kita lakukan!" jawab suamiku dengan semangat.
Dan terjadilah. Kami melakukan hubungan suami istri hingga waktu ashar tiba. Kemudian kami mandi bersama dan sholat ashar berjamaah.
Dalam doa, aku hanya meminta diberikan rejeki itu, anak lucu yang lahir dari rahimku sendiri. Hanya ingin itu, tidak ada yang lain. Amin ya Rab.
Malam harinya, obrolanku dengan suami sudah menjalar kemana-mana. Aku membicarakan tentang bagaimana wajah anak kami nanti. Bahkan kami sampai memakai filter sosial media yang bisa memprediksi bagaimana wajah anak kami.
"Ih lucunya, kalau anak kita cowok, nanti wajahnya mirip kamu," kata suamiku gemas.
"Iya ya, cakep banget, gimana kalau perempuan, ayo kita coba lagi," lalu kami menggantinya supaya hasil yang keluar jadi anak perempuan.
"Ah cantiknya, lucu. Nanti siapa ya nama anak kita?"
"Jangan sekarang pikirkan nama, pamali tau, katanya engga boleh,"
"Oh iya? Jadi nanti saja pikirkan namanya?"
"Iya,"
"Sayang, kamu gini aja. Anggap saja aku sudah hamil, jadi kamu ngomong ke perut aku, jadi sekalian ngasih sugesti baikkan,"
"Wah iya boleh dicoba itu,"
Semenjak obrolan kami di malam itu, suamiku selalu berbicara dengan perutku seolah memang ada bayinya. Walaupun belum ada, tapi setidaknya kami sudah senang dan semangat.
Bismillahirohmanirahim. Allah bakal titipkan janin dalam rahimku yang akan kurawat dengan baik dan sepenuh hati.
Aku bekerja dengan semangat. Aku sedang punya tujuan dan aku sedang berjalan menuju tujuanku. Aku yakin Allah akan melihat kesungguhanku.
Kebiasaan ini sudah kami lakukan lebih dari sebulan. Kami melakukannya tanpa melewatkan 1 haripun. Aku juga melakukan sholat malam hingga sholat hajat.
Aku juga berusaha dengan membuat ramuan herbal yang aku tau dari internet. Kita tidak tahu lewat jalan mana Allah akan memberikan rejeki itu. Untuk itu aku tidak akan berhenti berusaha.
Saat ini aku sedang di kantor. Tapi tiba-tiba teman-teman kantor sedang heboh sampai menarik perhatianku.
"Ada apa sih? Kenapa ramai-ramai?" Tanyaku penasaran.
"Oh ini, kamu juga datang ya Num. Ini undangan 4 bulananku, jangan sampai engga dateng ya,"
Ternyata ini adalah undangan tasyakuran 4 bulan kehamilan Nanda, teman sekantorku. Melihat undangan ini, membuat khayalan terlintas di pikiranku.
Apa aku nanti juga seperti ini, mengadakan tasyakuran 4 bulan kehamilanku. Wah aku pasti akan sangat cantik saat itu, aku juga ingin merasakannya.
"Iya aku akan datang," balasku sambil tersenyum.
Boleh tidak sih? Aku membayangkan kalau yang punya acara itu aku, kalau yang hamil 4 bulan itu aku. Kenapa aku belum merasakannya? Ternyata susah ya.
Misteri Menu Sarapan Mertua (3)
"Sayang, sudah siap belum?"
"Sudah, gimana cantik engga?"
"Cantik dong," jawab suamiku sambil mencium keningku.
Kami diundang ke acara 4 bulanan Nanda, teman sekantorku. Kini kami sedang dalam perjalanan. Namun sebelum berangkat, aku tidak melihat ibu mertua di rumah. Kira-kira kemana ya?
Perjalanan ditempuh kurang lebih 1 jam melalui jalan tol. Aku harap kami tidak terlambat. Melihat banyaknya kendaraan di jalan, aku ada perasaan takut terkena kemacetan.
"Setelah acara, mau engga kita pergi?" Tanya suamiku sambil memegang stir mobil.
"Pergi kemana? Maksudnya ngedate?"
"Iya, kan sudah lama kita engga berdua, gimana?"
"Iya ayo kita pergi,"
Selama perjalanan kami mendengarkan musik, kadang juga mendengarkan podcast, lalu beralih ke stand up comedy hingga tidak terasa kami sudah sampe ditujuan.
Wah syukur deh kami sampai di waktu yang tepat. Aku juga melihat beberapa teman kantorku yang lain dan juga Kana. Aku tersenyum kepadanya dan ia membalasnya.
Acara tasyakuran telah selesai, kini semua tamu dipersilakan menyantap hidangan. Tentu saja aku langsung pindah duduk didekat Kana. Suamiku juga tampak nyaman bersama para suami teman-teman yang lain.
Makan sudah, kini aku mengambil beberapa cemilan. Aku melihat Nanda dan melambaikan tangan padanya. Disaat aku sedang melihatnya, tiba-tiba ibu Nanda datang membawa seseorang.
Mataku dibuat terkejut oleh orang yang dibawa Ibu Nanda, itu adalah ibu mertuaku. Lho kok bisa ibu mertua kesini. Apa ibu mertua teman dari ibu nya Nanda. Aku langsung berjalan menghampiru ibu mertua.
"Lho ibu? Kenapa kesini? Tau gitu tadi barengan kita," tanyaku dengan tersenyum.
"Iya ibu juga engga tau kalau kamu temannya Nanda. Ini bu Dewi teman sekolah ibu dulu," jawab ibu mertua sambil memperkenalkan ibunya Nanda.
"Oh iya, maaf aku engga tahu," jawabku.
"Iya tidak apa-apa. Duh senangnya Dewi ya sebentar lagi punya cucu. Kalau saya engga tau kapan bisa punya cucu,"
Perkataan ibu mertuaku barusan membuatku hati dan telingaku tersentak. Maksudnya apa dari perkataan itu. Aku menampakkan ekspresi bingung dan terkejut campur jadi satu.
"Iya nih, duh cepetan ya hamilnya, engga usah tunda-tunda, ada aja nanti rejekinya," timpa ibunya Nanda.
Ekspresiku makin tidak terkontrol. Siapa yang menunda-nunda, tidak ada. Kenapa rasanya aku seperti dipojokkan.
"Oh tidak bu, kami memang engga ada niat untuk menunda, memang belum dikasih aja," ucapku dengan sedikit nada kesal.
"Iya baguslah kalau tidak menunda. Kan kebanyakan anak muda sekarang mau enaknya aja, tapi tidak siap menjadi orang tua."
Wah obrolan makin melebar, sepertinya aku harus meninggalkan obrolan ini sebelum aku kehilangan kewarasanku.
"Saya kesana dulu ya bu," kataku lalu pergi meninggalkannya.
Aku melirik sedikit ke arah Nanda saat ibunya berbicara seperti itu. Dia juga menampakkan ekspresi yang kurang senang.
Untunglah dia tidak sombong, karena tidak baik juga kalau harus membandingkan keadaannya dengan keadaanku.
Karena aku sudah tidak berselera lagi disini, aku pamit dengan Nanda dan berpisah dengan Kana.
"Sayang, kamu engga tau? Kalau ibu ada disini," tanyaku kepada suamiku.
"Ibu siapa?"
"Ibu kamu! Mertua aku," jawabku dengan nada kesal.
Suamiku nampaknya bingung dan tidak percaya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan melakukan panggilan. Sepertinya ia menelepon ibu mertua.
"Hah ngapain ibu disini?"
"Ibunya Nanda itu temen sekolah ibu, kamu engga tau emangnya?"
Biasanya kita sebagai anak pasti mengetahui siapa saja teman orang tua. Tapi kenapa suamiku malah tidak mengetahuinya.
Kami menunggu beberapa menit lalu ibu mertua keluar. Kami masuk ke mobil dan pulang. Kalau kondisinya seperti ini, entah jadi atau tidak kami pergi ngedate.
Sepanjang perjalanan suamiku bertanya tentang hubungan ibu mertua dengan ibunya Nanda. Ternyata memang Faris tidak tau tentang ibunya Nanda.
Aku jadi teringat perkataan ibu mertua tadi, yang tentang cucu. Rasa kesal muncul ke hati kalau mengingatnya. Aku ingin mengingatkan ibu mertua jangan berbuat seperti itu lagi.
"Oh iya bu, kalau diluar jangan berbicara seperti itu lagi, nanti kesannya malah kami yang engga mau punya anak," ungkapku dengan nada pelan.
"Berbicara seperti apa? Memangnya ibu bicara apa?" Balas ibu dengan nada meninggi.
"Iya itu soal cucu, entah kapan kami bisa ngasih cucu ke ibu dan lain-lainnya,"
"Lho kan ibu cuman berbicara tentang fakta,"
"Iya memang fakta, tapi tidak perlu juga untuk dibacarakan kepada orang lain. Toh bukan kami yang engga mau punya anak, buktinya saat check up badan aku sehat semua,"
"Lho kamu kok jadi ngelawan ibu, Faris kamu ini salah pilih istri," kata ibu mertuaku sambil turun dari mobil.
Kami terus berdebat tadi, tanpa sadar suamiku belok ke rest area. Kini ibu mertuaku sudah turun dari mobil. Aku ya syok, sangat syok.
"Ibu mau kemana?" Suamiku mengejar ibu mertua keluar.
Aku hanya melihat dari kaca. Mereka berdebat, aku tidak tahu tau apa yang didebatkan, tapi sepertinya ibu mertua tidak mau pulang bareng kami lagi.
Ibu mertua memilih naik taksi. Suamiku berjalan ke mobil. Kenapa ibu mertua bersikap seperti itu, kenapa ibu mertua jadi berubah?
"Kamu itu bisa tidak engga menyalahkan ibu ketika diluar seperti ini,"
"Apa?! Apa aku terlihat menyalahkan?"
Kenapa? Kenapa suamiku malah mengatakan itu bukannya membelaku.
"Seharusnya kan bisa dibicarakan saat sampai di rumah,"
"Jadi kamu pikir ini salah aku? Kamu harusnya tau siapa yang salah, kamu tau ibu ngomong apa? Seolah kita yang tidak mau punya anak,"
"Iya aku ngerti..."
"Ah sudah lah, aku akan pergi sendiri!" Kataku dengan nada kesal.
Aku keluar dari mobil suamiku pergi ke minimarket terdekat yang ada di rest area. Aku akan memesan taksi online. Aku melihat kesekeliling, tidak terlihat ada suamiku. Berarti suamiku tidak mengejar aku.
Kenapa sih menyudutkan aku, memangnya aku yang tidak mau punya anak? Orang kami juga rajin membuatnya. Harusnya mengerti juga kalau bukan kami yang mau kelamaan punya anak.
Sungguh membuatku kesal saja. Lagian Faris juga bilang anggap saja ibunya sebagai ibuku kan. Iya aku akan membantah apa yang ibuku katakan jika hal itu bukan hal yang benar. Takutnya malah jadi fitnahkan.
Memangnya aku yang mau seperti ini? Memangnya aku yang sengaja belum hamil? Kenapa sih tidak memikirkan aku? Aku juga stres, sedih, marah, kecewa. Sama seperti kalian! Tapi semua itu tidak terlihat oleh kalian, seolah aku membiarkan diriku tidak segera hamil.
Kalau sudah begini, selalu saja posisi istri yang disalahkan. Padahal kita bisa berusaha bersama, mencari letak salahnya dan mencari solusinya bersama.
Jangan bersikap menyebalkan kepadaku! Rasanya aku ingin berteriak di jalan tol ini.