Bab 2

Oh jadi namanya aksara, aku hanya menatap dia naik turun dengan sinis. Kekesalanku belum berakhir, karena kedatanganya ketenanganku tergganggu.

" Nama mbak siapa? " Tanyanya sambil terus tanganya mengarah kepadaku.

" Minnie! " jawabku dengan ketus.

" Kaya tokoh kartun " ucapnya.

Aku malas mendengar kata-kata nya, apa lagi orang nya sangat tengil dan menyebalkan.

Aku tak lagi menghiraukan celotehannya, aku bangkit lalu berjalan kearah motor ku. Dan kemudian mengenakan helm kembali.

" Mbak, kok ninggalin saya sih? " Dia langsung bangkit dan menghampiriku.

" Saya mau pulang " ucapku.

" Saya anter ya, " tawarnya.

" Gak usah! " Jawabku ketus lagi.

" Tapi saya gak yakin mbak gak bakal lakuin hal yang kaya tadi, jadi tolong biarkan saya mengantar mbak " mohonnya.

" Anda begal ya? " Tunjuk ku padanya.

" Hah?!, Begal? B,,bukan mbak " elaknya.

" Lah terus ngapain anda ngikutin saya coba? " Kesalku.

" Saya hanya ingin memastikan saja jika mbak pulang kerumah, itu saja " jelasnya.

" Gila, " umpatku.

" Mas, saya tegaskan sekali lagi saya gak berniat bunuh diri, jadi tolong jangan mengikuti saya lagi! " Tegasku.

" Oke, baiklah mbak. Maaf " ucapnya lalu membiarkan aku pergi.

Dengan tenang aku menjalankan motorku sampai tiba kerumah.

" Minnie!, Ini sudah yang kesekian kalinya kamu melukai adik kamu!, " Ucap ayahku sambil menyeret tubuhku keluar menuju halaman belakang.

" Ayah!, Aku gak lakuin itu! " Bantahku.

" Nesya datang kemari mengantarkan Cahaya dan dia dan satu kelas kamu melihatnya, apa kau ingin membohongi ayah!."

" Plak " satu tamparan keras mendarat di pipiku.

" Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menindas orang lain, Dominnieqha Pramaditha!!" Teriak ayahku memekakan telingaku.

" Ayah hentikan yah, kasihan kak Minnie " Cahaya dengan wajah sok polosnya berpura-pura menahan ayah.

" Serigala berbulu domba! " Ucapku dalam hati.

" Plak, " satu kali lagi ayah menamparku, membuat pipi ini terasa panas dan perih.

" Sakit yah!, Belum puas ayah siksa aku dari semenjak kehadiran Cahaya, yah?!, Bunuh saja aku sekarang juga! " Teriakku.

Aku sudah benar-benar lelah dengan semua ini. Aku sangat lelah harus setiap hari menjalani hidup yang penuh siksaan dan tekanan batin sepeti ini.

" Oh jadi kau ingin mati ya!! " Ayah yang semula berhenti menariku, kini dia kembali melanjutkannya, aku berusaha melepaskan diriku, namun tenaga ayah sangat kuat.

Byurr....

Tubuhku di lemparkan oleh Aya ke kolam renang yang dalam, ayah tahu aku tak bisa berenang, tapi mengapa dia begitu tega melakukan itu...

" Ayah!!, Kakak!!, Ayah tolong kakak " Teriak Cahaya.

Aku mencoba sekuat tenaga agar tidak tenggelam, namun ini sangat sulit dari kecil aku sangat takut dengan air yang dalam karena pernah tenggelam di kolam ini, hingga akhirnya aku enggan belajar berenang karena selalu di hantui oleh rasa takut tenggelam lagi.

" A,,ayah,,uhuk,,uhuk,t,,tolong "ucapku dengan terbatuk-batuk.

" Cahaya mau kemana kamu, biarkan dia mati sekalian! " Terdengar suara ayah membentak Cahaya.

" Tapi, yah. "

" Masuk sekarang juga! " Bentak ayah lagi.

Aku benar-benar tak sanggup lagi, aku sudah berusaha agar mendekat ke kolam yang lebih rendah tapi sialnya aku tak bisa menjangkau kolam yang luas ini.

" Byurrr,,, " seseorang melompat ke kolam.

" Apakah itu ayah? " Pikirku.

Tangan ku terus berusaha mendayung agar tak tenggelam dan tiba-tiba.

Grep....

Seseorang memeluk pinggangku lalu menariku ketepian.

" Uhuk,,uhuk,,uhuk " aku terbatuk-batuk karena air yang masuk kedalam mulut dan hidungku.

" Kamu tidak apa-apa, mbak?. "

" Suara orang yang tadi aku temui! " Ucap dalam hati, dengan cepat aku berbalik dan melihat kebelakang.

" Kamu?! " Tunjuku.

" Sudah, ayo naik dulu, " dia membantuku agar naik dari dalam kolam.

" Kok bisa? " Heranku.

" Hehehe, maaf mbak aku mengikuti mu " ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.

" Terima kasih " aku langsung memeluknya tanpa aba-aba. Ku rasakan tubuhnya menegang, mungkin Karana kaget dengan apa yang ku lakukan ini.

" Mm,,mbak. Lepaskan benda kenyal mbak menyentuh dada ku, itu membuat aku merasa aneh " ucapnya, sontak saja aku langsung melepaskan pelukanku dan kemudian menutupi dadaku dengan tanganku.

" Mesum! " Bentakku.

" Hah?, Kok mesum sih mbak?, Aku kan hanya berkata jujur, itu saja " wajah polosnya membuatku semakin malu.

" Mbak, adakah baju aku kedinginan " ucapnya.

" Ba,,baju?, Ya sudah kamu tunggu disini aku ambil dulu baju buat kamu " ucapku.

" Mbak gantilah dulu pakianya mbak, itu sangat jelas jika basah " ucapnya sambil tertunduk.

" Astaga!!! " Teriakku lalu aku berlari meninggalkanya.

Aku benar-benar tidak sadar jika hari ini aku mengenakan kemeja berwarna putih yang otomatis jika basah memperlihatkan seluruh lekuk tubuhku.

Aku terus berlari, tak kupedulikan ayah dan tente Melinda yang sedang kebingungan.

Pasti meraka memikirkan mengapa aku masih bisa keluar dari kolam.

Aku dengan cepat membersihkan tubuhku lalu mengganti pakaianku dan kembali berlari keluar menghampiri Aksara yang sudah menungguku.

Untung saja Valen sering mandi di rumahku jadi dia meninggalkan bajunya disini.

" Ini, cepat ganti pakaianmu, lalu pulang " ucapku .

" Terima kasih, mbak " ucapnya.

" Disana saja kamu ganti pakaian " ku tunjuk ke arah belakang yang memang disana tempatnya tertutup.

Aku tak bisaembiarkan dia lama disini, jika ku biarkan kasihan dia takutnya ayah malah memarahinya.

Setelah selesai dia kembali dengan kaos putih dan celana training milik Valen.

Aku tertegun melihat laki-laki yang baru ku kenal beberapa jam lalu ini.

Dia ternyata sangat tampan, jauh jika di bandingkan dengan Valen yang keturunan bule.

Wajahnya sangat tampan hidungnya mancung dan bibir yang tipis dan berwarna merah.

Dia putih, beralis tebal dan rahangnya tegas sungguh terlihat seperti tokoh di sebuah novel romantis.

Mungkin tadi aku melihatnya culun karena dia menggunakan kacamata dan poni rambutnya di kedepankan

Sedangkan sekarang dia melepaskan kacamatanya dan rambutnya yang disisir kebelakang membuat dia tampak sangat berkarisma.

" Mbak? " Panggilnya.

" Panggil aja Minnie, gak usah pake mbak " jawabku.

" Ya udah " jawabnya.

" Boleh bagi kontak WA-nya? " Tanyanya lagi.

" Boleh, tapi setelah ini kamu harus pulang ya, takut ketahuan ayah " jelasku.

Dia pun mengaguk mengerti.

Kemudian aku memberikan nomor ponsel ku dan dia pun menuruti perkataan ku untuk meninggalkan rumah ini.

Hari ini di kampus rasanya begitu tenang karena Cahaya tidak masuk, entah kenapa dia tidak masuk, padahal dia sehat-sehat saja tapi aku tak peduli toh bukan urusanku juga.

Ku tengok kanan kiri Valen juga tak ada, tapi dia sama sekali tak mengabari ku. Mengabari?, Astaga aku lupa aku bahkan tak pernah di anggap ada olehnya.

" Wah,,, gak nyangka banget ternyata selama ini mereka pacaran, ya " jam istirahat tiba dan ku dengar anak-anak antusias membicarakan tentang lamaran.

" Siapa yang lamaran,, ya? " Pikirku.

" Emang bener-benar tega ya si Minnie, adiknya lamaran dia sama sekali gak hadirin, kelihatan banget gak sukanya si Minnie sama Cahaya " terdengar gumaman seseorang di belakangku yang sontak membuatku langsung berbalik menatap Meraka.

" Apa lu bilang? " Tanya ku.

Bab 3

" Apa lu bilang? " tanyaku

" Apa?! " Meraka malah balik tanya dan seolah-olah menantang ku.

" Maksud kalian apa bilang gue tega sama Cahaya?, Lu pada jangan sembarangan ngomong ya, Cahaya gak lamaran! " Ucapku.

" Lu itu yang sembarangan, jelas-jelas Cahaya lamaran lu aja yang gak niat buat hadirkan?, Apa lagi saat tahu Cahaya di lamar Valen! " Tuturnya.

Deg!!...

Seperti jantungku terlepas dari tempatnya setelah mendengar apa yang di tuturkan orang itu.

" Va,,Valen? " Ucapku terbata-bata.

" Iya!, Gak mungkin lu gak tahu! " Bentaknya lalu pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku masih terpaku pada apa yang ku dengar barusan.

" Valen?, Tidak mungkin. Bukankah selama ini Cahaya tahu jika aku dan Valen bersama? " Pikirku.

Dengan hati yang penuh penasaran, aku bergegas untuk pulang, tak peduli meskipun hari ini masih ada jam pelajaran.

Aku berlari menuju parkiran lalu menyalakan motorku, dan melaju meninggalkan kampus dengan kecepatan di atas rata-rata.

Aku benar-benar masih tak percaya dengan ucapan orang-orang, tidak mungkin Valen melamar Cahaya, bukan kah aku telah memberikan segalanya padanya.

Aku tahu Valen tak pernah mencintaiku, aku juga tahu Valen tak pernah menggapku ada, tapi setidaknya dia jangan melepaskan tanggung jawabnya. Dia telah merusakku, merenggut kesucianku, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas itu.

Sepanjang perjalanan air mataku terus saja menetes. Memikirkan jika Sampai apa yang di katakan mereka itu benar.

" Aku harus bagaimana? " Pikirku.

Tiba di rumah, aku benar-benar di sambut dengan kenyataan pahit.

Ku lihat rumah ini telah di sulap menjadi penuh hiasan bunga-bunga dan juga pernak-pernik lainya. Rumah yang tadi pagi biasa saja kini berubah di penuhi bunga dan lampu-lampu kelap-kelip.

Air mataku benar-benar luruh saat ku lihat nama yang tertera disana.

Aku melangkah masuk kedalam rumah yang sudah aku tinggalin selama Dua puluh Dua tahun ini.

Ku lihat hampir seluruh ruangan kosong, hanya ada beberapa saudara ayah.

" Min, kamu dari mana aja?, Acara udah selesai kamu kok baru datang? " Tanya bibiku.

Aku tak menjawab, bahkan menampakan wajahku saja aku tak bisa, air mataku tak bisa ku tahan, kekecewaan ini terasa sangat dalam.

" Aku yakin mereka di ruangan atas! " Ucapku dalam hati.

Aku menaiki tangga yang telah merenggut nyawa nenek. Dan benar saja, kulihat ternyata mereka sedang berkumpul bersama.

Mereka?, Ya mereka termasuk ayahku sendiri.

" Ternyata begitu tak berartinya aku di mata ayah, ya. " Ucapku menggetkan mereka.

" Minnie?! " Mereka semua berbalik ke arahku.

" Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? " Tanyaku, getaran kesedihan jelas terdengar dari suaraku. Leherku terasa tercekat menahan agar tidak menangis sejadi-jadinya.

Apa masih kurang mereka menyakiti diri ini?,

Ku lihat wajah syok ayah, Tante Melinda juga kedua pasang manusia tak berhati itu.

Sedangkan keluarga Valen hanya diam dan kebingungan melihatku.

" Mengapa kalian lakukan ini padaku?!, Ayah?, Apa ayah lupa laki-laki yang bernama Valentino Abimanyu ini adalah kekasihku?!, Apa ayah lupa Cahaya itu adalah adik tiriku?!, Mengapa kalian begitu tega melakukan ini padaku! " Teriakku. Amarahku sudah benar-benar memuncak, hati ku benar-benar di buat hancur oleh keluargaku sendiri.

" Minnie!, Jaga ucapanmu kita sedang kedatangan tamu! " Bentak ayah.

" Ayah yang harus jaga bicara!, Dan kau! " Ku tunjuk Valen lalu ku lirik cahaya yang masih saja terlihat pura-pura polos.

" Valentino Abimanyu, apa kau lupa selama dua tahun ini apa yang telah ku berikan padamu?, Bahkan aku menolak pun kau terus memaksaku?, Apa kau lupa aku telah memberikan seluruh hidupku padamu?, " Ucapku dengan penuh penekanan.

" Dominnieqha Pramaditha! " Bentak ayahku.

" Apa, yah?!, Apa selama ini penyiksaan yang ayah lakukan belum cukup untukku?!, Apa sikap ayah yang selalu membela Cahaya itu belum cukup, yah?!, Aku telah banyak menderita tapi ayah tidak pernah peduli itu, lihat sekarang apa yang ayah lakukan?!, Ayah tahu jika Valen adalah pacarku tapi mengapa ayah malah membiarkan Cahaya mengambilnya?! " Tuturku dengan dada naik turun.

" Minnie!, Berani nya kau!, Dengar ini. Apa kau pikir ayah tidak malu jika membiarkan kamu di lamar!, Ayah malu. Perempuan macam apa kau ini, yang sampai rela memberikan tubuhmu pada laki-laki sebelum menikah hah?!, Kau membuatku malu, bukan hanya kepada Valen kau menjajakan tubuhmu tapi kepada orang lain di luaran sana pula!, Dasar anak tidak tahu di untung!, " Ayah malah balik memarahiku.

" Maksud Ayah apa?, Jangan sembarangan bicara aku tidak pernah menjajakan tubuhku pada laki-laki selain Valentino Abimanyu!, Lagi pula itu pun Valen yang selalu memaksaku dan mengancam akan menyebarkan foto dan videoku!" Aku berusaha membela diriku di tengah sakitnya leherku menahan tangis yang sudah hampir pecah ini.

" Itulah kesalahan terbesar mu!, Kamu lihat betapa brutalnya dirimu, hidupmu acak-acakan, kau bahkan sudah terlihat seperti preman saja, tengok dirimu! Lidah di tindik, rambut di warnai, anting hampir memenuhi seluruh kupingmu!, Pakaian compang camping seperti gelandangan, pantas saja jika laki-laki hanya memanfaatkanmu!, Harusnya kau berkaca sebelum berpikir lebih jauh " ucapan ayahku benar-benar membuatku kecewa. Dai bukan lagi ayahku, dia kini telah berubah menjadi orang lain.

" Ayah!, Aku begini karena kau!, Kau selalu saja menyiksaku dan pilih kasih, padahal aku anakmu sendiri, tapi kau selalu membela gadis sialan ini! " Tunjuku pada Cahaya.

" Minnie!, Cukup! Apa lu gak punya malu?!, Lu sadar diri dong siapa lu!, Jangan terus aja nyalahin Cahaya, Cahaya wanita baik-baik, gak sama kaya lu! " Bentak Valen.

" Lu yang gak punya malu!, Lu macarin gue tapi lu malah lamar orang lain!, Dasar bajingan! " Lawanku.

" Lihat, apakah dengan seperti ini orang tua Valen akan menerima kamu? " Ucapan Tante Melinda semakin membuat amarahku mendidih.

" Cukup kau wanita ular!, Aku tahu kau yang selalu saja menghasut ayah! Dasar wanita perbuat kebahagian orang! " Bentaku.

" Valen, apa lu lupa, lu sering ngucapin bakalan tanggung jawab, bakal nikahin gue tapi mana buktinya?!, Dasar!, Memang cocok bajingan bersanding dengan perusak kebahagian orang!. "

" Kakak aku gak gitu,, " Cahaya kembali melakukan aktingnya.

" Terserah kau saja, wanita ular! " Bentaku.

Dia langsung menampakan wajah polos yang seolah-olah begitu tersakiti olehku.

" Minnie! " Bentak ayah.

" Hahaha, apa yang membutakan ayah sampai ayah terus saja membela dia? " Ucapku di iringi tawa sumbang.

" Kau sudah sangat keterlaluan, Minnie! " Bentaknya lagi.

Ku lihat ada kotak perhiasan di hadapan Cahaya, dengan hati yang di penuhi amarah aku mengambil kotak itu lalu...

Pyarrr...

" Minnie!! " Kaget semua orang saat melihat pecahan kotak kaca itu berserakan.

" Jika saja aku tidak kasian padamu sudah ku lemaparkan kotak ini di wajahmu! " Tunjuk ku tepat di wajah Cahaya.

" Kau!! " Ayah terlihat semakin marah padaku.

" Apa mau menyiksaku lagi?, Atau mau membunuhku sekalian? " Tantangku.

" Keluar kau dari rumah ini! " Teriaknya.

" Dengan senang hati " ucapku di iringi senyuman sinis.

" Kau senang wanita ular?! " Ucapku sambil menatap Tante Melinda dan Cahaya.

" Cepat pergi!! " Bentak ayah lagi.

Aku tak mau jika sampai badanku di siksa lagi, lebih baik sekarang aku pergi dan menenangkan diriku.

Aku keluar meninggalkan rumah yang di isi oleh para manusia durjana itu.

Kini aku menangis sejadi-jadinya di tepi danau, badanku meringkuk di rerumputan hijau, Isak tangisku di iringi suara burung gagak sedari tadi menemani.

" Mbak? " Tiba-tiba suara seseorang menggetkanku, aku bangkit dan berusaha membersihkan air mataku.

" Ya? " Jawabku lalu menatap orang itu.

" Aksara?! " Kagetku.

" Minnie?, Sedang apa disini? Kamu kenapa menangis?! " Dia langsung duduk menatapku sambil memeriksa tubuhku dari mulai wajahku, tangan dan kaki ku.

" Apa ayahmu menyiksamu lagi?! " Tanya nya dengan panik.

Aku menggelengkan kepala.

" Ini lebih dari penyiksaan, Aksara. Huhuhu " tangisku semakin kencang lalu dengan spontanitas dia membawa tubuhku ke pelukannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED