Bab 1

" Aryan hilang! " teriak Valen saat tiba di perkemahan setelah menyusuri hutan bersama kelompoknya. kebetulan kelompok ku sudah jauh lebih dulu Sampai ke perkemahan.

" Kok bisa?! " kaget kita semua.

" Iya tadi Aryan masih ada di belakang kita tapi setelah itu beberapa lama perjalanan kita gak denger lagi suaranya dan pas kita tengok kebelakang dia udah gak ada " jelas Valen sebagai ketua kelompok.

sungguh aneh bukankah mereka bersama-sama tapi kok bisa mereka Sampai gak sadar teman satu tim nya hilang.

" ya sudah ayo kita susuri lagi siapa tahu dia tersesat " ajak dosen pembimbing kami.

Dengan terpaksa aku ikut, padahal rasanya badan ini seperti remuk karena kelelahan.

Lebih dari dua jam kami mencari keberadaan Aryan. Namun nihil tak satu pun dari kami menemukanya.

" Anak-anak, sepertinya kita harus menghubungi bantuan. tidak mungkin kita mencari Aryan sekarang apa lagi kondisi malam hari yang sangat gelap ini " ujar pak dosen.

Maka pencarian pun di hentikan hingga keesokan harinya. Hingga di waktu dua hari kami mencari keberadaan Aryan di bantu oleh tim pencarian akhirnya kami menemukan keberadaan Aryan. Namun dalam kondisi yang sudah tak bernyawa dan di temukan di dasar jurang yang curam dan dalam.

****

" Bruk " setumpuk buku di simpan kemeja ku.

" Pasti Valen " pikirku .

" Kerjakan semuanya nanti ya, setelah itu kita jalan-jalan" ucap Valen.

" Iya " jawabku.

Perkenalkan namaku adalah Dominnieqha Pramaditha, aku anak dari pemilik perusahaan PRAHMA GRUP ayahku bernama Aditama Pramana.

Aku kini sedang menempuh pendidikan di sebuah universitas, ayahku mewajibkan aku untuk mengambil jurusan bisnis. Padahal aku sama sekali tidak tertarik dengan perusahan.

Berbeda dengan Cahaya adik tiriku dia di ijinkan mengambil jurusan sesuka hatinya. Ya aku tahu ayah melakukan itu agar aku bisa menjadi pewaris perusahaannya nanti, namun aku sama sekali tidak berniat untuk bekerja di bidang itu. Tapi ya mau bagaimana lagi aku tidak berani untuk melawan yang ada nanti aku akan disiksa jika aku berani menolak.

Cahaya adalah adik tiriku, karena ayah selalu di paksa nenek untuk menikah lagi, sebab ibuku mengalami gangguan jiwa setelah kematian adikku yang masih bayi karena tertabrak mobil, saat itu kami sedang jalan-jalan, namun karena aku haus ibu meninggalkan kami berdua di tepi jalan untuk membeli minuman, entah apa yang terjadi hingga kereta bayi adikku berjalan ke arah tengah yang dimana banyak kendaraan berlalu lalang, saat itu aku masih berusia Dua belas tahun dan aku tak mengerti harus melakukan apa.

Setelah kejadian itu ibu menjadi hilang akal dan akhirnya seperti sekarang.

Sedangkan ayah menikah dengan Tante Melinda sudah sekitar Lima tahun lebih, itu pun Karana paksaan dari nenek yang selalu meminta ayah menikahi Tante Melinda yang merupakan anak dari kawan sosialita nenek.

Karena ayah adalah anak yang penurut akhirnya dia menuruti keinginan nenek dan menikahi Tante Melinda, setelah kedatangan tante Melinda dan cahaya lah yang membuatku berubah seperti sekarang.

Mereka selalu menghasut nenek dan ayah hingga ayah menyiksaku dan nenek selalu memarahiku, saat itu ibuku masih ada di rumah itu, aku masih bisa meminta tolong padanya, namun sekarang setelah nenek meninggal ibu di pindahkan ke rumah sakit jiwa karena permintaan Tante Melinda tentunya.

Nenekku meninggal karena kecelakaan, dia terjatuh dari tangga, saat itu Cahaya sedang berada di kamarku, kami berdua tengah bersama lalu nenek memintaku mengambilkan cemilan untuk Cahaya namun setelah aku kembali nenek sudah tergeletak tak berdaya di bawah tangga, ibu yang melihat itu malah menuduhku bahwa aku lah yang membunuh nenek, maka dari itu ayah memasukan ibu ke rumah sakit jiwa. Karana ayah mengira ibu lah yang telah mencelakai nenek dan kemudian menuduhku. Itu pun Karana hasutan Tante Melinda tentunya.

Sepertinya Tante Melinda memang ingin menjadi satu-satunya ratu di rumah kami.

Setelah ibu pergi hidupku semakin tersiksa, ayah selalu menyiksaku Karana Cahaya yang selalu mengadu tentangku, Cahaya adalah orang yang paling manipulatif yang pernah ku kenal.

Cahaya sangat jago membuat dirinya seolah-olah di tindas olehku, dia juga pandai merebut hati ayahku dengan segala prestasi nya yang jelas curang menurutku.

Cahaya sering mengadu pada ayah tentangku, dia sering memfitnah ku bahwa aku membully dan menyakitinya di kampus. Dia juga pandai sekali mencari waktu agar terlihat aku lah yang menyakitinya. Cahaya sangat jago dalam mencari muka di hadapan teman-temannya, hingga aku akhirnya dikucilkan dan tak memiliki teman satu pun.

Orang-orang selalu memandangku dengan sangat sinis dan benci padahal aku tak melakukan hal yang jahat pada Cahaya.

" Kak, aku bawa titipan dari mama " Cahaya datang dengan membawa sekotak bekal ke dalam kelasku, setelah itu dia membuka kotak itu dan kemudian duduk di kursi menghadap kearahku.

" Waaw, ini makanan kesukaan kakak. Nih " Dia menyodorkan makanan itu saat aku hendak mengambilnya tiba-tiba....

Gubrak!...

Habis semua makanan itu tumpah berserakan di lantai. Dengan sengaja Cahaya menepaskan kotak bekal itu sebelum aku mengambilnya.

" Kakak!!, Kok di jatuhin?! " ucapnya pura-pura polos.

" Cih " aku hanya berdecak kesal pasalnya sama sekali aku tak berniat menjatuhkan makanan itu dia yang sengaja menjatuhkan ya agar aku kembali di marahi lagi dan orang-orang menggapku adalah manusia yang paling jahat padanya.

" kakak, mama udah susah-susah lho masak ini buat Kakak " ucapnya.

" Gue gak jatuhin! " Bentakku.

Seketika air mata buaya nya menetes membuat semua orang berempati padanya.

" Min, lu itu kenapa sih?!, Lu tuh gak pernah berubah tau gak?! Kita semua tahu lu gak suka sama Cahaya tapi gak kaya gini dong caranya!! " Nesya bangkit dari tempat duduknya dan kemudian mendekat lalu merangkul Cahaya.

Cahaya, Nama yang bagus dan indah, namun pemilik nama itu tidak sesuai, dia lebih pantas dinamai setan di bandingkan nama yang mencerminkan kebaikan.

" Gue gak jatuhin itu, ngerti gak lu?!, Cahaya sendiri yang sengaja jatuhin sebelum gue pegang itu kotak nasi biar kesannya gue yang jatuhin, paham! " Ucapku membela diri.

" Kakak kok ngomong gitu, cahaya gak lakuin itu, buat apa. Sayang juga makanan yang mama buat capek-capek gak mungkin Cahaya buang gitu aja " elaknya.

Ingin sekali aku menjambak mulutnya yang pandai berdusta itu.

" Min, lu ngomong aja kalo lu gak suka sama Cahaya gak usah kaya gini! " Tiba-tiba Valen ikut menimpali.

Seketika amarahku memuncak, namun aku tak berani melawan.

Aku dan Valen jujur saja menjalani hubungan yang sangat tidak sehat. Kami sering melakukan hubungan yang di larang oleh agama.

Banyak foto-foto fulgar ku dan video-video kami saat melakukan itu sehingga aku tak berani melawannya karena dia selalu mengancam akan mempablikan semua foto dan video itu.

Aku benar-benar tersiksa dengan hubungan ini. Aku ingin berhenti namun Valen selalu saja mengancamku.

Valentino Abimanyu. adalah kekasihku, kami berpacaran sudah lebih dari dua tahun, setiap kali aku meminta putus darinya dia selalu mengancamku dengan bukti hubungan kami yang tidak sehat itu.

Aku marah, tapi aku tak berdaya, aku selalu menggenggam segalanya sendirian. Aku tak memiliki teman sama sekali itu pun Karana ulah Cahaya yang selalu membuat dirinya seolah tertindas olehku. Akhir ya orang-orang membenciku tanpa tahu kebenaranya.

Sedangkan Valen, kami berpacaran secara sembunyi-sembunyi, Valen tidak mau mengakui aku sebagai kekasihnya karena dia adalah pemuda yang sangat terkenal di kampus. Sedangkan aku hanya wanita yang dianggap brutal dan tukang bully jadi dia malu jika mengaku aku adalah kekasihnya.

" Valen! " Bentakku lalu aku menatap matanya.

Cahaya tahu aku berpacaran dengan Valen, Karana Valen sering bermain kerumahku, jadi dia tahu tapi dia sama sekali tidak pernah membocorkan hubungan aku dan Valen. Entah mengapa, mungkin Karana dia tidak mau anak-anak dikampus dekat denganku Karana tahu aku pacarnya Valen.

Aku tak peduli itu.

"Minnie apa lu gak cape nyakitin adik lu sendiri? " Ucap Valen.

" Hahaha " aku tertawa sumbang setelah mendengar apa yang di ucapkan kekasih hatiku ini.

" Kenapa ketawa, apa yang gue ucapkan lucu! " Bentaknya.

" Menyakiti?! Siapa yang menyakiti, orang ini yang gila! Dia membuat seolah-olah gue lah yang ngelakukan semuanya, dia membuat seolah gue yang ganggu dia, paham lu! " Ucapku sambil menunjuk ke wajah Valen.

Valen tampak marah, wajahnya memerah ini yang aku harapkan, biar saja siapa tahu dia memutuskan ku setelah ini.

" Kakak, udah kak " Cahaya mendekat lalu menarik tanganku, Kemudian...

" Lepas! " Bentakku. Bukanya melapaskan dia semakin mempererat tanganya.

Dengan paksa aku berusaha melepaskan pegangan tangan Cahaya, namun secara sengaja dia melepaskan pegangannya itu saat tanganku berusaha melepaskanya dan akhirnya...

" Brak!! " Cahaya terjatuh kebelakang dan menabrak meja.

" Cahaya!! " Kaget semuanya.

Terlihat darah segar mengalir di keningnya.

" Minnie!, Lu sengaja ngedorong Cahaya?! " Bentak Valen.

" Gue gak lakuin itu! " Aku membela diriku.

" Anj*ng, lu bener-benar udah kelewatan Min! " Nesya langsung mendorong tubuhku.

" Apa sih lu Nas!, Gue udah bilang gue gak dorong Cahaya! " Aku melawan Nesya dan membalas kembali dorongannya.

" Apa-apaan kalian ini!, Anak-anak cepat bawa Cahaya ke ruang kesehatan! " Perintah Valen.

" Dan lu!, Awas lu! " Ancamnya.

Semua orang kini meninggalkanku sendirian, ingin rasanya aku menangis sekencangnya, tapi mungkin semua air mataku sudah habis tak tersisa, aku hanya bisa menatap kosong ke arah papan tulis.

Aku tak ada sedikit pun niat untuk menjenguk Cahaya, malas untuk melihatnya pun aku sudah tidak Sudi.

Sore hari tiba, rasanya aku malas untuk pulang kerumah. Pasti Cahaya sudah mengadu kepada ayah. Dan yang pasti dia akan marah padaku dan menyiksaku hari ini juga. Jadi lebih baik aku menghindar saja, walaupun akhirnya aku akan tetap di siksa namun setidaknya aku sore ini memenangkan diriku dan melepaskan semua penderitaan ku.

Aku tidak langsung pulang, namun aku menghentikan sepeda motorku di sebuah jembatan besar.

Aku adalah penyuka motor trail, dan ayah membelikan ku motor itu saat aku baru masuk kuliah, dengan ancaman aku tidak akan kuliah di jurusan bisnis, akhirnya ayah setuju membelikan motor yang aku mau, meskipun ternyata Cahaya juga meminta ayah membelikan mobil mewah untuknya.

Angin di pinggir jembatan ini sangat sejuk sehingga membuat aku merasa nyaman dan tenang, ku rentangkan kedua tanganku menikmati ketenangan ini, jalanan yang sepi dan jarang sekali orang-orang yang lalu lalang membuatku merasa aman.

Aku tumpahkan segala kesedihanku, kekecewaan ku dan segala hal yang membuatku putus asa.

Air mataku terus mengalir seiring hembusan angin.

" Tuhan aku lemah " ucapku, namun tiba-tiba....

Grep...

Seseorang menarik pinggangku menjauh dari pinggir jembatan yang hanya berpagar pendek itu.

" Akh!! " Kagetku. Kami sama-sama terjatuh, sepertinya tubuhku berada di atasnya, dia memelukku dengan sangat erat .

" Mbak!, Jika mbak ada masalah jangan seperti ini!, Jangan Sampai mbak mengorbankan nyawa mbak, sayang mbak! " Ucap pria yang menarik ku menjauh dari tepi jembatan.

" Lepas! " Bentak ku.

" Tidak!, Sebelum mbak janji tidak akan melakukan tindakan bodoh seperti ini lagi! " Ucapnya.

" Apa sih nih orang! " Pikirku.

" Lepaskan saya mas!, " Aku berusaha melepaskan pelukan nya.

" Nggak mbak! Janji dulu mbak gak akan lakuin hal yang seperti tadi baru saya akan lepaskan! " Jawabnya.

" Saya gak mau bunuh diri, mas! " Ucapku lagi.

" Hah?!, Terus barusan?! " Tanyanya dengan suara yang terdengar kaget.

" Saya hanya ingin menenangkan diri itu saja!, Sudah lepaskan saya, gak enak di lihat orang! " pintaku.

Dengan perlahan orang itu melepaskan tanganya dariku. Setelah lepas aku berusah bangkit dan kemudian duduk. Ku lihat orang yang mengira aku akan bunuh diri itu.

Dia terlihat cengengesan tak jelas saat aku menatapnya.

" Dih! " Ucapku.

Dia langsung bangkit dan duduk menghadap ke arahku.

" Mbak seriusan nggak akan bunuh diri? " Tanya nya lagi.

" Ya nggak lah, ngapain juga saya bunuh diri, gak ada kerjaan " jawabku ketus.

" Syukurlah " ucapnya sambil mengelus dadanya.

" Perkenalkan nama saya Aksara " dia menjulurkan tanganya ke arahku.

Bab 2

Oh jadi namanya aksara, aku hanya menatap dia naik turun dengan sinis. Kekesalanku belum berakhir, karena kedatanganya ketenanganku tergganggu.

" Nama mbak siapa? " Tanyanya sambil terus tanganya mengarah kepadaku.

" Minnie! " jawabku dengan ketus.

" Kaya tokoh kartun " ucapnya.

Aku malas mendengar kata-kata nya, apa lagi orang nya sangat tengil dan menyebalkan.

Aku tak lagi menghiraukan celotehannya, aku bangkit lalu berjalan kearah motor ku. Dan kemudian mengenakan helm kembali.

" Mbak, kok ninggalin saya sih? " Dia langsung bangkit dan menghampiriku.

" Saya mau pulang " ucapku.

" Saya anter ya, " tawarnya.

" Gak usah! " Jawabku ketus lagi.

" Tapi saya gak yakin mbak gak bakal lakuin hal yang kaya tadi, jadi tolong biarkan saya mengantar mbak " mohonnya.

" Anda begal ya? " Tunjuk ku padanya.

" Hah?!, Begal? B,,bukan mbak " elaknya.

" Lah terus ngapain anda ngikutin saya coba? " Kesalku.

" Saya hanya ingin memastikan saja jika mbak pulang kerumah, itu saja " jelasnya.

" Gila, " umpatku.

" Mas, saya tegaskan sekali lagi saya gak berniat bunuh diri, jadi tolong jangan mengikuti saya lagi! " Tegasku.

" Oke, baiklah mbak. Maaf " ucapnya lalu membiarkan aku pergi.

Dengan tenang aku menjalankan motorku sampai tiba kerumah.

" Minnie!, Ini sudah yang kesekian kalinya kamu melukai adik kamu!, " Ucap ayahku sambil menyeret tubuhku keluar menuju halaman belakang.

" Ayah!, Aku gak lakuin itu! " Bantahku.

" Nesya datang kemari mengantarkan Cahaya dan dia dan satu kelas kamu melihatnya, apa kau ingin membohongi ayah!."

" Plak " satu tamparan keras mendarat di pipiku.

" Ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menindas orang lain, Dominnieqha Pramaditha!!" Teriak ayahku memekakan telingaku.

" Ayah hentikan yah, kasihan kak Minnie " Cahaya dengan wajah sok polosnya berpura-pura menahan ayah.

" Serigala berbulu domba! " Ucapku dalam hati.

" Plak, " satu kali lagi ayah menamparku, membuat pipi ini terasa panas dan perih.

" Sakit yah!, Belum puas ayah siksa aku dari semenjak kehadiran Cahaya, yah?!, Bunuh saja aku sekarang juga! " Teriakku.

Aku sudah benar-benar lelah dengan semua ini. Aku sangat lelah harus setiap hari menjalani hidup yang penuh siksaan dan tekanan batin sepeti ini.

" Oh jadi kau ingin mati ya!! " Ayah yang semula berhenti menariku, kini dia kembali melanjutkannya, aku berusaha melepaskan diriku, namun tenaga ayah sangat kuat.

Byurr....

Tubuhku di lemparkan oleh Aya ke kolam renang yang dalam, ayah tahu aku tak bisa berenang, tapi mengapa dia begitu tega melakukan itu...

" Ayah!!, Kakak!!, Ayah tolong kakak " Teriak Cahaya.

Aku mencoba sekuat tenaga agar tidak tenggelam, namun ini sangat sulit dari kecil aku sangat takut dengan air yang dalam karena pernah tenggelam di kolam ini, hingga akhirnya aku enggan belajar berenang karena selalu di hantui oleh rasa takut tenggelam lagi.

" A,,ayah,,uhuk,,uhuk,t,,tolong "ucapku dengan terbatuk-batuk.

" Cahaya mau kemana kamu, biarkan dia mati sekalian! " Terdengar suara ayah membentak Cahaya.

" Tapi, yah. "

" Masuk sekarang juga! " Bentak ayah lagi.

Aku benar-benar tak sanggup lagi, aku sudah berusaha agar mendekat ke kolam yang lebih rendah tapi sialnya aku tak bisa menjangkau kolam yang luas ini.

" Byurrr,,, " seseorang melompat ke kolam.

" Apakah itu ayah? " Pikirku.

Tangan ku terus berusaha mendayung agar tak tenggelam dan tiba-tiba.

Grep....

Seseorang memeluk pinggangku lalu menariku ketepian.

" Uhuk,,uhuk,,uhuk " aku terbatuk-batuk karena air yang masuk kedalam mulut dan hidungku.

" Kamu tidak apa-apa, mbak?. "

" Suara orang yang tadi aku temui! " Ucap dalam hati, dengan cepat aku berbalik dan melihat kebelakang.

" Kamu?! " Tunjuku.

" Sudah, ayo naik dulu, " dia membantuku agar naik dari dalam kolam.

" Kok bisa? " Heranku.

" Hehehe, maaf mbak aku mengikuti mu " ucapnya sambil menggaruk-garuk kepala.

" Terima kasih " aku langsung memeluknya tanpa aba-aba. Ku rasakan tubuhnya menegang, mungkin Karana kaget dengan apa yang ku lakukan ini.

" Mm,,mbak. Lepaskan benda kenyal mbak menyentuh dada ku, itu membuat aku merasa aneh " ucapnya, sontak saja aku langsung melepaskan pelukanku dan kemudian menutupi dadaku dengan tanganku.

" Mesum! " Bentakku.

" Hah?, Kok mesum sih mbak?, Aku kan hanya berkata jujur, itu saja " wajah polosnya membuatku semakin malu.

" Mbak, adakah baju aku kedinginan " ucapnya.

" Ba,,baju?, Ya sudah kamu tunggu disini aku ambil dulu baju buat kamu " ucapku.

" Mbak gantilah dulu pakianya mbak, itu sangat jelas jika basah " ucapnya sambil tertunduk.

" Astaga!!! " Teriakku lalu aku berlari meninggalkanya.

Aku benar-benar tidak sadar jika hari ini aku mengenakan kemeja berwarna putih yang otomatis jika basah memperlihatkan seluruh lekuk tubuhku.

Aku terus berlari, tak kupedulikan ayah dan tente Melinda yang sedang kebingungan.

Pasti meraka memikirkan mengapa aku masih bisa keluar dari kolam.

Aku dengan cepat membersihkan tubuhku lalu mengganti pakaianku dan kembali berlari keluar menghampiri Aksara yang sudah menungguku.

Untung saja Valen sering mandi di rumahku jadi dia meninggalkan bajunya disini.

" Ini, cepat ganti pakaianmu, lalu pulang " ucapku .

" Terima kasih, mbak " ucapnya.

" Disana saja kamu ganti pakaian " ku tunjuk ke arah belakang yang memang disana tempatnya tertutup.

Aku tak bisaembiarkan dia lama disini, jika ku biarkan kasihan dia takutnya ayah malah memarahinya.

Setelah selesai dia kembali dengan kaos putih dan celana training milik Valen.

Aku tertegun melihat laki-laki yang baru ku kenal beberapa jam lalu ini.

Dia ternyata sangat tampan, jauh jika di bandingkan dengan Valen yang keturunan bule.

Wajahnya sangat tampan hidungnya mancung dan bibir yang tipis dan berwarna merah.

Dia putih, beralis tebal dan rahangnya tegas sungguh terlihat seperti tokoh di sebuah novel romantis.

Mungkin tadi aku melihatnya culun karena dia menggunakan kacamata dan poni rambutnya di kedepankan

Sedangkan sekarang dia melepaskan kacamatanya dan rambutnya yang disisir kebelakang membuat dia tampak sangat berkarisma.

" Mbak? " Panggilnya.

" Panggil aja Minnie, gak usah pake mbak " jawabku.

" Ya udah " jawabnya.

" Boleh bagi kontak WA-nya? " Tanyanya lagi.

" Boleh, tapi setelah ini kamu harus pulang ya, takut ketahuan ayah " jelasku.

Dia pun mengaguk mengerti.

Kemudian aku memberikan nomor ponsel ku dan dia pun menuruti perkataan ku untuk meninggalkan rumah ini.

Hari ini di kampus rasanya begitu tenang karena Cahaya tidak masuk, entah kenapa dia tidak masuk, padahal dia sehat-sehat saja tapi aku tak peduli toh bukan urusanku juga.

Ku tengok kanan kiri Valen juga tak ada, tapi dia sama sekali tak mengabari ku. Mengabari?, Astaga aku lupa aku bahkan tak pernah di anggap ada olehnya.

" Wah,,, gak nyangka banget ternyata selama ini mereka pacaran, ya " jam istirahat tiba dan ku dengar anak-anak antusias membicarakan tentang lamaran.

" Siapa yang lamaran,, ya? " Pikirku.

" Emang bener-benar tega ya si Minnie, adiknya lamaran dia sama sekali gak hadirin, kelihatan banget gak sukanya si Minnie sama Cahaya " terdengar gumaman seseorang di belakangku yang sontak membuatku langsung berbalik menatap Meraka.

" Apa lu bilang? " Tanya ku.

Bab 3

" Apa lu bilang? " tanyaku

" Apa?! " Meraka malah balik tanya dan seolah-olah menantang ku.

" Maksud kalian apa bilang gue tega sama Cahaya?, Lu pada jangan sembarangan ngomong ya, Cahaya gak lamaran! " Ucapku.

" Lu itu yang sembarangan, jelas-jelas Cahaya lamaran lu aja yang gak niat buat hadirkan?, Apa lagi saat tahu Cahaya di lamar Valen! " Tuturnya.

Deg!!...

Seperti jantungku terlepas dari tempatnya setelah mendengar apa yang di tuturkan orang itu.

" Va,,Valen? " Ucapku terbata-bata.

" Iya!, Gak mungkin lu gak tahu! " Bentaknya lalu pergi meninggalkanku begitu saja.

Aku masih terpaku pada apa yang ku dengar barusan.

" Valen?, Tidak mungkin. Bukankah selama ini Cahaya tahu jika aku dan Valen bersama? " Pikirku.

Dengan hati yang penuh penasaran, aku bergegas untuk pulang, tak peduli meskipun hari ini masih ada jam pelajaran.

Aku berlari menuju parkiran lalu menyalakan motorku, dan melaju meninggalkan kampus dengan kecepatan di atas rata-rata.

Aku benar-benar masih tak percaya dengan ucapan orang-orang, tidak mungkin Valen melamar Cahaya, bukan kah aku telah memberikan segalanya padanya.

Aku tahu Valen tak pernah mencintaiku, aku juga tahu Valen tak pernah menggapku ada, tapi setidaknya dia jangan melepaskan tanggung jawabnya. Dia telah merusakku, merenggut kesucianku, mau tidak mau dia harus bertanggung jawab atas itu.

Sepanjang perjalanan air mataku terus saja menetes. Memikirkan jika Sampai apa yang di katakan mereka itu benar.

" Aku harus bagaimana? " Pikirku.

Tiba di rumah, aku benar-benar di sambut dengan kenyataan pahit.

Ku lihat rumah ini telah di sulap menjadi penuh hiasan bunga-bunga dan juga pernak-pernik lainya. Rumah yang tadi pagi biasa saja kini berubah di penuhi bunga dan lampu-lampu kelap-kelip.

Air mataku benar-benar luruh saat ku lihat nama yang tertera disana.

Aku melangkah masuk kedalam rumah yang sudah aku tinggalin selama Dua puluh Dua tahun ini.

Ku lihat hampir seluruh ruangan kosong, hanya ada beberapa saudara ayah.

" Min, kamu dari mana aja?, Acara udah selesai kamu kok baru datang? " Tanya bibiku.

Aku tak menjawab, bahkan menampakan wajahku saja aku tak bisa, air mataku tak bisa ku tahan, kekecewaan ini terasa sangat dalam.

" Aku yakin mereka di ruangan atas! " Ucapku dalam hati.

Aku menaiki tangga yang telah merenggut nyawa nenek. Dan benar saja, kulihat ternyata mereka sedang berkumpul bersama.

Mereka?, Ya mereka termasuk ayahku sendiri.

" Ternyata begitu tak berartinya aku di mata ayah, ya. " Ucapku menggetkan mereka.

" Minnie?! " Mereka semua berbalik ke arahku.

" Kenapa kalian menyembunyikan ini dariku? " Tanyaku, getaran kesedihan jelas terdengar dari suaraku. Leherku terasa tercekat menahan agar tidak menangis sejadi-jadinya.

Apa masih kurang mereka menyakiti diri ini?,

Ku lihat wajah syok ayah, Tante Melinda juga kedua pasang manusia tak berhati itu.

Sedangkan keluarga Valen hanya diam dan kebingungan melihatku.

" Mengapa kalian lakukan ini padaku?!, Ayah?, Apa ayah lupa laki-laki yang bernama Valentino Abimanyu ini adalah kekasihku?!, Apa ayah lupa Cahaya itu adalah adik tiriku?!, Mengapa kalian begitu tega melakukan ini padaku! " Teriakku. Amarahku sudah benar-benar memuncak, hati ku benar-benar di buat hancur oleh keluargaku sendiri.

" Minnie!, Jaga ucapanmu kita sedang kedatangan tamu! " Bentak ayah.

" Ayah yang harus jaga bicara!, Dan kau! " Ku tunjuk Valen lalu ku lirik cahaya yang masih saja terlihat pura-pura polos.

" Valentino Abimanyu, apa kau lupa selama dua tahun ini apa yang telah ku berikan padamu?, Bahkan aku menolak pun kau terus memaksaku?, Apa kau lupa aku telah memberikan seluruh hidupku padamu?, " Ucapku dengan penuh penekanan.

" Dominnieqha Pramaditha! " Bentak ayahku.

" Apa, yah?!, Apa selama ini penyiksaan yang ayah lakukan belum cukup untukku?!, Apa sikap ayah yang selalu membela Cahaya itu belum cukup, yah?!, Aku telah banyak menderita tapi ayah tidak pernah peduli itu, lihat sekarang apa yang ayah lakukan?!, Ayah tahu jika Valen adalah pacarku tapi mengapa ayah malah membiarkan Cahaya mengambilnya?! " Tuturku dengan dada naik turun.

" Minnie!, Berani nya kau!, Dengar ini. Apa kau pikir ayah tidak malu jika membiarkan kamu di lamar!, Ayah malu. Perempuan macam apa kau ini, yang sampai rela memberikan tubuhmu pada laki-laki sebelum menikah hah?!, Kau membuatku malu, bukan hanya kepada Valen kau menjajakan tubuhmu tapi kepada orang lain di luaran sana pula!, Dasar anak tidak tahu di untung!, " Ayah malah balik memarahiku.

" Maksud Ayah apa?, Jangan sembarangan bicara aku tidak pernah menjajakan tubuhku pada laki-laki selain Valentino Abimanyu!, Lagi pula itu pun Valen yang selalu memaksaku dan mengancam akan menyebarkan foto dan videoku!" Aku berusaha membela diriku di tengah sakitnya leherku menahan tangis yang sudah hampir pecah ini.

" Itulah kesalahan terbesar mu!, Kamu lihat betapa brutalnya dirimu, hidupmu acak-acakan, kau bahkan sudah terlihat seperti preman saja, tengok dirimu! Lidah di tindik, rambut di warnai, anting hampir memenuhi seluruh kupingmu!, Pakaian compang camping seperti gelandangan, pantas saja jika laki-laki hanya memanfaatkanmu!, Harusnya kau berkaca sebelum berpikir lebih jauh " ucapan ayahku benar-benar membuatku kecewa. Dai bukan lagi ayahku, dia kini telah berubah menjadi orang lain.

" Ayah!, Aku begini karena kau!, Kau selalu saja menyiksaku dan pilih kasih, padahal aku anakmu sendiri, tapi kau selalu membela gadis sialan ini! " Tunjuku pada Cahaya.

" Minnie!, Cukup! Apa lu gak punya malu?!, Lu sadar diri dong siapa lu!, Jangan terus aja nyalahin Cahaya, Cahaya wanita baik-baik, gak sama kaya lu! " Bentak Valen.

" Lu yang gak punya malu!, Lu macarin gue tapi lu malah lamar orang lain!, Dasar bajingan! " Lawanku.

" Lihat, apakah dengan seperti ini orang tua Valen akan menerima kamu? " Ucapan Tante Melinda semakin membuat amarahku mendidih.

" Cukup kau wanita ular!, Aku tahu kau yang selalu saja menghasut ayah! Dasar wanita perbuat kebahagian orang! " Bentaku.

" Valen, apa lu lupa, lu sering ngucapin bakalan tanggung jawab, bakal nikahin gue tapi mana buktinya?!, Dasar!, Memang cocok bajingan bersanding dengan perusak kebahagian orang!. "

" Kakak aku gak gitu,, " Cahaya kembali melakukan aktingnya.

" Terserah kau saja, wanita ular! " Bentaku.

Dia langsung menampakan wajah polos yang seolah-olah begitu tersakiti olehku.

" Minnie! " Bentak ayah.

" Hahaha, apa yang membutakan ayah sampai ayah terus saja membela dia? " Ucapku di iringi tawa sumbang.

" Kau sudah sangat keterlaluan, Minnie! " Bentaknya lagi.

Ku lihat ada kotak perhiasan di hadapan Cahaya, dengan hati yang di penuhi amarah aku mengambil kotak itu lalu...

Pyarrr...

" Minnie!! " Kaget semua orang saat melihat pecahan kotak kaca itu berserakan.

" Jika saja aku tidak kasian padamu sudah ku lemaparkan kotak ini di wajahmu! " Tunjuk ku tepat di wajah Cahaya.

" Kau!! " Ayah terlihat semakin marah padaku.

" Apa mau menyiksaku lagi?, Atau mau membunuhku sekalian? " Tantangku.

" Keluar kau dari rumah ini! " Teriaknya.

" Dengan senang hati " ucapku di iringi senyuman sinis.

" Kau senang wanita ular?! " Ucapku sambil menatap Tante Melinda dan Cahaya.

" Cepat pergi!! " Bentak ayah lagi.

Aku tak mau jika sampai badanku di siksa lagi, lebih baik sekarang aku pergi dan menenangkan diriku.

Aku keluar meninggalkan rumah yang di isi oleh para manusia durjana itu.

Kini aku menangis sejadi-jadinya di tepi danau, badanku meringkuk di rerumputan hijau, Isak tangisku di iringi suara burung gagak sedari tadi menemani.

" Mbak? " Tiba-tiba suara seseorang menggetkanku, aku bangkit dan berusaha membersihkan air mataku.

" Ya? " Jawabku lalu menatap orang itu.

" Aksara?! " Kagetku.

" Minnie?, Sedang apa disini? Kamu kenapa menangis?! " Dia langsung duduk menatapku sambil memeriksa tubuhku dari mulai wajahku, tangan dan kaki ku.

" Apa ayahmu menyiksamu lagi?! " Tanya nya dengan panik.

Aku menggelengkan kepala.

" Ini lebih dari penyiksaan, Aksara. Huhuhu " tangisku semakin kencang lalu dengan spontanitas dia membawa tubuhku ke pelukannya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED