Bab 1

Kriut...

Engkrit, engkrit, engkrit...

Seketika telingaku terpana, tatkala mendengar derit sesuatu yang berasal entah dari mana. Sontak bulu kudukku meremang, jantung pun turut bergoyang. Serasa tengah bermain dalam pacuan kuda.

Suara apa itu?

Apa ada setan yang bersemayam di rumah ini?

Keterkejutanku bertambah, saat tak kutemukan Mas Deo di sebelah. Cuma ada aku dan putri satu tahun kami di sini.

Kubidik jam yang menunjukkan angka 12. Tengah malam begini, ke mana suamiku? Suara apa pula yang tercipta dalam keheningan gelita ini?

Kupacu langkah dengan menyalakan saklar lampu terlebih dahulu. Kamar gelap tak akan mungkin bisa membuatku berjalan dengan layak. Yang menjadi pertanyaannya lagi, pintu kamar kenapa terbuka?

Fix! Pasti pelakunya suamiku.

Kutelusuri ruang demi ruang. Vokal derit kian kentara, ketika kaki ini merujuk ke kamar nomor dua, sebuah ruang yang berada tepat di sebelah bilikku bersama Mas Deo.

'Suaranya dari kamar Ema.' Aku membatin aneh. Dahiku berlipat tiga disertai perasaan yang tak enak.

Ngapain dia? Tidak tidur jam segini?

Sejenak tentang menghilangnya suamiku terlupa. Aku kini lebih fokus pada suara entah apa yang berasal dari kamar Ema.

Kakiku melangkah lamban, harap-harap cemas tentang apa yang ia perbuat tengah malam buta begini. Semakin dekat dengan kamar Ema, maka kian berdendang pulalah dada ini.

Dan...

Tap!

'He?'

Nihil!

Tidak ada suatu apapun yang terjadi, kecuali...

'Ema tidur, tapi kenapa suara itu berasal dari kamarnya?' batinku.

Astagfirullah. Dada kusapu berkali-kali. Jujur, aku sempat berhalusinasi, kalau Ema tengah main gila dengan memanggil lelaki liar ke rumah kami. Aku salah. Terlalu suuzon jadi manusia.

Sudah dua hari ini handle pintu kamar Ema rusak. Membuat benda persegi panjang tersebut tak terkatup rapat. Sudah sempat kami memanggil tukang langganan, sayangnya lelaki itu malah pulang kampung.

Aku melongo ke dalam kamar yang cukup luas tersebut. Kubiarkan adik bungsuku tidur lelap dengan selimut yang menyelubungi sekujur badannya. Di bawah pendar temaram lampu, ia tak bergerak sedikit pun. Betul-betul nyenyak. Sekadar ranjangnya saja yang sedikit menari-nari.

Kasihan.

Ema pasti capek seharian bekerja. Menjadi karyawan di sebuah perusahaan bukanlah kegiatan yang mudah. Adik satu-satuku itu harus pergi pukul tujuh pagi dan sampai di rumah lagi saat magrib menjemput, maklum di jalan suka macet. Itu pun Ema terkadang mendapat jatah lembur, sehingga membuatnya harus balik pada jam sembilan malam.

Dan, karena alasan itulah aku tak mau mengacau tidur lelapnya malam ini. Soal suara derit yang berasal dari kamarnya tersebut; akan kutanyakan esok saja. Mungkin ranjangnya mulai rusak. Atau, itu sekadar suara handphone Ema yang masih menyala, sementara orangnya telah tertidur.

Sasaranku cuma satu, yakni Mas Deo. Tak biasanya ia menghilang tengah malam. Kususuri seluruh ruang di rumah yang terbilang cukup luas ini. Sayang, sosok pemilik toko bolu ternama di kota kami itu gagal ditemukan.

Aku berangsur ke kamar. Jemariku lincah mencari kontak yang bernama 'suamiku' dengan logo hati merah di sampingnya. Gegas aku menghubungi Mas Deo jalur udara.

Triiiing!

Sial!

Handphone-nya malah ada di kamar ini.

Gagal sudah niat hati untuk mengetahui di mana Mas Deo berada. Tak ingin membuat capek pikiran, aku pun kembali memutuskan untuk tidur. Aku akan bertanya, setelah melihat batang hidungnya nanti.

Purnama berangsur punah. Sorot halus mentari perlahan tampak, merasuk dari setiap celah gorden jendela yang terbuka.

Aku dan sepasang insan lainnya sudah berkumpul di meja makan. Pas! Ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya tentang dua buah kejanggalan yang kualami tadi malam.

Tubuhku menegak seketika. "Mas, tengah malam tadi kamu menghilang. Dan kamu, Ema, Mbak juga dengar ranjangmu berderit-berderit., bergoyang pula."

Detik itu juga, wajah suami serta adikku sama-sama menegang dan memutih.

Bab 2

Saat ini aku tidak memperhatikan wajah kedua orang di hadapanku, tanganku sibuk menyiapkan roti bakar beroleskan selai roti kacang. Tetapi, yang jelas aku sudah sempat mengetahui ekspresi keduanya tadi. Aku tengah memasang kedua telinga selebar mungkin sekarang.

Lelaki berumur 27 tahun di hadapanku itu beralasan, "Se- semalam aku i-kut ronda sama bapak-bapak lainnya, Fel."

Aku mencoba mencerna alasan suamiku. Memang alasannya masuk di akal, tetapi suaranya yang bergetar dan terbata-bata menimbulkan sedikit rasa curiga dalam benak.

Kini ekor mataku mulai tertarik, melirik sang adik.

Hal yang sama telah aku dapati dari sosok wanita berambut semampai itu. "Emang ranjang punyaku sudah jelek mbak. Bahkan kadang-kadang, punggungku sakit kalau bangun pagi," jawab Ema yang tidak bisa aku elakan.

Terpikir olehku untuk memperbaiki masalah Ema. "Mas, gimana kalau ranjang Ema kita ganti aja, supaya tidak bergoyang dan berbunyi lagi," ucapku memberikan pendapat.

Mas Deo hanya menganggukkan kepalanya, mulutnya penuh berisikan roti yang sedang ia kunyah.

Pria yang sudah aku beri pertanyaan itu, terlihat santai menikmati kudapan yang aku buat pagi ini.

Aku mengerti dan hanya mengangguk paham. Kubiarkan ruang makan itu sunyi, supaya semua orang di dalamnya bisa menikmati roti bakar yang aku siapkan pagi buta tadi.

Di tengah kesunyian, sesekali aku mendongak ke lantai atas rumahku, aku takut jika anakku terbangun, maka aku sudah siap bergerak cepat untuk menyergapnya.

Biasanya anakku akan menangis saat mulai melihat dunia.

Ya, aku dan sosok pria yang ada di hadapanku saat ini telah melewati bahtera rumah tangga selama 13 bulan lamanya.

Banyak yang aku syukuri sepanjang perjalanan bersama dengan Mas Deo sang suami.

Terutama munculnya buah hati diantara kami berdua. Bocah kecil berambut ikal dengan pipi tembem itu, kerap sekali membuat hidupku merasa sangat bermakna.

Karena aku dan Ema-adikku; telah menjadi seorang yatim piatu, maka aku ajak saudara sekandungku itu tinggal di rumah yang aku tempati bersama suami.

Semuanya terasa sempurna, tak ada ruang dalam hatiku yang kosong selama itu.

Kutungkup sendok dan garpuku di meja, tanda sarapan pagiku telah selesai.

Merasa bibirku sedikit belepotan, kusibak bulir kecil sisa-sisa makanan di area bibir dengan sehelai tisu.

Lalu aku mulai bertanya. "Mas, apa kamu jadi ke undangan hari ini?" tanyaku sambil melipat kedua tangan di atas meja.

Aku merasa berhak bertanya, karena sebelumnya Mas Deo sempat memberitahukan kalau malam ini dia akan menghadiri sebuah undangan.

"Iya, dong." Kudengar suamiku menjawab dengan sangat irit.

***

Singkat cerita malam telah tiba.

Aku membingkai bibirku se apik mungkin, kusematkan beberapa aksesoris di gaun yang telah aku pakai.

Sengaja aku mempercantik diri, karena aku tidak mau mempermalukan sang suami di depan banyak mata. Biarlah gendut, asal penampilan masih sesuai, pikirku.

Aku berlenggak-lenggok di depan cermin, memastikan bahwa penampilanku akan sesempurna, meskipun tubuhku tidak seramping dulu.

Kurentangkan bocah kecil kesayanganku di atas ranjang. Nampak bayi kecil itu, menendang-nendang angin sambil bermain dengan khayalannya.

Aku hendak pergi mencari sosok Deo yang belum nampak batang hidungnya.

Betapa tercengangnya aku, saat melihat suamiku keluar dari kamar Ema dengan mengenakan baju yang sudah rapi, sama kompaknya dengan Ema yang sudah mengenakan gaun favoritnya.

"Emang mau ke mana, Mas?" tanyaku.

Bukannya menjawab, suamiku malah balik bertanya. "Kamu sendiri mau ke mana?"

Merasa penat dengan pertanyaan itu, aku bilang dengan jelas bahwa aku akan pergi bersamanya ke undangan malam ini.

Dengan cepat suamiku berkilah kalau sebaiknya aku tunggu saja di rumah dan saat ini dia lebih memilih Ema untuk mendampinginya dengan alasan, kalau Ema tidak pernah keluar.

DEGH!

Kutatap raut wajah Ema yang polos. Meskipun hatiku hancur, tapi aku mengalah demi saudaraku satu-satunya.

Kubuka atributku yang tadi sudah memperindah penampilanku tadi. Biarlah. Biar malam ini aku mengalah.

Selang Ema dan Mas Deo pergi, aku ingin mengambil lipstik yang tengah dipinjam Ema 3 hari yang lalu. Mungkin dia lupa mengembalikannya.

Aku menerawang kamar Ema yang terlihat bersih. Namun sebuah kain segitiga membuatku tertarik untuk melihatnya lebih dekat lagi.

Terkejutnya hatiku dan tergoncangnya jiwa ini saat melihat dengan jelas kain segitiga itu terhampar nyata di ranjang Ema. Celana berkelir hitam itu sangat melekat dalam ingatanku, karena jelas sekali itu milik Mas Deo.

"Hah, kenapa ini ada di sini?" Aku mencengkram kain itu dengan benak yang diliputi tanda tanya besar.

Bab 3

Perasaanku saat ini benar-benar sangat gamang. Aku terus saja berjalan mondar-mandir seperti orang yang tak waras. Saat ini, aku hanya menanti kepulangan Mas Deo dan Ema. Sesekali juga kutenangkan Cici yang merengek rewel tak karuan.

Kugelar buah hatiku di atas tempat tidur, aku pun ikut merebah di samping Cici. Malam itu benar-benar menjadi malam yang sangat menggemaskan bagiku. Bahkan kicauan Cici di samping telingaku sama sekali tidak aku hiraukan.

Pikiranku benar-benar buntu.

"Kenapa sih kain privasi Mas Deo bisa ada di kamar Ema? Aneh!"

Kedua bola mataku terdampar di arah jarum jam yang sudah menunjukkan tanda larutnya malam. Dan angka yang terlihat tepat memanah pada nomor 10. Hatiku semakin sesak.

Dua jam tengah berlalu terasa panjang.

Aku mendengar deru mesin mobil memasuki pekarangan halaman rumah.

Bergegas aku mengelilingi Cici dengan bantal guling di sekitar. Kuamankan Cici sebelum pada akhirnya aku berjalan porak-parit menuju jendela kaca rumahku.

Untung saja Cici sudah tidur lelap, hingga pikiranku tidak bercabang lagi dan hanya fokus kepada dua insan yang ada di balik pintu rumah.

Rasanya aku sudah tak tahan ingin melabrak keduanya, isi kepalaku sudah hampir meledak mengingat kejadian beberapa jam lalu.

Aku segera mungkin menyambut kepulangan Ema dan Mas Deo dengan rasa was-was yang sangat dalam.

"Kenapa d4-la-m4n Mas Deo ada di ranjang kamu, Ema?!" tanyaku tak mau berbasa-basi lagi.

Mas Deo dan Ema seketika membisu di ambang pintu rumah.

Mata mereka saling bertemu dan hati mereka seperti sedang berbincang mempertanyakan hal yang sama.

Aku menghembus nafas penat, rasanya kecemburuanku sedikit meningkat.

Sedetik kemudian ketegangan pun mulai terpecahkan oleh suara Mas Deo yang santai. "Masak, sih? Emang iya, Ema?"

Pria berambut hitam pekat itu melirik ke arah adikku satu-satunya. Alih-alih mendapat keterangan pasti, Ema malah cengar-cengir tak karuan.

"Eh, iya. Maaf, Mbak," ucap Ema yang benar-benar tidak aku mengerti.

Kenapa wanita itu tiba-tiba meminta maaf, apakah dia tengah melakukan kesalahan yang fatal? Pikiranku semakin runyam.

"Tadi sebenarnya aku salah angkat kain. Aku kan masukin baju-baju kotorku ke dalam mesin cuci, eh, ternyata di dalam sudah ada pakaian kotor punya keluarga Mbak. Aku tarik lagi deh pakaianku yang ada dalam mesin cuci itu. Nggak aku sadari, pakaian Mas Deo ketarik," urai Ema yang belum membuat perasaanku tenang.

"Ambil aja celananya. Lagi pula dari tadi aku sudah berniat mau mengembalikannya, tapi lupa terus. Seriusan deh,"lanjut ucap Ema sedikit membuat pikiranku sedikit terbuka.

"Oh," jawabku singkat. Tapi dari kepolosan bahasa Ema, alasannya cukup bisa masuk diakal.

"Duh! Lain kali jangan teledor dong, Em." Cekal Mas Deo dengan nada yang kesal.

"Maaf ya, Mas, Mbak. Sumpah sumpah aku nggak sengaja, kok."

Aku pun mengangguk menerima alasan Ema tersebut.

Keesokan harinya, aku bersiap mencegat pria yang dinantikan para ibu-ibu sekomplek.

Sampai orang yang ditunggu datang, aku bergegas menghampirinya untuk memilih dan memilah sayuran yang aku butuhkan sebagai pengisi kulkas.

Gerobaknya dikelilingi oleh para ibu yang jago dalam memasak, juga jago dalam bersilat lidah.

Salah satu dari ibu itu menyapaku. "Eh, Fel. Dengar-dengar tadi malam suamimu pergi ke undangan sama Ema, ya?" tanya wanita muda yang usianya di atasku.

Aku mengangkat kedua alis, lalu menggangguk. Aku rasa, seluruh kegiatan rumahku tidak perlu dikonsumsi oleh orang lain juga. Sampai akhirnya aku menunggu kelangsungan ucapan dari ibu itu.

"Tau nggak semalam suamimu sampai pegangan tangan juga sama Ema. Kok kamu ngasih, sih, suamimu bergandengan tangan sama perempuan lain? Ya walaupun dia adikmu, tapi mereka kan tidak muhrim. Jadi nggak gitu juga kali konsepnya," lanjut wanita itu dengan bibir menjungkit.

Mendengarnya aku merasa ingin merobek mulutnya yang lebih berbingkai merah cabai.

Hatiku pun sampai menegang. Panas menyeruak mengisi batinku.

"Emang ibu tahu dari mana?" tanyaku dengan nada yang dingin.

"Tadi anakku yang cerita, soalnya kan dia juga pergi ke undangan yang sama."

"Oh, soal itu, aku sendiri yang menyuruh Ema untuk pergi sama Mas Deo. Soalnya tadi malam aku merasa nggak enak badan," tukasku sebenarnya membohongi hatiku sendiri.

Apa betul mereka pegangan tangan? Ck! Mungkin salah lihat.

***

Sore itu kucuci seperangkat pakaian suamiku. Dan, betapa terkejutnya aku saat menemukan sesuatu yang tak terduga.

Gumpalan kertas kecil yang sudah tergenang di saku celana Mas Deo yang ternyata berupa struk belanja berisi sederet barang-barang perempuan.

"Ya, Tuhan! Mas Deo beli semua perlengkapan wanita? Untuk siapa?" batinku berkecamuk. Jantungku serasa hendak lepas.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED