"Sudah sampai, Dek! Ini rumah Pak Suwarno," ujar Pak Sarip sambil menunjuk dengan jempolnya ke sebuah rumah tua yang masih sangat terawat.
Pria tua ini adalah tukang ojek yang sudah dipesan oleh paman untuk mengantarku. Sejak awal, Pak Sarip begitu sopan saat menyambutku di pintu gapura desa. Senyumnya melebar dengan gigi depan yang ompong dimakan usia.
Di sepanjang perjalanan, beliau tak segan untuk memulai obrolan denganku. Aku hanya tersenyum dan menjawab seperlunya. Rasa lelah yang aku rasakan membuatku ingin segera sampai di rumah paman, terlebih lagi kami harus melewati jalan yang membelah hutan yang rimbun menuju desa paman. Entah karena merasa sangat lelah, atau hanya perasaanku saja, sejak tadi aku bahkan merasa sedang diawasi oleh seseorang dari jauh.
Kupikir itu mungkin hanya seekor binatang yang berkeliaran di malam hari. Maklum saja, desa ini melewati sebuah hutan yang cukup lebat dengan penerangan seadanya dari obor yang sepertinya sengaja dipasang warga sekitar untuk menerangi jalan masuk ke desa.
"Terima kasih, Pak!" ucapku sambil menyodorkan selembar uang 100 ribu padanya, "Ambil saja kembaliannya."
Suasana malam yang begitu sepi. Udara dingin kian menusuk sampai ke tulang. Aku berdiri di depan pagar sebuah rumah tua yang kosong. Perjalanan yang hampir enam jam aku lalui membuatku merasa sangat lelah. Badanku terasa ringkih.
Aku tidak menyangka bahwa perjalanannya akan begitu lama. Niatku dari kota ke desa ini sebenarnya untuk liburan cuti dari kuliahku. Mengingat rumah paman yang seorang perwira TNI ini sudah lama kosong karena harus untuk bertugas di daerah lain, aku akhirnya memberanikan diri ke sini sendirian.
Jalanan di sini penuh lobang dan sempit, sehingga sulit diakses kendaraan roda empat tidak bisa melewatinya. Kata paman, di desa ini sangat jarang sekali warga yang memiliki kendaraan pribadi, mereka lebih memilih menggunakan transportasi umum untuk bepergian ke kota. Selain karena jalan desa yang tidak memungkinkan, mereka juga tidak pernah kesulitan mencari bahan makanan karena hasil panen yang melimpah mereka dapatkan dari bercocok tanam.
Setelah selesai mengobservasi daerah sekitar, aku kemudian turun dari motor sambil menggendong tas ransel di pundakku. Aku ingin segera istirahat.
"Waduh! Ini banyak sekali, Dek!" ucap Pak Sarip heran ketika menyadari jumlah uang yang kusodorkan padanya.
"Tidak apa-apa, rejeki buat Bapak sekeluarga," ucapku.
"Ya sudah kalau begitu, terima kasih banyak ya, Dek. Semoga berkah." Pak Sarip segera memasukkan uang seratus ribu itu ke dalam saku jaketnya yang terlihat lusuh.
Tak lama kemudian, Pak Sarip pamit pergi dan berlalu secepat kilat. Kurasa tak sampai lima menit aku berpaling, Pak Sarip sudah lenyap dengan sepeda motornya melewati kegelapan malam.
Perlahan, aku mulai memindahkan barangku ke teras rumah. Aku melihat sekeliling, rumah-rumah yang masih jarang dengan jarak saling berjauhan, pohon- pohon rindang yang tinggi menjulang, ditambah suara-suara binatang malam yang bersaut-sautan membuat nyaliku semakin menciut.
Kupercepat langkahku menuju rumah, berharap seseorang ada dihadapanku untuk sekedar mengusir ketakutanku.
Kata paman, rumah ini dirawat oleh sepasang suami istri selama kurang lebih dua belas tahun ditinggalkan oleh paman. Mereka adalah Mbah Atmo dan Bi Sari.
Mbah Atmo dan Bi Sari sudah lebih dari dua puluh tahun tinggal bersama paman dan keluarganya. Sejak kepergian istri dan anaknya, paman memutuskan untuk tinggal jauh dari desa ini.
Kuketuk pintu dengan tergesa. Dengan perasaan takut, aku memberanikan diri melihat sekeliling rumah yang masih dikelilingi oleh pohon-pohon rindang yang gelap.
Tok ... tok ... tok ...
"Assalamualaikum! Permisi, apa ada orang?" ucapku setengah berteriak.
Dari dalam rumah, terdengar suara langkah kaki yang terdengar pelan. Langkah kaki itu perlahan mendekat ke arahku.
"Ya, tunggu sebentar!" ucap seseorang dari dalam rumah.
Seketika perasaanku menjadi lega, ternyata masih ada orang yang terjaga selarut ini.
Ceklek!
Suara pintu yang ditarik dari dalam.
Kulihat seorang nenek tua dengan rambut cepol yang penuh dengan uban membuka pintu dengan pelan.
"Malam, Bi. Saya Aldi, keponakan Pak Suwarno," ucapku memperkenalkan diri.
Nenek tua itu melihatku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
Aku begitu berdebar. Namun, semua itu sirna ketika perempuan tua itu tersenyum dan menggandeng tanganku.
"Oh, iya Nak Aldi. Silahkan masuk! Bibi sudah menunggu Nak Aldi dari tadi."
Aku bergegas melangkah masuk, perasaaanku semakin tak karuan saat terlalu lama berada di teras rumah. Setelah aku memasuki rumah paman, perasaan diikuti seseorang tadi seketika menghilang.
"Duduk dulu, Nak!" ucap nenek tua tadi, "Kenalkan, saya Bi Sari. Saya yang merawat rumah ini selama Suwarno tidak ada."
"Iya, Bi. Aldi sudah dengar dari paman."
Bi Sari tersenyum, beliau lantas menyuruhku duduk di kursi berbahan kayu yang berada di ruang tamu.
"Silahkan duduk, Nak Aldi."
"Rumah Bibi ada di belakang rumah ini. Kalau Nak Aldi membutuhkan sesuatu, panggil saja Bibi."
"Baik, Bi. Terimakasih," jawabku ramah.
"Tunggu disini, jangan kemana-mana, Bibi panggil si Mbah dulu ya, sekalian Bibi ambilkan minum." Ucap Bi Sari padaku yang terlihat sudah sangat lelah.
Seumur hidupku, baru kali ini aku melihat rumah tua seperti museum peninggalan jaman dulu yang masih dihuni.
Mataku tak bisa berhenti berkeliling, menatap satu persatu dengan jeli. Perabotan antik yang sangat terawat, disimpan dengan rapi di lemari berbahan kayu jati yang kokoh. Tak ada satu pun yang terlewat dari pandanganku, termasuk lukisan jaman dulu yang masih terlihat seperti baru.
Saat itu, mataku tertuju pada sebuah lukisan yang menggantung di atas meja panjang berisi bunga yang berwarna merah menyala. Lukisan seorang gadis muda yang cantik, matanya bersinar seperti memandang ke arahku. Aku tak bisa mengalihkan pandanganku, rasanya aku telah ditarik untuk melihat lukisan itu dari dekat.
'Wusshhh ...' Tiba- tiba angin bertiup ke arahku. Aku memejamkan mataku segera, berharap angin itu tak memasuki kedua mataku.
Saat aku membuka mata, betapa terkejutnya aku yang tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap dan sepi.
"Di mana aku?" gumamku.
Aku melihat sekelilingku, hanya ada pohon-pohon karet yang tinggi menjulang, seperti sebuah perkebunan.
Aku semakin tak mengerti, kenapa aku berada di tempat ini, apa aku sedang bermimpi?
Dari jauh, aku seperti mendengar suara tawa dari seorang gadis. Tawa yang terdengar seperti sedang bersenda gurau. Seketika aku merasa lega, ternyata ada orang lain selain aku di sini. Aku segera mencari sumber suara itu, berharap semoga benar-benar ada yang orang di sana.
Aku berjalan di antara semak-semak belukar, mencari arah sumber suara itu. Saat tawa itu sudah mulai terdengar semakin dekat, tawa itu berubah menjadi tangisan yang sangat pilu.
Aku berhenti, bulu kudukku berdiri. Di kegelapan hutan yang rindang, aku telah mendengar suara tawa yang telah berubah menjadi tangisan. Di mana aku sebenarnya? Aku sangat takut, perasaanku tak karuan. Aku segera berbalik arah dan berlari menjauh.
Tiba-tiba, sosok gadis dengan rambut panjang menjuntai telah berada di hadapanku. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya, dia melambaikan tangan yang pucat itu ke arahku.
Sayup-sayup aku mendengar dia berkata dengan pelan, "Aldi ...."
***
Tak!
Aku tersadar dari lamunanku. Tiba-tiba bahuku terasa sakit, seperti ada yang memukulku berulang kali. Aku melihat sekelilingku. Di sana sudah ada Bi Sari dan seorang kakek tua.
"Nak Aldi tidak apa-apa? Bibi sudah bilang, jangan ke mana-mana!" ucap Bi Sari yang terlihat khawatir.
Aku merasa heran, apa yang terjadi sebenarnya? Seingatku, terakhir kali aku sedang melihat sebuah lukisan gadis muda, lalu aku tiba-tiba berada di sebuah hutan yang gelap. Dan sekarang aku telah kembali berada di rumah ini.
"Nak Aldi, saya Mbah Atmojo, panggil saja Mbah Atmo," ucap Mbah Atmo yang menatapku dalam.
"Sekarang pasti Nak Aldi sangat kebingungan. Minumlah dulu," pinta Mbah Atmo padaku. Segelas air putih diberikan Bi Sari padaku. Dengan wajah yang masih terlihat kebingungan, aku terus mengingat kejadian tadi.
Mbah Atmo berkata lagi padaku, "Tidak usah bingung begitu. Nanti juga Nak Aldi paham."
Aku semakin merasa bingung, sepertinya ada sesuatu yang belum aku ketahui tentang rumah ini dari paman. Tapi, apa?
Mbah Atmo beranjak dari duduknya, beliau menyuruh Bi Sari segera membawaku ke kamar yang telah sengaja disiapkan untukku.
Rumah ini memiliki dua bangunan inti yang dipisahkan oleh sebuah taman kecil. Terdapat berbagai tanaman hias yang sengaja disimpan untuk mempercantik suasana taman. Kebetulan, kamarku berada di bangunan kedua. Jadi, aku harus melewati taman yang memisahkan kedua bangunan itu.
Setelah sampai di depan kamar baruku, aku sudah disuguhi pemandangan yang asri dengan jendela menghadap ke sebuah perkebunan milik warga. Kulihat Bi Sari langsung merapikan tempat tidurku.
Karena masih penasaran, aku terus bertanya pada Bi Sari, "Maaf, Bi. Kalau boleh tahu, tadi itu lukisan siapa ya?"
Bi Sari tersenyum, matanya mulai berkaca-kaca. "Itu lukisan anak Bibi, namanya Bulan. Dia sudah meninggal 10 tahun lalu," jawab Bi Sari lirih.
Air mata Bi Sari jatuh seketika, terlihat tatapan rindu terpancar dari kedua matanya yang telah memiliki kantung mata yang dalam. Kemudian Bi Sari mulai bercerita padaku seraya melipat beberapa handuk yang menggantung di dinding kamarku.
Dari ceritanya, aku mengetahui bahwa sepuluh tahun lalu Bulan tiba-tiba mengalami sakit yang misterius. Badannya sering kali menggigil tanpa ada penyebab. Saat malam tiba, Bulan sering berteriak-teriak seperti memanggil nama seseorang. Dia banyak melamun saat itu, kata Bi Sari.
Kejadian itu bermula saat Bulan berusia tujuh belas tahun. Dia tumbuh menjadi gadis yang cantik jelita dan ceria. Para pemuda di desa ini saling memperebutkan untuk mendapatkan Bulan.
Banyak dari mereka datang ke rumah untuk meminang Bulan yang saat itu masih belia. Bulan masih senang bermain dengan teman-teman sebayanya. Jadi, Bi Sari tak menyuruh Bulan untuk segera menikah.
Tapi, kebahagian Bulan berhenti setelah seorang pria datang ke rumah Bi Sari untuk meminang putri semata wayangnya. Tentu saja, Bi Sari dan Mbah Atmo meminta pendapat Bulan terlebih dahulu. Masih dengan pendiriannya, Bulan tak ingin cepat-cepat menikah. Bulan bilang, dia masih ingin bermain bersama teman sebayanya.
Penolakan Bulan rupanya telah membuat pria itu merasa sakit hati. Entah apa yang diperbuat pria itu, Bulan mengalami sakit yang misterius setelah kejadian itu. Sehingga setahun setelahnya, Bulan meninggal dalam keadaan sakit yang masih belum diketahui oleh dokter sekali pun.
Setelah mendengar cerita Bi Sari, aku merasakan bulu kudukku berdiri. Aku merasa iba sekaligus merasa takut. Rupanya di desa ini masih ada orang yang melakukan perbuatan keji seperti itu. Bi Sari bilang, dia tidak ingin berprasangka buruk. Tapi, pria itu terus muncul di mimpi Bi Sari seperti petunjuk atas doa-doa yang Bi Sari panjatkan untuk almarhumah Bulan.
***
Pagi hari, udara masih terasa dingin. Aku membuka setengah pintu jendela kamarku. Burung berkicau riang, matahari mulai menunjukkan cahaya yang membuat udara perlahan mulai terasa hangat.
Aku keluar dari kamar melewati taman untuk menuju ke dapur. Perutku rasanya sangat lapar setelah menempuh perjalanan panjang tadi malam.
Tiba-tiba, kurasakan sebuah sosok melewatiku dari belakang. Segera kutengok dengan perasaaan takut. Tapi, tak kutemukan apa-apa di sana.
Aku terus berjalan, sudut mataku menangkap keberadaan sosok itu. Rupanya, dia terus memperhatikanku dari jauh. Kupercepat langkahku menuju dapur, mungkin di sana ada Bi Sari atau Mbah Atmo, pikirku.
Rupanya, di rumah ini sudah tidak ada seorang pun. Bi Sari telah meninggalkan sepucuk surat di atas meja makan yang ternyata sudah tersedia sarapan untukku.
[ Nak, Aldi. Bibi dan Si Mbah sudah pergi ke ladang.Bibi sudah siapkan sarapan untuk Nak Aldi. Kalau Nak Aldi butuh sesuatu, Bibi sudah menyuruh Nur untuk mambantu Nak Aldi. ] begitu isi surat dari Bi Sari.
"Nur? Siapa itu?" gumamku.
"Daarrrr!" Sebuah teriakkan membuyarkan lamunanku.
"Hahaha ... Kakak takut, ya?" tanya seorang gadis muda di sebelahku yang tadi berteriak.
"Kamu, Nur?" tanyaku.
"Hmm ...." Gadis itu menganggukkan kepalanya.
Nur-gadis muda berusia sekitar empat belas tahun itu rupanya adalah sosok yang mengikutiku dari belakang. Aku terkejut, anak ini tiba-tiba berada di sebelahku.
"Jadi, tadi itu kamu yang mengikutiku?" tanyaku sedikit kesal.
"Iya. Aku sudah menunggu Kakak dari tadi. Kenapa bangun siang sekali?" tanya Nur dengan polos.
"Kupikir kau hantu," jawabku sinis.
"Dasar, penakut!" ejek Nur padaku. Anak ini seperti akan sangat merepotkan, pikirku.
Dan benar saja, dia terus mengikutiku seharian ini. Nur bilang, dia ditugaskan oleh Bi Sari untuk menjagaku dengan iming-iming uang jajan tambahan dari Bi Sari.
Di siang hari, udara semakin panas. Aku meminta Nur menyalakan kipas angin yang menggantung di langit-langit di ruang tengah.
"Nur, nyalakan kipasnya," perintahku.
"Siap, bos!" Nur segara berlari menghampiri saklar listrik, sedangkan aku mencoba rebahan di atas kursi kayu di ruang tengah sambil menyalakan tv.
Nur duduk di sebelahku, dia mulai bertanya tentang ibukota tempat aku tinggal.
"Kak Aldi, apa Kakak sungguh tinggal di kota? Bagaimana rasanya? Apa menyenangkan?" tanya Nur bersemangat.
"Tentu saja. Apa pun bisa kau lakukan di sana," jawabku.
Mata Nur bersinar, dia seperti sangat bersemangat mendengar cerita dariku.
"Apa Nur belum pernah pergi ke kota?" tanyaku pada Nur.
Nur hanya menggelengkan kepala, sinar matanya kian meredup. "Aku ingin sekali pergi ke kota," Nur terdiam. "Tapi, Bapak dan Ibu Nur bilang, orang-orang di kota itu semuanya jahat. Nur tidak boleh ke sana," jawab Nur lirih.
"Mana mungkin, lihat Kakak! Apa Kakak seperti orang jahat?" tanyaku dengan wajah yang kubuat lucu agar Nur mau tertawa.
Bibir Nur mulai merekah, dia sudah mulai tertawa seperti biasanya.
***
Sore hari saat Nur berpamitan pulang, rumah ini kembali sepi. Mbah Atmo dan Bi Sari sepertinya akan pulang larut malam. Baru saja seorang pekerja ladang datang ke rumah dan memberitahukannya padaku.
Walau dalam hati aku merasakan takut berada di rumah ini sendirian, aku tak tega menyuruh Nur menemaniku sampai malam. Jadi, aku menyuruhnya pulang agar orangtuanya tidak khawatir.
Setiap melihat lukisan Bulan, aku masih merasa takut. Entah kenapa bulu kudukku merinding saat melewati lukisan itu. Malam ini aku berencana tak melewatinya dan diam di kamar. Berharap tak ada kejadian aneh yang kualami malam ini.
Saat aku hendak membuka laptop di kamarku, lampu di kamarku tiba-tiba saja padam. Kulihat ke luar jendela, semua rumah warga juga terlihat gelap gulita. Sepertinya sedang ada pemadaman listrik malam ini.
"Ah ... sial!" gerutuku.
Aku memberanikan diri keluar dari kamar dengan penerangan dari ponsel. Aku bergegas mencari lilin di setiap laci di rumah ini.
Setelah hampir lima belas menit mencari, aku tak menemukannya di mana pun. Aku berinisiatif untuk mencari warung tedekat untuk membeli lilin atau penerangan semacamnya.
Di perjalanan ke warung, aku melihat seorang kakek tua yang sedang menyalakan tungku kayu bakar di sebuah halaman rumah. Aku mencoba menghampiri kakek tua itu. Rupanya, kakek itu juga sedang melihat ke arahku. Mata kami beradu, dia tersenyum menyeringai padaku sambil memasukkan kayu baru untuk mengganti kayu yang sudah habis terbakar dan menjadi arang.
"Permisi, Kek. Saya ingin bertanya, warung ada di sebelah mana, ya? Saya orang baru, saya belum paham daerah ini."
Kakek itu mengangguk pelan, lalu menatapku dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Kamu lurus saja, di depan ada pertigaan, lalu belok kiri." Senyum kakek tua itu membuatku sedikit merinding.
"Baik, terima kasih, Kek!"
Kupercepat langkahku meninggalkan kakek tua itu, berharap menemukan seseorang yang kurasa sedikit normal. Kenapa bulu kudukku tiba-tiba berdiri? Ah ... ini pasti hanya perasaanku saja.
Setelah melewati pertigaan, aku menemukan sebuah warung yang cukup ramai dengan orang- orang yang sedang mengobrol di malam hari dengan segelas kopi dan rokok di tangannya.
"Bu, ada lilin?"
"Ada, mau berapa?"
"Dua saja." Aku merogoh saku celana belakang untuk mengambil dompet yang berisi uang recehan yang kubawa.
"Gus, belakangan ini kau merasa ada yang aneh tidak?" ucap seorang lelaki berusia sekitar 40 tahunan yang kebetulan berada di warung ini juga. "Kata istriku, dia mendengar ada yang melihat arwah Kardun bergentayangan lagi di desa kita ini."
"Jangan bercanda kau Min, Kardun itu sudah lama meninggal," jawab seorang temannya.
Lelaki yang memakai kupluk pun ikut menjawab, "Benar kata si Amin, Gus. Kemarin juga, aku melihat lampu di rumah Kardun menyala seperti ada orang di dalam."
"Hus ... jangan bicara sembarangan!' ucap ibu warung menimpali. "Masa orang yang sudah meninggal bisa hidup lagi."
"Benar. Istriku juga bilang, sudah banyak warga di desa ini yang didatangi arwah Kardun," ucap Amin lagi.
"Hii ... jadi serem," jawab Yanto. Lelaki yang memakai kupluk di kepalanya.
"Eh, maaf, Dik. Ibu jadi asyik mengobrol. Ini lilinnya," ucap ibu warung padaku.
"Terima kasih, Bu. Ini uangnya," ucapku sambil menyodorkan uang pas padanya.
Aku bergegas pergi, perasaanku semakin tak karuan setelah mendengar percakapan ketiga lelaki itu.
Saat hendak pulang ke rumah, aku kembali melewati rumah kakek tua yang aku temui tadi. Tapi, anehnya aku tidak menemukan kakek itu, begitu pula dengan bekas pembakaran kayu di tungkunya.
"Ah ... aneh sekali."