Bab 2

Wildan yang mengetahui mata indah Alisa tengah menatap kontol tegangnya berusaha untuk tetap fokus pada pekerjaannya meskipun dia juga menikmati apa yang terjadi pada Alisa. Dan sepertinya Alisa belum menyadari kalau Wildan pun sesekali mencuri pandang pada tingkah lakunya.

Alisa tanpa sadar nafasnya mulai terengah-engah tanpa sedetikpun berkedip dari pemandangan di depannya. Tangannya yang tadi mengelus punggung, kini beralih meraba-raba dan meremas buah dadanya. Wildan pun semakin menikmati pemandangan itu sehingga dia melambatkan pekerjaan membereskan lemari.

Nafas Alisa pun makin terdengar berat dan mulai terdengar desahan-desahan kecil. Ketika Wildan melirik, ternyata tangan kiri Alisa mulai memainkan pangkal pahanya dengan tangan kirinya. Sesekali Alisa merem melek merasakan kenikmatan yang jarang dia rasakan.

Alisa pernah meraskan hal yang sama ketika menonton video porno di laptopnya. Tapi yang ini berbeda karena kontol yang biasa dia lihat di laptop, kini ada di depannya hanya tertutup sarung saja. Desakan birahi yang sudah mulai memasuki tubuhnya pun tak bisa ia tutupi dengan pakaian syar’inya.

Wildan pun masih bertingkah seakan dia tidak tahu apa yang dilakukan Alisa. Merasa aman, Alisa pun memberanikan diri untuk melangkah lebih jauh meskipun di dalam hatinya berkecamuk antara larangan agama dan hawa nafsu yang menggoda. Sering dia mendengarkan kajian-kajian keislaman yang melarang ia berbuat hal itu, tapi birahi kuat yang menguasainya lebih ia pilih untuk dituruti.

Akhirnya Alisa pun menarik gamis hitamnya ke atas hingga pangkal paha, sehingga terlihat celana dalam warna pink muda yang sudah mulai basah. Alisa pun mulai memasukkan tangan kirinya ke dalam celana dalamnya, ingin merasakan sensasi yang lebih.

Wildan sesekali melirik ke arah Alisa yang kini menampilkan paha putih mulusnya tanpa cela yang hanya tertutup kaos kaki hitam sebetis. Bagian yang begitu dilindungi oleh akhwat, kini terpampang indah di hadapan Wildan.

Alisa pun seperti sudah kehilangan kesadaran dan mulai menggesek-gesekkan jarinya di kemaluannya yang mulai membasahi celana dalamnya. Jilbab biru navynya pun mulai terlihat kusut karena remasan liar dari tangan kanannya dibarengi dengan desahan-desahan yang mulai keluar dari mulutnya.

Aksi Alisa pun semakin liar dengan remasan dan permainan tangan kirinya memuaskan bagian bawah tubuhnya. Wildan pun semakin tak kuasa menahan birahi yang menerpa dirinya.

Wildan: Ehm… pengen banget kah dia?

Mendengar pertanyaan Wildan, sontak membuat Alisa terperanjat dan langsung menghentikan permainannya. Ia segera merapikan semua pakaiannya dan menunduk malu. Alisa pun tidak berani menatap Wildan. Ternyata selama ini dia melihat apa yang Alisa lakukan.

Wildan pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Dengan kontol yang masih tegak berdiri, ia segera turun dari kursi dan memberanikan diri duduk di ranjang di samping Alisa.

Alisa sebenarnya ingin mencegah supaya Wildan tidak dekat-dekat dengannya, tapi sudah terlanjur basah ketahuan sehingga ia pun hanya terdiam ketika Wildan duduk tepat di sampingnya.

Wildan: Hemm, gak papa kok, aku juga tau kalau kamu juga manusia yang punya nafsu dan syahwat.

Wildan berusaha menenangkan Alisa supaya tidak merasa bersalah.

Wildan: Sebenarnya sejak dari tadi ana juga nafsu melihat ukhti main kayak gitu. Nih lihat jadi tegang kan punya ana.”

Alisa sedikit menaikkan kepalanya sambil masih mencuri pandang ke arah kontol Wildan yang tegak menjulang di dalam sarungnya. Begitu banyak rasa berkecamuk di dalam diri Alisa, namun ia juga ingin sekali merasakan kontol asli seorang ikhwan.

Wildan: Ana janji gak akan cerita ke Ummi Zaskia. Kalau kamui mau lanjut lagi pun gak masalah buat ana.

Alisa: Beneran akhi? Ana malu banget.

Wildan: ga perlu malu ukh, ana tau kok kalau seumuran kita memang sudah waktunya mengetahui hal-hal seperti ini.

Wildan pun memberanikan diri untuk merangkul pundak Alisa.

Alisa pun terlihat seperti mengiyakan saja ketika tangan kiri Wildan merangkul pundak kiri Alisa dan menariknya ke arahnya. Kemudian Wildan memberanikan diri untuk menarik tangan kanan Alisa agar memegang kontolnya.

Dalam diri Alisa masih berkecamuk antara rasa bersalah dan birahi yang tak tertuntaskan. Kajian-kajian yang pernah ia ikuti tak mampu membendung hasrat birahinya untuk merasakan kontol laki-laki yang bukan mahramnya. Alisa masih seperti menahan tangannya dari ajakan tangan Wildan.

Wildan: Gak papa kok ukh... toh ga ada siapa-siapa

Mendengar hal itu, Alisa pun terdiam sejenak, kemudian memberanikan diri untuk menggenggam kontol yang selama ini hanya menjadi fantasinya.

Alisa: Tapi ana malu akhi

Wildan: Malu sama siapa, ukh? Kan hanya ada ukhti sama ana. Toh ana juga pengen kok...

Wildan tertawa kecil.

Alisa pun kini mulai meraba-raba kontol besar Wildan yang masih terbalut sarung. Wildan yang merasa mendapatkan sinyal hijau mulai memberanikan diri untuk berbuat lebih jauh. Kini dagu Alisa ia pegang dan diarahkan ke arah wajahnya. Wildan pun mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Alisah yang tertutup cadar.

Alisa memejamkan matanya pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Kemudian Wildan pun melahap bibir Alisa dari balik cadarnya. Awalnya Alisa hanya terdiam, tapi beberapa saat ia pun mulai membalas ciuman dari Wildan.

Cadar hitam yang membatasi bibir mereka pun mulai basah oleh liur birahi kedua anak adam itu. Wildan pun menghentikan ciumannya. Alisa membuka matanya dan menatap Wildan dengan mata indahnya.

Wildan: ana buka sedikit cadarnya ya, Ukh? Biar enakan.

Alisa hanya menganggukkan kepala. Wildan pun terkejut melihat kecantikan bibir tipis nan merona merah Alisa dengan kulit putih alaminya.

Wildan: Cantiknya ukhti ini.

Wildan tertegun melihat harta karun di balik cadar itu

Alisa hanya tertunduk malu meski dalam hatinya ia merasa senang dengan pujian itu karena ini pertama kalinya ia dipuji kecantikannya oleh Ikhwan.

Wildan langsung saja melumat ganas bibir Alisa dan disambut dengan ciuman ganas juga oleh Alisa. Lidah mereka pun saling menyeruak masuk ke mulut pasangannya seolah ingin menjelajahinya.

Tangan Alisa pun makin mantab menggenggam kontol Wildan. Tangan kanan Wildan kini mulai meremas payudara Alisa dari dalam gamisnya. Terasa kenyal dan besar hingga tangan Wildan yang besar itu pun tak bisa mencakup semuanya. Wildan pun menghentikan ciumannya sejenak.

Wildan: Ukhti… boleh ana buka bajunya?

Alisa yang tengah terbakar birahi pun mengiyakan.

Alisa: panggil ana Alisa aja akhi... he’mh boleh

Wildan: Panggil ana Wildan saja Alisa

Wildan pun mulai menarik resleting gamis hitam Alisa. Sementara Alisa menyibakkan jilbab besarnya ke pundaknya. Gamisnya ditarik hingga lepas semua ke lantai sehingga tinggal beha dan celana dalam pink muda saja yang masih menempel di tubuh indahnya. Begitu putih mulus tanpa cela bak bidadari, yang paling menakjubkan ukuran payudaranya yang besar terlihat seperti mau tumpah dari behanya.

Wildan: Wiihh mantab bener tubuh kamu Alisa. Siapapun yang dapetin kamu pasti ikhwan paling beruntung di dunia.

Alisa: Iihh... jangan diliatin gitu dong Wildan… ana kan malu.

Tangan Alisa mencoba menutupi tubuh indahnya.

Wildan: lhoo... ana jujur ini... kayak bidadari... ehh ana buka cadarnya ya?

Alisa: Uuhh… masak sih? He’emh... boleh.

Bab 3

Wildan pun kemudian membuka cadar hitam yang menutupi wajah Alisa kemudian melemparkannya entah kemana. Wajah putih indah Alisa begitu indah. Membuat Wildan makin tak bisa menahan nafsunya.

Wildan: Duh... makin klepek-klepek nih ana lihat kecantikan Alisa.

Alisa: Uhh... gantian doong Alisa yang buka baju Wildan. Pintannya manja.

Kini Alisa pun sudah mulai hilang rasa malunya dan tidak segan-segan untuk mengatakan maunya. Alisa pun menarik kaos Wildan sehingga terpampang badannya yang cukup sixpack. Membuat Alisa tak bisa melepaskan tatapan matanya dari bentuk badan itu. Tangannya pun kini meraba perut Wildan yang memang atletis. Warna kulit tubuhnya yang sawo matang begitu kontras dengan warna kulit putih Alisa yang putih mulus.

Alisa: Uhh Mas Wildan badannya bagus. Ana panggil Mas Wildan, boleh?

Wildan: terserah Alisa aja mau panggil apa dah.

Alisa yang makin penasaran kini menarik turun sarung Wildan dan akhirnya terbebaskanlah kontol Wildan. Mata Alisa terbelalak melihat ukuran kontol Wildan yang begitu besar dan berurat.

Alisa: Ge… gede bang.... banget maass…

Alisa mengelus kontol Wildan dari ujung hingga pangkal

Wildan: Alisa suka kan?

Alisa: Takut maass... baru pertama lihat kemaluan ikhwan...

Wildan: Gak apa-apa sekarang memulainya.

Alisa pun hanya mengangguk. Wildan pun paham dengan apa yang menjadi kemauan Alisa. Wildan meminta Alisa untuk duduk bersimpuh di depannya. Lali ia membuka kedua kakinya sehingga kontol besarnya terlihat gagah dihadapan Alisa.

Wildan: Mas tau kok Alisa pengen ngemut kan? Udah ga usa ditahan

Alisa: Emm... ta... tapi malu mass... belum pernah Alisa nglakuin itu...

Wildan: Gak usah malu... kan sekalian belajar... buat persiapan kalo nikah besok.

Canda Wildan sambil membimbing Alisa.

Alisa pun memberanikan diri mendekatkan wajahnya ke kontol besar Wildan. Bau khas lelaki yang masih baru untuk Alisa membuatnya semakin bernafsu. Wildan membimbing tangan Alisa untuk meremas-remas lembut Telurnya, sementara tangan kanannya menekan kepala Alisa sehingga bibirnya menempel di kepala kontolnya.

Wildan: nah sekarang coba di jilat dulu

Alisa pun hanya menuruti apa yang diperintahkan Wildan. Ini pertama kalinya Alisa menjilat kontol laki-laki. Bukannya jijik, Alisa justru terangsang ketika mulai menjilati kontol besar Wildan. Ia membayangkan seperti yang ada di video yang pernah ia lihat.

Wildan: ouuhh... iyaahh... nahh gitu Alisaa...

Alisa yang melihat Wildan merem melek semakin liar menjilati kontolnya mulai dari pangkal hingga ujung kepala kontol Wildan. Kadang kalau keluar cairan pre-cum di kontol Wildan, Alisa pun langsung melibasnya dengan lidahnya. Kini Alisa sudah semakin birahi dan mulai membuka mulutnya lebar-lebar agar kontol besar Wildan bisa masuk kemulutnya. Perlahan tapi pasti kontol Wildan pun mulai masuk ke mulut mungil Alisa.

Wildan: Unghhh… ohh… mantabnya mulut Alisa yang cantik ini... Lenguh Wildan merasakan kehangatan mulut Alisa.

Tangan Wildan pun meremas bagian belakang jilbab Alisa menahan kenikmatan yang didapatnya. Alisa mulai menggerakkan kepalanya naik turun, namun hanya sepertiga dari kontol Wildan yang bisa ia taklukan. Suara decak benturan kontol dan tenggorokan Alisa membuat suasana kamar menjadi semakin menggairahkan

Cpok... cpokk... nghkk... nghkk... ummm… sluurrpp…

Wildan: Ouhh teruuss Alisa, sayaaang

Alisa pun mempercepat gerakan kepalanya naik turun, menikmati kontol yang selama ini hanya ada di fantasinya. Tangan kanan Alisa pun terus meremas lembut dua telur di bawah batang Wildan.

Wildan yang sudah terangsang berat menarik Alisa dan didudukkan di pinggir ranjang. Wildan yang sudah gelap mata langsung saja melumat bibir Alisa. Tangannya dengan cekatan melepas beha Alisa dan langsung saja payudara yang berukuran besar itu pun seperti melompat dari tempatnya seakan terbebas dari kungkungan.

Tangan Wildan pun langsung meremas-remas payudara Alisa sambil sesekali memilin putingnya yang berwarna coklat muda. Alisa pun menahan desahannya ketika merasakan aliran birahi memuncak saat putingnya dirangsang seperti itu.

Wildan terus menciumi Alisa sambil mendorongnya hingga terlentang di ranjang.

Kini dengan penuh nafsu liar, Wildan menciumi leher Alisa dan disambut dengan desahan Alisa menahan rangsangan yang belum pernah ia rasakan. Alisa memeluk Wildan sambil terus mendesah, kakinya pun ia silangkan ke pinggang Wildan.

Alisa: Ouuhh… aahhh… teruuss maasss... aahhhh... iyaaahh...

Wildan pun mulai mencupangi pangkal leher hingga belahan dada Alisa. Kini ia memandangi dua buah gunung besar di hadapannya. Sudah sering Wildan melihat langsung payudara akhwat seindah dan sebesar ini, namun tetap saja semua memiliki keindahan dan rangsangannya masing-masing.

Alisa: uhh... kenapa mass? Jangan diliatin terus... Alisa malu...

Meskipun malu, tapi Alisa tidak berusaha menutupinya. Tanpa basa basi lagi, Wildan langsung menyerang kedua bongkahan payudara akhwat itu. Dimulai dari menjilati sekelilingnya hingga mendekat ke arah puting. Sengaja dia menjilati sekelilingnya tanpa menyentuh puting payudara Alisa yang membuat Alisa makin gelisah tak karuan.

Alisa: ahh... masss... isepp dong... jangan gituu...

Alisa pun berusaha membusungkan dadanya dan mengarahkan kepala Wildan supaya mau melumat putingnya, tapi Wildan pun tak mau terbawa suasana Alisa. Dia tetap mempermainkan Alisa dengan jilatan dan remasan di payudara Alisa. Bergantian kadang kiri kadang kanan. Sampai akhirnya Wildan pun membenamkan mukanya di payudara Alisa dan mengulum habis putingnya.

Kelakuan Wildan ini sontak membuat Alisa melenguh panjang merasakan kenikmatan luar biasa.

Alisa: OOOOUUUHHHHHHHH… SAYAAAANGHHHH…

Mendengar Alisa melenguh hebat, Wildan semakin meliarkan kulumannya di puting Alisa. Dia melakukannya bergantian kiri dan kanan membuat badan Alisa kelonjotan merasakan serangan kenikmatan. Kepalanya bergulir ke kanan kiri, kadang mendongak ke atas sembari menggigit bibir bawah menahan rasa nikmat di payudaranya.

Kemudian Wildan melakukan serangan akhir dengan menyatukan payudaranya dan mengulum kedua puting Alisa secara bersamaan. Alisa pun seperti tersengat listrik. Kali ini ia merasakan kenikmatan yang lebih daripada sebelumnya hingga membuatnya menjambak-jambak rambut Wildan.

Tak lama berselang Alisa pun merasakan desakan cairan di vaginanya.

Alisa: MMPHHHH… OUUUHHH MASSS….

Alisa pun langsung lemas setelah mendapatkan orgasmenya yang pertama kali.

Wildan: Ehh... barusan Alisa orgasme ya?

Alisa: Iya mas?

Alisa menunduk ia masih merasakan sisa kenikmatan dari orgasme pertama dalam seumur hidupnya. Belum selesai merasakan nikmatnya itu, Wildan mulai melanjutkan menikmati tubuh indah akhwat suci itu. Ia melanjutkan menciumi perut hingga mendekati celana dalam Alisa yang basah kuyup oleh cairan surgawinya. Bahkan sepreinya pun ikut basah…

Wildan pun menarik turun celana dalam Alisa yang basah kuyup hingga terlepas. Kini tergeletak di depanan Wildan, seorang akhwat berparas cantik putih tanpa sehelai kain menutupi tubuhnya, hanya jilbab saja yang masih menempel di kepala Alisa dan itu yang menambahkan sisi keasyikan tersendiri.

Wildan masih tak percaya dengan apa yang dia lihat, vagina Alisa pun terlihat indah tanpa bulu sedikitpun dan nampak rapat sempurna.

Wildan: Indahnya tubuhmu Alisa sayaanng

Wildan melanjutkan menjilati tubuh indah nan suci Alisa mulai dari ujung kaki hingga pangkal paha. Selesai kaki kanan ia lanjutkan kaki kiri. Ketika sampai di depan liang surgawi Alisa, Wildan mulai menciumi bagian luarnya.

^*^

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED