Two
Alona bersenandung kecil seraya menyusun beberapa barang ke dalam koper besar yang sudah terisi setengah. Tangannya dengan cekatan memilah-milah mana barang yang akan dibawa dan mana yang akan ia tinggalkan.
Senyumnya mengembang saat tak sengaja matanya tertuju pada benda pipih yang menyerupai stik tergeletak di atas nakas, dan semakin sumringah ketika mengamati dua garis merah terpampang di sana.
Yeah, positif. Setelah sebulan lalu dirinya berjuang untuk mewujudkan impian, akhirnya kini kerja kerasnya hampir membuahkan hasil. Sedikit lagi, hanya tinggal menunggu waktu kurang lebih sembilan bulan lamanya maka semua akan sempurna.
One night stand, hamil, bersalin, lalu hidup berbahagia dengan anaknya yang lucu tanpa perlu bersusah payah menjalani ikatan pernikahan. Semudah itukah bagi Alona?
----
Entah sudah berapa kali sudut bibir itu terangkat saat mengamati layar persegi yang ada di genggaman. Hatinya tidak pernah sehangat ini ketika melihat senyuman seorang perempuan, tapi kali ini berbeda, seakan ada magnet besar yang menariknya ke dalam pusaran senyum menawan sang bidadari cantik.
"Mr. Watson, informasi yang anda inginkan." Seorang pria bertubuh tegap membungkuk hormat sebelum menyerahkan map coklat yang dibawanya. Ia segera berlalu setelah diberi isyarat tangan dari sang tuan yang menandakan untuk segera meninggalkan ruangan tersebut.
Mr. Watson bergerak dengan tenang membuka simpul dari map itu, matanya bergerak liar membaca setiap informasi yang tertera di kertas putih di sana. Sesekali sudut bibirnya kembali terangkat ketika membaca sederet kalimat yang mungkin sedikit menggelikan baginya.
"Hmm, Las Vegas,” gumamnya seraya mengangguk-angguk. "Menarik," tambahnya.
Pria itu segera menyimpan kertas-kertas itu lalu bangkit seraya merapikan setelan jas hitamnya.
"Siapkan jet pribadiku, Drew!" titahnya melalui udara.
---
"Alona, ini bukan mainan!" hardik gadis berambut cokelat itu dengan geram.
Melani Paramita, teman kantor sekaligus sahabat, tempat pembuangan semua keluh kesah kehidupan Alona.
"Siapa bilang ini mainan, Mel?" jawab Alona santai sembari menyantap roti bakarnya.
"Terus ini apa?" ucapnya berapi-api seraya melempar kasar tes pack di tangan.
Alona membersihkan bibir dengan tiss. "Itu memang impian gue, Mel."
"Gila!"
"Yes, I'm."
"Pikirin sekali lagi, Lon, lebih baik minta pertanggung jawaban dari Ayah biologisnya."
"No, guesudah janji itu cuma one night stand."
"Dan lebih memilih anak ini lahir tanpa ayah? Lalu melarikan diri?"
"Bukan melarikan diri, hanya menunggu keadaan membaik."
"Nggak akan ada yang membaik!" tukas Melani geram.
"Mel, please ...."
Gadis itu menghela napas panjang. "Lona, pernikahan itu nggak seburuk yang ada di imajinasi lo," ucapnya lembut.
"Imajinasi?" Alona membeo. "Ini bukan imajinasi, Mel, ini kisah nyata gue. Lo nggak akan tahu karena bukan lo yang ngerasain."
Melani terperangah mendengar ucapan sahabatnya. "Oh, gitu? Gue nggak tahu karena nggak ngerasain?" Alona membuang pandangan ketika melihat pandangan kecewa gadis di hadapannya.
"Oke, sekarang terserah lo." Melani berjalan keluar seraya membanting pintu apartemen Alona dengan keras. Wanita itu mengerang pelan mengetahui kekecewaan sahabatnya itu, tapi tidak ada jalan lain, ini sudah menjadi pilihannya, jalan hidupnya, dan ia tidak bisa mundur.
Sambil melangkah gontai, ia mengedarkan pandangan ke setiap sudut apartemen, tempat yang sudah hampir tiga tahun ini ia tempati, dan sebentar lagi akan dikosongkannya. Keputusan Alona sudah bulat, dia akan memulai kehidupan baru, meski harus dengan berat hati meninggalkan ibu beserta kakak-kakaknya di Indonesia.
Uang hasilnya bekerja keras selama lima tahun ini rasanya lebih dari cukup untuk membiayai hidup sampai anak di dalam kandungannya ini lahir, setelah dirasa cukup ia akan kembali bekerja.
Yeah, semua akan berjalan baik.
---
Meski mata memandang ke arah awan biru, tapi nyatanya pikiran melayang jauh, bergerak cepat melebihi pergeseran awan, dengan lancangnya pikiran Alona kembali mengingat malam itu, senyum kecil terbit di bibir ketika menyadari ada kehidupan lain di dalam perutnya. Tangan wanita itu bergerak perlahan mengusap perut datarnya. Siapa pun dan di mana pun pria itu sekarang berada, ia ucapkan terima kasih.
Mulai detik ini semua akan berubah, Alona harus menjalani peran barunya sebagai seorang ibu, ibu yang baik bagi si jabang bayi di kandungannya. Sungguh, ia begitu tak sabar untuk mengamati setiap proses tumbuh kembang bayinya, Alona pasti akan menikmati setiap momen itu. Sekali lagi matanya menatap gumpalan awan yang terbelah oleh sayap besi seraya tersenyum.
"Selamat tinggal, Indonesia," bisiknya.
---
Alona tiba di McCarran International Airport hampir tengah malam, setelah berjam-jam terbang di udara akhirnya ia sampai di kota ini, kota yang mungkin aman untuk ditinggali wanita berstatus sama seperti dirinya, kota yang begitu terkenal dengan kehidupan malamnya, kota Las Vegas.
Ia bergegas menuju pihak imigrasi untuk mengurus keperluannya selama di negara asing ini, setelah itu Alona berencana segera meninggalkan bandara untuk secepatnya mencari hotel, dia butuh istirahat malam ini, rasanya ia terserang virus jet lag. Entah karena kepalanya yang terasa pusing atau memang efek jet lag yang mengerikan membuat Alona secara tidak sengaja menabrak seseorang hingga ponsel yang di genggam orang tersebut jatuh ke lantai.
Oh, no! Handphone mahal keluaran terbaru dari merk buah yang hanya separuh itu tergeletak tak berdaya tepat di sebelah kaki Alona. Baru beberapa menit menginjakkan kaki di kota ini, ia sudah ketiban sial, apakah ini pertanda buruk? Semoga saja tidak.
Segera Alona memungut benda pipih itu dengan gusar, di benaknyanya sudah terlintas berbagai macam kemungkinan buruk yang akan menimpanya. Bagaimana kalau pria di hadapannya ini tidak terima dan meminta ganti rugi, sedangkan dirinya sendiri harus berhemat.
"Ma … maaf," cicit wanita itu seraya menyerahkan ponsel pria itu yang tergores di beberapa bagian.
Pria itu menerima ponsel miliknya, lalu mengulurkan tangan. Alona merasa bingung, tapi akhirnya ia menerima uluran tangan itu. Sekian detik berjabat tangan membuat wanita itu akhirnya berinisiatif menyebutkan nama, mungkin pria ini ingin mengenal dirinya.
"Alona," ucapnya gugup.
Pria yang berdiri di hadapannya tersenyum miring, sedikit meremas tangan Alona sambil berucap, "Welcome to my world, Apple."
Apple? Maksudnya? Buah? Fix, pria ini sakit jiwa.
****
TBC
Three
Pagi pertama di kota Las Vegas, Alona sudah berdiri seraya menatap bimbang gedung pencakar langit yang menjulang tinggi di depannya. Bangunan dengan lambang hurup W yang sangat besar diukir sedemikian rupa dan berlapiskan emas, begitu mengkilap ketika diterpa cahaya matahari. Namun, bukan itu yang membuat Alona mengernyit bingung, melainkan apa yang tertulis di layar smartphone wanita itu tentang promo sewa apartemen yang menurutnya tak masuk akal.
Mengabaikan kebingungannya, Alona melangkah masuk menuju petugas informasi.
"Selamat datang, ada yang bisa kami bantu, Nona?"
Wanita itu menunjukkan ponselnya sambil berkata, "Apa nominal yang tertera di sini benar?" tanyanya.
Wanita berseragam rapi itu terdiam sejenak, memandang aneh Alona. Namun, sedetik kemudian ia tersenyum kaku. "Iya, benar, Nona."
Alona meneliti sekitarnya, tidak ramai orang seperti di Jakarta jika ada diskon besar-besaran, atau memang dirinya sudah ketinggalan.
"Jika anda berminat, kami bisa mengantar anda, Nona, kebetulan hanya tersisa satu unit lagi," ucap gadis dengan name tag Molly itu dengan kikuk.
Mendengar hanya tersisa satu unit, Alona langsung saja mengangguk setuju, pasalnya harga yang ditawarkan benar-benar murah, bahkan dibanding harga apartemen sederhana sekalipun yang bisa mencapai $800 perbulannya.
Gadis cantik bernama Molly itu menginteruksikan agar Alona mengikutinya. Sepanjang perjalanan mata wanita itu sibuk mencermati ukiran-ukiran yang terpahat indah di bangunan ini. Diiringi ketukan sepatu bertumit tinggi milik Molly yang menghentak lantai marmer, memberi suara berirama yang menghantar mereka.
"Silahkan, Nona." Molly berhenti berjalan setelah membuka sebuah pintu di depannya.
Alona tersenyum tipis seraya melayangkan pandangan ke seisi ruangan. Ada satu set sofa santai di dalam, lengkap dengan TV plasmanya. Berjalan lebih jauh ke dalam Alona juga menemukan dapur yang cukup luas untuknya sehingga leluasa jika ingin bereksperimen dengan masakannya. Melihat itu semua Alona menyimpulkan bahwa apartemen ini adalah apartemen termurah yang ada di Las Vegas mengingat furniture di dalamnya cukup lengkap.
Yah, sebenarnya pagi tadi Alona sedang melihat-lihat harga sewa apartemen melalui situs boking online, dan secara tidak sengaja menemukan tempat ini sedang menawarkan diskon mengagumkan menjelang akhir tahun.
Molly mempersilahkan Alona untuk melihat kamar tidur yang katanya hanya ada satu, Alona rasa itu bukan masalah karena ia memang hanya tinggal sendiri.
Melihat kondisi kamar tidur di apartemen ini membuat dahi Alona lagi-lagi berkerut, pasalnya berbeda dari ruang tamu yang telihat mungil tadi, kamar tidur di sini malah terlihat sangat luas, Alona yakin ini sama luasnya dengan kamar penginapan di hotel bintang lima. Bahkan kamar mandinya terlihat begitu mewah dan elegan, lagi-lagi sangat kontras dengan ruangan sebelumnya yang terlihat simpel dan hampir mirip dengan apartemen miliknya sewaktu di Jakarta.
Mengabaikan kejanggalan yang ada Alona akhirnya menyetujui untuk menyewa apartemen tersebut, dan Molly permisi untuk menyiapkan surat-suratnya.
Alona jatuh terlelap setelah menyusun barang-barang yang dibawanya serta menyelesaikan masalah sewa menyewa apartemen yang sekarang resmi dihuninya.
---
"Anda ingin segera menemuinya, Sir?" pria berwajah western bertanya dengan suara tenang.
"Tidak, Drew." Menghirup dalam cerutu di tangannya. "Biarkan seperti ini dulu."
Drew mengangguk paham, menuruti kehendak tuannnya.
Suasana kembali hening, samar-samar terdengar suara detik berpadu detak yang terus bergerak. Sampai suara tarikan napas panjang menjadi tanda bahwa ruangan ini masih berpenghuni.
"Menurutmu, apa dia menyukai kejutan dariku?" Pria itu tersenyum simpul, menggoyangkan ringan ujung sepatunya yang terangkat di atas meja, begitu menikmati posisi sok berkuasanya.
Drew bergeming, masih mengira-ngira, kalimat apa yang pas untuk menjadi jawabannya. "Nona Alona pasti sangat terkejut, Sir."
Pria itu terkekeh seolah sedang mendengar sebuah lelucon menggelikan dari mulut sang bodyguard kesayangannya.
"Kuharap begitu, Drew," tuturnya.
---
Pukul tiga sore Alona terbangun dari tidur, tangan kanannya refleks mengelus perutnya yang masih datar. Tersenyum manis, Alona segera menuju kamar mandi, ia berencana untuk berendam dan memanjakan kulitnya sore ini agar rasa lelahnya segera menghilang.
Lagi-lagi alis Alona harus bertaut dalam mendapati perlengkapan mandi yang super lengkap di dalamnya, mengambil salah satunya membuat kerutan di dahinya semakin jelas. Alona memutar tutup packaging salah satunya sehingga aroma maskulin menguar menyerang indera penciumannya.
Ini shampo pria, pantas Alona kurang familiar, mungkin ini milik penghuni sebelumnya, batin wanita itu. Tidak ambil pusing, Alona melanjutkan acara mandinya.
Selesai mandi Alona memutuskan keluar apartemen untuk mencari makanan, dan sedikit terkejut ketika mendapati dua pria berwajah seram berdiri seperti patung di seberang pintu kamarnya, takut-takut Alona melanjutkan langkahnya menuju lift.
Sesampainya di lobi, Alona merasa bingung harus kemana. Pasalnya ini pertama kalinya ia berkunjug di kota berjulukan Sin City ini. Untungnya dia bukan tipe wanita penakut, hidup tanpa ayah sedari kecil mengajarkan Alona bahwa hidup harus kuat dan mandiri, karena itu ia memantapkan diri untuk mendatangi kedai di seberang jalan yang malam ini terlihat sepi.
Saat sedang asyik menikmati makanan, Alona dibuat bingung dengan sapaan seseorang. "Apple, Apa yang kau lakukan d isini?"
****
TBC