Bab 1

"Rose, cepat ganti bajumu lalu memasak makan siang. Aku sudah kelaparan," seru Chloe.

Gadis manja itu bertumpu pada satu tangan sambil menyandarkan kepalanya di sofa. Ia meraih bungkus potato chips dari meja lalu merobeknya sembarangan.

"Sebentar lagi, Chloe. Aku mau ganti baju," jawab Rose hendak berlalu ke kemarnya.

Siang itu hujan turun dengan deras di luar. Rose yang selalu pulang sekolah dengan berjalan kaki terpaksa menerobos hujan. Payung usang yang dibawanya tidak dapat menahan terjangan air, sehingga seragam sekolahnya basah kuyup.

Lily yang baru keluar dari dapur langsung mencengkeram tangan Rose.

"Jangan membantah. Lakukan apa yang Chloe perintahkan. Jika tidak aku tidak akan memberimu makan hari ini," kata Lily melotot.

"Tapi, aku basah, Auntie. Aku perlu menjemur sepatu dan mengganti baju sebelum memasak. Jika tidak, aku akan mengotori dapur."

Lily memandangi kondisi keponakan suaminya yang tampak menyedihkan itu. Tidak ada rasa kasihan sama sekali, tetapi ia justru merasa jijik.

"Benar juga. Cepat sana mandi, baumu membuatku ingin muntah. Tapi ingat, aku hanya memberimu waktu lima belas menit. Setelah itu cepat ke dapur!"

"Baik, Auntie," jawab Rose buru-buru menyingkir. Ia takut bibinya akan berubah pikiran.

Lily memutar tubuhnya. Ia berjalan menghampiri Chloe, putri semata wayangnya yang bertubuh tambun.

"Mom, kenapa membiarkan Rose mandi? Apa sekarang Mommy mulai menyayangi Rose lebih daripada aku?" tanya Chloe sambil mengunyah chips di dalam mulutnya.

"Tidak mungkin, Honey. Sampai kapan pun Mommy tetap membenci Rose. Dia adalah benalu di keluarga kita. Jika bukan karena ayahmu bersikeras mengajaknya tinggal disini, Mommy tidak akan mengizinkannya," ucap Lily berapi-api.

"Rose terkena air hujan. Kalau dia tidak membersihkan badan, nanti kita akan sakit perut saat memakan masakannya," sambung Lily mengemukakan alasannya.

"Oh, begitu. Tapi Mom, ada gunanya juga Rose berada di rumah kita. Paling tidak kita memiliki pembantu yang bisa disuruh-suruh. Nanti malam aku juga akan memaksa Rose mengerjakan tugas Sains dari Mr. Taylor."

Setengah berlari, Rose menuju ke belakang rumah lalu menjemur sepatunya yang basah. Itu adalah sepatu satu-satunya yang ia miliki. Bila besok pagi belum kering, mungkin ia tidak dapat berangkat ke sekolah.

Rose mandi dengan cepat lalu merendam seragam sekolahnya dengan air sabun. Ia masih punya banyak pekerjaan rumah tangga yang harus diselesaikan. Pertama memasak makan siang, kedua mencuci seragam, dan ketiga membersihkan kamar tidur bibinya dan Chloe. Setiap menit yang berlalu akan sangat berharga bagi Rose.

Tangan terampil Rose sudah terbiasa meracik bumbu dan bahan. Karenanya tidak butuh waktu lama, Rose berhasil menyelesaikan masakannya.

"Auntie, Gwen, makan siangnya sudah siap," kata Rose menghidangkan sup jamur dan ikan tuna di atas meja.

Lily dan Gwen bergerak dengan malas dari ruang tengah. Rose menarik dua buah kursi untuk ibu dan anak itu. Dengan santainya, Lily dan Gwen duduk di meja makan sambil menikmati hidangan yang menggugah selera. Sungguh mereka bagaikan Nyonya dan Nona Besar yang memiliki pelayan setia. Mereka tidak mempedulikan Rose yang berdiri di pojokan sambul menelan salivanya.

Perut Rose sudah keroncongan minta diisi. Namun seperti biasa ia harus menunggu sampai bibi dan sepupunya selesai makan. Ia hanya diperbolehkan menyentuh makanan sisa, kecuali saat pamannya ada di rumah.

"Hmmmm, aku kenyang. Aku mau ke kamar untuk istirahat," kata Chloe beranjak pergi.

Lily menghabiskan minumannya lalu menatap Rose dengan tajam.

"Kamu boleh makan. Jangan lupa cuci piring dan bersihkan meja makan."

Rose mengangguk. Dengan patuh, gadis itu melakukan titah bibinya. Ia tidak keberatan diperlakukan sebagai pembantu karena ia memang hidup menumpang di rumah pamannya. Barangkali hanya dengan cara ini, ia bisa membalas budi baik mereka.

Perlahan Rose duduk di kursi, mengambil sendok untuk mencicipi sup jamur buatannya. Rasanya sungguh gurih dan lezat, mirip dengan sup jamur buatan mendiang ibunya.

Yah, Rose sangat merindukan ibunya yang telah tiada. Dahulu ia menghabiskan hari demi hari yang bahagia bersama sang ibu meskipun kehidupan mereka sederhana. Sehari-hari ibunya bekerja sebagai juru masak di restoran kecil demi membiayai kehidupan mereka. Sedangkan untuk ayah kandungnya, Rose tidak pernah mengetahui identitasnya. Toh itu tidak terlalu penting. Bagi Rose memiliki seorang ibu saja sudah lebih dari cukup. Bahkan ia tidak ambil pusing dengan ejekan teman-teman sekolahnya yang menyebutnya sebagai anak haram.

Sayang sekali kebahagiaannya terenggut pada hari ulang tahunnya yang kesembilan. Ketika itu wajah ibunya mendadak pucat dan mengeluh sakit di bagian dada. Tak lama kemudian, ibunya jatuh pingsan sehingga harus dilarikan ke rumah sakit. Karena peristiwa pahit itu, Rose tidak mau merayakan hari ulang tahunnya lagi.

Tak terasa bulir air mata jatuh ke pipi Rose. Mengingat kenangan lama membuat hati Rose berdesir hebat. Ia menghabiskan supnya lalu membereskan meja makan. Menyibukkan diri adalah jalan terbaik untuk bisa melupakan kesedihannya.

Selesai dengan pekerjaan rumah tangga, Rose membuka pintu kamarnya. Ruangan berbentuk bujur sangkar itu lebih mirip bilik seorang pelayan daripada kamar anak gadis. Tapi tidak mengapa. Yang terpenting ia masih memiliki tempat untuk bermalam.

Rose berjalan menuju laci meja. Tangannya meraba-raba untuk mencari sesuatu. Sebuah benda berwarna keperakan diambil oleh Rose dari dalam laci. Dengan hati-hati, Rose menimang benda itu di telapak tangannya. Seuntai kalung perak dengan liontin mawar hitam yang unik. Kalung itu adalah pemberian ibunya sesaat sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Rose masih ingat bagaimana sang ibu meminta padanya untuk menyimpan kalung tersebut.

"Kalung apa ini, Mom?" tanya Rose kecil terkejut.

"Ini adalah kalung black rose pemberian ayahmu. Namamu diambil dari nama kalung ini. Mommy tidak pernah memberitahumu mengenai siapa ayah kandungmu. Tapi kalung inilah yang akan membawamu kepadanya."

Rose kecil menggeleng, pertanda tidak mengerti apa yang dimaksud oleh ibunya.

"Nanti pada saatnya kamu akan mengerti, Rose. Simpan kalung ini baik-baik."

Semenjak itulah, Rose selalu menyimpan kalung peninggalan ibunya. Tidak ada seorang pun yang pernah melihat kalung tersebut termasuk pamannya.

"Rose, buka!" teriak Chloe menggedor pintu.

"Tunggu sebentar."

Rose segera mengembalikan kalungnya di dalam laci kemudian membuka pintu.

"Kenapa lama sekali? Aku kira kamu sedang enak-enakan tidur," sembur Chloe menunjukkan ekspresi marah.

Chloe membawa setumpuk kertas dan tiga buah buku di tangannya. Dengan kasar, ia meletakkan barang bawaannya di atas kasur Rose hingga menimbulkan bunyi gedebuk.

"Kerjakan tugas sains dan matematika ini sampai selesai. Jika belum selesai, kamu tidak boleh makan malam. Mengerti?"

"Iya, Chloe, akan kukerjakan."

"Bagus. Antar ke kamarku nanti."

Begitu urusannya beres, Chloe meninggalkan kamar Rose. Chloe paling malas jika harus belajar apalagi mengerjakan tugas sekolah. Beruntung sekarang dia memiliki Rose yang berotak cerdas tapi mudah ditindas.

Rose memungut buku milik Chloe dan memindahkannya ke atas meja. Tanpa mengeluh, ia mengerjakan tugas itu bersamaan dengan tugasnya sendiri.

Entah berapa lama Rose berkutat dengan pelajarannya hingga terdengar suara yang sangat dikenalnya dari balik pintu.

"Rose, kenapa tidak makan? Ini sudah jam tujuh."

"Itu Uncle Josh," gumam Rose senang.

Gadis itu bangkit berdiri dan membuka pintu untuk pamannya.

"Uncle sudah pulang dari kantor?"

"Iya, Rose. Uncle membeli pizza kesukaanmu. Ayo kita makan."

"Aku akan menyusul, Uncle, tapi aku harus menyelesaikan tugas sekolah dulu."

Josh mengerutkan dahinya.

"Apa Chloe memaksamu lagi untuk mengerjakan tugasnya? Anak itu benar-benar pemalas."

"Tidak apa-apa, Uncle. Aku senang bisa membantu Chloe."

"Uncle melarangmu untuk menuruti kemauan Chloe. Dia harus belajar bertanggung jawab. Ayo ikut Uncle."

Josh menggandeng tangan Rose melewati ruang tengah. Disitu Lily dan Chloe sedang asyik menonton siaran gosip di televisi.

"Chloe, mulai sekarang kerjakan sendiri tugasmu. Jangan menyuruh Rose melakukannya. Apalagi melarangnya untuk makan malam," hardik Josh kepada putrinya.

Chloe mengalihkan pandangan dari layar televisi kepada Rose. Matanya melotot, menunjukkan kekesalan teramat besar pada sepupunya itu. Pasti Rose baru saja mengadu sehingga sang ayah membentaknya.

"Kenapa kamu memarahi putri kita? Tidak masalah jika Rose sesekali membantu Chloe. Itu adalah bentuk rasa terima kasihnya karena kita sudah membiayai sekolahnya. Lagipula anak kita butuh banyak istirahat, Josh," jawab Lily membela Chloe.

"Apa kamu lupa kalau Rose mendapatkan beasiswa penuh? Aku perhatikan setiap hari Chloe bermalas-malasan, tidak mau belajar. Mau jadi apa dia jika kamu terus memanjakannya?"

"Kenapa kamu terus menerus membela anak haram ini daripada putrimu sendiri?"

"Jangan merendahkan Rose. Dia adalah keponakanku, anak dari adik perempuanku."

"Bukankah perkataanku tidak salah? Buktinya tidak ada yang mengetahui siapa ayah biologis Rose," cela Lily.

Perdebatan Josh dan Lily terhenti karena melihat breaking news kasus pembunuhan seorang milyader ternama.

"Polisi masih terus memeriksa delapan orang saksi yang diduga menghadiri meeting bersama Tuan Louis Brown di hotel Mozia," ucap sang pembawa berita.

Hampir dua bulan kasus kematian Louis Brown ditangani oleh pihak kepolisian. Namun, hingga kini belum ditemukan siapa pelaku yang meracuni CEO Brown Group tersebut. Misteri pembunuhan ini telah menjadi perbincangan hangat di tengah warga kota.

"Kalau menurutku pembunuhnya adalah kerabatnya sendiri. Mereka mengincar harta kekayaan Tuan Louis, karena dia sudah bercerai dari istrinya dan tidak memiliki anak kandung," ucap Lily sok tahu.

"Belum tentu. Bisa juga salah satu karyawan atau relasi bisnisnya," sahut Josh menebak-nebak.

Stasiun televisi yang menyiarkan berita tentang Louis Brown kemudian menampilkan foto-foto pria itu. Rose ikut menyaksikannya. Louis Brown terlihat seumuran dengan pamannya, Josh, tapi parasnya jauh lebih tampan.

Rose tertarik mengamati foto pria itu. Entah mengapa ia merasa mata dan bibir pria itu mirip dengan dirinya.

"Apa ini khayalanku saja? Tidak mungkin aku memiliki kemiripan dengan seorang CEO,"

batin Rose menepis pikirannya.

Bab 2

Jam pelajaran sudah selesai. Rose menyilangkan tas sekolahnya yang kumal lalu meninggalkan ruang kelas. Ia berjalan lurus melintasi pekarangan sekolah. Seperti biasa tidak ada yang menghiraukan keberadaannya. Teman-teman sekelasnya juga bersikap sama. Mereka menjauhi Rose karena enggan berteman dengan gadis yatim piatu yang miskin.

Rose pun melanjutkan langkah kakinya menuju gerbang sekolah. Sambil menundukkan kepala, ia meneruskan perjalanan pulang. Angin berhembus begitu kencang. Rose memeluk dirinya sendiri untuk menghilangkan rasa dingin, tapi tetap saja tubuhnya gemetaran. Awan kelabu yang berarak menutupi sang surya, menandakan bahwa hujan akan segera turun mengguyur bumi.

Rose gelisah. Pagi ini ia bangun dalam keadaan kurang sehat. Jika hari ini kehujanan, mungkin ia akan benar-benar jatuh sakit.

Rose berhenti sejenak. Ia melihat sekumpulan remaja yang mengantri di depan food truck untuk membeli burger dan kopi. Rose baru menyadari jika perutnya berbunyi sejak tadi. Ingin sekali ia membeli makanan untuk mengganjal perut. Sayangnya, ia tidak punya uang sama sekali.

Dengan kecewa, Rose memalingkan wajahnya. Ia menyeberang jalan lalu berbelok ke kanan. Rose memilih jalan pintas yang kerapkali dilaluinya setiap pulang sekolah. Jalan kecil itu akan membawanya tiba di rumah lebih cepat.

Entah karena pusing atau terlalu lama menahan lapar, pandangan Rose menjadi berkunang-kunang. Tubuhnya terhuyung dan hampir roboh ke bawah bila saja tidak ada tangan yang menahannya.

"Nona, Anda tidak apa-apa?" Terdengar suara bariton seorang pria di telinga Rose.

Rose mengerjapkan mata beberapa kali untuk menormalkan penglihatannya. Di hadapannya sedang berdiri seorang pria muda. Pria itu tengah menatapnya dengan seksama.

"Nona," tanya pria itu sekali lagi.

Rose berusaha memfokuskan titik pandangnya, memastikan bahwa ia tidak berhalusinasi. Pria yang menyapanya sungguh nyata, bukan hantu atau sosok khayalan. Pria ini mengenakan setelan jas kerja yang elegan dengan dasi menghiasi lehernya. Penampilannya terlihat seperti seorang eksekutif muda.

Profil wajah pria ini terbilang sempurna dengan alis tebal, rahang tegas dan manik mata berwarna biru laut. Bisa dikatakan ia adalah gambaran sempurna dari sosok dewa dalam mitologi Yunani.

"Maaf, saya harus pulang ke rumah, Tuan," kata Rose menghindar. Berbicara terlalu lama dengan orang asing membuat Rose tidak nyaman. Bisa saja pria ini berlagak baik tapi sebenarnya menyimpan niat yang buruk.

"Tunggu Nona. Benarkah Nona bernama Rose Black?" tanya pria itu penuh selidik. Black adalah nama keluarga dari ibu kandung Rose.

Pertanyaan pria itu membuat Rose terhenyak. Dari mana pria ini bisa mengetahui nama lengkapnya padahal mereka baru pertama kali bertemu.

"I...iya saya Rose."

Seolah bisa menebak isi pikiran Rose, pria itu berusaha bersikap lebih ramah.

"Jangan takut, Nona. Perkenalkan saya Denzel, wali Nona. Saya perlu bicara empat mata dengan Nona. Mari ikut saya ke mobil."

"Wali? Yang menjadi wali saya adalah paman saya, Josh Black. Saya tidak mengenal Anda jadi tolong biarkan saya pergi," tolak Rose.

"Saya tidak bermaksud jahat, Nona Rose. Kita harus bicara di dalam mobil karena jalanan ini tidak aman."

"Tapi saya tidak mau."

Tanpa merespon penolakan Rose, Denzel menarik tangan gadis remaja itu. Rose meronta-ronta minta dilepaskan, namun kekuatannya kalah jauh dibandingkan Denzel yang bertubuh kekar. Terlebih jalan kecil itu tampak lengang, sehingga tidak ada orang yang bisa menolong Rose.

Denzel memasukkan Rose ke dalam mobilnya lalu mengunci pintu. Melihat tindakan Denzel, dahi Rose dipenuhi keringat dingin. Ia khawatir bila pria muda ini akan berbuat macam-macam kepadanya.

"Maafkan saya karena harus bertindak kasar. Saya terpaksa melakukannya demi keselamatan Nona. Jangan sampai ada yang mendengarkan percakapan kita," jelas Denzel melembutkan suaranya.

"A...apa yang Tuan inginkan?" tanya Rose gugup.

Denzel mengambil sebuah map dari tasnya lalu menyodorkan kepada Rose.

"Baca dokumen ini baik-baik, Nona."

Dengan tangan gemetar, Rose menerima map yang disodorkan Denzel. Ia harus menuruti perintah laki-laki ini supaya tidak memancing amarahnya.

Ketika Rose mulai membaca judul dokumen itu, ia menjadi bingung.

"Surat wasiat Louis Brown? Apa hubungannya dengan saya?"

Seingat Rose, Louis Brown adalah pengusaha kaya raya yang diberitakan meninggal karena diracun. Semalam ia melihat berita tentang kematian pria itu di televisi. Benarkah Louis Brown yang ini sama dengan yang ada di berita? Ataukah namanya saja yang sama?

"Saya adalah pengacara merangkap asisten pribadi Tuan Louis. Bolehkah saya bertanya sesuatu? Apakah kalung mawar hitam yang Nona pakai itu pemberian dari Ibu Nona?" tanya Denzel menunjuk ke leher Rose.

Rose terkejut mendengar pertanyaan Denzel. Ia tidak menyangka pria asing ini mengetahui dari mana kalungnya berasal.

"Iya, Tuan. Ibu saya memberikannya sebelum meninggal dunia."

"Kalung itu adalah pemberian dari ayah kandung Anda, Louis Brown. Yang Anda pegang sekarang merupakan surat wasiat dari Beliau. Tuan Louis Brown telah mewariskan sebagian besar dari kekayaannya kepada Anda sebagai putri tunggalnya. Sedangkan sisanya ia wariskan kepada putra angkatnya," terang Denzel meyakinkan Rose.

Bahu Rose bergetar pelan. Ia hampir menangis ketika melihat namanya tercantum dalam surat wasiat tersebut.

"Tuan, apa Anda tidak salah orang? Kalau saya putri dari Tuan Brown, kenapa dia tidak pernah mencari saya selama ini?"

"Nona, saya belum bisa menceritakannya sekarang. Yang jelas Tuan Brown ingin melindungi Nona dari segala bentuk marabahaya. Dia sangat menyayangi Nona. Mulai sekarang hidup Nona tidak akan menderita lagi."

Rose membuka halaman kedua dari dokumen itu yang berisi tentang hak perwalian. Tuan Brown menyatakan bahwa Denzel Adams adalah wali sah yang bertanggung jawab atas ahli warisnya sebelum berusia dua puluh tahun.

Pernyataan ini membuat Rose cemas. Ia tidak mau hidup bersama dengan pria asing yang tidak dikenalnya.

"Tuan, saya tidak bisa menerima warisan ini. Apalagi jika saya harus berpisah dari paman saya."

"Apa yang diberikan Tuan Brown adalah hak Nona sebagai anaknya. Nona tetap bisa tinggal di rumah keluarga Black karena identitas asli Nona harus dirahasiakan. Pembunuh Tuan Louis belum tertangkap. Di luaran sana masih berkeliaran musuh keluarga Brown dan mereka akan mengincar Nona sebagai pewarisnya."

"Lalu saya harus bagaimana, Tuan?"

"Sekarang saya akan mengantarkan Nona pulang ke rumah," kata Denzel menenangkan Rose.

Rose menarik nafas lega. Pikiran negatifnya terhadap Denzel ternyata tidak terbukti. Ayahnya juga pasti memiliki pertimbangan khusus mengapa memilih pria ini sebagai walinya. Namun sejujurnya Rose masih belum percaya dengan kenyataan yang dihadapinya saat ini.

***

Josh izin pulang lebih cepat dari kantor karena ditelpon oleh istrinya. Entah apa yang terjadi di rumah sehingga suara Lily terdengar panik. Wanita itu hanya mengatakan bahwa ada seorang pria tak dikenal yang datang ke rumah mereka bersama Rose.

Dengan tergesa-gesa, Josh memarkirkan mobilnya. Perasaannya makin cemas ketika melihat sebuah mobil porsche terparkir di halaman rumahnya yang sederhana.

Ketika masuk di ruang tamu, Josh mendapati seorang pria muda duduk bersama Rose dan Lily. Pria itu langsung berdiri saat mendengar langkah Josh yang mendekatinya.

"Siapa Anda?" tanya Josh tanpa basa basi.

"Saya Denzel. Ada hal penting yang ingin saya sampaikan kepada Anda, Tuan Josh. Bisa kita bicara bertiga saja? Saya, Tuan, dan Nona Rose."

Lily merasa tersinggung mendengar permintaan Denzel. Namun karena mendapat isyarat dari suaminya, Lily terpaksa menyingkir.

Setelah Lily pergi, Denzel membuka pembicaraan memperkenalkan diri. Ia juga menunjukkan surat wasiat Louis Brown dan penunjukan Rose sebagai ahli warisnya. Antara percaya dan tidak, Josh mendengarkan setiap penjelasan yang diucapkan Denzel. Ia sendiri tidak menduga jika adik perempuannya, Karen, menjalin hubungan dengan pria sekaya Louis Brown. Josh hanya mengetahui bahwa Karen pernah bekerja sebagai staf di perusahaan properti itu.

Josh memandang Denzel sejenak, mencari kejujuran dari netra pria tampan itu. Keraguan timbul di benak Josh. Pasalnya usia pria itu masih muda. Menurut perkiraan Josh, Denzel berumur sekitar dua puluh tujuh sampai dua puluh delapan tahun.

"Tuan Denzel, apa Anda yakin bisa menjadi wali untuk keponakan saya?"

"Saya akan mengusahakan yang terbaik untuk Nona Rose. Terutama dalam mengelola perusahaan dan aset yang diwariskan kepadanya."

Denzel mencodongkan tubuhnya ke depan.

"Terkait dengan kehidupan sehari-hari Nona Rose, saya tetap menyerahkannya dalam pengasuhan Anda. Untuk seluruh biaya kehidupan Nona Rose dan keluarga Black, saya akan mentransfernya setiap bulan. Saya juga akan membelikan rumah baru untuk keluarga kalian. Tapi tolong mintalah anggota keluarga Black untuk memperlakukan Nona Rose dengan baik. Saya tidak mentolerir perlakuan buruk dalam bentuk apapun."

"Satu lagi, Tuan. Jangan membocorkan siapa ayah kandung Nona Rose kepada istri dan anak Anda. Rahasia ini cukup kita bertiga yang tahu. Dan mulai sekarang saya akan mengubah nama belakang Nona Rose demi keamanannya," tandas Denzel.

"Iya, saya mengerti, Tuan Denzel. Terima kasih karena Anda telah menjalankan wasiat dari ayahnya Rose," jawab Josh bahagia.

***

Tujuh Tahun Kemudian....

"Saya berharap bisa melihat karya yang mengagumkan di tugas akhir kalian. Sebuah masterpiece, karya yang diciptakan dengan hati. Memiliki jiwa sehingga akan menarik setiap mata untuk memandangnya," ucap Mrs. Marion bersemangat.

"Hari ini kalian bisa mulai pengerjaan tahap awal di galeri. Saya ucapkan selamat bekerja."

Mrs. Marion mematikan laptopnya lalu mengakhiri sesi kuliah hari itu.

Gwen menggeleng pelan. Ia menyenggol lengan Rose yang duduk bersebelahan dengannya.

"Rose, apa kamu sudah tahu tema apa yang akan kamu ambil untuk pameran? Aku belum terpikir sama sekali," ucap Gwen.

"Hmmmm, aku ingin mengangkat kehidupan anak-anak panti asuhan sebagai tema lukisan. Selain itu aku akan membuat sebuah patung wanita, tapi aku perlu melakukan riset."

"Cepat sekali kamu berpikir. Pantas saja kamu selalu menjadi mahasiswa terbaik di jurusan kita."

"Cobalah merenung di kamar, kamu pasti akan mendapatkan ide cemerlang," saran Rose sambil tersenyum.

"Aku heran kenapa kamu tidak menerima tawaran pertukaran mahasiswa di Italia. Padahal banyak yang menginginkannya, terutama Anneth," ujar Gwen melirik ke arah bangku di seberangnya. Anneth balas menatap tajam ke arah Gwen.

"Sudahlah, Gwen, jangan membicarakan itu lagi. Ayo kita ke galeri."

Rose melepas kacamatanya lalu menggandeng tangan Gwen keluar dari ruang kuliah. Ia tidak ingin memancing pertengkaran dengan Anneth.

Sebelum tiba di galeri, Anneth mendadak muncul dan menghalangi mereka.

"Tunggu, Rose. Buru-buru sekali. Sepertinya kamu sangat percaya diri dengan tugas akhirmu."

"Aku rasa kita semua harus optimis dalam mengerjakan tugas akhir," jawab Rose diplomatis.

"Kamu benar. Aku tidak menyangka gadis sepertimu pintar bicara juga."

Anneth mengambil sesuatu dari tasnya lalu memberikannya kepada Rose.

"Aku cuma ingin memberitahumu bahwa besok jam lima ada audisi untuk konser Valentine. Mr. Robert menyuruhku memberikan formulir ini. Kamu harus datang tepat waktu."

Rose menerima lembaran form dan jadwal audisi itu. Ia memang mengikuti kursus biola di luar jam kuliah dan kebetulan sekelas dengan Anneth.

"Aku tidak berminat mengikuti audisi. Aku belum bisa melakukan pertunjukan tunggal."

"Mr. Robert selalu memuji perkembanganmu. Karena itu aku berinisiatif mendaftarkanmu sebagai peserta audisi."

"Kenapa kamu tidak menanyakan pendapatku dulu?" tanya Rose keheranan.

"Dengar, Rose, aku bermaksud baik. Tapi semuanya terserah padamu. Jika kamu tidak hadir saat audisi, Mr. Robert pasti kecewa. Nama sekolah biola kita juga akan tercemar. Jadi saranku datanglah ke audisi itu."

Anneth mencibir di dalam hatinya.

"Rasakan kamu Rose, kamu akan mati kutu disana," gumam Anneth senang.

Sambil mengulum senyum, Anneth berjalan santai meninggalkan Rose. Anneth sengaja melakukan ini untuk mempermalukan Rose. Ia tahu bahwa para peserta audisi adalah murid senior dari berbagai sekolah biola ternama. Kemampuan Rose tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan mereka.

Swmentara itu Gwen melihat kecemasan di raut wajah Rose. Ia mencoba menghibur sahabatnya dengan menunjukkan sebuah video.

"Rose, aku yakin kamu bisa lolos di audisi itu. Tontonlah video yang sedang viral ini. Ada violinis bernama Miss Black. Dia membuat dua video yang semuanya trending di media sosial. Permainan biolanya sangat indah. Kamu bisa mempelajari teknik yang dipakainya."

"Terima kasih, Gwen," ucap Rose menghargai ketulusan sahabatnya.

Bab 3

Gwen kembali memperlihatkan video Miss Black kepada Rose.

"Miss Black tidak pernah memperlihatkan wajahnya di video. Yang terlihat hanya bagian pundak ke bawah. Tapi justru sisi misteriusnya ini yang membuat orang-orang semakin penasaran."

"Sepertinya kamu salah satu penggemar Miss Black, Gwen."

"Iya. Aku berharap suatu hari bisa menguak identitas Miss Black yang sebenarnya."

Dering ponsel Rose menghentikan obrolan mereka. Gwen melirik sebentar dan melihat nama "Daddy" muncul di layar ponsel Rose.

"Itu dari ayahmu, Rose?" tanya Gwen penuh selidik.

"Aku pulang duluan Gwen. Nanti aku akan menelponmu," kata Rose melambaikan tangannya.

Gwen mengerutkan kening melihat sikap aneh.Rose. Setiap kali ada panggilan dari "si Daddy", Rose selalu buru-buru pergi. Ia penasaran apakah ayahnya Rose seorang pria yang sangat galak sehingga putrinya sampai ketakutan.

Sembari memastikan tidak ada orang yang mengikutinya, Rose berjalan menuju ke parkiran. Ia membuka pintu mobil lalu menerima panggilan tersebut.

"Ada apa, Daddy?" tanya Rose.

"Nona, Anda ada dimana sekarang?"

Mendengar suara pria yang sudah akrab di telinganya membuat Rose tersenyum. Selama tujuh tahun terakhir, Denzel tak henti memperhatikannya. Pria itu tidak hanya bertindak sebagai wali tapi juga setia menjadi mentor dan pelindungnya.

Denzel sangat protektif terhadap Rose. Walaupun pelaku pembunuhan Louis Brown telah dipenjara, Denzel yakin jika supir pribadi Louis bukanlah pelaku sebenarnya. Kemungkinan besar sang dalang pembunuhan justru masih berkeliaran dengan bebas di luar.

Denzel juga mengajari Rose berbagai macam hal tentang dunia properti sekaligus menjalankan perusahaan dengan baik. Sedangkan Rose hanya diperbolehkan bekerja di belakang layar. Tidak ada satu pun karyawan maupun manajer yang mengenali Rose sebagai pemilik Brown Group.

Denzel adalah pengganti sosok ayah bagi Rose. Karena itu Rose memanggilnya dengan sebutan Daddy. Denzel pun tidak keberatan dipanggil seperti itu meskipun ia lebih pantas menjadi kakak Rose. Rose merasa sangat beruntung memiliki Denzel di sisinya. Apalagi pria itu mengabaikan kehidupan pribadinya sendiri demi melaksanakan amanat ayahnya. Hingga kini Denzel belum menikah maupun terlihat menggandeng seorang kekasih.

"Aku masih di kampus, sebentar lagi akan pulang."

"Jangan lupa makan siang, Nona. Sudah membaca proposal perumahan Lancewood?"

"Sudah. Aku menyukai konsepnya. Aku setuju jika kita memulai proyek pembangunannya bulan depan."

"Kalau begitu nanti malam saya akan ke rumah Nona untuk mengambil proposal. Sekalian mengantarkan dokumen kesepakatan dengan Grand Corp. Nona harus menandatanganinya sebelum hari Kamis."

"Tidak perlu. Besok aku akan datang ke kantor setelah mengikuti audisi biola. Aku merindukan suasana kantor."

Rose mengatakan itu dari lubuk hatinya. Terkadang ia sangat merindukan kantor Brown Group karena disitulah tersimpan banyak kenangan ayahnya. Di ruangan CEO, Rose bisa melihat foto-foto sang ayah dan beberapa benda kesayangannya. Meskipun Rose harus menyamar, itu tidak masalah baginya.

"Nona, Anda harus berhati-hati jangan sampai...."

"Iya, aku mengerti. Aku akan menyamar seperti biasanya. Jangan lembur lagi hari ini, Daddy. Sampai jumpa besok di kantor," ucap Rose menutup telponnya.

****

Kompleks pemakaman Saint Lorenz tampak lengang di sore hari. Seorang pria muda berjalan memasuki gerbang sambil membawa buket mawar merah. Ia sengaja memakai topi dan kacamata hitam untuk menyamarkan wajahnya. Yah, dia tidak ingin memancing pemberitaan di media jika sampai ada orang yang mengenalinya.

Pria itu berhenti di sebuah nisan berwarna putih. Pusara yang terbuat dari granit itu tampak bersih dan terawat. Di atas batu nisan tertulis sebuah nama dengan tinta emas, Jessica Brown. Pria itu bersimpuh lalu meletakkan bunga mawar yang dibawanya.

Sejenak ia diam tak bergerak, seolah merenungi sesuatu.

"Mama, besok aku akan kembali. Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan kota ini, tapi aku sudah berjanji akan melaksanakan pesan terakhir Mama. Aku tidak akan membiarkan anak dari selingkuhan Papa menguasai harta keluarga Brown. Bila perlu aku akan membalas perbuatan ibunya yang sudah membuat Mama menderita."

Pria itu memanjatkan doa dengan tulus. Dengan berat hati, ia meninggalkan makam ibu angkatnya dan berjalan meninggalkan area pemakaman.

Setelah sampai di mobil, pria itu mengambil ponselnya. Ia menghubungi pelayan setianya sebelum kembali ke apartemen.

"Sam, apa semua baju dan barang-barangku sudah dimasukkan ke dalam koper?"

"Sudah, Tuan Muda."

"Bagus. Jam enam pagi aku harus berangkat ke bandara. Aku pergi dengan penerbangan pertama. Tolong persiapkan semua keperluanku. Jangan ada yang tertinggal."

"Baik, Tuan Muda."

Pria itu mengakhiri panggilannya. Berikutnya jari jemarinya berselancar dengan lincah di dunia maya. Ia sedang mengumpulkan berita dan artikel mengenai pewaris utama Brown Group. Pasalnya hingga kini ia tidak pernah muncul di publik. Para relasi bisnis pun belum pernah bertatap muka dengan wanita ini karena semua urusan diwakilkan kepada asistennya. Mereka hanya mengenalnya sebagai Miss Black.

Seulas senyum dingin tercetak di bibir pria itu. Memperlihatkan lesung pipit yang menghiasi paras tampannya.

"Mungkin kamu bisa bersembunyi dari dunia. Tapi kamu tidak akan lepas dari tanganku. Kita lihat sampai berapa lama kamu bisa bersembunyi dariku, Miss Black,"

gumam pria itu mengepalkan tangannya.

***

Ruang audisi sudah dipenuhi oleh para peserta. Rose memandang ke kiri dan ke kanan, mencari tempat duduk yang masih kosong.

"Rose sebelah sini," teriak seseorang memanggilnya.

Rose berpaling dan melihat gurunya, Mr. Robert, duduk di deretan bangku nomor tiga dari belakang. Di sebelah Mr. Robert ada seorang gadis berbaju merah. Gadis itu tak lain adalah Anneth. Entah mengapa Anneth muncul di acara audisi. Yang jelas kehadirannya pasti memiliki tujuan tertentu.

"Maaf, Mr. Robert, saya terjebak kemacetan," kata Rose meletakkan tas biolanya di bawah kursi.

"Aku kira kamu tidak akan datang, Rose," sindir Anneth.

"Audisinya baru dimulai sekitar lima menit lagi. Apa kamu sudah mempersiapkan diri, Rose? Aku yakin lagu Vivaldi tidak sulit untukmu."

"Iya, saya sudah berlatih semalam. Semoga penampilan saya tidak mengecewakan."

Tak berselang lama, dewan juri duduk di kursi masing-masing. Pembawa acara mulai memanggil peserta audisi untuk bersiap di belakang panggung. Anneth bisa menangkap bias kecemasan di wajah Rose dan itu membuatnya senang.

"Mr. Robert, saya harus ke belakang panggung sekarang. Saya mendapat nomor urut sepuluh," pamit Rose.

"Bersemangatlah, Rose," ucap Mr. Robert memberikan dukungan.

Anneth berdiri dan membisikkan sesuatu pada Rose.

"Hati-hati, Rose. Sainganmu adalah para senior. Jangan sampai kamu gugup dan melakukan kesalahan di atas panggung."

"Iya," jawab Rose singkat.

Berdiri sambil menantikan giliran, membuat detak jantung Rose naik turun bagai roller coaster. Ini adalah pengalaman pertamanya tampil di hadapan umum. Ditonton langsung oleh sekian pasang mata memberikan tekanan tersendiri bagi Rose. Tapi ia tidak bisa mundur. Bagaimanapun ia harus mampu mengatasi rasa gugupnya.

"Peserta nomor sepuluh, Nona Rose Carter."

Rose menarik nafas dalam-dalam. Bermodalkan keyakinan, Rose membawa biolanya ke atas panggung. Ia mengucapkan salam kepada dewan juri kemudian mulai menggesek senar biolanya.

Alunan Concerto in A Minor terdengar memenuhi seluruh ruangan. Dengan lincah jemari kiri Rose bergantian menahan senar, sementara tangan kanannya menggerakkan bow secara teratur. Sungguh lagu yang dimainkan Rose mengalun sempurna. Temponya juga sangat pas sehingga membuat penonton terhanyut dalam permainan biolanya.

Dari kursinya, Anneth membelalak tak percaya. Ia tidak mengira Rose memiliki kemampuan sehebat itu sebagai violinis pemula. Bahkan ia bisa menandingi keahlian para seniornya.

Tepuk tangan penonton membahana usai Rose menyelesaikan lagunya. Mr. Robert sampai berdiri dari duduknya karena bangga atas penampilan Rose.

Berbanding terbalik dengan yang dialami Anneth. Rencana yang telah disusunnya gagal total. Justru ia melakukan kesalahan besar dengan mendaftarkan Rose sebagai peserta audisi. Kini Rose malah mendapat apresiasi dari semua orang. Dan lebih parahnya lagi, ia bisa terpilih oleh dewan juri untuk mengikuti konser.

"Shit! Aku tidak akan membiarkan Rose berada di atas angin. Aku akan mencari cara lain untuk mempermalukannya," batin Anneth kesal.

****

Rose baru selesai mandi dan mengganti bajunya dengan setelan blazer. Ia butuh menyegarkan diri setelah melewati proses audisi yang menegangkan. Namun ia bersyukur karena semua usahanya tidak berakhir sia-sia. Impiannya mengikuti konser besar akan terwujud dalam waktu dekat.

"Rose, keluarlah. Tuan Denzel mencarimu," seru Lily mengetuk pintu kamar Rose.

"Iya, Auntie, aku segera turun."

Rose menyisir rambutnya lalu bergegas menuruni tangga. Tidak biasanya Denzel mengunjunginya di sore hari kecuali ada masalah kantor yang mendesak.

Setengah berlari, Rose menuju ke ruang tamu. Ingin sekali rasanya dia berbagi kebahagiaan dengan Denzel.

"Daddy, kenapa kesini? Aku baru saja akan berangkat ke kantor. Maaf jika aku terlambat karena aku menunggu pengumuman hasil audisi," jelas Rose.

"Saya ingin menjemput Nona. Saya pikir Nona pasti lelah jika harus menyetir sendiri sehabis mengikuti audisi."

"Aku tidak selemah itu, Daddy. Jangan meremehkanku. Sekarang aku sudah menjadi wanita dewasa, bukan anak-anak lagi."

"Bagaimana hasil audisinya, Nona?" tanya Denzel penuh perhatian.

"Aku lolos audisi dan terpilih mengikuti konser," ujar Rose kegirangan.

Tanpa sadar, Rose menghambur ke pelukan Denzel. Tindakan Rose yang tiba-tiba membuat Denzel terkesiap, namun ia membiarkan gadis cantik itu nyaman dalam dekapannya.

Rose yang menyadari kelakuannya menjadi malu. Ia melepaskan diri dari Denzel sambil meminta maaf.

"Maaf, Dad, aku terlalu gembira sehingga bersikap kekanak-kanakan."

"Tidak apa-apa, Nona. Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama untuk merayakan keberhasilan Nona," tanya Denzel mencairkan suasana.

"Baiklah, aku setuju, Daddy," ucap Rose tersenyum.

Denzel mengalihkan pandangannya dari Rose. Menatap gadis itu terlalu lama tidak akan baik untuk dirinya.

"Mari Nona kita berangkat ke kantor," ujar Denzel mendahului Rose.

Rose keheranan dengan sikap Denzel yang mendadak berubah dingin.

"Apa dia marah karena aku memeluknya?" pikir Rose merasa tidak enak hati.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED