Bab 2
Hari ini SMA internasional hig school jakarta digemparkan dengan kedatangan seorang murid baru laki-laki, yang sangat tampan, berita adanya murid baru disekolah itu dalam waktu sekejap sudah tersebar dipenjuru sekolah dari guru, senior bahkan junoir semuanya sudah mendengar berita itu entah ada apa dengan SMA hig school hari ini biasanya jika ada murid baru tidak akan segempar sekarang.
~~~
Bella yang biasanya tidak peduli atas semua berita yang tersebar di smanya kali ini ikut penasaran dengan murid tersembut karen sampai ketelinga guru juga.
"Bella" panggil Enjel sambil berterika pelan
"Bella ayok liat murid baru" ajak Enjel antusias
"Ngapain sih tar juga dia masuk kelas kita kan" Ucap Bella malas.
satu sekolah juga tau bahwa murid baru itu akan masuk kelas Bella tepatnya kelas 11 jurusan sastra.
"Ayok pokonya" ajak Enjel sambil menarik-narik tangan Bella agar mau ikut dengannya.
Enjel pura-pura mengajak Bella kekanti untuk melihat murid baru tersebut karena dia masih ada diruang kepala sekolah tepat saat Tiara keluar dari ruang guru dia berjalan berpasa-pasan dengan Bella, semua pasang mata tertuju pada Tiara dari murid laki-laki mau pun murid perempuan semuanya seakan tepesona dengan Tirta.
"Dia" gumun Bella pelan samar-samar Enjel mendengar ucapan Bella.
Sedangkan Bella tidak berani menatap Tiara tapi Tiara terus menatap Bella yang berdiri tepat disampingnya.
"Ganteng banget sumpah" ucap Enjel
"Hemmm" dehem seorang yang berdiri disebalah Enjel sontak Enjel menoleh kearah kanannya disana sudah ada Gilang yang menatapnya denga tajam.
"Ee gilang pacar Enjel udah lama belum" ucap Enjel was-was karena dia telah memuji cowok lain didepan Gilang dan Gilang sudah memberikan tatapan tajam pada Enjel, tanpa berkata sepatah kata pun Gilang langsung menarik tangan Enjel untuk pergi dari sana.
"Ebee gue duluan Bell" ucap Enjel sedikit berteriak karena Gilang sudah menarik Enjel menjauh.
Bella tetap menundukan kepalanya tanpa mau mengangkatnya sedangkan Tirta masih tetap memandang Bella dari atas hingga bawah, samapi mata Tirta tertuju pada tali sepatu milik Bella. Bella begitu terkejut karena kini Tirta sudah duduk berjonkok dibawah Bella untuk mengikatkan tali sepatunya yang terlepas.
"Wah apa Bella kenal denga siswa baru itu"
"Beruntung banget sih Bella"
"sosweet"
"Andai aku jadi Bella"
Begitu kira-kira oceh para murid yang lalu lalang menyaksikan hal tersebut
sedangkan Tirta setelah mengikatkan tali sepatu milik Bella seperti bertama kali bertemu dia tidak mengucapkan sepatah kata pun langsung pergi begitu saja.
"Hahh" cengoh Bella yang kembali sadar dari lamunannya.
"Tukan pergi gitu aja lagi kayak kemaren sebenernya itu orang siapa sih dari kemaren munjul dihadapan gue trus abis itu selalu bikin deg-degan lagi. adu Bella lu ngomong apasih"
ocehnya pada diri sendiri sambil memukul-mukul kepalanya dan berlalu menuju kelas kembali karena lonceg masuk sudah berbunyi sedangkan Enjel tadi yang mengajaknya keluar entah sudah dimana bersama pacarnya.
Sedangkan Enjel sedang berusaha aga Gilang pacanya tidak marah atas kejadian tadi.
"Pacar Enjel yang paling ganteng pilss janggan marah ya tadikan cuman reflek aja" ucap Enjel berusaha membujuk Gilang gara tidak marah lagi dengannya.
"Enjel cuman kagum kayak siswa-siswi yang lain aja udah gak lebih dari itu kok, sampai kapan pun disini" Enjel sambil menunjuk dadanya cuman ada Gilang seorang gak ada yang lain bener Enjel gak boong" ucapnya
"Awas kalu macem-macem" ancam Gilang
"Gak akan Gilang bener gak boong, udah yok masuk keburu gurunya udah ada dikelas"
Akhirnya Enjel dan Gilang berjalan beriringan menuju kelas masing-masing, karena kelas mereka bersebelahan.
"Dari mana aja sih lu. malah gue ditinggal?"
"Biasa Bell maaf ya tadi Gilang tiba-tiba narik tangan gue terpaksa jadinya gue tinggalin lu maaf bangett sahabat gue yang paling baik pilss jangan marah oke" bujuk Enjel.
"serah kebiasaan" ucap Bella karena Enjel memang sudah biasa begitu tapi dia tidak mempermasalahkan hal itu.
"Diam!! janggan ribut ibu Mira sudah datang" ucap ketua kelas dan semuanya pun langsung terdiam. Ibu Mira yang notabeknya guru jadi-jadian kini masuk kekelas tersebut dan diikuti seorang murid baru yang mengemparkan 1 sekolah tapi belum ada yang tau siapa nama murid baru tersebut.
"Sihlakan Kenalkan diri kamu" ucap bu Mira guru jadi-jadian itu. maksudnya jadia-jadian bukan manusia terus abis itu jadi siluman bukan ya maksudnya itu kadang galak kadang baik.
"Perkenalkan nama gue Tirta" ucap Tirta singkat pada jelas.
"Sudah bu apa saya boleh duduk" ucapnya pada ibu Mira
"Haha cuma gitu doang " salah satu siswa perempuan dikelas itu angakt bicara dan masih banyak lagi kata-kata yang lainnya.
"Ibu saya boleh nanya gak?"
" Sihalakan tanyakan saja apa yang ingin kalian tanyakan pada Tirta sebelum ibu mulai pelajaran.
"Tirta apa hobinya?"
"Tirta udah punya pacar belum?"
"Tirta dimana rumahnya?"
Para siswa yang bertanya kebanyakan perempuan dan kini kelas itu menjadi sangat berisik karena sorak-sorakan mereka yang ada didalam kelas.
"Sudah yang lain tanyakan di jam istirahat waktu bertanya kalian sudah habis dan Tirta sihlakan duduk" perintah bu Mira
Tirta pun mengambil kursi kosong tepat dibelakang Bella dan Enjel karena hanya kursi itu yang kosong.
"hey kenalin gue Jo" ucap teman sebangku Tirta, Jo juga dekat dengan Bella dan Enjel mereka bertinga sering bercanda bersama karen Jo tidak seperti murid laki-laki lainnya yang nakal.
"Tirta" jawabnya singkat
"Apa kita bisa berteman" tanya Jo dan hanya dijawaba dengen angukan kepala oleh Tirtta.
***
Jam istirahat tiba kini semua murid berbondong-bondong menuju ketempat pavorit mereka, apa lagi kalu bukan kantin iya kan, mana mungkin ruang BK yang ada itu hal yang paling mengerikan menurut para siswa. Semua murid yang menikmati makanan mereka dikantin berjejer dengan rapi, begitu juga dengan Tirta menurutnya memahami suatu lingkungan begitu mudah, buktinya sekarang dia sudah duduk dimeja sambil menikmati makanan dengan khusuk.
"Hay" sapa Dea centil.
"boleh ikut gabung gak" ucapnya lagi karena tidak direspon sama sekali oleh Tirta.
"Tempat ini milik umum jika mau duduk-duduk saja" jawab Tirta singakat
Dea dan kedua temannya sangat senang karena bisa duduk disebelah Tirta
"Gue Dea lu Tirta kan? siswa baru dikelas sastra itu" ucap Dea sambil mengeluarkan tangannya untuk berjabat dengan Tirta.
"Iya" jawab Tirta singkat tanap memperdulikan tangan milik Dea.
"Yah sih centil dicuekin" sindir Enjel sedikit berteriak agar semu orang bisa mendengar
"Kenapa lo iri kan gak bisa duduk disebelah Tirta" jawab Dea percaya diri.
"iya itu pasti iri" kompor Meta dan Meti
"Gitu doang bahagia banget" ucap Enjel kesal
"Apa lagi kalu udah kayak temen gue" ucapnya lagi tapi Dea dan kedua temannya tidak mengerti apa yang Enjel katakan, sedangkan Tirta tau apa yang dimaksud Enjel.
"Enjel" ucap Bella mengingatkan.
Karena Bella sudah menceritakan semuanya pada Enjel tentang dia yang pertama kali bertemu Tirta.
"biarin aja dia sayang" sela Gilang sebelum Enjel berbicara kembali.
"iya deh aku diem maaf"
"kan kalau Gilang aja yang ngomong langsung diem" ucap Bella.
Sedangkan Enjel mukanya sudah seperti tomat karena Gilang memangilnya sayang cukup kencang. sepertinya semau orang yang ada dikantin mendengar Gilang ngomong sayang sama Enjel.
"Namanya juga bucin ya gak ben" timpal Jo yang duduk bersama mereka, dan Ben teman satu kelas Gilang.
"makanya cari pacar Bell biar bisa kayak enjel" timpal Ben.
"Mau gak sama abang Ben yang ganteng ini" ucap Ben percaya diri sambil memainkan rambutnya bukannya dapat jawaban dari Bella malah Ben disemprot sorakan oleh satu kantin.
"Ben, Ben mana mau Bella sama kamu" ejek Jo dan Enjel bersamaan.
Tiba-tiba seorang datang memberhentikan kekacauan dikantin.
"Disini rupanya ni anak"
Sontak sura tersebut menghentikan gelak tawa dikantin tersebut dan mereka semua memandang cewe yang berdiri tepat disamping Tirta.
"ada apa?"
" Ikut gue" tanpa basa basi cewek tadi menarik tangan Tirta untuk mengikutinya.
"Wih itu kan seniro kita"
"Iya apa hubunganya sama siswa baru itu?"
"itukan seniro Natasya gebetan gue"
"Pacanya kali"
"mana mungkin, masa cowoknya lebi muda cabe-cabean dong.
"saudarnya kali"
"adiknya paling"
"selama senior Natasya disekolah kita kayak nya gue gak perah denger kalu dia punya adik"
"Ia bener itu bahkan temen-temennya jarang yang tau rumah dia"
"sudah lah nanti juga kita bakal tau kebenarannya"
seperti itu lah oceh mereka dikantin.
"apa hubunagnya senior Natasya sama Tirta apa bener mereka pacara?, aihh lu kenapa sih Bell jadi mikirin Tirta" ucapnya dalam hati pada diri sendiri.
~~~
"kenapa sih bawa gue kesini?"
" Lu dari tadi dipanggil ayah lewat batin kagak denger apa?hahh" emosi Tasya karena adiknya itu dia kena omel ayahnya raja Erik.
"inget ya adik ku sayang Tirta" Natasya menekankan kata *Tirta* pada adiknya itu
"Tujuan kita ada didaratan ini apa janggan sampai malah terjadi hal lain, sekarang denger ayah mau ngomong apa ayok duduk"
Mereka berdua pun pokus pada pikiran masing-masing untuk bertalisipat dengan raja Erik.
"ayah tasya sudah bersama Trita sampaikan apa yang mau ayah samapaikan" ucap Natasya lewat talisipati mereka.
"baiklah putri dan purta ku dengarkan kan kata ayah kalain juga harus menemukan seorang gadis yang memiliki tanda bulan ditelapak kanannya, tanda bulan itu ada disebelah kanan tangan gadis itu dan dekat dengan ibu jarinya" jelas raja atur.
"jadi ayah sekarang kita juga harus mencari 2 orang gadis sekali gus dengan memilik tanda seperti itu hal konyol apa lagi ini" ucap Tirta.
"Tirta ingat tujuan kamu nak,kamu sudah janjin sama bunda ratu" kali ini ratu Erika yang ikut berbicara karena Tirta hanya akan mendengarkan bundanya saja tidak dengan ayahnya.
"baik bunda" jawab tirta tanpa membantah lagi
"jadi ayah apakah dua tanda itu ada pada satu gadis atau dua gadis?" tanya Natasya.
"kemungkinan besar ada pada dua orang tapi tidak bisa dipastikan ada pada satu atau dua orang akan tetapi yang jelas orang tersebut ada di sekitar kalian berdua" jelas raja Erik lagi.
"baik lah ayah raja sekarang waktu istirahat sudah habis" ucap natasya yang mendengar bel tanda istirahat sudah berbunyi dan mereka semua langsung memutuskan talisipatnya*.
"inget janggan buat kekacauan apapun disini" ucap natasya penuh penekanan dan dia berlalu pergi.
"iya" jawab Tirta singakat karena kakanya sudah tidak terlihat lagi dania pun kembali kekelasnya.
Bab 5
Malam harinya Tirta dan kakaknya Natasya diperintah oleh raja Erik ayah mereka untuk pergi ke kerajaan laut karena ayahnya mendapat sebuah petunjuk terang tentang seorang gadis yang bisa berbicara dengan semu binatang hidup juga ratu Erika kangen dengan kedua anaknya itu.
" Tirta sudah siap belum" teriak Natasya sambil mengetok-ngetok pintu kamar milik adiknya.
" Iya sebentar" jawab Tirta dari dalam sambil sedikit berteriak.
Setelah mereka berdua siap Tirta segera mengeluarkan mobil untuk mereka kendarai menuju pantai laut agar orang-orang tidak curiga.
" Mau kemana Nas, Tirta?" sapa Bayu teman sekali gus tetangga Natasya dan Tirta.. teman satu kelas Natasya juga.
" Mau kepantai Bay" jawabnya dengan senyum.
'Tin, Tin! suara tlakson mobil yang keluar dari bagasi tanda Tirta menyuruh kakaknya untuk masuk
" Gue dulan ya Bay" pamait Natasya pada Bayu
" Oke hati-hati dijalan janggan pulang malam-malam bilang sama adik kamu" ucap Bayu mengingatkan sebagai tetangga yang baik.
" Siap" jawabnya sambil masuk kemobil
"Bang Bayu kami pergi dulu ya titip rumah" ucap Tirta
"Tenag aja rumah kalian gak bakal ilang kok" canda Bayu dan setelahnya mobil berlalu pergi.
Bayu sendiri sudah tau jika Tirta adik Natasya. Natasya bercerita dengan Bayu bahwa Tirta barus pulang dari luar negri sedangkan kedua orang taunya tinggal diluar negeri tentu Natasya berbohong pada Bayu tidak mungkin dia bercerita yang sebenarnya sedangkan Natasya sendiri sudah 5 bulan menempati rumah minimalis itu sebelum kedatangan Tirta dia membeli rumah itu denga uangnya sendiri. setahu Bayu
Diperjalan menuju laut mobil Tirta berhenti tepat saat lampu merah dan mobil itu berpas-pasan dengan mobil Enjel
" Bell orang yang ada didalam mobil itu Tirta sama kak Natasya kan? " ucap Enjel yang sedari tadi kepalanya bergerak kesana kemari sampai dia sadar jika disebelahnya mobilnya mobil milik Tirta.
"Mana" ucap Bella.
Tapi Bella tetap mengarahkan kepalanya kearah sampingnya bersamaan dengan itu Tirta sedang tersenyum manis padanya belum sempat Bella berbicara pada Tirta mobil yang dikendarai Tirta sudah kembali berjalan terlebih dahulu karena lampu merah sudah digantikan dengan lampu hijau.
"Aduh meleleh gue" ucap Enjel yang menyaksikan senyum mansi Tirta tadi sambil dia juga melajukan mobilnya. Sedangkan Bella sudah deg, deg tidak karuan jantungnya berpacu lebih cepat dari biasannya
" Kayaknya Tirta suka sama loe deh Bell" ucap Enjel penuh percaya diri untuk memulai topik obrolan mereka.
" Apa sih gak mungkin kita aja barus ketemu tiga kali itu juga secara tidak senghaja " jawab Bella tidak membenarkan ucapan Enjel barusan.
"Udah lah kalu lu gak percaya apa janggan-janggan lu juga suka sama Tirta?" Tuduh Enjel
" Gak" ucap Bella penuh penekanan
" Tapi tatapan mata lu, bicara sebaliknya" Enjel tertawa renyah.
"Seorang Bella Cahaya Akhira merasakan cinta" Enjel senag karena sahabatanya ini tidak pernah dekat dengan laki-laki mana pun tapi sekarang keberadaan Tirta sepertinya akan merubah Bella.
"Gak lah lu kagak liat tadi dia sama senior Natasya mungkin mereka pacaran" jawab Bella
"Mungkin mereka kakak beradik" jawab Enjel tidak mau kalah
"Mana mungkin mereka gak mirip sama sekali" Ucap Bella
karena memang Natasya dan Tirta tidak mirip
"Gak semua kakak beradik itu mirip kan?" jawab Enjel akhirnya dia tau sahabatnya yang satu ini belum bisa mengerti perasaannya sendiri. Setelah sampai di laut Tirta menepikan mobilnya sedikit jauh dari arean pantai karena dia tidak mau ada orang yang curiga terhadap dia dan kakaknya. Setelah memarkir kan mobil Tirta dan Natasya beriringan berjalan menuju pingir pantai keduanya meyakin kan situasi jika tidak ada orang yang mencurigai mereka berdua sudah merasa amna mereka segera menyelam kedasar laut. Mereka bisa melihat kekacauan yang terjadi didasar laut masih sama seperti sebelum mereka pergi ke daratan. Tirta dan Natasya menuju kerajaan menggunakan jalan rahasia yang langsung terhubung dengan ruang rahasia yang berada didalam kamar raja Erik dan ratu Erika hal ini dilakukan karena raja Erik tidak ingin mengambil resiko yang berat. Jika saja ada orang diluar mau pun didalam istana tau pasti mereka akan curiga. Karena yang mengetahui keberadaan Tirta hanya lah ratu Erika, raja Erik dan kakaknya Natasya.
Sesamapinya mereka beruda di ruang rahasia merka sudah ditunggu oleh raja Erik dan ratu Erika disana.
" duduk lah putri dan putra ku" ucap Raja Erik setelah keduanya memberikan hormat.
"Ada sesuatu yang harus ayah tunjukan pada kalian tapi hal ini tidak bisa melewati tali sipati, makanya kalian ayah panggil untuk langsung datang kesini" Jelas raja Erik dan ketiga orang disana hanya menyimak apa yang disampaikan raja Erik.
"Coba kalian perhatikan tulisan dalam kertas ini" Titah raja Erik pada kedua anaknya
" Apa kalian bisa memechkan apa arti dari tulisan itu karena tulisan itu merupakan sebuh petunjuk arah ayah dan bunda sudah berusaha memecahkannya tapi tidak bisa" jelas ratu Erika kali ini.
Tirta dan Natasya memerhatikan tulisan yang ada didalam kertas tersebut dengan saksama.
"(Keluarga Alam)" ucap Tirta setalah bisa menebak tulisan yang ada didalam kertas tersebut.
" Maksud dari Keluarga Alam apa?" Natasya bertanya pada dirinya sendiri sambil berpikir keras kini keempat keluarga raja tersebut sedang memecahkan teka teki dalam kertas itu.
"Keluarga Alam maksud dari tulisan ini adalah gadis yang mempunyai keahlian bisa berbicara dengan binantang mempunyai latar belakang Alam kemungkinan besarnya nama belakang gadis ini alam dan dia bisa berbicara dengan binatang karena warisan dari nenek moyang diberikan pada generasi 20" jelas Tirta pada ketiganya. Raja Erik, Ratu Erika dan Natasya sangat kagum dengan keahlian Tirta.
" Adek gue emang gak ada duanya" puji Natasya bangga
"Kalau begitu petunjuk sudah ditemukan tinggal kita mencari siapa gadis itu dan siapa gadis yang memiliki tanda bulan ditangannya" ucap raja Erik..
"Sebelum kalian kembali makan lah dulu dan beristirahat disini besok sebelum matahari terbit kalian bisa pulang karena kalian juga harus sekolah" jelas raja Erik pada kedua anaknya
" Baik ayah handa raja" jawab keduanya kompak
~~~
" Kucingnya imut banget ya Jel" ucap Bella sambil mengendok kucinya yang berwarna loreng itu, yang memang sangat indah.
" Sebentar Bell coba gue liat" ujar Enjel dan Bella pun memberikan hewan lucu itu pada Enjel karena dia tau apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya.
" Hai meong kamu begitu indah tapi kok gak punya pemilik?" Enjel bertanya pada kucing tersebut.
" Iya aku dibuang sama majikan ku, aku mau ikut kakak itu" ucap kucing tersebut sambil melihat Bella dengan mata yang indah.
"Baik lah sekarang kakak itu akan jadi teman kamu bukan majikan" jawab Enjel
Kucing tersebut yang mendengar penuturan Enjel begitu bahagia
" Kenapa dia Jel?"
" Dia dibuang oleh majikannya terus dia bilang mau ikut kamu " Enjel memberi tahu apa yang kucing loreng itu inginkan pada Bella.
" Denga senang hati" jawab Bella antusias sambil mengambil alih kembali kucing yang berada di gendongan Enjel.
" Udah yok kita pulang udah jam 9 nanti kamu dimarahin tante lagi" ajak Enjel dan keduanya berlalu pergi dari taman menuju parkiran mobil.
******
"Ayah tunggu Tirta amau tanya apa ikatan gadis yang memiliki tanda bulan ditangan kanannya dengan gadis yang bisa berbicara dengan binatang itu?"tirta penasaran dengan hal ini.
" Entah lah tapi yang ayah baca dari surat yang ditulis oleh nenek moyang mu disana dijelaskan bahwa setiap binatang yang bertemu dengan gadis itu akan selalu terpikat padanya" jelas raja Erik pada putranya lalu Tirta menganguk paham.
" Istirahat lah besok kamu dan kakak mu pagi-pagi sekali akan keluar dari dasar laut ini" Titah raja Erik pada Tirta, Tirta pun langsung menujuk kamarnya yang terletak di dalam ruang rahasia begitu juga kamar milik kakaknya Natasya....