Bab 1

“Garis dua, positif. A-aku hamil!?” Antara bahagia ataupun sedih, Qiara sendiri tak mengetahui dengan pasti apa yang sedang dirasakan olehnya saat ini. 

Vince sang suami yang lagi duduk memikirkan sesuatu di atas sofa kamar utama mereka bergegas membuka gagang pintu kamar mandi karena kaget mendengar suara keras dari Qiara isterinya. 

“Kamu kenapa?” Tanya Vince dengan wajah yang terlihat begitu khawatir. 

Tak menjawab soalan yang ditanyakan oleh Vince, Qiara langsung menyodorkan testpack kehamilan yang berada di tangannya ke tangan Vince. Air mata tak hentinya keluar dari kedua belah matanya yang cantik setelah melihat hasil yang begitu ia takutkan selama ini. 

Ternyata inilah alasan kenapa dirinya merasa seperti ada yang aneh dengan tubuh badannya selama beberapa bulan ini, ditambah lagi dengan perubahan perut nya yang semakin membesar semakin hari. Akhirnya tepat setelah misinya dan Vince sang suami telah usai dengan sempurna, Qiara memberanikan dirinya untuk memastikan kekhawatirannya dengan menggunakan testpack kehamilan terlebih dahulu. 

“Ini apa ya? Kok ada garis dua yang terpampang di sini?” 

“Serius deh, pengen sekali rasanya aku memukul kamu sekarang Vince! Masa ini aja kamu ga tau! Ini testpack kehamilan,TESTPACK KEHAMILAN Vince dan hasilnya positif yang berarti aku sedang hamil!” Qiara menatap tajam pria yang sedang memandang dirinya itu.

“Jangan bercanda dong Qiara. Kamu lagi ngeprank ya saking happy nya misi kita sudah berjaya dalam kurun waktu yang hanya sebentar dari yang kita rencanakan sebelumnya.” Vince memilih untuk tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Qiara. 

“Terserah kamu mau percaya atau nggak, aku juga ga butuh kamu kok untuk ada dalam kehidupan kami di kemudian hari nanti! So, kamu tahukan apa yang harus kamu lakukan pada saat ini. Segera ceraikan aku, misi kita juga sudah selesai kan.” 

Qiara langsung keluar dari kamar mandi usai berkata apa yang ada di dalam hatinya. Vince terdiam untuk sesaat setelah mendengar lontaran kata-kata yang begitu pedas dari mulut isterinya. Walaupun memang kenyataannya pernikahan mereka hanyalah sebatas pernikahan kontrak yang sudah tertulis di surat perjanjian yang sudah ditandatangani oleh mereka berdua dan hanya diketahui oleh orang kepercayaan masing-masing. 

Setelah beberapa saat berdiam diri, Vince keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ke arah Qiara yang sedang membereskan pakaiannya untuk diletak di dalam bagasi. Vince memegang tangan istrinya dengan lembut. Mencoba membuang egonya untuk seketika. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya untuk sang istri. Vince butuh kepastian soal kehamilan Qiara.

“Aku minta maaf Qiara. Jadi kamu beneran hamil ya! Aku nggak tau kalau perbuatan ku, ya walau dalam keadaan kurang sadar sih waktu itu telah menghamilkan kamu. Aku sudah memikirkan apa yang harus aku lakukan tentang kehamilan kamu.” 

“Vince, kalau kamu berniat menyuruh aku menggugurkan kandungan ini. Maaf aku nggak akan mau!” Qiara melepaskan genggaman tangan Vince dengan kasar. 

“Aku nggak akan menceraikan kamu Qiara, aku akan bertanggungjawab atas apa yang telah aku lakukan!”

Satu kata yang membuatkan Qiara langsung memandang wajah Vince. Dia tidak menyangka Vince akan mengatakan hal yang membuat bulu kuduknya berdiri. Tak disangka sang suami yang senantiasa dingin kepada dirinya selama 4 bulan pernikahan mereka kini hendak meneruskan lagi pernikahan hanya semata karena dirinya lagi hamil. 

“Maaf, aku tetap dengan keputusanku yang ingin bercerai! Aku hamil juga bukan sepenuhnya kesalahan kamu kok. Kita sama-sama tidak sadar karena lagi mabuk waktu itu. Salah aku juga jadi wanita yang tidak becus menjaga kehormatannya sendiri.” 

Qiara mengatakannya sambil tersenyum memandang wajah Vince, walau hatinya menjerit perih mengenangkan nasib dirinya setelah ini. Keputusannya sudah bulat ingin bercerai dengan Vince. Qiara tidak ingin merasakan derita seumur hidupnya jika harus tetap bertahan di alam pernikahan hanya semata demi anaknya. Dia bisa menciptakan bahagia bersama anaknya dengan caranya sendiri nanti, begitulah yang ada di dalam pikiran Qiara. 

Deg! 

Entah mengapa Vince merasa hatinya begitu perih ketika mendengarkan kata-kata Qiara. Memang waktu itu dia pernah berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak jatuh cinta lagi kepada wanita manapun. Sakitnya perasaan setelah dikhianati dan dibohongi oleh cinta pertamanya membuatkan dia merasa jera untuk jatuh cinta kembali. Baginya wanita semua sama. Semenjak saat itu dia tidak pernah percaya akan adanya cinta sejati seperti yang selalu dikatakan oleh Qiara. 

“Aku nggak mampu dan gak bisa merangkai kata-kata yang romantis. Hanya satu pintaku, izinkan aku untuk menjaga kamu dan anak kita. Aku mungkin belum mampu untuk mencintai kamu dan mungkin untuk selamanya aku nggak akan mampu untuk mencinta–”

“Aku udah tau kok. Jangan khawatir tentang anak ini. Kedepannya kalau kamu mau nemuin dia juga aku bakal kasih. Kamu tau kan aku sering bilang bahwa aku gak akan pernah mampu untuk bertahan dalam pernikahan yang tiada seri dan artinya. Jadi aku mohon, ceraikan aku secepatnya.” 

“Maaf, untuk kali ini aku menolak untuk menceraikanmu. Aku juga rela membagi setengah dari hartaku untuk kamu akibat sudah melanggar perjanjian yang sudah tertulis di pernikahan kontrak kita.” 

“Susah ya ngomong sama lelaki dingin tak punya perasaan kayak kamu! Vince, aku tau kamu merasa kecewa berat setelah dikhianati oleh kekasihmu. Di sini bukan hanya kamu kok yang merasa kecewa dan terluka. Situasi kita itu sama! Tapi aku nggak pernah memukul rata semua lelaki itu sama kayak yang kamu pikir. Ingat ya Vince, nggak semua wanita itu jahat!” 

Muka Qiara yang putih hampir kemerahan menahan amarah yang ia rasakan. Nafasnya juga turun naik setelah mengeluarkan kata-kata emas untuk suaminya yang tidak berperasaan itu. Sumpah demi apapun itu, Qiara merasa bersalah kepada dirinya sendiri karena telah berani membuat keputusan hanya demi kepuasan sesaat. 

“Tolong keluar dan jangan dekati aku dulu. Aku butuh waktu untuk menenangkan diri dan memikirkan apa yang harus aku lakukan setelah ini,” Perintah Qiara kepada vince dengan wajah yang menunduk. 

Dengan terpaksa Vince menuruti kemahuan Qiara. Perlahan-lahan dia melangkahkan kakinya berlalu pergi dari kamar dan berharap Qiara mau mengikuti keinginannya. Vince tak mau suatu hari nanti anaknya merasa kekurangan kasih sayang dari seseorang yang bergelar ayah di dalam hidupnya.

Setelah bayangan Vince sudah tak kelihatan lagi, Qiara mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang. Kalau Vince nekat tidak ingin menceraikan dirinya, dia juga bertekad akan melakukan apa yang ia inginkan. Cukup sudah kesalahan yang ia buat beberapa bulan yang lalu, mempermainkan pernikahan yang begitu sakral. Kini sudah saatnya ia ingin menebus kesalahannya.

“Kamu mau kemana dengan membawa bagasi? Apa aku ada mengizinkan kamu untuk pergi dari rumah ini?” Tanya Vince setelah melihat Qiara yang sepertinya sudah bersiap-siap untuk pergi. 

“Emang kalau orang yang bawa bagasi itu selalu dipikir ingin pergi ya?” Dengan wajah yang polos Qiara kembali menanyakan soalan untuk suaminya itu.

“Bisa nggak jangan bercanda mulu Qiara, aku lagi serius! Kamu mau kemana? Pokoknya kamu nggak boleh pergi dari rumah ini.” 

“Haha, kamu demam nih kayak nya. Makan ubat sana kalau sakit! Bukan nya ini saat yang kamu tunggu-tunggu selama ini? Ingin pisah sama aku. Lagian misi kita juga udah selesai toh. Kamu nggak berhak buat nahan aku untuk tetap di sini!” 

“Baiklah, aku dengan rendah hati meminta maaf atas perbuatan dan perkataan yang mungkin telah menyakiti hati kamu selama ini. Please, jangan pergi!” 

Vince berlutut di hadapan Qiara sambil membelai perut Qiara yang sudah berisi seorang nyawa dan itu ialah darah daging nya sendiri. Qiara sampai dibuat kaget akan Vince yang secara mendadak perilakunya berubah tak seperti biasanya. 

Jujur saja perilaku Vince yang seperti ini membuat hati Qiara merasa seperti ada yang aneh. Qiara pernah mencoba untuk membuka pintu hatinya untuk Vince. Tapi mengingat perlakuan suami di atas kertas nya selama ini membuat dirinya tak ingin berharap lebih. 

“Hufft, bangun lah Vince. Jangan seperti ini, aku jadi gak enak. Iya aku nggak akan pergi kok. Ini aku hanya ingin pergi menenangkan pikiran dengan membagi barang-barang ini kepada mereka yang memerlukan. Percaya saja sama aku, aku akan kembali lagi ke sini setelah merasa tenang.” Qiara tersenyum sambil membelai rambut Vince dengan perlahan. Tidak lupa juga ia memeluk suaminya dengan erat setelah Vince kembali berdiri. 

Entah mengapa Vince merasakan ini kali terakhir dirinya akan melihat Qiara. Sambil memaksakan senyum buat Qiara, dia akhirnya mengijinkan jua istri nya untuk pergi seorang diri dengan harapan Qiara akan kembali lagi ke sisi nya setelah urusan Qiara selesai.

Qiara melambaikan tangan kepada suaminya, setelah itu Qiara benar-benar sudah pergi jauh dan menghilang dari pandangan mata Vince. "Maafkan aku Vince! Mungkin ini jalan yang terbaik diantara kita berdua.”

Bab 2

“Sungguh kejam sekali dikau wahai cowok keparat! Teganya kau mengkhianati aku yang begitu cantik nan kaya ini, hahahaha!” Terdengar ocehan yang tidak jelas keluar dari mulut Qiara yang sudah mabuk. 

Qiara gadis cantik yang membawa dirinya masuk ke dalam sebuah klub malam hanya untuk melepaskan rasa sakit yang sedang dirasakan olehnya saat ini. Lelaki yang ia kira akan menjadi pasangan hidupnya hingga ke hujung nyawa ternyata tega mengkhianati cintanya. 

“Teman, apa benar ada yang namanya sahabat sejati di dunia ini. Hey, aku sarankan kamu hati-hati deh sama yang namanya teman. Entar pacar kamu ditikung loh sama temanmu sendiri.”

Bartender yang berada di hadapan Qiara hanya menghelakan nafasnya mendengar apa yang Qiara katakan. Bukan hanya sekali, tapi berulang kali Qiara telah mengatakan hal yang sama sedari tadi.

“Kenapa kamu hanya diam! Kamu tau nggak aku ini siapa? Eh, tapi kata asisten yang sudah aku anggap seperti kakak sendiri jangan bocorkan ke orang-orang aku ini siapa. Rumit amat ya kehidupan di dunia ini.” 

Lagi-lagi Qiara berbicara sendirian. Orang-orang sekitar yang melihat ulah Qiara hanya membiarkan saja gadis itu meluahkan semua isi hatinya. Malah ada yang terhibur melihat reaksi Qiara yang terkadang tertawa, menangis dan marah-marah setelahnya.

Bersebelahan tempat Qiara, ada seorang pria berperawakan tinggi dan tegap yang mampu mencuri perhatian gadis yang sedang mabuk itu. Qiara mencoba membawa pria yang berwajah dingin itu berbicara.

“Hey, kok kamu tampan-tampan ada di tempat seperti ini? Haa, aku tau! Kamu lagi nungguin selingkuhan kamu ya di sini. Aku kasi kamu saran ya, cobalah jadi laki-laki itu yang setia dong sama orang yang kamu sayangi! Diselingkuhin itu sakitnya luar biasa banget rasanya,” 

“Nggak usah sok tau jadi perempuan! Urusi saja urusanmu sendiri!” 

“Wah, ada yang ngajak berantem nih! Tampan-tampan kok pedes ya mulutnya!” 

Tanpa membalas ucapan Qiara, lelaki itu berlalu pergi dari klub malam tersebut. Qiara juga diam-diam membuntuti pria itu. Qiara merasa dirinya memang sudah tak waras lagi hingga-hingga dirinya berani mengekori pria yang tidak dikenali. 

Di pertengahan jalan, Qiara dihadang oleh preman tua bersama beberapa anak-anak buahnya. Lelaki yang dibuntuti Qiara hanya melihat sebentar ke belakang dan dengan wajah yang tiada berperasaan dia melangkahkan kakinya meninggalkan Qiara.

“Eh, main pergi aja! Bantuin dulu kek, apa kek. Hufft, please deh kakek preman. Ngapain main hadang-hadang segala. Gak modal banget! Udah dulu ya kakek, aku buru-buru soalnya mau buntutin dia” Tunjuk Qiara ke lelaki yang semakin jauh dari pandangan matanya. 

“Siapa yang kamu panggil kakek! Ayo lah, ikut kita-kita pergi ke sebuah tempat yang bisa memberimu kenikmatan dunia. Hanya sebentar kok,” 

“Gak mau ah, kakek gak tampan. Apa lagi anak-anak buah kakek! Bosan aku ngeliatnya. Gangguin aja deh,” 

Para preman yang sudah tersulut emosi mendengarkan ucapan Qiara yang tampak begitu tenang berhadapan dengan mereka saat ini dengan pantas membuka langkah ingin menghajar Qiara. Tak disangka dalam hitungan detik, malah para preman itu yang tersungkur babak belur dibantai Qiara. 

“Siapa kamu?” Tanya preman tua dengan kaget. 

“Kan sudah aku bilang dari awal, jangan ganggu aku yang lagi buru-buru! Ayo, bangun lagi. Masa segitu doang udah tumbang sih. Tapi makasih loh kakek dan paman-paman preman. Aku bisa mengeluarkan semua rasa sakit hati ku dengan menghajar kalian!” 

Mereka yang mendengar ucapan Qiara bergidik ngeri. Di saat mereka ingin pasrah dan melarikan diri dari Qiara, Qiara yang tadinya tampak kuat kini menjadi seolah-olah wanita lemah yang tak berdaya. Preman tua yang hendak membantu mengangkat Qiara kembali berdiri kaget melihat gadis itu mengedipkan matanya sambil tersenyum sebelum tak lama kemudian ia merasakan sesuatu benda keras menghantam di belakang kepalanya. 

***

“Arghh! Sungguh perasaan seperti ini begitu membebankan. Ngapain coba wanita gila itu bisa meracuni pikiranku?” 

Lelaki yang bernama Vince itu menutup kembali pintu mobil nya dengan keras. Dia sebenarnya mengetahui akan gadis yang sering berbicara sendiri di klub malam itu membuntuti dirinya sedari awal. Hanya saja dia malas untuk meladeni wanita yang ia anggap sedang tidak waras.

“Aku berharap gadis gila itu masih selamat dari para preman bejat tadi,” 

Bergegas ia berlari secepat yang mungkin dan berharap masih bisa menyelamatkan Qiara. Tidak lupa juga Vince membawa batang kayu baseball yang memang sudah tersedia di dalam mobilnya. 

Tanpa sengaja Qiara yang melihat sosok lelaki berwajah dingin sedang berlari menuju ke arah tempat dirinya berada, dengan sengaja menjatuhkan dirinya di antara para preman. Dan tidak lupa juga ia mengoyakkan sedikit dress nya di bahagian paha. 

“Kamu belum diperkosa kan sama mereka?”

“Kenapa kamu kembali kesini semula? Bukannya tadi kamu nggak mau peduli sama wanita yang hendak dilecehkan ini. Kamu juga nggak kenal sama aku kan. Ya sudahlah, pergi saja sana. Aku juga akan merelakan saja diri aku diperkosa sama mereka, iya kan paman preman?” 

“Dasar wanita gila, mana ada manusia yang rela dirinya diperkosa! Ayo ikut aku sekarang. Kalian para preman segera pergi dari sini di saat aku lagi berbaik hati mengizinkan kalian untuk pergi secara baik-baik!” 

“Lagian, kok bisa wajah kalian pula yang babak belur?” Sambung Vince yang kehairanan melihat mereka. 

Para preman bergegas pergi meninggalkan mereka berdua tanpa mahu menjawab pertanyaan dari Vince. Tak lupa jua mereka membawa preman tua yang pingsan setelah dipukul oleh Vince karena ketika itu ia berpikir preman tua itu hendek melecehkan Qiara. 

“Hey, terima kasih karena sudi kembali untuk menyelamatkan aku dari mereka,” 

“Hmm” 

“Lelaki tampan, bisa gak kamu bawa aku pergi ke rumah kamu. Please, hanya untuk malam ini.” 

Tanpa banyak bicara, Vince membantu mengangkat Qiara berdiri dan menggenggam tangan gadis itu. Entah kenapa hatinya seolah menginginkan dirinya untuk membantu wanita yang mendadak bisa membuat dirinya menjadi malaikat penolong. 

Qiara tidak bisa menahankan dirinya untuk tidak tersenyum dengan perlakuan yang diberikan oleh Vince kepada dirinya. Akan tetapi setelah ia kembali mengingat rasa sakit dan luka yang telah diberikan oleh kekasihnya membuatkan ia melepaskan genggaman tangan itu secara tiba-tiba. 

“Maaf, aku merasa kotor untuk memegang tangan kamu. Walaupun kita baru kenal, aku bisa merasakan kamu pria yang baik.” Terdengar bunyi isak tangis dari Qiara. 

“Kamu sekarang masih di dalam pengaruh alkohol, aku bisa mengerti. Malam ini aku mengizinkan kamu untuk menginap di apartemen milikku! Baiklah, kita sudah sampai di mobilku, Kamu bisa kan buka pintu mobilnya sendiri. Walaupun mabuk, jangan manja!” 

Qiara hanya mendengus mendengarkan kata-kata dari Vince. ‘Dasar laki-laki bermulut pedes’ gumam Qiara secara perlahan. 

Sepanjang perjalanan, keduanya hanya mendiamkan diri masing-masing. Sesampainya di apartemen milik Vince, Qiara yang tadinya hanya diam, kini menjadi sebaliknya. Mulutnya tidak berhenti mengoceh melihat kekemasan susunan perabot milik Vince. 

“Hey lelaki tampan, ini--,”

“Jangan asal menyentuh barangku!” Rahang Vince bergerak dengan cepat diikuti tangannya reflek membanting benda yang kini ada di tangan Qiara. 

"Kamu!"

Bab 3

“Dasar lelaki aneh!”

Bukannya kaget setelah melihat Vince marah, malah Qiara justru pergi sambil menghentak-hentakkan kakinya. “Temperamen amat deh jadi manusia! Kan bisa diambil secara baik-baik bingkai fotonya tanpa ngebanting kayak orang ga jelas gitu, berserakan toh jadinya iya kan!” 

Vince memutarkan bola matanya mendengar Qiara yang tiada hentinya mengoceh setelah masuk ke dalam apartemennya. Matanya kembali memandang sebuah foto di antara kaca-kaca yang berserakan di jubin seramik. Dengan tatapan matanya yang dingin, Vince mengambil dan merobek foto itu sehingga hancur tak tersisa lagi.

Seketika Vince terduduk. “Sakit! Sakit sekali! Hatiku saat ini rasanya seolah sedang ditusuk seribu mata pisau yang menancap,” Sambil memukul-mukul dadanya. 

Qiara memutar kembali arahnya setelah melihat Vince seperti itu. Hatinya merasa terusik kala melihat reaksi kecewa yang terpampang dengan jelas dari raut wajah Vince.

“Sakit ya? Sakit lah ya pasti, iya kan? Berarti kita sama dong, sama-sama sedang tersakiti!” Tawa dari gadis itu menggelegar. Qiara ikut duduk bersimpuh di hadapan Vince. 

“Bagaimana jika malam ini kita bersenang-senang sejenak untuk melupakan rasa sakit itu. Ayo kita berkenalan untuk permulaan! Hai! Nama aku Qiara Selena Odelia, kamu bisa panggil aku Qiara. Kamu?” 

Qiara mengulurkan tangannya tanda salam perkenalan. Vince yang tadinya sedikit kesal akan ulah Qiara yang begitu usil kini turut mengikuti permainan dari gadis itu. Jika ini mampu membuat dirinya melupakan sejenak akan rasa sakit yang bersarang di dalam hatinya, ‘why not, right?’ 

“Vincenzo Nick Emyr, kamu bisa panggil aku Vince!” 

“Oh ya Vince, apa kamu punya minuman beralkohol untuk kita party berdua malam ini?” Qiara menyunggingkan senyuman manis di bibir tipisnya. 

“Apa itu perlu?” Tanyanya dengan suara yang dingin. Walau dirinya sempat terpana seketika melihat kecantikan gadis itu ketika ia tersenyum, ditambah dengan kedua lesung pipinya yang dalam menambahkan lagi kemanisan di wajah Qiara. 

Tanpa berkata apa-apa, Qiara berangkat menuju ke kulkas milik Vince. Vince menghela nafasnya melihat Qiara yang kembali usil. Tak lama kemudian dirinya juga beranjak mengikuti Qiara. 

“Apa kamu memang sifatnya seperti ini kalau lagi dalam keadaan waras? Aku jadi penasaran seperti apa sifat asli kamu?” 

“Penasaran apa penasaran nih?” Goda Qiara sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Vince. 

Vince meneguk air liurnya. Qiara yang melihat itu tak mampu untuk tidak tertawa. Gadis itu merasa senang ketika melihat wajah Vince yang kemerahan akan ulahnya barusan. Vince yang tak rela dirinya dipersendakan seperti itu menarik pinggang Qiara sehingga gadis itu terduduk di atas paha lelaki dingin itu. 

Qiara yang memang masih dalam pengaruh alkohol, melingkarkan kedua tangannya di leher Vince. Lama keduanya saling bertatapan sebelum pada akhirnya vince melepaskan pelukannya sehingga membuat Qiara terjatuh ke lantai. 

“A-aku tak sengaja membuat kamu jatuh. Maaf Qiara, maaf banget!”Dengan raut wajah yang penuh bersalah Vince membantu Qiara berdiri semula. 

“Untung saja pinggangku masih dalam kondisi baik-baik. Udah lah santai aja! Sebagai balasannya, kamu harus nemenin aku minum sampai aku ngerasa puas!” 

“Baiklah, untuk malam ini ayo kita party berdua, cheers”  

Terdengar bunyi dentingan gelas bersulang. Entah berapa gelas sudah air yang mereka teguk. Yang pastinya keduanya bisa melupakan untuk sesaat rasa sakit dan kecewa yang dirasakan pada mulanya. 

Tak lama kemudian terdengar bunyi deringan dari ponsel Qiara. Awalnya gadis itu hanya acuh dan mengabaikan saja ponselnya yang terus saja berbunyi. Vince yang merasa pusing melihat Qiara hanya mengabaikan saja panggilan demi panggilan itu lantas berinisiatif membantu Qiara untuk  menjawabnya. 

[Sayang, mohon maafkan aku! Semua yang terjadi hanya salah faham. Aku dijebak sama Dia. Sayang tolong jangan diam saja,] 

[Sayang, sayang. Kamu siapa sih? Dasar lelaki brengsek! Aku tahu modus mu itu seperti apa. Kamu berpura-pura seolah dijebak. Hahaha! Qiara aku kasih tau kamu ya , semua yang diomongin lelaki ini semuanya dusta belaka! Dasar Buaya!] Ujar Vince sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat Qiara. 

[Heh, kamu siapa? Pacar aku kemana? Kamu sedang ngapain sama Qiara?]  

[Bacot!]

Qiara yang kaget membesarkan bola matanya melihat Vince menjawab panggilan dari kekasihnya dan lebih tepat sudah menjadi mantan kekasihnya. Dengan pantas Qiara mengambil ponselnya, lalu  menutup panggilan itu serta merta. 

Tanpa aba-aba Qiara mengetuk kepala Vince dengan kuat lalu dirinya menangis sejadi-jadinya. Vince yang ketika ini merasa agak mabuk sedikit merasa kaget setelah  melihat gadis itu menangis. Sempat ia menggaruk kepalanya sebelum mencoba membawa Qiara untuk berbicara. 

“Qiara, kamu marah ya sama aku? Aku nggak pintar ngerayu wanita, tapi bisa nggak kamu berhenti menangis. Kepalaku pusing banget mendengarnya!” 

“Kamu kalau sudah mabuk jadi ngeselin banget ya! Pokoknya aku gak mau berhenti menangis. Huaaaaa,” 

“Ok ok, aku minta maaf sudah lancang menjawab panggilan dari kekasih kamu yang tercinta itu. Maafin aku ya,” Tanpa sedar Vince memeluk Qiara dengan erat.

“Ih, apaan sih Vince! Aku gak bisa bernafas ini, Kamunya kenceng banget peluk aku!” 

Sontak Vince melepaskan pelukan yang ia lakukan secara reflek tadi. Entah apa yang berada dalam pikirannya hingga membuat akal sehat hilang dari dirinya. Lelaki itu berpikir mungkin hanya karena saat ini dia sedang mabuk. Mana mungkin ia bisa berpaling dengan secepat itu dari seorang wanita yang pernah ia cinta tapi meninggalkan banyak luka pada dirinya. 

“Aku menangis bukan karena aku marah kok sama kamu!”

Vince mengerutkan keningnya mendengar kata-kata Qiara. ‘Lalu untuk apa coba gadis ini menangis ga jelas kayak tadi. Gadis aneh!’

“Justru aku merasa senang kamu bisa balas dengan cara nyakitin hati lelaki keparat itu. Aku menangis karena terharu, lagi-lagi saat aku mencoba membayangkan bagaimana reaksi wajahnya saat ini!”

“Aku baru tahu di dunia ini ada wanita yang seperti kamu. Cantik, agak gila sedikit dan bisa happy go lucky begini bisa berakhir dengan lelaki yang berujung melukai kamu!” 

“Kenyataannya bukan hanya setakat melukai, malah mengkhianati dan menduakan! Lebih parahnya rasa sakit itu kian berganda bila sahabat baikku sendiri yang menusukku dari belakang. Kamu tau gak rasa nya itu sakit banget,”

Qiara tersenyum pahit setelah mengatakan itu. Terpancar kekecewaan yang begitu dalam dari kedua bola matanya yang indah. Vince terdiam setelah mendengar kisah Qiara. Mereka berdua mengalami kisah yang sama dengan jalan cerita yang berbeza. 

“Bisa aku peluk kamu?” 

“Tadi aja kamu main peluk tanpa kebenaran aku, kok sekarang jadi gentleman gini? Imut banget sih!” Goda Qiara dengan suara yang dibuat-buat lembut. 

Tak membalas ucapan Qiara, Vince lantas memeluk Qiara sambil membelai-belai belakang gadis itu. Entah bagaimana dari sebuah pelukan berakhir dengan cumbuan panas di antara mereka berdua. Dengan nafas yang terengah-engah, Vince kembali melumat bibir Qiara sehingga akhirnya ia tersadar. 

“Qiara, maafkan aku. Entah bagaimana, aku bisa hilang kendali. A-aku akan keluar dari sini. Kamu bisa istirahat disini sampai kamu udah baikan besok.”

Vince melangkah pergi tanpa menoleh ke arah Qiara. Disaat dia ingin buru-buru pergi, Qiara menahan tangan nya sembari mengeluarkan air mata yang membuat Vince semakin merasa tidak tega. 

“Qiara—”

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED