Bab 1

Hari ini adalah hari yang sangat penting bagi Julia Gandhi. Agen Julia, Consuela Sakhi, memberi tahu sebuah berita baik kepada Julia, malam ini dia akan memenangkan penghargaan pendatang baru terbaik 2022!

Julia sudah tidak sabar untuk memberitahu berita ini ke Terence Cataka.

Namun, pria itu menolak panggilan video Julia. Julia meneleponnya beberapa kali dengan sabar. Pada panggilan kelima, Terence akhirnya mengangkat panggilannya. "Ada apa?"

Suara dinginnya membuat Julia hampir lupa apa yang ingin dia katakan.

"Kamu di mana?" Tepat saat panggilan video terhubung, Julia menyadari ada yang tidak beres. Dekorasi di belakang Terence terlihat seperti hotel cinta yang paling terkenal di kota H, yakni Double Q.

Tempat ini terkenal bagi orang-orang yang ingin berkencan semalam. Karena sering terjadi perzinahan di sini, hotel ini punya julukan tersendiri: Pusat Perzinahan!

Secara kebetulan, film yang dibintangi oleh Julia baru saja dibuat di hotel Double Q, jadi dia sangat akrab dengan tempat itu.

Julia memegang teleponnya dengan sangat erat, sampai-sampai pembuluh darahnya terlihat hampir meledak.

Julia berusaha menahan diri, bertanya dengan tersenyum. "Tuan Cataka, apakah kamu akan berbisnis di hotel cinta? Aku merasa cukup terkesan."

Terence hanya terdiam dan langsung menutup panggilan video itu.

Julia merasa sangat marah, lalu berjalan dengan cepat keluar dari ruang istirahatnya. "Abby, ambilkan kunci mobil untukku."

"Kakak Julia, pestanya akan segera dimulai dua jam lagi..." Abby menjawab dengan wajah yang tampak kesulitan.

"Apa kamu tidak dengar apa yang baru saja kubilang?" Julia mulai emosi. Saat Abby tidak tahu harus bagaimana menghadapi Julia. Consuela datang dan menepuk pundaknya, menyuruh Abby keluar terlebih dahulu. Lalu, dia membawa Julia kembali ke ruang istirahat.

"Apakah kamu gila? Apakah kamu tahu berapa banyak orang yang sedang mengawasimu di luar? Apa kamu sadar betapa pentingnya berada di sini? Siapa pun dapat menulis sesuatu yang buruk tentangmu. Kamu tidak takut menjadi berita utama besok bahwa Julia mengabaikan pesta?" Consuela bertanya dengan putus asa.

"Ya? Yah, aku sama sekali tidak peduli." Julia menggigit bibir bawahnya dengan erat. Saat ini, suaminya mungkin berselingkuh dengan perempuan lainnya. Mana mungkin dia peduli tentang hal lain?

"Kak Consuela, biarkan aku keluar. Aku hanya membutuhkan satu jam saja. Ada hal yang penting harus kulakukan," Julia memohon sambil memegang tangan Consuela. Akan tetapi, Consuela tidak setuju.

"Aku telah cukup lama menjadi agenmu, betapa sulitnya untuk mendapatkan kesempatan kali ini. Bahkan jika langit runtuh, kamu tidak boleh keluar dari sini!" Consuela berkata dengan kejam.

"Kak Consuela..." Menyadari bahwa permohonan seperti apa pun tidak akan mempan pada Consuela, Julia akhirnya memutuskan untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. "Terence... Dia berselingkuh dariku. Aku benar-benar tidak bisa berpura-pura bahwa hal ini tidak terjadi selama dua jam ke depan."

"Aku tahu pasti ini tentang si brengsek itu lagi!" Consuela marah sampai wajahnya memucat. Dia menunjuk Julia. "Tanya dirimu sendiri, Kamu adalah seorang gadis yang baik, Julia, kenapa kamu berhubungan dengan orang seperti itu. Pria itu tidak mencintaimu. Kamu sudah menikah selama tiga tahun, kecuali aku, siapa lagi yang tahu kamu istri Terence? Hanya aku. Lebih baik kamu bercerai dengannya sekarang untuk masa depanmu."

"Kata-katamu benar." Julia tersenyum dengan pahit. "Jadi... Bukankah aku sedang ingin pergi memutuskan hubungan dengannya sekarang?"

Julia melirik Consuela, lalu melanjutkan. "Kak Consuela, aku tidak bisa mengambil keputusan di masa lalu karena aku sangat mencintainya. Maksudku adalah... dari sejak aku berumur dua belas tahun, sudah tiga belas tahun... Mungkin... jika aku menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa dia bersama dengan wanita lain, aku akan menyerah."

"Julia." Consuela mengerutkan keningnya. "Kamu bisa menyelesaikan masalah apapun kapan saja, tetapi peluang seperti malam ini tidak datang setiap saat. Kamu tidak bisa berbuat bodoh malam ini."

"Biarkan aku pergi." Julia memohon dengan jujur. Matanya yang penuh dengan air mata membuatnya tampak sangat menyedihkan, dia mencoba melewati Consuela, tetapi dia pasti gagal.

Consuela menghalangi pintu keluar dan tidak menyisakan sedikit pun celah.

"Kak Consuela, kamu harus menurunkan berat badan." gumam Julia dengan keluh kesah.

Consuela melotot padanya, Julia masih bisa bercanda di saat seperti ini.

Consuela tahu dengan pasti seperti apa Julia. Jika menghentikannya lagi, dia akan mencoba melakukan segalanya hanya demi mendapatkan apa yang dia inginkan. "Jika kamu menggunakan cara yang sama seperti yang kamu lakukan padaku dengan Terence, hubungan antara kalian tidak akan berakhir seperti ini."

Dia melirik jam tangannya. "Masih ada waktu satu jam lima puluh menit sebelum pesta malam dimulai. Kamu punya waktu lima puluh menit. Apapun yang terjadi, kamu harus kembali."

"Oke." Julia segera bertindak, menyeka air matanya dan mengambil kunci mobil, lalu bergegas keluar dari pintu itu.

Karena takut ketahuan, Julia mengenakan mantel yang besar, kacamata hitam dan masker. Dia segara menuju hotel Double Q.

Karena dia pernah syuting film di hotel itu, dia mendapatkan nomor kamar Terence sangat mudah. Julia bergegas ke pintu kamar Terence dengan murka dan menggedor pintunya keras-keras.

Membayangkan Terence yang sedang memeluk perempuan lain membuat Julia ingin muntah.

Orang-orang dari kamar lain juga membuka pintunya untuk menyaksikan apa yang terjadi, tetapi Julia sama sekali tidak peduli. Dia menyeringai. "Terence, jangan bersembunyi di kamarmu seperti seekor kura-kura. Kamu berani selingkuh tapi tidak berani keluar dan menghadapiku? Buka pintunya supaya semua orang bisa melihat wajah kalian para penzina.

Dengan suara keras, pintu itu berderit terbuka. Julia ditarik ke dalam kamar dengan tiba-tiba.

Saat Julia mendongak, dia bisa melihat wajah pucat Terence yang diselimuti oleh ketidakpedulian yang dingin.

"Kamu benar-benar hebat." Pakaian Terence rapi, terlihat tidak seperti perselingkuhan, Julia .merasa sangat terkejut.

"Kenapa kamu tidak mengangkat panggilan videoku? Kenapa kamu tidak pulang ke rumah? Kenapa kamu menginap di hotel cinta?" Julia mendorongnya pergi, dia ingin melihat wanita jalang yang telah merebut Terence darinya.

Kamar itu sangat luas sehingga Julia harus melewati koridor, dia baru saja menabrak orang yang dia cari.

Tepat saat dia menggosok dahinya yang sakit karena terbentur, dia mendengar teriakan dari perempuan yang jatuh di lantai. Terence bergegas dan membantu perempuan itu berdiri.

Saat Julia melihat wajah perempuan itu, dia merasa seperti disambar petir dan mematung di sana.

"Kamu?" Butuh beberapa saat bagi Julia untuk bisa mendapatkan suaranya kembali, dia bertanya kepada perempuan di depannya dengan terkejut.

"Ini aku." Perempuan itu mengangkat alisnya dan sambil berkata kepada Julia dengan tersenyum dalam pelukan Terence. "Lama tidak berjumpa, kakakku."

Perempuan yang berdiri di depannya adalah adiknya, dia bernama Jean Gandhi.

Tidak pernah terpikirkan oleh Julia bahwa perempuan yang merebut suaminya adalah adiknya.

"Kalian berdua..." Otak Julia dipenuhi kekacauan.

Adiknya mengenakan piyama yang sangat seksi. Renda putih menghiasi garis bawah lehernya, menonjolkan bentuk tubuhnya yang molek, lekukan di bagian dada pakaian dalamnya juga sangat jelas terlihat dengan mata telanjang.

Julia tidak bisa mengendalikan pikirannya. Saat Julia melihat adiknya, dia tiba-tiba kehilangan keberanian untuk menghadapinya.

Lagi pula, Julia yang merebut Terence dari Jean tiga tahun yang lalu.

Bab 2

"Sampai kapan kamu mau membuat masalah terus?" Ketika Julia sedang sibuk dengan pikirannya, Terence menatapnya dengan acuh tak acuh.

Saat Julia mencoba menjelaskan, Jean berkata dengan kepura-puraan, "Kak, tolong jangan salah paham. Terence dan aku tak melakukan apa-apa. Aku baru saja tiba di Kota H, dan aku kelelahan. Jadi, Terence datang ke bandara untuk menjemputku."

Julia ingin mempercayai adiknya – dia benar-benar ingin. Namun, karena melihat apa yang dikenakan Jean, Julia kehilangan akal sehatnya.

'Walaupun dia memang adikku, tapi dia tetaplah simpanan!'

"Cukup! Hentikan semua omong kosong ini!" Julia menyipitkan matanya dan berkata: "Terence itu suamiku. Lebih baik kamu menjauhinya."

"T-tidak, aku tidak..." sahut Jean dengan terpatah-patah sambil menundukkan kepalanya. Julia mau tak mau menaruh simpati pada Jean. Dengan melihatnya seperti ini, timbul rasa sakit yang terpendam dalam hatinya. Namun, ketika dia melihat kesedihan mata Terence, dia menjadi sangat geram.

"Lihat apa yang kamu kenakan," geramnya. "Dan lihat kamu sedang bersama siapa! Apa kamu tidak punya rasa malu?" Karena kata-katanya semakin lama semakin kasar, tanpa menunggu dia menyelesaikan perkataannya, Terence langsung mencubit dagu Julia dan menarik wajahnya ke arahnya. Dia menggertakkan giginya. "Kamu itu memang cari mati, ya?"

Julia tergagap ketika merasakan cengkramannya yang begitu keras.

"Lepaskan aku! Itu sakit!" Julia berjuang sekuat tenaga di bawah cengkeramannya, tetapi Terence tampak tak mempedulikannya. Malahan, amarah yang semakin membara meliputi matanya. "Sakit?'' Memangnya kamu tahu rasa sakit?" geramnya.

"Jadi kamu masih tetap menyalahkanku?" Senyum ironis muncul di wajah Julia. Dibandingkan dengan rasa sakit yang didagunya, rasa sakit di hatinya jauh lebih memilukan.

Tiga tahun lalu, Terence telah bertunangan dengan Jean. Namun, tanpa sebab yang jelas, Julia mabuk dan tidur dengan Terence.

Karena bencana ini, Terence menikah dengan Julia, sementara Jean pindah ke negara lain. Dan dia baru saja kembali sekarang setelah tiga tahun.

Namun ketika kembali, dia membuat pernikahan mereka yang sudah berantakan menjadi semakin berantakan.

"Menyalahkanmu?" tanyanya dengan tertawa sinis. "Aku ini membencimu. Aku sangat membencimu. Di saat-saat seperti inilah aku bertanya-tanya apakah aku buta tiga tahun lalu."

Jean langsung menarik lengan Terence sebelum dia menyelesaikan perkataannya. "Lepaskan dia," katanya. "Dia sudah tak tahan lagi."

Melihat wajah Julia yang terbata-bata, akhirnya Terence melepaskannya. Wanita itu terjatuh ke belakang.

Kemudian, Terence mengambil selembar tisu basah dan menyeka jari-jarinya dengan jijik, seolah-olah dia baru saja menyentuh orang kusta di jalanan.

"Kak, Terence, tolong berhenti," pinta Jean, dengan air mata yang sudah membasahi wajahnya. "Ini semua karena aku sehingga kita menjadi seperti ini. Jika saja aku tahu," dia cegukan, "aku tidak akan kembali."

Julia hanya bisa menanggapinya dengan cibiran.

Namun, Terence segera pergi untuk menghiburnya. "Ini bukan salahmu. Dia dan aku yang salah sejak awal," katanya. "Sudah waktunya... sudah saatnya kita menebus apa yang sudah terjadi di masa lalu."

"Apakah kamu mengerti apa yang kamu katakan?" Julia mengepalkan tangannya.

"Aku sangat sadar." Terence menjawab dengan cemberut. "Karena kamu sudah di sini, kenapa aku tidak sekalian menjelaskannya? Besok jam delapan, kita akan menyelesaikan semua permasalahan ini. Ini semua akan berakhir."

"Kamu sudah tidak sabar, kan?" semprot Julia. "Bukankah aku sudah pernah menjelaskannya padamu? Aku tidak tahu apa yang terjadi malam itu."

"Kamu pikir aku akan mempercayaimu begitu saja? Tidak peduli apa yang akan kamu katakan, aku tetap akan menceraikanmu," potongnya.

Terence tidak ingin membuang waktunya lagi dengan Julia. Setiap kali melihatnya, dia selalu menjadi naik pitam. Dia menatap Jean dengan lembut dan berkata, "Selamat beristirahat. Sampai jumpa besok."

"Jelaskan apa maksudmu!" Julia mencoba dan berjuang untuk menggapai jaketnya, tetapi akhirnya dia tetap pergi meninggalkannya.

Hal ini selalu terjadi di antara mereka berdua.

Julia tetap ingin mengejarnya tapi kemudian Jean menghentikannya. "Berhenti," bentak Jean. "Dia sudah pergi."

Ketika Julia berbalik, dia hanya bisa melihat wajah Jean yang munafik. Dia meletakkan dirinya di tempat tidur. "Julia, bagaimana kabarmu?"

Jean sedari dulu selalu cantik. Sekarang setelah dia kembali, Julia menyadari bahwa kulitnya lebih kecokelatan dan pipinya jauh lebih cerah. Pergi ke luar negeri adalah hal yang baik baginya.

"Aku akui," mulai Julia, "itu memang salahku tiga tahun lalu, tapi sudah tiga tahun. Kami sudah menikah sekarang. Tidak bisakah kamu menerima itu?"

Jean mengejek seolah-olah dia mendengar lelucon.

"Terima itu?" Dia mengerutkan cemberutnya. "Kita tidak bertemu selama tiga tahun, dan kamu masih sangat naif."

Meskipun Jean mengatakannya dengan sangat akrab, tetapi Julia tahu dia sedang mengejeknya.

Jean membenci cara kakaknya bertindak, seolah-olah dunia hanya berputar di sekitar hatinya yang 'manis dan polos'.

"Apa? Apa maksudmu?" Julia mengerjap.

"Julia, kamu memang Nyonya Cataka, tapi apakah Terence bahkan mencintaimu?" Jean mengangkat alisnya. "Yang aku lakukan hanyalah memberi tahu dia bahwa aku akan kembali, dan dia langsung bertindak untuk menjemputku. Apakah menurutmu dia tidak semakin merindukanku setelah tiga tahun berlalu?"

"Langsung saja bicara ke intinya," bentak Julia.

"Kapan kamu berencana untuk meninggalkannya?"" Jean menyilangkan tangannya.

"Aku sudah memberimu tiga tahun untuk mendapatkan hati seorang pria, jadi jangan salahkan aku karena melakukan pekerjaan yang lebih baik darimu." ujarnya dengan senyum mengejek.

"Jadi maksudmu, kamu ingin mencoba merebutnya dariku?" Julia merasa seakan-akan dirinya tidak begitu mengenal Jean lagi. Apakah ini benar-benar dirinya?

Bab 3

"Mencuri? Sayang, bukan mencuri namanya kalau dari awal dia memang milikku." sahut Jean dengan senyum mencibir. "Tiga tahun yang lalu, perusahaan Terence hampir gulung tikar. Aku tidak bisa menikahi pria seperti itu, jadi aku memasukkan sesuatu ke dalam anggurmu. Dalam tiga tahun terakhir ini, dia bahkan tidak menyentuhmu setelah peristiwa itu. Julia-ku, kamu itu cuma membantuku menjaga sebuah hadiah."

Mata Jean seolah-olah bersinar.

Tiba-tiba, ingatan Julia muncul kembali. Seolah-olah semua kepingan puzzle yang terpecah akhirnya menyatu.

Julia teringat betapa 'tidak sadarnya' dia pada malam itu. Keesokan harinya Jean mengambil kesempatan untuk menangkap mereka berdua yang tengah berada di atas ranjang.

Julia mengira kalau malam itu dia minum terlalu banyak sampai-sampai bisa tidur dengan tunangan adiknya, tapi ternyata semua itu hanyalah jebakan!

Dia bahkan ingat bagaimana wajah Jean yang tersenyum secara ironis ketika membuka pintu kamar saat itu. Sekarang, akhirnya dia tahu alasannya.

Semua rasa bersalah yang ia rasakan selama ini ternyata sia-sia.

"Jadi, akhirnya kamu sadar juga, ya?" senyum Jean dengan penuh dendam. "Jangan khawatir, Julia. Terence itu bukan orang yang pelit. Selama kamu setuju untuk bercerai, kamu tentu akan mendapatkan banyak tunjangan. Hidupmu akan jauh lebih mudah dibanding hanya menjadi aktris yang tidak dikenal di dunia hiburan."

"Dibandingkan dengan semua tunjangan itu, aku pikir dengan menjadi Nyonya Cataka akan jauh lebih menguntungkan." Julia mengepalkan tangannya semakin erat.

"Selama aku tidak menceraikannya, kamu hanya akan dikenal sebagai simpanan." sahutnya dengan tawa angkuh. "Jangan khawatir, adikku. Aku tidak akan menceraikannya sekalipun aku mati."

"Apakah menyenangkan tinggal bersama pria yang tidak mencintaimu?" ejek Jean.

"Aku yakin semuanya itu sepadan." Julia tersenyum. "Selama kamu menjadi simpanan yang tak tahu malu di luar sana, aku rasa itu sepadan."

Jean menyeringai. "Kau akan menyesali keputusanmu ini, kakakku sayang."

"Menyesalinya?" Julia mendengus. "Satu-satunya hal yang membuatku menyesal sekarang adalah aku tidak mencekikmu saat kamu dilahirkan."

Tanpa sepatah kata pun, Julia langsung berbalik dan pergi.

Dia datang ke sini dengan sangat antusias untuk memergoki aksi Terence, tetapi malah berakhir seperti ini. Dia merasa seolah-olah telah dibodohi selama bertahun-tahun, dan itu semua terjadi tepat di depan matanya.

Ketika Julia keluar dari hotel, dia mengangkat telepon dari Consuela. "Kamu di mana?" tanyanya. "Pesta akan segera dimulai."

"Aku akan segera ke sana." Hanya dalam kurun waktu satu jam, dia sudah kehilangan cinta dan keluarganya. Dia tidak mampu apabila harus kehilangan pekerjaannya juga. Julia berjalan ke aula dengan kepala mendongak.

Dan untuk masalah Terence, dia akan menyelesaikannya nanti.

Malam itu, dia mendapatkan penghargaan terbesar selama tiga tahun dia berkarir – Penghargaan Aktris Pendatang Baru Terbaik. Abby, asistennya, bersikeras bahwa mereka harus merayakan kemenangannya itu, tetapi Consuela menghentikannya.

"Dia pasti sudah lelah. Mari kita semua pulang saja dan merayakannya besok." Consuela membantu Julia memasuki mobil. Meskipun dia tidak menangis, Consuela tetap masih bisa merasakan kesedihan yang terpancar dari pandangannya.

"Aku sudah menyuruhmu untuk berpisah dengannya, tapi kamu sendiri yang masih saja tidak mau mendengarkanku." Dia duduk di samping Julia. "Sekarang, kamu lihat, bukan? Ini sudah waktunya untuk menyerah."

Consuela memeluknya, dan saat itulah Julia tidak dapat menahan perasaannya lagi.

Julia melepaskan tangisannya dengan tersedu-sedu dalam pelukan Consuela. Namun, ketika mereka sampai di rumahnya, Julia dengan cepat mengangkat dagunya kembali dan segera menghapus air mata dari wajahnya. Dia tidak boleh terlihat lemah.

Consuela menggigit bibirnya. "Bagaimana kalau aku menginap dan menemanimu malam ini?"

"Tidak perlu, aku baik-baik saja," kata Julia. Dia harus menghadapi semua ini sendirian. Lalu Julia berjalan pulang dan sesampainya di rumah dia mengambil sebuah botol anggur dari rak dan langsung meminumnya.

Vila ini seharusnya menjadi tempat tinggal dari pernikahan mereka. Namun, seiring berjalannya waktu, dia menyadari bahwa tempat itu adalah makam untuk dirinya sendiri.

Tempat itu selalu kosong.

Julia pikir dia akan menghabiskan malam ini dengan menyendiri lagi, tidak disangka Terence pulang di tengah malam.

Dia sangat kegirangan.

"Apakah kamu lapar?" Julia dengan cepat berdiri dari sofa.

"Aku bisa mengambil beberapa makanan atau sesuatu—"

Namun, Terence juga dalam suasana hati yang buruk. Dia melangkah ke arah Julia dan mendorongnya jatuh ke lantai. "Beraninya kamu?" Terence menggeram. "Apa yang telah Jean lakukan? Mengapa kamu memukulnya?"

"Apa yang sedang kamu bicarakan?" Julia mengerutkan alisnya. Wanita itu benar-benar baik-baik saja ketika dia meninggalkannya.

"Jangan berpura-pura!" Amarah Terence bergema di seluruh vila. "Ternyata, aku meremehkanmu. Kamu ini benar-benar wanita licik yang kejam. Kamu membuatku muak."

Terence mencibir, lalu melemparkan surat perceraian ke arahnya. "Tandatangani. Aku tidak ingin melihatmu lagi."

Meskipun Terence sudah sering mengancam untuk bercerai, tapi ini adalah pertama kalinya dia benar-benar meminta Julia untuk menandatangani surat itu.

Rasanya seolah-olah Terence benar-benar menikamnya tepat di jantung.

"Apa kamu... apakah kamu benar-benar ingin bersamanya?" tanya Julia dengan terbata-bata.

Julia sangat membenci, membenci apa yang terjadi kepada dirinya.

"Iya. Kamu benar." Terence mengangguk tanda mengkonfirmasi. "Dia cantik dan lembut, tidak menyebalkan sepertimu. Kamu bahkan membuatku jijik dengan merebut tunangan adikmu sendiri."

"Baik. Ya, memang benar aku seperti itu. Apa kamu senang?" Julia tidak tahu apa yang menguasainya ketika dia mulai membalas perkataan Terence. Dia mengangkat kepalanya. "Ya, memang aku memasukkan sesuatu ke dalam anggurmu. Ya, aku mendapatkanmu. Terence, tidakkah kamu merasa terharu? Walaupun kamu bersikap begitu dingin padaku, tetapi aku sangat mencintaimu?"

Mata Terence melebar. Dia belum pernah melihat Julia seperti ini.

Pandangan matanya memancarkan keputusasaan.

Julia menyeka air matanya, melingkarkan tangannya di leher Terence. "Kamu bilang kamu tidak mencintaiku, tapi malam itu tubuhmu memiliki reaksi yang berbeda," katanya, tertawa terbahak-bahak. "Jika suatu saat nanti kamu merasa kesepian, kamu tahu di mana harus menemukanku."

Dia mengedipkan mata dengan air mata yang masih mengalir di wajahnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED