Bab 1

Zivanna POV

'Sebenarnya... apa itu kebahagiaan? Apa ada orang yang benar-benar bahagia? Atau.. hanya terlihat seperti sedang berbahagia?'

Jika kebahagiaan itu ada, lalu kenapa aku justru tidak pernah bahagia. Padahal aku juga selalu bersyukur, dan berdoa pada Tuhan. Tapi kenapa? Dia terus memberikan ujian yang semakin hari semakin sulit untuk di terima.

Rasanya setiap hari, aku justru terus kehilangan diriku sendiri. Merasa bahwa semua orang membenci kehadiranku. Aku tidak bisa mencintai siapapun, aku bahkan tidak bisa mencintai diriku sendiri.

'Lalu bagian mananya yang kau sebut bersyukur? Yang kau lakukan hanya mengeluh,'

Bagi orang lain cinta itu sangatlah berharga, tapi bagiku itu sungguh tidak ada gunanya. Aku mati rasa terhadap segala hal yang bersangkutan dengan cinta. Merasa gagal, karena setiap aku mencintai seseorang. Mereka pasti akan pergi jauh dariku, dan aku benci rasa dari sakitnya kehilangan. Aku tak ingin mengetahui, atau mengenal seseorang. Lalu berharap ia akan menjadi cahaya penerang di dalam gelap nya duniaku.

"Coba liat pakaian nya. Ewhh, nggak banget!"

"Liat deh! jijik banget nggak sih dia,"

Sudah menjadi kebiasaan ku mendengar hal itu. Mereka membenci ku hanya karena aku datang dari yang bukan kalangan mereka. saat mereka tau aku hanyalah anak beasiswa, mereka semua langsung memperlihatkan wajah aslinya, lucu sekali mengingat drama yang mereka lakukan saat pertama kali bertemu denganku. Berpura-pura baik dan manis, sungguh wajah mereka konyol sekali saat itu.

"Sudahh segini dulu dehh. Nanti kita nggak punya mainan kalo sampai dia mati, hahaha!"

Para bajingan itu pergi setelah menghajarku habis-habisan. Aku mengelap darah yang keluar dari bibir sebelah kanan ku yang robek, sungguh ini tidak ada apa-apa nya dibandingkan semua yang sudah aku alami. Aku juga selalu pulang seperti ini jika kalian penasaran, dengan darah yang berlumuran dimana-mana atau lebam di wajah. Orang-orang yang melewati ku akan mengira aku anak berandalan yang suka berkelahi. Padahal aku perempuan.

Aku bukannya tidak bisa melawan, aku hanya tidak ingin. Mereka akan jauh lebih terluka jika aku membalas, dan berakhir aku yang akan masuk penjara karena mereka semua anak-anak dari orang terkenal dan kaya.

Aku menghela nafas, dan kembali tersenyum. Membiarkan luka dan lebam itu sembuh dengan sendirinya. Mengobati nya hanya akan membuat ku lelah. Aku berdiri, lalu mengambil tas dan buku ku yang berserakan. Ahh... uang yang aku kumpulkan selama seminggu. Seperti nya mereka kekurangan uang jajan sampai harus mengambil dariku yang miskin ini.

Saat sedang membereskan barang-barang, ponselku tiba-tiba berdering.

"Iya halo?"

"Apa kau tidak ingin bekerja lagi?! Kenapa kau lama sekali!! Aku akan bangkrut jika memiliki pekerja lambat dan konyol seperti mu!"

"Ma-maaf...."

"Maaf mu tidak akan mengembalikan uang ku, sudahlah kau tidak perlu bekerja lagi, kau di PECAT!!"

Aku menjauhkan ponsel ku dari telinga tepat saat dia berteriak. Kenapa dia suka sekali menyakiti tenggorokan nya itu. Aku kembali menghela nafas, ini sudah yang kelima kalinya aku di pecat. aku hanya punya dua pekerjaan saat ini, apa itu akan cukup?

Apalagi pengeluaran sekolah semakin banyak, dan semua pasti mahal. Mereka hanya memberikan uang per semester dan bukan kebutuhan sekolah per individu lainnya.

Selesai, aku kemudian berjalan keluar gudang sekolah. Iya aku masih di sekolah, para bajingan tadi menyeret ku masuk saat sekolah sudah bubar. Mereka semua hanya menatap ku dengan tatapan konyol saat melihat ku di seret dengan kasar oleh para bajingan bangsat itu. Bahkan guru dan kepala sekolah nya itupun hanya diam saat melihatku. Mereka tidak mungkin memarahi anak dari pemasok dana terbesar di sekolah mereka.

Semua terlihat begitu sepi, hanya ada satu atau dua Office Boy sekolah yang terlihat sedang membereskan sekolah mewah itu. Mereka hanya menatap iba padaku, tatapan yang paling aku benci.

"I-ini...."

Aku menatap anak laki-laki yang berumur sekitar lima tahunan itu mungkin. Dia menyodorkan kotak obat p3k padaku. Dia menunduk dan terlihat takut. Aku hanya menatapnya datar, dan berjalan kembali. Menghiraukan dia yang mungkin menatap ku dengan bertanya.

"K-kenapa kakak tidak mengambil nya?" Dia kembali menghalangi jalanku.

"Pergi sana!" Anak itu terlihat takut awal nya. Tapi sedetik kemudian dia tersenyum dengan senyuman yang sangat manis.

"Kakak cantik sedang terluka, jadi harus di obati!" Dia berucap dengan antusias. Mata nya berbinar indah dengan manik coklatnya. Aku tidak berbohong kalau anak itu terlihat begitu manis saat ini.

Perasaan apa ini? Ini pertama kali nya ada seseorang yang peduli padaku. Bahkan Office Boy disini tidak ada yang pernah peduli, dan sudah terbiasa dengan ku yang selalu pulang terlambat daripada murid yang lain.

"Kiki!! Kau kemana saja hah!! Aku mencarimu sedari tadi," Laki-laki itu berteriak di hadapan anak kecil tadi. Terlihat raut wajahnya yang khawatir dengan sorot mata yang ketakutan. Suaranya juga terdengar serak dan sedikit bergetar. Huh, kenapa aku peduli?

Anak itu cekikikan dan lalu menunjuk ke arahku, "kakak cantik itu terluka. Jadi aku membawakan nya kotak ini," ucapnya sambil menunjukkan kotak yang dipegangnya tak lupa juga memasang senyum manisnya, terlihat sekali kalau dia berharap untuk di maafkan. Dan laki-laki tadi langsung menatap ke arahku. Dia terlihat seumuran denganku hanya saja dia lebih tinggi dariku.

Dia menatap ku dengan dari atas sampai bawah, dan secara refleks aku mengikuti nya juga. Kenapa aku melakukan itu?. Aku merotasikan mataku dan berjalan melewati mereka berdua. Aku sungguh lelah dan ingin sekali istirahat. Itupun jika bisa.

"Kiki, kau tidak boleh seperti itu tadi. Dia mungkin merasa risih dengan sikap mu,"

"Tapi kak, dia terluka cukup parah. Aku tidak suka melihat luka, dan kakak juga selalu pulang seperti itu setiap habis sekolah,"

Aku tak sengaja mendengar percakapan mereka ,karena kebetulan aku masih belum begitu jauh dari mereka. Apa dia juga korban bullying di sekolah ini?

Suara gaduh dan teriakan menyambut kedatanganku saat tiba dirumah. Rumah? Apakah masih bisa disebut rumah disaat tidak ada seorang pun yang menginginkan kehadiran mu.

"Ya apa!? Gua kan udah berusaha sebaik mungkin! Kenapa lo masih aja ngeluh?!"

"Gimana gue nggak ngeluh, yang bisa lo hasil kan cuman itu-itu doang! Gua capek, gua juga pengen kaya kayak orang diluar sana,"

"Harus nya lo juga bantu dong! Kenapa cuman gue aja!?"

"Lo itu kepala keluarga di rumah ini bangsat, klo nggak bisa nafkahin istri lo ngapain nikah babu!!"

Sudah biasa rumahku, ralat rumah ini di penuhi dengan teriakan dan keluhan kedua orangtua ini. Mereka selalu berdebat, dan berakhir salah satu dari mereka akan memukuli ku sebagai hadiah pelampiasan dari amarah yang masih tersimpan di hati mereka.

"Pulang juga lo anak bangsat!!"

tbc.

Bab 2

Awhh...badanku rasanya remuk, semuanya sakit. Tapi aku tidak menangis. Apa karna sudah terbiasa? Aku tertawa sembari menatap ke langit-langit kamarku. Atau lebih tepatnya gudang. Aku tidak mengerti kenapa mereka melahirkan ku jika mereka tidak menginginkan ku, kenapa mereka tidak membuang ku saja atau membunuh ku?. Rasanya seperti aku tidak punya apa-apa lagi, selain kewarasan yang masih mencoba untuk menetap atau aku yang memaksa nya untuk menetap?.

Aku menarik nafas dalam-dalam, dan menutup mataku, mencoba untuk tidur dan melupakan semua yang terjadi hari ini. Beberapa saat kemudian aku terlelap dengan nyaman.

Mataku terbuka, menampakkan pemandangan pantai yang indah. Angin nya terasa begitu sejuk dan hangat secara bersamaan, suara ombak laut terdengar begitu merdu di telinga ku. Sepi dan nyaman menjadi satu. Semuanya baik-baik saja pada awalnya hingga sesaat kemudian pemandangan itu berubah. Aku menatap sekitar dan hanya menemukan kegelapan yang begitu pekat, tak ada cahaya sedikitpun. Dari kejauhan terdengar suara makian dan tawa, lalu berubah menjadi teriakan dan jeritan.

Aku terbangun dengan keringat dingin dan nafas yang memburu sesaat setelah teriakan dan jeritan itu terdengar sangat memekakkan telinga.

"Hanya mimpi....", Tapi kenapa semuanya terasa sangat nyata. Bahkan teriakan dan jeritan itu terasa begitu asli. Ternyata selain tidak bisa hidup tenang aku juga tidak bisa tidur dengan tenang. Aku mengusap wajahku dengan kasar, lalu melihat jam di ponsel. Jam 5 pagi, apa yang harus aku lakukan sekarang. Ahh, aku juga baru sadar kalau aku belum makan apa-apa dari tadi pagi. Aku tak bisa makan karena uang ku di rebut oleh para bajingan bangsat itu. Hhhh..... sekarang aku harus kelaparan sampai besok.

Dirumah tidak mungkin ada makanan, karena mereka selalu menghabiskan nya atau sengaja tidak memberikan nya padaku. Mengatakan bahwa uang mereka tidak cukup untuk membeli makan untuk tiga orang. Tapi tak apa, lagipula aku lebih suka mencari uang untukku sendiri daripada harus meminta pada orang yang sama sekali tak menganggap ku ada.

Hari mulai bersinar, tapi matahari belum muncul. Aku bergegas keluar dari kamar, dan membersihkan seluruh rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, dan lainnya. Rumah ini terasa begitu sesak, padahal ini cukup luas untuk ditinggali beberapa orang. Apa karena suasana rumah sangat tidak bagus makanya terasa seperti itu? Ahh aku tidak tau, tapi yang jelas tidak akan ada yang mau masuk kerumah ini atau bahkan membelinya menurutku.

"Hei, apa kau punya uang?", Aku hanya menatap datar kearahnya. Dia pasti ingin membeli botol alkohol lagi.

"Aku bertanya padamu bangsat, bukan ingin beradu tatap denganmu", dia menjambak rambutku dan menampar ku berkali-kali.

"Aku tak punya uang", jawabanku membuat nya marah dan malah menendangku hingga aku jatuh tersungkur. Masih belum puas, dia menendang dan memukulkan salah satu botol alkohol yang ada di meja ke kepala ku.

"Dasar anak nggak guna, tau numpang doang! Mati aja lo sana!", Sesaat setelah dia pergi, setetes warna pekat terlihat di lantai, ohh kepalaku berdarah. Aku menyentuh nya kepalaku yang terluka, tersenyum tipis. Kemudian bangkit kembali untuk membereskan kekacauan yang dia buat tadi.

Setelah selesai, aku pergi kekamar mandi. Aku masih harus sekolah, dan lulus baru aku bisa pergi dari sini. Aku menatap pantulan wajahku di cermin, terlihat seperti mayat hidup. Tidak ada apapun selain kekosongan yang terlihat dan juga bekas-bekas lebam dan luka-luka baru. Aku terlihat menjijikkan.

Sekolah berjalan seperti biasanya. Hanya saja ada yang aneh hari ini. Aku merasa seperti ada yang mengintip ku sedari tadi.

"Keluar", sesosok laki-laki tinggi keluar dari balik pohon. Dia menunduk takut, dan terus memperbaiki kacamata hitamnya yang melorot. Tumben sekali ada orang yang datang ke taman belakang, biasanya tidak ada yang suka datang kesini karena ada aku.

"A.....aa.....aakuu.....eum....aa...akuuu", dia berucap dengan gagap. Dia terlihat begitu gelisah dengan terus memainkan jari-jari panjangnya.

"Bicara yang jelas!"

"B-boleh aku berteman denganmu!!", Ucapnya dengan cepat. Lelucon macam apa ini? Apa para bajingan itu menyuruh nya memprank diriku, lagi? mereka suka sekali melakukan hal ini, dan menjadikan diriku sebagai barang taruhannya. Mereka pernah menyuruh seorang pangeran sekolah begitulah mereka menyebut nya, untuk menjadikan ku sebagai kekasih nya. Tentu saja aku menerimanya, karena mengira dia tulus padaku. Tapi seminggu kemudian kulihat dia berjalan bersama wanita populer lainnya di sekolah ini dan ternyata dia hanya mempermainkan ku saja.

Dan mereka juga berkali-kali menyuruh orang lain untuk dekat dengan ku, mencari tahu kelemahan ku, dan lalu mempermalukan ku di hadapan seluruh sekolah.

Aku menatapnya yang terus saja gelisah, sungguh meski aku mati rasa bukan berarti aku kehilangan rasa kasihan. Dia mungkin sama seperti ku, atau seperti anak-anak lain yang di bully di sekolah ini. Tapi setelah nya murid-murid bullyan itu dapat bergabung dengan klub populer di sekolah yang di ketuai oleh Hyerin dan pacarnya Mike. Mereka bisa masuk tentunya setelah di suruh melakukan sesuatu yang menjijikkan menurut ku. Seperti ini contohnya. Kalau sudah bisa masuk ke klub itu maka mereka akan di anggap yang paling beruntung. Iya beruntung menjadi seorang penjilat, sungguh mereka semua sangat berbakat.

Aku kembali fokus dengan buku novel bacaan ku. Tak peduli dengan dia yang sangat gelisah disana. "Pergi dari hadapan ku", ucapku penuh penekanan. Tapi bukannya pergi dia malah mendekat dan duduk di samping ku. dia terlihat masih sangat gelisah saat duduk di sampingku.

"P-pantas saja kau suka disini, ternyata disini sangat menenangkan", apa selama ini dia suka mengintipku?, Terdengar seperti pedofil. Tapi kenapa harus aku?

"Eoh? Kakak cantik, kenapa ada disini?", Aku menoleh ke arah kiri dimana suara cempreng itu datang. Anak kecil yang kemarin. Kenapa dia ada disini?. Dia memiringkan kepalanya, terlihat bingung dengan sosok makhluk yang berada di samping ku mungkin.

"Pacar kakak?", Tanyanya dengan polos. Aku menggeleng kan kepala ku dengan pelan, dan dia kembali tersenyum dengan manis. Berjalan pelan kearah ku dan tanpa basa-basi dia langsung duduk di pangkuan ku.

Ada apa dengan orang-orang hari ini?

"Kakak lukanya sudah sembuh?", Dia menangkup wajahku. Menolehkan kepalanya ke sana kemari, memastikan lebam dan luka ku kemarin mungkin. Matanya melebar saat melihat luka yang ku dapat tadi pagi. laki-laki di samping ku juga terlihat penasaran.

"Apa kakak berkelahi lagi?, Kenapa kakak suka sekali berkelahi padahal kakak perempuan", Dia berucap. Matanya berkaca-kaca seperti hendak menangis. Bagaimana ini, aku tidak tau caranya menenangkan orang apalagi anak kecil. Laki-laki tadi juga malah pergi tanpa berkata sepatah katapun.

tbc

Bab 3

Anak kecil itu memeluk ku. Bajuku basah, seperti nya dia menangis. Perasaan ku campur aduk, apakah ini rasanya di ingin kan seseorang? Apakah ini rasanya di khawatir kan oleh seseorang? Beginikah rasanya? Sungguh nyaman. Laki-laki berkacamata tadi juga kembali membawa kotak p3k. Dia langsung duduk, membuka kotak obat dan langsung mengobati luka di dahiku. Perasaan apa ini? Kenapa perasaan ini hadir lagi? Kenapa!! Tidak, aku tidak boleh merasakan hal apapun.

Aku langsung menurunkan anak kecil tadi dan berdiri, mereka menatapku dengan tatapan bertanya. Tidak jangan, aku tidak boleh merasakan hal apapun. Aku harus tetap mati rasa seperti sebelumnya!!, Aku langsung meninggalkan tempat itu, karena kebetulan lonceng tanda masuk sudah berbunyi.

Aku menutup mataku dengan tanganku, merasakan nyamannya berbaring di tengah hujan deras dan perihnya luka yang aku dapatkan hari ini. Para bajingan itu, tidak mendapatkan apa yang mereka inginkan, jadinya mereka memukuli ku di tengah lapangan tepat saat murid pulang. Dan aku kembali menjadi tontonan gratis untuk mereka semua.

Aku merasakan air hujannya berhenti menyentuh wajahku. Saat membuka mata, aku melihat si laki-laki berkacamata dan laki-laki berambut biru si kakak anak kecil kemarin. Mereka memayungi ku, dan menatap iba padaku. Sial! Aku benci sekali tatapan itu. Aku bangun lalu segera mengambil ransel ku dan pergi dari sana.

"Ck, tidak tau tahu terimakasih", gumam si rambut biru.

"Aku tak meminta mu untuk menolongku", Setelah nya aku langsung pergi darisana. Kenapa dia harus peduli kalau akhirnya akan sama seperti mereka.

Hujan semakin deras, dunia terasa sangat sepi di cuaca seperti ini. Terasa begitu nyaman karena hanya ada aku sendirian disini. Aku sangat suka hujan. Gelap dan dingin, sama seperti hatiku yang selalu di landa hujan. Aku suka hujan karena hanya mereka yang bisa menutup rasa sakit ku. Ahh aku lupa, aku harus pergi bekerja!!.

∞∞∞∞∞∞∞∞∞

Normal POV

Saat jam istirahat makan siang terdengar heboh. Zivanna yang mendengar suara ribut langsung pergi ke lapangan utama sekolah untuk melihat apa yang sedang terjadi. padahal tidak biasanya dia kepo seperti itu. Zivanna tau pasti para bajingan bangsat itu yang membuat keributan. Tapi biasanya mereka hanya akan melakukan nya setelah pulang sekolah.

"Dasar bangsat!!, Gimana caranya lo balikin mobil pacar gue hah!! Lo aja miskinn, anj*ng!!"

"M-maaf...."

"Maaf lo ngga bisa ngebalikin semuanya, bangsatt!!"

Zivanna menoleh kan kepalanya ke arah mobil yang di maksud kan. Dia mungkin terlihat tidak peduli, tapi dia termasuk gadis yang cukup peka terhadap apa yang terjadi di sekitar nya. Zivanna yang sudah tidak tahan lagi, memutuskan untuk pergi. Namun langkahnya terhenti saat mendengar suara tangisan anak kecil yang sangat di kenalnya.

Zivanna membulat kan matanya, saat tahu siapa yang membuat masalah dengan para bajingan bangsat itu. Itu laki-laki kemarin. Si laki-laki berambut biru dan si kacamata itu juga ada disana. Bagaimana bisa?

Anak kecil itu menangis sangat kencang dan memohon pada para bajingan itu agar tidak menghajar kakaknya lagi. Suara tangisannya begitu menyayat hati, bahkan hati Zivanna yang sudah lama mati itu juga merasakan nya.

"Pergi lo anak miskin!!!", Bajingan itu menendang sang anak kecil hingga dirinya terlempar, beruntung sang kakak dapat menyelematkan nya. Tapi tetap saja dia terluka dan bahkan sampai pingsan.

"Woi, yang sopan dong bangsat!", Laki-laki berambut biru itu marah. Dia tidak suka juga adik kesayangannya di sakiti, biarkan saja dia yang tersakiti tapi jangan adiknya nya.

"Berani lo sama gue, sekali gue lapor lo bisa aja mampus dari sekolah bahkan dari dunia ini!", Bajingan bernama Hyerin itu berucap sembari menatap laki-laki rambut biru itu dengan tatapan menghina.

Tiba-tiba saja satu sekolah terdiam kaku. Melihat Mike terbaring tak sadarkan diri dengan darah yang berlumuran keluar dari kepalanya.

"MIKE!!!", Teriak Hyerin panik saat melihat pacarnya terbaring mengenaskan di tanah. Hyerin menatap Zivanna. Si pelaku yang dengan sadisnya memukul laki-laki bajingan tadi dengan tongkat baseball yang ia temukan di gudang sekolah.

"Berani lo, anjing!!", Kali ini Hyerin lah yang pingsan, terbaring mengenaskan sama seperti pacarnya itu. Zivanna sudah cukup sabar dengan kelakuan mereka selama ini yang suka semena-mena terhadap orang lain. Dan kali ini bajingan itu salah sudah mengusik temannya. Iya, seperti nya Zivanna sudah kembali membuka hatinya untuk kembali berteman.

Zivanna berjalan menuju salah satu anak buah Hyerin. Menyuruh nya untuk mengambil tongkat baseball itu, dan berbisik sesuatu yang membuat seluruh sekolah merinding mendengar suara deep tone miliknya.

"Mati kalian, bajingan", tentu saja itu bukan sekedar ancaman. Zivanna benar-benar mengatakan nya dan akan melakukan nya jika di perlukan. Seperti nya dia juga sudah cukup diam selama ini.

Zivanna menatap seluruh sekolah terutama kepala sekolah dan guru-guru yang melihat kejadian itu. Tatapan mematikan nya mampu membuat mereka semua tidak berani menatapnya balik. Mereka tau arti dari tatapan itu. Mereka akan tetap diam sampai nanti Hyerin dan Mike sendiri yang turun tangan. Mereka tidak akan menyia-nyiakan nyawa mereka untuk para bajingan yang sok kaya itu.

Zivanna kemudian berjalan ke arah anak kecil tadi, dan menggendong nya. Dia tidak suka melihat anak yang masih kecil harus tersakiti. Si rambut biru dan si kacamata juga mengikuti nya, meski awalnya mereka ragu karena sudah melihat bagaimana sifat asli seorang Zivanna.

Mereka bertiga kini berada di rumah milik si rambut biru. Kebetulan rumahnya begitu dekat dengan sekolah. Zivanna dengan telaten membersihkan luka lecet di siku dan lutut nya Rifky. Sementara kedua laki-laki tadi sibuk mengobati diri mereka sendiri, karena Zivanna menolak mengobati mereka.

"Uhmmm....anu....apa kau tidak takut mereka akan membawa ke kantor polisi?", Ujar si kacamata memecah keheningan yang terjadi selama hampir lima jam di antara mereka. Zivanna hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.

Sempat terjadi keheningan lagi diantara mereka sebelum akhirnya si kacamata kembali bersuara, "kenapa.......kenapa kau mau menolong kami?"

Zivanna menghela nafas, "aku sama sekali tak berniat menolong kalian", ucapnya sembari mengelus lembut surai hitam Kiki. Mereka berdua seakan mengetahui jawaban, kenapa gadis itu mau menolong mereka. Terlihat binar indah di mata gadis itu saat menatap anak kecil yang sedang di pangkunya itu.

Suara perut keroncongan kemudian menghiasi kamar itu, mereka semua saling pandang satu sama lain. "A-ahh....maafkan aku....", Ujar si rambut biru. Ohh ternyata itu suara perutnya.

"Pfttt....ayo kita makan..apa kau punya sesuatu untuk dimasak?", Tanya si kacamata.

"T-tidak. Tapi kau bisa memasak mie saja, karena hanya itu yang kami punya", si rambut biru berucap sembari menundukkan kepala nya. Seperti nya dia malu.

"Itu tidak masalah kurasa", laki-laki berkacamata itu berdiri dan berjalan menuju dapur dan diikuti oleh si rambut biru. Ini sekolah bebas, jadi mereka bisa melakukan apapun sesuka mereka, termasuk mewarnai rambut.

tbc.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED