Hartono membelalak terkejut melihat Edward tampak melakukan hal tak senonoh di atas ranjangnya dengan seorang wanita. Raut wajahnya kemudian berubah menakutkan dengan kedua alis yang terkatup. Namun, terselip senyum di bibir yang di sembunyikannya.
"Apa-apaan ini Edward!! Jika tak mau menikah bukan berarti kau boleh seenaknya membawa wanita naik ke ranjangmu!!" ucap marah Hartono, seolah-olah ini sungguh kelakuan cucunya yang sangat keterlaluan.
"Kau harus mempertanggung jawabkan tindakanmu ini. Nikahi wanita itu dan jangan bertindak tak senonoh seperti ini lagi!!" perintah lantang Hartono.
Rahang Edward mengeras, amarahnya memuncak. Dia tak habis pikir kakeknya dengan mudah percaya bahwa dia melakukan tindakan sekeji ini.
Edward lantas melepaskan cengkeraman nya dari leher wanita di kasurnya itu. Dia pula bangun dari posisi yang berada di atas wanita itu. Posisi yang membuat siapapun akan salah paham.
Edward berdiri tegap dengan menyibak kasar rambutnya.
"Kenapa kakek tiba-tiba berada di kediaman ku?!" tanya Edward.
"Mengunjungi cucuku bukan lah kesalahan." jawab Hartono. "Namun, kau malah memperlihatkan pemandangan semacam ini. Kau telah dewasa. Maka, tunjukan kewibawaan mu. Bukan bermain-main seperti ini!!"
"Masalah semacam ini rasanya tak etis kau ikut mencampurinya." jawab dingin Edward.
Edward dan Hartono saling menatap tajam, bak tengah perang dingin.
Cherly menelan ludah. Dia bergidik berada di tengah pertengkaran cucu dan kakek yang dingin nan ketus ini.
Cherly bahkan tak mengira Edward pria yang akan sangat sulit di hadapi. Penolakannya ini sangat di luar dugaan. Jarang sekali pria menolak wanita yang naik ke atas ranjangnya dengan suka rela.
"Kakek memerintah, nikahi wanita itu secara terhormat!!"
Kemudian Edward menatap Hartono tajam. "Aku tak mengenal wanita sialan itu!! Dan Kakek berharap aku menikahi nya?! Jangan bermimpi!!"
"Sejelas ini dan kau mengelak?! Sikapmu ini tak layak sebagai lelaki!!" suara mengelagar Hartono memenuhi ruangan.
Cherly tak berani bersuara atas perseteruan yang di timbulkannya. Jemarinya tanpa sadar menggenggam kuat selimut yang menutupi tubuhnya.
"Kakek tak mau tau dalam waktu dekat nikahi wanita yang kau tiduri itu!! Jangan membuat nama keluarga tercoreng!!" perintah Hartono tegas.
"Dia lah yang tak sopan naik keatas ranjangku bak wanita murah!!"
"Seujung kukunya aku tak tertarik menyentuh atau bahkan berbagi selimut dengannya."
"Aku bahkan tak sudi menyentuhnya. Huh!! sialan, ketidak beruntungan macam apa ini?!" Edward sangat kesal.
Cherly tertunduk. Dia bahkan tak bisa mengelak atas pernyataan tentangnya yang baru saja Edward katakan.
"Penawaran apa yang telah ku terima?!" benak Cherly jantungnya berdegup tak karuan.
Edward mengusap kasar wajahnya. "Katakan sesuatu sialan!!" dia menatap marah wanita yang memilih menutup rapat mulutnya itu.
Cherly tak berani menatap mata Edward, dia membuang muka. Namun, hatinya terasa amat pedih. Pria seperti Edward harus terjebak permainan semacam ini dengannya. Sejujurnya Edward pria yang kasihan.
"Kalimat penghinaanmu tak mencerminkan bahwa kau terdidik!! Bagaimana bisa kau menghina wanita yang kau tiduri huh?!" secara tersirat Hartono membela Cherly.
"Berapa kali aku katakan aku tak menyentuhnya!! Aku tak melakukan hal yang kau pikirkan kakek!!" Edward menatap serius kakeknya.
"Apapun yang kau katakan tak mengubah kenyataan yang terlihat sekarang. Nikahi wanita itu." Hartono tetap kekeh meminta agar Edward menikahi Cherly.
"Menikah dengan wanita itu, tak akan terjadi!! Tidak akan pernah!!" jawab tegas Edward, dia menolak menikahi wanita sembarang yang naik keranjangnya dengan cara kotor.
Cherly menelungkup dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tak tahu bertindak apa atau bereaksi seperti apa.
Ragu-ragu Cherly melirik Hartono yang kemudian memberikannya isyarat untuk tetap tenang dan mengikuti alur yang di rencanakan.
"Kau siapa namamu?!" tanya Hartono seolah tak mengenal Cherly.
Ragu-ragu dia menjawab. "Cherly."
Kemudian perhatian Hartono kembali pada Edward. "Untuk kali ini kau tak bisa menolak perintah kakek. Wanita yang kau bawa masuk ke dalam rumah, harus kau nikahi." ucap Hartono dia tak menerima penolakan dari Edward lagi. Setelah berkata seperti itu Hartono keluar dari kamar itu begitu saja. Dia membiarkan Cherly menyelesaikan bagiannya.
Edward mengepal kuat jemarinya, sorot matanya tajam, rasanya siap membunuh.
"Kau pikir aku akan menurut kakek." gumam Edward, rasanya dia tak sudi untuk menikah. Terlebih dengan wanita bernama Cherly yang dengan hina naik ke atas ranjangnya.
"Ha! siapa yang merencanakan ini?!" Edward menatap tajam wanita yang seolah-olah korban itu.
Amarah Edward memuncak, dia mendekati Cherly yang seakan tampak menyedihkan di kasurnya. Dia lantas mencengkeram kuat dagu Cherly. "Kau sangat berani. Siapa orang yang menyuruh mu?! katakan dengan jujur!!"
Cherly meringis sakit. Cengkeraman Edward terlalu kuat.
Cherly mengepal kuat jemarinya. "Aku tak akan mundur. Pria ini menganggapku wanita buruk, itu bukan hal yang perlu ku khawatir kan. Dari awal aku tau konsekuensi nya." benaknya.
Cherly menatap berani mata Edward yang di penuhi emosi. Meski dia gemetar, dari dia berpura tak tampak gentar.
"Kau membawa ku kemari dengan paksa. Tidakkah kau mengingatnya?!" Cherly mengarang, segala kalimat yang dia katakan barusan adalah kebohongan.
"Ah!!" rintih Cherly.
Edward mencengkeram kedua pundak Cherly kuat-kuat.
"Kau pikir aku bodoh?! Aku tak mungkin membawa wanita murahan ke atas ranjangku!! Kita tak saling mengenal sialan!!"
"Bagaimana bisa kau berkata demikian, Edward kau bajingan sialan!!" lirih Cherly terdengar pilu. Kemudian dia berpura-pura menangis.
Edward mengeratkan giginya. Dia menahan amarahnya. Kemudian dia memukul kuat tembok tepat di sebelah Cherly.
Cherly terkejut sampai memejamkan matanya. Dia pikir pukulan itu akan di layangkan padanya.
Edward resah, pikirannya kacau. "Sialan!! sungguhkah aku membawanya masuk ke atas ranjangku dengan tanganku?! Mengingat aku tiba-tiba kehilangan kesadaran. Terlebih pakaian wanita sialan itu berantakan, pakaianku juga berantakan. " benaknya.
Saat Edward terpengaruh obat tidur. Hartono meminta seseorang untuk membuka baju Edward agar seolah berantakan. Semuanya telah di perhitungkan oleh Hartono dengan baik.
Cherly meraih pakaiannya yang tak jauh darinya dengan hati-hati. Edward yang tengah sibuk dengan pikirannya, membuat Cherly menggunakan itu sebagai kesempatan untuk mengenakan pakaiannya.
Cherly memasang kancing bajunya, dia termenung sejenak. "Tujuanku adalah merayu Edward. Sejak awal agar Edward menyentuhku. Aku terlanjur di cap wanita buruk oleh pria ini, maka aku tak perlu menjaga image wanita baik."
Setelah selesai mengenakan pakaiannya Cherly bangkit dari kasurnya berdiri tegap didepan Edward.
Edward terkejut dengan tindakan tiba-tiba Cherly. "Apa lagi yang akan kau lakukan sialan!!" ucapnya ketus.
Cherly menarik kerah baju Edward.
Wajah mereka menjadi dekat.
Dengan berani Cherly mengecup bibir Edward.
Edward membelalak, kemudian dia mendorong Cherly menjauh darinya. Dia juga mengelap bibirnya yang di cumbu sembarang.
"Kau wanita murahan, pergi dari kamarku sekarang!!" teriak Edward marah.
"aku tak peduli dengan hinaan mu." Benak Cherly, meski seolah dia tampak baik-baik saja. Nyatanya hatinya luar biasa ricuh, tangannya bahkan gemetar. Dia yang tak pernah melakukan hal ini, berpura-pura sebagai wanita nakal. Bukanlah hal mudah.
Edward dengan murka menarik lengan Cherly, dia mengusirnya dengan kasar keluar dari kamarnya.
Tatapannya pada Cherly penuh hina. Dia merasa sangat jijik atas sentuhan dari wanita itu padanya.
Seketika detik itu juga Edward semakin membenci wanita sialan yang berani menganggu ketenangannya.
Kebencian dan amarah kian memuncak kala sang kakek datang esok harinya bersama dengan wanita yang berani naik keranjangnya kemarin.
"Apa-apaan ini, dan wanita sialan itu..." Edward sampai terbata melihat kakeknya membawa wanita liar yang tak ingin dia lihat lagi.
Hartono menatap sepintas Edward, wajahnya terlihat serius. Setelah memasang wajah dingin dia masuk ke dalam kediaman Edward.
Rahang Edward mengeras kala Cherly dengan santai ikut melenggang masuk mengikuti kakek nya. Terlebih Cherly duduk di sofa dengan wajah tebalnya. Sejatinya, Cherly berusaha keras menunjukan bahwa dia sungguh wanita nakal. Meski hatinya bergejolak.
"Jika kau tak menikahi wanita ini, kau sama saja menunjukan bagaimana mendiang orang tuamu mendidik dirimu!! ku harap kau masih memiliki rasa malu." baru saja Hartono duduk di sofa nya dia langsung mencerca Edward dengan kalimatnya.
Edward seketika menoleh, menatap tajam kakeknya yang baru saja melayangkan kalimat menohok.
"Jangan menyebut mendiang orang tuaku. Aku atau mereka tak ada sangkutnya dengan wanita itu." Edward yang masih berdiri di dekat pintu lantas menutup pintu kasar.
"Untuk apa aku malu atas tindakan yang tak ku perbuat kakek. Apa yang wanita itu katakan sampai kakek begitu percaya padanya!!" tekan Edward.
"Edward!! wanita mana yang tak sedih jika prianya tak mengakuinya!!" ucap lantang Hartono.
"Bersikap dewasa Edward dan bertanggung jawablah." tegas Hartono.
Edward berusaha menahan amarahnya dengan mengepal kuat jemari nya. "Kakek kau yang harus berpikir logis. Aku sama sekali tak mengenalnya apalagi sampai menyentuhnya!!"
"Kakek sungguh kecewa atas sikapmu ini Edward." Hartono menggelengkan kepala nya sebagai bentuk kekecewaannya.
Hartono sungguh serius agar cucunya segera menikah dan memberikannya cicit. Dengan Edward yang menikah maka garis keturunannya akan tetap berlanjut. Edward cucu satu-satunya yang menjadi harapan besarnya. Terlebih dia tak ingin melihat Edward kesepian dan terus terbayang cinta masa lalunya.
Meski tindakannya terkesan jahat, namun ini demi kebaikan Edward juga demi mempertahankan garis keturunan. Hartono akan melakukan segalanya cara agar Edward menikah dan memberikan nya cicit. Kesedihan tak berguna yang menenggelamkan Edward dalam kesedihan harus segera dia musnahkan.
Edward menyibak kasar rambutnya. Dia mendekat lantas duduk di sofa seberang kakeknya. Dia menunjuk ke arah Cherly dengan tatapan muak. "Lihat dia. Apa mungkin aku tertarik dengan wanita sepertinya?! dia sangat berbeda jauh dari Yuni yang anggun. Dia glamor dan memuakkan!!"
"Yuni telah lama mati untuk apa kau terus membandingkannya." ucap Hartono begitu terang-terangan.
"Kakek!! Aku sungguh tak suka mendengar itu." Edward menatap marah kakeknya.
"Oh, kau terus saja terbayang dia yang telah tiada. Aku juga yakin Yuni sangat kasihan padamu yang masih saja menginginkan orang yang telah tiada. Yuni pasti tak akan tenang karena dirimu yang tak melepaskannya." cerca Hartono, dia berusaha agar Edward segera melepaskan cinta masa lalunya dan membuka lembaran baru.
Edward mengusap kasar wajahnya, sungguh dia berusaha agar emosinya tak memenuhi. "Apapun yang kakek katakan Aku tak akan menikahinya!!"
"Jangan membohongi diri, Cherly mengatakan kau lah yang membawanya paksa ke atas ranjangmu." ucap Harto berusaha menyudutkan Edward. Kalimat yang penuh kebohongan yang telah di siapkan.
Edward tak menyangkal kalimat kakeknya, dia masih mengingat-ingat mungkinkah memang ia sendiri yang membawa Cherly ke atas ranjang nya?! dia menjadi ragu akan pendiriannya bahwa dia tak menyentuh wanita itu.
"Nikahi dia!! Jika tidak Villa yang ditempati oleh Yuni semasa hidupnya akan kakek jual. Villa itu masih milikku. Semua kenangan Yuni akan ikut kakek lenyapkan." ancam Hartono.
Sorot Mata Edward tajam, namun dia terdiam tak melawan, sepatah kata penolakan tak terucap dari bibirnya lagi. Meski begitu, kemarahannya terlihat jelas di wajahnya, dia juga menunjukan kebencian besar pada Cherly.
Edward kian geram kala mengingat bagaimana Cherly dengan berani mencumbu bibirnya kemarin. "Aku ingin mengusirnya!!" benaknya kesal, tatapannya menusuk terarah pada Cherly.
Cherly bak berpura tak tahu bahwa Edward menatap nya penuh amarah. Dia berusaha terlihat santai bahkan dia tampak centil dengan mengedipkan mata kananya pada Edward, dia menggodanya.
Bibir kanan Edward terangkat, dia terlihat muak.
Cherly sudah menduga reaksi Edward. Dia mengepal kuat jemarinya, pikirannya tengah berisik, dia tengah berperang dengan batinnya. Dia merasa buruk. Edward masih begitu mencintai Yuni. Bagaimana dia bisa menggeser posisi Yuni yang begitu melekat di hati Edward?! Wanita yang sampai detik ini berhasil membuat Edward melajang.
Cherly merasa sangat bersalah masuk dalam kehidupan Edward secara paksa. Ini terjadi karena dia tak memiliki pilihan.
Pikiran Cherly melayang dengan perasaan bersalah. Namun, tiba-tiba saja Edward bangkit dari duduknya. Itu mengenutkan bagi Cherly terlebih Edward berdiri diepannya sekarang.
Cherly menelan ludah. Situasi tiba-tiba menjadi mencekam. Tatapan mematikan Edward membuat Cherly bergidik. Dia tadi nya ingin terlihat bisa saja dengan sikap kasar Edward pada nya, namun bersikap santai sekarang itu tak mungkin.
Edward meraih tangan Cherly dengan mencengkeram tangannya kuat. Nyaris membuat Cherly mendesis kesakitan.
"Kau ingin ku nikahi, kakek juga berharap begitu. Akan ku kabulkan!!" Edward menarik lengan Cherly dengan kasar. Dia membawa paksa Cherly keluar dari kediaman nya.
"Ini sakit, lepaskan." pinta Cherly.
Edward mengabaikan perpintaan Cherly dan terus menarik tangannya dengan kasar.
Cherly menatap punggung Edward yang begitu lebar. Di kondisi ini harusnya dia marah, namun dia tak bisa menghindari pandangannya dari punggung Edward yang tampak menawan.
Sampai di luar kediaman nya, Edward melepaskan cengkeramannya. "Besok datang lah kembali kemari dan pernikahan yang kau nanti-nantikan itu akan terjadi." ucapnya ketus.
Cherly membelalak, dia terkejut sekaligus tak menyangka. Kemudian senyum kecil merekah di bibirnya, dia juga tampak lega karena Edward akhirnya bersedia menikah, dan pengobatan Ibunya akan tetap berlanjut. Dia sangat takut bahwa Edward tetap menolak menikah.
Edward tiba-tiba mendekat, lalu berbisik di telinga Cherly dengan penuh penekanan. "Ah!! Ingat kau jangan besar kepala dulu. Menikah dengan ku tidak akan membuat mu hidup bak tuan putri dalam dongeng!! Ku berikan waktu sampai besok untuk mengurungkan niat mu itu. Aku bukan pria yang bermurah hati!!"
Sudah sejauh ini, dia tak akan menyerah. Cherly balik berbisik. "Aku tau dan aku suka apapun itu tentang mu!!" jawabnya penuh menggoda. Dia mengatakan itu dengan spontan tanpa ada perasaan di hatinya.
Seketika tatapan Edward berubah tajam, dia kesal atas jawaban Cherly.
"Haa!! lucu sekali. Kau wanita kotor yang telah terlatih rupanya!!" Edward kian memandang Cherly sebagai wanita liar.
Edward kemudian berbalik dan meninggalkan Cherly dengan wajah penuh amarah. Dia bergegas masuk dan menemui kakeknya. Dia akan berbicara serius mengenai masalah ini. Tentu saja sebagai orang dewasa. Dan baginya Cherly tak sepantasnya mendengarkan pembicaraan penting mereka, karena bagi Edward Cherly hanya orang luar yang berusaha menaikan derajatnya dengan cara kotor.
Saat Edward masuk dia mendapati kakeknya yang menyeringai penuh kepuasan.