Bab 1

Seorang kakek tua duduk dengan kaki menyilang, terlihat berwibawa. Dia dengan santai menyisap tehnya.

Kakek itu bernama Hartono Da Mirko pemilik perusahaan Mining Industri yang Cherly lamar beberapa hari lalu, dan hari ini dia mendapat panggilan interview.

Cherly terkejut awalnya, karena dia berhadapan langsung dengan pemiliknya.

Cherly tampak gugup, dia menatap Hartono yang terlihat menikmati tehnya.

Saking gugupnya Cherly tak sadar memainkan jemarinya di hadapan Hartono.

Terlebih sudah 30 menit Hartono tak memulai interview.

"Apa berdiam seperti ini termasuk interview?! Mungkinkah ini bagian dari penilaian?!" benak Cherly resah.

Hartono meletakan cangkir tehnya, kemudian dia menyentuh berkas-berkas milik Cherly. Setelah membaca sekilas, dia lantas  mengamati wanita di hadapannya.

"Cherly Tazkirah, usia 27 tahun dan singel. Cantik dan menarik, jadilah menantuku." tukas Hartono tiba-tiba.

Dahi Cherly mengernyit, dia terkejut bukan main. "Interview macam apa ini?!" benaknya bingung.

"Apa ini pertanyaan jebakan?!" tanya Cherly hati-hati.

"Jadilah menantuku." tukas Hartono lagi.

Hartono menatap Cherly, sorot matanya tajam "Aku tau kau tengah kesulitan. Ekonomi keluarga mu tengah merosot. Perusahaan properti Ayahmu mengalami kebangkrutan dan Ibumu tengah sakit jantung, kau butuh biaya."

"Jadilah istri cucuku aku akan membantu keuanganmu. Usaha Ayahmu dan pengobatan Ibumu mu, semua aku tanggung."  Hartono  tampak serius.

Cherly membelalak, kakek di depannya ini berbicara serius. Dia tak tengah berbual.

Cherly mengepal kuat jemarinya. "Ini bukan bagian dari interview yang aku pikir. Aku tak pernah membayangkan situasi ini." benaknya.

"Bagaimana bisa Anda mengetahui tentang ku sejauh itu?!" tanya Cherly.

"Itu sangat mudah bagi ku. " jawab Hartono.

Cherly berpikir sejenak. Dia menyimpulkan. "Maksud dari Hartono merekrut karyawannya adalah untuk mencari kandidat menantunya. Karena banyak yang mengatakan jika seorang pria yang melamar kerja disini jelas akan di tolak."

Cherly benar-benar butuh uang untuk membantu perekonomian keluarga nya yang tengah merosot. Jikapun dia diterima kerja disini, uang itu tak akan mampu menutup biaya-biaya yang dia butuhkan.

Hartono memecah keheningan. Dia menopang dagunya sembari menatap lurus Cherly. "Tenang saja setelah kau menjadi menantu ku kau akan mendapat tunjangan dan kau tak perlu bekerja. Kau hanya perlu fokus merayu cucuku."

Cherly sedikit menunduk, jemarinya mengepal kuat, pikirannya kacau.

Cherly menjadi gundah. Sangat tak masuk akal jika dia menerima tawaran itu. Namun, disisi lain dia membutuhkannya.

Setelah berpikir panjang. Cherly menatap Hartono serius.

"Anda tidak mungkin sembarangan menawarkan posisi berharga itu. Apa alasan Anda menawarkannya padaku?!" tanya Cherly.

Cherly sadar dia hanya wanita biasa yang rasanya tak pantas bersanding dengan keluarga kaya seperti Da Mirko.

Hartono menjawab. "Kau sehat dan subur. Setelah kau menikah lahirkan cicitku. Setelah itu jika kau mau bercerai maka lakukanlah."

Sebelum menawarkan posisi ini Hartono telah mengecek kesehatan Cherly. Dan menurutnya Cherly pantas untuk mengandung penerusnya.

Mata yang tajam dan bola mata hitam legam. Menurut Hartono, Cherly cantik sangat cocok jika bersanding dengan cucunya, terlebih kepribadian nya cukup baik dari yang dia selidiki. Cherly tak suka bermain dengan sembarang pria. Bahkan dia belum pernah berpacaran. Itu menjadi hal yang dia pertimbangan kan.

"Itu penawaran gila. Bagaimana bisa?!" Cherly merasa penawaran itu aneh dan baginya tak masuk akal.

"Ya atau tidak." tegas Hartono.

"Jika kau menolak itu tak akan merugikan apapun, aku akan mencari wanita lain yang bersedia." ucap Hartono, dia tak suka bertele-tele.

"Tunggu dulu-"

"Cucu mu itu, mungkinkah bermasalah sampai anda sendiri mencarikan nya jodoh. Dia impoten atau?!"

"Tidak dia normal." jawab Hartono cepat. Dia kemudian bangkit dari kursinya, berjalan pelan menuju jendela. Dia menatap ke luar jendela itu. Tampak dia menghela napas berat, bak memiliki permasalahan yang besar. "Dia hanya tak berniat menikah setelah calon istrinya meninggal 5 tahun lalu. Itu sangat menghawatirkan."

"Jadi Masa lalunya belum usai?!" gumam Cherly.

"Sangat merepotkan berhubungan dengan orang yang masa lalunya belum usai. " benak Cherly ragu.

Cherly menutup matanya pelan, membayangkan senyum kedua orang tuanya. Jika dia menolak kesempatan ini, maka tak akan ada lagi kesempatan berikutnya. Dan dia tak akan pernah melihat senyum dari orang tuanya lagi.

Ibunya yang tengah kesakitan di rumah sakit, jika terlambat di tangani nyawanya kapan saja bisa melayang. Ayahnya yang tampak tenang meski di landa depresi yang berusaha disembunyikan atas bangkrutnya perusahaannya.

Pada akhirnya Cherly menerima penawaran gila itu. Dia memilih mengorbankan dirinya dan harga dirinya.

Setelah menyetujui tawaran itu. Hati Cherly terasa pedih, namun dia berusaha terlihat tenang.

Cherly  menandatangani surat perjanjian bahwa dia harus melahirkan anak Edward. Kemudian Cherly di beri kebebasan atas hidupnya setelah melahirkan. Cherly juga mendapat sejumlah uang dan tunjangan lainnya. Biaya rumah sakit penuh di biayai oleh Hartono juga perusahaan Ayahnya yang bangkrut akan di bantu olehnya juga.

Sesuai yang Hartono katakan. Cherly di minta memasuki kediaman cucunya-Edward Da Mirko. Dan di minta tidur di ranjang yang sama dengan Edward.

Itu hal gila yang akan Cherly lakukan. Dalam hidup nya dia tak pernah berpikir untuk naik ke ranjang seorang pria yang tak pernah dia kenal.

Hartono mengatakan bahwa Edward tengah terpengaruh obat tidur yang dia berikan. Karena Edward selalu menolak untuk menikah. Hartono kesal dan pada akhirnya dia memilih jalan ini. Edward cucu satu-satunya harus memberikan nya penerus, bagaimanapun caranya. Meski Edward menolak keras untuk mencari pengantin maka dia yang akan bertindak.

Hartono membuat rencana tragedi seolah-olah Edward membawa wanita ke ranjangnya, maka Hartono akan berpura menciduknya karena berbuat hal tak senonoh. Dan berakhir memaksanya untuk menikahi wanita nya.

Cherly tau ini hal tak bermoral dan jelas tindakannya ini akan di benci oleh Edward. "Aku tak punya pilihan." lirihnya, jantungnya berdegup ricuh.

Ragu-ragu Cherly masuk ke dalam rumah besar itu, Dia masuk dengan mudah karena Hartono memberinya password rumah itu.

Cherly bahkan tak tau seperti apa wajah dari Edward. Hartono hanya mengatakan cucunya baru berusia 33 tahun.

"Lantai 2 kamar 1." Cherly mengingat-ingat letak kamar Edward yang dikatakan kakek itu.

Cherly berdiri tepat di depan pintu kamar. Dia membuka pintu itu dengan pelan, lalu tampak seseorang pria yang tengah tertidur di sana dengan wajah yang tertutup selimut.

Cherly menghela napas berat. Jantung nya berdetak kencang. Hatinya bergejolak untuk tak melakukan tindakan keji ini.

"Tapi aku telah menandatangani perjanjian itu." benaknya. Jantungnya kian berdetak ricuh.

Cherly menggenggam erat gagang pintu, dia memberanikan diri melangkah masuk. Dengan hati-hati dia melepas kemejanya dan rok span nya.

Lantas dia naik keranjang pria itu dan masuk ke dalam selimut pria itu.

"Maaf, maafkan aku. Aku sungguh membutuhkan mu..." gumam Cherly, sungguh dia merasa bersalah.

Cherly memejamkan matanya dan menunggu Hartono menciduk mereka dengan begitu awal dari rencana mereka akan di mulai.

"Siapa?! siapa yang berani masuk ke dalam selimut ku?!" suara berat pria terdengar.

Cherly membeku, pria yang katanya tengah tertidur akibat terpengaruh obat telah terbangun.

"Aku bertanya siapa yang berani naik ke ranjangku?!" teriak pria itu. Rasanya dia tengah mengendalikan diri yang pusing akibat pengaruh dari obat tidur itu.

"Jawab aku!!" pekiknya lantang. Dia mencengkeram erat lengan wanita yang berani naik ke kasurnya itu.

Edward berada di atas Cherly. Pria tampan yang mempesona, suaranya berat yang menarik hati, bibirnya seksi sangat menawan.

Edward mencengkeram erat leher Cherly. Mata mereka berdua saling menatap. "Siapa yang menyuruhmu?!" Edward tampak murka, tatapannya tajam rasanya ingin membunuh.

Sekejap Cherly terpesona dengan ketampanan pria bernama Edward itu hingga melupakan posisinya yang terancam. Sekarang dia benar-benar ketakutan. Pria ini tampak tak akan segan dengannya.

Brak...

Pintu didorong paksa.

Edward dan Cherly bersamaan menoleh kearah pintu dan mendapati kakek masuk dengan wajah terkejutnya.

Bab 2

Hartono membelalak terkejut melihat Edward tampak melakukan hal tak senonoh di atas ranjangnya dengan seorang wanita. Raut wajahnya kemudian berubah menakutkan dengan kedua alis yang terkatup. Namun, terselip senyum di bibir yang di sembunyikannya. 

"Apa-apaan ini Edward!! Jika tak mau menikah bukan berarti kau boleh seenaknya membawa wanita naik ke ranjangmu!!" ucap marah Hartono, seolah-olah ini sungguh kelakuan cucunya yang sangat keterlaluan. 

"Kau harus mempertanggung jawabkan tindakanmu ini. Nikahi wanita itu dan jangan bertindak tak senonoh seperti ini lagi!!" perintah lantang Hartono.

Rahang Edward mengeras, amarahnya memuncak. Dia tak habis pikir kakeknya dengan mudah percaya bahwa dia melakukan tindakan sekeji ini. 

Edward lantas melepaskan cengkeraman nya dari leher wanita di kasurnya itu. Dia pula bangun dari posisi yang berada di atas wanita itu. Posisi yang membuat siapapun akan salah paham. 

Edward berdiri tegap dengan menyibak kasar rambutnya. 

"Kenapa kakek tiba-tiba berada di kediaman ku?!" tanya Edward. 

"Mengunjungi cucuku bukan lah kesalahan." jawab Hartono. "Namun, kau malah memperlihatkan pemandangan semacam ini. Kau telah dewasa. Maka, tunjukan kewibawaan mu. Bukan bermain-main seperti ini!!"

"Masalah semacam ini rasanya tak etis kau ikut mencampurinya." jawab dingin Edward. 

Edward dan Hartono saling menatap tajam, bak tengah perang dingin. 

Cherly menelan ludah. Dia bergidik berada di tengah pertengkaran cucu dan kakek yang dingin nan ketus ini. 

Cherly bahkan tak mengira Edward pria yang akan sangat sulit di hadapi. Penolakannya ini sangat di luar dugaan. Jarang sekali pria menolak wanita yang naik ke atas ranjangnya dengan suka rela. 

"Kakek memerintah, nikahi wanita itu secara terhormat!!"

Kemudian Edward menatap Hartono tajam. "Aku tak mengenal wanita sialan itu!! Dan Kakek berharap aku menikahi nya?! Jangan bermimpi!!" 

"Sejelas ini dan kau mengelak?! Sikapmu ini tak layak sebagai lelaki!!" suara mengelagar Hartono memenuhi ruangan. 

Cherly tak berani bersuara atas perseteruan yang di timbulkannya. Jemarinya tanpa sadar menggenggam kuat selimut yang menutupi tubuhnya. 

"Kakek tak mau tau dalam waktu dekat nikahi wanita yang kau tiduri itu!! Jangan membuat nama keluarga tercoreng!!" perintah Hartono tegas. 

"Dia lah yang tak sopan naik keatas ranjangku bak wanita murah!!"

"Seujung kukunya aku tak tertarik menyentuh atau bahkan berbagi selimut dengannya."

"Aku bahkan tak sudi menyentuhnya. Huh!! sialan, ketidak beruntungan macam apa ini?!" Edward sangat kesal. 

Cherly tertunduk. Dia bahkan tak bisa mengelak atas pernyataan tentangnya yang baru saja Edward katakan.  

"Penawaran apa yang telah ku terima?!" benak Cherly jantungnya berdegup tak karuan. 

Edward mengusap kasar wajahnya. "Katakan sesuatu sialan!!" dia menatap marah wanita yang memilih menutup rapat mulutnya itu. 

Cherly tak berani menatap mata Edward, dia membuang muka. Namun, hatinya terasa amat pedih. Pria seperti Edward harus terjebak permainan semacam ini dengannya. Sejujurnya Edward pria yang kasihan. 

"Kalimat penghinaanmu tak mencerminkan bahwa kau terdidik!! Bagaimana bisa kau menghina wanita yang kau tiduri huh?!" secara tersirat Hartono membela Cherly. 

"Berapa kali aku katakan aku tak menyentuhnya!! Aku tak melakukan hal yang kau pikirkan kakek!!" Edward menatap serius kakeknya. 

"Apapun yang kau katakan tak mengubah kenyataan yang terlihat sekarang. Nikahi wanita itu." Hartono tetap kekeh meminta agar Edward menikahi Cherly. 

"Menikah dengan wanita itu, tak akan terjadi!! Tidak akan pernah!!" jawab tegas Edward, dia menolak menikahi wanita sembarang yang naik keranjangnya dengan cara kotor. 

Cherly menelungkup dengan selimut yang menutupi tubuhnya. Dia tak tahu bertindak apa atau bereaksi seperti apa. 

Ragu-ragu Cherly melirik Hartono yang kemudian memberikannya isyarat untuk tetap tenang dan mengikuti alur yang di rencanakan.

"Kau siapa namamu?!" tanya Hartono seolah tak mengenal Cherly. 

Ragu-ragu dia menjawab. "Cherly." 

Kemudian perhatian Hartono kembali pada Edward. "Untuk kali ini kau tak bisa menolak perintah kakek. Wanita yang kau bawa masuk ke dalam rumah, harus kau nikahi." ucap Hartono dia tak menerima penolakan dari Edward lagi. Setelah berkata seperti itu Hartono keluar dari kamar itu begitu saja. Dia membiarkan Cherly menyelesaikan bagiannya.

Edward mengepal kuat jemarinya, sorot matanya tajam, rasanya siap membunuh. 

"Kau pikir aku akan menurut kakek." gumam Edward, rasanya dia tak sudi untuk menikah. Terlebih dengan wanita bernama Cherly yang dengan hina naik ke atas ranjangnya. 

"Ha! siapa yang merencanakan ini?!" Edward menatap tajam wanita yang seolah-olah korban itu. 

Amarah Edward memuncak, dia mendekati Cherly yang seakan tampak menyedihkan di kasurnya. Dia lantas mencengkeram kuat dagu Cherly. "Kau sangat berani. Siapa orang yang menyuruh mu?! katakan dengan jujur!!"

Cherly meringis sakit. Cengkeraman Edward terlalu kuat.

Cherly mengepal kuat jemarinya. "Aku tak akan mundur. Pria ini menganggapku wanita buruk, itu bukan hal yang perlu ku khawatir kan. Dari awal aku tau konsekuensi nya." benaknya. 

Cherly menatap berani mata Edward yang di penuhi emosi. Meski dia gemetar, dari dia berpura tak tampak gentar. 

"Kau membawa ku kemari dengan paksa. Tidakkah kau mengingatnya?!" Cherly mengarang, segala kalimat yang dia katakan barusan adalah kebohongan. 

"Ah!!" rintih Cherly. 

Edward mencengkeram kedua pundak Cherly kuat-kuat.

"Kau pikir aku bodoh?! Aku tak mungkin membawa wanita murahan ke atas ranjangku!! Kita tak saling mengenal sialan!!" 

"Bagaimana bisa kau berkata demikian, Edward kau bajingan sialan!!" lirih Cherly terdengar pilu. Kemudian dia berpura-pura menangis. 

Edward mengeratkan giginya. Dia menahan amarahnya. Kemudian dia memukul kuat tembok tepat di sebelah Cherly. 

Cherly terkejut sampai memejamkan matanya. Dia pikir pukulan itu akan di layangkan padanya.  

Edward resah, pikirannya kacau. "Sialan!! sungguhkah aku membawanya masuk ke atas ranjangku dengan tanganku?! Mengingat aku tiba-tiba kehilangan kesadaran. Terlebih pakaian wanita sialan itu berantakan, pakaianku juga berantakan. " benaknya. 

Saat Edward terpengaruh obat tidur. Hartono meminta seseorang untuk membuka baju Edward agar seolah berantakan. Semuanya telah di perhitungkan oleh Hartono dengan baik. 

Cherly meraih pakaiannya yang tak jauh darinya dengan hati-hati. Edward yang tengah sibuk dengan pikirannya, membuat Cherly menggunakan itu sebagai kesempatan untuk mengenakan pakaiannya. 

Cherly memasang kancing bajunya, dia termenung sejenak. "Tujuanku adalah merayu Edward. Sejak awal agar Edward menyentuhku. Aku terlanjur di cap wanita buruk oleh pria ini, maka aku tak perlu menjaga image wanita baik." 

Setelah selesai mengenakan pakaiannya Cherly bangkit dari kasurnya berdiri tegap didepan Edward. 

Edward terkejut dengan tindakan tiba-tiba Cherly. "Apa lagi yang akan kau lakukan sialan!!" ucapnya ketus.

Cherly menarik kerah baju Edward.  

Wajah mereka menjadi dekat.

Dengan berani Cherly mengecup bibir Edward. 

Edward membelalak, kemudian dia mendorong Cherly menjauh darinya. Dia juga mengelap bibirnya yang di cumbu sembarang.  

"Kau wanita murahan, pergi dari kamarku sekarang!!" teriak Edward marah. 

"aku tak peduli dengan hinaan mu." Benak Cherly, meski seolah dia tampak baik-baik saja. Nyatanya hatinya luar biasa ricuh, tangannya bahkan gemetar. Dia yang tak pernah melakukan hal ini, berpura-pura sebagai wanita nakal. Bukanlah hal mudah. 

Edward dengan murka menarik lengan Cherly, dia mengusirnya dengan kasar keluar dari kamarnya. 

Tatapannya pada Cherly penuh hina. Dia merasa sangat jijik atas sentuhan dari wanita itu padanya. 

Seketika detik itu juga Edward semakin membenci wanita sialan yang berani menganggu ketenangannya.

Bab 3

Kebencian dan amarah kian memuncak kala sang kakek datang esok harinya bersama dengan wanita yang berani naik keranjangnya kemarin.

"Apa-apaan ini, dan wanita sialan itu..." Edward sampai terbata melihat kakeknya membawa wanita liar yang tak ingin dia lihat lagi.

Hartono menatap sepintas Edward, wajahnya terlihat serius. Setelah memasang wajah dingin  dia masuk ke dalam kediaman Edward.

Rahang Edward mengeras kala Cherly dengan santai ikut melenggang masuk mengikuti kakek nya. Terlebih Cherly duduk di sofa dengan wajah tebalnya. Sejatinya, Cherly berusaha keras menunjukan bahwa dia sungguh wanita nakal. Meski hatinya bergejolak.

"Jika kau tak menikahi wanita ini, kau sama saja menunjukan bagaimana mendiang orang tuamu mendidik dirimu!! ku harap kau masih memiliki rasa malu." baru saja Hartono duduk di sofa nya dia langsung mencerca Edward dengan kalimatnya.

Edward seketika menoleh, menatap tajam kakeknya yang baru saja melayangkan kalimat menohok.

"Jangan menyebut mendiang orang tuaku. Aku atau mereka tak ada sangkutnya dengan wanita itu." Edward yang masih berdiri di dekat pintu lantas menutup pintu kasar.

"Untuk apa aku malu atas tindakan yang tak ku perbuat kakek. Apa yang wanita itu katakan sampai kakek begitu percaya padanya!!" tekan Edward.

"Edward!! wanita mana yang tak sedih jika prianya tak mengakuinya!!" ucap lantang Hartono.

"Bersikap dewasa Edward dan bertanggung jawablah." tegas Hartono.

Edward berusaha menahan amarahnya dengan mengepal kuat jemari nya. "Kakek kau yang harus berpikir logis. Aku sama sekali tak mengenalnya apalagi sampai menyentuhnya!!"

"Kakek sungguh kecewa atas sikapmu ini Edward." Hartono menggelengkan kepala nya sebagai bentuk kekecewaannya.

Hartono sungguh serius agar cucunya segera menikah dan memberikannya cicit. Dengan Edward yang menikah maka garis keturunannya akan tetap berlanjut. Edward cucu satu-satunya yang menjadi harapan besarnya. Terlebih dia tak ingin melihat Edward kesepian dan terus terbayang cinta masa lalunya.

Meski tindakannya terkesan jahat, namun ini demi kebaikan Edward juga demi mempertahankan garis keturunan. Hartono akan melakukan segalanya cara agar Edward menikah dan memberikan nya cicit. Kesedihan tak berguna yang menenggelamkan Edward dalam kesedihan harus segera dia musnahkan.

Edward menyibak kasar rambutnya. Dia mendekat lantas duduk di sofa seberang kakeknya. Dia menunjuk ke arah Cherly dengan tatapan muak. "Lihat dia. Apa mungkin aku tertarik dengan wanita sepertinya?! dia sangat berbeda jauh dari Yuni yang anggun. Dia glamor dan memuakkan!!"

"Yuni telah lama mati untuk apa kau terus membandingkannya." ucap Hartono begitu terang-terangan.

"Kakek!! Aku sungguh tak suka mendengar itu." Edward menatap marah kakeknya.

"Oh, kau terus saja terbayang dia yang telah tiada. Aku juga yakin Yuni sangat kasihan padamu yang masih saja menginginkan orang yang telah tiada. Yuni pasti tak akan tenang karena dirimu yang tak melepaskannya." cerca Hartono, dia berusaha agar Edward segera melepaskan cinta masa lalunya dan membuka lembaran baru.

Edward mengusap kasar wajahnya, sungguh dia berusaha agar emosinya tak memenuhi. "Apapun yang kakek katakan Aku tak akan menikahinya!!"

"Jangan membohongi diri, Cherly mengatakan kau lah yang membawanya paksa ke atas ranjangmu." ucap Harto berusaha menyudutkan Edward. Kalimat yang penuh kebohongan yang telah di siapkan.

Edward tak menyangkal kalimat kakeknya, dia masih mengingat-ingat mungkinkah memang ia sendiri yang membawa Cherly ke atas ranjang nya?! dia menjadi ragu akan pendiriannya bahwa dia tak menyentuh wanita itu.

"Nikahi dia!! Jika tidak Villa yang ditempati oleh Yuni semasa hidupnya akan kakek jual. Villa itu masih milikku. Semua  kenangan Yuni akan ikut kakek lenyapkan." ancam Hartono.

Sorot Mata Edward tajam, namun dia terdiam tak melawan, sepatah kata penolakan tak terucap dari bibirnya lagi. Meski begitu, kemarahannya terlihat jelas di wajahnya, dia juga menunjukan kebencian besar pada Cherly.

Edward kian geram kala mengingat bagaimana Cherly dengan berani mencumbu bibirnya kemarin. "Aku ingin mengusirnya!!" benaknya kesal, tatapannya menusuk terarah pada Cherly.

Cherly bak berpura tak tahu bahwa Edward menatap nya penuh amarah. Dia berusaha terlihat santai bahkan dia tampak centil dengan mengedipkan mata kananya pada Edward, dia menggodanya.

Bibir kanan Edward terangkat, dia terlihat muak.

Cherly sudah menduga reaksi Edward. Dia mengepal kuat jemarinya, pikirannya tengah berisik, dia tengah berperang dengan batinnya. Dia merasa buruk. Edward masih begitu mencintai Yuni. Bagaimana dia bisa menggeser posisi Yuni yang begitu melekat di hati Edward?! Wanita yang sampai detik ini berhasil membuat Edward melajang.

Cherly merasa sangat bersalah masuk dalam kehidupan Edward secara paksa. Ini terjadi karena dia tak memiliki pilihan.

Pikiran Cherly melayang dengan perasaan bersalah. Namun, tiba-tiba saja Edward bangkit dari duduknya. Itu mengenutkan bagi Cherly terlebih Edward berdiri diepannya sekarang.

Cherly menelan ludah. Situasi tiba-tiba menjadi mencekam. Tatapan mematikan Edward membuat Cherly bergidik. Dia tadi nya ingin terlihat bisa saja dengan sikap kasar Edward pada nya, namun bersikap santai sekarang itu tak mungkin.

Edward meraih tangan Cherly dengan  mencengkeram tangannya kuat. Nyaris membuat Cherly mendesis kesakitan.

"Kau ingin ku nikahi, kakek juga berharap begitu. Akan ku kabulkan!!" Edward menarik lengan Cherly dengan kasar. Dia membawa paksa Cherly keluar dari kediaman nya.

"Ini sakit, lepaskan." pinta Cherly.

Edward mengabaikan perpintaan Cherly dan terus menarik tangannya dengan kasar.

Cherly menatap punggung Edward yang begitu lebar. Di kondisi ini harusnya dia marah, namun dia tak bisa menghindari pandangannya dari punggung Edward yang tampak menawan.

Sampai di luar kediaman nya, Edward melepaskan cengkeramannya. "Besok datang lah kembali kemari dan pernikahan yang kau nanti-nantikan itu akan terjadi." ucapnya ketus.

Cherly membelalak, dia terkejut sekaligus tak menyangka. Kemudian senyum kecil merekah di bibirnya, dia juga tampak lega karena Edward akhirnya bersedia menikah, dan pengobatan Ibunya akan tetap berlanjut. Dia sangat takut bahwa Edward tetap menolak menikah.

Edward tiba-tiba mendekat, lalu berbisik di telinga Cherly dengan penuh penekanan. "Ah!! Ingat kau jangan besar kepala dulu. Menikah dengan ku tidak akan membuat mu hidup bak tuan putri dalam dongeng!! Ku berikan waktu sampai besok untuk mengurungkan niat mu itu. Aku bukan pria yang bermurah hati!!"

Sudah sejauh ini, dia tak akan menyerah. Cherly balik berbisik. "Aku tau dan aku suka apapun itu tentang mu!!" jawabnya penuh menggoda. Dia mengatakan itu dengan spontan tanpa ada perasaan di hatinya.

Seketika tatapan Edward berubah tajam, dia kesal atas jawaban Cherly.

"Haa!! lucu sekali. Kau wanita kotor yang telah terlatih rupanya!!" Edward kian memandang Cherly sebagai wanita liar.

Edward kemudian berbalik dan meninggalkan Cherly dengan wajah penuh amarah. Dia bergegas masuk dan menemui kakeknya. Dia akan berbicara serius mengenai masalah ini. Tentu saja sebagai orang dewasa. Dan baginya Cherly tak sepantasnya mendengarkan pembicaraan penting mereka, karena bagi Edward Cherly hanya orang luar yang berusaha menaikan derajatnya dengan cara kotor.

Saat Edward masuk dia mendapati kakeknya yang menyeringai penuh kepuasan.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED