Vera Dianthe memandangi langit yang kelam, menatap awan hitam yang menggantung di atas kota New York. Angin malam yang dingin menyapu wajahnya, membawa rasa tidak nyaman yang terus menggelayuti dirinya. Dia sudah lama tidak merasakan kebebasan seperti ini, berdiri di ujung dunia, jauh dari kenyamanan yang dulu menjadi bagian hidupnya. Kini, segala sesuatu yang pernah ia anggap pasti, hancur dalam sekejap setelah keputusan yang datang seperti petir yang menyambar.
Bertahun-tahun ia berjuang untuk menciptakan kehidupan yang biasa-biasa saja, jauh dari sorotan media, jauh dari dunia yang gemerlap dan penuh kepalsuan. Namun takdir tak pernah menanyakan persetujuan. Orang tuanya, yang selalu memegang kendali atas kehidupannya, membuat keputusan yang mengubah jalannya hidup. Tak ada pilihan bagi Vera selain mengikuti kehendak mereka. Kehendak yang melibatkan pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya, seorang pria bernama Dorian Ashford.
"Ini demi kebaikan keluarga kita," kata ibunya dengan suara yang penuh harapan, seperti biasa. "Dorian Ashford adalah pilihan terbaik untuk masa depan kita."
Vera tidak mengerti. Bagaimana mungkin hidupnya bisa bergantung pada pria yang hanya dikenal melalui berita dan iklan? Dorian Ashford adalah CEO dari Ashford International, perusahaan kapal pesiar terbesar di dunia, yang terkenal karena kekayaan dan ketampanannya yang membuatnya menjadi idola di kalangan wanita. Tapi di balik semua itu, Vera tahu sedikit tentang kehidupan pribadinya, dan bahkan lebih sedikit tentang apa yang benar-benar terjadi dalam hatinya.
Sementara itu, Dorian Ashford sendiri berada di sisi lain dunia, memandang pernikahan ini dengan kebingungan dan rasa enggan yang tak bisa disembunyikan. Baginya, pernikahan ini adalah kewajiban-sebuah keputusan yang dipaksakan oleh orang tuanya untuk memastikan kesinambungan kekuasaan keluarga Ashford. Ia tidak ingin menikah dengan Vera. Tak ada perasaan cinta yang membara di hatinya, hanya rasa terpaksa yang menghanguskan keinginan dan mimpinya.
Namun, meskipun perasaan itu tak ada, ada hal lain yang ia tidak bisa hindari: ketertarikan yang tak terduga terhadap Vera. Seiring berjalannya waktu, Dorian mulai menyadari bahwa wanita yang dulunya hanya dianggap sebagai bagian dari permainan keluarga itu memiliki sesuatu yang lebih-sesuatu yang tidak bisa dia singkirkan. Dia mungkin tidak mencintainya, tapi dia terpesona dengan keteguhan Vera yang tidak mudah dipengaruhi, yang tetap berdiri tegak meskipun pernikahan itu adalah hasil dari takdir yang tak bisa ia tolak.
Dorian mengingat kembali malam itu, malam pertemuan pertama mereka. Vera berdiri di altar dengan tatapan dingin, wajahnya tak menunjukkan rasa takut atau kebingungan. Tidak ada kegembiraan di sana, hanya kesedihan yang tersembunyi di balik matanya. Wajahnya cantik, tentu saja, dengan mata biru yang memancarkan keteguhan. Namun, di balik kecantikan itu ada sesuatu yang lebih gelap, yang membuat Dorian merasa ada tembok yang tak bisa ia tembus.
"Dorian Ashford, selamat datang di dunia baru," bisik Vera dalam hati, saat mereka berdiri di pelaminan.
Itu adalah kalimat yang terasa asing, bahkan bagi Vera sendiri. Tak ada cinta dalam kata-kata itu, hanya rasa terpaksa yang menggerogoti segala yang ada. Setelah pernikahan, Vera tidak kembali ke kehidupan yang nyaman. Dia terjebak dalam dunia Dorian, dunia yang penuh dengan aturan dan kesepakatan yang jauh lebih rumit dari apa pun yang bisa dia bayangkan.
Di luar istana keluarga Ashford yang megah, Dorian merasa terkungkung. Ia sudah lama hidup dengan tekanan berat dari orang tuanya yang menginginkan dia untuk menjaga reputasi keluarga dan memperluas kekuasaan mereka. Namun, hidup di bawah bayang-bayang nama besar itu tidaklah mudah. Dorian tidak pernah bisa menemukan kedamaian, bahkan dalam hubungan pribadinya.
Sementara itu, di rumah baru Vera, semuanya terasa asing dan menyesakkan. Dorian mungkin tampak sempurna di luar, tetapi Vera mulai merasakan bahwa dia adalah seseorang yang jauh lebih rumit dari yang terlihat. Mungkin dia bisa menjadi pria yang baik-atau mungkin tidak. Namun, yang lebih menyakitkan adalah kenyataan bahwa mereka hidup dalam sebuah pernikahan yang bukan karena cinta, melainkan karena kewajiban dan harapan orang tua mereka.
Namun, hidup ini tidak pernah semudah itu. Dalam dunia keluarga Ashford, ada aturan yang tak boleh dilanggar, dan jika ada satu hal yang tak bisa Dorian tinggalkan, itu adalah warisan keluarga yang sudah dibangun bertahun-tahun. Meskipun ia merasa terperangkap dalam pernikahan ini, ia juga tahu bahwa untuk menjaga reputasi dan kekuatan keluarganya, ia harus mempertahankan pernikahan ini-dan menjalani semua peranannya dengan baik.
Vera tahu dia tidak akan bisa keluar begitu saja. Dorian Ashford bukan pria yang bisa ditolak. Bahkan jika perasaan itu tidak ada, mereka tetap harus bertahan di dunia yang penuh dengan manipulasi dan politik keluarga.
Suatu malam, setelah beberapa minggu mereka hidup bersama dalam kebisuan yang hampir membeku, Dorian mengundang Vera untuk makan malam di ruang makan besar rumah mereka. Ruangan itu dipenuhi dengan lampu kristal yang berkilau, menggambarkan kemewahan yang tak terhingga. Vera duduk di meja makan, menatap piring di depannya dengan rasa hampa.
"Vera," suara Dorian pecah, memecah keheningan yang telah menenggelamkan mereka selama beberapa minggu. "Kita perlu berbicara tentang masa depan kita."
Vera mengangkat kepala, menatap pria itu dengan ekspresi kosong. "Masa depan kita?" ucapnya, terdengar seperti ejekan. "Apa yang bisa kita bicarakan? Bukankah kita sudah tahu semuanya?"
Dorian menarik napas panjang. "Aku tahu ini sulit bagimu. Tapi kita harus menjalani ini seperti dua orang dewasa. Ada perjanjian yang harus dipatuhi, dan kita tidak bisa melangkah mundur."
Vera tersenyum tipis. "Perjanjian? Kau ingin mengatakan bahwa kita terikat oleh kesepakatan yang tak bisa kita ubah?"
"Ya," jawab Dorian dengan nada berat. "Tapi aku akan memastikan bahwa semua berjalan dengan lancar. Aku akan menulis beberapa ketentuan baru dalam perjanjian kita. Kita akan membuatnya bekerja, Vera."
Vera menatap Dorian dalam diam, menilai setiap kata yang keluar dari bibir pria itu. Keteguhan di matanya tidak bisa disangkal. Meskipun ia tahu Dorian tidak akan mengubah pikirannya, ada sesuatu dalam dirinya yang ingin mencoba melawan. Ada perasaan yang membangkitkan api dalam dirinya-perasaan yang tak bisa ia jelaskan, namun kuat sekali. Mungkin ia tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tetapi satu hal yang pasti: dia tidak akan membiarkan dirinya hancur dalam permainan ini tanpa memberikan perlawanan.
"Jangan berpikir aku akan tunduk begitu saja," gumam Vera, meski lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Dorian. "Aku akan melawan, meskipun aku harus menghadapi segalanya sendirian."
Dorian menatapnya dengan mata yang seolah mengerti. "Aku tidak ingin melawanmu, Vera. Aku hanya ingin kita bertahan di dunia ini."
"Dan aku ingin lebih dari sekadar bertahan," jawab Vera, hampir berbisik. "Aku ingin hidup."
Namun, kata-kata itu mengandung lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Apa artinya hidup bagi Vera? Dan apakah Dorian Ashford bisa menjadi bagian dari jawabannya? Atau akankah hidup mereka tetap terperangkap dalam perjanjian yang mengikat tanpa ada ruang untuk kebebasan dan cinta yang sesungguhnya?
Hanya waktu yang akan memberi jawabannya.
Tiba-tiba, pintu terbuka dengan keras, memecah keheningan yang menguar di antara mereka. Seorang wanita masuk ke ruangan, wajahnya penuh dengan kemarahan yang jelas-Isabella Moreau, kekasih Dorian yang selama ini menjadi bayang-bayang dalam hubungan mereka.
"Selesai sudah," kata Isabella dengan suara penuh kebencian, menatap Vera dengan tatapan tajam yang penuh rasa iri. "Dorian, kau benar-benar mempermalukan dirimu."
Dorian menatap wanita itu, tetapi tidak mengatakan sepatah kata pun. Sebaliknya, matanya berpindah pada Vera, dan dalam hening yang tegang itu, segalanya berubah.
Akhir dari permainan baru saja dimulai.
Vera masih duduk dengan punggung tegak, tatapannya tajam namun kosong, menatap Isabella yang baru saja masuk ke ruangan dengan aura kemarahan yang jelas tergambar di wajahnya. Dorian Ashford, suaminya, hanya memandang mereka berdua dengan ekspresi yang sulit dibaca. Seketika, ruangan yang semula penuh dengan keheningan yang mencekam, kini dipenuhi dengan ketegangan yang hampir bisa dipotong dengan pisau. Vera merasakan suasana yang berubah dengan cepat, dan hatinya pun mendesah. Ia tahu bahwa ini adalah awal dari sesuatu yang lebih besar, sesuatu yang tak terelakkan.
Isabella berdiri di pintu dengan kedua tangan terlipat di depan dada, ekspresi wajahnya penuh dengan kekesalan dan keangkuhan. Sepertinya dia merasa berhak untuk berada di sana, bahkan lebih berhak daripada Vera, yang baru saja menikah dengan Dorian. Semua yang ada di mata Isabella berkata satu hal: ia tidak akan membiarkan siapa pun mengancam posisinya. Dan jelas, Vera adalah ancaman terbesar dalam hidupnya saat ini.
"Jadi, ini yang terjadi?" suara Isabella pecah, memecah keheningan yang mengerikan itu. "Kau membawa wanita ini ke dalam hidupmu, Dorian? Kau memilihnya, dan aku hanya menjadi bayangan yang harus mengundurkan diri begitu saja?"
Vera menatap Isabella dengan mata yang penuh kebencian yang tidak bisa dia sembunyikan. Wanita itu jelas merasa lebih berhak atas Dorian, dan Vera tidak bisa menerima kenyataan itu. Meskipun dirinya tahu bahwa ia tidak memiliki banyak pilihan, ada perasaan yang tumbuh dalam dirinya-perasaan yang ingin membuktikan bahwa dia lebih dari sekadar pengganti. Tidak ada yang berhak merendahkannya. Tidak di dunia ini, dan tidak di dunia Dorian.
"Isabella," kata Dorian dengan nada yang lebih lembut, meskipun ada kesan tegang di suara baritone-nya. "Kau tahu ini bukan pilihan yang aku buat dengan sukarela. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya."
Isabella tidak terpengaruh oleh kata-kata Dorian. Dia melangkah lebih dekat ke meja makan, matanya terfokus tajam pada Vera. "Oh, tentu saja, Dorian. Kau selalu punya alasan, bukan? Tapi itu tidak mengubah kenyataan. Kau menikah dengan wanita ini hanya karena kewajiban keluarga, bukan karena cinta."
Vera merasa darahnya mendidih mendengar kata-kata itu. Setiap kali Isabella berbicara, ada rasa sakit yang menggelayuti hatinya, seperti mengingatkan dia betapa kecilnya dia dalam hubungan ini. Namun, tidak ada yang akan tahu betapa kerasnya hatinya untuk bertahan.
"Kau tidak tahu apa yang terjadi di sini," Vera berkata pelan, suaranya terangkat dengan kesadaran baru. "Dan kau tidak akan pernah tahu. Jadi, sebaiknya kau mundur sebelum semua ini semakin memburuk."
Isabella tersenyum sinis, seolah-olah ia baru saja mendengar lelucon yang sangat lucu. "Mundur? Aku akan tetap di sini, Vera, karena aku tahu peran apa yang sebenarnya akan kau mainkan di sini. Aku sudah lama cukup mengenal Dorian untuk tahu bahwa ini hanyalah sebuah fase sementara dalam hidupnya. Setelah dia bosan, kau akan pergi. Seperti yang selalu terjadi dengan semua wanita dalam hidupnya."
Vera menahan napasnya, menatap Dorian yang diam di samping mereka. Apakah itu yang dia pikirkan juga? Apakah ia hanya akan menjadi fase sementara dalam hidup Dorian? Tanpa cinta, tanpa rasa hormat, hanya sebuah kewajiban yang harus dipenuhi? Ada sesuatu dalam diri Vera yang menolak untuk menerima kenyataan itu. Dia tidak akan menjadi wanita yang dibuang begitu saja, tanpa perlawanan. Ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan membuat Dorian melihatnya lebih dari sekadar pengganti.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi antara kalian berdua di masa lalu," Vera berkata, suaranya kini lebih tegas, lebih penuh dengan kebulatan tekad. "Tapi apa yang terjadi di masa depan, hanya aku yang bisa menentukannya. Aku tidak akan menyerah pada takdir yang orang lain tentukan untukku."
Dorian menatap Vera, matanya menyiratkan kebingungan dan perasaan yang sulit dijelaskan. Ia tidak pernah berpikir bahwa Vera akan begitu berani. Mungkin itu sebabnya ia tertarik padanya sejak pertama kali bertemu. Namun, ia juga tahu bahwa ini bukanlah perasaan yang bisa dia biarkan berkembang. Ia terjebak dalam hubungan yang penuh dengan kepalsuan ini, dan ia tidak bisa membiarkan dirinya jatuh ke dalam perasaan yang lebih dalam.
"Vera, kamu harus mengerti," kata Dorian dengan suara yang lebih dalam. "Ini bukan tentang kita. Ini tentang keluarga. Tentang perjanjian yang harus dipenuhi. Aku tak ingin membuatmu merasa tidak dihargai, tapi aku juga tidak bisa melawan takdir yang sudah digariskan."
Vera tidak tahu apa yang lebih menyakitkan: kenyataan bahwa Dorian benar-benar merasa terjebak dalam hubungan ini, atau kenyataan bahwa dia sepertinya tidak melihatnya lebih dari sekadar alat untuk memenuhi kewajiban keluarga. Hatinya yang terluka perlahan mulai terbakar dengan amarah yang membara.
"Kita semua terjebak, Dorian," kata Vera, menatapnya dengan mata yang kini penuh dengan keteguhan. "Tapi itu tidak berarti kita harus menyerah pada apa yang ada di depan kita. Aku tidak akan menjadi wanita yang terjebak dalam pernikahan ini tanpa perjuangan."
Isabella, yang sudah tidak sabar, mendekat dan menatap Vera dengan tatapan yang penuh kebencian. "Kau masih berpikir kau bisa menang? Kau benar-benar berpikir Dorian akan memilihmu?" katanya dengan tawa yang penuh ejekan. "Kau akan pergi. Semua ini hanya soal waktu. Percayalah, aku akan memastikan dia kembali padaku."
Vera menatapnya dengan mata yang penuh kebencian. "Aku bukan wanita yang mudah menyerah, Isabella," jawab Vera dengan dingin. "Dan kau mungkin akan terkejut betapa besar kekuatan yang aku miliki untuk mempertahankan posisi ini."
Isabella terkekeh, tidak merasa terancam sama sekali. "Mari kita lihat saja nanti. Aku selalu mendapatkan apa yang aku inginkan, dan Dorian tahu itu."
Namun, pada saat itu, Vera merasa ada sesuatu yang lebih besar yang sedang membara dalam dirinya. Ia tahu bahwa apa yang sedang terjadi antara mereka adalah pertempuran yang tidak bisa dimenangkan dengan cara biasa. Tapi ia juga tahu, bahwa untuk bertahan hidup dalam dunia ini, ia harus memainkan peran yang lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih tak terduga daripada yang mereka semua bayangkan.
Dorian menatap mereka berdua, matanya bergerak dari Isabella ke Vera, seolah mencoba mencari jalan keluar dari situasi yang semakin rumit. "Aku tidak tahu harus bagaimana lagi," katanya akhirnya, suaranya penuh dengan keputusasaan.
"Tak perlu khawatir, Dorian," kata Vera, masih menatap Isabella dengan tatapan yang tak goyah. "Aku tahu apa yang harus aku lakukan. Tapi ingat, ini adalah pernikahan yang terikat oleh lebih dari sekadar perjanjian. Kita akan menjalani ini dengan cara kita sendiri."
Dorian menarik napas dalam-dalam, namun tidak mengucapkan kata-kata lagi. Semua yang ada dalam pikirannya kini adalah perasaan terperangkap, di antara dua wanita yang masing-masing menginginkan bagian dari dirinya-dan dia tidak tahu bagaimana caranya keluar dari situasi ini tanpa membuat semuanya semakin buruk.
Namun, satu hal yang pasti-pertempuran ini baru saja dimulai, dan tidak ada yang akan menyerah begitu saja.
Vera tahu bahwa untuk mendapatkan apa yang dia inginkan, dia harus bermain dengan lebih berani, lebih keras, dan lebih cerdas. Dorian mungkin tidak melihatnya sebagai pasangan sejati, tetapi dia tidak akan membiarkan dirinya dilupakan begitu saja. Dia akan berjuang, bahkan jika itu berarti dia harus mengorbankan lebih banyak dari yang dia kira.
Malam itu, di dalam kediaman keluarga Ashford yang megah, keheningan bukanlah ketenangan, melainkan tanda sebelum badai. Vera berdiri di depan cermin besar di dalam kamar yang kini menjadi miliknya-kamar yang dulunya tidak pernah ia bayangkan akan ia tinggali, apalagi sebagai istri dari Dorian Ashford.
Tangannya menyusuri permukaan meja rias dengan tatapan kosong. Gaun malam sutra yang membalut tubuhnya terasa lebih seperti jaring daripada pakaian yang nyaman. Sejak malam pernikahan mereka, ia tahu bahwa hubungan ini hanyalah permainan politik, sebuah sandiwara yang harus ia jalani untuk bertahan. Namun, semakin hari, semakin sulit baginya untuk mengabaikan fakta bahwa ia terjebak di antara Dorian dan wanita lain yang merasa lebih berhak atas dirinya.
Ketukan di pintu menggema di dalam ruangan, menghentikan lamunannya.
"Masuk," kata Vera tanpa berpaling.
Pintu terbuka, dan di baliknya berdiri Dorian. Dengan setelan jas hitam yang rapi, wajahnya tetap dingin seperti biasa. Sorot matanya menyelidik, seolah-olah ia sedang mencoba memahami pikirannya.
"Kau belum tidur?" tanyanya.
Vera tersenyum sinis melalui pantulan cermin. "Apa aku seharusnya tidur nyenyak setelah pertunjukan tadi?"
Dorian menghela napas panjang, lalu melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya. Ia tidak langsung menjawab, hanya berdiri di sana, menatap punggung Vera.
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan Isabella," katanya akhirnya, nadanya terdengar seperti janji yang rapuh.
Vera berbalik, menatapnya dengan tatapan tajam. "Aku tidak mengkhawatirkannya," katanya pelan, tapi penuh penekanan. "Aku hanya ingin tahu satu hal, Dorian-sampai kapan aku harus bermain dalam permainan ini?"
Dorian mendekat, tapi tidak cukup dekat untuk membuatnya terasa intim. Ia mengamati wajah Vera, seolah sedang menimbang kata-katanya. "Ini bukan hanya tentang kita, Vera," katanya akhirnya. "Kita punya kewajiban."
Kewajiban. Kata itu lagi. Seolah-olah perasaan mereka tidak pernah dihitung dalam persamaan ini.
"Dan bagaimana denganmu?" Vera bertanya, suaranya lebih lembut kali ini. "Apa yang sebenarnya kau inginkan?"
Dorian tidak menjawab. Tatapannya tetap pada Vera, tapi matanya menggelap, seolah ada sesuatu yang ingin ia sembunyikan.
"Kau tidak perlu mengetahuinya," jawabnya akhirnya, sebelum berbalik.
Vera menggigit bibirnya, menahan emosi yang bergolak di dadanya. Ia tidak tahu apa yang lebih menyakitkan-kenyataan bahwa Dorian tidak mencintainya, atau kenyataan bahwa ia mulai menginginkan pria yang seharusnya ia benci.
Saat Dorian melangkah pergi, Vera tahu bahwa malam ini hanyalah awal dari perang yang lebih besar. Jika ia ingin bertahan, ia harus menemukan cara untuk mengendalikan situasi.
Dan kali ini, ia tidak akan bermain sebagai korban.
Ia akan menjadi lawan yang tak bisa diabaikan.