Setelah mendapatkan ancaman besar dari beberapa penagih hutang itu, serta kabar buruk mengenai keadaan ibunya, Zio terpaksa kembali menuju restoran hotel tempat ia bekerja dan berniat menemui Vinson—atasannya. Langkah Zio terasa berat dan tatapan matanya begitu kosong penuh kepasrahan.
Ia membuka pintu ruangan, dan langsung disambut hangat oleh Vinson yang sudah menunggunya.
“Baru tiga jam kamu menolak dan pergi gitu aja. Lalu sekarang kamu datang lagi dengan ekspresi kayak mayat hidup gitu.” Vinson terkekeh. “Apa kamu mempertimbangkan sesuatu?”
Zio menatap lurus dan datar. Sorot matanya terlihat lelah dan pasrah. “Saya siap untuk pekerjaan besok malam.”
Vinson menaikkan kedua alis kemudian tertawa puas. Ia berdiri dan berjalan ke arah Zio. “Bagus! Ini baru namanya lelaki tangguh! Yakinlah, Zio. Kamu pasti akan mendapatkan keuntungan besar. Langkahmu tidak salah!”
Zio hanya terdiam. Dari sekian banyak usahanya, hanya ini pilihan terakhir yang dapat ia lakukan dalam keadaan yang mendesak seperti ini.
“Tapi satu syarat!” Ucapan Zio membuat tawa Vinson terhenti.
“Apa itu?”
“Aku hanya ingin melakukannya malam itu saja. Hanya satu malam.” Zio menatap lantai dengan hati yang membeku.
Lengang. Vinson hanya mengangguk dengan bibir yang mencebik. Seolah meremehkan permintaan Zio yang menurutnya tidak mungkin.
“Baiklah. Aku hanya sebagai perantara saja sebetulnya. Sisanya ... kamu bisa bicarakan lagi sama pelangganmu besok malam. Good luck! Jangan sampai telat. Dan aku sarankan, lebih baik kamu segarkan diri dulu sebelum bertempur besok!” ujar Vinsen seraya berbisik. “Nge-gym dulu lah. Biar makin maco!!”
Zio menarik napas mendengarnya. Rasanya sangat muak dan enggan untuk membayangkan.
***
Waktu begitu cepat berputar. Hingga 24 jam berlalu dan kini tiba saatnya dia harus menjalankan tugas yang sangat berat.
Langkahnya terasa melayang di koridor hotel itu. Dengan hati yang berat ia membuka pintu kamar dan memasukinya. Kamar yang luas dan sudah di hias sedemikian rupa selayaknya perayaan bulan madu.
Zio tersenyum miris melihatnya. Lelaki tampan itu menatap langit malam dari balik jendela besar di kamar hotel mewah ini. Ada semburat pantulan dirinya dalam jendela itu, menatap miris dan iba pada dirinya sendiri yang sebentar lagi harus menyerahkan seluruhnya pada seseorang yang tak ia kenal. Bahkan, dalam benaknya mungkin saja orang itu memiliki rupa yang buruk dan jauh dari kata sempurna.
Zio memejamkan mata dan menguatkan hatinya. “Hanya satu malam demi uang. Aku bisa melaluinya. Ah, kalau saja tamuku itu gadis perawan, mungkin akan lebih menyenangkan.”
Zio terkekeh sendiri. Berusaha menghibur hatinya.
“Tidak peduli seperti apa rupa wanita peot itu! Yang jelas, aku harus memuaskannya dan memeras dia untuk bisa memberikan imbalan yang lebih!”
Meskipun ia belum berpengalaman dalam dunia bercinta dan seks. Tetapi ia sudah cukup dewasa untuk mengetahui bagaimana cara bermainnya. Ia pun pernah melihat sebuah adegan dewasa dalam film atau pun video 21+. Pernah juga ia membayangkan tidur dengan seorang wanita, tetapi tentu saja dalam bayangan itu adalah wanita yang cantik dan masih muda.
“Tapi nasibku sangat buruk. Tidak seperti dalam mimpi yang bisa bercinta dengan wanita spek bidadari. Ah, kasihan sekali aku ini!” Zio membanting tubuh di atas kasur yang bertabur kelopak mawar merah.
Zio semakin maskulin dan seksi dengan setelan kemeja putih berbahan lembut yang kancingnya sengaja terbuka hingga bagian dada. Wanita mana pun pasti akan tergoyahkan melihatnya. Ia sudah pasrah saat melihat waktu semakin mendekati detik-detik kedatangan wanita itu.
Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Zio tak perlu repot-repot membukakan pintu itu, karena katanya sang wanita juga mempunyai akses khusus dengan kamar itu. Entah bagaimana caranya Zio tidak peduli dan hanya mempersiapkan diri dengan tugasnya malam ini.
“Selamat malam.” Suara wanita itu terdengar lembut dan manis. Sementara Zio sengaja memunggungi dan berdiri menghadap jendela kaca besar. Belagak sok jual mahal.
‘Ini dia. Wanita peot itu sudah tiba. Tapi ... suaranya terdengar hangat sekali.’
“Kamu ... Zionathan, kan?” Wanita itu kembali bersuara, dan suara derap langkah sepatunya semakin mendekat ke arah Zio.
“Ya.” Zio menjawab singkat.
“Baik. Sekarang berbalik badanlah. Apa seperti ini caranya menyambut tamu istimewamu?” kata wanita itu agak tegas.
Zio membuang napas dan mendelik. “Aku memang tidak tau caranya. Karena memang ini pengalaman pertama sekaligus terakhir untukku!”
Wanita itu tertawa. Kemudian Zio pun akhirnya berbalik badan dan bersiap melihat bagaimana rupa dari wanita yang akan ia tiduri malam ini.
“Kau ....” Zio menelan ludah dengan mata yang melebar saat melihat wanita itu.
“Kenapa?”
“A-apa kamu tamuku?” Zio menatap heran dan sangat tercengang.
Next ...
“Iya.”
“Tapi ... bukankah harusnya kamu itu ....”
“Kenapa kamu terkejut sekali? Apa kamu sudah membayangkan yang tidak-tidak tentang aku?” tanya wanita itu.
Zio seperti terpaku. Karena yang ada di hadapannya saat ini bukanlah wanita tua dan jelek seperti dalam benaknya. Wanita di depannya justru sangat cantik dan masih muda.
Wanita cantik dengan dress hitam yang seksi itu berjalan semakin dekat ke arah Zio. Tatapannya begitu erotis dan menggoda.
“Perkenalkan, aku Evelyn!”
Zio masih tak mengedip menatapnya. Ia terdiam dengan lidah yang kelu.
“Hallo! apa kamu mendengar aku?” Evelyn melambaikan tangan di depan wajah Zio yang mulutnya terbuka.
“Eh, i-iya. Aku ... Zio. Zionathan.” Zio mengulurkan tangan, ia mendadak gugup.
Evelyn tersenyum dan berkata. “Ya, aku kan sudah tau nama kamu.”
“Jadi gimana, kamu bersedia melakukannya denganku?” Evelyn tanpa ragu mengalungkan tangannya di leher Zio.
Zio merinding sendiri merasakan sentuhan itu. Degup jantungnya berdetak lebih cepat. Wanita di hadapannya sungguh sangat cantik dan menggoda.
“Bagaimana dengan bayarannya?” Zio berusaha tetap pada kewarasannya. Terlebih pada tujuannya untuk mendapatkan uang malam ini.
Wanita bernama Evelyn itu tersenyum manis dan berkata, “Aku hampir lupa. Kalau kita belum membuat kesepakatan baru. Aku terlanjur terpana melihat kamu sedekat ini, Zio.”
Zio pun tersenyum tipis. Sudut bibirnya pun terlihat bergetar.
“Apa yang biasanya kamu lakukan pertama kali dengan pacarmu di kamar seperti ini?” Evelyn kembali bersuara. Melontarkan pertanyaan yang agak aneh menurut Zio.
“Aku tidak pernah melakukannya. Dan, aku tidak punya pacar.” Zio berujar serius dan lugas.
Evelyn mengangkat kedua alis. Sedetik berikutnya ia tertawa lepas. “Sungguh? Kamu tidak pernah melakukannya?”
Zio hanya mengangguk kecil dan terus menatap lurus wanita cantik di depannya itu.
“Kamu polos sekali. Tapi wajahmu terkesan seperti pemain kelas kakap. Mau aku ajari cara bermainnya?” Evelyn kembali meledeknya. Namun, bukan tanpa alasan dia mengatakan hal itu. Karena memang wajah Zio terlihat sangat tampan dan menggoda, hanya saja Zio bukan lelaki liar seperti yang Evelyn bayangkan.
Sial. Aku dikatai player. Zio menggerutu sendiri dalam hati. “Iya. Para gadis memang sering mengatakan itu padaku. Tapi aku juga tidak terlalu bodoh soal itu!”
“Wow. Sudah aku duga, fans wanitamu pasti banyak. Aku senang sekali karena sudah mendapatkan kesempatan besar ini untuk bisa menikmati malam bersamamu, Zio.” Evelyn tersenyum sensual.
Zio pun tersenyum manis dan berkata, “Aku juga tidak menyangka, ternyata kamu lebih muda dan cantik dari yang aku bayangkan.”
“Jangan katakan kalau kamu membayangkan aku seperti tante-tante girang kesepian?” kekeh Evelyn, membuat Zio pun menunduk dan menyembunyikan tawanya.
“Dugaanmu benar. Karena … informasi yang aku dapatkan memang begitu.” Zio tertawa getir.
“Oh ya? Apa kamu sudah memasang peraturan dalam bermain nanti?” tanya Evelyn sembari berjalan menuju meja dan menuangkan sebuah wine.
“Peraturan? Aku malah baru tahu kalau harus membuat peraturan.” Zio mengernyitkan dahi.
Evelyn meneguk segelas wine dan tersenyum lebar menatap betapa lugunya lelaki yang ia pesan malam ini.
“Baiklah. Kalau kamu tidak punya peraturan, biar aku saja yang memberimu peraturan. Malam ini, aku tidak ingin menggunakan pengaman apa pun!” seru Evelyn dengan serius.
Zio mengangkat wajah dan menatap serius pada Evelyn. “Bagaimana jika kamu hamil?”
Evelyn tertawa kecil. “Pikiranmu cukup jauh juga ya, handsome!”
“Karena tugasku hanya malam ini saja. Aku tidak mau meninggalkan jejak apa pun!” balas Zio. Itu membuat Evelyn malah semakin tertarik padanya.
Evelyn kembali melangkah ke arah Zio yang masih mematung di dekat jendela kaca besar, yang memperlihatkan pemandangan gemerlap lampu kota dari lantai 5 hotel berbintang itu. Evelyn memberikan wine dalam gelas untuk dinikmati juga oleh Zio.
“Kamu sangat membutuhkan uang bukan?” tanya Evelyn yang bersandar santai di sofa dekat jendela.
Zio menatap minuman merah dalam gelasnya. Ekspresinya datar dan teringat dengan masalah hidupnya.
“Ya. Jadi, bagaimana dengan bayarannya? Kita belum membahas hal itu.”
“Berapa yang sedang kamu butuhkan?” tanya Evelyn dengan santai.
Zio terdiam. Apa harus dia mengatakan jumlah yang sedang ia butuhkan? tentu saja sangat banyak. Hatinya mendadak resah, cemas kalau saja permintaannya tak dapat dikabulkan. Apalagi ini adalah pengalaman pertamanya.
“Lima belas ribu dollar.” Zio menatap jauh dan kosong. Ia benar-benar sudah pasrah dan lelah. Pantas saja para penagih hutang itu gencar sekali mengejarnya, karena hutang yang harus dibayarkan cukup besar. Hutangnya setara dengan hampir tiga ratus juta rupiah.
Sebenarnya jumlah segitu adalah akumulasi dari seluruh kebutuhan yang mendesak hidupnya. Hutang sang ayah, hutang pada atasan, juga biaya pengobatan ibunya di rumah sakit. Sekaligus biaya untuknya melanjutkan kuliah yang tinggal setahap lagi.
“Woah. Itu hampir 10 kali lipat dari imbalanmu malam ini. Harga yang sangat mahal untuk aku bayar. Tapi, apakah lelaki seperti kamu layak untuk mendapatkan sebanyak itu?” tantang Evelyn.
“Aku bisa melakukan apa saja yang kamu inginkan.” Zio berujar santai tapi serius. Baginya sudah menyetujui hal ini saja berarti ia sudah berani mengambil resiko yang lebih jauh. Soal harga diri itu di nomor sekian. Yang penting harga yang akan ia terima bisa segera menyelesaikan problematika hidupnya.
Evelyn tersenyum tipis dan menatap lamat pria tampan itu. Ekspresinya mendadak iba. Lalu ia berjalan dan semakin dekat dengan Zio. “Aku bisa membayarmu lebih dari yang kamu butuhkan. Asalkan satu syarat ini dapat kamu penuhi dengan baik. Yaitu, hamili aku!”
Zio menoleh cepat dan sangat terkejut mendengarnya. Dia malah merasa salah mendengar. Suatu hal yang aneh menurutnya. Atau, wanita ini gila?
Next ...
“Ha-hamili kamu? Apa maksudnya?” Zio terheran.
“Ya. Aku mau malam ini kita mulai melakukannya. Aku bisa memberimu berkali-kali lipat dari yang kamu butuhkan, asalkan kamu bisa membuat aku hamil!” Ekspresi wajah Evelyn terlihat sangat serius.
Zio menelan ludah, masih tak habis pikir dengan permintaan Evelyn padanya.
“Oh my god. Aku akan menghamilimu, tapi setelah itu bagaimana kelanjutannya? Ah, maksudku, punya anak itu bukan hal yang mudah. Apa kamu akan meminta pertanggung jawaban juga dariku atau bagaimana?” Zio tampak tegang.
“Itu akan menjadi urusanku. Sekarang katakan, apa kamu bersedia menghamiliku?” tanya Evelyn dengan tatapan lurus.
“Kalau kamu ingin hamil, kenapa tidak menikah saja? Untuk apa malah membayar lelaki seperti aku?” Zio mulai menganalisis. Ia tidak mau dijebak atau bahkan dipermainkan.
Evelyn masih terlihat santai tapi serius. Dia melangkah menuju pembaringan dan duduk di sana sambil melipat kaki jenjangnya, hingga memperlihatkan bagian paha yang tampak putih dan mulus.
“Lakukan sekarang. Atau aku akan berubah pikiran karena kamu terlalu banyak tanya dan berpikir!” kata Evelyn yang tampaknya tak senang jika Zio terlalu banyak mempertimbangkan.
“Tapi ....” Zio jadi bingung sendiri. Di lain sisi ia sedang membutuhkan, di sisi yang lain ia takut malah akan dipermainkan.
‘Tapi wanita itu kan kaya raya, untuk apa aku takut dipermainkan olehnya, harusnya kalau aku berhasil mewujudkan keinginannya aku bisa memeras dia lebih banyak!’
“Kamu mau atau tidak, Zio? Jangan membuatku menunggu terlalu lama!” Evelyn semakin serius.
“Ba-baiklah. Aku ... akan melakukannya!” Zio menarik napas dalam dan membunuh segala rasa gugup dan gelisahnya.
Menatap baik-baik wanita cantik yang sudah bersiap di atas pembaringan bertabur kelopak mawar itu. Sangat cantik dan manis. Hasrat Zio mengatakan sangat disayangkan jika ia melewatkan kesempatan yang indah ini.
Harusnya Zio senang, karena malam ini ia akan meniduri wanita cantik dan masih muda, bukan wanita tua dan peot seperti yang ia takutkan. Ini akan menjadi pengalaman pertama yang sangat mengesankan.
Evelyn tersenyum puas dan mengulurkan satu tangan pada Zio. Pria itu melangkah seraya melepas kancing kemeja yang masih menempel. Zio pun memasang senyuman erotis khas miliknya jika tengah menebar pesona.
“Tapi, apakah kamu memiliki penyakit berbahaya?” Mendadak Zio merasa takut. Itu membuat Evelyn memutar bola mata.
“Kamu terlalu banyak bicara! Memangnya aku akan tidur dengan sembarang orang!” Evelyn berdecak lidah.
“Maaf.”
“Kemarilah. Jangan buat aku berubah pikiran!” Evelyn mengulurkan tangan.
Zio pun mendekat. Rasanya ada yang aura yang berbeda jika menatap Evelyn. Namun, entah apa, Zio tidak mengerti. Kecantikan Evelyn seperti mengalihkan dunianya.
Tangan mereka saling bertaut saat ini. Tubuh keduanya semakin dekat seiring gejolak hasrat yang meningkat. Rasanya ini bukan sedang menjual diri atau membeli jasa pemuas nafsu, melainkan seperti kedua insan yang dimabuk cinta dan siap memantik api gairah.
Evelyn menjelajah wajah tampan Zio, membelainya dengan lembut hingga pria itu menggeliat dan mengecup telapak tangannya.
Ada sengatan yang menjalar cepat ke tubuh mereka. Seperti dua insan yang baru pertama kali saling menjamah.
“Kamu tampan sekali. Anak-anakku nanti pasti akan seperti dirimu.” Evelyn tersenyum. Kata-kata itu seolah ucapan seorang istri pada suaminya. Zio melihat embun di mata Evelyn.
Zio tersentuh mendengarnya. “Aku akan berikan anak yang banyak padamu.” Dia tersenyum penuh percaya diri. Spontan mengatakan demikian.
Beberapa detik berikutnya, Zio menghempaskan seluruh pakaiannya ke lantai. Menyisakan tubuhnya yang atletis dan seksi untuk diberikan pada Evelyn.
Wanita cantik itu membulatkan matanya saat melihat kebanggaan sang pria yang berdiri tegak dan menantang. Ukurannya cukup menggiurkan sesuai ekspektasi Evelyn.
“Apa kamu suka dengan milikku ini, hem?” Zio mengusap-usap bagian intinya seolah memamerkannya pada Evelyn.
Evelyn tersenyum lebar dan menarik tubuh Zio sehingga mereka saling menempel saat ini.
Bibir mereka saling bertaut. Berawal dengan gerakan perlahan lalu kini menjadi lumatan dan lidah mereka saling bertemu untuk terus bermain lincah satu sama lain. Hawa panas mulai dirasakan keduanya.
“Bantu aku lepaskan ini semua!” Evelyn melepas dress hitamnya dibantu oleh Zio.
Pria itu pun menelan ludah lagi saat dapat melihat dengan jelas dan dekat bagaimana indahnya kemolekan tubuh Evelyn. Dada bulat dan menantang itu membuat Zio tak sabar ingin melahapnya.
“Ayo, puaskan aku!” Evelyn mendesah merdu sembari telentang di bawah kungkungan Zio.
Permainan panas mereka sudah dimulai dan berjalan mulus. Zio dengan penuh gairah melahap gundakan bulat milik Evelyn yang sangat kencang dan kenyal. Sementara satu tangan wanita itu pun tanpa ragu bermain di bagian kebanggaan milik Zio.
Beberapa menit berlalu, hingga tiba keduanya sudah sama-sama tak bisa menahan lagi. Zio membuka kaki Evelyn untuk memberikan akses pada dirinya. Lalu dengan perlahan Zio mengarahkan dan menyatukan miliknya ke dalam milik Evelyn seiring rengkuhan yang semakin intens mereka rasakan.
Zio dapat merasakan penyatuan untuk pertama kalinya. Ini sangat nikmat baginya.
“Kenapa enak sekali rasanya. Milikmu masih sangat sempit. Apa kamu masih perawan?” Zio meracau karena saking nikmatnya. Dalam pikirannya, harusnya wanita seperti Evelyn sudah sering melakukan itu dan mungkin miliknya akan lebih longgar dan tak senikmat yang saat ini ia rasakan.
‘Aneh. Dia tampak meringis kesakitan. Harusnya dia sudah terbiasa dengan ini semua. Tapi … aku malah seperti memperawani seorang gadis.’ Zio hanya bisa berkomentar dalam hati.
Next...