“Venue sudah.”
“Gaun pengantin sudah.”
“Kalung berlian sudah.”
“Mahkota sudah.”
“Sovenir sudah.”
Casandra tersenyum di kala persiapan pesta pernikahannya sudah siap sempurna. Raut wajah gadis itu memancarkan jelas kebahagiaan yang tak terkira. Pernikahan impian yang sudah dia nanti-nantikan akan sebentar lagi menjadi kenyataan.
“Nona Casandra?” Jean—asisten Casandra—melangkah menghampiri Casandra.
Casandra menatap Jean, dengan tatapan tatapan riang. “Apa Gio sudah datang?”
Jean menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. “M-maaf, Nona. Tadi Tuan Gio menelepon, beliau mengatakan kalau hari ini beliau tidak bisa datang. Beliau ada meeting penting di Cordoba.”
Casandra mendesah panjang. “Jadi maksudmu, hari ini Gio terbang ke Cordoba?”
Jean menganggukan kepalanya. “Benar, Nona. Tuan Gio hari ini melakukan penerbangan ke Cordoba.”
“Kenapa dia tidak bilang sendiri padaku?”
“Tadi Tuan Gio mengatakan ponsel Anda tidak aktif. Itu kenapa dia menelepon saya.”
Casandra berdecak kesal, lalu dia mengambil ponselnya yang ada di atas meja, dan menatap ke layar ponselnya yang ternyata mati. Sialnya, Casandra lupa mengisi daya ponsel. Terlalu sibuk mempersiapkan pernikahan, kerap membuat Casandra melupakan banyak hal. Bahkan urusan kecil pun bisa lupa.
“Baterai ponselku habis,” ucap Casandra kesal.
Jean meringis. “Nona, saya yakin Tuan Gio tidak akan lama di Cordoba.”
Casandra mengembuskan napas panjang. “Pergilah, Jean. Aku sedang tidak ingin diganggu.”
“Baik, Nona. Saya permisi.” Jean menundukkan kepalanya, lalu pamit undur diri dari hadapan Casandra.”
Casandra menghempaskan tubuhnya ke ranjang, seraya melihat cincin berlian yang berlingkar di jari manisnya. Raut wajah Casandra masih kesal. Padahal hari ini Gio sudah berjanji akan datang.
Gio Redley—calon suami Casandra itu terkenal sangat sibuk. Sebentar lagi mereka akan menikah, tapi tetap Gio disibukkan dengan pekerjaannya. Hubungan mereka sudah terjalin 7 tahun lamanya. Jika orang mendengar, pasti akan terkejut karena Casandra dan Gio memiliki hubungan cukup lama, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menikah.
Casandra menjalin hubungan dengan Gio, saat gadis itu berusia masih 16 tahun. Sedangkan Gio kala itu berusia 20 tahun. Hubungan mereka layaknya pasangan sempurna. Setiap kali Casandra marah, maka Gio selalu memiliki kesabaran extra untuk menenangkannya.
Namun, entah belakangan ini menjelang pernikahan, mereka bahkan jarang sekali bertemu. Setiap kali Casandra menelepon, pasti Gio selalu meeting dengan rekan bisnis pria itu. Sungguh, Casandra merasa jenuh karena merasa diabaikan.
“Ah! Menyebalkan sekali!” Casandra mengambil bantal besar, menyembunyikan kepalanya di bantal besar itu. Ingin berteriak menangis, tapi semua itu percuma, karena kejadian seperti ini sudah berulang kali.
***
Suara detuman musik terdengar memekak telinga. Suasana begitu riuh dan ramai. Salah satu klub malam ternama di Los Angeles, itu terkenal tak pernah sepi. Berbagai kalangan atas seperti politikus, artis, dan pengusaha ternama berkumpul di klub malam itu.
Lautan manusia berdansa dan bercumbu. Aroma tembakau dan alkohol begitu kental memenuhi malam itu. Terlihat para pelayan berpakaian sangat seksi bahkan menonjolkan jelas payudaranya seakan menantang para pria hidung belang.
Casandra terdampar di tempat ini. Dalam arti, dia ke klub malam ini di kala suasana hati yang kacau, dan amarah yang berkobar. Casandra kecewa, kesal, dan marah. Harusnya malam ini, dia berkencan dengan calon suaminya, tapi semua rencana gagal total, karena sang calon suami sibuk dengan dunianya.
“Nona, Anda jangan terlalu banyak minum. Nanti kalau Tuan Gio tahu, beliau bisa marah besar,” ucap Jean mengingatkan Casandra untuk tak banyak minum.
Casandra duduk di kursi VIP, lalu dia meminta pelayan untuk menyiapkan minuman terbaik. “Kau jangan banyak menasihatiku, Jean.” Dia mengabaikan apa yang dikatakan oleh sang asisten.
“Nona, tapi—”
Casandara menatap tajam Jean. “Kalau kau masih berisik, lebih baik kau angkat kaki dari hadapanku!”
Jean menundukkan kepalanya, tak berani melawan apa yang Casandra katakan.
Tak selang lama, pelayan datang membawakan minuman yang dipesan oleh Casandra. Tepat di kala minuman sudah terhidang, Casandra langsung menenggak vodka. Dalam keadaan emosi tinggi, yang Casandra butuhkan adalah alkohol untuk meredam kemarahan yang bergejolak.
“Jean, apa menurutmu Gio berselingkuh?” Casandra menenggak habis vodkanya, lalu dia meminta pelayan menuangkan vodka lagi ke gelasnya.
Jean nampak ingin melarang Casandra untuk minum, tapi Jean tak berani melarang. Terlebih tadi sebelumnya bosnya itu sudah memberikan ancaman padanya. Jadi, mau tak mau Jean harus mengawasi saja, tanpa sama sekali melarang.
“Nona, Anda jangan bicara seperti itu. Tuan Gio sangat mencintai Anda. Tidak mungkin beliau berselingkuh,” kata Jean meyakinkan Casandra untuk berpikir positive.
Casandra mendesah panjang. “Gio belakangan ini sibuk sekali, sampai tidak memiliki waktu untukku. Padahal sebentar lagi, aku dan dia akan menikah.”
Jean tersenyum. “Nona, Tuan Gio memiliki tanggung jawab di perusahaan keluarganya, sama seperti Anda yang juga memiliki tanggung jawab di perusahaan. Jika Anda berpikir negative, maka yang muncul hanyalah rasa cemas dan hal-hal yang belum tentu terjadi. Sekarang, menurut saya, Anda lebih baik berpikir positive.”
Casandra menenggak kembali vodka-nya, dengan raut wajah yang masih frustrasi. “Aku ingin ke toilet.”
“Nona, apa Anda ingin saya antar?” tawar Jean sopan.
“Tidak usah, aku bisa sendiri.” Casandra menolak tawaran Jean, lalu dia bangkit berdiri dan melangkah menuju ke toilet dengan langkai kaki gontai, bahkan nyaris jatuh. Beruntung, Casandra tak sampai benar-benar jatuh.
Di sisi lain, dari kejauhan seorang pria tampan dengan iris mata biru terus menatap Casandra yang tampil sangat cantik dan seksi. Mata biru pria itu berkilat, menunjukan jelas tatapan penuh arti.
***
Casandra membasuh wajahnya dengan air bersih. Kepalanya pusing akibat minum alkohol terlalu banyak. Namun, meski demikian, Casandra merasa masalahnya lepas dan tak lagi memiliki beban. Mabuk memang membuat gadis itu melupakan sejenak masalah yang hadir di hidupnya.
Casandra berbalik, hendak meninggalkan toilet, namun tiba-tiba Casandra menubruk seorang pria gagah berdiri di hadapannya. Kening Casandra mengernyit bingung. Meski mabuk, tapi Casandra tak mungkin salah masuk ke dalam toilet.
“Kau siapa? Ini toilet wanita,” kata Casandra yang mabuk berat.
Pria itu tersenyum, lalu tanpa izin dia mengangkat tubuh Casandra dan mendudukan ke atas wastafel. “You’re so hot,” bisiknya serak.
Casandra mendorong pria itu. “Kau ini siapa?” tanyanya susah payah. Kepalanya sangat pusing, membuat kesadaran benar-benar menipis.
Pria itu membelai bibir ranum Casandra, menelusuri bibir itu, hingga membuat Casandra memejamkan mata merasakan kelembutan dari jemari maskulin pria asing yang ada di hadapannya. Otak Casandra tak mampu berpikir jernih, semuanya sangat kacau membuatya hilang kendali.
“Kau sangat cantik, Casandra,” bisik pria itu serak.
“K-kau tahu namaku?” tanya Casandra dengan mata sayu.
“I know you.” Pria itu melumat lembut bibir Casandra, dan tangannya melucuti dress Casandra, hingga membuat dress yang dipakai gadis itu terjatuh menumpuk di pinggang.
Iris mata biru pria itu berkilat memuja kedua payudara Casandra yang berukuran padat menantang. Casandra tak memakai bra, membuat pria itu dengan mudah melihat langsung payudara Casandra.
“This is mine.” Pria itu membelai puting payudara Casandra.
“Ah!” erang Casandra mendapatkan sentuhan dari pria asing itu. Alkohol telah menguasainya, hingga membuat kewarasan di dalam otak Casandra hilang.
Pria itu menciumi leher Casandra, lalu mengecupi dada gadis itu, dan terakhir dia mengisap puting payudara Casandra dengan lembut. Jemarinya bermain di puting payudara Casandra yang lainnya.
“Ahh!” desah Casandra keras di kala pria asing itu mengisap puting payudaranya.
Tangan pria itu turun, menyelinap masuk ke dalam celana dalam Casandra, dan membelai titik sensitive Casandra—hingga membuat Casandra bergetar hebat dan semakin meloloskan desahan.
Pria itu menyeringai puas. “Kau basah.”
“Ahhh.” Casandra mencondongkan dadanya, memejamkan mata tak sanggup dengan sentuhan itu.
Pria itu kembali mengisap payudara Casandra bergantian, meninggalkan jejak kemerajan di sana, dan jemarinya membelai klitoris Casandra.
“Ah, ah, ah!” lenguh Casandra keras.
Pria itu terkekeh melihat Casandra tak bisa menahan diri. Dia menyudahi cumbuan itu, dan memakaikan kembali dress Casandra sambil berbisik serak, “Not now, Baby girl. One day, I’ll fuck you so hard.”
Byurrr
“Ah!” Napas Casandra hampir putus di kala ada air tersiram di wajahnya. Mata gadis itu terbuka dengan terpaksa seraya menyeka wajahnya. Sinar matahari begitu terik mengenai wajahnya, menandakan pagi telah menyapa.
Saat kesadaran Casandra sudah pulih, tatapan gadis itu menatap ayahnya yang berdiri sambil memegang baskom. What the fuck! Casandra mengumpat dalam hati. Ayahnya mengguyurnya.
“Dad? Have you lost your mind?!” seru Casandra dengan nada sedikit tinggi. “Kenapa kau menyiramku!”
Devan menatap tajam putrinya itu. “Kau yang sudah kehilangan akal sehatmu. Kau mabuk, sampai Jean kelimpungan mencarimu. Sekarang kau bangun terlambat, apa kau lupa hari ini kau memegang posisi tertinggi di perusahaan kita? Kalau media melihat kelakuanmu, mereka pasti akan menjadikanmu pemberitaan utama, Casandra!” teriaknya dengan keras.
Devan Stewart belum pernah semurka ini pada putrinya. Mendengar putri tunggalnya mabuk berat, sampai tergeletak di toilet, membuat Devan murka. Terlebih hari ini, putri tunggalnya akan resmi menggantikan posisinya di perusahaannya.
Casandra mendesah frustrasi. Dia memijat pelipisnya yang masih pusing. “Maaf, Dad. Tadi malam aku sangat kacau.”
Devan mengatur emosinya. “Jangan ulangi lagi. Tadi malam beruntung Jean menemukanmu di toilet. Bagaimana kalau sampai Jean tidak bisa menemukanmu?”
Casandra berdecak pelan. “Iya-iya, maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi.”
“Cepat, kau mandi dan beriaslah. Hari ini rapat direksi. Kau harus mampu membuktikan kau layak menjadi pewaris Stewart Group,” tukas Devan mengingatkan.
Casandra menganngguk, lalu dia menyibak selimut, dan melangkah menuju ke kamar mandi—dengan raut wajah kesal. Jika saja Casandra bukan anak tunggal, maka dia tak akan mau menggantikan posisi ayahnya. Memimpin perusahaan adalah tanggung jawab yang tidak main-main.
***
Casandra mematut cermin melihat riasannya sudah berantakan. Gadis itu segera membersihkan wajah yang nampak sangat kacau. Namun, di kala Casandra membuka dress-nya, mata Casandra melebar melihat banyak tanda kemerahan di payudaranya.
Casandra terkejut. Raut wajahnya pucat pasi. Tadi malam dia tak pergi dengan Gio, lalu siapa yang meninggalkan kissmark di tubuhnya? Jantung Casandra berpacu dengan kencang akibat rasa takut menghantamnya.
Casandra terdiam berusaha mengingat sesuatu hal. Tadi malam, dia pergi hanya berdua dengan asisten pribadinya saja. Pun Casandra tak sama sekali berkenalan dengan pria asing.
Tunggu! Tiba-tiba ingatan Casandra mengingat di kala dirinya berada di toilet, ada pria asing yang menghampirinya. Wajah Casandra semakin memucat. Ya, gadis itu mengingat jelas bahwa pria asing itu mencumbunya.
“Ah! Sialan! Bodoh sekali kau, Casandra!” Casandra menjambak rambutnya keras. Dia ingat tak sampai melakukan lebih. Hanya sekedar make out saja, tapi tetap saja dirinya terlalu murahan, sampai mengizinkan pria asing menyentuhnya.
“Berengsek!” Casandra mengumpat kasar. Dia berusaha mengingat wajah pria asing yang dia temui tadi malam, namun sialnya Casandra benar-benar tak mengingat wajah pria asing itu. Yang Casandra ingat adalah pria asing itu memiliki mata berwarna biru layaknya lautan indah.
Casandra mengusap wajahnya kasar. Beruntung, kejadian itu berada di toilet, jadi tak mungkin ada orang yang melihatnya. Sungguh, tujuan Casandra ke klub malam untuk menangkan pikiran, tapi malah terkena masalah baru.
***
Casandra melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata membelah kota Los Angeles. Pagi itu cuaca begitu cerah. Namun, Casandra tak bisa mengemudi dengan santai karena dia memiliki meeting penting dengan direksi. Jika sampai terlambat, maka pasti ayahnya akan mengamuk padanya.
Suara dering ponsel terdengar. Refleks, Casandra melihat ke layar yang ada di mobilnya tertera nama ‘Gio’ tengah menghubunginya. Casandra yang masih kesal, langsung menolak panggilan telepon itu.
Tetapi, ponsel Casandra kembali berdering. Mau tak mau, Casandra akhirnya menjawab panggilan telepon itu.
“Ada apa?!” seru Casandra kala panggilan terhubung.
“Sayang, aku tahu kau marah, karena membatalkan kencan kita, tapi aku berjanji tidak akan lama di Cordoba. Aku akan segera kembali ke Los Angeles. Nanti kita akan atur kencan ulang. Oke?” ujar Gio membujuk dari seberang sana.
“Tidak usah! Kau cari saja wanita lain di Cordoba. Aku yakin di sana banyak sekali wanita cantik.”
“Casandra, kau ini jangan berbicara konyol. Kau tahu, aku hanya mencintaimu.”
“Aku sedang di jalan. Jangan telepon aku.”
“Casandra—”
Tanpa lagi berkata, Casandra menutup panggilan telepon secara sepihak. Dengan raut wajah yang semakin kesal, Casandra kian menginjak pedal gas menambah laju kecepatan mobilnya. Namun …
Cyittttttt…
“Damn it!” umpat Casandra, dia langsung menginjak rem ketika melihat anak kecil menyebrang sembarangan, tanpa melihat rambu lalu lintas.
Brakkkk
“Ahggg!” teriak Casandra saat merasakan bagian belakang mobilnya tertabrak. Casandra mengumpat kasar, hari ini nasibnya sungguh sial. Hampir menabrak seseorang dan sekarang mobilnya di tabrak.
Casandra turun dari mobil, dia melepaskan kaca mata hitamnya dan menatap tajam mobil yang menabraknya. Tidak lama kemudian sosok pria paruh baya turun dari mobil. Dengan penuh amarah, Casandra melangkah mendekat ke arahnya.
“Apa kau bisa mengendarai mobilmu dengan baik, Tuan?” Casandra berusaha mengendalikan emosinya. Bagaimanapun di hadapannya ini adalah pria yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengan ayahnya.
“Nona, maaf tapi Nona yang mengendari mobil dengan kecepatan tinggi. Lalu Nona juga berhenti mendadak,” kata pria paruh baya itu yang berusaha membela dirinya.
“Tapi kau bisa menginjak remmu jika ada mobil di depanmu yang berhenti mendadak!” seru Casandra kesal. “Dan aku juga tidak mungkin rem mendadak jika tidak ada anak kecil yang menyebrang sembarangan!” Casandra kembali menjelaskan dengan nada yang emosi.
“Ada apa ini?” Suara berat terdengar dari arah belakang.
Casandra mengalihkan pandangannya menatap sosok pria yang terbalut jas formal. Pria yang sangat tampan dengan mata berwarna biru yang begitu indah. Tunggu! Raut wajah Casandra berubah di kala melihat sepasang iris mata biru dari pria asing yang ada di hadapannya.
“K-kau—” Wajah Casandra menegang panik.
Pria itu tersenyum penuh arti melihat kepanikan di wajah Casandra, lalu dia menoleh menatap sang sopir. “Jelaskan siapa yang salah, Cody?”
“Tuan Michael, maaf, Tuan. Tapi Nona ini yang tadi berhenti mendadak hingga saya tidak sengaja menbarak mobil belakang Nona ini,” jelas Cody seraya melirik ke arah Casandra.
Pria bernama Michael itu kembali menatap Casandra. “Aku lihat kau mengemudi dengan kecepatan penuh, lalu kau menginjak rem mendadak. Jika kau tidak bisa mengemudi, lebih baik jangan mengemudi.”
Casandra tak terima dengan ucapan pria di hadapannya itu. “Hey! Jaga bicaramu! Aku sudah sering mengemudi! Tadi, aku menginjak rem mendadak, karena ada anak kecil yang menyebrang sembarangan tanpa melihat rambu lalu lintas! Kau salahkan saja anak kecil itu, jangan menyalahkanku.”
Selama mengomel, jantung Casandra berpacu kencang. Manik mata biru milik pria asing di hadapannya itu, mengingatkannya akan pria asing yang dia temui tadi malam. Tidak-tidak! Pemilik mata biru di dunia ini cukup banyak. Tidak hanya satu saja. Casandra yakin, pria asing yang ditemuinya tadi malam, pasti sudah ditelan bumi.
Michael tersenyum sinis. “Anak kecil yang kau salahkan sudah tidak ada, Nona.”
Casandra membuang napas kasar. “Sudahlah, aku tidak mau berdebat denganmu. Berikan saja kartu namamu. Aku akan meminta asistenku mengganti rugi kerusakan mobilmu itu!” Casandra tak mau ambil pusing, lebih baik dia mengganti rugi saja agar terbebas dari masalah.
Michael melangkah mendekat, menatap dalam iris mata cokelat gelap Casandra. Tampak wajah Casandra menjadi gugup di kala Michael mendekat. Aroma parfume citrus mahal menyeruak ke indra penciuman Casandra.
“Aku tidak membutuhkan uangmu.” Michael menundukan kepalanya, mensejajarkan ke wajah Casandra. “Aku menegurmu, karena mengingatkanmu untuk mengemudi dengan benar.”
Casandra menelan saliva-nya susah payah, berusaha mengatasi kegugupannya. Manik mata Casandra kini menajam menatap Michael. “Aku tahu bagaimana cara mengemudi! Tidak usah mengajariku! Maaf, aku harus pergi. Aku tidak memiliki waktu berbicara dengan pria menyebalkan sepertimu!” Casandra mendorong dada Michael, lalu dia masuk ke dalam mobilnya dengan raut wajah yang semakin kesal.
Michael tersenyum tipis saat melihat Casandra meninggalkannya dengan penuh emosi. Rupanya wanita itu memiliki tingkat emosi yang cukup tinggi.
“Tuan, kenapa Tuan membuat Nona Casandra marah?” Cody bertanya dengan hati-hati.
Micahel menyeringai puas. “She’s looking so hot, when she’s mad.”
Michael duduk di kursi kebesarannya, seraya mengetuk-ngetuk meja kerjanya dengan jemari kokohnya. Sepasang iris mata biru Michael menajam menatap lurus ke depan, dengan jutaan hal ada di dalam benaknya.
Seringai tipis di wajah Michael terlukis. Tampak kepuasan di wajahnya muncul seakan dia telah memiliki sesuatu rencana. Sebuah rencana terpendam yang sejak lama pria itu ingin jalankan.
Suara ketukan pintu terdengar. Refleks, Michael mengalihkan pandangannya pada sumber suara itu, dan langsung meminta orang yang mengetuk pintu untuk masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Tuan Michael,” sapa Erlan—asisten Michael—melangkah mendekat pada Michael.
Michael menatap dingin asistennya itu. “Ada apa, Erlan?”
Erlan terdiam sebentar, dengan raut wajah serius. “Tuan, rencana yang Anda inginkan sudah berjalan.”
Sudut bibir Michael terangkat, membentuk seringai kejam. Iris mata birunya menujukkan jelas kepuasan seperti menang dalam permainan. “Good, mulai besok aku bisa bersenang-senang.”
Lalu, tatapan Michael teralih pada sebuah foto gadis cantik dengan rambut cokelat tebal di ikat ke atas. Kulit putih layaknya porselen. Tubuh yang indah dan seksi. Semua yang ada pada gadis itu sempurna.
‘See you, Baby Girl,’ batin Micahel dengan seringai di wajahnya.
***
“Ck! Kenapa para pria tua itu menyebalkan sekali?” Casandra menghempaskan tubuhnya ke kursi kebesarannya. Raut wajah gadis itu nampak kesal dan marah setelah selesai meeting dengan jajaran para direksi.
Hari ini adalah hari pertama Casandra memegang alih Stewar Group. Well, tentu tak sepenuhnya, karena Devan, ayahnya masih kerap mengawasi Casandra. Di usia yang masih menginjak 23 tahun, sebenarnya Casandra belum siap memegang posisi tinggi di perusahaan keluarganya ini, namun apa boleh buat jika sang ayah sudah mengambil keputusan. Mau tak mau Casandra harus menurut, daripada terkena masalah baru.
Jean meringis mendengar omelan Casandra. “Nona, pria tua yang Anda maksud adalah para jajaran direksi.”
Casandra menyambar wine di atas meja, dan menenggaknya. “I don’t fucking care. Mereka terlalu banyak bertanya membuat kepalaku pusing.”
“Nona, hari ini adalah hari pertama Anda di perusahaan. Wajar kalau Anda mendapatkan pertanyaan yang cukup membuat Anda tersudut,” ujar Jean berusaha menenangkan Casandra.
Casandra mendesah kasar. “Ya, kau benar. Aku—”
“Apa aku mengganggu, Nona Stewart?” seorang pria masuk ke dalam ruang kerja Casandra, menginterupsi percakapan antara Casandra dan Jean. Refleks, Casandra dan Jean mengalihkan pandangan pada sumber suara itu.
“Tuan Gio.” Jean menundukkan kepalanya menyapa Gio dengan sopan.
Gio tersenyum dan mengangguk merespon sapaan Jean.
“Tuan, Nona. Saya permisi.” Jean segera pamit undur diri dari hadapan Gio dan Casandra.
Gio melangkah mendekat pada Casandra di kala Jean sudah pergi. Tampak raut wajah Casandra dingin seperti enggan bertemu dengan Gio. Casandra sama sekali tak mengira kalau Gio akan datang.
“Untuk apa kau ke sini?” tanya Casandra dingin.
“Aku merindukanmu, Sayang.” Gio hendak memeluk Casandra, namun Casandra melengos menghindari pelukan kekasihnya itu.
Gio mengembuskan napas panjang. “Aku tahu aku salah. Aku minta maaf, tapi kemarin benar-benar mendesak. Ayahku tidak mungkin pergi ke Cordoba karena dia harus mengurus pekerjaannya di sini.”
Casandra bangkit berdiri. “Aku sudah mendengar penjelasanmu, sekarang kau bisa pergi. Aku sibuk. Jangan ganggu aku.” Nada bicara Casandra ketus kala mengatakan ini.
Gio tak peduli dengan penolakan Casandra, dia mendekat dan tetap memeluk Casandra. Beberapa kali Casandra memberontak dari pelukan Gio, namun pria itu kian mengeratkan pelukannya seakan tak mau terpisah.
“Maaf, Sayang. Aku mohon maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahanku lagi.” Gio mencium tengkuk leher Casandra. “Sebagai gantinya, malam ini aku akan mengajakmu berkencan.”
Luluh. Hati Casandra luluh di kala Gio sudah meminta maaf padanya. Gadis itu kini berbalik menghadap Gio sambil menekuk bibirnya. “Aku kesal karena kau tidak pernah mengutamakanku. Padahal sebentar lagi kita akan menikah.”
Gio menarik dagu Casandra mencium dan melumat bibir gadis itu. “Kau tentu yang utama bagiku, Sayang. Aku berjanji lain kali akan mengatur waktuku dengan baik.”
Casandra membenamkan wajahnya di dada bidang Gio. “Aku sangat mencintaimu.”
Gio tersenyum mendengar pengakuan Casandra. Pria itu menangkup kedua pipi Casandra dan memberikan kecupan bertubi-tubi. “Aku juga sangat mencintaimu. Bagaimana hari pertamamu bekerja?”
Casandra mendengkus kesal. “Sangat menyebalkan. Para direksi sering sekali memberikan pertanyaan rumit yang membuatku sakit kepala.”
Gio terkekeh melihat wajah kesal Casandra. “Jangan diambil pusing. Para direksi memang kerap mengajukan pertanyaan yang membuat kita tersudut. Nanti kau pun mulai terbiasa. Sekarang lebih baik kita makan siang bersama. Kau mau, kan?”
Casandra mengangguk dan langsung memeluk lengan Gio. Berikutnya, gadis itu melangkah keluar dari ruang kerjanya bersama dengan sang kekasih. Terlihat raut wajah Casandra sudah tak lagi kesal. Malah sekarang, Casandra begitu mesra dengan kekasihnya itu.
***
Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Casandra melambaikan tangan ke arah mobil Gio yang kini mulai meninggakan perusahaannya. Sang kekasih tak bisa terlalu lama berada di sisinya, karena sang kekasih harus kembali bekerja. Namun, meski demikian Casandra bahagia karena malam ini dirinya akan berkencan dengan sang pujaan hati.
“Nona Casandra?” Jean melangkah menghampiri Casandra yang ada di lobby, dengan langkah begitu terburu-buru.
Casandra mengalihkan pandangannya, menatap Jean. “Ada apa, Jen?” tanyanya.
“Nona, saya baru saja mendapatkan informasi dari asisten Tuan Devan. Sore ini Anda memiliki meeting dengan pemilik Yates Group,” jawab Jean memberi tahu.
“Yates Group?” sebelah alis Casandra terangkat, menatap bingung Jean.
Jean mengangguk. “Benar, Nona. Meeting ini sangat penting, karena Yates Group akan menjadi investor terbesar di perusahaan kita.”
Casandra berdecak pelan. “Apa harus aku?”
Jean menggaruk tengkuk lehernya tak gatal. “Anda sekarang sudah memiliki posisi penting di Stewart Group. Jadi memang harus Anda yang menemui para investor.”
Casandra mendengkus tak suka. “Padahal hari ini aku ingin pulang lebih awal.”
“Nona, meeting ini tidak lama. Setelah Anda meeting, Anda bisa langsung pulang,” ujar Jean berusaha membujuk Casandra.
“Baiklah. Aku berangkat sekarang. Tapi aku harus ke ruang kerjaku untuk mengambil tas dan kunci mobilku,” jawab Casandra penuh terpaksa.
Jean menundukan kepalanya, di kala Casandra melangkah pergi.
Casandra mengambil tas, ponsel, dan kunci mobilnya yang ada di atas meja, dan segera menuju mobilnya. Sebenarnya, Casandra ingin pulang cepat agar bisa memilih gaun yang tepat untuk dipakainya malam ini, tapi karena dirinya memiliki meeting dengan pemilik Yates Group, maka mau tak mau Casandra harus menghadiri meeting lebih dulu.
Di perjalanan, Casandra terjebak macet karena ada kecelakaan lalu lintas di depan. Raut wajah Casandra berubah menjadi kesal. Dia sudah terlambat, tapi dia tak bisa berbuat apa pun, karena mobilnya terjebak macet di tol.
“Ck! Kenapa polisi lambat sekali?” gerutu Casandra kesal.
Casandra memukul stir mobilnya, dan berusaha mengatasi rasa kesalnya. Perlahan-lahan, mobil di depan Casandra sudah mulai bergerak maju. Casandra sedikit lega. Paling tidak dia tak hanya berdiam di tengah jalan.
Setibanya di Yates Group, Casandra masuk ke dalam perusahaan megah itu dan menuju ke ruang meeting. Sebelumnya resepsionis sudah mengizinkannya masuk setelah dirinya memperkenalkan diri.
“Oh, God. Semoga pemilik Yates Group bukan pria tua. Aku sudah bosan sekali melihat pria tua,” gumam Casandra pelan di kala dia keluar dari pintu lift—dan segera menuju ke ruang meeting.
“Maaf, aku terlambat—”” Casandra melangkah masuk ke dalam ruang meeting, namun tiba-tiba raut wajah Casandra terkejut melihat sosok pria yang duduk di sana. Iris mata biru pria itu membuat seluruh tubuh Casandra membeku dan tak bisa bergerak sedikit pun.