"Bagas! Kamu masih saja melamun? Kerjaan kamu udah selesai belum? Ini sudah jam makan siang tau," ucap Doni salah seorang karyawan yang bekerja sebagai staf yang sama dengan Bagas.
" Eh,iya! Udah kok, sedikit lagi ini selesai. Ternyata udah siang aja," ucap Bagas.
" Makanya jangan suka melamun,apa sih yang bikin Lo itu bisa melamun dari tadi? Penasaran gue," tanya Doni.
" Ah, bukan apa-apa sih. Tapi, cukup mengganggu pikiran gue selama bekerja. Jadinya,gue gak konsen gini,malah kena tegur lagi sama bos, apes banget gue rasanya," umpat Bagas ketika dia mengingat tadi bosnya sampai menegur beberapa kali. Ketika dia asik melamun.
" Yaudah sih,makan yuk."ajak Doni
" Bentar, gue beresin ini dulu ya," ucap Bagas sambil merapikan meja kerjanya tersebut dan mengikuti Doni keluar ke kantin yang ada di kantor tersebut.
***
Setelah merapikan belanjaan yang dibelinya tadi, Heni langsung membuat makan siang untuknya dan Sofia.
Dia memang selalu telaten kalau masalah pekerjaan rumah,semua nya di kerjaan sendiri dari dulu. Karena menurutnya semua itu akan terasa lebih nikmat dan puas jika dia yang turun tangan langsung.
Apalagi selama menikah dengan suaminya,dia harus berhenti menjadi wanita Karir sesuai keinginan suaminya tersebut,jadilah menjadi ibu rumah tangga pilihan satu-satunya yang harus diterima oleh Heni.
Hidup berkecukupan, membuat Heni menghabiskan waktunya dengan memanjakan diri dengan berbagai kegiatan selain menjadi ibu rumah tangga. Dia aktif sebagai panitia yayasan sosial,dan selalu saja memperhatikan penampilan nya itu.
Dia selalu rajin merawat diri di usianya sekarang,bahkan dia selalu ikut kelas aerobik agar penampilannya selalu awet muda,ke salon adalah aktivitas lain yang rutin dilakukan Heni. Itu semua atas persetujuan suaminya,karena begitulah caranya untuk membuat Heni selalu merasa ada kegiatan dan sesekali dia meminta Heni untuk tidak terlalu sibuk,Karena padat aktivitas yang dilakukan Heni selama ini.
Hari ini Heni memasak makanan kesukaan putri kesayangannya itu, semur ayam dan lengkap dengan salad buah kesukaan Sofia. Memang begitulah Heni selalu menyenangkan putrinya tersebut,apalagi setelah sekian lama dia berpisah dengan Sofia, makanya dia bersemangat sekali memasak untuk Sofia.
Setelah hampir 1 jam lamanya dia berkutat di dapur, akhirnya semua makanan sudah terhidang dengan sempurna di atas meja, Heni langsung berjalan ke arah kamar putrinya tersebut,untuk mengajak nya makan siang bersama.
Tok….tok...tok..
"Sofia, sayang? Kita makan dulu ya? Mama tunggu kamu di meja makan sekarang," ucap Heni.
" Iya, Mam. Bentar lagi Sofia turun,ok!" Teriak Sofia dari dalam kamarnya.
Heni yang mendengar suara putrinya tersebut, tersenyum melihat kelakuan Sofia yang tidak pernah berubah dari dulu. Dia masih saja suka berteriak dan paling malas buka pintu.
Heni pun langsung berlalu dari kamar putrinya tersebut,dan memutuskan untuk menunggu putri kesayangannya di meja makan saja.
Melihat Sofia sudah berjalan turun dari kamarnya, Heni menyunggingkan senyum dan segera menyiapkan makanan untuk putri semata wayangnya itu.
" Hay,sayang. Yuk makan, Mama sudah menyiapkan makanan kesukaan kamu ini,kamu suka gak?" Tanya Heni pada Sofia.
" Hay mam, wah,ini semua makanan kesukaan aku mam, Mama gecep banget ya, bisa masakin semua masakan kesukaan aku secepat itu,kenapa Mama gak bangunin Sofia aja sih,mam?" Sesal Sofia yang melihat sebanyak itu menu kesukaan nya itu sudah tertata rapi di meja makan,dan siap untuk segera di santap. Membuat cacing dalam perut nya meronta ingin di isi dengan semua makanan itu.
" Gak papa sayang, kan kamu capek udah nemenin mama tadi belanja, jadi ,Mama gak tega buat bangunin kamu. Lagian kamu tau sendiri kan, kalau Mama gak bakalan pernah bisa duduk diam begitu saja di rumah. Apalagi sekarang putri kesayangan Mama sudah pulang,jadi gak ada alasan buat Mama gak masakin makanan favorit anak Mama ini," ucap Heni pada Sofia.
" I love you more,mom. Aku sayang banget sama Mama,muach," kecupan sayang langsung mendarat di pipi Heni.
" Ayo, makan! Mama masakin semuanya dan Mama harap kamu bisa menghabiskan semua menu ini dengan baik,sudah bertahun tahun kamu tidak memakan makanan masakan mama,bukan?" Tanya Heni sambil menggoda putrinya itu.
Sofia langsung mengambil piring dan mengambil nasi dan meletakan lauk ke dalam piring nya itu dan langsung melahap semua yang ada di atas meja.
Heni yang melihat Sofia makan dengan lahapnya hanya tertegun dan senyum-senyum sendiri melihat Sofia yang makan dengan lahapnya.
Saat sadar kalau Heni tidak ikut makan bersamanya Sofia langsung menghentikan makan nya dan melihat ke arah Heni.
" Eh,mam,kok tidak ikut makan bersama aku? Kenapa? " Tanya Sofia bingung.
" Kamu makan aja duluan,Mama sudah lama sekali tidak melihat anak Mama Makan selahap ini. Kamu tau gak mama senang banget kalau kamu masih menyukai masakan mama mu ini.
" Masakan mama gak ada lawannya ma,masakan mama tetap no 1." Jawab Sofia sambil melanjutkan kunyah nya.
Tak terima melihat Heni yang hanya diam melihat dia makan Sofia langsung mengambil nasi dan menariknya di piring Heny dan mengambilkan sepotong lauk dan menyuruh Heny juga ikut makan bersamanya.
" Ayo Mama juga harus makan kalau tidak aku juga gak akan makan" pinta Sofia.
" Kalau begitu ayo,kita lomba makan terbanyak" ajak Heny.
" Siapa takut,Mama sudah pasti kalah aku aja udah habis dua piring" jawab Sofia sambil tertawa.
Beberapa saat kemudian Sofia yang sudah makan terlalu banyak dan menyandarkan punggungnya ke bangku dan mengarahkan kepala ke atas sambil meraba-raba perutnya yang sudah kekenyangan.
" Aduh mah,Sofia udah kenyang Sofia udah gak kuat,lagian mama juga udah kalah ya" ujar Sofia.
" Iyalah mama kalah,kamu makan nya sebanyak itu" tutur Heny.
" Aku ke kamar dulu ya mah" ucap Sofia.
" Kok ke kamar?kamu mau ngapain?" Tanya Heny.
" Mau tidur mah,udah susah untuk gerak" jawab Sofia karena sudah kekenyangan makan terlalu banyak.
" Apa,! Kamu mau tidur,itu tidak baik" ujar Heny sambil mengacungkan jari telunjuknya ke kiri dan kanan.
" Emang kenapa ma" tanya Sofia.
" Itu tidak baik sof,kalau sehabis makan itu duduk dulu jangan langsung tidur." Ujar Heny.
" Iya mah" jawab Sofia dengan nada yang agak sedikit lembut.
Kemudian Heny mulai merapikan piring kotor ke belakang dan langsung mencuci piring kotor tersebut.
Saat dia kembali ke meja makan terlihat Sofia sudah tertidur di bangku tempat dia duduk makan tadi.
" Aduhh,udah di bilang gak boleh tidur di kamar,ehh malah tidur di meja makan." Bisik Heny sambil menggeleng- gelengkan kepala.
Heny langsung menghampiri dan membangunkan Sofia yang sudah tidur pulas di atas meja makan.
" Sofia,bangun nak,jangan tidur di sini"
Setelah menyelesaikan makan siang mereka, Sofia kembali ke dalam kamarnya untuk melanjutkan tidur siang yang belum selesai, dia masih sangat mengantuk dan tidak bisa begitu saja beraktivitas dalam keadaan seperti ini, badannya yang terasa begitu capek dan lemas karena baru saja tertidur Tetapi, dia harus bangun karena makan siang telah menunggu.
Tidak ingin membuat mamanya kecewa, Dia pun akhirnya duduk dan kembali masuk ke area dapur untuk makan siang bersama, bagi Hesti dan juga Sofia moment makan bersama seperti ini merupakan hal yang sangat ditunggu-tunggu, karena sudah beberapa tahun Sofia tidak pernah menemani mamanya untuk makan siang seperti yang mereka lakukan tadi.
Sofia benar-benar merasa sangat beruntung karena memiliki Mama yang begitu perhatian kepadanya, dia juga tidak ingin menyakiti hati Mamanya itu karena dia telah bersusah payah untuk menyiapkan makan siang dan menunggu momen itu dari lama.
Tetapi setelah berada di dalam kamar, mata yang tadinya tiba-tiba mengantuk sama sekali tidak mau dipejamkan, Sofia sudah berulang kali untuk mencoba memejamkan matanya itu tetapi tetap saja rasakan itu hilang begitu saja dan membuat Sofia merasa kacau karena tadinya dia ingin melanjutkan tidurnya, tetapi malah saat ini rasa kantuk itu lenyap bagai ditelan bumi.
Sofia pun memilih turun dari tempat tidur dan mencari sang mama, tetapi ketika dia sampai di bawah Dia melihat kalau mamanya sudah bersiap untuk segera pergi, Sofia menyimpulkan sendiri hal itu karena mamanya sudah berdandan dan kelihatan modis sekali di saat siang seperti ini.
"Mau ke mana Mam? Udah kece aja? "Tanya Sofia kepada mamanya.
Hesty langsung menjawab pertanyaan dari Putri tercintanya itu, "sayang kamu bikin Mama kaget, Mama mau arisan dulu sayang, biasalah, hal yang selalu Mama lakukan ketika merasa gabut dan Mama ingin merepaskan rasa lelah yang ada di diri mama, "jawab Hesti kepada Sofia.
"Mama lagi gabut? Sama nih, aku juga, padahal tadi aku ingin tidur, tetapi, sama sekali mata ini nggak mau dipejamin ketika udah sampai peristirahatan ternyamanku Mama mah enak bisa kumpul sama teman, Lalu aku mau ngapain," tanya Sofia kepada mamanya.
"Kamu maunya gimana sayang? Apakah mau ikut arisan sama mama? Palingan kamu juga akan bosan ketika melihat kumpulan para ibu-ibu yang omelannya cerewet dan pasti membuat kamu tambah merasa bosan, "ajak Hesti kepada Sofia.
"Aduh mama! Masa iya Sofia Mama ajak untuk pergi arisan bareng mama, ogah banget mah kalau begitu, nggak mungkin juga Sofia ngikut bareng dengan emak-emak yang semuanya pasti mulutnya rempong, nanti deh Sofia pikirin dulu apa yang harus setia lakuin setelah ini, mungkin Sofia akan jalan-jalan sendiri dan keliling kota aja, kan sudah lama Sofia tidak merasakan bagaimana hiruk pikuknya dunia di kota tercinta ini, "jelas Sofia kepada Hesti.
"Baiklah sayang, kalau begitu Mama pergi dulu ya, kamu hati-hati kalau kamu ingin jalan-jalan, jangan lupa kabarin Mama kalau nanti kamu sudah sampai rumah. Mama mungkin pulangnya agak malaman, biasanya kalau arisan seperti itu Mama bakal telat pulangnya, lagian kan selama ini Mama selalu kesepian tidak ada orang yang menemani Mama, makanya, mama mengusulkan kepada semua teman-teman sosialita Mama itu untuk melakukan arisan sampai malam, biar mama tidak terlalu sendirian dan ketika sampai di rumah mama sudah bisa langsung istirahat, "ucapnya.
"Arisan apa yang pulangnya sampai tengah malam nah? Nggak bosen apa lama-lama berada di luar? Hayo ngaku, mama bikin arisan apa? Jangan-jangan Mama ngelakuin arisan yang bukan-bukan ya? "Sofia terhadap mamanya.
"Hus, kamu jangan ngawur, mana mungkin mama ngelakuin arisan bodoh kayak begitu, kamu kira mama ini apaan? Udah ah sekarang lebih baik Mama pergi dulu, takutnya nanti mama kelamaan di jalan, tahu sendiri Jakarta ini macetnya minta ampun, kalau ngeladenin pertanyaan kamu mah Mama nggak jadi pergi kalau begini, "ucap Hesti sambil berjalan meninggalkan putrinya di ruang tamu.
Sofia tersenyum melihat ulah Mamanya, sudah lama sekali dia merindukan tawa seorang ibu yang selama ini tidak dapat dia rasakan ketika berada di luar negeri, bercanda dengan mamanya adalah hal yang paling dinantikan oleh Sofia dari dulu, tetapi, pertanyaannya tadi sepertinya bisa membuatnya sedikit merasa curiga dengan arisan yang dilakukan oleh mamanya dengan teman-teman sosialitanya itu, menurutnya, mana ada arisan yang dimulainya sore tapi pulaunya tengah malam, apalagi bagi dirinya yang saat ini baru pulang dari luar negeri, kehidupan yang tidak sehat sama sekali bisa dengan mudah dia temukan di luar negeri sana, karena hal itu memang dihalalkan dan tidak ada larangan buat mereka untuk melakukan sesuatu yang tidak benar.
Tetapi, dia masih mencoba untuk percaya dengan mamanya itu, tidak mungkin mama Hesti bisa berbuat hal sedekat itu sedangkan, Papa adalah orang yang benar-benar disegani di kota ini, semua orang mengenal papa dan sangat menyegani papa tanpa terkecuali, sedangkan dirinya saja yang berada di luar negeri tidak pernah mencoba untuk mencoreng nama baik Papanya, melainkan dia selalu memberikan contoh terbaik bagi seluruh mahasiswa yang ada di dalam negeri, Karena Sofia sudah berhasil untuk melanjutkan studinya ke luar negeri dan mendapatkan biaya siswa untuk kelangsungan hidupnya di sana.
Padahal dari segi ekonomi, keluarga Sofia adalah keluarga yang sangat berlimpah dengan materi, tidak pernah Sofia merasakan yang namanya kekurangan uang ataupun merasa susah di negeri orang, Tetapi, semua itu tidak dipermasalahkan oleh Sofia, dia bahkan keluar negeri untuk kuliah dengan biaya siswa yang dia miliki, rajin belajar dan juga sangat menekuni yang namanya sekolah membuat Sofia merasa wajib untuk mengenyam pendidikan dan melanjutkannya di luar negeri sana.
Bukannya Sofia tidak ingin melanjutkan kuliah di dalam negeri, Tetapi, dia merasa kalau seumpamanya Sofia akan melanjutkan kuliah di sini, ilmu yang akan didapatkan tidak sebanding dengan kalau dia melanjutkan pendidikan di luar negeri sana, keinginan Sofia itu pun didukung baik oleh papa dan juga mamanya, walaupun Sofia merupakan anak tunggal dari pasangan itu, hal itu sama sekali tidak mengganggu ataupun membuat mereka orang tuanya melarang Sofia untuk melakukan dan melanjutkan kuliahnya ke luar negeri.
Rasa kepercayaan penuh dan dukungan full diberikan oleh kedua orang tuanya agar Sofia bisa maju dan sukses di luar negeri, Karena tekad Sofia waktu itu untuk mendapatkan sekolah di luar negeri itu karena dia ingin Setelah dia nanti berada di luar negeri dan menyelesaikan studinya itu, dia langsung kembali ke Indonesia untuk mempraktekkan semua ilmu yang telah dia dapatkan dari luar dan mengembangkan semua itu di dalam negeri sendiri, menyatakan kesetaraan hidup di luar negeri dengan di sini akan Sofia lakukan dengan seluruh pengalaman dan juga ilmu yang dia miliki serta dia juga ingin memberikan yang terbaik untuk pendidikan yang ada di dalam negeri ini.
Ketika Sofia berada di luar negeri, dia lebih sering bertemu dengan papanya, walaupun dalam jangka waktu yang sebentar, karena kesibukan Sofia di saat sekolah dan juga kesibukan papanya yang hanya berada di luar negeri itu sebentar, tetapi Papa selalu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Sofia dan memberikan semua yang Sofia inginkan ketika mereka bertemu.
Sophia tidak pernah mengalami kesulitan yang berarti, apalagi semua orang yang berada di dekatnya selalu menyayangi Sofia, dia benar-benar merasa beruntung memiliki kehidupan yang tidak sama sekali, Papa dan Mama yang begitu menyayanginya dan teman-teman yang selalu mendukung Sofia di manapun Sofia mengalami kesulitan dan ketika Sofia merasa sendirian, mereka membantu Sofia agar tidak merasa kalau dirinya merasa sendiri di negeri orang.
Lebih dari itu, Sofia tetap saja merasa sangat tidak bisa lama-lama di sana, rasa rindunya kepada kedua orang tuanya dan juga tanah air membuat Sofia merasa kalau dirinya akan menyelesaikan studinya secepat mungkin dan kembali ke tanah air untuk berkumpul dengan kedua orang tuanya.