"Nanti pas acara makan-makan, kalian bagian makan paru sama ampela aja ya. Jangan makan daging yang disajikan di atas meja!" ucap Ibu mertuaku ketika aku dan Mas Ruslan sedang sibuk memasak di dapur.
"Kenapa, Bu?" tanyaku memberanikan diri.
"Takutnya nanti keluarga Dina sama Dimas tidak kebagian!" sahut ibu mertuaku.
"Lalu Danis?" tanyaku lagi. Merujuk pada putraku yang baru berusia 4 tahun.
Ibu mertuaku itu langsung melemparkan delikan masam. "Dia makan sesuai dengan apa yang kamu makanlah, Tri. Begitu aja mesti banget ditanya!" seru mertuaku kesal.
"Sama satu lagi, kalian juga jangan ikut bergabung di meja makan bersama keluarga suami dan istrinya Dina dan Dimas. Jangan malu-maluin. Kalian makan aja di dapur!" perintah ibu mertua.
Selesai mengucapkan kalimat tidak menyenangkan itu, ibu mertua langsung berbalik pergi meninggalkan dapur. Menyisakan aku dan Mas Ruslan yang hanya bisa berdiri bengong.
"Mas, kok ibu bisa tega banget gini sama kita?" Aku bertanya retoris pada Mas Ruslan, suamiku.
Faktanya aku tahu dengan sangat jelas alasan dari sikap ibu mertua yang seperti ini. Tidak lain karena di mata ibu mertua, kami hanya orang miskin. Tidak seperti Mbak Dina yang menikah dengan anak pejabat. Atau seperti Dimas yang bisa menikahi anak pengusaha kaya raya.
"Udahlah, Tri. Kita ngalah aja sama ibu. Kita makan enaknya besok aja ya," hibur Mas Ruslan seraya mengelus bahuku pelan.
"Hm," Aku berguman pelan. "Tapi kamu baik-baik aja, Mas?" tanyaku lagi sambil terus melanjutkan mengaduk gulai sapi di atas kompor.
Mas Ruslan yang bertugas mencuci peralatan masak yang segunung itu menyunggingkan senyum simpul padaku. "Hal seperti ini sudah terjadi seumur hidupku, Tri. Hatiku sudah lama mati rasa," jawab Mas Ruslan acuh tak acuh.
" ... "
Aku otomatis terdiam mendengar jawaban dari Mas Ruslan ini. Tapi memang seperti inilah kehidupan Mas Ruslan di keluarga ini. Selalu diperlakukan dengan berbeda. Jerih payah Mas Ruslan tidak pernah dihargai.
Entah apa yang membuat perlakuan bapak dan ibu mertua begitu berbeda terhadap Mas Ruslan. Aku sampai sering sekali meragukan kalau Mas Ruslan adalah anak kandung dari keluarga ini. Akan tetapi, wajah Mas Ruslan yang terlalu mirip dengan seluruh anggota keluarga ini menghentikanku dari pikiran liar.
"Mas, kamu tahu 'kan kalau aku tuh nggak suka makan paru sama ampela. Nanti aku makan pakai lauk apa dong? Kuah gulai?" tanyaku pada Mas Ruslan dengan nada merajuk. Bibirku mencebik maju satu sentimeter.
Hanya dengan membayangkan makanan itu menyentuh ujung lidahku saja sudah membuat bulu romaku meremang. Aku memang paling anti memakan organ dalam hewan seperti itu.
"Gimana kalau kita sembunyikan aja ayam gorengnya tiga biji?" bisikku dengan suara lirih hingga hanya aku dan Mas Ruslan yang bisa mendengar.
Mas Ruslan terkekeh pelan. "Nanti ketahuan ibu loh," timpal suamiku itu.
"Kita pilihnya yang paling kecil," bisikku lagi. Tidak mau menyerah.
Mas Ruslan menggeleng. "Jangan! Ibu pasti tahu kalau lauknya kurang," ucap Mas Ruslan.
Mataku seketika membola kaget mendengar penuturan Mas Ruslan ini. "Nggak mungkinlah ibu sampai segitunya," ujarku sanksi.
Mas Ruslan lantas mengangguk pelan. "Percaya deh sama, Mas. Kita cukup bersabar untuk hari ini aja. Besok Mas bawa kamu sama Danis ke tempat makan dimanapun kamu mau," bisik Mas Ruslan berusaha untuk menghiburku.
"Besok ya besok, Mas. Sekarang beda lagi. Ya kali semua biaya perjamuan ini kamu yang keluar duit, tapi cuma kebagian paru sama ampela doang!" dumelku tidak senang.
Kalian salah jika memiliki pemikiran yang sama seperti mertuaku, bahwa aku dan Mas Ruslan adalah orang miskin. Faktanya, baik aku dan Mas Ruslan itu sangat berkecukup dari segi finansial.
Di luar pekerjaan Mas Ruslan sebagai pedagang sapi, dia juga diam-diam menjadi makelar tanah. Semenjak disuruh berhenti sekolah saat kelas 2 SMA, Mas Ruslan telah berkelana dari satu desa ke desa lain untuk bekerja serabutan. Entah itu menjadi buruh panggul di pasar, menjadi kenek angkot, menjadi pelayan cafe, menjadi kasir mini market dan lain sebagainya.
Kerja keras dan ketekunan Mas Ruslan sejak dirinya masih remaja membuat Mas Ruslan dikenal oleh banyak orang di desa-desa sekitar. Banyak pula dari mereka yang menaruh simpati pada Mas Ruslan, karena di usia yang masih begitu muda, dia sudah kerja banting tulang untuk memenuhi kebutuhannya sendiri.
Karena kerja keras Mas Ruslan itu, dia seringkali diminta oleh para tetua kenalannya yang ingin menjual tanah untuk mencarikan mereka pembeli. Bonus pertama yang didapatkan setelah itulah yang membuat Mas Ruslan kemudian memiliki pemikiran menyimpang.
Dia yang juga sering kali didesak untuk membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya, mulai berpikir untuk diam-diam menyimpan uang untuk dirinya sendiri. Rupiah demi rupiah yang terkumpul kemudian diam-diam diputar dengan membuka toko grosir di kabupaten lain.
Belasan tahun kini telah berlalu sejak saat itu. Uang di dalam rekening Mas Ruslan juga semakin banyak. Sayang sekali, kami tidak bisa menggunakan uang itu dengan terang-terangan karena takut digerogoti oleh ibu dan saudara-saudaranya.
Apa Mas Ruslan pelit? Apa Mas Ruslan tidak berbakti?
Tidak juga!
Karena selain membantu biaya pendidikan kakak dan adiknya dari usaha jualan sapi yang diwariskan oleh bapak mertua, Mas Ruslan juga membantu mencukupi biaya harian di rumah ini. Bahkan rumah berlantai dua yang baru saja dibangun ini adalah hasil dari kontribusi Mas Ruslan.
"Terus maunya bagaimana, Astriku sayang?" tanya Mas Ruslan membuyarkan lamunanku. Ada binar jenaka di matanya tatkala sedang menatap wajah cantikku.
"Ya gimana kek? Nggak tahu!" Aku berseru tak berdaya.
"Gimana kalau besok Mas ajak kamu shopping?" bisik Mas Ruslan tepat di samping telingaku. "Atau bagaimana kalau kita buat adik untuk Danis?" sambung Mas Ruslan tanpa jeda.
Dengan telinga yang terasa panas karena hembusan nafasnya, aku mendorong rusuk Mas Ruslan agar memberi jarak pada tubuhku.
"Kan! Kan! Kita lagi ngomongin apa, larinya kemana!" dumelku.
Mas Ruslan hanya terkekeh pelan. Aku tahu dia berkata begitu karena ingin menceriakan suasana muram di antara kami.
"Kamu jangan khawatir, Astriku sayang. Mas udah siapin lauk istimewa buat kamu." Mas Ruslan kembali berbisik di samping telingaku.
Mataku membola lebar mendengar ucapannya. "Beneran? Apa? Dimana?" tanyaku dengan sedikit nada antusias.
"Ada di kamar. Tadi Mas diam-diam goreng udang sama nugget kesukaan kamu dan Danis!" ungkap Mas Ruslan.
"Mas! Kamu memang suami yang paling pengertian. Aku cinta kamu!" seruku sembari memberi kecupan ringan di pipi tirus Mas Ruslan.
"Dasar kamu!" Mas Ruslan menjawil hidungku dengan gemas. "Mas juga cinta sama kamu!" ucapnya.
"Ekhm!"
Di tengah kebahagiaan sederhana ini, suara deheman seseorang menginterupsi kami. Aku dan Mas Ruslan langsung memisahkan diri.
"Mesra banget pengantin lama!" sindir Mbak Dina yang entah sejak kapan memasuki dapur.
"Eh, Mbak Dina. Ada apa, Mbak?" tanyaku grogi setelah dipergoki sedang bermesraan dengan Mas Ruslan.
"Orang-orang udah dateng tuh. Pantes aja ditunggu-tunggu makanannya belum disiapin. Lagi bermesraan toh!" sindir Mbak Dina. Matanya menatap miring pada kami berdua.
"Oh ya, Mbak!" ucapku sembari diam-diam memutar mata.
"Nanti kamu jangan malu-maluin ya!" seru Mbak Dina kemudian berjalan pergi meninggalkan kami berdua, sama seperti yang dilakukan ibu mertua tadi.
"Huuu! Sok bossy!" cibirku.
Mas Ruslan menggelengkan kepala samar melihat sikap kekanakanku. "Ayo, cepat siapkan makanannya. Nanti kamu diomelin ibu lagi," ujar Mas Ruslan memperingatkan.
Kami pun bergegas menyiapkan makanan untuk para tamu. Tidak seperti Mbak Dina dan Dimas beserta ibu mertua yang telah berdandan rapi, penampilanku sendiri masih seperti pembantu dengan daster lusuh melekat di tubuh.
Aku dan Mas Ruslan sedang sibuk hilir mudik menyiapkan makanan ketika Danis bergegas menghampiri kami dengan air mata membanjir di pipinya. Anak manis itu masuk ke dapur melalui pintu belakang.
"Ibu!" panggil Danis dengan suara lirihnya yang menyedihkan.
Aku segera menghentikan pekerjaanku dan duduk berjongkok mensejajarkan tubuhku dengan putra kecilku ini.
"Danis, sayang. Kenapa nangis, Nak?" tanyaku lembut seraya menghapus air mata di pipinya yang kemerahan.
"Ibu! Kak Aldi usir Danis. Kak Aldi bilang kalau Danis pengemis!" ujar Danis melapor dari balik suara sengguk-sengguk kecilnya.
Mendengar keluhan putraku ini membuat amarah yang tak tahu darimana datangnya perlahan bergejolak di dalam hati.
"Kak Aldi bilang Danis pengemis?" Aku bertanya ulang untuk memastikan aku tidak salah dengar.
"Iya. Tadi Danis mau masuk lewat pintu depan. Tapi diusir. Katanya Danis pengemis!" seru Danis sambil menangis kian kencang.
Mas Ruslan yang berdiri di sampingku segera menyambar Danis ke dalam gendongannya.
"Nggak bener ini, Mas. Aku nggak tahan lagi. Aku harus kasih tahu Mbak Dina. Mereka bisa berlaku tidak baik sama kita. Tapi mereka tidak bisa semena-mena pada Danis!" Aku menggeram kesal. Rasa ingin melabrak Mbak Dina berkobar di dalam diriku.
"Tri~" tegur Mas Ruslan dengan nada panjang. Sorot matanya memancarkan peringatan.
"Mas!" seruku.
"Setidaknya tidak sekarang. Di luar lagi banyak orang," ujar Mas Ruslan dengan lembut.
Aku meneguk ludah dengan susah payah. Nafasku memburu naik turun masih tidak ikhlas. Namun, aku juga mengerti apa maksud Mas Ruslan. Jangan sampai kami mempermalukan diri sendiri di hadapan orang banyak.
"Cup! Cup! Anak pinter udahan nangisnya ya," hibur Mas Ruslan sembari menepuk punggung Danis dengan lembut.
Danis pun perlahan berhenti menangis, tapi suara sesenggukannya masih terdengar sesekali. Hatiku sakit mendengarnya.
"Mas, aku nggak mau begini terus. Aku nggak mau diremehkan sama keluarga kamu, lagi dan lagi," ucapku lirih.
"Apa yang mau kamu lakukan, Tri?" tanya Mas Ruslan.
"Mau berontak! Kamu ini anaknya, dan aku ini menantunya bapak dan ibu juga. Kita bukan pembantu, Mas!" seruku dengan suara menggebu-gebu.
Mas Ruslan mengangguk. "Lalu lakukan apa yang menurut kamu benar, Tri. Asal jangan sampai ibu sama bapak masuk rumah sakit aja," ujar Mas Ruslan mengingatkan.
"Jangan khawatir, Mas. Aku cuma mau kasih syok terapi sedikit aja!" pungkasku dengan senyum licik di wajah.
* * *
"Mas, ayo mandi. Habis itu dandan yang rapi," ujarku seraya menyeret Mas Ruslan ke dalam kamar.
"Kamu ngajak mandi bareng?" tanya Mas Ruslan jahil.
Aku langsung mendelik sebal, lantas Aku cubit pinggang Mas Ruslan dengan keras. Aku sedang sangat serius saat ini, tapi Mas Ruslan malah mengajak bercanda!
"Aku juga mau mandi bareng bapak sama ibu," celetuk Danis yang air matanya telah kering.
Aku kembali melemparkan delikan maut pada Mas Ruslan. Hanya saja pria tampan itu membalas tatapanku dengan wajah cengengesannya.
"Danis mandi sama bapak aja ya," ujarku.
"Kenapa?" tanya Danis dengan mulut mencebik lucu.
"Kamar mandinya nggak muat!" jawabku sekenanya sembari membantu Danis membuka bajunya.
Untungnya Danis bisa menerima alasanku ini dan tidak mengajak berdebat lebih lama. Aku pun segera mendorong Mas Ruslan yang masih menggendong Danis menuju kamar mandi.
"Jangan lama-lama mandinya!" ujarku memperingatkan.
"Iya~" jawab Mas Ruslan dengan patuh dari dalam kamar mandi.
Sementara Mas Ruslan dan Danis sedang mandi, aku sibuk membongkar lemari untuk mencari pakaian terbaik untuk kami kenakan. Aku memilih gamis berwarna dusty pink dengan jilbab berwarna senada. Sementara untuk Mas Ruslan, aku memilih sebuah kemeja batik dan celana kain. Adapun untuk Danis, aku memilih baju kaos lengan panjang berwarna biru yang masih baru.
Begitu Mas Ruslan dan Danis selesai mandi, gantian aku yang bergegas. Aku tidak mau ketinggalan acara syukuran rumah baru ini.
Tadinya aku memang berencana untuk mematuhi saja permintaan ibu mertua agar mengambil jatah lauk berupa paru dan ampela itu. Tapi apa yang dikatakan oleh anak Mbak Dina pada Danis telah membuatku berubah pikiran.
"Ayo, kita keluar!" Aku mengajak anggota keluarga kecilku ini keluar dari kamar begitu kami semua telah tampil rapi.
"Danis nggak mau keluar!" seru putraku itu begitu kami mencapai ambang pintu kamar.
"Loh, kenapa?" tanyaku.
"Nanti Danis dipanggil pengemis lagi sama Kak Aldi," ujar Danis dengan wajah merajuknya.
Aku dan Mas Ruslan saling bertukar tatapan dengan nelangsa. "Kali ini nggak akan dipanggil pengemis lagi kok. Danis kan udah rapi, udah harum, udah ganteng," ucapku merayu dengan suara super lembut.
"Em~" Danis melengos sambil memajukan bibirnya tampak enggan.
"Kalau Kak Aldi ngomong gitu lagi, nanti bapak sama ibu tegur dia!" ujar Mas Ruslan turut membujuk anak kami yang tampaknya memiliki bayangan psikologis setelah dikatai pengemis.
"Bapak beneran?" tanya Danis sedikit sanksi.
"Iya~" jawab Mas Ruslan meyakinkan.
Mendengar janji dari Mas Ruslan, akhirnya Danis setuju agar kami beranjak ke ruang tamu, tempat dimana acara syukuran sedang berlangsung. Akan tetapi, setibanya di sana, acara hampir berakhir. Beberapa tetangga yang telah kami undang bahkan ada yang sudah mulai membubarkan diri.
"Kamu kemana aja sih, Tri?!" tanya Mbak Dina saat melihat kemunculanku dan Mas Ruslan.
"Habis mandi sama ganti baju!" jawabku santai.
"Aku 'kan udah bilang buat jangan malu-maluin keluarga ini. Kamu kenapa pakai acara mandi sama ganti baju segala sih? Kalau aku nggak sigap melayani para tamu, bisa kacau acara ini!" cerocos Mbak Dina dengan gaya congkaknya.
Aku diam-diam menggulung mata dengan dramatis. "Justru kalau aku nggak mandi sama ganti baju, bisa-bisa keadaannya lebih memalukan lagi, Mbak!" Aku membalas dengan acuh tak acuh.
"Kamu tuh ya, nggak bisa banget dibilangin!" hardik Mbak Dina sambil berkacak pinggang.
Bibirku hendak terbuka untuk membalas. Namun, suara ibu mertua datang menginterupsi.
"Semua tamu sudah pergi. Sekarang tinggal giliran keluarga kita makan-makan," seloroh ibu mertua menghentikan perdebatan yang hendak terjadi antara aku dan Mbak Dina.
"Din, kamu ajak keluarga suami kamu ke halaman belakang," ujar ibu mertua pada Mbak Dina.
"Iya, Bu!" jawab Mbak Dina dengan patuh. Dia lantas melengos pergi meninggalkanku dan Mas Ruslan.
"Memalukan!" cibir ibu mertua padaku dan Mas Ruslan yang hanya berdiri diam di belakang.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, ibu mertua segera berbalik dan mengikuti langkah Mbak Dina. Aku dan Mas Ruslan saling tatap sambil mengendikkan bahu tak mengerti.
"Mas, sebentar lagi aku akan membuat keadaan menjadi lebih memalukan dari ini buat ibu. Sebaiknya kamu persiapkan hati," ujarku memberi peringatan pada Mas Ruslan.
"Jangan terlalu keras," balas Mas Ruslan memperingatkan.
Aku mendengus dingin. "Ayo ke halaman belakang!" ajakku pada Mas Ruslan.
Tanpa banyak kata-kata, kami pun menyeret tungkai masing-masing menuju halaman belakang. Tempat dimana perjamuan lain hendak diadakan.
Di halaman belakang yang lumayan luas dan cukup asri itu, sebuah meja panjang telah ditata rapi. Berbagai macam makanan hasil masakanku dan Mas Ruslan juga telah terhindang dengan megah. Para anggota keluarga dari suami Mbak Dina dan juga keluarga istri Dimas yang tidak aku kenal telah mengambil tempat duduk masing-masing.
Melihat aku yang berjalan mendekat membuat ibu mertua tampak semakin geram.
"Apa yang kamu lakukan di sini? Ibu 'kan sudah bilang kalau kalian makan terpisah di dapur aja!" geram ibu mertuaku dari balik gigi yang terkatup rapat.
Aku mendengus sinis. "Maaf, Bu. Aku sama Mas Ruslan 'kan bagian dari keluarga ini juga. Kenapa harus makan terpisah di dapur?" balasku tidak lagi sungkan melawan kata-kata mertua.
"Kalian nanti malu-maluin!"
"Aku sama Mas Ruslan udah mandi dan pakai baju yang bagus. Nggak mungkin sih keluarga suami dan istrinya Mbak Dina sama Dimas akan berpikir kalau aku sama Mas Ruslan ini malu-maluin!" timpalku tak mau kalah.
"Kamu itu ya, kalau dibilangin pasti ngeyel,"
Ibu mertuaku mendumel seraya melemparkan tatapan penuh arti pada Mas Ruslan. Mungkin beliau berharap pada Mas Ruslan agar membujukku untuk tidak membuat masalah. Sayang sekali, Mas Ruslan lebih memilih untuk berpura-pura tidak mengerti arti dari tatapan itu.
"Ibu juga jangan kebanyakan marah-marah. Kasian matanya udah mulai keriput tuh," selorohku semakin kesenangan menjawab kata-kata mertua.
Bola mata ibu Saripah seketika melebar garang menatapku. Akan tetapi, beliau tidak bisa melepaskan amarahnya dalam momen seperti ini. Alhasil, beliau hanya bisa mendengus dingin, lalu berlalu pergi untuk mengurus tamu terhormatnya.
"Sekarang apa?" bisik Mas Ruslan di samping telingaku.
Aku menatap halaman rumah yang luas dengan senyum kecil di wajah. Sikap dari keluarga Mas Ruslan pada keluarga kecilku ini terlihat jelas kalau mereka ingin mengabaikan kami.
"Mas, kamu ambil tiga kursi di dalam terus letakkan di seberang tempat duduk Dimas," bisikku pada Mas Ruslan.
Mas Ruslan lantas mengangguk patuh. Dia kemudian menurunkan Danis dari gendongan dan bergegas ke dalam rumah untuk mengambil kursi sesuai dengan permintaanku.
Setelah itu, Mas Ruslan dengan sigap mengatur kursi itu di depan Dimas yang terlihat masih lowong sesuai dengan permintaanku. Perilaku Mas Ruslan ini tentu saja segera mendapat delikan dari anggota keluarganya yang lain. Terutama sekali ibu mertua dan Mbak Dina.
"Apa lagi yang mau kamu lakukan?" desis Mbak Dina dengan matanya yang melotot penuh peringatan.
Aku hanya menatap kakak iparku itu dengan pandangan masa bodoh, lantas memilih untuk mengabaikannya. Aku masih sangat kesal karena anaknya telah memanggil anakku pengemis. Anak-anak jika tidak diajar oleh orang dewasa di sekitarnya, mana mungkin mereka akan berkata seperti itu. Mbak Dina ini pasti sering berkata yang tidak-tidak mengenai diriku di belakang punggung.
"Halo semuanya," sapaku dengan ramah pada semua orang yang telah duduk manis di meja makan.
Tanpa menunggu balasan dari mereka, aku langsung menghempaskan tubuh di kursi yang telah diatur oleh Mas Ruslan.
"Ini siapa? Bukannya dia ini pembantu di rumah ini?" celetuk suara seorang wanita yang tidak aku kenal.
Aku lantas menatap wanita cantik yang tampak angkuh itu dengan senyum lebar di wajah. "Bukan. Aku adalah menantu kedua dari keluarga ini," jawabku dengan nada formal. "Perkenalkan, namaku Astri dan ini suamiku, Mas Ruslan. Ruslandar Hadinata," lanjutku menunjuk pada suamiku dengan bangga.
" ... "
Hening,
Tidak ada seorangpun di meja panjang itu yang menanggapi ucapanku. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya senang melihat wajah mertua yang memerah menahan amarah.
"Jadi, ini adalah kakaknya Mas Dimas ya? Mas Dimas kayaknya nggak pernah cerita kalau dia punya kakak lain selain Mbak Dina," suara lembut seorang wanita yang duduk di samping Dimas memecah kesunyian yang terjadi tiba-tiba. Aku tahu wanita ini adalah istri yang baru dinikahi oleh Dimas kurang dari setahun lalu.
"Wah, nggak tahu ya kalau itu, kenapa juga Dimas nggak pernah cerita soal kakak yang sudah membangun rumah ini dan membantu dia punya gelar di belakang namanya," sindirku dengan nada acuh tak acuh.
* * *
"Astri!"
Nada peringatan yang menggema di udara kali ini meluncur dari bibir bapak mertua yang biasanya selalu diam. Namun, aku tidak gentar. Karena aku tidak merasa ada yang salah dalam ucapanku.
Jika bukan karena tuntutan untuk berbakti pada orang tua, aku dan Mas Ruslan sudah lama hengkang dari rumah ini. Dan bukannya kami tidak pernah mencoba, tapi ibu mertua berulah dan membuat kami terpaksa kembali lagi ke sini.
Tahu apa yang dilakukan ibu mertua?
Beliau mogok makan selama 2 hari dan berakhir diopname di rumah sakit. Saat kami datang menjenguk beliau kala itu, ibu langsung menuding Mas Ruslan sebagai anak durhaka.
Kami jadi tidak punya pilihan selain kembali ke rumah ini lagi. Aku masih ingat kata-kata ibu mertua waktu itu. Bahwa sampai bapak dan ibu mertua meninggal, Mas Ruslan dilarang keras untuk pergi dari sisi mereka.
Apakah karena mertua terlalu sayang pada Mas Ruslan?
Aku rasa tidak!
Aku sendiri justru berpikir kalau mertuaku ini hanya memanfaatkan kata berbakti pada orang tua untuk membelenggu kehidupan Mas Ruslan. Tapi apa yang membuat mereka melakukan hal ini? Kenapa hanya Mas Ruslan yang selalu diperlakukan dengan tidak adil? Apakah Mas Ruslan pernah melakukan kesalahan yang tak termaafkan?
Hingga kini, pertanyaanku ini belum menemukan jawaban.
"Kalau kamu ingin bergabung makan di sini, duduk diam saja di sana. Jangan bicara yang tidak-tidak!" seru Pak Ridwan selaku bapak mertuaku.
Aku menggulung mata dengan terang-terangan kemudian memutuskan untuk bungkam. Bukannya aku tidak ingin terus berdebat. Tapi untuk saat ini, aku belum merasa perlu.
"Maaf, semuanya. Mari dinikmati makanannya," ujar pak Ridwan mempersilakan tamu terhormatnya untuk mulai menyantap makanan yang telah terhindang di atas meja makan.
"Mari ... Mari ... " ujar ibu mertuaku turut mempersilakan para besannya itu.
Setelah semua orang mulai menyendok nasi mereka, aku juga tidak mau ketinggalan. Aku sendok tiga centong nasi ke atas piring Mas Ruslan, dan tiga centong nasi juga ke atas piringku.
Aku tidak membiarkan Danis makan sendiri karena takut baju barunya akan belepotan dengan makanan. Untungnya Danis juga memilih bersikap patuh dan tidak ngotot untuk makan sendiri.
"Mas Ruslan ini kerja dimana sekarang?"
Di tengah suapan sunyi semua orang, sebuah pertanyaan tiba-tiba terdengar menyapa. Aku spontan menolehkan kepala ke arah sumber suara.
Namun, sebelum aku maupun Mas Ruslan sempat menjawab pertanyaan ini, pak Ridwan telah lebih dulu membuka mulut untuk menjawab.
"Kebetulan keluarga kita punya peternakan sapi yang sudah dijalankan turun temurun. Sekarang Ruslan bertugas untuk menjalankan usaha ini," ungkap pak Ridwan.
Orang yang bertanya sebelumnya menganggukkan kepala sebagai tanda mengerti.
"Ruslan ini, lulusan mana sebelumnya?" tanya seorang pria tua yang aku ketahui sebagai ayah dari istri Dimas itu.
"Ruslan cuma lulusan SMA," jawab pak Ridwan dengan suara lirih terdengar rendah hati.
"Loh, kok cuma dia yang lulusan SMA? Dina sama Dimas bukannya lulusan S2?" tanya pria tua itu terdengar heran.
"Maklumlah, Pak Rusdi. Ruslan ini memang agak lain dari saudara-saudaranya. Dia nggak suka belajar. Makanya begitu lulus SMA, dia lebih memilih untuk membantu bapak di peternakan," pungkas ibu mertuaku.
Aku yang mendengar jawaban ini hampir menyemburkan amarah. Mas Ruslan tidak suka belajar? Bukankah mereka yang memaksa Mas Ruslan untuk berhenti sekolah demi membiayai Mbak Dina dan Dimas?
Sebelum aku sempat mengajukan protes, Mas Ruslan telah lebih dulu meremas tanganku yang ada di bawah meja. Mencegahku untuk mengucapkan sepatah katapun.
"Katanya Ruslan yang bantu membangun rumah ini dan membantu biaya kuliah Dina dan Dimas ya? Bagus juga memiliki saudara yang pengertian yang mau membantu saudaranya yang lain. Kamu hebat Ruslan!" puji Pak Rusdi.
Aku yang tidak tahu apakah pujian ini tulus atau tidak, memilih untuk melemparkan dengusan sinis. Ketika semua orang di meja ini menatap ke arahku, aku tidak terus mengatakan apapun. Hanya mengendikkan bahu dengan acuh tak acuh.
"Apa yang dibilang Papa benar. Kamu itu hebat Mas Ruslan!"
Aku kembali mengalihkan pandangan pada wanita cantik yang pertama kali membuka topik pembicaraan ini. Dialah Tatiana Rejasa, istrinya Dimas.
Melihat wanita cantik di seberang yang sedang menatap Mas Ruslan dengan mata berbinar cemerlang itu, membuat sudut mataku berkedut tak suka. Aku lantas melirik garang pada Mas Ruslan yang tampak acuh tak acuh dengan lingkungan sekitarnya.
"Hm," balas Mas Ruslan dalam gumaman singkat sebagai tanggapan atas pujian istri Dimas itu.
Sorot mataku semakin tajam tertuju ke arah Mas Ruslan. Tapi suamiku itu ternyata lebih memilih untuk kembali fokus pada makanan di piringnya, sambil sesekali menyuapi anak kami makanannya.
Pemandangan ini membuatku tentu saja sangat puas. Lantas, aku lemparkan tatapan penuh kemenangan ke arah wanita itu yang sedang tidak memperhatikan ke arahku.
'Dasar wanita kegatelan!' makiku dalam hati saat melihat tatapan wanita itu yang terpaku lurus pada Mas Ruslan.
Akan tetapi, meski hatiku merasakan kecemburuan, aku tidak dengan sengaja menegur wanita yang akrab dipanggil Tiana ini. Untungnya Tiana juga tidak terus menatap ke arah suamiku dengan pandangan lapar. Sebab, kini topik pembicaraan telah berubah arah menjadi topik tentang Dimas selaku suaminya.
"Selamat, Dim. Akhirnya kamu resmi menjadi pegawai negeri sipil juga. Kamu sudah berkerja keras!" puji Pak Rusdi pada menantunya. Senyum kebapakan tersemat di wajahnya yang tampak teduh.
"Terima kasih, Pa!" pungkas Dimas dengan senyum yang tak kalah lebar.
"Sekarang setelah kamu punya kerjaan tetap, kamu harus merawat putri saya dengan baik. Awas kalau kamu berani menyakitinya. Terutama sekali, awas kalau kamu berani selingkuh!" pungkas Pak Rusdi itu memberi peringatan pada Dimas.
"Papa jangan khawatir. Aku akan menjaga Tiana dengan baik. Aku pastikan, aku tidak akan pernah mendua!" sahut Dimas menimpali perkataan mertuanya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
"Pegang kata-kata kamu itu dengan baik!" ujar pak Rusdi mewanti-wanita.
"Iya, Pa. Jangan khawatir!" balas Dimas.
Di detik berikutnya, aku memilih untuk menyimak obrolan yang terdengar semakin riuh ini dengan tenang. Pembicaraan yang orang-orang ini lakukan melompat dari topik satu ke topik lainnya. Mereka semua terlihat akrab kecuali aku dan Mas Ruslan. Keberadaan kami seperti eksistensi tak kasat mata bagi mereka.
Namun, aku tidak terganggu dengan hal ini. Karena sebenarnya aku pun lebih suka menjadi pendengar. Apalagi ketika mendengar mertuaku mengeluarkan lelucon untuk membanggakan Mbak Dina serta Dimas setinggi langit. Tetapi secara tersirat menjelekkan Mas Ruslan.
Ketika waktu menjelang maghrib, para tamu ini mulai berpamitan satu demi satu. Begitu semua orang telah pergi, aku dan Mas Ruslan masih dengan baik hatinya membereskan piring-piring kotor ini.
"Tri..." panggil Mbak Dina dari arah belakang.
Aku menghentikan sementara kegiatan mencuci piringku sebelum kemudian berbalik menghadap kepada Mbak Dina.
PLAAAKK,
Tamparan renyah tiba-tiba mendarat begitu saja di pipiku.
* * *