Bab 2

Andre membuka perlahan kamar ayahnya yang tak dikunci, sedangkan ayahnya sudah tidur di sofa ruang tamu karena tidak bisa tidur karena suara berisik ibu yang sedari tadi mengganggu. Entah apa yang terjadi pada ibunya, perlahan ia menuju ibunya yang sedang berusaha mengucapkan sesuatu namun terasa sangat sulit.

Ibu Melati yang sedari tadi hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tangan yang sedikit bengkok dan mulut sumbing karena dampak dari penyakitnya yang telah mengenai syaraf, seperti sedang mengatakan sesuatu yang tak jelas karena lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.

"Eeww...eeeehh,,,," Suara ibu Andre yang tak dapat di mengerti. Andre menatap ibunya nanar, merasa tak tega karena wanita yang selama ini telah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa kini hanya bisa terbujur kaku tak berdaya diatas tempat tidurnya.

"Ada apa, Bu? Ibu haus ya, mau minum?" Tanya Andre dengan lembut sambil menyeka air mata yang mulai menetes dan membasahi permukaan pipinya. Ibunya pun hanya bisa menganggukkan kepala dengan tangan yang gemetaran.

"Sebentar ya Bu, Andre ambil dulu di dapur," Andre pun berlalu dari kamar ibunya, tapi ketika Andre melewati ruang tamu ia tak menemukan Ayahnya yang tadi sedang tidur saat Andre akan melihat ibunya. Andre berfikir mungkin Ayahnya sedang ke kamar mandi di dapur. Namun, saat ia melewati kamarnya ia melihat sang Ayah sedang ada dikamarnya, Andre yang melihat tingkah Ayahnya itu menjadi heran untuk apa sang Ayah ada dikamarnya dan seperti ingin menyingkap selimut istrinya. Saat Andre ingin menegur Ayahnya tiba-tiba sang Ayah menoleh pada Andre seperti seseorang yang terkejut melihat kedatangan Andre yang secara tiba-tiba.

"Bapak ngapain disini? Ini udah malem loh pak, bapak belum tidur juga? Bukannya tadi udah tidur di sofa kok bisa kesini?" Berbagai pertanyaan Andre lontarkan pada sang Ayah karena ia takut terjadi sesuatu pada istrinya, seperti yang dikatakan oleh Anita bahwa Ayahnya selalu menatap Anita dengan penuh nafsu. Rasa curiga mulai menyelimuti Andre, apa benar apa yang dikatakan oleh Anita tentang Ayahnya yang semakin hari semakin aneh.

"Anita teriak-teriak, Ayah jadi kebangun! Mungkin lagi mimpi jadi ingin Ayah bangunkan," ucap Ayah Andre yang begitu datar lalu melewati Andre yang masih berdiri didepan pintu tanpa penjelasan apapun lagi. Tak mau berfikir yang aneh-aneh lagi tentang Ayahnya Andre pun segera mengambil air ke dapur dan memberikannya pada ibu Melati.

Selesai memberikan minum, Andre masih menemani ibunya sampai ibunya benar-benar tertidur, setelah memastikan ibunya sudah tidur Andre hendak kembali ke kamarnya. Namun, ketika Andre keluar dari kamar ibunya, ia mendengar suara desahan yang entah dari mana asalnya.

Andre menyadari kalau kamarnya tadi belum dia kunci, dan teringat tingkah ayahnya yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya saat istrinya sedang tidur membuat Andre semakin khawatir. Andre langsung bergegas ke kamarnya untuk memastikan bahwa Anita baik-baik saja, Sesampainya dikamar, Andre merasa lega karena melihat sang istri masih tertidur dengan nyenyak. Ia pun menghampiri istrinya dan mengecup kening istrinya yang masih terlelap.

***

Esok harinya Andre menanyakan perihal apa yang diakatakan oleh ayahnya tadi malam saat sang ayah tiba-tiba ada dikamarnya karena mendengar teriakan Anita.

"Sayang, tadi malem kamu mimpi buruk ya?" Tanya Andre pada Anita yang masih sibuk merapikan dasi di leher suaminya.

"Nggak tuh, malah tadi malem itu aku mimpi indah banget. Aku mimpi kita punya adek bayi, udah gitu kembar lagi. Satu cewek satu cowok mas," Ucap Anita yang kegirangan menceritakan mimpinya itu.

"Ah masak!? Kata Ayah tadi malem kamu teiak-teriak loh, Ayah sampek masuk ke kamar karena kebangun gara-gara denger teriakan kamu,"

"Hah, Ayah masuk kamar kita? Kok bisa sih mas, kamu gak kunci pintunya sebelum tidur?"

"Tadi malem itu, aku ngambilin air buat ibu, karena kata Ayah ibu berisik gak tidur-tidur jadi aku nyamperin ibu. Ayah tidur di sofa karena gak bisa tidur sama suara ibu. Eh pas aku mau ngambil air ke dapur Ayah malah ada dikamar kita, katanya kamu teriak-teriak sampek ayah kebangun. Ayah kira mungkin kamu mimpi buruk jadi mau dibangunin."

"Nggk kok, aku sama sekali gak mimpi buruk. Duh mas, aku kok malah makin ngeri ya sama Ayahmu, apalagi tadi malem aku tidur cuma ditutup selimut dan gak pakek apa-apa sama sekali," ucap Anita yang mulai ketakutan dengan sikap Ayah mertuanya.

"Kamu tuh selalu aja negatif thinking sama Ayah, gak mungkin ayah bakalan ngapa-ngapain kamu, kamu ini menantunya dan istri aku pula. Mana mungkin menggauli istri anak sendiri, apa gak malu sama aku!" Jelas Andre yang masih membela ayahnya agar Anita tak lagi negatif thinking pada ayahnya, walau sebenarnya dia pun merasa curiga pada sikap sang ayah.

"Udah yuk, sarapan. Nanti telat ngantor lagi,"

"Ya udah deh, udah aku siapin dari tadi juga mas, tinggal makan doang. Yuk mas..." Ajak Anita pada suaminya sambil menenteng tas yang akan dibawa Andre ke kantor.

...

Di meja makan Andre menuturkan apa yang ia dengar semalam, bahwa ada suara desahan saat ia hendak kembali ke kamarnya. Namun, Andre tak menyelidikinya karena sudah larut malam.

"Oya, tadi malem aku juga denger suara desahan gitu, tapi gak tau asalnya dari mana," ujar Andre dengan nada penasaran.

"Desahan apa sih mas, apa kamu terbayang-bayang sama permainan kita tadi malem? Sampek denger suara desahan segala," ucap Ayu sambil menyiapkan nasi goreng ke piring suaminya.

"Beneran loh ta, aku denger suara desahan cewek. Tapi aku gak hiraukan, aku langsung ke kamar takutnya yang mendesah itu kamu, karena merasa kurang ku puasakan," ucap Andre sambil menggoda Anita yang mukanya mulai memerah.

"Ih nggk ya, jangan mulai kamu mas." Andre langsung mencubit hidung istrinya karena gemas ketika melihat wajah merona Anita yang menahan malu.

"Oya, Lola mana ya kok belum keluar juga! Apa gak mau sekolah tu anak,"

"Biar aku cek dulu deh mas, kamu lanjut sarapan aja. Takutnya nanti dia sakit lago makanya gak keluar-keluar dari kamar," Anita segera menuju kamar adik iparnya Lola, biasanya jam 6.30 Lola sudah stand by di meja makan sambil menunggu Andre untuk berangkat sekolah. Tapi pagi ini sudah jam 6.45 Lola tak kunjung keluar.

Kamar Lola ada di lorong paling ujung, dan bisa dikatakan berada di pojokan. Sejak pertama kali Anita mengenal Lola ia hanya beberapa kali bertegur sapa dengannya, karena Lola lebibh sering mengurung diri di kamar. Anita hanya akan berpapasan dengannya saat sarapan itu pun tanpa bertegur sapa layaknya seorang ipar. Lola cenderung dingin bahkan dengan kakaknya sendiri ia tak banyak bicara, ia hanya terbuka dengan ibunya. Dan semenjak ibunya sakit Lola semakin menjadi seorang pendiam seperti yang Ayahnya alami.

Bab 3

Tok..tok...tok...

Diketuknya pintu kamar Lola perlahan oleh Anita, hingga beberapa kali namun tetap tidak respon dari Lola. Anita mencoba membuka pintu kamar Lola perlahan yang ternyata tidak terkunci, melihat sekeliling tempat tidur yang sangat berantakan bahkan baju dalam pun seperti terlempar tanpa arah. Anita menatap Lola yang masih tertidur diatas tempat tidurnya, ia mendekati Lola perlahan, Lola terlihat sedang tidak baik-baik saja. Matanya sembab seperti habis menangis semalaman, dan disekujur tubuhnya terdapat tanda merah terutama dibagian leher, bahkan Lola tidur seperti tanpa mengenakan apapun hanya selimut sebagai penutup, jika melihat keadaan kamarnya yang berantakan, seprei yang ujungnya copot, sarung bantal yang terlepas seperti telah terjadi peperangan sengit tadi malam.

"La,,, kamu gak sekolah hari ini? Abangmu udah nungguin tuh di depan!" Tanya Anita pada adik iparnya yang tetap tidak bergeming dari tempat tidur, bahkan tak ada respon apapun.

"Kamu sakit ya la? Mau kakak anter ke dokter gak?" Anita tetap berusaha menanyakan keadaan Lola, namun tetap tidak ada respon apapun.

"Lola kenapa sayang?" Ucap Andre yang saat itu sudah berdiri di ambang pintu, Anita menoleh dan segera menghampiri suaminya.

"Gak tau, dari tadi aku nanya tapi gak ada respon. Dan liat nih, kamar Lola kok berantakan banget ya? Apa dia emang suka kek gini?."

"Nggak biasanya dia begini, dia nih orangnya paling gak suka kotor sama berantakan gini," Andre melangkah ke dalam kamar Lola untuk memastikan keadaan Lola.

"Ih apaan nih, kok baju daleman bisa ada disembarang tempat begini," Andre merasa heran karna tidak biasanya sang adik seperti ini, kamar seperti kapal pecah dan orangnya tak mau bangun meskipun sudah pagi.

"La, kamu gak mau sekolah? Abang udah telat ngantor nih, kalau kamu sakit nanti biar kakak iparmu yang antar ke dokter" tetap tidak ada respon dari Lola. Andre menghampirnya sembari memegang jidat adiknya untuk memastikan Lola sakit atau tidak. Setelah di cek, Lola baik-baik saja, tidak panas hanya keadaannya yang terlihat sangat buruk.

"Sayang...aku berangkat aja ya! Nanti kalau Lola bangun terus minta anter ke dokter, kamu temenin ya, pakek taxi online aja"

"Iya mas, udah sana kamu cepet berangkat, ini udah siang banget loh, keknya kamu bakalan telat,"

"Ya udah aku berangkat ya sayang," Anita mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Andre. Sesampainya di depan mobil yang telah terparkir dihalaman, Andre mencium kening istrinya dan segera melajukan mobilnya.

***

Anita masih penasaran pada apa yang telah terjadi pada adik iparnya itu, selesai membereskan rumah ia berencana untuk mengecek keadaan Lola. Namun, saat Anita sedang mencuci pring didapur ia mendengar pintu kamar Lola terbuka dan ditutup dengan sangat pelan, usai meletakkan piring Anita segera melihat apakah yang membuka pintu kamar tadi adalah Lola atau bukan. Ternyata Lola keluar tanpa pamit memakai jaket dan celana jeans, sedangkan ayah yang sedari tadi ada di ruang tamu hanya melihat Lola keluar tanpa menanyakannya.

"Sarapan dulu Yah, Anita udah buat nasi goreng tadi," sapa Anita pada ayah mertuanyanya yang sedari tadi fokus menonton siaran televisi.

"Oya Yah, Lola tadi bilang gak sama ayah dia mau kemana?"

"Enggak," ucap Wijaya dengan ketusnya. Tanpa banyak basa-basi dengan ayah mertuanya Anita memutuskan untuk mengecek kamar Lola apakah sudah dibereskan atau tidak. Tetap seperti semula, berantakan dan semuanya berceceran. Walaupun sedikit lancang Anita memutuskan untuk membereskan kamar adik iparnya itu karena mungkin Lola tidak membereskannya karena memang sedang tidak enak badan, Anita sedikit tercengang saat melihat seprei Lola ada sedikit bercak darah.

Tak mau berfikir yang tidak-tidak pada adik iparnya Anita mengira itu adalah menstruasi yang mungkin saat ini Lola sedang mengalaminya, sehingga menyebabkan adiknya itu tidak enak badan. Anita mengganti seprei, sarung bantal dan merapikan pakaian yang berserakan di lantai, lalu membawa pakaian-pakaian Lola ke mesin cuci untuk di cuci.

Selama Anita tinggal bersama keluarga suaminya, ia memang tak pernah mencuci baju adik iparnya karena Lola bukan tipe pemalas. Ia terbiasa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain, tapi hari ini berbeda, Lola seakan tak peduli dengan keadaan sekitarnya yang berserakan hingga tak membereskannya.

***

Lola tak kunjung kembali meski hari sudah siang, Anita yang merasa cemas karena Lola pergi tanpa pamit, entah bagaimana nanti ia akan menjelaskannya pada Andre jika suaminya sudah pulang. Wijaya ayah mertuanya pun tak ada di rumah, namun Anita merasa tenang ketika pria tua itu tak ada, karena dengan begitu ia tak perlu merasa khawatir dan takut terjadi apa-apa, mengingat ayah mertuanya itu selalu bersikap aneh.

Anita memutuskan untuk menunggu Lola di ruang tamu dan akan menanyakan kemana dia pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Karena bagaimanapun Lola adalah adik iparnya yang harus dia jaga, apalagi saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Saat Anita merasa ngantuk, tiba-tiba ia mendengar seperti ada orang yang membuka pintu depan dan benar saja yang datang adalah Lola.

"Kamu kemana aja si La? Kenapa gak pamit dulu sama kakak, atau sama Ayah. Biar kami gak cemas," tanya Anita dengan lembut karena takut menyinggung adik iparnya.

"Super market." Singkat, padat dan tanpa penjelasan apa pun lagi. Lola melangkah menuju kamarnya, namun sebelum sampai di kamarnya, Anita menyuruh Lola makan karena dari pagi Lola belum makan Apapun.

"Ya udah, makan dulu La, dari tadi pagi kamu belum makan. Biar gak tambah sakit. Oya La, kamu lagi datang bulan ya? Tadi kakak beresin kamar kamu, di seprei ada bekas darah jadi kakak cuci aja sekalian sama baju-baju kamu. Maaf ya kalau kakak lancang, kakak gak mau kamu sampek kecapaean apa lagi saat ini kondisi kamu sedang tidak baik. Sepreinya juga udah kakak ganti kok,"

Lola menatap Anita penuh kekesalan, entah ia marah karena Anita telah lancang membereskan kamarnya atau apa. Karena maksud Anita hanya ingin membantu adik iparnya itu dikala ia sedang sakit.

"Aku udah makan diluar, dan tolong kakak jangan sembarangan nyentuh barang-barang aku. Dan makasih karena kakak sudah berbaik hati untuk membereskan kamarku, tapi itu tidak perlu. Aku bisa sendiri," Jawab Lola sambil lalu meninggalkan Anita yang masih terpaku dengan ucapan Lola. Sesampainya didepan kamar, Lola membanting pintu kamarnya dengan keras seolah ia benar-benar marah pada perbuatan Anita yang seenaknya.

Anita merasa tak nyaman dengan sikap Lola tadi, padahal niatnya baik. Walaupun memang sedikit lancang jika masuk dan menyentuh barang milik orang lain tanpa izin. Apalagi Anita hanyalah orang luar yang memang tidak dekat dengan Lola adik iparnya.

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED