"Apa yang ayah lakukan? Bagaimana bisa Ayah masuk ke kamarku, sedangkan pintu sudah ku kunci," Tanya anita sambil menutup belahan dada yang hanya tertup lingerie. Dua tahun menikah ia harus ikut suaminya dan tinggal bersama mertuanya karena ibu mertua Anita mengalami stroke sehingga tidak ada yang merawatnya. Mendengar ucapan menantunya Sang mertua hanya melengos dan pergi tanpa sepatah kata apapun.
Selama satu minggu terakhir Anita selalu merasa was-was dengan ayah mertuanya, seringkali ia menangkap tatapan penuh nafsu pada mertuanya itu. Tak jarang ketika Anita sedang sendiri di rumah atau sedang melakukan aktifitas di dapur Ayah mertuanya seringkali mengintipnya. Ia mengutarakan kekhawatirannya pada sang suami tapi malah ditanggapi dengan gelak tawa seperti cerita Anita hanyalan bualan konyol karena baru saja pindah ke rumah orang tuanya.
***
Semenjak ibu mertua Anita stroke, Ayah mertuanya menjadi banyak berdiam diri dan hanya bicara seperlunya, selama menikah dengan Andre, Anita memang tidak pernah akrab dengan keluarga suaminya, karena memang hanya beberapa kali berjumpa. Apalagi Andre dan Anita hanya menjalin hubungan beberapa bulan dan memutuskan untuk langsung menikah.
"Beneran mas, kenapa gak percaya sama aku sih? Ayah mu itu aneh, masak tadi siang dia bisa masuk ke kamarku? Padahal pintunya sudah ku kunci. Apa jangan-jangan dia punya kunci serep ya?" Ucapnya pada Andre Suaminya.
"Kamu ini ngaco deh! Ya gak mungkin lah Ayah bisa masuk kalau pintu kamar udah kamu kunci, kamu aja mungkin lupa saking ngantuknya." Jawab Andre yang tak percaya terhadap penuturan istrinya.
"Kamu ih, dibilangin gak percaya. Mending kamu cariin Ayah istri baru deh mas, biar ada yang memuaskan nafsunya. Aku takut entar malah imbasnya ke aku pas kamu lagi ke kantor," pinta Anita yang mulai curiga bahwa Ayah mertuanya itu membutuhkan sosok perempuan yang mampu memuaskan nafsunya, karena selama ibu mertuanya sakit Ayah mertuanya itu berubah menjadi seorang introvet dan tak mau bicara apa pun pada orang-orang kecuali pada anak-anaknya.
Anita memiliki seorang adik ipar yang masih berusia 17 tahun dan sekarang masih kelas XI SMA. Namun, ia sama sekali tak dekat dengan adik iparnya yang bernama Lola, karena Lola sering mengurung diri dikamar sejak ibunya kena serangan stroke
"Udah lah sayang, ngapain bahas Ayah terus sih. Mending kita main aja yuk, aku lagi pengen nih," ucap Andre yang mulai menyentuh bagian dada Anita yang mulai merasakan kehangatan karena sentuhan suaminya itu.
"Ahhh mas, tadi malam kan udah. Tiap malem selalu kukasih, malam ini libur ya!" Ucap Anita sambil mengusap lembut bibir suaminya. Libido Andre semakin memuncak kala tangan lembut Anita menyentuh area bibir hingga dadanya.
"Gimana mau libur kalo kamu menggodaku terus kek gini."
Andre mulai meraba bagian tubuh Anita yang hanya tertutup lingerie tipis warna merah itu, tubuh sang istri baginya sangatlah menggoda iman. Bentuk dada yang montok serta kulitnya yang putih bersih dan lembut selalu membuat Andre menginginkan lebih dari Anita, bahkan terkadang saat mandi pun ia tak segan untuk meminta istrinya untuk melayani nafsunya itu.
"Arghhh mas geli." Ucap Anita ketika Andre menyetuh bagian intim milik istrinya itu, tak hanya itu ia juga mulai menggerakkan lidahnya kedalam vagina istrinya yang berwarna merah kemudaan. Andre semakin cepat menggerakkan lidahnya dan memainkan alat vital istrinya yang mulai kebasahan
"Arghh...arrghhhh...mas aku udah gak tahan, langsung tancepin aja," seru Anita yang mulai merasakan meriang diseluruh tubuhnya, Andre memang selalu pandai memainkan peran bahkan Anita tak mampu menolak setiap kali ia meminta untuk dilayani.
Tanpa fikir panjang Andre segera melucuti boxer yang ia pakai, kaos oblong yang menjadi penutup tubuhnya. Lalu mulai menaiki tubuh mungil Anita yang minta segera di tancapkan Mr. P nya kedalam vagina Anita, ia pun mengangkang kaki Anita ke atas dan memasukkannya perlahan hingga membuat Anita mulai menikmati permainan suaminya itu
"Mmmmhhh....arrghhh...lebih cepet lagi mas," ucap anita sambil menggenggam Seprei kasur yang mulai berantakan.
"Kamu basah banget sayang," seru Andre sambil memegangi buah dada istrinya, diremas serta dilumat perlahan seolah-olah menjadi mainan yang sangat menggemaskan.
Desahan demi desahan keluar dari mulut keduanya hingga mereka pun mencapai titik klimaks dan kepuasannya masing-masing, selepas pertempuran terjadi Andre mengecup kening Anita. Tanda bahwa hasratnya telah tersampaikan, Anita tersenyum dan memeluk tubuh suaminya yang masih ada di atasnya.
"Kurang gak? Aku masih kuat loh!" Ucap Andre sambil membelai wajah Anita yang basah dari keringat. Andre yang masih ngos-ngosan tak kunjung turun dari tubuh Anita.
"Udah ah mas, capek! Ini udah malem juga, tuh liat udah jam 23.30. Besok kamu harus kerja, udah yukk tidur!" Ucap Anita yang sudah tak kuat lagi jika sang suami masih meminta untuk dilayani.
"Hehehe iyaya istriku, lanjut besok aja ya!,"
"Ih kamu mah, nggak aku capek besok pagi-pagi mau beres-beres sama masak." Andre pun turun dari tubuh istrinya dan menyelimutinya, tiba-tiba ada suara ketukan pintu dari luar, entah itu Lola atau Ayah Andre yang tengah malam mengetuk pintu.
Tok tok....tok tok...
Anita menoleh pada Andre yang masih belum tidur juga, Andre yang mendengar ketukan pintu tersebut segera memakai boxer dan kaosnya kembali walaupun badannya terasa sangat lengket karena permainan tadi, tak enak jika sampai keluarganya tau kalau tadi ia dan istrinya sedang melakukan hubungan intim. Anita pun juga langsung menyelimuti tubuh hingga hanya terlihat kepala saja, ia membalikkan tubuhnya menghadap jendela agar terlihat sedang tidur.
"Ayah, kenapa malam-malam begini belum tidur. Ada apa, Yah?" Tanya Andre pada sang Ayah.
"Berisik," ucapnya begitu singkat dengan tatapan penuh isyarat pada sang istri yang mulai terlelap. Andre yang mendengar ucapan Ayahnya merasa tak enak karena telah mengganggu kenyamanan ayahnya saat tidur, karena memang kamar Andre dan ayahnya bersebelahan sehingga suara-suara bising apapun kadang terdengar walaupun hanya samar-samar.
"Maaf, Yah" ucap Andre sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal, karena merasa tidak nyaman pada sang Ayah.
"Ibumu dari tadi berisik, dia gak tidur-tidur," jelas Ayah yang langsung melengos pergi. Andre yang melihat ayahnya pergi, ia pun menghampiri istrinya yang sudah tidur dan mengajaknya untuk melihat ibu.
"Sayang, bangun ikut aku yuk liat ibu. Kata bapak ibu gak tidur, aku takut dia kenapa-napa," Ajak Andre sambil Menggoyangkan tubuh istrinya. Namun, Anita tetap tidak bergeming karena memang sejak tadi sudah sangat mengantuk setelah menjalankan kewajiban sebagai istri. Tanpa membangunkan istrinya yang sangat kelelahan, Andre pun menghampiri ibunya.
Andre membuka perlahan kamar ayahnya yang tak dikunci, sedangkan ayahnya sudah tidur di sofa ruang tamu karena tidak bisa tidur karena suara berisik ibu yang sedari tadi mengganggu. Entah apa yang terjadi pada ibunya, perlahan ia menuju ibunya yang sedang berusaha mengucapkan sesuatu namun terasa sangat sulit.
Ibu Melati yang sedari tadi hanya bisa terbaring di tempat tidur dengan tangan yang sedikit bengkok dan mulut sumbing karena dampak dari penyakitnya yang telah mengenai syaraf, seperti sedang mengatakan sesuatu yang tak jelas karena lidahnya terasa kelu untuk mengeluarkan suara.
"Eeww...eeeehh,,,," Suara ibu Andre yang tak dapat di mengerti. Andre menatap ibunya nanar, merasa tak tega karena wanita yang selama ini telah melahirkan dan merawatnya hingga dewasa kini hanya bisa terbujur kaku tak berdaya diatas tempat tidurnya.
"Ada apa, Bu? Ibu haus ya, mau minum?" Tanya Andre dengan lembut sambil menyeka air mata yang mulai menetes dan membasahi permukaan pipinya. Ibunya pun hanya bisa menganggukkan kepala dengan tangan yang gemetaran.
"Sebentar ya Bu, Andre ambil dulu di dapur," Andre pun berlalu dari kamar ibunya, tapi ketika Andre melewati ruang tamu ia tak menemukan Ayahnya yang tadi sedang tidur saat Andre akan melihat ibunya. Andre berfikir mungkin Ayahnya sedang ke kamar mandi di dapur. Namun, saat ia melewati kamarnya ia melihat sang Ayah sedang ada dikamarnya, Andre yang melihat tingkah Ayahnya itu menjadi heran untuk apa sang Ayah ada dikamarnya dan seperti ingin menyingkap selimut istrinya. Saat Andre ingin menegur Ayahnya tiba-tiba sang Ayah menoleh pada Andre seperti seseorang yang terkejut melihat kedatangan Andre yang secara tiba-tiba.
"Bapak ngapain disini? Ini udah malem loh pak, bapak belum tidur juga? Bukannya tadi udah tidur di sofa kok bisa kesini?" Berbagai pertanyaan Andre lontarkan pada sang Ayah karena ia takut terjadi sesuatu pada istrinya, seperti yang dikatakan oleh Anita bahwa Ayahnya selalu menatap Anita dengan penuh nafsu. Rasa curiga mulai menyelimuti Andre, apa benar apa yang dikatakan oleh Anita tentang Ayahnya yang semakin hari semakin aneh.
"Anita teriak-teriak, Ayah jadi kebangun! Mungkin lagi mimpi jadi ingin Ayah bangunkan," ucap Ayah Andre yang begitu datar lalu melewati Andre yang masih berdiri didepan pintu tanpa penjelasan apapun lagi. Tak mau berfikir yang aneh-aneh lagi tentang Ayahnya Andre pun segera mengambil air ke dapur dan memberikannya pada ibu Melati.
Selesai memberikan minum, Andre masih menemani ibunya sampai ibunya benar-benar tertidur, setelah memastikan ibunya sudah tidur Andre hendak kembali ke kamarnya. Namun, ketika Andre keluar dari kamar ibunya, ia mendengar suara desahan yang entah dari mana asalnya.
Andre menyadari kalau kamarnya tadi belum dia kunci, dan teringat tingkah ayahnya yang tiba-tiba masuk kedalam kamarnya saat istrinya sedang tidur membuat Andre semakin khawatir. Andre langsung bergegas ke kamarnya untuk memastikan bahwa Anita baik-baik saja, Sesampainya dikamar, Andre merasa lega karena melihat sang istri masih tertidur dengan nyenyak. Ia pun menghampiri istrinya dan mengecup kening istrinya yang masih terlelap.
***
Esok harinya Andre menanyakan perihal apa yang diakatakan oleh ayahnya tadi malam saat sang ayah tiba-tiba ada dikamarnya karena mendengar teriakan Anita.
"Sayang, tadi malem kamu mimpi buruk ya?" Tanya Andre pada Anita yang masih sibuk merapikan dasi di leher suaminya.
"Nggak tuh, malah tadi malem itu aku mimpi indah banget. Aku mimpi kita punya adek bayi, udah gitu kembar lagi. Satu cewek satu cowok mas," Ucap Anita yang kegirangan menceritakan mimpinya itu.
"Ah masak!? Kata Ayah tadi malem kamu teiak-teriak loh, Ayah sampek masuk ke kamar karena kebangun gara-gara denger teriakan kamu,"
"Hah, Ayah masuk kamar kita? Kok bisa sih mas, kamu gak kunci pintunya sebelum tidur?"
"Tadi malem itu, aku ngambilin air buat ibu, karena kata Ayah ibu berisik gak tidur-tidur jadi aku nyamperin ibu. Ayah tidur di sofa karena gak bisa tidur sama suara ibu. Eh pas aku mau ngambil air ke dapur Ayah malah ada dikamar kita, katanya kamu teriak-teriak sampek ayah kebangun. Ayah kira mungkin kamu mimpi buruk jadi mau dibangunin."
"Nggk kok, aku sama sekali gak mimpi buruk. Duh mas, aku kok malah makin ngeri ya sama Ayahmu, apalagi tadi malem aku tidur cuma ditutup selimut dan gak pakek apa-apa sama sekali," ucap Anita yang mulai ketakutan dengan sikap Ayah mertuanya.
"Kamu tuh selalu aja negatif thinking sama Ayah, gak mungkin ayah bakalan ngapa-ngapain kamu, kamu ini menantunya dan istri aku pula. Mana mungkin menggauli istri anak sendiri, apa gak malu sama aku!" Jelas Andre yang masih membela ayahnya agar Anita tak lagi negatif thinking pada ayahnya, walau sebenarnya dia pun merasa curiga pada sikap sang ayah.
"Udah yuk, sarapan. Nanti telat ngantor lagi,"
"Ya udah deh, udah aku siapin dari tadi juga mas, tinggal makan doang. Yuk mas..." Ajak Anita pada suaminya sambil menenteng tas yang akan dibawa Andre ke kantor.
...
Di meja makan Andre menuturkan apa yang ia dengar semalam, bahwa ada suara desahan saat ia hendak kembali ke kamarnya. Namun, Andre tak menyelidikinya karena sudah larut malam.
"Oya, tadi malem aku juga denger suara desahan gitu, tapi gak tau asalnya dari mana," ujar Andre dengan nada penasaran.
"Desahan apa sih mas, apa kamu terbayang-bayang sama permainan kita tadi malem? Sampek denger suara desahan segala," ucap Ayu sambil menyiapkan nasi goreng ke piring suaminya.
"Beneran loh ta, aku denger suara desahan cewek. Tapi aku gak hiraukan, aku langsung ke kamar takutnya yang mendesah itu kamu, karena merasa kurang ku puasakan," ucap Andre sambil menggoda Anita yang mukanya mulai memerah.
"Ih nggk ya, jangan mulai kamu mas." Andre langsung mencubit hidung istrinya karena gemas ketika melihat wajah merona Anita yang menahan malu.
"Oya, Lola mana ya kok belum keluar juga! Apa gak mau sekolah tu anak,"
"Biar aku cek dulu deh mas, kamu lanjut sarapan aja. Takutnya nanti dia sakit lago makanya gak keluar-keluar dari kamar," Anita segera menuju kamar adik iparnya Lola, biasanya jam 6.30 Lola sudah stand by di meja makan sambil menunggu Andre untuk berangkat sekolah. Tapi pagi ini sudah jam 6.45 Lola tak kunjung keluar.
Kamar Lola ada di lorong paling ujung, dan bisa dikatakan berada di pojokan. Sejak pertama kali Anita mengenal Lola ia hanya beberapa kali bertegur sapa dengannya, karena Lola lebibh sering mengurung diri di kamar. Anita hanya akan berpapasan dengannya saat sarapan itu pun tanpa bertegur sapa layaknya seorang ipar. Lola cenderung dingin bahkan dengan kakaknya sendiri ia tak banyak bicara, ia hanya terbuka dengan ibunya. Dan semenjak ibunya sakit Lola semakin menjadi seorang pendiam seperti yang Ayahnya alami.
Tok..tok...tok...
Diketuknya pintu kamar Lola perlahan oleh Anita, hingga beberapa kali namun tetap tidak respon dari Lola. Anita mencoba membuka pintu kamar Lola perlahan yang ternyata tidak terkunci, melihat sekeliling tempat tidur yang sangat berantakan bahkan baju dalam pun seperti terlempar tanpa arah. Anita menatap Lola yang masih tertidur diatas tempat tidurnya, ia mendekati Lola perlahan, Lola terlihat sedang tidak baik-baik saja. Matanya sembab seperti habis menangis semalaman, dan disekujur tubuhnya terdapat tanda merah terutama dibagian leher, bahkan Lola tidur seperti tanpa mengenakan apapun hanya selimut sebagai penutup, jika melihat keadaan kamarnya yang berantakan, seprei yang ujungnya copot, sarung bantal yang terlepas seperti telah terjadi peperangan sengit tadi malam.
"La,,, kamu gak sekolah hari ini? Abangmu udah nungguin tuh di depan!" Tanya Anita pada adik iparnya yang tetap tidak bergeming dari tempat tidur, bahkan tak ada respon apapun.
"Kamu sakit ya la? Mau kakak anter ke dokter gak?" Anita tetap berusaha menanyakan keadaan Lola, namun tetap tidak ada respon apapun.
"Lola kenapa sayang?" Ucap Andre yang saat itu sudah berdiri di ambang pintu, Anita menoleh dan segera menghampiri suaminya.
"Gak tau, dari tadi aku nanya tapi gak ada respon. Dan liat nih, kamar Lola kok berantakan banget ya? Apa dia emang suka kek gini?."
"Nggak biasanya dia begini, dia nih orangnya paling gak suka kotor sama berantakan gini," Andre melangkah ke dalam kamar Lola untuk memastikan keadaan Lola.
"Ih apaan nih, kok baju daleman bisa ada disembarang tempat begini," Andre merasa heran karna tidak biasanya sang adik seperti ini, kamar seperti kapal pecah dan orangnya tak mau bangun meskipun sudah pagi.
"La, kamu gak mau sekolah? Abang udah telat ngantor nih, kalau kamu sakit nanti biar kakak iparmu yang antar ke dokter" tetap tidak ada respon dari Lola. Andre menghampirnya sembari memegang jidat adiknya untuk memastikan Lola sakit atau tidak. Setelah di cek, Lola baik-baik saja, tidak panas hanya keadaannya yang terlihat sangat buruk.
"Sayang...aku berangkat aja ya! Nanti kalau Lola bangun terus minta anter ke dokter, kamu temenin ya, pakek taxi online aja"
"Iya mas, udah sana kamu cepet berangkat, ini udah siang banget loh, keknya kamu bakalan telat,"
"Ya udah aku berangkat ya sayang," Anita mengulurkan tangannya untuk mencium tangan Andre. Sesampainya di depan mobil yang telah terparkir dihalaman, Andre mencium kening istrinya dan segera melajukan mobilnya.
***
Anita masih penasaran pada apa yang telah terjadi pada adik iparnya itu, selesai membereskan rumah ia berencana untuk mengecek keadaan Lola. Namun, saat Anita sedang mencuci pring didapur ia mendengar pintu kamar Lola terbuka dan ditutup dengan sangat pelan, usai meletakkan piring Anita segera melihat apakah yang membuka pintu kamar tadi adalah Lola atau bukan. Ternyata Lola keluar tanpa pamit memakai jaket dan celana jeans, sedangkan ayah yang sedari tadi ada di ruang tamu hanya melihat Lola keluar tanpa menanyakannya.
"Sarapan dulu Yah, Anita udah buat nasi goreng tadi," sapa Anita pada ayah mertuanyanya yang sedari tadi fokus menonton siaran televisi.
"Oya Yah, Lola tadi bilang gak sama ayah dia mau kemana?"
"Enggak," ucap Wijaya dengan ketusnya. Tanpa banyak basa-basi dengan ayah mertuanya Anita memutuskan untuk mengecek kamar Lola apakah sudah dibereskan atau tidak. Tetap seperti semula, berantakan dan semuanya berceceran. Walaupun sedikit lancang Anita memutuskan untuk membereskan kamar adik iparnya itu karena mungkin Lola tidak membereskannya karena memang sedang tidak enak badan, Anita sedikit tercengang saat melihat seprei Lola ada sedikit bercak darah.
Tak mau berfikir yang tidak-tidak pada adik iparnya Anita mengira itu adalah menstruasi yang mungkin saat ini Lola sedang mengalaminya, sehingga menyebabkan adiknya itu tidak enak badan. Anita mengganti seprei, sarung bantal dan merapikan pakaian yang berserakan di lantai, lalu membawa pakaian-pakaian Lola ke mesin cuci untuk di cuci.
Selama Anita tinggal bersama keluarga suaminya, ia memang tak pernah mencuci baju adik iparnya karena Lola bukan tipe pemalas. Ia terbiasa melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain, tapi hari ini berbeda, Lola seakan tak peduli dengan keadaan sekitarnya yang berserakan hingga tak membereskannya.
***
Lola tak kunjung kembali meski hari sudah siang, Anita yang merasa cemas karena Lola pergi tanpa pamit, entah bagaimana nanti ia akan menjelaskannya pada Andre jika suaminya sudah pulang. Wijaya ayah mertuanya pun tak ada di rumah, namun Anita merasa tenang ketika pria tua itu tak ada, karena dengan begitu ia tak perlu merasa khawatir dan takut terjadi apa-apa, mengingat ayah mertuanya itu selalu bersikap aneh.
Anita memutuskan untuk menunggu Lola di ruang tamu dan akan menanyakan kemana dia pergi tanpa pamit terlebih dahulu. Karena bagaimanapun Lola adalah adik iparnya yang harus dia jaga, apalagi saat kondisinya sedang tidak baik-baik saja. Saat Anita merasa ngantuk, tiba-tiba ia mendengar seperti ada orang yang membuka pintu depan dan benar saja yang datang adalah Lola.
"Kamu kemana aja si La? Kenapa gak pamit dulu sama kakak, atau sama Ayah. Biar kami gak cemas," tanya Anita dengan lembut karena takut menyinggung adik iparnya.
"Super market." Singkat, padat dan tanpa penjelasan apa pun lagi. Lola melangkah menuju kamarnya, namun sebelum sampai di kamarnya, Anita menyuruh Lola makan karena dari pagi Lola belum makan Apapun.
"Ya udah, makan dulu La, dari tadi pagi kamu belum makan. Biar gak tambah sakit. Oya La, kamu lagi datang bulan ya? Tadi kakak beresin kamar kamu, di seprei ada bekas darah jadi kakak cuci aja sekalian sama baju-baju kamu. Maaf ya kalau kakak lancang, kakak gak mau kamu sampek kecapaean apa lagi saat ini kondisi kamu sedang tidak baik. Sepreinya juga udah kakak ganti kok,"
Lola menatap Anita penuh kekesalan, entah ia marah karena Anita telah lancang membereskan kamarnya atau apa. Karena maksud Anita hanya ingin membantu adik iparnya itu dikala ia sedang sakit.
"Aku udah makan diluar, dan tolong kakak jangan sembarangan nyentuh barang-barang aku. Dan makasih karena kakak sudah berbaik hati untuk membereskan kamarku, tapi itu tidak perlu. Aku bisa sendiri," Jawab Lola sambil lalu meninggalkan Anita yang masih terpaku dengan ucapan Lola. Sesampainya didepan kamar, Lola membanting pintu kamarnya dengan keras seolah ia benar-benar marah pada perbuatan Anita yang seenaknya.
Anita merasa tak nyaman dengan sikap Lola tadi, padahal niatnya baik. Walaupun memang sedikit lancang jika masuk dan menyentuh barang milik orang lain tanpa izin. Apalagi Anita hanyalah orang luar yang memang tidak dekat dengan Lola adik iparnya.