Bab 1

Bab 1

Dahiku mengernyit saat melihat pesan masuk dari Risma–teman kuliahku–soalnya tidak biasanya ia mengirimkan pesan, Risma selalu menelpon atau langsung video call jika ada sesuatu.

[Selamat, ya, atas kehamilan lo. Nanti lah, balik dari Malaysia gue baru ke rumah lo.]

Tidak mengerti dengan maksud perkataan Risma, atau mungkin ia salah mengirimkan pesan? Aku masih menunggu unduhan foto yang dikirim oleh Risma. Mata ini seketika membelalak melihat tangkapan layar dari status WhatsApp ibu mertua yang dikirimkan Risma.

Di foto itu terlihat jelas wajah Mas Lukman–suamiku–yang menempelkan telinganya di perut buncit seorang wanita. Wajah lelaki yang sudah empat tahun menjadi suamiku itu terlihat bahagia dengan senyum yang merekah.

[Alhamdulillah acara tujuh bulanan lancar. Minta doanya dari semua agar persalinan menantuku di lancarkan.]

Mata ini langsung memanas setelah membaca bubuhan caption di bawah foto.

Menantu?

Ibu mertua hanya memiliki dua anak, Mas Lukman dan adik perempuannya yang masih kuliah. Tidak ingin menduga-duga aku langsung mengirimkan pesan balasan pada Risma, menanyakan perihal ini padanya.

[Lo, dapet dari mana foto ini, Ris?] Terkirim.

[Ibu Mertua lo ‘kan temen arisannya Nyokap gue. Masa lo lupa!] Pesan balasan dari Risma.

Saat mencari di pembaruan status, tidak ada kutemukan status ibu mertua. Bahkan tidak pernah sekalipun aku melihat status WhatsApp ibu mertua.

Apa ibu mertua sengaja menyembunyikan statusnya dari kontak milikku?

Mencoba langsung menghubungi Mas Lukman tapi tidak diangkat, menghubungi ibu mertua juga tidak bisa. Tidak habis akal, aku mencari kontak satpam komplek yang kukenal.

Telepon itu langsung tersambung.

“Pak, ini saya Kanaya. Apa benar di rumah Ibu mertua saya ada acara?” tanyaku to the point.

“Loh … bukannya itu acaranya Ibu Kanaya, ya? acara tujuh bulanan,” jawabnya dari seberang telepon.

Rasanya dunia ini runtuh seketika, lututku lemas tidak bisa menopang bobot tubuhku sendiri.

'Apa benar suamiku telah menikah lagi dengan wanita lain? Apa Mas Lukman melakukan ini karena aku tidak kunjung hamil? Sedangkal itukah rasa cinta dan sayangmu padaku, Mas?'

Jika saja jarak dari Kalimantan ke Surabaya bisa kutempuh beberapa menit, sudah pasti aku langsung mendatangi rumah ibu mertua untuk memastikannya sendiri. Sayang, pekerjaan menahanku di tempat ini. Hampir satu bulan aku jauh dari suami dan keluargaku.

'Ya Allah … cobaan apalagi ini? Tidak cukupkah Engkau mengambil kedua orangtuaku?'

***

Menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan, mencoba untuk tenang meskipun sebenarnya hati ini luluh lantak.

'Keep calm, Kanaya!'

Menenangkan diri sendiri, hanya itu yang bisa dilakukan saat ini. Menyeret langkah untuk masuk ke dalam ruangan, tempat dimana atasanku berada.

Memberikan semua berkas yang harus ditandatangani, bekerja sebagai seorang asisten pribadi tidaklah mudah, apalagi asisten seorang CEO. Harus mengikuti kemanapun beliau pergi.

"Kalau kamu masih pasang wajah asem itu, jangan salahkan saya kalau gaji kamu bulan ini dipotong!" ujarnya dengan tegas.

"Jangan dong, Bu Margaretha yang baik hati. Cicilan mobil saya gimana nanti." Aku memelas di hadapan wanita paruh baya yang masih terlihat awet muda di usianya yang menginjak kepala lima.

Saat diluar kantor mungkin orang tidak akan mengira jika aku dan Bu Margaretha adalah bawahan dan atasan. Kami sangat dekat, Bu Margaretha sebenarnya tidak seperti yang orang bilang. Mereka mengatakan jika Bu Margaretha sangat tegas dan kejam. Tapi nyatanya tidak seperti itu, mungkin iya kalau dilihat sekilas dari wajah.

Sepuluh tahun aku mengabdi menjadi asisten pribadinya, mengikuti kemanapun beliau pergi. Bahkan ke luar negeri sekalipun. Itu kenapa aku jarang berada di rumah.

"Apa jadwal saya selanjutnya?" Bu Margaretha bertanya kembali, jemarinya dengan lincah menandatangani satu per satu berkas di atas meja.

"Tidak ada, Bu. Besok jam 9 pagi baru ada meeting dengan investor," jawabku.

Mencoba menetralkan perasaan dan bekerja secara profesional. Tidak ingin membuat beliau kecewa karena aku melibatkan personal di waktu kerja.

Jam 8 malam aku kembali ke hotel tempatku menginap. Menahan diri untuk tidak menghubungi Mas Lukman, biarkan saja mereka menghabiskan sisa waktu mereka sebelum kepulanganku. Raca cinta, tulus dan kasih sayang yang kuberikan. Apa pantas aku mendapatkan pengkhianatan sebagai balasannya?

Pepatah memang benar, lelaki diuji saat ia memiliki segalanya. Baru saja Mas Lukman berada di puncak kesuksesannya. Ia tidak tahu jika apa yang ia perbuat padaku akan berdampak pada karirnya.

Lusa baru aku bisa pulang, itupun kalau Bu Margaretha tidak memintaku untuk menemaninya berlibur ke kampung halamannya di Sumatera.

Tidak terasa cairan bening itu mengalir membasahi pipi, hati ini seperti diremas kuat saat kilasan itu melintas di benak.

***

Menatap nanar rumah gaya Eropa yang terlihat sepi, dalam rumah besar ini hanya dihuni aku dan Mas Lukman. Bukan hanya Mas Lukman, aku saja sangat menginginkan kehadiran buah hati. Tapi apa daya, aku hanya manusia. Tidak semua yang kuinginkan bisa kudapatkan.

Menyeret koper yang baru saja diturunkan oleh supir dari dalam bagasi. Melangkah dengan berat ke arah pintu. Merogoh kunci yang tersimpan di dalam tas, baru saja tanganku memegang kunci. Pintu sudah terbuka menampakkan Mas Lukman. Wajahnya terlihat kaget.

"Loh … Sayang, kok pulang gak bilang-bilang sih? Mas 'kan bisa jemput di bandara," serunya.

"Aku mau kasih kejutan buat kamu, Mas," jawabku semanis mungkin.

Mencium tangannya dengan takzim lalu masuk ke dalam rumah. Netra ini menyapu seluruh sudut, tapi tidak melihat kejanggalan. Apa Mas Lukman hanya sendiri di rumah? Kemana istrinya yang sedang hamil itu?

"Mas, Ibu gak kesini? Biasanya kalau hari libur Ibu suka main kesini." Menatap Mas Lukman yang menyimpan koper di dekat lemari.

"Mungkin lagi jalan-jalan sama Lana."

Dahiku mengernyit.

"Lana udah libur kuliah 'kah? Minggu kemarin dia telpon aku, bilang katanya libur kuliah gak bisa pulang."

Mas Lukman menjadi salah tingkah mendengar penuturanku. Lana–adik iparku, kuliah di Jakarta. Pulang ke Surabaya saat ada libur panjang saja. Kemarin ia memang sempat menghubungiku, mengatakan tidak bisa pulang.

Tidak ingin mendengar dusta dari mulutnya, aku memilih untuk ke kamar mandi. Membersihkan diri sembari menunggu makanan yang tadi kupesan datang.

***

Menjatuhkan bobot tubuh di sebelah Mas Lukman yang terlihat fokus dengan laptop di depannya.

"Mas, coba lihat ini deh!" seruku membuat lelaki berlesung pipi itu langsung menoleh.

"Lihat apa?" tanyanya.

Ia mengubah posisi duduknya menghadap ke arahku.

Netra sendunya menatap pas ke dalam netraku. Senyum tipis tercetak di wajah manisnya, yang biasa sukses membuatku terpana. Tapi sekarang tidak! Aku malah merasa jijik melihatnya.

"Apa ini?!" tanyaku. Memperlihatkan layar ponsel dengan foto tangkapan layar yang dikirimkan Risma waktu itu.

Matanya terbelalak, ia kembali menatap ke arahku.

"Sayang … i–ini …."

Aku masih terdiam, menunggu ia menyelesaikan perkataannya yang kini terhenti. Aku ingin tahu, apakah ia akan mengakuinya atau tidak.

"Maafkan aku … aku melakukan itu karena ingin punya anak. Aku akan berpisah dengannya setelah melahirkan anakku, kita akan merawatnya sama-sama nanti."

Tersenyum miring mendengar semua pengakuannya, gampang sekali ia bicara seperti itu. Aku tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulutnya.

"Kamu pikir aku tidak ingin punya anak, Mas?! Aku juga ingin! Wanita mana yang tidak ingin punya anak?! Kamu menjadi saksi, bagaimana aku menjalankan semua prosedur dari dokter untuk program hamil. Bahkan … sampai rela meminum ramuan yang sangat pahit itu setiap hari. Rutin olahraga di sela kesibukanku. Semua cara sudah dilakukan, medis maupun non medis. Kamu anggap apa perjuanganku itu?Jika memang kamu mau punya anak, kita bisa bicara baik-baik, Mas. Kita bisa melakukan program bayi tabung, itu pilihan terakhir. Kenapa kamu malah mencari wanita lain untuk mengandung darah dagingmu?!" balasku dengan sengit, menatap tajam ke arahnya.

Dada ini naik turun setelah mengeluarkan semua amarah yang sempat terpendam. Mas Lukman menunduk, tidak berani menatap ke arahku.

"Mas akui, Mas memang salah. Maafkan Mas, Sayang!Lagi pula, kalau program program bayi tabung. Mas gak punya biaya un–" Tangan itu langsung kutepis sebelum menyentuh pundakku.

"Biaya? Mas, uang tabungan kita kalau disatukan itu cukup untuk program bayi tabung. Ah … sudahlah! Percuma ngomong sama kamu, selalu merasa benar, gak ada gunanya!" ujarku memotong perkataannya.

"Bawa wanita itu ke hadapanku, besok!" Melirik Mas Lukman yang masih bungkam. Melangkah menuju kamar meninggalkannya.

Bersambung ….

Bab 2

Mertua, Awal Pembawa Petaka

Bab 2

Aku menatap bergantian dua sejoli di hadapanku. Dari awal masuk wanita itu menunduk, tidak berani menatapku.

"Kau tahu siapa aku?" tanyaku pada wanita yang tidak kutahu namanya itu.

Ia hanya mengangguk kecil. Aku memperhatikannya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Ku akui wanita ini memang memiliki paras untuk memikat seorang lelaki. Bahkan lelaki lajang sekalipun, tapi kenapa ia memilih lelaki beristri?

"Apa alasanmu bersedia dipinang oleh lelaki beristri?" Aku kembali bertanya dan menatapnya dengan lekat. Sedangkan Mas Lukman hanya diam tidak berani buka suara.

"Aku … aku, mencintai Mas Lukman," jawabnya.

Aku langsung tertawa seketika, membuat mereka sontak melihat ke arahku. "Apa kau tidak memikirkan perasaanku sebelum menerima pinangan Mas Lukman?"

"Aku tahu perasaan Mbak seperti apa, Mbak pasti sakit hati menerima semua ini. Tapi, kami saling mencintai, Mbak. Tolong jangan pisahkan kami." Ia mengiba.

Aku mencoba menahan tubuhnya yang akan berlutut di kakiku. Aku tidak suka melihat orang memohon dan berlutut kepadaku. Wanita itu bilang ia dan Mas Lukman saling mencintai? Kenapa berbeda sekali dengan pengakuan Mas Lukman. Aku masih mencari tahu kebenarannya yang mana. Tadi malam aku sempat bertanya tentang perasaan Mas Lukman pada wanita ini. Mas Lukman mengatakan ia tidak mencintai wanita yang kini mengandung anaknya. Ia hanya menginginkan anaknya saja. Bukankah terdengar kejam? Habis manis sepah dibuang.

"Tidak! Kau tidak akan pernah tahu apa yang kurasakan sebelum kau mengalaminya sendiri. Apa perlu aku menyuruh Mas Lukman menikah lagi, agar kau juga ikut merasakan apa yang kurasakan?!" teriakku.

Mata wanita itu terbelalak, ia menoleh menatap Mas Lukman.

"Sayang–"

"Aku belum memintamu untuk bicara, sabar sedikit!" Aku memotong perkataan Mas Lukman.

Aku meraih cangkir berisi teh hijau dan menyesapnya pelan. Aku tidak ingin menghadapi mereka dengan penuh emosi.

"Jumi!" Aku berteriak memanggil asisten rumah tangga yang dulu pernah bekerja padaku. Ia sempat berhenti satu tahun karena hamil besar dan melahirkan.

"Iya, Bu." Ia berdiri di hadapanku.

"Saya sama Mas Lukman mau pergi ke kantor, tolong kamu jaga dia. Eh … siapa namamu?" Aku menunjuknya menggunakan dagu.

"Indah."

Namamu Indah tapi hatimu busuk! Aku hanya membatin sambil mengumpat dalam hati.

"Kalau Ibu Mertua datang, jangan buka pagarnya. Mengerti?!" tegasku. Jumi mengangguk tanda mengerti.

"Ayo, Mas. Jangan sampai kamu telat, seorang pimpinan itu harus disiplin!" seruku sambil berjalan melewati Indah yang masih berdiri mematung.

Pulang dari kantor baru akan aku lanjutkan semua ini. Sengaja aku berangkat satu mobil bersama Mas Lukman. Aku yang akan membawa mobil ini dan menjemputnya saat pulang kerja. Selama perjalanan, tidak ada satupun dari kita yang membuka percakapan.

***

Pekerjaan yang menumpuk membuatku tidak sempat untuk istirahat. Bahkan makan siang pun aku lakukan di ruang kerja. Notifikasi pesan masuk dari aplikasi hijau milikku.

[Sayang, kartu kredit sama kartu debit punya Mas kamu bawa, ya?]

Aku tersenyum simpul saat membaca pesan masuk dari Mas Lukman.

[Iya, kita harus meminimalisir pengeluaran. Aku pengen ikut program bayi tabung! Aku cuman gak mau kamu terlalu menghamburkan uang.]

Sebelum Mas Lukman bangun, aku memang mengambil semua kartu dan uang di dompetnya. Hanya menyisakan dua lembar uang seratus ribu. Sebenarnya Mas Lukman bukanlah tipikal suami pelit. Semua gaji yang ia terima akan otomatis masuk ke rekeningku. Biasanya ia hanya menyisakan untuk pegangan saja. Tapi memang dasarnya diriku terlalu naif, tidak curiga saat Mas Lukman memutuskan untuk tidak mengirimkan uang gajinya ke rekeningku karena ia ingin merambah bisnis baru. Bisnis yang sampai saat ini saja aku tidak pernah tahu.

Dari lima puluh juta yang biasa diterima, Mas Lukman memangkasnya menjadi sepuluh juta. Awalnya aku tidak mempermasalahkan karena memang ikut juga bekerja. Tidak memiliki tanggung jawab lain karena orang tuaku sudah meninggal dan aku tidak memiliki adik. Malangnya nasibku, bahkan tidak pernah melihat kakek ataupun nenekku. Kedua orang tuaku menikah tanpa restu, karena mereka berbeda keyakinan. Mata ini mulai berembun kala mengingat mereka kembali.

Kamu memang sendiri, Kanaya. Tapi jangan sampai karena kesendirian ini kamu diinjak-injak! Hanya bisa membatin sembari menyuapkan makanan yang entah kenapa rasanya kini menjadi hambar. Lelah bekerja seharian, tubuh ini rasanya remuk. Dulu Mas Lukman pernah memintaku untuk tidak bekerja, tapi aku menolak. Tidak ingin meratapi kesendirian karena merindukan kehadiran seorang anak.

Saat sampai di rumah, aku bisa mendengar suara televisi dari ruang tengah. Ternyata wanita itu sedang duduk santai bersama cemilan di pangkuannya. Enak sekali hidupnya itu, seperti tidak ada beban setelah menikah dengan suami beristri Belum sampai pintu rumah tertutup, ponselku berdering. Nama Mas Lukman terpampang disana. Tanpa pikir panjang aku langsung menerima panggilan itu.

"Kenapa, Mas?" 

"Sayang, kamu lupa? Katanya pulang kantor mau jemput Mas. Dari tadi Mas udah nungguin loh," serunya dari seberang telepon.

"Aku lupa, Mas. Ya udah, kamu naik taxi aja. Aku males kalau harus jemput kesana, capek!"

Tanpa menunggu jawabannya, langsung aku menutup telepon itu dan beralih menatap Indah.

"Jangan lupa cemilannya dihabiskan! Bereskan juga remahan yang berserakan di karpet, orang numpang harus tahu diri!" Aku berseru sambil berjalan saat melewati Indah tanpa menatap wanita itu.

Samar-samar aku bisa mendengar ia mengumpat, aku tidak peduli. Dia pikir aku akan membiarkannya menikmati semua yang ada di rumahku? Tentu tidak.

***

Baru saja mata ini akan terpejam, suara notifikasi pesan masuk dari ponselku membuat diri ini dengan terpaksa harus bangkit kembali. Meraih benda pipih yang tergeletak di atas nakas. Mengernyit heran saat melihat nama Jumi yang tertera di sana, lekas aku langsung membuka pesan yang berisi video itu.

“Mas, aku mau dibeliin rumah, dong. Aku gak mau tinggal disini, istri kamu itu tega banget nyuruh aku yang lagi hamil gini buat beres-beres, dia pikir aku ini pembantu apa? Aku juga ‘kan istri kamu, Mas. Kalau terjadi apa-apa sama anak kita gimana? Yang paling aku takutin itu dia bakalan celakain aku sama anak kita!” Indah terlihat merajuk di depan Mas Lukman.

Aku tersenyum mengejek saat melihat Indah yang tengah merangkul lengan Mas Lukman dalam video itu. Licik juga wanita itu! Kita lihat saja, siapa yang akan Mas Lukman pilih. Aku, atau wanita bernama Indah tapi berhati busuk itu! Aku masih menatap layar datar. Melihat Mas Lukman yang menepis kasar tangan Indah yang melingkar di lengan suamiku.

“Cukup! Kamu gak usah jelek-jelekin, Kanaya. Istriku gak sepicik itu, kamu tahu?!” 

Mas Lukman membentak Indah lalu berjalan menaiki anak tangga. Dengan cepat, aku mematikan ponsel dan menyimpan kembali di tempatnya dan pura-pura tertidur. Sebelum Mas Lukman datang.

Bersambung ….

Bab 3

Mertua, Awal Pembawa Petaka

Bab 3

Suara pintu kamar terbuka, derap langkah kaki Mas Lukman semakin mendekat. Bisa kurasakan kecupan hangat mendarat di kening.

“Maafkan Mas yang sudah menyakiti kamu, Sayang,” bisiknya.

Apa Mas Lukman tahu jika aku pura-pura tidur, makanya ia berkata seperti itu untuk meluluhkan hatiku? Ah … entahlah! Aku benar-benar ingin istirahat sekarang, tidak ingin berdebat. Jam lima subuh, aku terjaga. Melawan rasa kantuk dan menyerat langkah menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu sekaligus mandi.

Ya Allah … maafkan aku yang sering lalai dengan semua perintah-Mu. Jujur, aku bukanlah orang yang taat beragama, sering meninggalkan shalat. Aku mengikuti kepercayaan ibuku, tidak ada paksaan dari keduanya. Ini murni keinginanku. Pernah berharap jika setelah menikah, suamiku akan menjadi imam yang baik, yang bisa membimbing diri ini. Semua masalah yang menjadi bebanku, kutumpahkan dalam sujud. Memohon pada Sang Pencipta untuk memberiku kekuatan menghadapi semua cobaan hidup. Melipat sajadah dan mukena yang tadi kupakai, menyimpan kembali ke tempatnya. Berjalan menghampiri Mas Lukman yang masih terlelap, mengguncangkan pelan tangan lelaki itu.

“Mas, bangun! Shalat subuh, dulu,” ujarku.

Setelah memastikan Mas Lukman terbangun, aku turun ke dapur untuk membuat sarapan. Meskipun masalah mendera, tapi tetap aku akan melakukan kewajibanku sebagai seorang istri. Entah kenapa, aku belum bisa mengambil keputusan apapun. Aku hanya berdoa, agar Allah memberikanku petunjuk agar aku tidak salah melangkah. Aku tahu, jika perceraian tidak dilarang oleh agama. Tapi, perceraian itu sangat dibenci oleh Allah.

“Bu, biar Jumi aja yang masak,” seru Jumi yang baru masuk ke dapur.

“Udah, gak usah. Tugas kamu ‘kan cuman beres-beres rumah aja, Jum! Kalau soal dapur itu urusan saya,” balasku.

Tangan ini memotong sayuran tapi pikiranku melayang. Mengingat masa-masa awal aku dan Mas Lukman menikah, lelaki yang sangat lembut dan romantis. Ia bahkan selalu membelaku saat ibu mertua mendesak diri ini yang tidak kunjung hamil, tapi kini kenyataan menamparku. Ternyata Mas Lukman tidak sesabar yang kupikirkan. Satu jam berlalu, semua masakanku sudah terhidang di meja makan. Berjalan ke kamar untuk mengganti baju, aku harus sampai di kantor jam tujuh pagi karena ada meeting besar. Melihat Mas Lukman yang sudah rapi dengan kemeja biru dongker, ia balik menatapku.

“Sayang, hari ini ... Indah ada jadwal kontrol ke dokter,” tuturnya dengan suara pelan, sepertinya ia ragu mengatakannya padaku, tapi karena terpaksa akhirnya perkataan itu keluar dari mulutnya.

“Terus? Apa hubungannya denganku?” Aku melayangkan pertanyaan padanya meskipun tangan ini sibuk memilih baju yang akan dikenakan. Menunggu lama sampai akhirnya Mas Lukman kembali bersuara.

“Kartu debit dan kartu kredit ‘kan kamu yang pegang, sayang. Indah pergi sama Ibu nanti.”

Aku menghela nafas berat, berjalan ke arah lemari untuk mengambil tas. Mengeluarkan sebuah kartu debit yang tidak ada isi di dalamnya. Menyerahkannya pada Mas Lukman.

“Nanti aku transfer uangnya ke situ,” seruku sebelum berlalu ke kamar mandi untuk mengganti pakaian.

***

Mas Lukman sudah duduk di meja makan, ia memainkan ponselnya. Mendongak saat aku sudah berada di hadapannya.

“Ayo, kita sarapan dulu. Nanti telat ke kantor lagi, jalanan pasti macet.”

Aku memanggil Jumi untuk ikut sarapan bersama. Mas Lukman tidak pernah keberatan untuk itu, karena sudah menganggap Jumi seperti keluarga. Baru saja Jumi duduk, Indah datang dengan mengenakan baju tidurnya.

“Eh … kamu pembantu, ngapain ikut makan sama majikan? Gak tahu diri banget!” Indah berseru menatap Jumi dengan tajam.

“Situ yang gak tahu diri, gak diajak makan kok langsung duduk.”

Aku menahan tawa melihat wajah Indah yang kini memerah mendengar perkataan Jumi yang pasti melukai egonya. Tidak salah aku membawanya kembali bekerja disini. Ia meninggalkan anaknya bersama sang ibu agar bisa bekerja, suaminya merantau. Jumi bekerja karena ingin membantu orang tuanya menyekolahkan adik-adiknya yang masih kecil. Aku melirik Mas Lukman yang terlihat tidak peduli, ia sibuk dengan makanannya.

***

Baru saja kaki ini melangkah keluar dari pintu, netraku menangkap sosok ibu mertua yang baru saja turun dari taxi.

“Menantu udah mau berangkat kerja, ya?” tanyanya basa-basi.

“Iya, Bu.” jawabku ramah.

Aku mendekati wanita paruh baya itu dan mencium tangannya dengan takzim. Tanpa mengatakan apa-apa lagi ia langsung masuk, tidak ada basa-basi sama sekali padaku untuk menjelaskan mengenai masalah rumah tanggaku ini? Aku curiga jika ibu mertua tidak memiliki hati, ia sebagai seorang wanita seharusnya bisa mengerti dan memposisikan diri bagaimana jika menjadi aku. Tidak bisakah Ibu menyayangiku seperti mertua diluaran sana yang menyayangi menantu mereka?

Dari awal menikah, ibu mertua memang tidak menyukaiku karena aku seorang anak yatim piatu, ia pernah mengatakan jika asal usulku tidak jelas. Tapi karena kegigihanku dan Mas Lukman, akhirnya ibu mertua luluh. Meskipun sikapnya kadang dingin padaku. Mengatur pernafasan agar cairan bening itu tidak meluncur bebas keluar dari mata ini. Aku akan mencari waktu yang pas untuk membicarakan ini semua, karena kondisiku yang sedang tidak stabil aku takut jika nanti mengambil keputusan yang salah.

***

Setelah meeting selesai, Bu Margaretha memintaku untuk menemaninya bersantai di rooftop yang memang didesain khusus atas permintaan beliau. Tempat yang akan beliau datangi saat ingin bersantai setelah menyelesaikan pekerjaan yang berat.

“Saya lihat, akhir-akhir ini kamu kurang fokus, Nay! Kalau kamu ada masalah, cerita sama saya. Ini bukan tempat kerja, jadi saya teman kamu,” tuturnya lalu menyesap tehnya, netranya menatap lurus ke depan.

Sebenarnya aku menganggap Bu Margaretha seperti ibuku sendiri, ia selalu bisa membuat hati ini lega setelah menceritakan semua masalah. Tidak seperti atasan lainnya yang hanya bisa memerintah dan menekan tanpa peduli dengan kondisi bawahannya yang mungkin memiliki masalah personal. Aku tahu, menceritakan masalah rumah tangga pada orang lain itu tidak benar. Tapi sungguh, aku butuh masukan dari orang yang lebih berpengalaman. 

Akhirnya memutuskan untuk menceritakan semuanya pada Bu Margaretha, ia menatapku dengan iba. Membawaku ke dalam pelukannya, menepuk pelan pundakku yang bergetar karena tangisan.

“Ini kenapa saya minta kamu untuk tidak berhenti bekerja, jika ada masalah seperti ini kamu tidak bergantung pada suamimu. Kamu mandiri, bisa hidup, bisa makan walaupun tanpa uang darinya. Jadi wanita jangan lemah, jika masih bisa pertahankan rumah tangga kamu. Kalau tidak … lepaskan! Jangan menyakiti diri sendiri, kamu berhak bahagia, Nay!” pesan Bu Margaretha.

Jujur, aku masih ingin mempertahankan hubungan ini. Aku menikah dengan Mas Lukman bukan untuk bercerai. Ponselku berdering menandakan panggilan masuk, menampakan nama ibu mertua disana. Menghapus kasar bekas air mata di pipi. Dan langsung mengangkat panggilan masuk di depan Bu Margaretha, ia tahu bagaimana buruknya hubunganku dengan ibu mertua.

“Kenapa isi saldo rekening cuman dua juta doang? Itu gak cukup buat kontrol ke dokter sama USG, kamu kemanain semua uangnya Lukman?” seru ibu mertua dengan nada tinggi dari balik telepon.

Bu Margaretha menatap ke arahku. Sengaja aku menekan pengeras suara agar ia mendengar apa yang dikatakan ibu mertua.

“Dua juta itu cukup loh, Bu. Malah kebanyakan,” jawabku seadanya.

“Sok tahu banget kamu! Hamil aja gak pernah.”

Hati ini langsung ngilu mendengar perkataan ibu mertua yang mampu menyayat hati. Tidak ingin membuat hatiku semakin terluka dengan perkataannya, aku langsung memutus sambungan telepon itu.

“Udah ya, Bu. Aku mau lanjut kerja dulu,” tuturku sebelum memutuskan sambungan telepon.

“Sabar, semua masalah ada jalan keluarnya.” Bu Margaretha berujar dengan senyum tipis.

Meskipun beda keyakinan, beliau lebih bisa menghargai. Berselang beberapa menit, Jumi mengirimkan video padaku. Video yang menampakan ibu mertua dan Indah, meskipun hanya punggung mereka yang terlihat tapi suaranya terdengar jelas. Jumi memang aku suruh untuk mengikuti kemanapun mereka pergi.

“Gara-gara dia kita gak jadi belanja, padahal Ibu sudah pengen beli tas sama baju baru,” seru ibu mertua dengan menggerutu.

“Iya, Bu. Dia itu emang bener-bener nyebelin. Udah mandul, pelit, gak tahu diri lagi. Masa semua uang Mas Lukman mau dia kuasai sendiri!” Indah menimpali, membuat ibu mertua semakin terbakar emosi.

“Ya udah, daripada makin kesel. Kita pakai aja uangnya buat makan, kita cari makanan yang enak dan mahal, lumayanlah buat update di story ig,” saran ibu mertua.

Wanita itu tidak tahu, jika penghasilanku lebih besar daripada Mas Lukman. Selain bekerja sebagai asisten pribadi Bu Margaretha, aku juga berinvestasi di perusahaan ini. Jika dikumpulkan penghasilanku satu bulan mencapai miliaran. Mas Lukman tidak pernah ingin tahu mengenai penghasilanku, ia pernah mengatakan jika uang yang dihasilkan itu milikku sendiri. Bukan milik bersama. Andai saja aku bisa melihat wajah kesal mereka, pasti lebih memuaskan.

“Ular licik macam dia itu harus dimusnahkan, Nay!” desis Bu Margaretha.

Aku memang tidak akan tinggal diam, hanya menunggu tanggal mainnya saja. Membiarkan mereka tertawa bahagia di atas penderitaanku, tidak sabar menunggu saat dimana keadaan berbalik.

Bersambung ….

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED