Bab 1

Seketika tubuh seorang wanita berambut pirang panjang bergelombang terhuyung ke belakang setelah meminum air putih yang diberikan oleh tunangannya. Tiba-tiba saja kepala wanita bernama Cassiopeia Moore itu terasa sangat sakit. Kakinya terasa lemas hingga tidak mampu menahan tubuhnya membuat wanita itu malang itu terjatuh ke lantai.

"Minuman apa yang kamu berikan padaku, Johnny?” tanya Cassie menatap pria yang berdiri tidak jauh darinya.

Wanita berusia dua puluh lima tahun itu tidak menyangka pria yang sangat dicintainya melakukan hal ini padanya. Bagi Cassie, direktur Hiraet Model Management tempatnya bernaung adalah segalanya bagi wanita itu. Bahkan Cassie meninggalkan segalanya hanya untuk pria itu. Tapi bukan balasan yang manis yang diterima oleh wanita dengan tinggi seratus tujuh puluh lima itu.

Pria yang saat ini dengan setelan garis abu-abu itu berjalan mendekati Cassie. Dia berjongkok dan menarik dagu Cassie sehingga wanita itu bisa memandang pria yang lebih tua tiga tahun darinya. Salah satu sudut bibir Johnny terangkat.

“Itu adalah obat perangsang, Cassie sayang.”

“Obat perangsang? Mengapa kamu memberikan obat perangsang padaku, Johnny?” tanya Cassie terdengar putus asa.

“Karena kami akan menjualmu ke pelelangan ilegal.”

Suara itu membuat Cassie menoleh. Dia terkejut saat manik mata hijau Cassie menangkap sosok yang sangat familiar baginya. Thea Osbert, rekan modelnya yang masih jadi satu agensi dengan Cassie. Selama ini Thea selalu iri pada Cassie. Karena itulah wanita yang saat ini mengenakan gaun mini hitam yang menonjolkan belahan dadanya itu selalu dingin pada Cassie.

“Menjualku? Johnny, katakan padaku. Kamu tidak akan melakukannya, bukan?” Cassie menoleh ke arah pria yang sangat dipercaya olehnya.

“Sayangnya ucapan Thea memang benar, Cassie. Kalau kamu masih ada di dunia ini, semua orang tidak akan bisa melihat betapa bersinarnya Thea. Karena kami tidak bisa membunuhmu, maka jalan terbaik adalah menjualmu ke pelelangan ilegal.”

Cassie menggelengkan kepalanya. “Tidak. Kamu tidak bisa melakukan ini padaku, Johnny. Kumohon, jangan lakukan ini padaku. Aku sangat mencintaimu, Johnny.”

Pria itu berdiri. Satu tangannya meraih pinggang Thea membuat tubuh mereka semakin rapat. Johnny menunduk untuk mendaratkan bibirnya di atas bibir merah merona milih Thea. Nafas Cassie tercekat melihat pemandangan itu. Bahkan dilihat dari ciuman mereka yang mesra, Cassie tahu ini bukanlah ciuman pertama mereka. Kedua tangan Cassie terkepal di atas lantai.

Cinta yang selama ini menjadi kekuatan hidupnya sekarang sudah hancur berkeping-keping. Wanita itu berpikir bisa memiliki kehidupan bahagia bagaikan kisah negeri dongeng bersama dengan Johnny. Tapi sayangnya Cassie mendapati kenyataan tidak seindah mimpi. Johnny memanfaatkan perasaannya untuk membuat nama agensinya semakin besar. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, Cassie seperti sampah yang tidak digunakan lagi. Bahkan pria yang sangat dicintainya hendak membuang dirinya dengan cara yang begitu kejam.

Ciuman Johnny dan Thea terlepas. Mereka tersenyum di atas penderitaan Cassie. Ingin sekali Cassie menampar wajah sombong mereka. Sayangnya dia bahkan tidak bisa menopang tubuhnya lagi.

“Kamu sudah lihat bukan, Cassie Sayang? Aku hanya mencintai Thea. Selama ini aku hanya membohongimu saja. Tidak kusangka wanita cantik sepertimu sangat polos dan mudah ditipu.” Johnny tersenyum sinis.

“Jadi kalian sudah merencanakan hal ini sebelumnya?” manik mata hijau Cassie berubah dingin.

Thea menganggukkan kepalanya. “Benar, Cassie. Kami bahkan menjalin hubungan dibelakangmu. Tapi kamu terlalu dibutakan oleh cinta hingga tidak menyadarinya.”

Awalnya Cassie mendengus sinis. Kemudian suara tawa wanita itu terdengar memenuhi ruangan itu. “Dibutakan oleh cinta? Sepertinya aku harus berterimakasih pada kalian karena sudah membuka mataku lebar-lebar. Sehingga sekarang aku bisa melihat sifat asli kalian yang licik seperti ular.”

Sebuah tamparan mengenai pipi Cassie. Tamparan itu berasa dari Thea yang kesal karena ucapan wanita itu. Namun alih-alih menangis karena cintanya direbut wanita lain, Cassie justru kembali tertawa.

“Sayang, sepertinya otak wanita ini sudah tidak waras. Kita harus segera membawanya pergi dari sini.” Thea bergelayut manja di lengan Johnny.

“Tenang saja, Cahayaku. Sebentar lagi kita tidak akan melihat wanita ini lagi.”

Cassie tersenyum sinis. “Akan aku pastikan aku akan kembali lagi dalam hidup kalian. Aku akan menghancurkan hidup kalian. Memberikan rasa sakit berkali-kali lipat dari yang telah kalian berikan padaku.”

“Itu jika kau bisa selamat, Cassie. Kehidupanmu akan berubah menjadi neraka setelah berada di pelelangan ilegal. Pengawal!” Seru Johnny.

Pintu ruangan pria itu terbuka. Terlihat dua orang pria dengan setelan hitam berlari masuk. Tatapan Johnny tidak lepas dari tatapan penuh kebencian dari Cassie.

“Bawa wanita ini pergi ke tempat yang sudah aku tunjukkan pada kalian. Pastikan dia masuk dalam pelelangan ilegal itu.” Perintah Johnny.

“Baik, Tuan Nilsson.”

Kedua pria bersetelan gelap itu langsung menyeret tubuh Cassie yang sudah tidak berdaya. Wanita itu bersumpah akan membalas dendam pada Johnny dan Thea. Dia hanya berharap Tuhan memberikan sedikit belas kasihan padanya.

***

“Sepertinya kalung yang kucari tidak akan dilelang.” Ucap pria yang mengenakan setelan garis-garis biru itu melihat benda terakhir yang dilelang. Reynard Wycliff sudah mengikuti lelang itu selama berjam-jam tapi tidak kunjung melihat benda yang dicarinya.

Pria yang duduk di sebelah Reynard tampak merasa bersalah. “Maafkan saya, Tuan Wycliff. Sepertinya informasi yang saya dapatkan tidak akurat.”

Pria dengan tinggi seratus Sembilan puluh sentimeter itu menoleh menatap asistennya, Jonas Smith. “Tidak apa-apa, Jonas. Kalung itu sepertinya terlalu berharga hingga sulit ditemukan.”

“Apakah anda ingin pergi sekarang, Tuan Wycliff? Saya akan mempersiapkan mobilnya untuk anda.” tanya pria yang mengenakan kacamata itu.

“Sebagai lelang terakhir, kami memiliki sesuatu yang spesial.”

Suara pembaca acara membuat Reynard mengalihkan perhatian ke atas panggung. Pria dengan rambut hitam itu melihat sebuah kotak didorong hingga berada di depan panggung. Dia merasa penasaran dengan isi kotak tersebut.

“Tunggu sebentar, Jonas. Aku penasaran dengan benda yang dilelang paling akhir ini.”

Jonas menganggukkan kepalanya. “Baiklah, Tuan Wycliff.”

“Sesuatu yang spesial ini akan membuat kalian menitikkan air liur kalian. Tidak hanya cantik tapi juga masih suci. Saya akan membuka kotaknya, dan saya akan mulai penawarannya.”

Pria bertubuh tambun yang mengenakan kemeja hitam itu menghampiri kotak itu. Dia mulai membuka kotak itu. Seketika semua orang tercekat saat melihat ‘sesuatu yang spesial’ yang berada di dalam kotak. Termasuk Reynard.

Di dalam kotak itu terlihat seorang wanita duduk di dalam kotak mengenakan lingerie hitam dengan renda-renda berwarna pink lembut. Begitu kontras dengan kulit putihnya. Wajah cantik wanita itu dibingkai oleh rambut pirangnya yang bergelombang. Mata hijaunya tampak begitu sayu. Yang lebih membuat Reynard terkejut adalah cara orang-orang dari pelelangan yang memperlakukan wanita itu dengan buruk. Selain kedua tangan wanita itu diikat rantai, terlihat jelas seseorang telah memberikannya obat perangsang.

“Apakah hal seperti ini diperbolehkan, Jonas? Menjual orang terutama wanita, bukankah ini tindakan ilegal?” Reynard menatap asistennya.

“Ini adalah pelelangan gelap, Tuan Wycliff. Tentu saja hal ilegal seperti ini sudah biasa dilakukan. Biasanya wanita-wanita yang sudah tidak bisa menjalani hidupnya karena faktor ekonomi rendah yang mendorong mereka untuk dilelang.”

Tidak bisa menjalani hidupnya? Apakah wanita itu benar-benar mengalami kesulitan ekonomi hingga menjual tubuhnya? tanya Reynard dalam hatinya.

“Tunggu dulu. Sepertinya aku mengenal wajah cantik wanita itu.” Reynard merasa familiar dengan wajah wanita yang saat ini tengah diperebutkan dengan harga tinggi.

“Bukankah wanita itu adalah Cassiopeia Moore, model yang menolak tawaran anda untuk bermain film yang diproduksi oleh perusahaan anda, Tuan Wycliff?”

Mulut Reynard terbuka saat menyadari wanita dalam kotak itu adalah wanita yang sudah menarik perhatiannya dengan wajah cantik gadis itu. Dia tidak mengerti mengapa model itu bisa terdampar di pelelangan ilegal ini.

“Jonas, dapatkan wanita itu untukku.”

***

Bab 2

Suara dentingan gelas beradu terdengar dalam ruangan Johnny. Saat ini pria itu tengah bersama Thea merayakan kepergian Cassie dengan segelas sampanye. Bibir Thea menyunggingkan senyuman lebar. Sudah lama dia ingin menyingkirkan Cassie. Dan sekarang dia mendapatkan kesempatan itu. Perasaannya sungguh sangat bahagia.

Setelah menyesap cairan kuning bening itu, mereka meletakkan gelas itu di atas meja. Johnny mengalihkan perhatiannya pada wanita bertubuh molek di sampingnya. Tangannya terulur menyentuh leher jenjang Thea. Bergerak turun menuju bahu wanita itu. Gerakan yang lembut membuat Thea memejamkan matanya. Nafasnya sedikit tersengal saat gairah menyerbu dirinya.

“Apa kamu sungguh tidak merasa sedih sudah kehilangan model seperti Cassie, Johnny sayang?” tanya Thea tanpa membuka matanya.

“Untuk apa aku sedih pada model yang tidak berarti seperti Cassie. Lagipula aku memilikimu. Kamu tidak akan meninggalkan aku, ‘kan?”

Thea membuka matanya. Kedua tangannya melingkar di leher Johnny. “Tentu saja aku tidak akan meninggalkanmu. Bukankah ini alasan kita bersama sekarang, Sayangku? Kita saling mencintai.”

Johnny mendorong tubuh Thea hingga wanita itu terbaring di atas sofa yang lebar itu. “Kamu benar. Kita saling mencintai. Karena itu aku juga tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayangku.”

“Johnny, apakah menurutmu membuang Cassie ke pelelangan ilegal tidak akan membuat dia kembali?” Thea masih cemas jika saja model yang menjadi saingannya bisa kembali lagi ke dunia hiburan dan mengacaukan karirnya.

Pria itu memilin beberapa helai rambut Thea di jari telunjuknya. “Itu tidak mungkin terjadi, Thea. Apa kamu tidak tahu apa yang terjadi pada seorang wanita yang dijual di pelelangan ilegal?”

Thea menggelengkan kepalanya. “Karena aku belum pernah ke pelelangan ilegal, jadi aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika dijual ke sana.”

“Wanita yang akan dijual ke sana hanya akan dibeli oleh orang-orang yang menginginkan wanita itu untuk menjadi budak seksnya. Karena itu ketika Cassie menjadi budak seks seseorang, dia tidak akan memiliki muka untuk tampil di dunia hiburan lagi. Jadi kamu tidak perlu khawatir, Sayangku. Aku akan membuatmu bersinar lebih dari sekarang.”

Bibir Thea menyunggingkan senyuman. “Kamu yang terbaik, Johnny. Aku sangat mencintaimu.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Sayangku. Dan sekarang biarkan aku menikmati tubuhmu. Aku merindukan tubuh indahmu ini.” Jari telunjuk Johnny menyusuri tulang selangka gadis itu hingga turun menuju belahan dada Thea yang indah.

Tubuh Thea bergetar karena tindakan sang kekasih. Dia bahkan tak mampu menahan desahan yang keluar dari mulutnya.

“Aku juga merindukanmu, Johnny. Puaskan aku, Sayangku.” Ucap Thea dengan nada yang sangat menggoda.

Kedua sudut bibir Johnny terangkat membentuk senyuman lebar. “Dengan senang hati, Thea. Aku akan memuaskan tubuh dan hasratmu. Mendesahlah yang keras, Sayangku.”

Johnny menunduk untuk menyatukan bibir mereka. Tidak peduli apapun yang terjadi sebelumnya, mereka menikmati sisa malam itu dengan percintaan panas di ruang kantornya.

***

“Hmm..” Cassie mengerang saat merasakan tubuhnya tidak nyaman. Tidak hanya merasakan panas menjalar di tubuhnya, tapi dia seperti merasa sedang dibakar di atas tungku yang mendidih.

Perlahan Cassie membuka matanya. Dia melihat jendela mobil yang melaju melintasi kota Burbank, California. Wanita dengan kulit putih pucat itu berusaha mengingat apa yang terjadi. Namun kepalanya terasa begitu sakit membuat Cassie menyentuh kepalanya yang berdenyut-denyut. Seperti ada berbagai batu dilempar ke kepalanya.

“Kamu baik-baik saja, Belleza mia?”

Suara itu membuat Cassie menoleh. Dia bisa melihat seorang pria tampan duduk di sampingnya. Rambut segelap langit malam itu tersisir rapi membingkai wajahnya berbentuk diamond. Juga ada cambang tipis di sekitar mulutnya yang membuat pria itu terlihat semakin macho.

Selama ini Cassie terlalu dibutakan oleh Johnny sehingga sekarang untuk pertama kalinya wanita itu merasa pria yang duduk di sampingnya berkali lipat lebih tampan dari pria brengsek yang telah menjualnya.

“Kamu siapa?” tanya Isabelle lemah.

“Kau tidak ingat aku?” Suara pria itu begitu dalam tapi menenangkan.

Cassie tidak bisa mengingatnya. Dia terlalu terganggu dengan reaksi tubuhnya.

“Aku tidak ingat pernah bertemu denganmu. Apakah pendingin ruangannya mati, Tuan? Mengapa rasanya panas di sini?” Cassie melepaskan jas Reynard yang disampirkan di kedua bahunya.

Tubuh Reynard menegang. Bahkan pria itu mengepalkan kedua tangannya berusaha menahan diri untuk tidak menyentuh Cassie. Karena pria itu yakin dirinya tidak akan bisa menahan dirinya jika dia menyentuh wanita itu sedikit saja.

“Tahanlah, Belleza mia. Sebentar lagi kita akan sampai di rumahku. Jonas, lebih cepat mengemudinya.” Perintah Reynard.

“Baik, Tuan Wycliff.” Jonas menganggukkan kepalanya dan mempercepat laju mobil itu.

Cassie yang tak mampu menahan rasa panas di tubuhnya, merangkak mendekati pria itu. Dengan berani wanita itu melompat di pangkuan Renard. Cassie mendaratkan bibirnya di atas bibir Reynard. Menciumnya dengan kerakusan yang tak pernah dilakukannya.

Reynard memegang kedua bahu Cassie dan mendorong wanita itu untuk melepaskan ciumannya. “Apa kamu tahu apa yang baru saja kamu lakukan, Belleza mia?”

“Aku tahu. Aku baru saja menciummu.”

“Menciumku? Benar-benar sangat buruk. Aku akan mengajarimu bagaimana berciuman yang sebenarnya. Jonas sebaiknya kamu tidak melihat ke belakang.” Ancam Reynard.

Jonas menggeleng-gelengkan kepalanya. “Tidak akan, Tuan Wycliff. Aku tidak mendengarkan atau melihat apapun di belakang.”

Setelah puas mendengar jawaban Jonas, tangan Reynard meraih tengkuk Cassie. “Kamu akan merasakan ciuman yang sebenarnya, Belleza mia.”

Reynard menarik tengkuk wanita itu dan menyatukan bibir mereka. Berbeda dengan apa yang Cassie lakukan. Reynard tidak hanya mendaratkan bibirnya, tapi dia juga melumat bibir wanita itu dengan begitu lembut. Kemudian lidahnya membelai bibir Cassie membuat tubuh wanita itu bergetar merasakannya. Hingga akhirnya Cassie membuka mulutnya membiarkan lidah Reynard menyusup ke dalam. Lidah mereka saling bertaut membuat ciuman itu semakin dalam.

Cassie mengerang ketika tangan Reynard menangkup payudaranya dan meremasnya lembut. Tubuhnya bergetar bereaksi dengan sentuhan tangan Reynard. Membuat tubuhnya semakin panas dan ingin meledak. Kedua tangan Cassie menyentuh kerah kemeja pria itu sebelum akhirnya berhenti di kancing kemeja pria itu. Namun saat tangannya hendak membuka kancing teratas, Reynard menahan tangan wanita itu.

“Kamu harus bersabar, Belleza mia. Kamu akan memiliki kesempatan untuk membukanya setelah kita sampai di kamarku.”

Cassie mengerang protes. Tapi kemudian terdengar suara Jonas terbatuk sehingga menghentikan kegiatan pemanasan mereka.

“Maaf, Tuan Wycliff. Tapi kita sudah sampai.” Ucap Jonas berusaha untuk tidak melihat ke belakang.

“Terimakasih, Jonas. Sampai jumpa besok.”

Reynard mengambil jas miliknya dan menyampirkannya kembali ke bahu Cassie. Pria itu keluar dari mobil dengan menggendong Cassie di kedua tangannya. Dia berjalan menuju mansion besar milik pria itu. Cassie memperhatikan beberapa pelayan yang menunduk saat melihat kedatangan Reynard.

“Tuan, apakah kamu memiliki air?” tanya Cassie mendongak untuk mengagumi wajah tampan Reynard.

“Aku akan menyuruh pelayan membawakan air minum.”

Cassie menggelengkan kepalanya. “Bukan air minum, Tuan. Maksudku air dalam jumlah yang banyak. Seperti kolam renang, danau atau apapun.”

“Apa kamu terlalu haus, Belleza mia?” Reynard memicingkan matanya menatap mata hijau Cassie yang indah.

“Aku memerlukan air bukan untuk minum, Tuan. Tapi aku sudah tidak tahan lagi dengan panas di tubuhku. Kumohon, Tuan. Aku membutuhkan air.” Suara Cassie terdengar putus asa.

“Aku akan membawamu ke kolam renang.”

“Bisakah kamu mengusir semua orang agar tidak mendekati kolam renang, Tuan?” pinta Cassie kembali.

“Bukankah kamu terlalu banyak meminta, Belleza mia.”

“Aku berjanji akan melakukan apapun untuk membalas kebaikanmu, Tuan.” Janji Cassie.

Langkah Reynard terhenti. Pria itu menunduk melihat wanita dalam gendongannya yang menatapnya penuh harap.

“Jangan pernah mengatakan hal seperti itu pada pria lain, Belleza mia. Kamu hanya boleh mengatakan kalimat seperti itu padaku.”

Cassie menganggukkan kepalanya. “Aku berjanji tidak akan mengatakan kalimat itu pada pria lain.”

Bibir Reynard menyunggingkan senyuman puas. Dia menoleh dan melihat seorang pria paruh baya berdiri bersama beberapa pelayan lain.

“Kepala pelayan Clarence, tutup semua pintu dan jendela yang mengarah ke kolam renang. Dan jangan biarkan siapapun masuk area kolam renang. Atau bahkan mengintipnya. Aku tidak akan mengampuni siapapun yang melanggar perintahku.” Ucap Reynard dengan begitu tegas.

Pria dengan setelan hitam itu menganggukkan kepalanya. “Baik, Tuan Wycliff.”

Reynard kembali melanjutkan langkahnya menuju area kolam renang yang berada di belakang rumah. Kolam renang tertutup itu sangatlah besar. Bahkan ada jacuzzi berbentuk lingkaran yang ada di dekat kolam renang. Setelah kepala pelayan Clarence menjalankan perintahnya, Reynard mulai menendang lepas sepatunya sebelum akhirnya berjalan menuju kolam renang. Dia bisa merasakan Cassie bergerak gelisah di atas tangannya. Bahkan Reynard mendengar erangan wanita itu.

“Bertahanlah, Belleza mia.” Reynard perlahan menuruni tangga masuk dalam kolam renang. Membiarkan air membasahi celananya. Hingga langkahnya berhenti saat setengah tubuhnya terendam air. Namun saat melihat wanita itu ada sesuatu yang membuat pria itu terkejut.

***

Bab 3

Mulut Reynard terbuka tak percaya melihat pemandangan di hadapannya. Bahkan pria itu sampai mengucek matanya dan berpikir setelah dia mengucek matanya, maka pemandangan di hadapannya akan lenyap. Namun ternyata hal itu tidak bekerja. Pria itu masih melihat putri duyung berenang di kolam renangnya.

Tepat saat tubuh Cassie menyentuh air, seketika kedua kakinya berubah menjadi ekor putri duyung berwarna pink dan tosca yang sangat cantik. Reynard berpikir dia sedang bermimpi. Karena selama ini pria itu tidak percaya tentang makhluk mitologi duyung yang cantik. Dia berpikir ikan duyung hanya ada dalam dongeng anak-anak.

Cassie berenang menghampiri Reynard. Wanita itu berhenti tepat di hadapan pria yang telah menolongnya. Kedua tangannya menyentuh bahu Reynard.

“Terimakasih sudah menolongku, Tuan. Karena kamu sudah tahu rahasiaku, apakah kamu akan menjadikanku sebagai bahan tontonan?”

Reynard memicingkan matanya. “Apakah kamu pernah dijadikan bahan tontonan?”

Cassie menganggukkan kepalanya. “Tidak. Ini pertama kalinya ada manusia yang melihat wujud asliku. Hanya saja Mom pernah bercerita jika dulu ada seorang putri duyung yang tertangkap oleh manusia. Kemudian ditempatkan di akuarium raksasa untuk dijadikan bahan tontonan manusia. Sebenarnya aku… aku takut merasakan tatapan manusia yang takjub sekaligus jijik padaku.” Wanita itu menundukkan kepalanya.

Satu tangan Reynard meraih pinggang Cassie lalu menariknya hingga tubuh mereka menempel erat. Sedangkan satu tangannya lagi menyentuh dagu wanita itu dan mengangkatnya sehingga tatapan mereka bertemu. Reynard bisa melihat mata hijau Cassie yang indah.

“Aku memang merasa takjub dengan wujud aslimu, Belleza mia. Tapi aku tidak pernah merasa jijik padamu. Aku membelimu bukan untuk kujadikan bahan tontonan. Tapi aku ingin kamu jadi milikku.”

Cassie mengedipkan mata tak percaya mendengar ucapan Reynard. “Jadi milikmu?”

Reynard menganggukkan kepalanya. “Benar, Belleza mia. Jadi milikku.”

Tepat setelah mengatakan kalimat itu Reynard menunduk. Cassie bisa melihat wajah Reynard yang semakin dekat. Dia tahu pria itu ingin menciumnya. Seharusnya wanita itu menolaknya. Tapi rasa penasaran menahan Cassie untuk diam di tempatnya. Wanita itu ingin merasakan bagaimana seorang menciumnya.

Bibir Reynard mendarat di atas bibir Cassie. Wanita itu bisa merasakan bibir Reynard yang kenyal melumatnya dengan begitu lembut. Seketika jantung Cassie berdebar-debar. Ciuman ini berbeda dengan ciuman di mobil yang terkesan buru-buru. Reynard memperlakukannya begitu lembut hingga membuat tubuh Cassie bergetar. Dia bisa merasakan panas mulai menjalari tubuhnya. Kali ini bukan karena efek obat perangsang seperti sebelumnya. Tapi murni karena hasrat liar yang menyelimuti tubuh Cassie.

Reynard melepaskan ciumannya sehingga memberikan kesempatan mereka untuk bernafas. “Apa kamu masih belum ingat denganku, Belleza mia?”

“Sebelumnya aku terlalu bodoh karena tidak memperhatikan orang lain, Tuan. Bisakah kamu memberitahuku kapan kita pernah bertemu?” tanya Cassie penasaran Setelah efek obat perangsangnya menghilang berkat air, Cassie berusaha mengingat-ingat Reynard. Tapi dia tidak bisa menemukan sedikit memori tentang wajah tampan Reynard.

“Dua hari yang lalu aku datang ke Hiraet Model Management untuk menawarimu sebuah film. Tapi kamu menolaknya.”

Cassie memicingkan matanya. “Dua hari yang lalu? Film? Ah… Apakah kamu wakil dari Rococo?”

Akhirnya Cassie ingat dua hari yang lalu Johnny menelponnya. Dia mengatakan perusahaan di bidang hiburan dan media Rococo menawarkan Cassie untuk bermain film bergenre romantis yang diproduksi oleh mereka. Tapi Johnny menyuruh Cassie untuk menolaknya. Sekarang Cassie tahu alasan Johnny menolaknya adalah agar nama Cassie tidak semakin besar setelah bermain dalam film itu.

“Wakil dari Rococo? Aku sebagai CEO dari Rococo turun tangan sendiri untuk mengajukan penawaran padamu, Belleza mia.”

Seketika Cassie melotot kaget. “Kamu adalah CEO dari Rococo? Kupikir kamu hanya perwakilan saja.”

“Sejak melihatmu menjadi brand ambassador rumah mode Tommy Hilfiger, aku sudah tertarik padamu. Karena itu aku yang datang ke agensimu untuk bisa bertemu denganmu.” Jelas Reynard.

“Maafkan aku, Tuan. Sebelumnya aku sudah dibutakan oleh cinta hingga menolak kesempatan emas yang kamu berikan. Setelah mengetahui kebusukan Johnny, aku jadi menyesal sudah menolak tawaran darimu. Aku ingat ucapanmu saat itu. Jika aku menerima tawaran darimu, maka namaku akan semakin dikenal banyak orang. Aku begitu bodoh dan naif mempercayai pria brengsek itu.” Kedua tangan Cassie yang berada di bahu Reynard terkepal erat memikirkan pria yang sudah membuangnya seperti sampah yang sudah tidak digunakan lagi.

Reynard memicingkan matanya. “Johnny? Maksudmu Johnny Nilsson, direktur Hiraet Model Management?”

Cassie menganggukkan kepalanya. “Benar dia. Selama ini terlalu naif percaya jika dia mencintaiku. Sampai akhirnya dia dan Thea Osbert menjualku ke pelelangan ilegal yang sangat mengerikan.” Wanita itu bergidik ngeri membayangkan bagaimana para pria yang berada di pelelangan berusaha menyentuh tubuhnya. Cassie masih ketakutan melihat tatapan-tatapan kelaparan para pria yang ingin menerkamnya.

Merasakan tubuh Cassie bergetar ketakutan, Reynard semakin mengeratkan pelukannya. “Kamu sudah aman, Belleza mia. Jadi kamu tidak perlu takut lagi.”

Tatapan Cassie tertuju pada Reynard. Pria itu bagaikan malaikat penolong yang menariknya dari dunia yang gelap. Memberikan keamanan yang tidak pernah dirasakan oleh wanita itu.

“Tuan, Aku tidak ingin membiarkan mereka tertawa di atas penderitaan yang kurasakan. Aku ingin membalas perbuatan mereka. Apakah kamu bisa membantuku? Aku mohon!” Mata hijau Cassie menatap Reynard dengan tatapan memohon. Suaranya terdengar putus asa.

“Apa balasan yang kuterima jika aku membantumu, Belleza mia?” tanya Reynard.

Cassie terdiam mendengar pertanyaan Reynard. Dia sendiri bertanya-tanya apa yang bisa dia berikan pada pria itu. Bahkan uang yang dimiliki Cassie pasti sudah dibekukan oleh agensinya. Artinya Cassie tidak memiliki apapun lagi.

“Aku sudah tidak memiliki apapun, Tuan. Tapi aku akan memberikan tubuh dan hidupku untukmu.” Jawab Cassie.

“Tubuh dan hidupmu? Apa kamu yakin akan memberikannya padaku, Belleza mia?”

Cassie menganggukkan kepalanya. “Aku sangat yakin, Tuan. Aku sudah tidak memiliki tujuan apapun sekarang selain membalas dendam pada pasangan menjijikkan yang sudah menghancurkan hidupku. Apakah tawaranku bisa diterima, Tuan?”

Reynard terdiam membuat Cassie merasa tegang. Dia berpikir mungkin saja Reynard akan menolaknya. Wanita itu pernah menolak tawaran pria itu. Mungkin saja sekarang Reynard juga akan menolaknya.

“Baiklah. Aku akan terima tawaranmu.”

Mata Cassie terbuka lebar mendengar jawaban Reynard. “Kamu menerimanya? Apa kamu yakin, Tuan? Aku bahkan tidak bisa membayar kebaikanmu sepeserpun.”

“Untuk apa membutuhkan uang jika yang kuinginkan adalah kamu.”

Seketika kedua pipi Cassie merona merah mendengar kata manis keluar dari mulut Reynard. Johnny tidak pernah menggunakan kata-kata manis padanya. Bahkan terkesan dingin karena pria itu memang tidak pernah mencintainya.

“Aku akan membantumu untuk balas dendam. Tapi seperti yang kau tawarkan tubuh dan hidupmu adalah milikku. Tidak ada pria lain yang boleh menyentuhmu selain aku.”

Cassie menganggukkan kepalanya dengan senyuman lebar di wajahnya. “Baiklah, Tuan. Aku adalah milikmu.”

“Tapi sebelum menjalankan rencana kita, ada yang harus kita lakukan.”

“Apa itu?” bingung Cassie.

“Besok kamu akan tahu.”

* * * * *

Lanjut Membaca
Dukung penulis dan beri inspirasi untuk cerita luar biasa lainnya Moboreader
Buka Semua Bab
Bab
Kustomisasi
Bab Berikutnya
Minishorts Logo
Baca novel web, fiksi online, dan cerita romantis tren di MiniShorts. Temukan novel romansa miliarder, fantasi werewolf, drama, dan fantasi, plus konten drama pendek pilihan yang terinspirasi dari tren cerita populer.
YouTube MiniShorts
©2026 MiniShorts. Hak Cipta Dilindungi Undang-Undang. CHASINGTOP HK LIMITED